AL-QUR’AN DAN PERDAMAIAN (AL-SILM)

0
88

Oleh :

Taufiqurrohman S *

Abstract: Al-Qur’an use two terms in peace concept that is al-silm (السِّلم) or al-salm (السَّلم) and al-shulh (الصُّلح). first usage Term more amount used in war and attitude which ought to be conducted mukmin’s people in face of enemy, which a strength anticipated do not wish to do the peaceful effort and remain to bother the security and the war. In this relation, al-Qur’an hungered for peace effort from every war that happened. While second term used to pacify two party, both for dispute of faction and also spouse case.

Kata Kunci: damai,  al-silm,  al-shulh

Perhatian umat Islam terhadap pengkajian Al-Qur’an pada awal abad XV H tampak menggembirakan. Hal ini terlihat dari berbagai kegiatan penggalian konsep-konsep Qurani, meskipun metode yang digunakan belum sesuai harapan, terutama bila ditinjau dari perspektif metodologi (Salim, 1999: 2). Realitas Al-Qur’an yang demikian agung itu, telah memunculkan usaha tak mengenal lelah dari para ulama dan cendekiawan muslim baik masa klasik maupun modern untuk menggali samudera ilmu yang ada di dalamnya. Dari usaha mereka itu kemudian melahirkan berbagai konsep dan teori yang bertalian dengan berbagai studi Al-Qur’an.

Isu perdamaian merupakan pemikiran yang sangat mendasar dan universal karena berkait erat dengan watak ajaran Islam. cita-cita yang diharapkan semua orang adalah hidup damai dengan cara memenuhi segala hak yang melekat pada diri manusia. Dalam kaitan ini, al-Qur’an sebagai sumber pokok ajaran Islam, kemudian diiringi dengan hadis sebagai sumber pokok kedua, mengandung banyak nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Dalam al-Qur’an, terdapat banyak ayat yang berbicara tentang nilai-nilai kemanusiaan secara umum lalu dijabarkan dengan term-term khusus, di antaranya al-silm (Q.S. al-Nisâ’ [4]: 90 dan 91; Q.S. Muhammad [47]: 35; Q.S. al-Hujurât [49]: 9-10) yang secara substansial merupakan nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Oleh karena itu, masalah pokok yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah bagaimana konsep perdamaian dalam al-Qur’an dengan mengacu pada prinsip-prinsip dasar dan implikasi makna damai. Pembahasan ini berfokus pada upaya merumuskan dan memberi gambaran komprehensif tentang perspektif perdamaian yang dapat dipahami dari ungkapan al-Qur’an.

Pengertian al-Silm

Term al-silm merupakan bentuk masdar dari سلم yang berakar pada kata s-l-m yang juga merupakan akar kata term islam. Artinya “aman” (to be save), “keseluruhan” (whole) dan “menyeluruh” (integral).

Dalam kamus “An Arabic English Lexicon” disebutkan bahwa kata kerja سلم berarti (1) he was/became safe, he ascaped; (2) he was/became free from evils of any kind, from trial or affliction, from the affair, free from fault, defect, imperfection, blemish or vice.[1] Bentuk lain verba ini adalah اسلم yang berarti (1) he resigned or submitted himself; (2) he was/became resigned or submissive (E.W. Lane, 1413).

Dari kata اسلم itulah diturunkan kata اسلام yang berarti The act of resignation to God.[2] Terdapat dua pengertian, yaitu, ia menundukkan dirinya atau ia masuk dalam kedamaian (Ehrenfels and M. Sharif, 1952; Husaini, 1980: 5).

