URGENSI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEBAGAI BUDAYA SEKOLAH

0
161

Oleh :H.GUSMAN, S.Ag M.Pd

WIDYAISWARA AHLI MADYA BDK PALEMBANG

 

Abstrak : Dewasa ini moralitas generasi muda Indonesia, khusunya para pelajar dan mahasiswa sudah menjadi problem umum yang merupakan persoalan yang belum ada jawabannya secara tuntas. Pelajar dan mahasiswa sekarang sangat mudah terpengaruh oleh budaya asing, mudah terprovokasi, cepat marah, pergaulan bebas dengan lawan jenis yang ditunjukkan dengan maraknya seks bebas yang terjadi banyak melibatkan pelajar dan mahasiswa, banyak diantara mereka yang tidak lagi menaruh hormat terhadap guru-gurunya, bahkan tidak hormat terhadap orang tua. Hal ini merupakan gambaran anak bangsa yang terancam keutuhan pribadinya. Melihat Realita yang terjadi diatas, maka sangat logis apabila ada kritik dari masyarakat bahwa selama ini PAI belum berhasil dengan tidak mengatakan “gagal” dalam  membina peserta didik  menjadi insan yang beriman dan bertaqwa serta  berakhlak mulia. Kondisi demikian tentunya sangat berpengaruh pada sistem pendidikan disekolah terlebih di sekolah umum. Jika pengembangan intelektual tidak dibarengi dengan penanaman nilai-nilai  yang diwujudkan dalam pengembangan budaya agama di sekolah., maka tujuan pendidikan nasional tidak akan tercapai dengan baik. Pendidikan Agama Islam, sebenarnya memiliki kawasan yang begitu luas dan strategis dalam membentuk kepribadian anak bangsa. Pengembangan PAI tidak cukup hanya dengan mengembangkan pembelajaran di kelas dalam bentuk peningkatan kualitas dan penambahan jam pembelajaran, tetapi bagaimana mengembangkan PAI melalui budaya sekolah.  Hal ini merupakan langkah strategis dan sangat urgen yang dapat dilakukan sekolah dengan jalan meningkatkan peran-peran kepemimpinan sekolah dan kesadaran warga sekolah untuk perwujudan budaya Religius di sekolah.

Kata kunci : Urgensi, Pengembangan PAI, Budaya Sekolah

 

PENDAHULUAN

  1. Pengertian pengembangan Pendidikan Agama Islam sebagai Budaya Sekolah

Pendidikan Agama Islam pada dasarnya adalah upaya mendidikkan agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya, agar menjadi way of life (pandangan dan sikap hidup). Pendidikan agama memiliki peran dalam melakukan transformasi religuitas pada siswa. Tujuan pendidikan agama sejatinya bukanlah sekedar mentransfer pengetahuan dan keterampilan, melainkan lebih merupakan sebuah ikhtiar menumbuhkembangkan fitrah insani. Berfikir mengenai pengembangan mengajak seseorang untuk berfikir kreatif dan inovatif  dalam melakukan perubahan sebagai akibat dari keprihatian terhadap suatu kondisi. Pengembangan pendidikan Agama Islam sebagai budaya sekolah berarti bagaimana mengembangkan PAI di sekolah, baik secara kuantitatif maupun kualitatif diposisikan sebagai pijkan nilai,semangat, sikap dan perilaku bagi para actor sekolah seperti kepala sekolah, guru, peserta didik, tenaga kependidikan dan seluruh warga sekolah.

Dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 1 ayat 1 dinyatakan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pempelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Selanjutnya pada pasal 1 ayat 2 dinyatakan bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar RI tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Pendidikan Agama Islam baik pada jenjang pendidikan dasar maupun menengah antara lain bertujuan mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia, yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin bertoleransi, menjaga keharmonisan secara personal dan social serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah (Permen Diknas, Nomor 22 tahun 2006 tanggal 23 Mei 2006 tentang Standar Isi terutama pada lampiran Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran PAI. Dengan demikian, upaya pengembangan Pendidikan Agama Islam sebagai budaya sekolah telah memperoleh legalitas yang kuat.

