KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR

0
47

 

Oleh :

Dra. Hj. Yurnalis Nurdin, M.Pd

Widyaiswara Utama

Balai Diklat Keagamaan Palembang

e-mail : yurnalisnurdin@gmail.com    

         

Abstrak: Tulisan yang berjudul “Keterampilan dasar Mengajar”, akan membahas beberapa bahasan yaitu tentang delapan Keterampialan dasar mengajar yang dianggap berperan penting dalam menentukan keberhasilan pembelajaran. Tulisan ini bertujuan agar guru mampu memperoleh kegiatan pembelajaran secara lebih efektif. Dengan pemahaman dan kemampuan menerapkan keterampilan . Tulisan ini  membahas tentang 8 keterampilan dasar mengajar yaitu; 1) keterampilan bertanya, 2) keterampilan memberi penguatan, 3) keterampilan mengadakan varasi, 4) keterampilan menjelaskan, 5) keterampilan membuka dan menutup pelajaran, 6) keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil. 7) keterampilan mengelola kelas, 8) keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan. Mudahan dengan menguasai 8 keterampilan dasar mengajar ini, dapat menjadikan guru-guru se Indonesia guru yang betul-betul yang potensial sesuai yang diharapkan oleh era yang penuh dengan kompetensi ini.

Kata Kunci: Delapan Keterampilan dasar mengajar dalam menentukan keberhasilan

                      pembelajaran

 

 

 

 

 

KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR

 

  1. A.     PENDAHULUAN

Mengajar adalah satu pekerjaan profesional, yang menuntut kemampuan yang kompleks untuk dapat melakukannya (I.G.A.K. Wardani dan Siti Julaeha, 2007:7.1). sebagaimana halnya pekerjaan professional yang lain, pekerjaan seorang guru menuntut keahlian tersendiri sehingga tidak setiap orang mampu melakukan pekerjaan tersebut sebagaimana mestinya.Ada seperangkat kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru. Perangkat kemampuan tersebut disebut kompetensi guru.

Menurut peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional Pendidikan, seorang guru dituntut untuk menguasai kompetensi pedagogis, profesional, kepribadian, dan social

Kompetensi pedagogis berkenaan dengan kemampuan mengelola pembelajaran dalam rangka menaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki peserta didik.Salah satu kemampuan yang dituntut dari kompetensi ini adalah kemampuan melaksanakan pembelajaran yang mendidik. Agar dapat melaksanakan pembelajaran yang mendidik dengan baik, di samping menguasai berbagai kemampuan, guru dipersyaratkan untuk menguasai keterampilan dasar mengajar, yang merupakan salah satu aspek penting dalam kompetensi guru.

B.  PEMBAHASAN

I.   PENGERTIAN KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR

     Keterampilan Dasar Mengajar merupakan satu keterampilan yang menuntut latihan yang terprogram untuk dapat menguasainya. Penguasaan terhadap keterampilan ini memungkinkan guru mampu mengelola kegiatan pembelajaran secara efektif. Keterampilan dasar mengajar bersit generic, yang berarti bahwa keterampilan ini perlu dikuasai oleh semua guru, baik guru TK,  SD/MI, SLTA, maupun dosen di perguruan tinggi (I.G.A.K. Wardani dan Siti Julaeha, 2007:7.1).

II. KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR

     Menurut hasil penelitian ( Turney, 1979), terdapat 8 keterampilan dasar mengajar yang dianggap berperan penting dalam  menentukan keberhasilan pembelajaran. Keterampilan yang dimaksud adalah sebagai berikut.

  1. 1.      Keterampialan Bertanya

G. A. Brown dan R. Edmodson. 1984 ( dalam Anitah Sri 2007: 7.6) mendefenisikan pertanyaan adalah “segala pernyataan yang menginginkan tanggapan verbal (lisan)”. Pada umumnya, tujuan bertanya adalah untuk memperoleh informasi. Namun, keiatan bertanya yang dilakukan oleh guru, tidak hanya bertujuan untuk memperoleh informasi, tetapi juga untuk meningkatkan terjadinya interaksi antara guru dengan peserta didik dan antara peserta didik dengan peserta didik. Dengan demikian, pertanyaan yang diajukan guru tidak semata-mata bertujuan mendapatkan informasi tentang pengetahuan peserta didiknya, tetapi yang jauh lebih penting adalah untuk mendorong para peserta didik berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Ada 4 alasan mengapa seorang guru perlu menguasai keterampilan bertanya, karena:

1. Guru cenderung mendominasi kelas dengan ceramah

2. Peserta didik belum terbiasa mengjukan pertanyaan

3. Peserta didik harus dilibatkan secara mental-intelektual secara maksimal

4. Adanya anggapan bahwa pertanyaan hanya berfungsi untuk menguji pemahaman

    peserta didik.

