DASAR – DASAR PENDIDIKAN ISLAM (Sebuah Telaah Kritis Terhadap Pendidikan Islam Dalam Al-Qur’an)

0
62

OLEH :

TAUFIQURROHMAN S [*]

Abstraks:

Anjuran Nabi Muhammad SAW. untuk terampil dalam hal berenang adalah suatu sindiran, padahal tidak mungkin dilakukan di padang pasir tempat Nabi di lahirkan dan hadits di turunkan. Hal itu diungkapkan lebih mengisyaratkan akan pentingnnya peserta didik untuk memeliki tekad dan kemampuan dalam mempertahankan hidupnya, disertai daya juang dan kepercayaan diri yang tangguh agar tidak karam ditengah lautan kehidupan sekalipun tanpa pertolongan orang lain.   Pendidikan Islam menyadari bahwa yang menjadi obyeknya adalah manusia yang diwajibkan kepadanya untuk menuntut ilmu, karena ia sebagai khalifah dan juga sebagai abd. Di sisi lain hal ini menegaskan bahwa pada dasarnya pendidikan Islam merupakan kewajiban individual, masyarakat, lembaga dan bahkan pemerintah.

 

Kata Kunci: Pendidikan, Islam

 

Pendahuluan

Islam sebagai sebuah agama, mengatur kehidupan manusia untuk mencapai kbahagian di dunia dan akhirat. Untuk mencapai kesejahteraan itu, manusia selain dibekali Allah SWT dengan akal fikiran, intellect juga diberikan wahyu yang berfungsi untuk membimbing perjalanan hidupnya. Al-Qur’an yang diturunkan, kepada Nabi Muhammad melalui Jibril, merupakan sumber hukum yang paling utama, termasuk prinsip-prinsip dasar pendidikan Islam.

Akal pikiran adalah anugerah Tuhan yang paling tinggi kepada manusia. Akal pikiran yang dimiliki manusia inilah yang membedakan dengan makhluk-makhluk lainnya. Dengan akal pikiran inilah manuisa mampu dan dapat menggali prinsip dasar pendidikan Islam yang terkandung di dalam al-Qur’an. Dan dengan menggunakan akal, manusia dapat menempati derat yang tinggi. Tidak sedikit al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW. yang menganhurkan dan mendorong manusia untuk mempergunakan akalnya dan banyak berpikir guna mengembangkan intelektualnya dan juga mengembangkan pendidikan Islam. Dengan akal itulah manusia dapat mengasah intelek, untuk kemudian menimbulkan sikap kecedikiawanan dan kearifan baik terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan maupun terhadap Allah SWT sebagai Khaliqnya.

Pendidikan Islam Merupakan Proses Penyembahan Terhadap Tuhan

            Al-Qur’an menggambarkan bahwa Allah SWT. adalah pencipta (الخالق ) dan pemelihara alam semesta (رب العالمين). Dalam penciotaan alam semesta termasuk manusia – Tuhan menempuh proses yang memperlihatkan konsistensi dan keteraturan. Hal demikian dikenal sebagai aturan –aturan yang diterapkan Allah sendiri atau disebut sunnatullah. Dalam proses Pemeliharaan, Tuhan juga mematuhi sunnatullah, Tuhan mengurus, memelihara dan menumbuhkembangkan alam secara bertahap dan berangsur-angsur. Dalam konteks yang terakhir ini, Tuhan berada diposisi pendidik (مربي) yang sesungguhnya. Ketentuan ini meniscayakan penyertaan Tuhan dalam proses pendidikan tanpa menafikan peran serta manusia.

            Peranan manusia dalam perndidikan secara teologis dimungkinkan karena posisinya sebagai makhluk, ciptaan Allah  SWT. yang paling sempurna dan dijadiak sebagai khalifah di muka bumi (خالفة فى الارض), sebagai mana dalam firman-Nya  berikut ini :

جعلكم خلا ئـف الارض  وهو الذى

 Artinya : Dan Dia yang menjadikan kamu sebagai khalifa di muka bumi.(Q.S: 6: 65)

 Status ini mengimplikasikan bahwa manusia secara potensial memiliki sejumlah kemampuan yang diperlukan untuk bertindak sesuai dengan ketentuan Tuhan. Sebagai Khalifah manusia juga mengemban funsi rububuyah Tuhan terhadap alam semesta termasuk diri manusia itu sendiri.