Paramufassir memberi komentar yang beragam meskipun substansinya sama tentang term silm. Al-Thabarî misalnya, memberi makna “menyerah dan harapan untuk berdamai, demikian pula halnya dengan term shulh. (al-Thabarî, 1405 H., J 5: 119). Sementara itu Al-Marâghî mengartikan term silm dengan “tunduk dan patuh (al-Marâghî, 1970, J. 5: 113). Dari sini, kata Islâm yang seakar dengan term silm dan salm, adalah agama yang penuh kedamaian dan keselamatan (al-Marâghî, 1970, J.9: 24). Dua buah kata, tunduk dan damai, merupakan kunci dalam pengertian Islam secara etimologis di atas. Pengertian semacam ini ditemukan dalam banyak literatur.

Prinsip-Prinsip Dasar Perdamaian dalam Al-Qur’an

            Dalam al-Qur’an gagasan tentang perdamaian merupakan pemikiran yang sangat mendasar dan mendalam karena terkait erat dengan kemaslahatan manusia dalam kehidupannya. Hal ini dapat dilihat dalam Q.S. al-Mumtahanah[60]: 8 sebagai berikut:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ(8)

            Ayat ini secara eksplisit membolehkan orang-orang mukmin menjalin hubungan kerja sama dan berbuat baik(al-Marâghî, J. 27: 68), terhadap kelompok atau golongan manapun. Pernyataan ini secara jelas dikemukakan dalam klausa أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا yang mengandung makna berbuat baik dan berlaku adil.

Meskipun ayat ini tidak menggunakan kata yang menunjukkan langsung kepada makna damai, akan tetapi semangat perdamaian yang terungkap adalah substansi ayat ini (al-Marâghî, J. 27: 68). Sebaliknya, ayat 9 dalamsuratyang sama secara tegas melarang orang-orang mukmin hidup berdampingan dengan kelompok-kelompok yang hendak memerangi dan mengusir orang-orang mukmin dari negerinya. Bunyi ayatnya sebagai berikut:

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ(9)

Sejalan dengan itu, menurut Sayid Quthb (1977: 15), semua peperangan yang dilakukan orang-orang mukmin bertujuan menegakkan kalimatullah di muka bumi, dan menegakkan kekuasaan Ilahi sebagai satu-satunya kekuasaan tertinggi bagi seluruh umat manusia yang mengesakan Allah.

Di samping itu, semua peperangan bertujuan menyebarluaskan kebajikan untuk segenap umat manusia dengan jalan meyakinkan, tanpa paksaan, dan dengan mewujudkan keadilan, keamanan serta perdamaian di bawah naungan Allah sebagai satu-satunya Zat dan berhak menentukan jalan hidup manusia. Di bawah naungan Ilahi itu, semua manusia adalah bebas merdeka, setiap orang dapat memilih sendiri keyakinannya tanpa tekanan dan tanpa paksaan (Quthb, 1977: 15). Karena itu, lanjut Quthb, kedamaian sangat luas maknanya, meliputi kedamaian batin, kedamaian rumah tangga (Q.S. al-Nisâ’ [4]: 114 dan 128, kedamaian masyarakat(Q.S. Muhammad [48]: 35), dan kedamaian dunia(Q.S. al-Nisâ’ [4]: 90 dan 91). Kedamaian di atas dapat dibagi lagi dalam bagian-bagian terkecil, misalnya, jaminan ketenangan, jaminan sosial, jaminan keadilan hukum, jaminan keamanan dan keselamatan serta keseimbangan sosial.[3]

Tampaknya, uraian Quthb di atas berfokus pada karakteristik perdamaian dalam al-Qur’an. Dimana al-Qur’an tidak hanya mengungkap perdamaian secara menyeluruh tetapi juga berupaya mewujudkannya di setiap bidang kehidupan.

Prinsip dasar lain yang dapat dikemukakan bahwa kedamaian yang mantap hanya dapat dicapai melalui penyebaran prinsip-prinsip ajakan kepada kebajikan dan berbagai usaha preventif terhadap kemungkaran (Q.S. Âlu ‘Imrân [3]: 104). Bila tidak, maka ide-ide perdamaian hanyalah slogan belaka yang tidak mungkin akan terwujud. Bila dikaitkan lebih jauh dengan konsep HAM, maka cita-cita yang diharapkan semua orang adalah kedamaian. Dengan demikian bila hak-hak asasi yang melekat pada diri manusia terpenuhi, dengan sendirinya kedamaian akan tercipta.

