TUGAS GURU MUSLIM SEBAGAI DA’I (PENDAKWAH)

0
471

TUGAS GURU MUSLIM SEBAGAI DA’I (PENDAKWAH)

Oleh: Riduwan

Pendahuluan

Tujuan hakiki dari pendidikan adalah perubahan ke arah perbaikan, demikian pula halnya dengan dakwah. Dalam praktiknya, pendidikan bisa dijadikan sebagai sarana dakwah, dan dakwah bisa dilakukan melalui pendidikan. Pendidikan dan dakwah merupakan dua hal yang seiring sejalan. Karena itu dalam mengemban tugasnya, setiap guru muslim (apapun mata pelajaran yang diampunya), selain bertugas dan berfungsi sebagai pendidik, pengajar dan pelatih bagi peserta didik di sekolah, mereka sekaligus juga bertugas sebagai da’i (pendakwah). Tugas mereka sebagai da’i (pendakwah) ini dikuatkan dengan ayat Allah yang termaktub dalam surat Ali Imron ayat 104 yang terjemahannya: “Dan hendaklah di antara kamu segolongan umat yang mengajak kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar…”. Dan pada surat yang sama ayat 110 yang terjemahannya “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar… .”

Tugas guru muslim di sekolah sebagai da’i (pendakwah) merupakan tugas yang sangat strategis dalam mewujudkan generasi yang berkepribadian muslim. Ditambah lagi kondisi generasi muda Indonesia kini yang terpuruk dalam dekadensi moral yang sangat memprihatinkan.

Karena itu demi mewujudkan perbaikan generasi muda ke depan dan dalam rangka menyahuti amanat UUSPN Nomor 20 Tahun 2003, yang menginginkan terwujudnya potensi peserta didik menjadi manusia-manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, maka tugas guru sebagai da’i (pendakwah) kini benar-benar merupakan suatu keniscayaan.

Tugas Strategis Profesi Guru

Guru merupakan komponen paling menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan, karena itu  perlu mendapatkan perhatian sentral, pertama dan utama. Figur yang satu ini akan senantiasa menjadi sorotan strategis ketika berbicara masalah pendidikan, karena guru selalu terkait dengan komponen manapun dalam sistem pendidikan, guru memegang peran utama terutama dalam pembangunan pendidikan yang berkarakter.

Terwujudnya generasi yang berkualitas tinggi sebagaimana UUSPN Nomor 20 Tahun 2003 akan terletak pada bagaimana pendidik melaksanakan tugasnya secara profesional dan penuh tanggung jawab. Karena itu, upaya perbaikan apapun yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, tidak akan memberikan kontribusi yang signifikan tanpa didukung oleh guru yang profesional dan berkualitas. Dengan kata lain, perbaikan kualitas pendidikan harus berpangkal dari guru dan berujung ke guru pula. Dan sesungguhnya dari guru yang berjiwa pendidik lah tujuan mulia pendidikan akan tercapai.

Demikian pula di lingkungan masyarakat, guru menempati kedudukan yang lebih terhormat. Kewibawaanlah yang menyebabkan mereka dihormati sehingga figur mereka tidak diragukan. Masyarakat yakin bahwa gurulah yang dapat mendidik anak didik agar menjadi orang yang berkepribadian/berakhlak mulia. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggungjawab untuk membimbing dan membina anak didik, baik secara individual maupun klasikal, di sekolah maupun di luar sekolah.

Tugas dan kewajiban guru baik yang terkait langsung dengan proses belajar mengajar maupun tidak terkait langsung, sangatlah banyak dan berpengaruh pada hasil belajar mengajar. Perlu diperhatikan secara sungguh-sungguh bagaimana memberikan prioritas yang tinggi kepada guru. Sehingga mereka dapat memperoleh kesempatan untuk selalu meningkatkan kemampuannya melaksanakan tugas sebagai guru. Seorang guru harus diberikan kepercayaan untuk melaksanakan tugasnya dalam melakukan proses belajar mengajar yang baik. Mereka juga perlu diberikan dorongan dan suasana yang kondusif untuk menemukan berbagai alternatif metode dan cara mengembangkan proses pembelajaran sesuai perkembangan zaman.

Daoed Yoesoef (1980) menyatakan bahwa seorang guru mempunyai tiga tugas pokok, yaitu tugas profesional, tugas kemanusiaan, dan tugas kemasyarakatan (sivic mission). Jika dikaitkan pembahasan tentang kebudayaan, maka tugas pertama berkaitan dengan logika dan estetika, tugas kedua dan ketiga berkaitan dengan etika (https://putupratamaadhisuyasa.wordpress.com/2010/11/21/peranan-guru-dalam-pendidikan/)

Tugas-tugas guru di bidang profesi meliputi: 1) mendidik; yaitu meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup, 2) mengajar; yaitu meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, 3) melatih; yaitu mengembangkan keterampilan-keterampilan yang belum diketahui dan yang seharusnya diketahui oleh peserta didik.