            Dengan pertimbangan di atas dapat dikatakan bahwa karakter hakiki pendidikan Islam pada intinya terletak pada fungsi rububiyah Tuhan yang secara praktis dikuasakan atau dibebankan kepada manusia. Dengan kata lain bahwa pendidikan Islam itu adalah keseluruhan dari proses dan fungsi rububiyah Tuhan terhadap manusia sejak dari penciptaan, pertunbuhan dan perkembangannya secara bertahap menuju kepada dewasa dan kesempurnaan, baik dari aspek akal, kejiwaan maupun jasmaninya. Atas dasar tugas sebagai khlifatul alam, manusia harus nertanggung jawab untuk merealisasikan proses pendidikan Islam tersebut sepanjang kehidupan manusia yang nyata di muka bumi ini.

Membentuk Manusia Seutuhnya

Manusia yang menjadi sasaran dan obyek pendidikan Islam ialah manusia telah tergambar dan terangkum dalam al-Qur’an dan al-Hadits. Manusia dalam pendidikan sekuler penggambarannya diserahkan kepada pendapat mayoritas, atau pada orang-orang tertentu dalam masyarakat, atau pada seorang individu karena kekuasaannya, yang berarti diserahkan kepada angan-angan seseorang atau sekelompok orang tertentu, (Majid, 1985: 20)

            Dengan demikian, manusia dalam pendidikan sekuler sangat bersifat spekulatif. Manusia dalam pandangan al-Qur’an dan al-Hadits adalah manusia yang lengkap, terdiri dari unsur jasmani dan rohani, unsur jiwa dan akal, unsur nafs dan alqb. Pendidikan Islam tidak bersifat dikotomis dalam menangani unsur-unsur tersebut dengan menganggap lemah atau mengunggulkan yang satu atas yang lainnya. Melainkan dengan menganggap semuanya merupakan kesatuanorganis dan dinamis yang saling berinteraksi. Semua unsur tersebut adalah potensi yang dianugerahkan Allah SWT kepada manusia. Pendidikan Islam dalam hal ini merupakan usaha untu mengubah kesempurnaan potensi itu menjadi kesempurnaan aktual, melalui setiap tahapan hidupnya. (Majid, 1985 :.54). Oleh karena itu, fungsi pendidikan Islam adalah untuk menjaga keutuhan unsur-unsur individual anak didiknya dan mengoptimalkan potensinya dalam garis keridhaan Tuhan. Dan yang tak kalah pentingnya mengoptimalkan perkembangan dan semangat untuk bertahan hidup dan aspek ker\terampilan peserta didik. Hal ini didasarkan oleh hadits Nabi SAW. yang diriwayatkan oleh Hakim :

حق الولد على والده أن يحسن اسمه وأدبه وعلمه الكتابة والسباحة والرماية وأن لايرزقه إلا طيبا وأن يزجه أذا أدرك.

Artinya: Kewajiban orang tua kepada anaknya adalah memberi nama yang baik, mendidik sopan santun, mengajari tulis baca, renang dan lem[ar panh, memberi rezki yang baik, dan mengawinkannya jika sudah mendapat jodoh.

Mengajarkan keterampila berenang, seperti dalam hadits di atas, padehal tidak mungkin dilakukan di padang pasir  dimana hadits itu diturunkan, lebih mengisyaratkan akan pentingnya peserta didik untuk memiliki tekad dan kemampuan dalam mempertahankan hidupnya, disertai daya juang dan kepercayaan diri yang teguh agar tidak karam ditengah lautan kehidupan sekalipun tanpa bantuan dan pertolongan orang lain. Pendidikan Islam menyadari bahwa yang menjadi sasartan pendidkan ialah manusia yang diwajibkan menuntut ilmu, sebagai kewajiban yang inheren dengan tugasnya sebagai khalifa dab abdun. Oleh karena itu pendidikan Islam pada dasarnya merupakan kewajiban individual sebelum menjadi kawajiban masyarakat, lembaga, atau pemerintah.