Pengembangan Pendidikan Agama Islam sebagai budaya sekolah merupakan sebuah alternatif  untuk mengimplementasikan eksistensi dari nilai-nilai ajaran Islam yang secara konseptual tertuang dalam mata pelajaran PAI di sekolah dasar dan menengah. Karena menurut Nurkhalis Majid bahwa kegagalan Pendidikan Agama Islam disebabakan pembelajaran PAI lebih menitikberatkan pada hal-hal yang bersifat formal dan hafalan, bukan pada pemaknaannya. Proses belajar mengajar diakui selama ini masih mengejar target pencapaian kurikulum yang telah ditentukan, padahal yang diperlukan lebih pada suasana keagamaan. Berbicara tentang budaya sekolah mengajak seseorang untuk mendudukkan sekolah sebagai suatu organisasi yang didalamnya terdapat individu-individu yang memiliki hubungan  dan tujuan bersama. Tujuan ini tentunya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu atau memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan. Budaya sekolah merupakan perpaduan nilai-nilai, keyakinan, asumsi, pemahaman dan harapan-harapan yang diyakini oleh warga sekolah serta dijadikan pedoman berperilaku bagi seluruh warga sekolah. Budaya sekolah akan menjadi sebuah ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas.Budaya sekolah mempunyai dampak yang kuat terhadap prestasi kerja. Jika prestasi kerja yang diakibatkan oleh terciptanya budaya sekolah yang bertolak dari ajaran dan nilai-nilai Islam, maka akan bernilai ganda, yaitu di satu pihak sekolah itu sendiri akan memiliki keunggulan dengan tetap menjaga nilai-nilai agama sebagai akar budaya bangsa. Di lain pihak, para pelaku sekolah seperti kepala sekolah, guru, peserta didik dan tenaga kependidikan lainnya telah mengamalkan nilai-nilai Ilahiyah, Ubudiyah dan muamalah, sehingga memperoleh pahala yang berlipat ganda dan memiliki efek terhadap kehidupannya di akhirat.

  1. Strategi pengembangan Pendidikan Agama Islam sebagai Budaya Sekolah

Pendidikan agama sebagai salah satu kegiatan untuk membangun pondasi imtaq yang kokoh ternyata belum berjalan secara maksimal. Kekurangberhasilan pendidikan agama di sekolah secara khusus dan masyarakat secara umum adalah masih melebarnya jurang pemisah antara pemahaman agama masyarakat yang belum dibarengi dengan perilaku agama yang diharapkan. Indicator yang sangat nyata adalah semakin banyaknya para pelajar yang terlibat dalam tindakan yang tidak diinginkan dan bertentangan dengan ajaran agama yang diajarkan.

Sementara sebagian masyarakat menganggap bahwa terjadinya kasus-kasus tersebut disebabkan karena kegagalan Pendidikan Agama Islam di sekolah. Kurang efektifnya pendidikan agama seperti yang berjalan saat ini, pada gilirannya akan menimbulkan kekhawatiran terhadap mentalitas anak bangsa pada masa yang akan datang. Bahkan kekhawatiran ini telah menjadi fakta social pada saat sekarang, yaitu bobroknya moralitas anak bangsa yang notabenenya adalah kaum intelek dari sebuah lembaga pendidikan seperti praktik KKN yang menjamur dikalangan pemerintah, tawuran antar pelajar dan mahasiswa, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas dan lain sebagainya.  Untuk menjawab kekhawatiran ini, sekolah harus mampu memberikan pencerahan spiritual dengan cara mengembangkan Pendidikan Agama Islam sebagai budaya sekolah.

