Sikap Optimis Seorang Pemimpin

0
149

Oleh:

Mardiansyah, S.IP., M.Si.

Widyaiswara Ahli Muda, BDK Palembang

 

 

Abstrak

 

Salah satu karakter kepemimpinan adalah sikapnya yang optimis di dalam memandang masa depan. Bagaimana mungkin seorang pemimpin akan memberikan pengaruh bila tidak memiliki kepercayaan diri dan optimisme. Maka seorang pemimpin selalu melihat dibalik tantangan atau perubahan selalu saja ada peluang yang lebih baik.

 

Kata Kunci : optimis, pemimpin.

 

PENDAHULUAN

            Pemimpin yang optimis selalu melihat kesempatan di antara begitu banyak kesempitan sedangkan, pemimpin yang pesimis melihat begitu banyak kesempitan di antara banyak kesempatan.  Hellen Keller, dalam Tasmara (2006: 196) berkata, “Optimism is the faith that leads to achievements. Nothing can be done without hope and confidence.” (Optimisme adalah sebuah keyakinan yang akan membawa pada pencapaian hasil. Tidak ada yang bisa diperbuat tanpa harapan dan percaya diri).

            Seorang pemimpin, setiap kali mereka diterpa oleh badai tantangan, segeralah mereka perbaiki dan membenahi diri, melakukan evaluasi lahir batin seraya melemparkan pertanyaan yang membedah nuraninya. Apa yang salah pada diri saya? Mengapa hal ini terjadi? Bagaimana bila strateginya diganti? Karena sifat optimisnya, mereka selalu melihat peluang, selalu ada jalan keluar untuk berbuat sesuatu. Sebagaimana sebuah peribahasa yang mengatakan, “we cannot direct the wind…but we can adjust the sail“. (Kita tak dapat mengatur angin, tetapi dapat mengatur layar).

            Pemimpin melakukan pertanyaan yang bersifat konseptual, tidak hanya sekedar teknis (why and what if yang bersifat strategis, bukan hanya what and how yang bersifat teknis). Dalam segala hal, pemimpin tidak pernah mencari kambing hitam, mencoba mencari alasan-alasan kegagalan dirinya dengan menyalahkan orang lain atau keadaan. Pemimpin sadar bahwa apa pun hasilnya adalah hasil keputusan dirinya dan tetap akan menjadi tanggung jawabnya.

 

Pembahasan

            Tidak ada kamus “pesimis” bagi pemimpin dalam melihat segala sesuatu. Karena hal itu bagi seorang pemimpin tidak akan menolong dirinya, kecuali menambah beban untuk mengatasi persoalan yang dihadapinya. Bila ada gelas setengah isi dan setengahnya kosong, dia akan berkata, “Gelas itu setengah isi”. Sedangkan pemimpin yang pesimis berkata “Gelas itu setengah kosong”.

            Pemimpin yang optimis melihat segala sesuatu dengan kaca mata yang terang. Dalam keadaan yang sangat tertekan  sekalipun, dia masih mampu melihat cahaya terang. Ada harapan untuk keluar dari kegelapan. Dengan harapannya itulah dia bergerak mencari jalan keluar. Sementara itu, pemimpin yang pesimis tidak mau tergerak hatinya, walau ada secercah cahaya. Dia hanya berkeluh kesah meratapi sang nasib, padahal di balik secercah cahaya itu ada lubang untuk keluar dari kegelapan. Pemimpin yang optimis berkata, “ada secercah cahaya dalam kegelapan ini, siapa tahu disana ada jalan keluar”. Sedangkan pemimpin pesimis meratapi nasibnya, “Oh alangkah gelapnya tempat ini”. Sikap optimis akan melahirkan sosok manusia yang percaya diri, sedangkan orang pesimis menjadi tawanan keraguan.

            Sir Winston Churchill, dalam Tasmara (2006: 198) berkata, “A pessimist sees the difficulty in every opportunity, an optimist sees the opportunity in every difficulty”. (Orang yang pesimis melihat kesukaran di balik kesempatan, sedangkan orang optimis melihat kesempatan dalam setiap kesukaran).     

            Dalam satu pertandingan bola paling bergengsi di Eropa, Bayer Munchen ketinggalan dua skor dari Manchester United. Babak kedua sudah dimulai dan waktu pertandingan berakhir masih tersisa sepuluh menit. Pelatih Bayer berteriak-teriak dari sisi lapangan, “Hey, terus maju, jebol semua lini. Kita masih punya sepuluh menit.” Sementara itu, pelatih Manchester dengan tersenyum berteriak kegirangan dan berkata, “Tenang, pertahankan, waktu kita sedikit lagi, tinggal sepuluh menit.” Selanjutnya, sebuah keajaiban terjadi. Menjelang menit kedelapan akan berakhir, Bayer memasukkan gol, kedudukan menjadi dua satu. Lalu menjelang menit kelima satu goal lagi masuk ke gawang Manchester, kedudukan seri dua-dua. Setengah menit menjelang peluit berakhir, satu goal emas masuk kembali ke gawang Manchester. Bayer Munchen yang tertinggal dua skor mengungguli lawannya tiga dua dan menang. Mereka pun berteriak, “yes we are a winner”.

            Sikap yang optimis inilah yang telah melahirkan pribadi-pribadi yang tangguh. Sikap percaya diri inilah yang telah menghiasi para bintang kehidupan. Dari sejarah para pendahulu (assabiqunal awaluun) kita menyaksikan begitu banyak pelajaran yang bisa kita raih. Islam tersebar hampir kepelosok penjuru dunia hanya dalam tempo yang sangat singkat disebabkan jasa pribadi-pribadi yang memiliki karakter seorang pemenang yang tangguh, optimis, dan percaya diri.

 

Penutup

            Optimis melahirkan keberanian untuk menempuh segala resiko karena mereka sadar segala sesuatu pasti ada resikonya sesuai dengan hukum sebab akibat. Ibarat sebuah kapal, tentu saja akan selamat bila terus ditambatkan di pelabuhan, tetapi bukan untuk itu kita membuat kapal. Dia dirancang untuk mampu menembus badai mengarungi samudra menghantarkan cita-cita.        

 

Daftar Pustaka

Goleman, Daniel. Kepemimpinan Berdasarkan Kecerdasan Emosi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 2004.

 Hill, Napoleon dan W. Clement Stone. Positive Mental Attitude. New Zealand: Angus Robertson. 1994.

 Maxwell, john C., The 21 Irreputable Laws of Leadership (21 Hukum Kepemimpinan Sejati). Interaksa. 2004.

 Tasmara, Toto. Spiritual Centered Leadership. Jakarta; Gema Insani Press. 2006

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.