TUJUAN HIDUP SEORANG MUSLIM

0
87

TUJUAN HIDUP SEORANG MUSLIM

Oleh

Muhammad Abduh

 

Sudakah kita memiliki tujuan hidup ? pertanyaan ini terlihat sepele tetapi sangat menentukan kesuksesan dan kebahagiaan hidup seseorang. Karena boleh jadi banyak diantara kita belum memiliki tujuan hidup sehingga tidak memiliki arah yang jelas dan target yang tepat untuk dibidik. Kalaupun sudah memiliki tujuan hidup itu, tapi apakah tujuan hidup itu sudah benar atau justru tujuan yang salah. Kita bisa bayangkan apa yang akan terjadi jika pilot sebuah pesawat yang sedang terbang di angkasa atau nahkoda kapal yang sedang berlayar di lautan salah dalam menentukan arah yang dituju.

Mari kita tafakur sejenak memperhatikan pristiwa yang terjadi di sekitar kita. kita lihat para pedagang di pasar-pasar. Dengan semangat mereka menawarkan barang dagangannya kepada pembeli mulai dari pagi hari hingga sore hari, setiap hari tak mengenal hari libur, bertahun-tahun bahkan sebagian besar hidup mereka dihabiskan dengan berdagang.

Lalu mari kita lihat suadara-saudara kita para sopir di terminal-terminal dan bandara-bandara. Dengan cekatan mereka mencari penumpang untuk diantarkan ke tempatnya. Setiap hari hal itu dilakukan, tidak ada cuti dan libur, mulai dari jam 5 pagi hingga malam hari. Bertahun-tahun profesi sopir dijalani bahkan separuh hidup mereka dihabiskan diatas kendaraan mereka.

Kemudian kita bertamsya ke desa-desa melihat pemandangan disana. Disana kita akan melihat para petani setiap hari menggarap sawah dan ladangnya mulai dari fajar hingga terbenamnya matahari. Setiap hari hal itu dilakukan oleh para petani tanpa mengenal libur, bertahun-tahun bahkan seluruh hidupnya dihabiskan untuk menggarap sawah dan ladangnya.

Lalu kita coba menengok ke kantor-kantor baik milik pemerintah maupun swasta. Disana kita akan menyaksikan para pegawai atau pekerja dengan cekatan dan teliti mengerjakan tugasnya sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ada yang mengetik surat, membuat konsep laporan, rapat membahas sebuah proyek, menandatangani surat penting, dan lain sebagainya. Hal itu selalu mereka lakukan mulai dari jam 7.30 hingga jam 4 sore, setiap hari  hingga usia pensiun tiba.

Lalu kita bertanya apa sesungguhnya yang dicari para pedagang, para sopir, para petani, dan para pegawai itu. Sebagian besar kita akan menjawab yang dicari itu adalah uang, ya karena memang kita bekerja mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tapi pertanyaan selanjutnya apakah uang adalah tujuan hidup ? sehingga sebagian besar umat manusia rela menghabiskan hidupnya untuk mencari uang. Bahkan berbagai cara pun dilakukan mulai dari cara-cara terhormat hingga cara-cara yang tidak terpuji seperti korupsi, mencuri, merampok, menjual diri, dan lain sebagainya.

Tampaknya bagi sebagian orang, uang adalah tujuan hidup. Karena mereka meyakini bahwa uang adalah segalanya. Dengan uang bisa beli rumah, kendaraan, lahan yang luas, wanita yang cantik, bahkan hukum sekalipun. Tapi tentu saja itu tujuan yang keliru.  Karena ternyata uang tidak bisa memberikan kebahagiaan. Bukankah kita mencari uang sebanyak-banyaknya agar kita bahagia ? Bukankah kita beli rumah agar kita hidup senang ? Bukankah kita membeli kendaraan agar kita bahagia ? Bukankah kita ingin memiliki istri yang cantik atau suami yang ganteng karena ingin bahagia ?. Namun dalam realita kehidupan banyak kita saksikan para orang kaya justru diliputi rasa was-was, keluarga berantakan, anak menjadi pecandu narkoba, bahkan banyak yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Lalu sebenarnya apa tujuan hidup kita ?  bagi seorang muslim tujuan hidupnya tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah swt (QS. 51 : 56). Kehidupan di dunia ini bersifat sementara sehingga tidak layak jika dunia dijadikan tujuan hidup. Bagi seorang muslim tujuan hidupnya adalah tujuan jangka panjang yakni berorientasi akhirat. Karena akherat bersifat kekal. Dunia hanyalah tempat persinggahan seperti halnya musafir yang berteduh di bawah pohon untuk melepas lelah kemudian melanjutkan perjalanannya kembali. Sebagaimana ucapan Rasulullah saw kepada Ibnu Umar “Jadilah kamu di dunia seperti perantau atau musafir” (HR. Bukhori).