Pendidikan Islam dan Agama

            Sejak awal pendidikan Islam merupakan salah satu usaha untuk menumbuhkan sekaligus memantapkan ketauhidan seseorang yang telah menjadi fitrah manusia. Oleh karena itu agama menjadi petunjuk ke arah itu. Pendidina Isla selalu menyelenggarakan pendidikan agama. Namun demikian, agama yang dimaksud di sini lebih kepada fungsinya sebagai sumber moral dan nilai. Dfengan pengertian ini, titik berat pengajaran agama bukan pada kedudukan teknisnya sebagai suatu disiplin ilmu, melainkan dalam rangka pencerdasan manusia dan penanaman niali dan moral yang sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan dan prinsio-prinsip kemanusiaan yang menjadi esensi ajaran agama. Dengan itu akan terbentuk manusia yang mengerti akan posisinya sendiri. (Muhammad al-Naquib, 1992: 61).

            Sesuai dengan ajaran agama, maka pendidikan Islam bukan saja mengajarkan ilmu-ilmu sebagai materi atau keterampilan jasmani semata, melainkan selalu mengaitkan semuanya itu kerangka praktek (amaliah) yang bermuatan nilai dan morak. Dengan demikian pengajaran agama dalam pendidikan Islam tidak selalu dalam pengertian (ilmu agama) formal akan tetapi dalam pengertian esensinya yang dapat saja berada dalam ilmu-ilmu lain yang sering dikatagorikan secara tidak proporsional sebagai ilmu sekuler.

            Kaitan pendidikan Islam dengan agama terdapat pada ajarannya tentang hakikat manusia dan kehidupannya, seperti uraian di atas. Hal ini mengimplikasikan bahwa tujuan pendidkan Islam tidak hanya terbats pada pencapaian materil untuk kepentingan dirinya di dunia ini, seperti pendidikan sekuler. Tujuan pendidikan Islam adalah meniscayakan keterpaduan antara aspek jasmani (lahiriyah) dan ruhani (bathiniyah), antara kehidupan dunia dan akhirat (li sa’adah al-daraini) dan antara kepentingan individual dan kepentingan kolektif, dan antara kedudukannya sebagai khalifah dan tugas sebagai hamba Allah SWT.

Keterbukaan Pendidikan Islam

Harus diakui di dalam Islam terdapat perbedaan antara manusia, Akan tetapi perbedaan yang paling hakiki ditentukan oleh amal perbuatannya ( Q.S. al-Mulk, 72: 2) atau ketaqwaannya (Q.S.al-Hujarat, 49: 13). Karena tiu Pendidkina Islam pada dasarnya bersipat terbuka, demokratis dan universal. Pendidikan seperti ini harus berwawasan kemanusiaan, yang melampaui batas – batas temapt, waktu, bahasa dan lainnyayang sesuai dengan universalitas ajaran Islam sendiri.

            Keterbukaan ini ditandai dengan kelenturan untuk mengadopsi (menyerap) unsur-unsur positif dari luar, sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakatnya, dengan tetap menjaga dasar-dasarnya yang orginal (sahlih), yang bersumber pada al-Qur’an dan al-Hadist. (Abd.al-Ghani Abud,1987  : 203)

 

Pokok Kandungan Pendidikan Islam

            Kandungan pendidikan Islam pada intinya bersumber pada semua aspek yang mengarah pada pemahaman dan pengamalan doktrin Islam secara menyeluruh.

Pertama: Aqidah (tauhid)

            Fitrah  untuk bertauhid merupakan unsur yang orisinil  yang melekat pada diri manusia, sejak ia diciptakan. Ajakan untuk bertauhid dan mengikuti agama Allah SWT muncul dalam al-Qur’an sebagai mana  berikut ini,

فاقم وجهك للدين حتيفا فطرة الله التى فطرالناس عليها لاتبديل لخلق الله ذلك الدين القيم ولكن أكثر الناس لايعلمون

Artinya: maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada p[erubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S: 30: 30)

            Selain mengakui dan menunjukkan posisi penting fitrah dalam diri manusia, ayat di atas juga memberi isyarat yang jelas bahwa rasa bertauhid yang diwadahi dalam fitrah merupakan unsur orisinal manusia. Pengertian ini juga dapat dipahami dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oelh Bukhari dan Muslim sebagai berikut:

كلّ مولود يولد على فطرة (رواه الشيخان)

Artinya : setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah.