Komitmen dan dukungan dari seluruh warga sekolah terhadap upaya pengembangan PAI sebagai budaya sekolah merupakan  kunci keberhasilan dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Karena itu terjadi perubahan paradigma pendidikan agama di sekolah, yaitu bahwa pendidikan agama bukan hanya menjadi tugas guru agama saja, tetapi merupakan tugas bersama antara kepala sekolah, guru agama, guru umum, seluruh aparat sekolah dan orang tua murid. Memahami perubahan paradigma ini harus bersifat ekstra hati-hati agar tidak terjadi missunderstanding (salah pengertian). Adanya paradigma tersebut bukan berarti guru-guru matematika, IPA, IPS atau lainnya dituntut untuk mengajarkan sifat-sifat wajib Allah, asmaul Husna, bab thaharah, sholat, aqidah, nikah, mengajarkan tafsir atau hadis dan lain-lainnya untuk bagi-bagi tugas. Guru matematika, IPA, IPS dan lain-lainnya tetap pada posisi dan proporsinya sesuai dengan bidang keahlian masing-masing. Tetapi sejalan dengan pengertian pendidikan, sebagaimana terkandung dalam UU No.20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 1 ayat 1, maka setiap guru dan warga sekolah memiliki kewajiban untuk mengembangkan kekuatan spiritual keagamaan, dan menciptakan suasana belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Upaya ini dapat dilakukan oleh guru melalui pengintegrasian imtak dengan materi pelajaran, proses pembelajaran, dalam memilih bahan ajar serta memilih media pembelajaran dan semua warga sekolah memiliki kewajiban untuk mengembangkan komitmennya masing-masing bagi terwujudnya nilai-nilai agama dan akhlak mulia di sekolah. Kepala sekolah dalam hal diatas memiliki peran sentral dalam membawa keberhasilan lembaga pendidikan. Kepala sekolah berperan memandu, menuntun, membimbing, membangun, memberi, memotivasi kerja, mengemudikan lembaga, menjalin jaringan komunikasi yang baik, dengan komunitas sekolah, lingkungan sekitar dan yang lainnya. Peran kepemimpinan dalam mengembangan nilai-nilai agama sebagai budaya sekolah sangat penting. Karena sebuah lembaga pendidikan yang dikelola oleh pemimpin yang berkomitmen serta berwawasan luas, memahami dan berjiwa Islami, maka akan berjalan dengan tertib dan dinamis. Dan  idealnya, seluruh warga komunitas sekolah diharapkan untuk selalu menginternalisasikan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam dalam kehidupan sehari-hari yang diwujudkan dalam penerapan akhlak terpuji sebagai pengembangan budaya agama di komunitas warga sekolah.

Uraian tersebut diatas menggarisbawahi perlunya pembinaan perilaku dan mentalitas yang tidak hanya mengandalkan pada jam-jam belajar pendidikan agama, tetapi juga harus didukung oleh pembudayaan agama dalam komunitas sekolah. Pembudayaan pendidikan agama harus dimaknai secara luas, bukan hanya sebatas melaksanakan shalat berjama’ah dan membaca Al-Qur’an.  Tetapi dapat diwujudkan juga dalam budaya 3S (senyum, salam, sapa), etos kerja, tertib, disiplin, jujur, adil, toleran, simapti, empati, membuang sampah pada tempatnya, kebersihan dan keindahan lingkungan, tanggung jawab dalam pelaksanaan tugas, dan lain sebagainya. Semua hal tersebut sesungguhnya telah tertata rapi dalam ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Dengan mewujudkan budaya diatas, berarti warga sekolah telah menghidupkan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam itu sendiri.

Muhaimin dalam bukunnya yang berjudul “Rekonstruksi Pendidikan Islam” menjelaskan bahwa langkah-langkah yang harus dilakukan dalam membudayakan Pendidikan Agama Islam adalah sebagai berikut; pengenalan nilai-nilai agama secara kognitif, penghayatan nilai-nilai agama secara afektif, dan pembentukan tekad secara konatif.  Inilah trilogy klasik pendidikan yang disebut oleh Ki Dewantara Hajar  dengan istilah “cipta, rasa dan karsa” atau tiga ngo (bahasa jawa), yaitu ngerti (mengerti), ngerasakno (merasakan atau menghayati), dan ngelakoni (mengamalkan). Dengan analisis ini, Pendidikan Agama Islam pada dasarnya adalah membimbing peserta didik untuk secara sukarela mengikat diri pada ajaran dan nilai-nilai Islam.

