Tanggung Jawab Seorang Pemimpin

0
25

Oleh:
Mardiansyah, S.IP., M.Si.
Widyaiswara Ahli Pertama, BDK Palembang

 

Abstrak

Mengukur kualitas seseorang, dapat dilihat seberapa jauh rasa tanggung jawabnya. Manusia disebut manusia karena mereka mampu menjawab amanah yang ditanggungnya dan seluruh perbuatannya merupakan tindakan-tindakan yang harus dihadapi dengan gagah betapapun risiko yang harus dihadapinya. Kita akan ditanya dan diminta jawaban atas seluruh tindakan atau perbuatan kita selama kita hidup. Jangankan tuntutan di akhirat, di dunia  saja kita akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang kita kerjakan.

 Kata Kunci : tanggung jawab, pemimpin.

PENDAHULUAN

            Responsibility atau tanggung jawab, berasal dari dua kata, yaitu response dan ability (atau able to response = kemampuan untuk menjawab) yang awalnya berasal dari bahasa latin, yaitu responsum yang artinya membalas (to reply) atau menjawab (to answers). Hal ini menunjukkan bahwa bila kita membalas atau menjawab berarti ada pertanyaan yang harus dijawab atau ada tekanan yang harus dibalas. Karena dia harus menjawab atau menyatakan perbuatannya, maka responsibilitas erat kaitan dengan akuntabilitas dan kredibilitas. Sehingga, dapat didefinisikan bahwa responsibilitas atau tanggung jawab adalah kemampuan seseorang untuk berani menyatakan apa yang diperbuatnya dan berani pula untuk secara konsekuen menerima risiko sebagai akibat dari apa yang diperbuatnya tersebut.

            Dalam bahasa Indonesia, responsibility diterjemahkan dengan tanggung jawab yang artinya seseorang yang menanggung beban menjawab apa dan bagaimana keadaan tanggungannya tersebut. Manusia telah terlahir dengan menanggung amanah sebagai pemimpin (khalifah fil ardh) dan kemudian harus berani menyatakan kepemimpinannya tersebut secara konsekuen dengan gagah berani. Seperti kata B. Randall, “Pemimpin itu harus tahu bahwa ia tahu dan harus dapat menjelaskan kepada orang disekelilingnya bahwa ia tahu.”

            Manusia disebut manusia karena mereka mampu menjawab amanah yang ditanggungnya dan seluruh perbuatannya merupakan tindakan-tindakan yang harus dihadapi dengan gagah betapapun risiko yang harus dihadapinya. Rasulullah pernah mengatakan: “ Setiap orang itu adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya…”

            Kita akan ditanya dan diminta jawaban atas seluruh tindakan atau perbuatan kita selama kita hidup. Jangankan tuntutan di akhirat, di dunia  saja kita akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang kita kerjakan.

 

Pembahasan

            Seseorang tidak dapat melepaskan diri dari belenggu perbuatannya. Pemimpin bertanggung jawab atas seluruh perbuatannya. Itulah sebabnya pemimpin yang sejati selalu berangkat dari “iman yang kuat”. Tanpa iman dan keyakinan yang kuat, tidak mungkin ada tanggung jawab. Iman satu akar kata dengan aman dan amanah. Orang beriiman merasakan kedamaian, ketentraman jiwa, dan hidupnya aman karena mereka yakin dirinya tidak sendirian. Rasa “aman” menyebabkan tumbuhnya kepercayaan diri dan menjaga kepercayaan orang lain kepadanya. Bukankah orang akan mempercayakan barangnya bila dianggap “aman”. Maka orang yang beriman dan yang memberikan jaminan keamanan itulah yang berhak menerima amanah.

            Orang yang berbuat korupsi, tidak disiplin, dan tidak mau menaati peraturan atau komitmen yang telah disepakati pada hakekatnya adalah orang yang tidak amanah. Orang yang tidak amanah menyebabkan tidak aman dan orang yang membuat diri dan orang lain tidak aman sesungguhnya sangat rendahlah kualitas imannya.

            Karena tanggung jawab itu diawali dari prinsip keyakinan yang kita sebut dengan Iman, maka perilaku pemimpin yang bertanggungjawab selalu menyatakan rasa tanggung jawabnya dengan prinsip kebenaran (sense of the truth). Kebenaran menyebabkan dirinya menjadi orang yang patut untuk dipercaya (to be trusted) karena seluruh perilaku, tindakan, dan perkataannya selalu benar (true).

            Orang yang mempunyai tanggung jawab tidak mudah membuat alasan yang sifatnya untuk menghindari resiko karena resiko atau tantangan yang dihadapi telah diantisipasi dalam mengambil keputusan. Pemimpin tidak mudah memakai kata pemaafan dengan menambahkan kata tetapi atau soalnya, karena kata tetapi menunjukkan butuh persyaratan atau bahkan semacam escapism atau melarikan diri dari persoalan yang ada. Pemimpin yang bertanggung jawab atas tindakannya lebih suka memakai kata-kata maka, karenanya, dan sebab itu.

 

Penutup

            Benang emas yang menguntai kata amanah memantulkan rasa aman pada diri dan orang lain.  Ditangan para pemimpin yang amanah/tanggung jawab semua rahasia akan hilang terkubur dalam nisan-nisan bisu tanpa tulisan. Amanah adalah kunci ketertiban. Ketika pemimpin khianati amanah, bersiaplah untuk memetik kehancuran.

            Ketika pemimpin amanah, maka Engkau telah membangun citra diri yang membuat orang berdecak menjadi kagum karena engkaulah manusia langit yang menjati tiang-tiang hukum kehidupan.

DAFTAR PUSTAKA

Hill, Napoleon dan W. Clement Stone. Positive Mental Attitude. New Zealand: Angus Robertson. 1994.

Maxwell, john C., The 21 Irreputable Laws of Leadership (21 Hukum Kepemimpinan Sejati). Interaksa. 2004.

Tasmara, Toto. Spiritual Centered Leadership. Jakarta; Gema Insani Press. 2006

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.