Perdamaian abadi akan terwujud bila semua pihak dapat menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan rambu-rambu larangan Tuhan, karena perbuatan keji dan mungkar akan mendatangkan kemurkaan Tuhan yang menyebabkan dirinya mendapatkan siksaan (al-Nugaimasyî, 2002: 43).

Dalam berbagai tempat, al-Qur’an mengungkapkan upaya penyebaran prinsip-prinsip kebaikan dan upaya memerangi keburukan, misalnya dalam Q.S. Âl ‘Imrân [3]: 104 sebagai berikut:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ(104)

Substansi ayat di atas mengandung tiga unsur, yakni perintah menyeru kebajikan; menyuruh kepada yang makruf; dan mencegah dari yang mungkar. Implikasinya adalah memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, sangat penting dalam menegakkan masyarakat yang damai, karena adanya kekuatan yang secara alami mendorong kita kepada kebajikan yang bersumber dari hati nurani  (Haeri, 1993: 141). Dorongan yang bersumber dari hati nurani itulah yang akan melahirkan kedamaian.

Dalam kaitan ini, Nabi Muhammad SAW bersabda: (al-Bukhârî, 1987 M-1407 J. 1, : 13)

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ (رواه البخاري)

Hadis di atas meskipun tidak menggunakan kalimat perintah langsung, namun secara implisit menekankan perlunya seseorang senantiasa terhindar dari hal-hal yang buruk, baik perkataan maupun perbuatan (al-‘Asqalânî, 1379 H, J. 10: 446). Dengan demikian, akan selamat dalam kehidupannya sehingga akan merasakan kedamaian.

Konsep Perdamaian (al-Silm) dalam Al-Qur’an

Sekurang-kurangnya al-Qur’an menggunakan dua term yang menunjuk kepada makna damai, yaitu term silm atau salm dan kata lain yang seakar dengannya, dan term shulh dan kata lain yang seakar dengannya. Kedua kata ini merujuk kepada makna yang sama.

Kata silm atau salm dalam al-Qur’an dapat dilihat antara lain dalam Q.S. al-Anfâl [8]: 61 sebagai berikut:

وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ(61)

Ayat ini menjelaskan tentang sikap yang sebaiknya dilakukan terhadap mereka yang tidak memusuhi tetapi cenderung berdamai, baik dengan cara gencatan senjata maupun dengan jalan perjanjian untuk tidak saling menyerang (Shihab, 2002 Vol. 5: 462). Ayat ini juga mengisyaratkan agar orang-orang mukmin gemar menerima tawaran perdamaian dari pihak musuh (al-Qurthubî, 1372 H J.16: 256). Jika mereka, yakni orang-orang kafir cenderung untuk perdamaian, maka condonglah kepada upaya perdamaian dan pasrahkanlah segalanya kepada Allah segala urusan yang telah engkau lakukan.

Klausa وَتَوَكَّلْ عَلَىاللَّهِ didahului oleh perintah untuk condong kepada upaya damai. Ini berarti bahwa berserah diri tidak selamanya berarti meninggalkan upaya. Disatu sisi seseorang dituntut untuk berusaha tapi dalam saat yang sama duntut pula berserah diri kepada Allah Swt. Ia dituntut melaksanakan kewajibannya, kemudian menanti hasilnya sebagaimana kehendak dan ketetapan Allah (Shihab, Vol. 5: 463).

Sejalan dengan itu, ayat 62 pada surat yang sama dinyatakan bahwa jika mereka bermaksud hendak menipumu, dengan kata lain ingkar terhadap perjanjian damai, maka janganlah khawatir sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memberi kekuatan untukmu dengan pertolongan-Nya.

