WAWASAN AL-QUR’AN DAN HADITS

0
54

WAWASAN AL-QUR’AN DAN HADITS

Oleh

Dr. H. Nawawi Nurdin, M.Pd.I

Widyaiswara Ahli Utama

 

 A. Pendahuluan

Berdasarkan Keputusan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam No. DJ. III/342 tahun 2016 tentang Petunjuk Teknis Pengangkatan Penyuluh Agama Islam Non PNS disebutkan bahwa Penyuluh Agama Islam Non PNS adalah Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja yang diangkat, ditetapkan dan diberi tugas serta wewenang secara penuh untuk melakukan kegiatan bimbingan, penyuluhan melalui bahasa agama dan pembangunan kepada masyarakat.

Keputusan Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI Nomor 15 Tahun 2017 tentang Kurikulum Diklat Tekniis Substantif Kompetensi Penyuluh Agama Islam Non PNS, terdiri dari Kelompok Dasar: Peningkatan kualitas pembangunan bidang bagama; Peningkatan kualitas diklat teknis pendidikan dan keagamaan dan Peningkatan kualitas bimbingan masyarakat Islam. Kelompok Inti: Wawasan Kebangsaan, Revolusi mental, Tugas dan Fungsi penyuluh agama non PNS; Komunikasi penyuluh agama; Kerukunan umat beragama dan Wawasan al-Qur`an dan hadits. Kelompok Penunjang meliputi overview, pre test dan post test, BLC dan Rencana Tindak Lanjut.

Oleh karenanya, Penyuluh Agama Islam Non PNS memiliki fungsi informatif disamping tiga fungsi lainnya yakni fungsi konsultatif, edukatif dan advokatif.  Di dalam melaksanakan fungsi informatif ini, Penyuluh Agama Islam Non PNS menyampaikan penerangan agama dan mendidik masyarakat sesuai ajaran agama Islam.

Untuk itu, Penyuluh Agama Islam Non PNS seyogyanya memiliki pengetahuan dan wawasan tentang sumber utama ajaran agama Islam tersebut yakni al-Qur’an dan hadis, apalagi jika merujuk kesenjangan kompetensi dan latar belakang yang heterogen dari para Penyuluh Agama Islam Non PNS tersebut, maka aspek ini terasa semakin urgen untuk diberikan melalui kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (diklat).

Ada beberapa topik penting dan mendasar yang harus menjadi pengetahuan dan wawasan oleh Penyuluh Agama Islam Non PNS terkait dengan al-Qur’an dan hadis, di antaranya, adalah cara yang benar dalam membaca al-Qur’an sesuai dengan kaidah ilmu tajwid serta ayat-ayat dan hadits pilihan serta klasifikasi hadits tentang kepenyuluhan atau dakwah. Secara kongkrit, satu usaha untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan Penyuluh Agama Islam Non PNS tentang  Wawasan al-Qur’an dan Hadis.

B. Wawasan al-Qur`an

1. Pengertian al-Qur’an

Menurut bahasa, kata القرآن adalah akar kata (mashdar) dari kata kerja قرأ (fiil mâdhi) yang berarti membaca. Bentuk masdar dari قرأ ada dua yaitu قراءة dan قرآنا; keduanya berarti bacaan (Ibrahim Anis, 1392 : 722). Kata قرآن yang berarti “bacaan” ini terdapat dalam firman Allah SWT sebagai berikut:

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ. فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَهُ (القيامة: 18-17)

Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. (Q.S. al-Qiyâmah, 17-18”

Kata قرآن adalah bentuk masdar dengan timbangan فعلان. Pengertian dalam bentuk masdar ini dijadikan nama bagi wahyu atau kalâmullâh, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Tidak kurang dari 68 kali (M. Fuad Abdul Baqi, 1407 : 539), kata قرآن yang berarti wahyu atau kalâmullâh, diulang dalam Al-Qurân.

Menurut istilah definisi al-Qur’an paling sederhana dikemukakan oleh Mannâ‘ Al-Qattân (1973 : 20). Ia mengatakan bahwa pengertian Al-Qurân adalah :

كلام الله المنزل على محمد صلى الله عليه وسلم المتعبد بتلاوته.

Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW., membacanya merupakan ibadah”.

Berdasarkan definisi di atas, maka al-Qurân adalah wahyu atau kalâmullâh.  Selain kalâmullâh, tidak dapat dinamakan Al-Qurân, sekalipun isi atau maksudnya dari Allah SWT. Al-Qurân itu diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, berarti wahyu yang diturunkan kepada selain Nabi Muhammad, tidak dapat dinamakan Al-Qurân. Al-Qurân itu disampaikan kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril AS.

2. Cara Membaca al-Qur’an yang Benar

Membaca al-Qur’an dengan baik dan benar dalam kajian Islam diukur dengan ilmu tajwid. Seseorang yang baik bacaannya adalah orang yang mampu menerapkan kaidah-kaidah ilmu tajwid serta segala aspek yang ada di dalamnya.

a. Pengertian tajwid :

عِلْمُ يُعْرَفُ بِهِ اِعْطاَءُ كُلِّ حَرْفٍ حَقَّهُ وَمُسْتَحَقَّهُ مِنَ الصِّفَاتِ وَالْمُدُودِ وَغَيرِ ذلِكَ كَالتَّرْقِيْقِ وَالتَّفْخِيْمِ وَنَحْوِهِمَا

“Ilmu yang memberikan segala pengertian tentang huruf, baik hak-hak huruf (haqqul huruf) maupun hukum-hukum baru yang timbul setelah hak-hak huruf (mustahaqqul harf) dipenuhi, yang terdiri atas sifat-sifat huruf, hukum-hukum mad dan lain sebagainya. Sebagai contoh adalah tarqiq, tafkhim, dan yang semisalnya”.

b. Aspek-aspek Ilmu Tajwid

Sesungguhnya pembahasan ilmu tajwid itu sangat luas. Di antara yang sering dibahas dalam ilmu tajwid adalah aspek makharijul huruf, sifatul huruf, ahkamul mad wal qasr, waqaf wal ibtida’. Dan ini merupakan aspek-aspek penting dalam ilmu tajwid. Namun karena begitu luasnya pembahasan ilmu tajwid, maka disini hanya akan dibahas beberapa komponen penting yang dibutuhkan penyuluh dalam membina masyarakat nantinya, yaitu :

Makharijul Huruf

Menurut bahasa, kata makharij adalah jamak dari kata makhraj yang berarti tempat keluar sesuatu. Sedangkan menurut istilah, makharijul huruf adalah Tempat keluarnya huruf yang padanya berhenti suara dari sebuah lafadz (pengucapan) yang dengannya dibedakan suatu huruf dengan huruf lainnya.

Adapun jumlah makharijul huruf  yang harus dipelajari tercakup dalam lima tempat (makhraj) secara umum (global), yaitu:

1). Al-Jauf  (rongga mulut dan rongga tenggorokan), makhraj yang keluar darinya tiga huruf mad, yaitu:  Alif  yang  sebelumnya  huruf  ber-harakat fathah, Wau sukun yang sebelumnya huruf yang ber-harakat dhammah, Ya sukun yang sebelumnya huruf yang ber-harakat kasrah.

2).  Al-Halq (tenggorokan), jumlah huruf  hijaiyah yang keluar dari makhraj al-halq adalah 6 huruf. Keenam huruf diatas (غ –خ –ع –ح –ه –ء) disebut huruf-huruf  halqiyyah (حَلْلقِيَّةُ  ) yang artinya huruf tenggorokan, karena keluar dari bagian organ tenggorokan.

3).  Al-Lisan (lidah), padanya ada 10 makhraj. Ada 18 huruf yang keluar dari al-lisan (lidah) yaitu huruf qaf, kaf , jim, syin, ya, dhad, lam, nun, ra, tha, dal, ta, shad, sin, zai, zha, dza, dan tsa.

4).  Asy-Syafatain (dua bibir), padanya ada 2 makhraj. Huruf yang keluar dari makhraj ini ada empat huruf, yaitu: fa’ mim, ba’, dan waw.