Ibadah atau mengabdi kepada Allah dapat dimaknai secara luas bukan hanya sekedar melaksanakan shalat, puasa, haji. Seluruh aktivitas yang disandarkan dan diniatkan mengharap ridho Allah adalah ibadah.

Para pedagang yang menjajakan barang dagangannya adalah ibadah jika diniatkan mengharap ridho Allah swt. Dengan tetap menjalankan perintah-Nya dan tidak mengurangi timbangan. Para sopir yang mengantarkan orang ke tempatnya adalah ibadah jika mengharap ridho Allah dengan tetap melaksanakan kewajiban tidak mengambil keuntungan dalam kesempitan. Para petani yang menggarap sawah dan ladangnya adalah ibadah. Para pegawai yang melayani masyarakat, rapat membahas kemaslahatan umat, mengonsep surat, mengetik surat, semuanya adalah ibadah. Semua aktivitas kantor adalah ibadah asal tidak dicemari dengan ketidakjujuran, tidak mengambil sesuatu yang bukan hak, tidak menghalalkan segala cara agar tujuan tercapai, tidak menzalimi sesama.

Hidup ini terlalu singkat untuk diisi dengan ibadah dan terlalu panjang jika harus diisi dengan kemaksiatan dan kedurhakaan. Oleh sebab itu Allah mengingatkan “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. 103 :1-3)

Kisah ini mudah-mudahan dapat menyadarkan kita dari kelalaian terhadap tujuan hidup. Suatu ketika sang raja memerintahkan kepada prajuritnya untuk menyelam di dasar laut guna mencari mutiara-mutiara indah yang ada disana. Sebelum menyelam para prajurit tersebut dibekali dengan alat menyelam termasuk sebuah tabung oksigen agar mereka dapat menyelam lebih lama. Kemudian menyelamlah semua prajurit itu ke dalam laut. Di dalam laut, para prajurit sangat terkesima dengan keindahan bawah laut. Mereka melihat ikan yang berwarna warni, rumput laut yang hijau, batu karang yang indah, dan makhluk-makhluk laut lain yang sangat menakjubkan. Para prajurit itu terpukau dengan keindahan yang ditawarkan oleh laut, sehingga mereka berlomba-lomba menangkap ikan, ubur-ubur,  dan mengambil rumput laut serta batu karang. Hanya sedikit diantara prajurit tersebut  yang sejak dari awal menyelam fokus mencari mutiara yang diperintahkan.

Tanpa terasa alarm pun berbunyi tanda oksigen akan habis. Para prajurit itu tersentak kaget karena mereka belum menemukan mutiara seperti yang diperintahkan oleh raja. Namun apa mau dikata jika mereka meneruskan pencarian mutiara,  mereka akan kehabisan oksigen. Itu artinya mereka akan mati. Lalu dengan terpaksa mereka harus ke permukaan laut kemudian melaporkan kepada raja apa yang telah mereka dapatkan. Bagi prajurit yang telah membawa mutiara tentu merasa percaya diri melaporkan hasil kerjanya dan bersiap untuk mendapatkan penghargaan dari raja. Tapi bagi prajurit yang cuma membawa ikan yang sudah mati, rumput laut yang telah layu, batu karang yang sudah tidak utuh akan diliputi perasaan cemas dan takut, karena mereka tahu bahwa raja tidak membutuhkan semua itu. Kemudian mereka harus bersiap untuk menerima hukuman dari raja.

Keindahan dunia memang terkadang menjadikan manusia lupa dengan tujuan penciptaannya sendiri. Diperintahkan untuk mempersiapkan bekal amal kebaikan sebanyak-banyaknya, justru sibuk mengumpulkan harta, menambah jumlah deposito, mengoleksi sertifikat tanah, membangun istana megah, dan seterusnya. Kesibukan mengejar dunia itu akan terus terjadi dan tidak akan pernah berhenti kecuali setelah jatah oksigen habis alias mati. Pada saat itulah baru muncul penyesalan karena apa yang selama ini dikumpulkan ternyata tidak dibutuhkan oleh Allah Al Malik yang merajai alam smesta raya. Wallahu’alam

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.