Turney. 1979  ( dalam Anitah Sri 2007: 7.7) pertanyaan yang baik mempunyai

berbagai fungsi antara lain:

1. Membangkitkan minat dan keinginantahuan pserta didik tentang suatu topic.

2. Memusatkan perhatian pada masalah tertentu

3. Menggalakkan penerapan belajar aktif

4. Merangsang peserta didik mengjukan pertanyaan sendiri

5. Menstrukturkan tugas-tugas  hingga kegiatan belajar dapat berlangsung secara

    maksimal.

6. Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik.

7. Mengkomunikasikan dan merealisasikan bahwa semua peserta didik harus

    terlibat

8. Menyediakan kesempatan bagi peserta didik untuk mendemonstrasikan

   pemahamannya tentang informasi yang diberikan.

9. Melibatkan peserta didik dalam memanfaatkan kesimpulan yang dapat

   mendorong mengembangkan proses berfikir.

10. Mengembangkan kebiasaan menanggapi pernyataan teman atau pernyataan

      guru.

11. Memberi kesempatan untuk belajar berdiskusi.

12. Membantu peserta didik menyatakan perasaan dan pikiran yang murni.

     Pada dasarnya, keterampilan bertanya dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjut. Keterampilan bertanya dasar terdiri atas komponen-komponen: a) Pengajuan pertanyaan secara jelas dan singkat, b) pemberian acuan, c) pemusatan, d) pemindahan giliran, e) penyebaran, f) pemberian waktu berfikir, g) pemberian tuntunan.

     Keterampilan bertanya lanjutan terdiri atas komponen-komponen: a) pengubahan tuntutan kognitif dalam menjawab pertanyaan, b) pengaturan urutan pertanyaan, c). penggunaan pertanyaan pelacak, d) peningkatan terjadinya interaksi.

    Dalam menerapkan keterampilan bertanya dasar dan lanjut, guru perlu memperhatikan perinsip-prinsip: a) kehangatan dan keantusisan, b) Menghindari kebiasaan mengulang pertanyaan sendiri, menjawab pertanyaan sendiri, mengajukan pertanyaan yang mengundang jawaban serempak, mengulangi jawaban peserta didik, mengajukan pertanyaan ganda, dan menunjuk peserta didik sebelum mengajukan pertanyaan, c) Waktu berfikir yang diberikan untuk pertanyaan tingkat lanjut lebih banyak dari yang  diberikan untuk pertanyaan tingkat dasar, d) pertanyaan pokok harus disusun terlebih dahulu, kemudian dinilai sesudah selesai mengajar.

 

2. Keterampilan Memberi Penguatan

    Penguatan adalah respons yang diberikan terhadap perilaku atau perbuatan yang dianggap baik, yang dapat membuat terulangnya atau meningkatnya perilaku/perbuatan yang dianggap baik tersebut. Dalam kegiatan pembelajaran, penguatan mempunyai peran penting dalam meningkatkan keefektifan kegiatan pembelajaran. Pujian atau respons positif guru terhadap perilaku perbuatan peserta didik yang positif akan membuat peserta didik merasa senang karena dianggap mempunyai kemampuan. Namun sejogyanya, guru sangat jarang memuji perilaku/perbuatan peserta didik yang positif. Yang sering terjadi adalah  guru menegur atau memberi respons negative terhadap perbuatannju t peserta didik yang negative. Oleh karena itu, guru perlu melatih diri sehingga terampil dan terbiasa memberikan penguatan.

    Dalam kaitan dengan kegiatan pembelajaran, tujuan memberi penguatan adalah untuk:

1. Meningkatkan perhatian peserta didik

2. Membangkitkan dan memelihara motivasi peserta didik

3.  Memudahkan peserta didik belajar

4. Mengontrol dan memodifikasi tingkah laku peserta didik serta mendorong mun

     culnya perilaku  yang positif.