Sementara itu, di tempat lain al-Qur’an memperkuat statemen dalam Q.S. al-Anfâl [8]: 60 sebagaimana dikemukakan dalam Q.S. al-Nisâ’ [4]: 90:

فَإِنِ اعْتَزَلُوكُمْ فَلَمْ يُقَاتِلُوكُمْ وَأَلْقَوْا إِلَيْكُمُ السَّلَمَ فَمَا جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ عَلَيْهِمْ سَبِيلًا(90)

Ayat ini mengandung larangan memberi tindakan berupa menawan dan membunuh pihak musuh, yang secara nyata tidak memerangi dan menempuh upaya damai terhadap kaum mukmin, demi terpeliharanya kedamaian (al-Jaûzî, 1404 H J. 2: 256). Akan tetapi bila musuh melakukan penyerangan dan menolak untuk diajak berdamai, maka dengan tegas Al-Qur’an menetapkan ketentuan yang jelas sebagaimana terungkap dalam ayat berikutnya pada surat yang sama.

فَإِنْ لَمْ يَعْتَزِلُوكُمْ وَيُلْقُوا إِلَيْكُمُ السَّلَمَ وَيَكُفُّوا أَيْدِيَهُمْ فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأُولَئِكُمْ جَعَلْنَا لَكُمْ عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا مُبِينًا(91)

Ayat ini menjelaskan keberadaan kelompok lain dari golongan orang-orang munafik yang diduga kuat tidak ingin melakukan upaya penyerahan diri dan damai serta tetap mengganggu dan melakukan peperangan. Dalam keadaan demikian Allah memberi alasan yang nyata untuk menawan dan membunuh mereka (Shihab, Vol. 2: 523).

Dari uraian-uraian di atas, nampak jelas bahwa Al-Qur’an sangat mendambakan upaya perdamaian dari setiap peperangan yang terjadi. Bahkan al-Qur’an hanya membolehkan perang dalam tiga keadaan. Pertama, karena mempertahankan diri sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 190:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ(190)

Kedua, karena pengingkaran terhadap suatu perjanjian dan usaha merusak Islam. Hal ini diungkapkan al-Qur’an dalam Q.S. al-Taûbah [9]: 12 sebagai berikut:

وَإِنْ نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لَا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنْتَهُونَ(12)

Ketiga, karena hal-hal yang membahayakan keselamatan negara, atau penumpasan suatu fitnah. Ini ditegaskan dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 193 sebagai berikut:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ(193)

            Demikianlah tiga keadaan yang diperbolehkan al-Qur’an melakukan peperangan. Diluar dari tiga keadaan tersebut dilarang. Ini sebagai bukti bahwa agama Islam adalah agama yang cinta kedamaian sebagaimana makna dasar dari akar kata s-l-m yang berarti damai dan selamat.

Term kedua yang digunakan al-Qur’an dalam mengungkap makna damai adalah shalaha. Term shalaha terdiri atas shâd, lâm, dan yang berarti baik dan bagus, sebagai antonim dari rusak dan jelek (fasada). Dari akar kata tersebut terbentuk kata kerja shalaha-yashlahu dan dari kata itu pula terbentuk kata kerja ashlaha-yushlihu yang berarti memperbaiki sesuatu yang telah rusak, mendamaikan, dan menjadikan sesuatu berguna dan bermanfaat (ibn Zakariyâ, J 3: 303).

Kata kerja bentuk pertama mengandung konotasi sifat, sehingga tidak memerlukan obyek penderita, sementara yang kedua merupakan kata kerja bentuk transitif (muta‘addî) yang memerlukan pelengkap penderita. Karena itu kata kerja tersebut lebih banyak berkonotasi perbuatan (Shihab (ed), 1997: 158-159).