            Tatkalah manusia berada di alam arwah, mereka sudah mengakui dan menyatakan ketauhidan kepada Allah SWT. seperti ditegaskan dalam al-Qur,an berikut :

واذا أخذ ربك من بنى ادم من ظهورهم ذريتهم واشهدهم على انفسهم الست بربكم قالوا بلى شهدتا أن تقولوا يوم القيامة إن كنا عن هذا غافلين

Artinya: Dan ingatlah, ketika Tihanmu mebgelauarkan keturunan anak-anak Adam dari suhlbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiea mereka, seraya Allah berfirman “bukankah Aku ini Tuhanmu” . mereka menjawa “Betul Engkau Tuhan kamu” , kami menjadi saaksi. Kami lakukan yang demikian itu agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan” sesungguhnya kami bani Adam adalah orang-orang yang lengah terhadap keesaan Tuhan.( Q.S:7: 172)

            Prinsip ketauhidan dalampendidikan Islam menjadi dasar bagi perumusan tujuan, perancangan metode dan penyusunan bahan-bahan pendidikan. Dengan kata lain, tujuan, metode,maupun bahan-bahan pendidikan lainnya tidak boleh bertentangan dengan jiwa tauhid, akan tetapi justru harus dalam rangka mengekalkan dan memantapkan jiwa tersebut, baik yang uluhiyah maupun yang ubudiyah. Pada akhirnya pendidikan Islam  ditujukan untuk menjaga dan mengaktualisasikan potensi ketauhidan menusia melalui berbagai upaya edukatif yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Begitu juga metode pendidikan Islam mencerminkan pola pola hibungan al-akhlaq al-karimah yang menjamin keselarasan perilaku guru dan murid atas dasar konsep tauhid. Dalam kaitannya drngan dengan kurikulum, pendidikan Islam harus memuat bahan yang bertumpu pada konsep ketauhidan, dimana semua pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan bertolak dari dan sejalan dengan dasar ketauhidan.

Kedua. Manusia

            Islam telah memberikan gambaran yang cukup jelas dan gemblang mengenai manusia, mengenai hakekatnya, hidup dan perjalanannya, karakter dan potensinya, serta mngenai hubungan denga Tuhan, sesama manusia dan lingkungannya. Manusia dalam pandangan Islam adalah makhluk Allah yang sempurna (Q.S. al-Tin, 95: 4). Tidak ada yang lebih tinggi dari manusia kecuali Allah SWT. Al-Qur’an menunjukkan hal itu melalui kisah sujudnya nabi Adam (Q.S. al-Baqarah,  2: 31). Akan tetapi, manusia juga memiliki potensi untuk menjadi makhlik yang paling rendah (Q.S. al-Tin, 95: 5) bahkan lebih rendah dari binatang (Q.S al-A’raf  7:  179). Dengan demikian manusia adalah makhluk Alla SWT yang memiliki potensi untuk dan juga untuk jahat sekaligus. (Hasan Abd A’la: 1978 : 42). IIni dikarnakan karakter unsur pembentuk manusia itu sendiri.

            Manusia diciptakan dari  tanah (turab) yang melambangkan kerendahan derajatnya karena ia merupakan unsur jasmani yang tidak memiliki perbedaan dengan unsur asal makhluk hidup yang lain seperti tumuh-tumbuhan dan binatang. Materi asal manusia yang lain adalah ruh yang menjadikan manusia memiliki potensi untuk luhur atau merupakan lambang keluhurannya. (Abd al-Gani: 1987 :186-187). Oleh karena itu ruh bersifat materi (jasmani), maka ruh bersifat immateri. Ruh digambarkan sebagai aqal dan ruh itu sendiri.

            Para cendikiawan Islam hampir semuanya sepakat akan adanya unsur ruh ini, akan tetapi komposisi dari unsur ini masih belum disepakati. Komponen-komponen yang sering disebut ketika membicarakan ruhy adalah qalb (hati), aql (akal) dan ruh itu sendiri atau bahkan an-Nafs (jiwa). Begitu juga para cendikiyawan muslim cederung mengemukakan pandangan yang berbeda dengan sarjana-sarjana Barat mengenai hakikat masing-masing komponen, komposisi dan pola hubungan antara komponen dalm unsur ruhy. Sarjana Barat menganggap bahwa unsur ruhhy terdiri dari akal saja atau akal dengan nafsu. Mereka juga cenderung memberi perhatian yang tidak seimbang antara unsur  ardy dan ruhy atau mengistimewakan salah satunya. (Muhammad Munir Mursi: 1987: 103). Harun Nasution menggambarkan manusia dalam pandangan Islam ini dengan membandingkan antara pandangan Barat dan Timur.