5. Menimbulkan rasa percaya diri pada diri peserta didik

6. Memelihara iklim kelas yang kondusif

    Penguatan dapat dibagi menjadi penguatan verbal dan nonverbal. Penguatan verbal diberikan dalam bentuk kata-kata/kalimat pujian, sentuhan, kegiatan yang menyenangkan, serta benda atau simbol.  Penguatan dapat juga diberikan dalam bentuk penguatan tak penuh jika respons/perilaku peserta didik tidak sepenuhnya memenuhi harapan.

    Dalam memberikan penguatan harus diperhatikan prinsip-prinsip berikut:

1. Kehangatan dan keantusisan

2. Kebermaknaan

3. Hindari respons negative

4. Penguatan harus  bervariasi

5. Sasaran penguatan  harus jelas

6. Penguatan harus diberikan segera setelah perilaku yang diharapkan muncul.

  1. 3.   Keterampilan Mengadakan Variasi

Variasi adalah keanekaan yang membuat sesuatu tidak menoton. Variasi dapat berwujud perubahan-perubahan atau perbedaan-perbedaan. Yang sengaja diciptakan/dibuat untuk memberikan kesan yang unik. Misalnya model baju yang sama, tetapi berbeda hiasannya akan menimbulkan kesan unik bagi masing-masing model tersebut.

Variasi sangat diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Peserta didik akan menjdi sangat bosan jika guru selalu mengajar dengan cara yang sama. Tidak jarang terjadi adanya peserta didik yang selalu hafal dengan “gaya” mengajar gurunya sehingga ia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh guru. Hal yang demikian, sering dijadikan bahan permainan yang disampaikan dengan berbagai kode. Tentu saja keadaan seperti ini, tidak menunjang keefektifan kegiatan pembelajaran di kelas. Untuk menghindari terjadinya hal-hal seperti ini, guru perlu menguasai keterampilan mengadakan variasi.

Variasi di dalam kegiatan pembelajaran bertujuan antara lain untuk hal-hal berikut.

1. Menghilangkan kebosanan peserta didik dalam belajar

2. Meningkatkan motivasi peserta didik dalam mempelajari sesuatu

3. Mengembangkan keinginan peserta didik untuk mengetahui dan menyelidiki hal-hal

    Baru

4. Melayani gaya belajar peserta didik yang beraneka ragam

5. Meningkatkan kader keaktifan/keterlibatan  peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.

   Komponen keterampilan mengadakan vriasi dibagi menjadi 3 kelompok sebagai berikut.

a. Variasi dalam gaya mengajar yang meliputi variasi suara, pemusatan perhatian,

    kesenyapan, pergantian posisi guru, kontak pandang, serta gerakan badan dan mimik.

b. Variasi didengar, dilihat, dan interaksi dan kegiatan

c. Variasi penggunaan alat bantu pelajaran yang meliputi alat/bahan yang dapat

    dimanipulasi.

  1. 4.   KETERAMPILAN MENJELASKAN

Istilah menjelaskan sering dikacaukan dengan menceriterakan. Misalnya pengalaman berkelana ke berbagai daerah yang diceriterakan kepada orang lain sering dianggap sebagai kegiatan menjelaskan. Dari segi etimologis, kata menjelaskan “mengandung makna “membuat sesuatu menjadi jelas”. Dalam kegiatan menjelaskan terkandung makna pengkajian informasi secara sistematis sehingga yang menerima penjelasan mempunyai gambaran yang jelas tentang hubungan informasi yang satu denga yang lain.

Komponen keterampilan menjelaskan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu:

  1. Merencanakan materi penjelasan yang mencakup:
    1. Menganalisis masalah
    2. Menentukan hubungan
    3. Menggunakan hokum, rumus, dan generalisasi yang sesuai

2. Menyajikan penjelasan yang mencakup:

    a. kejelasan, yaitu keterampilan yang erat kaitannya dengan penggunaan bahasa lisan

    b. penggunaan contoh dan ilustrasi, yang dapat dilakukan dengan pola induktif atau

        deduktif.

  1. pemberian tekanan yang dapat dilakukan dengan berbagai variasi gaya mengajar dan membuat struktur sajian
  2. balikan, yang bertujuan untuk mendapat informasi tentang tingkat pemahaman peserta didik, baik melalui pertanyaan maupun melalui tugas.