Dalam Q.S. al-Hujurât [49]: 9 dan 10, misalnya, Al-Qur’an secara jelas menggunakan term ashlihû ketika mengemukakan perintah untuk mewujudkan perdamaian, sebagai berikut:

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ(9) إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ(10)

Ayat 9 diatas berbicara tentang perselisihan antara kaum mukminin yang disebabkan antara lain oleh adanya isu yang tidak jelas kebenarannya sebagaimana disebutkan ayat sebelumnya. Jika ada dua golongan mukmin saling bertikai, maka orang-orang mukmin lainnya diperintahkan untuk mendamaikan dua golongan yang bertikai itu (al-Dimasyqî, 1401H, J. 4: 212), baik dengan jalan memberi nasihat, memberi ancaman, ataupun dengan memberi sanksi hukum. Ayat ini menggunakan kata ashlihû sebanyak dua kali yang keduanya menggunakan bentuk perintah فَأَصْلِحُوا. Ini mengisyaratkan Pentingnya Menciptakan Perdamaian

Menarik untuk ditelaah lebih jauh bahwa penggunaan kata فَأَصْلِحُوا yang kedua dikaitkan dengan kata al-‘adl. Menurut M. Quraish Shihab, hal ini disebabkan karena yang kedua ini telah didahului oleh tindakan terhadap kelompok yang enggan menerima ishlâh yang pertama.

Di samping, itu dalam menindak bisa jadi terdapat hal-hal yang menyinggung perasaan, sehingga jika jika ia tidak berhati-hati dapat timbul ketidakadilan yang bersangkutan. Karena itu, ayat ini menyebut secara tegas perintah berlaku adil  (Shihab, Vol. 13: 245).

Jika ayat 9 mengandung perintah mewujudkan perdamaian antara dua kelompok orang beriman yang bertikai, maka pada ayat 10 menegaskan perlunya ishlâh ditegakkan karena pada dasarnya orang mukmin itu bagaikan bersaudara, kendati tidak seketurunan karena memiliki keterikatan bersama dalam iman  (Shihab, Vol. 13: 247). Bila upaya damai dilakukan maka akan tercipta persatuan dan kesatuan sebagai wujud rahmat Allah (al-Marâghî, J 26: 131). Sebaliknya, bila tidak maka yang terjadi perpecahan yang akan menimbulkan pertumpahan darah sebagaimana dipahami dari kata qitâl.

Al-Qur’an juga mengungkapkan makna damai dengan menggunakan kata-kata yang seakar dengan sh-l-h, misalnya اصلاح antara lain Q.S. al-Nisâ’ [4]: 35. Ayat ini berbicara tentang perselisihan antara suami dan isteri yang menjadikan keduanya mengambil arah yang berbeda. Dalam keadaan demikian diperlukan juru damai (hakam) dari kedua bela pihak untuk mendamaikan suami isteri. Demikian pula yang tercantum dalam Q.S. al-Nisâ’ [4]: 114 yang mengandung perintah untuk bersedekah, melakukan amar makruf, dan melakukan perdamaian antar manusia.

Al-Qur’an juga menggunakan kataالصلح  yang menunjuk makna damai, sebagaimana dikemukakan dalam Q.S. al-Nisâ’ [4]: 128. Ayat ini menjelaskan bahwa, upaya menempuh perdamaian adalah jalan yang terbaik dalam menyelesaikan setiap perselisihan antara suami dan isteri walaupun dengan jalan mengorbankan sebagian hak selama tidak melanggar tuntunan Ilahi.

Di tempat lain kata أصلح digunakan pula dalam makna damai. Misalnya, dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 182. Ayat ini menjelaskan tentang upaya damai yang dilakukan seseorang terhadap pemberi wasiat yang diduga kuat akan melakukan tindakan yang tidak adil dalam menetapkan wasiatnya. Dalam keadaan demikian dibolehkan menempuh upaya damai.

