TUNTUTAN IMAN TERHADAP AL-QUR’AN

0
32

TUNTUTAN IMAN TERHADAP AL-QUR’AN

Oleh

Muhammad Abduh

 

Percaya kepada al-Qur’an merupakan bagian dari rukun iman ketiga yakni iman kepada Kitab-Kitab Allah. Sebagaimana diketahui Kitab-kitab Allah yang harus diimani adalah Zabur, Taurat, Injil, dan al-Qur’an.

Iman kepada Al-Qur’an tidak cukup hanya sebatas meyakini bahwa al-Qur’an adalah wahyu Allah saja melainkan harus diiringi sikap keinginan untuk merealisasikan ajaran yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana definisi iman itu sendiri yakni pembenaran dengan hati, pengakuan dengan lisan, dan amal dengan anggota badan.

Oleh karena itu, iman kepada al-Qur’an menuntut beberapa konsekuensi sebagai berikut :

Meyakini dan menerima seluruh  kandungan al-Qur’an

Tidak diragukan lagi bahwa setiap mukmin meyakini al-Qur’an sebagai wahyu Allah yang berfungsi sebagai pedoman hidup baginya. Setiap mukmin juga meyakini bahwa apa yang terdapat dalam al-Qur’an adalah suatu kebenaran mutlak. Meskipun demikian, keyakinan tentang kebenaran al-Qur’an tersebut terkadang belum diiringi oleh sikap menerima seluruh isi kandungannya. Masih ada sebagian mukmin yang hanya menerima sebagian al-Qur’an lalu menafikan sebagian yang lain.

Perintah menegakan hukum  Qishas misalnya, banyak diantara umat Islam Indonesia yang tidak setuju jika hal itu diterapkan dalam hukum Indonesia dengan berbagai macam alasan dan argumentasi.

Demikian pula ayat al-Qur’an yang terkait dengan kebolehan laki-laki menikah lebih dari satu. Umumnya para wanita cenderung tidak bisa menerima keberadaan ayat tersebut. Kasus yang lain, para aktivis gender tidak sependapat bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan.

Fenomena hilangnya tujuh ayat surat al-Maidah dalam terbitan al-Qur’an belakangan ini adalah reaksi ketidaksetujuan terhadap keberadaan ayat-ayat tersebut. Singkatnya dikalangan umat Islam masih ada yang hanya menerima sebagian ayat dan menafikan ayat yang lain. Padahal sikap seorang mukmin itu dituntut kepatuhan total terhadap Allah dan Rasul—Nya.

Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Mereka itulah orang-orang yang beruntung. Siapa saja yang taat kepada Allah dan rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS An-Nur 51-52).

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab 36).

Membaca

Al-Qur’an bukanlah kitab pusaka atau benda bersejarah sehingga harus disimpan rapih dalam lemari. Tapi ia adalah kitab petunjuk kehidupan yang mesti dibaca oleh umat manusia dan umat Islam. Namun realitas di kalangan kaum muslimin masih banyak yang belum bisa membaca al-Qur’an dengan baik. Sebagaimana data BPS (Badan Pusat Statistik, red) 2015 menyebutkan 54 persen dari populasi umat Islam di Indonesia buta membaca Al-Qur’an.

Jika ditelusuri lebih jauh terhadap 46 persen lainnya, maka umat Islam dapat dikelompokan kepada yang bisa baca al-Qur’an namun belum lancar dan bisa baca al-Qur’an dengan lancar. Jika dilihat dari intesitas membaca al-Qur’an maka dapat dikelompokan ada yang selalu membacanya dan ada pula yang mengacuhkan membaca Alquran.

Sejatinya membaca al-Qur’an menjadi kebutuhan kaum muslimin. Sebab membaca al-Qur’an banyak sekali manfaatnya. Satu huruf mendapat sepuluh kebaikan. Lalu setiap kebaikan akan menghapus kesalahan. Membacanya menjadi obat mujarab, penawar duka. Di akherat kelak memberi syafaat bagi yang selalu membacanya.

Para ulama dalam membaca al-Qur’an  khususnya di bulan Ramadhan, sebut saja Qatadah bin Da’amah khatam setiap 3 hari dan ketika sepuluh malam terahir khatam setiap malam. Imam Syafii mengkhatamkan dua kali sehari, Ibnu Asakir mengkhatamkan setiap hari.

Bagi umat di zaman teknologi digital saat ini, jika tak mampu seperti mereka yang khatam dalam satu bulan, maka satu halamanpun tidak mengapa asal dilakukan secara terus menerus.

Memahami

Meskipun dengan hanya membaca telah mendapatkan pahala. Tapi membaca al-Qur’an dengan memahami isinya jauh lebih bermakna. Al-Qur’an adalah pedoman hidup, dan pedoman hidup hanya bisa diketahui oleh manusia dengan cara memahami.

Membaca dengan memahami isi pesannya dapat mengantarkan pembacanya kepada penghayatan. Dengan menghayati pembacanya dapat merasakan keindahan dan kedamaian bersama al-Qur’an.  Hasan Basri berkata : orang-orang sebelum kamu memandang al-Qur’an sebagai surat dari Allah. Mereka membacanya, memahaminya, dan mentadaburinya.

Sungguh membaca al-Qur’an dengan berusaha memahami itu nikmat. Pembacanya dibawa seolah mendengar langsung Allah yang berbicara kepadanya. Sehingga bisa merasakan getaran kerinduan kepada Allah dari setiap kata yang dibaca.  Air mata pun tanpa terasa menetes di pipi. Air mata kesejukan yang membahagiakan.

Menghafal

Seorang mukmin dituntut untuk dapat menghafal bagian atau keseluruhan al-Qur’an sesuai dengan kemampuan masing-masing. Minimal surat al-Fatihah dan surat pendek lainnya yang perlu dibaca di dalam shalat.

Sungguh al-Qur’an telah dimudahkan bagi setiap orang yang ingin mempelajarinya ataupun menghapalnya.  Hal ini terbukti banyak orang yang tidak bisa melihat namun dapat menghafal seluruh al-Qur’an. Atau orang yang cacat mentalpun dapat menghafal al-Qur’an. Anak kecil dapat menghafal al-Qur’an bahkan orang usia lanjut pun dapat menghafal al-Qur’an.

Sungguh benar firman Allah “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran” (QS. 54:17, 22, 32, 40).

Mengamalkan

Puncak dari mengimani al-Qur’an adalah mengamalkan isi kandungannya. Iman tanpa amal itu hampa sedangkan amal tanpa iman itu percuma. Iman adalah fondasi sedangkan amal adalah implementasi. Sabda Nabi SAW: “Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman.” (HR. Ath-Thabrani).

Rasulullah adalah contoh pertama orang yang mengamalkan al-Qur’an. Semua aktivitas, sikap, prilaku Rasulullah mencerminkan pesan al-Qur’an. Karenanya tidak heran ketika Aisyah ra ditanya tentang akhlak Rasulullah saw menjawab bahwa akhlak beliau adalah Al-Qur’an.

Sejatinya umat Islam yang menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidup selalu berusaha untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Mengajarkan

Untuk melestarikan agar terus menerus diamalkan oleh umat Islam dari generasi ke generasi, maka kaum muslimin diwajibkan untuk mengajarkan al-Qur’an kepada orang lain. Minimal mengajarkan al-Qur’an kepada anak dan keluarga. Bagi yang tidak mampu mengajarkannya secara langsung cukuplah mendukung dengan membantu lembaga-lembaga pendidikan yang mengajarkan al-Qur’an. Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya (HR. Bukhori).Wallahua’lam

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.