      Penjelasan dapat diberikan pada awal, tengah, dan akhir pelajaran, dengan selalu memperhatikan karakteristik peserta didik yang diberi penjelasan serta materi/masalah yang dijelaskan.

5. KETERAMPILAN MEMBUKA DAN MENUTUP PELAJARAN

    Secara umum dapat dikatakan bahwa keterampilan membuka pelajaran adalah keterampilan yang berkaitan dengan usaha guru dalam  memulai kegiatan pembelajaran, sedangkan keterampilan menutup pelajaran adalah keterampilan yang berkaita dengan usaha guru dalam mengakhiri pelajaran.

     Tujuan membuka pelajaran adalah mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pelajaran, sedangkan keterampilan menutup pelajaran bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan peserta didik dalam kegiatanpembelajaran, di samping untuk memantapkan penguasaan peserta didik akan inti pelajaran.

     Komponen keterampilan membuka pelajaran adalah sebagai berikut:

  1. Menarik perhatian, yang dapat dilakukan dengan; 1) memvariasikan gaya mengajar

Guru, 2) menggunakan alat bantu mengajar, 3) memvariasikan pola interaksi

  1. Menimbulkan motivasi, yang dapat dilakukan dengan; 1) menunjukkan kehangatan dan keantusisan, 2) menimbulkan rasa ingin tahu, 3) mengemukan ide yang bertetangan, 4) memperhatikan minat peserta didik.
  2. Memberi acuan, yang dapat dilakukan dengan; 1) mengemukakan tujuan dan batas-batas tugas, 2) menyarankan langkah-langkah yang akan dilakukan, 3) mengingatkan maslah pokok yang akan dibahas, 4) mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang akan dibahas
  3. Membuat kaitan, yang dapat dilakukan dengan; 1) mengaitkan aspek-aspek yang relevan dari mata pelajaran yang telah diajarkan, 2) membandingkan dan mempertentangkan pengetahuan baru dengan pengetahuan lama, 3) menjelaskan garis besar konsep untuk bahan yang sama sekali baru.

          Komponen keterampilan menutuppelajaran sebagai berikut:

  1. Meninjau kembali (mereviu), yang dapat dilkukan dengan; 1) merangkum inti pelajaran, 2) membuat ringkasan.
  2. Menilai (mengevaluasi), yang dapat dilakukan dengan; 1) mengadakan Tanya jawab secara lisan, 2) mendemonstrasikan keterampilan, 3) mengaplikasikan ide baru, 4) menyatakan pendapat tentang masalah yang dibahas, 5)  memberikan soal-soal tertulis
  3. Memberi tindak lanjut, yang dapat dilakukan dengan member pekerjaan rumah (PR) individual atau tugas kelompok

Penerapan keterampilan membuka dan menutup pelajaran hendaknya/ haruslah mengikuti prinsip kebermaknaan serta berurutan dan berkesinambungan.

6. KETERAMPILAN MEMBIMBING DISKUSI KELOMPOK KECIL

    Tidak semua pembicaraan yang dilakukan oleh sekelompok kecil orang disebut sebagai diskusi. Aagar dapat disebut sebagai diskusi kelompok kecil, syarat-syarat berikut harus dipenuhi seperti:

1. melibatkan kelompok yang anggotanya berkisar antara 3 s. d 9 orang.

2. Berlangsung dalam situasi tatap muka yang informal, artinya semua anggota kelompok

    berkesempatan saling melihat, mendengar, serta berkomunikasi secara bebas dan

    langsung.

3. Mempunyai tujuan yang mengikat anggota kelompok sehingga terjadi kerja sama untuk mencapainya.

4. Berlangsung menurut proses yang teratur dan sistematis menuju kepada tercapainya tujuan kelompok.

    Guru perlu menguasai keterampilan diskusi kelompok kecil karena:

  1. Musyawarah (diskusi) sudah membudaya dalam masyarakat Indonesia

2. Tiap warga negara Indonesia diharapkan memiliki keterampilan berdiskusi

3. Keterampilan berdiskusi/memimpin diskusi tidak dibawa sejak lahir

4. Diskusi mempunyai pera khusus dalam pencapaian tujuan pendidikan yang bersifat

    pembentukan sikap, nilai, kebiasaan, dan keterampilan.