Tugas-tugas guru di bidang kemanusiaan adalah tugas-tugas dalam rangka membantu anak didik agar dapat memenuhi tugas-tugas utama dan manusia kelak dengan sebaik-baiknya, seperti menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua yang mampu menarik simpati sehingga ia menjadi idola para peserta didiknya, dan menjadi motivasi bagi peserta didiknya dalam belajar. Selain itu yang termasuk tugas-tugas kemanusiaan itu adalah transformasi diri, identifikasi diri sendiri dan pengertian tentang diri sendiri.

Dan tugas-tugas guru di bidang kemasyarakatan merupakan konsekuensi guru sebagai warga negara yang baik, turut mengemban dan melaksanakan apa yang telah digariskan oleh bangsa dan negara berdasarkan Pancasila. Sejak dulu masyarakat menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat di lingkungannya, karena dari seorang guru diharapkan masyarakat dapat memperoleh ilmu pengetahuan. Ini berarti bahwa guru berkewajiban mencerdaskan bangsa menuju pembentukan manusia Indonesia seutuhnya. Semakin baik para guru melaksanakan tugasnyanya, akan semakin terjamin, tercipta dan terbina pula kesiapan dan keandalan seseorang sebagai manusia pembangunan.

Ketiga tugas guru itu harus dilaksanakan secara bersama-sama dalam kesatuan organis harmonis dan dinamis. Seorang guru tidak hanya mengajar di dalam kelas saja tetapi seorang guru harus mampu menjadi katalisator, motivator dan dinamisator pembangunan tempat di mana ia bertempat tinggal.

Mengingat tugas guru yang begitu sentral dalam dunia pendidikan, dan banyak berkecimpung/berinteraksi dalam dunia anak-anak (peserta didik), maka sangat tepat sekali bila guru memposisikan diri sebagai da’i (pendakwah), yang akan menggiring peserta didik menjadi generasi yang rahmatan li al-‘alamin, yang berpedoman kepada sumber ajaran hakiki yaitu Al Quran dan As Sunnah.

Tugas Guru Sebagai Pendakwah

Secara bahasa kata dakwah berasal dari bahasa Arab, artinya seruan, panggilan, undangan. Secara istilah, da’wah berarti menyeru atau mengajak manusia untuk melakukan kebaikan dan menuruti petunjuk, menyuruh berbuat kebajikan dan melarang perbuatan munkar yang dilarang oleh Allah Swt. dan rasul-Nya agar manusia mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat (http://teamdakwahkhalifah.blogspot.co.id/2013/06/pengertian-dakwah-dan-tujuan-dakwah. html). Sedangkan tujuan dakwah dilihat dari aspek materi, menurut Masyhur Amin (dalam (https://rochem.wordpress.com/2011/12/28/makalah-agama-dakwah-islamiyah/) ada tiga yaitu:

  • Pertama, tujuan akidah, yaitu tertanamnya akidah yang mantap bagi tiap-tiap manusia.
  • Kedua, tujuan hukum, aktivitas dakwah bertujuan terbentuknya umat manusia yang mematuhi hukum-hukum yang telah disyariatkan oleh Allah SWT.
  • Ketiga, tujuan akhlak, yaitu terwujudnya pribadi muslim yang berbudi luhur dan berakhlakul karimah.

Dari keseluruhan tujuan dakwah dilihat dari aspek materi dakwah, maka dapat dirumuskan tujuan dakwah adalah untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Tujuan dakwah ini sangat linier dengan tujuan pendidikan nasional sebagaimana UUSPN Nomor 20 Tahun 2003. Karena itu sangat tepat sekali bila para guru (khususnya muslim) mengambil tugas sebagai pendakwah di sekolah disamping sebagai pendidik, pengajar dan pelatih.