5).  Al-Khaisyum (rongga hidung), padanya ada 1 makhraj. Al-Khaisyum artinya aqshal anfi atau pangkal hidung. Dari makhraj ini keluar satu makhraj, yaitu ghunnah (sengau/dengung). Setidaknya ada empat tempat yang padanya terjadi bunyi sengau, yaitu ; pada huruf mim dan nun ber-tasydid, pada idgham bi ghunnah, bacaan ikhfa dan bacaan iqlab.

Ahkamul Huruf

 Ahkamul Huruf adalah hukum-hukum bacaan huruf setelah proses keluarnya huruf-huruf tersebut dari makhraj (tempat keluar)-nya. Seperti; ghunnah (berdengung) dan tidak berdengung (bilaa ghunnah).

1). Bacaan yang berdengung (ghunnah)

a. Ikhfa

Ikhfa adalah membunyikan huruf nun mati  atau tanwin dengan samar-samar dengan bunyi sengau sepanjang dua harakat (ketukan).

b. Iqlab

Iqlab, yaitu membalik bunyi nun mati dan tanwin menjadi bunyi mim mati ketika bertemu dengan satu huruf iqlab, yaitu hurup.

c. Idghom bighunnah

Idgham bighunnah menurut ilmu tajwid adalah memasukkan bunyi nun mati atau tanwin ke dalam huruf-huruf idgham yang empat yakni, ya, waw, mim, nun.

d. Idghom miimi

Idghom miimi yakni mim mati bertemu dengan huruf mim dengan cara membacanya adalah dengan memasukkan suara huruf mim mati kedalam huruf mim setelahnya yang disertai dengan mendengung.

2). Bacaan yang tidak berdengung (bilaa ghunnah)

a. Izhar

Idzhar adalah bacaan nun mati atau tanwin yang dibaca terang atau jelas apabila diikuti salah satu dari huruf halqy (huruf kerongkongan) yakni; alif, ha, ain, ha, ghain, kha.

b. Izhar Syafawi

Idzhar Syafawi berasal dari kata “syafatun” artinya bibir. Bacaan idzhar syafawi adalah bacaan yang dibaca terang atau jelas. Sedangkan makhraj (tempat keluarnya) huruf berada di bibir. Huruf yang dibaca terang pada bacaan ini adalah huruf mim matinya. Disebut bacaan idzhar syafawi apabila ada huruf mim mati ( مْ ) diikuti salah satu dari huruf hijaiyah kecuali mim dan ba’. ( ب , م ).

c. Idghom bilaa ghunnah

Idham bilaghunnah artinya memasukkan nun mati atau tanwin ke dalam suara huruf di depannya dengan tanpa dengung. Hukum bacaan idgham bilaghunnah terjadi apabila terdapat nun mati atau tanwin diikuti salah satu dari huruf ل  (Lam), ر  (Ra’).

Mad wal Qashar

Dari segi bahasa, mad mempunyai arti ziyadah atau bertambah/lebih. Menurut istilah, mad berarti Memanjangkan suara dengan salah satu huruf dari huruf-huruf mad. Sedangkan qashar artinya tetap huruf mad tanpa dipanjangkan atau tampa tambahan apa-apa. Mad itu menurut garis besarnya terbagi dua, yaitu :

1).  Mad Ashli (Mad Thabi’i) yaitu Mad (panjang-bacaan) dengan adanya satu huruf mad yang tersebut diatas, yang tidak diiringi oleh hamzah  atau oleh huruf yang ber-tasydid, atau huruf yang mati. Maka ukuran panjangnya ialah satu alif atau dua harakat. Mad ashli dikenal pula dengan mad thabi’i.

2).   Mad Far’i, yaitu mad (panjang bacaan) yang bertambah dari pada ukuran mad ashli dengan sebab disambut oleh hamzah atau sukun (tanda mati). Mad far’i terbagi kepada 13 macam, yaitu : Mad wajib muttashil, Mad jaiz munfashil, Mad aridh lissukun, Mad badal, Mad iwadh, Mad lazim mutsaqqal kalimi, Mad lazim mukhoffaf kalimi, Mad lazim mutsaqqal harfi, Mad lazim mukhaffaf harfi, Mad lin, Mad shilah, Mad farq dan Mad tamkin.