    Agar guru dapat membimbing diskusi kelompok kecil secara efektif, ada 6 komponen keterampilan yang dikuasai guru. Yaitu; 1) memusatkan perhatian, 2) memperjelas masalah dan uraian pendapat, 3) menganalisis pandangan, 4) meningkatkan urunan, 5) menyebarkan kesempatan berpartisipasi, 6) menutup diskusi.

7. KETERAMPILAN MENGELOLA KELAS

    Pengelolaan kelas dapat didefenisikan dengan berbagai cara tergantung dari pendekatan yang dianut seperti berikut ini:

1. Pendekatan otoriter mendefenisikan pengelolaan kelas sebagai seperangkat kegiatan

yang dilakukan guru untuk menegakkan dan memelihara aturan didalam kelas. Ini berarti bahwa para penganut pendekatan ini memandang pengelolaan kelas sebagai proses mengontrol perilaku peserta didik.

2. Pendekatan permisif, sebagai lawan dari pendekatan otoriter, mendefenisikan

   pengelolaan kelas sebagai usaha guru untuk memaksimalkan kebebasan peserta didik. Membantu peserta didik merasakan kebebasan untuk melakukan apa yang mereka inginkan merupakan pran utama guru di dalam kelas. Pandangan ini bertentangan dengan arti pengelolaan itu sendiri

  1. Pendekatan modifikasi tingkah laku, pendekatan ini mendefinisikan pengelolaan kelas sebagai serangkaian kegiatan guru untuk meningkatkan munculnya perilkau yang baik, dan mengurangi munculnya perilaku yang tidak diharapkan. Penganut pendekatan ini memandang pengelolaan kelas sebagai proses pengubahan tingkah laku.
  2. Defenisi keempat berangkat dari asumsi bahwa proses belajar dapat dimaksimalkan dalam iklim kelas yang positif. Oleh karena itu, penganut asumsi ini beranggapan bahwa pengelolaan kelas merupakan proses penciptaan iklim sosioemosional yang positif di dalam kelas. Sejalan dengan asumsi ini, pengelolaan kelas didefenisikan sebagai seperangkat usaha guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosioemosional kelas yang positif.
  3. Defenisi yang kelima berdasarkan pada asumsi bahwa perilaku peserta didik sebagai kelompok kelas mempunyai pengaruh pada terjadinya pembelajaran. Oleh karena itu, guru berperan untuk menguatkan perkembangan kelompok yang efektif. Sejalan dengan pandangan ini pengelolaan kelas didefenisikan sebagai usaha guru untuk membangun dan memelihara organisasi kelas secara efektif.

Komponen keterampilan pengelolaan kelas terdiri dari keterampilan yang bersifat proventif dan keterampilan yang bersifat represif. Keterampilan yang bersifat preventif berkaitan dengan usaha mencegah terjadinya gangguan, yang dapat ditunjukkan dengan; 1) sikap tanggap, 2) membagi perhatian, 3) memusatkan perhatian kelompok, 4) memberikan petunjuk yang jelas, 5) menegur, 6) member penguatan.

Keterampilan yang bersifat represif, berkaitan dengan usaha mengatasi gangguan yang muncul, yang dapat dilakukan melalui 3 pendekatan berikut:

  1. Modifikasi tingkah laku, yang mencakup; 1) menungkatkan tingkah laku yang diharapkan, 2) mengajarkan tingkah laku baru, 3) mengurangi/menghilangkan tingkah laku yang tidak diharapkan
  2. Pengelolaan kelompok, yang menekankan pada pemecahan masalah melalui diskusi kelompok.
  3. Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.

     Agar dapat mengelola kelas secara efektif guru harus memperhatikan beberapa hal di samping harus menghindari sejumlah perilaku yang dianggap mudah menimbulkan gangguan.

8. KETERAMPILAN MENGAJAR KELOMPOK KECIL DAN PERORANGAN

    Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan merupakan keterampilan dasar mengajar yang paling kompleks dan menuntut penguasaan keterampilan dasar mengajar sebelumnya Pada dasarnya peserta didik mempunyai karakteristik yang sangat berbeda satu dengan yang lainnya. Untuk melayani perbedaan ini, diperlukan variasi pengorganisasian kegiatan kelasikal, kelompok kecil, dan perorangan.

    Pengajaran kelompok kecil dan perorangan hanya mungkin terwujud jika terpenuhi syarat-syarat berikut:

  1. Ada hubungan yang sehat dan akrab antara guru-peserta didik dan antara peserta didik.
  2. Peserta didik belajar denga kecepatan, kemampuan, cara, dan minat sendiri
  3. Peserta didik uhannyamendapat bantuan sesuai dengan kebut
  4. Peserta didik dilibatkan dalam perencanaan belajar
  5. Guru dapat memainkan berbagai peran.