Tugas seorang guru muslim sebagai da’i (pendakwah) merupakan upaya meneruskan risalah Nabi Muhammad SAW, yakni menyampaikan ajaran-ajaran Allah seperti yang telah termuat dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Hal ini sesuai dengan apa yang ditegaskan oleh Samsul Munir Amin (2009:70) bahwa tugas pendakwah adalah merealisasikan ajaran-ajaran Al-Qur’an dan sunnah di tengah masyarakat sehingga Al-Qur’an dan sunnah dijadikan sebagai pedoman dan penuntun hidupnya. Menghindarkan masyarakat dari berpedoman pada ajaran-ajaran di luar Al-Qur’an dan sunnah seperti animisme dan dinamisme serta ajaran-ajaran lain yang tidak dibenarkan oleh ajaran Islam. Ungkapan senanda disampai juga oleh seorang tokoh pendidikan islam Ramayulis, beliau menguraikan bahwa tugas pendidik sebagai waratsat al-anbiya’ (pewaris nabi),  pada hakekatnya mengemban misi rahmat li al-‘alamin yakni suatu misi yang mengajak manusia untuk tunduk dan patuh pada hukum-hukum Allah, guna memperoleh keselamatan dunia dan akhirat. Untuk melaksanakan tugas demikian, pendidik harus bertitik tolak pada amar ma’ruf nahi mungkar, menjadikan prinsip tauhid sebagai pusat kegiatan penyebaran misi iman, islam dan ihsan, kekuatan yang dikembangkan oleh pendidik adalah individualitas, sosial dan moral.

Eksistensi guru sebagai da’i (pendakwah) di sekolah mempunyai fungsi yang cukup strategis. Fungsi pendakwah dalam hal ini sebagai berikut:

– Meluruskan aqidah;

– Memotivasi peserta didik atau teman seprofesi  untuk beribadah dengan baik dan benar;

– Menegakkan amar ma’ruf nahi munkar; dan

– Menolak kebudayaan yang destruktif

Bagi seorang guru yang memposisikan dirinya sebagai da’i (pendakwah), mesti menunjukkan pribadi yang menampilkan akhlak karimah demi mendukung keberhasilan dakwahnya di sekolah, di antaranya adalah sebagai berikut:

Pertama: Iman dan takwa kepada Allah.

Seorang guru yang bertugas sebagai da’i (pendakwah), sebelum berdakwah kepada  peserta didik atau teman-teman seprofesinya  terlebih dahulu harus  memulai dari dirinya sendiri dalam memerangi hawa nafsunya, sehingga diri pribadi lebih taat kepada Allah dan rasul-Nya

Kedua: Ikhlas Dalam Berdakwah.

Motivasi utama bagi seorang guru yang bertugas sebagai da’i (pendakwah) tatkala berdakwah di sekolah ialah rasa cinta kepada Allah SWT, kepada agama-Nya, kepada sesamanya dan mengharapkan kebaikan untuk orang yang didakwahi, baik itu peserta didik maupun guru/teman seprofesinya. Keikhlasan merupakan perkara yang paling penting bagi keberhasilan dakwah. Jika dakwah didasarkan bukan karena ikhlas, tetapi karena riya’ atau hal lain yang bersifat keduniaan, hanya akan mendapatkan kesia-siaan, dan di akhirat  termasuk orang-orang yang merugi.

Ketiga: Ilmu.

Ilmu dalam hal ini meliputi tiga perkara:

a).Ilmu agama; seorang guru yang berperan sebagai pendakwah harus mengetahui syariat Allah dan hukum-hukum yang berkaitan dengannya, sehingga mampu berdakwah berdasarkan ilmu dan hujjah. Dengan ilmu ini, seorang guru pendakwah akan mampu mempertahankan apa yang didakwahkannya. Tanpa memiliki ilmu ini, dikhawatirkan akan banyak menimbulkan kerancuan dan tidak menutup kemungkinan akan terjadinya kerusakan.

b).Ilmu tentang keadaan orang yang hendak didakwahinya (peserta didik atau teman seprofesinya); Dengan mengetahui keadaan orang yang hendak didakwahinya, seorang guru da’i (pendakwah) bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi obyek dakwah di depannya.

c). Seorang pendakwah hendaklah mengetahui ilmu tentang metode dakwah.

Keempat: Beramal Dengan Apa Yang Didakwahkan.

Ini merupakan sifat yang wajib dimiliki seorang da’i (pendakwah). Dia harus menjadi suri tauladan bagi orang lain tentang apa yang didakwahkannya, sehingga bukan termasuk orang yang mengajak kepada kebaikan namun justru dia meninggalkannya; mencegah dari sesuatu, namun dia sendiri melakukannya. Orang seperti ini termasuk golongan orang-orang yang merugi. Adapun orang yang beriman, mereka menyeru kepada kebenaran, beramal dengannya, bersegera dan bersemangat dalam mengamalkannya dan menjauhi hal-hal yang dilarang. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” (Ash-Shaff:2-3)

Nabi SAW mengabarkan: “Didatangkan seseorang pada hari Kiamat, kemudian dilemparkan ke dalam neraka hingga ususnya terburai berputar-putar seperti keledai berputar di sekeliling batu gilingan. Berkumpullah padanya penghuni neraka dan bertanya kepadanya: “Wahai, fulan! Apa yang terjadi denganmu? Bukankah engkau dahulu yang memerintahkan kami mengerjakan kebaikan dan mencegah kami dari kemungkaran?” Dia menjawab: “Aku memerintahkan kalian mengerjakan kebaikan, sedangkan aku tidak mengerjakannya. Aku larang kalian dari kemungkaran, (tetapi) aku sendiri melakukannya” (HR Bukhari).

