Viral Video Murid Bully Guru SMP di Gresik, Perlu Evaluasi Besar besaran terhadap Dunia Pendidikan Kita

0
49

Oleh:

Marzal, M.Pd

Widyaiswara Ahli Madya

anak sekolah pelajar

Foto Ilustrasi dari: www.sulselsatu.com

Dalam beberapa hari terakhir ini beredar video viral terkait aksi bullying yang dilakukan oleh seorang siswa terhadap salah satu guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Gresik, Jawa Timur, hal ini sangat meresahkan dan memprihatinkan para pelaku, pengamat dan para penggiat dunia pendidikan. Hal ini sepantasnya tidak sepatutnya terjadi karena sangat mencoreng dunia pendidikan kita. Pasalnya, itu telah mencerminkan sikap yang tidak santun dan tidak pantas dilakukan oleh seorang siswa. Terlebih, guru tersebut hanya menegur, bukan berteriak membentak dan memukul sang siswa.

Sebagaimana disampaikan oleh Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti dalam keterangan tertulis yang diterima Okezone, Minggu (10/2/2019). “Tidak semestinya seorang siswa bersikap demikian pada gurunya, apalagi sang guru tampaknya hanya menegur, bukan berteriak membentak apalagi memukul. Teguran sang guru pasti ada alasannya, sebagai pendidik, mungkin sang guru ingin menegur dalam rangka mendisiplinkan siswa yang bersangkutan,” ujarnya.

Kejadian ini harus menjadi perhatian, introspeksi dan evaluasi besar besaran dunia pendidikan kita. Introspeksi dan evaluasi dapat dimulai dengan pertanyaan mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah hanya satukali ini saja kejadian tersebut terjadi? apa yang hendak kita lakukan untuk mengatasi hal tersebut? Itulah paling tidak pertanyaan-pertanyaan introspeksi dan evaluasi dunia pendidikan kita yang perlu ditemukan dan diungkap jawaban-jawabannya sebagai upaya perbaiakan dan kemajuan dunia pendidikan kita dimasa yang akan datang agar kejadian-kejadian ini tidak terulang lagi.

Barangkali ada persoalan mendasar yang harus kita pecahkan bersama untuk mengatasi hal semacam ini. Diantara personal-persoalan itu antara lain: persoalan internal dan eksternal kalau mau dipecah lagi termasuk didalamnya persoalan HAM dalam dunia pendidikan, Persoalan Karakter siswa dalam Dunia Pendidikan, Persoalan Guru, persoalan lingkungan, persoalan kemajuan teknologi informasi, dan persoalan-persoalan lain yang harus segera ditangani dan dicarikan solusi penyelesaiannya.

Menurut komisioner KPAI kemungkinan ada dua faktor yang menyebabkan kejadian tersebut, yaitu karakter siswa yang kurang terbina dengan baik di rumah maupun di sekolah dan rendahnya kemampuan guru dalam mengelola pembelajaraan peserta didik.

“Biasanya sikap anak seperti itu, ada pengaruh kuat dari pola asuh di rumah. Bisa juga karena siswa sudah kecanduan game online yang mengandung unsur kekerasan misalnya, sehingga anak jadi tidak bisa membedakan antara perilaku di dunia maya dengan di dunia nyata. Terkait faktor pertama ini, tentu saja dibutuhkan assessment psikologis terhadap ananda untuk mencari faktor penyebab yang bersangkutan berperilaku agresif seperti dalam video tersebut,” katanya.

Faktor kedua, lanjutnya, bisa saja berasal dari gurunya, seperti rendahnya kompetensi paedagogik guru. Terutama dalam penguasaan di kelas serta dalam menciptakan suasana belajar yang kreatif, menyenangkan dan menantang kreativitas serta minat siswa.

“Manajemen penguasaan kelas di antaranya adalah bagaimana guru dapat mengatasi kelasnya dengan karakter siswa yang bermacam-macam. Kemampuan manajemen penguasaan kelas perlu dilatih dan hal ini merupakan tanggungjawab Dinas Pendidikan dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud),” jelasnya.

Menurut penulis selain dua persoalan di atas ada persoalan lain yaitu soal isu HAM di dunia pendidikan kita, coba kita bayangkan saat awal kemerdekaan sampai dengan tahun 1990an betapa kekuasan penuh terhadap pendidikan dan pembelajaran diserahkan kepada sekolah lebih spesifik lagi dalam kelas yaitu guru. Guru punya peran penting dalam pendidikan dan pembelajaran siswa, guru sangat dihormati di dalam kelas, dan siswa menaruh perhatian penuh terhadap proses pembelajaran yang difasiliatasi oleh guru di dalam kelas dan lingkungan sekolah. Mengapa demikian karena guru tidak segan dan tidak ada keraguan untuk mendidik dan mengajar para siswa karena sudah mendapat tanggungjawab penuh dari orang tua wali siswa agar anaknya dididik dan diajar, Guru sudah mendapat kepercayaan penuh dari orang tua siswa, jika perlu kadang-kadang kalau anak (dibaca: siswa) melapor atas tindakan guru terhadap anaknya kepada orang tua wali siswa maka justru orang tua wali siswa menyalahkan anaknya sendiri bukan malah menuntut guru dengan tudingan melanggar HAM untuk membela anaknya yang memang nakal, tidak sopan, tidak santun, dan tidak merhormati sertai tidak menghargai guru. Hal inilah yang menjadi menjadikan guru-guru kita penuh percaya diri dalam mendidik dan mengajar kita di zaman itu.