     Pengorganisasian kegiatan kelasikal, kelompok kecil, dan perorangan, dapat dibuat dengan berbagai variasi, sesuai dengan topic/tujuan kemampuan peserta didik serta waktu dan fasilitas yang ada. Agar dapat menglola kegiatan kelompok komponen keterampilan sebagai berikut:

  1. Keterampilan mengadakan pendekatan secara peribadi
  2. Keterampilan mengorganisasian
  3. Keterampilan membimbing dan memudahkan belajar
  4. Keterampilan merencanakan dan melakukan kegiatan pembelajaran

Agar pengajaran kelompok kecil dan perorangan dapat berlangsung secara efetif, guru harus memperhatikan bebagai hal berikut ini:

1. Tidak semua toppik dapat disajikan dalam format kelompok kecil dan perorangan

2. Lakukan pengajaran kelompok kecil dan perorangan secara bertahap

3. Pengorganisasian peserta didik, sumber/materi, ruangan, dan waktu harus dilakukan

   secara cermat

  1. Kegiatan harus diakhiri dengan kulminasi yang memungkinkan peserta didik saling

    belajar

5. Guru harus mengenal peserta didik secara pribadi.

C. KESIMPULAN

    Keterampilan dasar mengajar merupakan satu keterampilan yang menuntut latihan yang terprogram untuk dapat mengasainya. Penguasaan terhadap keterampilan ini memungkinkan guru mampu mengelola kegiatan pembelajaran secara lebih efektif.

          Menurut hasil penelitian ( Turney, 1979), terdapat 8 keterampilan dasar mengajar yang dianggap berperan penting dalam  menentukan keberhasilan pembelajaran. Keterampilan yang dimaksud yaitu; 1) keterampilan bertanya, 2) keterampilan memberi penguatan, 3) keterampilan mengadakan varasi, 4) keterampilan menjelaskan, 5) keterampilan membuka dan menutup pelajaran, 6) keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil. 7) keterampilan mengelola kelas, 8) keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan.

D. REKOMENDASI

Berdasarkan uraian diatas perlu disampaikan rekomendasi sebagai bahan masukan

kepada semua guru-guru bahwa; Keterampilan dasar mengajar bersifat generik, yang berarti bahwa keterampilan ini perlu dikuasai oleh semua guru TK, SD/MI/ SLTP/MTs, SLTA/MA/MAK maupun dosen di perguruan tinggi. Dengan pemahaman dan kemampuan menerapkan keterampilan dasar mengajar secara utuh dan terintegrasi, guru diharapkan mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

 

Anitah Sri W, dkk (2007) Strategi Pembelajaran di SD.Jakarta:  Pusat Penerbitan

             Universitas Terbuka.

Dirjen Dikdasmen. (2004). Materi Pelatihan Terintegrasi Pengetahuan Sosial. Jakarta :

                Depdiknas

Djamarah, Syaiful Bahri ,2000. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha

                Nasional

Hamalik, O. 2003. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Istarani. 2011. Model-Model Pembelajaran Interaktif. Medan : Iscom Medan.

Ivor K. Davies. 1991. Pengelolaan Belajar. Jakarta: Rajawali Pers.

Kasinyo Harto dan Abdurrahmansyah. (2009). Metodologi Pembelajaran Berbasis  

               Aktive Learning. Palembang – Sumatera Selatan : Grafika Telindo Pres.

Sandy, I Made. (1987). Esensi Kartografi. Jakarta : Jurusan Geografi FMIPA Ul,

Sumaatmadja. Nursid (2007). Konsep Dasar IPS. Jakarta: Universitas terbuka (UT)

Sumantri, Moh. Nukman. (2001).  Menggagas Pembaruan Pendidikan IPS. Bandung :

              Rosdakarya Remaja.

Udin S. Winataputra. (2003).  Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Pusat Penerbitan

             Universitas Terbuka.

Wina Senjaya. (2008).  Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan.

             Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

Wardani.I.G.A.K & Julaeha Siti. (2007) Keterampilan Mengajar 1 Jakarta : Pusat

             Penerbitan  Universitas Terbuka.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.