Secara ringkas, Hukum bacaan mad far’i di atas, terbagi tiga; Lazim, artinya sepakat semua ahli qira-at membacanya dengan mad dan sepakat pula dengan jumlah harkatnya.  Wajib artinya sepakat semua ahli qira-at membacanya dengan mad namun berbeda pendapat dalam menentukan jumlah harkatnya. Dan Jaiz artinya hukum yang menunjukkan tidak terdapatnya kesepakatan , apakah dibaca           mad atau dibaca qashar.

Waqaf wal Ibtida’

Waqaf dari sudut bahasa ialah berhenti atau menahan, manakala dari sudut istilah tajwid, wakaf ialah menghentikan bacaan sejenak dengan memutuskan suara di akhir perkataan untuk bernapas dengan niat ingin menyambungkan kembali bacaan (washal).

Tata cara wakaf (menghentikan) bacaan al-Qur’an adalah sebagai berikut :

  • Berwaqaf/berhentilah pada setiap tanda/batas ayat, sudah termasuk waqaf
  • Berhentilah pada setiap ada tanda waqaf yang telah ditetapkan ulama qira-at, kecuali tanda waqaf “mumtani’” jika sangat menyalahi makna ayat.
  • Jika ayatnya panjang, lalu tidak ada tanda waqah maka berhentilah pada akhir suku kata/kalimat dengan benar dan diulang kembali satu/dua kalimat ke belakang.
  • Jika berhenti ditengah kalimat/suku kata karena alasan tidak ada tanda waqaf atau nafas habis dan lain sebagainya, itu merupakan waqaf qabih/jelek.

c. Ayat-ayat Gharibah dan Contohnya

Ghorib artinya asing. Bacaan Ghorib adalah bacaan yang asing, yaitu bacaan yang tidak sebagaimana biasanya sehingga dikhawatirkan salah dalam membacanya. Agar tidak turut latah dan membiarkan  terjadinya kesalahan, alangkah baiknya apabila dicatat dan dipelajari ayat-ayat yang mengandung bacaan Ghorib tersebut, yaitu :

1. Saktah

Saktah adalah berhenti sejenak tanpa bernafas, dengan tujuan untuk meluruskan arti ayat. Di dalam mushhaf rosmul utsmani, ‘saktah’ ditandai dengan huruf  ‘SIN’ kecil pada ayat yang mengandung ‘saktah’ tersebut. Menurut Imam Hafash, saktah hanya ada di 4 tempat yaitu surat al-Kahfi ayat 1-2, Yasiin ayat 52, al-Qiyamah ayat 27, dan al-Muthaffifin ayat 14.

Pada contoh di bawah ini, khuruf ‘SIN’ (sebagai tanda saktah) terletak antara kata berwarna merah dan kata berwarna biru. Di antara kedua kata itulah terjadi saktah. Berikut ini adalah ayat yang mengandung saktah:

1). Surat Al-Kahfi (18) antara ayat 1 dan 2:

óOs9ur @yèøgs† ¼ã&©! 2%y`uqÏã ÇÊÈ   $VJÍhŠs% u‘É‹ZãŠÏj9 $U™ù’t/ #Y‰ƒÏ‰x© `ÏiB çm÷Rà$©!

2). Surat Yasiin (36) ayat 52:

(#qä9$s% $uZn=÷ƒuq»tƒ .`tB $uZsVyèt/ `ÏB 2$tRωs%ö¨B 3 #x‹»yd $tB y‰tãur ß`»oH÷q§9$# š ÇÎËÈ

3). Surat Al-Qiyaamah ayat 27:

4). Surat Al-Muthoffifiin ayat 14:

 

  1. Imalah

Imalah adalah pembacaan fathah yang miring ke kasroh pada surat Hud ayat 41.  Bunyi RO dibaca RE  sehingga menjadi majREha. Berikut ini adalah ayat yang mengandung Imalah, yaitu :

  1.  Isymam

Isymam adalah  menampakkan dhommah yang terbuang dengan isyarat bibir ketika membaca kata ‘LAATA’MANNA’ pada  surat yusuf ayat 11.  Teks lengkap surat Yusuf ayat 11 adalah sebagai berikut:

  1. Naql

Naql adalah memindahkan simbol/baris kasroh pada khuruf  HAMZAH  ke huruf  LAM, yaitu pada surat Al-Hujurot ayat 11. Berikut ini adalah ayat yang mengandung Naql, yaitu :

C. WAWASAN HADITS

  1. Pengertian Hadis

Secara etimologi/bahasa, kata hadits berasal dari bahasa Arab yaitu al-hadits dengan bentuk jamaknya adalah ahâdîts yang berarti cerita, berita, atau riwayat dari Nabi SAW (Mahmud Yunus, 1990 : 98). juga bisa berarti al-khabr“,yang dalam bahasa Indonesia diartikan dengan “berita” atau “perkataan dari seseorang yang disampaikan kepada orang lain” (Ahmad Warson Munawwir, 1884 : 344) . Dan hadis dengan arti “al-jadîd”, yakni sesuatu yang baru atau modern sebagai lawan dari kata al-qadîm, yakni sesuatu yang telah lama. terakhir hadis dengan arti al-qarîb, yakni sesuatu yang dekat atau yang belum lama terjadi. Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, dapat ditegaskan bahwa hadis menurut bahasa adalah sebuah berita yang dipindahkan dari seseorang kepada orang lain.

Pengertian hadits secara istilah, terdapat sedikit perbedaan ulama, antara ulama hadits (muhadditsîn)  dengan ulama ushul (ushuliyyin). Menurut ulama hadits (muhadditsîn), secara istilah hadis sama dengan pengertian sunnah, yaitu :

كل ما أثر عن الرسول صلى الله عليه وسلم من قول او فعل او تقرير او صفة خلقية أو خلقية أو سيرة سواء أكان قبل البعثة أم بعدها.

Segala sesuatu yang diriwayatkan dari Rasul Saw, apakah berupa perkataan, perbuatan, dan ketetapannya, atau sifat fisik, akhlak, atau sejarah hidupnya, baik itu terjadi sebelum kenabian atau sesudahnya.

Sementara menurut ulama ahli ushul (ushuliyyîn) hadits adalah :

كل ما صدر عن النبي صلى الله عليه وسلم غير القرآن الكريم من قول او فعل او تقرير مما يصلح أن يكون دليلا لحكم شرعي.

Segala sesuatu yang berasal dari Nabi Saw, baik berupa perkataan, perbuatan dan ketetapannya yang dapat atau pantas dijadikan dalil untuk menetapkan hukum syara’.

Pengertian yang dijelaskan oleh ulama ushul di atas bermakna bahwa yang dimaksud dengan hadits hanyalah segala perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasul Saw yang ada hubungannya dengan hukum dan mengandung misi kerasulan beliau yang berkonsekwensi hukum.

2. Fungsi hadits

a. Hadis atau sunnah menjelaskan hal yang mujmal atau global dalam Al-Qur’an menyangkut ibadah dan hukum. Misalnya Allah mewajibkan shalat atas orang-orang mukmin tanpa menjelaskan waktu, rukun-rukun dan jumlah raka’atnya. Maka hadis atau sunnah menjelaskan melalui praktik shalat Rasulullah berikut dengan metode pengajarannya kepada kaum muslimin tentang tata cara shalat itu sendiri. Hal tersebut termaktub dalam hadis.

b. Fungsi Hadis atau sunnah Rasul SAW terhadap Al-Qur’an adalah mentaqyid (memberikan batasan) terhadap lafal mutlak (kata yang tidak disertai batasan), seperti tergambar dalam firman-Nya surat al-Nisa` ayat 12. Ayat tersebut bersifat mutlaq, tidak ada batasan berapa batasan kebolehan berwasiat. Apakah seluruh harta boleh diwasiatkan atau sebagiannya. Maka dalam percakapan antara Rasulullah SAW dengan Sa’ad bin Abi Waqqash, beliau memberi batasan dengan sabdanya.

c. Fungsi Hadis atau sunnah berfungsi menegaskan (mutsbitah) dan menguatkan (muakkidah) terhadap informasi yang dikemukakan dalam Al-Qur’an atau menjelaskan prinsip yang disebutkan di dalam Al-Qur’an.