“Bagi kita timur manusia tidak hanya tersusun dari materi, tetapi disamping unsur materi yaitu tubuh, juga unsur immateri yaitu ruh. Dalam pada itu ruh mempunyai dua daya, daya berpikir yang disebut akal dan yang berpusat di kepala dan daya merasa yang disebut kalb atau hatu nurani yang berpusat didada”. (Harun Nasution: 1989: 287).

           

            Namun demikian perlu dijelaskan disini mengenai keberadaan dan bagian unsur-unsur itu. Menurut Usman Bakar dalam bukunya Tauhid and  saince: Essy on the History and Philosophy of Islamic Sance, “ Islam selaras denga doktrin Tauhidnta yang fundamental, memandang manusia sebagai kesatuan yang utuh di mana semua bagianya saling tergantung satu sama lain. (Osman Bakar: 1994: 194). Dalam pandangan Islam memang bukanmerupakan penjumlahan, melainkan merupakam hasil interaksi antara unsur-unsur atau bagian-bagian itu. (Hasan Abd A’la’: 1987: 42) Ini berarti Islam mengakui keragaman manussia sebagai makhluk yang unik sekalipun terdapat kesamaan unsur atau kesaman bagian pembentuknya. Karena itu keragaman dan keunikan manusia itu dijadikan tantanga bagi kemuliaan dan keunggulan derajatnya sebagaimana diungkapkan dalam ( Q.S. al-Hujara: 49: 13).

            Dalam pandangan Islam manusia memiliki dua peran utama, yaitu; pertama peran sebagai khalifatullah dan kedua sebagai abd. Kedua peran ini sejalan dengan dua tahapan kehidupan, yaitu kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat. Sesuai dengan doktrin tauhid, Tuhan adalah Sang Pencipta dan pemilik alam semesta ini termasuk manusia. Karena itu Tuhan menentukan perjalanan hidup manusia, yang tidak hanya berakhir pada kehidupan dunia semata melainkan berlanjut pada kehidupan akhirat. Manusia sendiri telah diberi peran oleh Allah sebagai khalifatullah fil al-ard (Q.S al-Baqarah: 2: 30), yaitu peran terbatas di dunia, agar peran ini memiliki keterkaitan dengan kelangsungan hidup di akhirat, manusia dituntut untuk bersikap pasrah secara mutlak kepada Allah Swt. yang disebut ibadah. (Q.S al-Dzariyat: 51: 56). “Manusia tidak akan dapat menanggungbeban tugasnya sebagai khalifah bjika dalam dirinya tidak terbentuk perasaan tunduk (ibadah) yang total kepada Tuahn”. (Hasan Abd A’la’: 1987: 43). Dengan kata lain, usaha manusia untuk membangun (immarah) alam, dalam tugasnya sebagai khalifah tidak dapat ditunaikan, bila syirik terhadap-Nya. Syirik terhadap ketauhidan, menyebabkan kerusakan alam. (Al-Razy: 1282: 45) Sebagai mana firman Allah :

تكاد السماوات يتفطرّن منه وتنشّق الأرض وتخرّالجبال هدّا أن دعوا للرحمن ولدا

Artinya : Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu dan bumi belah dan gunung-gunung runtuh, Karena mereka mendakwa Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak. (Q.S: 19: 90-91)

            Ibadah sebdiri bukanlah sekedar tugas, karena sesungguhnya ibadah merupakan kebutuhan sejati manusia. Sejak awal manusia dibekali dengan unsur vital

Yang disebut fitrah, yang intinya kecenderungan untuk bertauhid dan beribadah kepada Yang Esa.

            Dengan bertauhid, seseorang telah membebaskan diri dari penguasaan dan kekuatan lain selain Allah. Dengan bertauhid orang akan meletakkan dirinya dan orang lain sebagai makhluk yang sama mulia. Orang yang bertauhid memiliki jati diri dan kehormatan. Pada diri seseorang akan tumbuh perasaan persamaan derajat dengan sesamanya dan juga tawwaduk karena merasa dirinya terbatas. Ini merupakan prasyarat bagi terbentuknya masyarakat yang sehat, tidak mengenal kasta atau perbudakan. Dikaitkan dengan keunikan manusia dari segi kekuatan dinamis unsur-unsurnya, seperti yang telah dijelaskan di atas, maka akan terbentuk masyarakat yang saling menghormati dengan menyadari kenyataan yang plural serta memiliki solidaritas sosial yang tinggi.