Dengan demikian, kata “damai” yang dimaksudkan al-Qur’an mengandung pengertian lebih mendalam dan lebih menyeluruh dibanding pengertian kata “damai” yang dikenal oleh berbagai negara di dunia dewasa ini. “Damai”, menurut pengertian al-Qur’an ialah perdamaian yang dapat mewujudkan kalimatullah sebagai kenyataan di muka bumi, antara lain: kemerdekaan, keadilan, dan keamanan bagi segenap umat manusia; bukan sekedar mencegah terjadinya peperangan dengan segala resikonya, dan membiarkan kezaliman serta kerusakan di mana-mana.

Uraian di atas menunjukkan bahwa salah satu substansi makna al-silm atau salâm adalah “kedamaian atau kesejahteraan.” Dengan melihat berbagai makna yang demikian kompleks itu, maka secara keseluruhan term al-silm atau islam mengandung makna bahwa dengan penyerahan diri kepada Tuhan, seseorang akan mampu mengembangkan seluruh (whole) kepribadiannya secara menyeluruh (integral) untuk mencapai kedamaian.

Dalam sebuah Hadis Rasulullah Saw pernah ditanya tentang “Islam yang lebih baik (afdhal). Terhadap pertanyaan itu, Nabi memberikan penjelasan tentang Islam dengan pengertian yang bervariasi. Penjelasan itu dapat dilihat dalam sebuah riwayat berikut ini (al-Naîsâbûrî  t.t., J. 1: 65):

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

Hadis di atas secara substansial menjelaskan bahwa hakikat dari Islam adalah kesejahteraan dengan cara memberi makan terhadap sesama manusia yang membutuhkan dan nilai-nilai kedamaian yang harus disebarkan kepada sesama manusia (al-Nawawî, 1392 H J.2: 10). Ini berarti pula bahwa kesejahteraan dan kedamaian merupakan prinsip dasar asasi yang terkait langsung dengan nilai-nilai hak-hak asasi manusia. Karena itu, harus dilestarikan.

Implikasi Makna Damai dalam al-Qur’an

Konsep damai dalam al-Qur’an, selalu bermuara pada nilai-nilai tauhid. Artinya, substansi dari sebuah kedamaian yang hakiki adalah upaya melepaskan diri dari penghambaan manusia terhadap manusia menuju kepada penghambaan kepada Tuhan. Karena itu, Ibn Amir pernah berkata bahwa kami datang untuk membebaskan manusia dari penghambaan terhadap sesamanya menuju kepada penghambaan yang hakiki, yaitu penghambaan kepada Rabb al-‘Âlamîn, dari kegelapan menuju alam yang terang benderang, dari kezaliman menuju keadilan.

Ringkasnya, al-Qur’an sangat menganjurkan perdamaian, selama tidak terdapat unsur kezaliman dan kejahatan dalam suatu perjanjian damai.(Q.S. al-Baqarah [2]: 193). Adanya unsur aniaya pada manusia dalam sebuah perjanjian damai tidak dibolehkan.

Dalam Al-Qur’an Q.S. al-Baqarah [2]: 208, dinyatakan sebagai berikut:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ (208)

Ayat di atas mengandung seruan yang ditujukan kepada orang-orang yang beriman, panggilan dengan predikat kesayangan yang diberikan khusus kepada mereka agar mereka masuk ke dalam Islam secara total (al-Syaukânî, t.t., J. 1: 210). Yaitu, menyerahkan diri sepenuhnya dalam bentuk penyerahan total, di-mana setelah terjadi penyerahan itu, tidak sedikitpun dalam diri kita (baik konsepsi, kesadaran, motivasi, maupun tindakan) yang tidak ditundukkan kepada Allah. Tidak ada pengecualian lain  (Quthb, 1986 J. 1, vol, 2: 200-212).