Jadi tidak terbantahkan lagi, bahwa hadis atau sunnah merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Quran yang berfungsi sangat strategis, keberadaan dan otoritas hadis atau sunnah ini sebagai sebuah sumber hukum dalam Islam wajib diperpegangi.

2. Klasifikasi Hadis

     a. Hadis ditinjau dari jumlah perawinya.

       1). Hadis Mutawatir

Hadis mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang banyak dalam kuantitas yang tidak mungkin mereka bersepakat untuk melakukan kedustaan. Hadis mutawatir juga dapat dibagi tiga; yakni 1). Mutawatir Lafzhiy, 2). Mutawatir Maknawi dan 3). Mutawatir amaliy.

     2)Hadis Ahad

Hadis ahad adalah Hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat Hadis mutawatir, baik ia diriwayatkan seorang perawi saja, dua, tiga atau lebih. Hadits ahad juga dapat dibagi tiga; yakni 1). Hadits Masyhur, 2). Hadits Aziz dan 3). Hadits Gharib.

   b. Hadis ditinjau dari kualitas perawinya

      1)  Hadits Shahih

Hadits sahih adalah hadis yang memiliki sanad yang bersambung (kepada nabi SAW), diriwayatkan oleh (perawi) yang ‘adil dan dhabith, hingga akhir sanadnya, dan tidak ada kejanggalan dan ‘illatnya.

2) Hadits Hasan

Hadis hasan tidak berbeda dari definisi Hadits sahih tetapi perawinya terdapat sedikit kelemahan hapalan dalam meriwayatkan Hadits tersebut.

      3) Hadits Dha’if

Hadis dha’if adalah Hadits yang tidak terhimpun padanya ciri-ciri Hadits sahih dan tidak pula Hadits hasan.

 D. Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa, Penyuluh Agama Islam Non PNS yang memiliki fungsi informatif , yang menyampaikan penerangan agama dan mendidik masyarakat sesuai ajaran agama Islam seyogyanya memiliki pengetahuan dan wawasan tentang al-Qur’an dan hadits.

Wawasan tentang al-Qur’an dan hadits yang mesti dimiliki para penyuluh ini secara umum terkait dengan tata cara membaca ayat al-Qur’an dengan benar dengan menguasai ilmu tajwid serta mampu mengidentifikasi ayat-ayat dan hadis-hadis kepenyuluhan/dakwah, seperti ayat dan hadis perintah tentang mengajak kepada kebaikan serta pahala bagi pelopor kebajikan.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an al-Karim

Anis, Ibrâhîm, Al-Mujam al-Wasîth, Mesir: Dâr al-Ma‘ârif, 1392 H, Cet. II

Al-Baqi, Muhammad Fûad ‘Abd, Al-Mujam al-Mufahras lî Alfâzh Al-Qurân, Beirut: Dâr al-Fikr, 1407 H/1987 M

Al-Qattan, Manna‘ Khalil, Mabahis fî Ulum Al-Qur’an, Beirut: al-Syirkah al-Muttahidah li al-Tauzi’, 1973 M

Muhassin.”Memahami Hukum Tajwid dan Kaedahnya”. Jakarta : Bintang Indonesia, 2012

Yunus, Mahmud, Kamus Arab-Indonesia, Jakarta : Hidakarya, 1990

Munawwir, Ahmad  Warson, Al-Munawwir Qamus ‘Arabiy Indonesiy, Yogyakarta : Unit Pengadaan Buku-buku Ilmiyah Keagamaan Pondok Pesantren al-Munawwir, 1984

Keputusan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam No. DJ. III/432 tahun 2016 tentang Petunjuk Teknis Pengangkatan Penyuluh Agama Islam Non PNS

Keputusan Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Nomor 15 Tahun 2017 tentang Kurikulum Diklat Teknis Substantif Kompetensi Penyuluh Agama Islam Non PNS

http//m.arysandi.abatasa.co.id/ayat-ayat ghoribah.htm, diakses tanggal 2 Februari 2017

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.