Ketiga : Masyarakat

            Masyarakat dalam pandangsn Islam dilihat dalam prinsip persamaan (alMusawah). Prinsip ini lahir dari ajaran keesaan Tuhan (tauhid), sehingga seseorang akan selalu merasa merdeka dan terbebas dari penghambaan antara satu dengan yang lainnya (Q.S: 19: 93). Islam menegaskan bahwa asal dan perjalanan manusia adalah sama, tanpa kecuali (Q.S: 4: 1). Perinsip musawah semakin ditegaskan dengan firman Allah yang artinya : (sesungguhnya kami milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya). Kemudian kesetiakawana sosial, mulai dari lingkup sosial yang paling kecil  yaitu keluarga sampai yang palinf besar yaitu masyarakat pada umumnya. Semua tat hubungan dalam masyarakat ( mu’amalah) yang berlandasan prinsuip=perinsip tadi telah diarahkan ajaran dan dimasukkan dalam lingkup hbadah. Dari keteraturan ini, masyarakatyang terbentuk adalah masyarakat tengah (al-ummah al-wasat) (Q.S: 2: 142). Mujtamak dalam gambaran ini ialah masyarakat yang memperhatikan keseimbangan yang dinamis antara hak dan kewajiban masing-masing individu juga keseimbangan dalam menghadapi seluruh aspek kehidupan.

Keempat: Alam Jagat Raya

            Menurut Islam, Allah SWT. adalah Esa dalam esensi-Nya, dalam sipat-sipat-Nya dan juga dalam perbuatan-Nya. Banyak ayat dalam al-Qur’an yang menegaskan hal itu. Diantaranya surat al-Ikhlas. Konsekwensi dari kesadaraan tauhid seperti di atas merupakan pengakuan terhadap realitas ojektif  kesatuan alam semesta. Alam Jagat Raya yang tidak hanya terdiri dari realitas fisik, sejalan dengan dengan keyakinan di atas, memang harus mencerminkan manifestasi dari kesatuan sumber dan asal usul metafisik, yaitu Allah SWT. Yang Maha Esa. Pada kenyataannya al-Qlur’an dengan tegas menekankan bahwa kesatuan kosmos merupakan bukti yang jelas akan keEsaan Allah. (Osman Bakar: 1994: 12). Hal ini bisa dipahami dalam firman Allah sebagai berikut:

لوكان فيهما آلهة إلا الله لفسدتا فسبحان الله رب العرش عمّا يصفون

Artinya : Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah SWT, tentulah keduanya itu telah rusak binasa, Maha Suci Allah yang mempunyai Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. (Q.S: 21: 22)

            Pandangan seperti ini, mencerminkan pandangan yang positif  terhadap alam semesta. Halitu dapat dimengerti bahwa setiap realitas ataupun bagian dari alam semesta merupakan kesatuan yangserasi dan saling melengkapi. Alam semesta diciptakan oleh Allah SWT bukan tanpa maksud dan tujuan sebagai mana dijelaskan al-qur’an (Q.S: 44: 38-39).  Penciptaan Alam semesta adalah untuk kepentingan manusia (li-al-taskhir) (Q.S: 16: 12-16). Akan tetapi di sisi, manusia dituntut untuk menjaga kesatuan dan keserasiannya dengan memberikan peringatan akan kerusakan ekosistem yang mungkin akan diperbuat oleh manusia, seperti dikemukan dalam Q.S: 30: 41. Alam semesta diciptakan sesuai dengan tujuan hidup manusia atau sebagai mitranya dalam mengemban tugas yang dibebankan Allah SWT kepadanya. Agar potensi alam itu dapat digunakan dan di menfaatkan secara maksimal oleh manusia. Ia harus mengenalinya, menggalinya melalui ilmu pengetahuan dan tehknologi (Q.S: 3: 190-191).

            Agama Islam juga mengajarkan bahwa alam semesta bukalah sesuatu yang setatis, akan tetapi ia mempunyai potensi dan daya untuk berubah dan bahkan bertambah (Q.S: 35: 1). Oleh karena itu mencari, menuntut dan menguasai suatu ilmu tidak boleh berakhir karena menuntut ilmu itu sejak dari buaian sampai keliang kubur.