Kalau kita lihat video viral tersebut maka akan nampak dengan jelas bahwa guru tersebut nampak ketakutan dan pasrah karena ada rasa khawatir kalau ditindak dan diladeni nanti akan dituntut dan dituding melanggar HAM oleh orang tuanya, oleh karena itu tindakan guru itupun hanya menegur dengan lembut bukan dengan tindakan tegas terhadap siswanya yang merokok tersebut.

Untuk persoalan isu HAM dalam dunia pendidikan ini marilah kita berfikir dengan sungguh-sungguh dan penuh pertanyaan yang bertanggungjawab apakah tuntutan melanggar HAM dapat diterapkan dalam dunia pendidikan apabila guru dalam rangka proses pendidikan dan pengajaran disekolah terhadap siswa, menjadikannya pintar, cerdas, taat, sopan, santun, berkarakter, beriman, bertaqwa, berkemajuan, berbudi pekerti dan lain sebagainya. Apakah pantas isu melanggar HAM disematkan kepada guru dalam proses itu? Mari kita renungkan..

Ketika isu melanggar HAM dalam dunia pendidikan disematkan seperti itu maka siswa-siswa merasa mendapat angin segar atau angin sorga jika pada suatu ketika nanti guru memproses anak didik ini dari yang tidak berkarakter menjadi berkarakter, sopan, santun, madiri, menghargai, menghormati, toleransi dan sukses terjadi hal yang menurut pandangannya melewati batas karena mendapat dukungan dan pembelaan dari orang tuanya dan para penggiat HAM, maka ini tidak adil dan merusak tatanan proses pendidikan dan pembelajaran itu sendiri, sehingga pada akhirnya kejadian seperti video yang viral itu tadi tidak dapat dibendung akan terjadi lagi, lagi dan lagi. Maka oleh karena itu marilah kita menempatkan isu HAM dalam dunia pendidikan ini pada proporsi yang benar dan orang tua juga harus menyadari hal itu, jangan sedikit-sedikit melanggar HAM dan dilaporkan ke pihak yang berwajib. Hal inilah yang perlu kita evaluasi besar-besaran tentang isu pelanngaran HAM dalam proses pendidikan dan pengajaran yang dilakukan guru terhadap siswanya.

Persoalan lain berikutnya adalah pengaruh negatif teknologi informasi seperti Game baik yang online maupun offline, media sosial facebook, instagram, youtube yang begitu dahsyat yang menyebabkan tontonan-tontonan negative menjadi tuntunan (baca: role model) yang ditiru oleh para siswa. Dalam hal ini para siswa harus selalu diarahkan dan diawasi untuk selalu menggunakan teknologi informasi untuk hal-hal yang positif. Kecanggihan teknologi informasi dapat di pakai untuk menunjang proses pendidikan dan pengajaran, misalnya untuk media pembelajaran, mencari bahan pelajaran, untuk praktek bahas inggris dan lain-lain. Dengan demikian kita perlu evaluasi juga apakah pemanfaatan perkembang teknologi informasi sudah diarahkan oleh guru dan orang tua siswa kepada siswa dan anak didik kita kearah yang lebih positif atau belum?

Persoalan berikutnya yang tidak kalah penting juga adalah apakah penanaman nilai-nilai keagamaan, moral dan budi pekerti oleh orang tua dan guru baik di rumah ataupun di sekolah sudah dilakukan? Hal ini penting untuk membentuk sikap yang sopan santun, hormat kepada guru dan orang yang lebih tua, sayang dan menghargai kepada orang yang lebih muda dan sebaya, memiliki rasa simpati dan empati dan lain-lain. Salah satu tujuan pendidikan kita adalah untuk menciptakan generasi penerus bangsa atau anak didik yang berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur. Jadi bukan hanya untuk mengejar nilai semester dan UN yang tinggi, target kurikulum selesai, tetapi juga perlu penanaman nilai pembentukan sikap juga. Sehingga anak didik kita selain pintar, cerdas, terampil tetapi juga memiliki sikap yang baik dan luhur. Pertanyaannya apakah penanaman nilai-nilai pembentukan sikap ini sudah dilakukan oleh guru dan orang tua siswa kita? Ini perlu juga dievaluasi.

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa pertama marilah kita sadari bahwa pendidikan generasi penerus bangsa tidak hanya tanggungjawab sekolah dalam hal ini guru, tetapi juga tanggungjawab keluarga dan masyakat sebagai mana yang selama ini kita kenal dengan sebutan tripusat pendidikan yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu: keluarga, sekolah dan masyarakat. Tri pusat pendidikan harus berperan aktif untuk pembentukan karakter dan sikap positif siswa. Kedua, Guru harus selalu up to date informasi mengenai managemen kelas dan kemampuan pedagogic untuk memberikan proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif , menyenangkan, gereget dan berbobot (PAIKEM GOMBROT) sehingga siswa betah dan senang belajar. Ketiga mari kita renungkan dan evaluasi penerapan isu HAM dalam dunia pendidikan kita agar tidak salah dalam eksekusinya karena guru dan sekolah sesungguhnya tulus untuk memproses anak didik kita menjadi anak yang pandai, cerdas, terampil dan berkahlak mulia serta berbudi pekerti luhur sehingga tidak layak untuk disematkan sebagai orang yang melanggar HAM dan diproses hukum. Kempat mari para guru, orang tua siswa, dan masyarkat untuk kita bahu membahu dan sama-sama menanamkan nilai-nilai moral dan keagamaan untuk membentuk karakter siswa yang baik dan positif. Kelima mari kita semua guru dan orang tua harus selektif dan mengarahkan anak didik kita untuk memanfaatkan teknologi informasi untuk kepentingan yang bermanfaat dan mendidik bukan untuk digunakan pada hal-hal yang merusak moral anak didik kita.   

Wallahua’lam bissowaf, Semoga bermanfaat..


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.