Kelima: Hikmah.

Secara ringkas, makna hikmah adalah tepat dalam ucapan dan sikap, dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Seorang guru da’i (pendakwah) harus mempunyai kearifan dalam dakwahnya. Yaitu dengan menggunakan cara yang terbaik sesuai dengan keadaan dan tempatnya, karena manusia tidak memiliki cara yang sama dalam berfikir, tingkat pemahaman dan tabiatnya. Demikian juga penerimaan mereka terhadap kebenaran yang didakwahkan, ada yang langsung menerima tanpa harus berpikir panjang, ada pula yang perlu berdiskusi terlebih dahulu, terkadang harus diiringi dengan perdebatan yang cukup panjang. Maka seorang da’i (pendakwah) dituntut untuk menggunakan metode yang sesuai dengan kondisi masing-masing orang, sehingga dakwahnya bisa lebih diterima masyarakat dan tepat sasaran. Allah berfirman yang artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik” (An-Nahl:125).

Keenam: Sabar.

Ini merupakan tiang utama penopang keberhasilan dakwah. Seorang guru yang da’i (pendakwah) pasti akan mendapatkan gangguan dalam dakwahnya, apabila dia menjelaskan tentang haramnya syirik kepada Allah SWT dan menjelaskan berbagai macam kesyrikan yang terjadi di sekolah. Demikian juga jika menjelaskan tentang wajibnya berpegang dengan Sunnah dan meninggalkan bid’ah, maka tentu akan ada yang merintanginya, baik dengan ucapan ataupun tindakan yang ditujukan pada dirinya ataupun pada dakwahnya. Karena itu dia harus memiliki sifat sabar. Sabar mempunyai kedudukan yang tinggi, tidak mungkin dicapai kecuali dengan mengambil sebabnya. Di antaranya, yaitu dengan mengingat betapa besar pahala yang Allah SWT siapkan bagi hamba-Nya yang bersabar.

Bila semua guru menyadari dan menjalankan tugas mereka sebagai pendakwah, disamping sebagai pendidik, pengajar dan pelatih di sekolah, maka diyakini generasi ke depan akan menjadi generasi harapan, memiliki kualitas keimanan dan ketakwaan yang tangguh, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Kondisi seperti ini akan berimplikasi positif terhadap tatanan kehidupan berkeluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara.

Penutup

Selain bertugas sebagai pendidik, pengajar dan pelatih, para guru (khususnya muslim) juga bertugas sebagai da’i (pendakwah). Dengan mengemban tugasnya yang suci dan mulia ini, mereka harus memiliki pribadi (akhlak) yang baik, dengan demikian diharapkan para guru akan menjadi teladan dan sumber inspirasi. Dan generasi yang mereka didik akan menjadi generasi yang bertakwa baik secara pribadi maupun sosial. Ini pula kiranya yang diinginkan oleh pemerintah dalam UUSPN Nomor 20 Tahun 2003.

DAFTAR PUSTAKA:

Al Utsaimin, Muhammad Shalih. 1419 H. Risalah ila Ad Du’at (Cet. ke-1), Riyadh: Dar Al Qasim

Al Madkhali, Rabi’ bin Hadi. 1414 H. Manhaj Al Anbiya` Fi Ad Da’wah Ilallahi Fihi Al Hikmah wal Aql (Cet. Ke-2), Madinah Al Munawwarah: Dar Al-Ghuraba’

Al Qahthani, Said bin Ali bin Wahf. 1413 H. Al-Hikmah Fi Ad Dakwah Ilallahi (Cet. ke-2). Madinah: Dar Al-Ghuraba’

Amin, Syamsul Munir. 2009. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah

Bin Baz, Abdul Aziz. 1413 H. Wujub Ad Da’wah Ilallahi wa Akhlaqul Du’at (Cet. ke-1), Riyadh: Dar Al-Wathan

PERANAN GURU DALAM PENDIDIKAN

http://teamdakwahkhalifah.blogspot.co.id/2013/06/pengertian-dakwah-dan-tujuan-dakwah. html

Ramayulis H. 2009. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.