Kelima: Ilmu Pengetahuan

            Pada hakikatnya pengertian ibadah tidak hanya terbatas pada lapangan sempit dalam artian ibadah ritual. Sesuai dengan wawasan al-Qur’an ibadah harus dipahami sebagai bentuk kesatuan antara antara tujuan-tujuan yang bersifat agamis ritual itu dengan tujuan yang bersifat duniawi. Dengan demikian antara tugas abid sebagai dan tugas sebagai khalifah mempunyai kesatuan yang tidak dapat dipisah pisahkan, karena itu manusia membutuhkan penguasaan suatu ilmu untuk menjalakan peran seabagi abid maupun sebagai khalifah.

            Ada tiga bentuk ibadah yang saling berkaitan, yaitu iabadah ritual, ibadah sosial, dan ibadah kealaman. (al-Kailani: 1985: 85). Ibada sosial sangat berhubungan antar individu dengan individu, dan dengan  masyarakat. Sedangkan ibadah kealaman pada dasarnya menyangkut hubungan dengan alam lingkungan sekitar dimana seseorang berada. Ini menunjukkan bahwa dengan ibadah, semua kegiatan manusia yang didukung oleh ilmu pengetahuan yang mendasari kegiatan ibadah tersebut, terarah dan terpusat pada pentauhidan Allah SWT.

            Dengan pengertian dan cakupan ibadah seperti uraian di atas, maka dapat dipastikan bahwa tidak ada pemisahan antara al-din (agama) dan al-ilm (ilmu). Ilmu dalam keadaan demikian adalah ilmu yang memiliki kaitan dengan masalah-masalah asal usul, pertumbuhan dan perjalanan manusia dengan orentasi transendental dan dengan nilai-nilai rohani.(al-Kailani: 1985: 57). Pandangan yang memisahkan antara ilmu dan agama jelas keliru.( al-A’la: 1978: 37). Oleh karena itu tidak ada pemisahan antara apa yang disebut dengan “ilmu agama”  dan apa yang disebut dengan “ilmu umum”. Seluruh ilmu adalah islami sepanjang berada dalam batas-batas yang digariskan Allah SWT kepada kita.(Mursi: 1987: 17). Sejalan dengan pandangan tauhid, umat Islam meyakini bahwa yang mutlak adalah Allah SWT. Dan hanyail,u Tuham yamg memiliki nilai kebenaranmutlak. (Q.S: 3: 60)

            Ilmu Tuhan adalah imu yang disebut ilmu ilahi . Muhammad Said Ramadan al-Buthi mengatakan bahwa ilmu ilahi itu ialah ilmu yang memberikan kepada manusia pengetahuan menyeluruh dan lengkap (al-ma’rifaht al-kamilat al-syamilah) yang dapat menimbulkan keyakinan dengan pengetahuan yang lebih kecil dan parsial di bawahnya. Pengetahuan yang lengkap dan menyeluruh tidak akan terwujud kecuali melalui kitab Allah SWT. yang Maha Luhur.(al-buthi: 1982: ) Hanya para Nabi dan Rasul yang dapat memperoleh ilmu ilahi, secara sempurna, melalui wahyu dan ilham (Q.S: 53: 4)

            Dengan demikian ilmu manusia bersifat nisbi, yang kebenaran hakikinya tergantung kepada kesesuaiannya dengan ilmu Allah. Ada tiga macam yang membuat ilmu manusia versifai nisbi. Pertama, keterbatasan  perangkat penangkap pengetahuan yang diberikan Tuhan kepada manusia (Q.S: 16: 78). Inra, akal dan ruh yang dimilki manusia adalah media nyang terbatas, baik secara kuuntitas maupun kualitas. Kedua, keterbatasan kawasan yang dapat ditangkap oleh perangkap tersebut, menyadari manusia hanya dapat menangkap sesuatu yang sifatnya materi yang diandaikan bermateri.(Janzaraly: 1994: 23), atau hanya yang menyangkut daera kawasan alam semesta yang tidak meliputi alam ghaib. Ketiga, kenyataan bahwa ilmu yang diperoleh dan ditampung oleh manusia manusia juga terbatas dibandingkan dengan Ilmu Allah SWT.