Pengembangan PAI sebagai budaya sekolah tidak bisa dilepaskan dari peran para penggerak kehidupan keagamaan di sekolah tersebut yang berusaha melakukan aksi pembudayaan agama di sekolah. Strategi pengembangan budaya agama dalam komunitas sekolah , meniscayakan adanya upaya pengembangan dalam tiga tataran, yaitu tataran nilai yang dianut, tataran praktik keseharian dan tataran symbol-simbol budaya.

Pada tataran nilai yang dianut , perlu dirumuskan secara bersama nilai-nilai agama yang disepakati dan perlu dikembangkan disekolah, selanjutnya dibangun komitmen dan loyalitas bersama diantara semua warga sekolah terhadap nilai-nilai yang disepakati. Nilai-nilai tersebut ada yang bersifat vertical dan horizontal. Yang vertical berwujud dalamj hubungan warga sekolah denga Allah (habl min Allah) dan hubungan warga sekolah dengan sesamanya (habl min an-nas) dan dengan lingkungan sekitar.

Dalam tataran praktik keseharian, nilai-nilai keagamaan yang telah disepakati tersebut diwujudkan dalam bentuk sikap dan perilaku keseharian oleh semua warga sekolah. Dan dalam tataran simbol-simbol budaya, pengembangan yang perlu dilakukan adalah mengganti simbol-simbol yang kurang sejalan dengan ajaran dan nilai-nilai agama dengan simbol budaya yang agamais. Perubahan simbol dapat dilakukan dengan mengubah model berpakaian dengan  prinsip menutup aurat, pemasangan hasil karya peserta didik, foto-foto dan motto yang mengandung pesan-pesan nilai-nilai keagamaan dan lain-lain.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa strategi pengembangan Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai budaya sekolah yang utama adalah menggunakan power strategy, yakni strategi pembudayaan agama di sekolah dengan cara menggunakan kekuasaan atau melalui people’s power, dalam hal ini peran kepala sekolah dengan segala kekuasaannya sangat dominan dalam melakukan perubahan. Strategi ini dapat dikembangkan melalui pendekatan perintah dan larangan atau reward and punishment. Selanjutnya dikembangkan melalui pembiasaan dan keteladanan dari para pendidik dan tenaga kependidikan dalam proses pembelajaran maupun diluar jam pelajaran yang dilakukan secara berkesinambunagn dan penuh komitmen dari seluruh warga sekolah hingga akhirnya terbentuk kesadaran diri (self awareness) pada peserta didik.

  1. PENUTUP

Pengembangan Pendidikan Agama Islam sebagai budaya sekolah memiliki landasan yang kokoh, baik secara normative religious maupun konstitusional, sehingga tidak ada alasan bagi sekolah untuk mengelak dari upaya tersebut, apalagi saat ini bangsa Indonesia dilanda krisis multidimensional yang intinya terletak pada krisis akhlak atau moral. Dengan mengembangkan Pendidikan Agama Islam sebagai budaya sekolah, maka akan menjadi sebuah solusi yang tepat dalam memecahkan problem dekadensi moral dan menggiring generasi muda untuk memiliki karakter dan kepribadian yang baik. Karena pada dasarnya Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah lebih diorientasikan pada tataran moral action, yakni agar peserta didik tidak hanya berhenti pada tataran kompeten, tetapi sampai memiliki will dan kebiasaan (habit) dalam mewujudkan ajaran dan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mewujudkan hal tersebut, Pendidikan Agama Islam (PAI) kurang  membangun  jika hanya dijadikan sebagi sebuah mata pelajaran pada jam-jam tertentu, maka dari itu diperlukan sebuah upaya keras dari seluruh komunitas sekolah untuk mengembangkan nilai-nilai Pendidikan Agama Islam sebagai budaya sekolah. Dalam hal ini peran kepala sekolah sebagai objek sentral sangat urgen untuk mempengaruhi, mengkoordinir, dan menggerakkan semua warga sekolah untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Muhaimin, (2009), Rekonstruksi Pendidikan Islam. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

Hendiyati Sutopo (1984), Kepemimpian dan Supervisi Pendidikan. Jakarta : Bima Aksara

UU No.20 tahun 2003 tentang Sisdiknas dan Peraturan Pemerintah No.47 tahun 2008 tentang wajib belajar

Permendiknas no.20 pada tanggal 23 Mei 2006

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.