            Keterbatasan-keterbatasan sebagaimana penjelasan di atas, maka ilmu manusia tidak dapat memperoleh kebenaran dan jangkauan yang menyeluruh. Seperti dikatakan oleh Arthur Koestler “ilmu pengetahuan yang diperoleh manusia terbentang dari yang obyecktif-verfiabel sampai ke yang subjective, dari mulai kimia, biolimia, biologi, kedoteran, psikologi, antropologi, sejarah, biografi, novel, epik hingga lirik. (Kontowijoyo: Republika, 6 pebruari 1997: 6). Namun demikian, pengetahuan obyektif yang pada hakikatnya adalah kebudayaanmanusia hingga batas tertentu tetap saja nisbi, terlebih jika pengetahuan telah batas-batansnya sendiri. Untuk menjaga dan pengendalian kenisbian tersebut, ilmu manusia perlu selalu dikonpermasikan dengan sumbernya, yaitu kebenaran mutlak, yang dicakup ilmu Allah. Dengan kata kain ilmu pengetahuan yang nisbi itu harus dihubungkan kembali dengan ilmu ialhi agar menuju kepada kesatuan, sesuai dengan kesatuan Tuhan.

            Maka jika dilakukan rekonstruksi, maka menurut Islam, ilmu yamg selayaknya dikuasai manusia merupakan perpaduan dari ilmu-ilmu yang diperoleh manusia melalui alam semesta dan alam sekitarnya dan ilmu yang dikirimkan malalui wahyu yang dapat ditangkap oleh para Nabi dan Rasul. Ilmu yang demikian itu merupakan ilmu yang dijiwai oleh tauhid karena dibimbing oleh kebenaran Mutlak, yang disebut “ilmu atau pengetahuan yang terpadu.” (Alim: 1996: 32). Akan tetapi Ibnu Taimiyah tidak membedakan ilmu-ilmu itu dan semuanya masuk kedalam “ulum syar’iyat islamiyah”, yamg menunjukkan pandangannya dalam integritas yang demikian sebagai al-ilm bi mafhumihi al-syamil (Abud: 1987: 193).

Dalam persepiktif pendidikan Islam, yang menyiapkan manusia agar dapat melakukan perannya, baik sebagai khalifah maupun sebagai abd , maka  yang wajib dituntut oleh manusia adalah ilmu yang sifatnya terpadu tersebut dan dapat dilihat pada sekema berikut ini.

Penutup

            Dalam penutup uraian ini, penulis berpendapat bahwa: Konstruksi ilmu Allah SWT dengan ilmu manusia dengan kata lain tidak ada dikotomi atau bahkan ada yang mengatakan sekuler, maka tujuan yang digariskan Islam untuk mencari ilmu, dapat dicapai. Ilmu pengetahuan yang harus dikuasai, menurut pangdangan Islam adalah segala ilmu pengetahuan yang dapat membawanya menuju iman kepada Allah SWT. (ma’rifat Allah). Dalam konteks itu, maka Islam memasukkan pencarian terhadap ilmu sebagai amalan sangat terhormat-sebagai bagian dari ibadah.

Daftar Pustaka

Abd al-Al, Hasa, al-Tarbiyat al-Islamiyat fi al-Qarn al-Rabi’ al-Hijri, Kairo: Dar al-Fikr al-Arabi, 1978

 Abud, Abd al-Ghani, Dirasat Miqaranah li Tarikh al-Tarbiyah, Kairo: Dar al-Fikr al-Arabi, 1987

 Al-Kailani, Majid Irsan, al-Fikr al-Tarbawi inda Ibnu Taimiyah, al-Madinah al-Munawwarah: Maktabah Dar al-Turats, 1986

 Al-Razy, Ajdid al-Qur’an, Beirut: Dar al-Fikr al-Ilmiyah, 1282

 Bakar, Osman, Tauhid dan Sain, Bandung: Pustaka Hidayah, 1994

 Jaqnzaraly, Riyad al-Salih, al-Ru’yah al-Islamiyat li Masadir al-Ma’rifah, Bairut: Dar al-Basyair al-Islamiyah, 1994

 Kontowijoyo, “Demistifikasi Islam”, Republika, 6 Peruari 1997

 Muhaimin dan Abd Majid, Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung: Trigenda Karya, 1993

 Mursi, Muhammad Munir, al-Tarbiyat al-Islamiyah, Ushuluha wa Tataearuhu fi alBilad al-Arabiyah, Kairo: Dar al-Ma’arif, 1978

 Nasution, Harun, Islam Rasional, Gagasan dan Pemikiran, Bandung: Mizan, 1989

[*] Widyaiswara Madya BDK Palembang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.