Menurut Al-Wâhidî, masuk Islam secara total dimaksudkan syari‘at Islam secara keseluruhan yang mencakup hak-hak dan kewajiban-kewajiban hamba kepada Tuhannya (al-Wâhidî, 1415 H, J.1: 160). Sementara itu, para mufassir dan ahli qirâ’at memiliki pandangan yang berbeda tentang bacaan kata السِّلْمِ . Ahli Hijâz dan Al-Kisâ’i, misalnya membacanya dengan cara fathah. Sedangkan Al-Bâqûnî membaca dengan kasrah. Namun demikian, lanjut Al-Kisâ’i, meskipun tanda bacanya berbeda, makna tetap sama (al-Baghawî, 1987M – 1407H, J. 1: 183).

Seruan ini hanya ditujukan kepada orang-orang beriman saja, bukan untuk yang lain. Hal itu disebabkan karena ternyata masih banyak yang bimbang dan ragu dalam menjalankan ketaatannya kepada Allah, baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi (Quthb, J. 1: 213).

Mencermati uraian di atas, tampaknya konsep damai seharusnya terkait dengan tauhid, dimana sebuah kepasrahan harus dibarengi dengan sikap rela serta tunduk hanya di bawah naungan hukum dan keputusan-Nya. Ini merupakan suatu penyerahan total yang tidak tergoyahkan, tentram dan penuh keikhlasan.

Bilamana seorang mukmin menyambut seruan itu dalam bentuknya yang demikian, maka mereka telah memasuki “alam” yang seluruhnya damai dan penuh penyerahan diri, suatu alam yang sarat dengan keyakinan dan kepercayaan diri yang penuh, tulus dan pasrah, tidak ragu dan bimbang serta tidak ada penyimpangan maupun kesesatan. Hasilnya, mereka akan damai bersama jiwa dan hati nurani mereka, damai bersama akal dan rasionya, damai bersama masyarakat dan kehidupannya, mereka damai di langit dan damai di bumi.

Kedamaian hakiki tersebut merupakan pantulan atau hasil refleksi dari “kelurusan konsepsinya tentang Allah sebagai rabb-nya”. Dari sinilah, memancar sebuah bentuk keyakinan bahwa Allah adalah Ilâh yang Maha Tunggal. Kepada-Nya seorang muslim menghadapkan diri tanpa ragu sedikitpun, dan kepada-Nya pula ia memperoleh kedamaian. Dengan demikian, jalan tidak lagi bercabang, tujuan tidak lagi bermacam-macam, dan tidak lagi beralih dari satu Tuhan ke Tuhan lainnya, sebagaimana yang terjadi dalam sistem keberhalaan. Ia adalah “Ilâhun wâhid”, yang kepada-Nya seorang muslim menghadapkan diri dengan penuh keyakinan dan kepercayaan yang jelas.

Berangkat dari sinilah, seorang muslim akan memperoleh perlindungan yang sangat kokoh dari rabb-nya. Ia akan memperoleh keadilan yang sempurna, perlindungan dan kedamaian yang hakiki dan memadai. Ringkasnya, masyarakat yang dibentuk oleh ajaran Ilahi dan berada di bawah naungan akidah yang tidak saja indah, tetapi juga mulia, yang disertai dengan jaminan-jaminan keamanan bagi jiwa, harta dan kehormatan dirinya. Mereka itulah yang memperoleh kedamaian, menyebarkan perdamaian dan ketentraman jiwa.

Individu memiliki nilai yang sangat mendasar dalam membangun masyarakat damai dan sejahtera. Karena itu, tidak ada perdamaian di muka bumi ini selama masih ada individu yang batinnya tidak merasakan nikmat keamanan (Q.S. al-An‘âm [6]: 82). Siapa saja yang hendak menegakkan perdamaian dunia di atas landasan yang kokoh dan sentosa, ia harus mulai memantapkannya di dalam batin setiap individu.

Dari uraian-uraian di atas dapat dipahami bahwa Al-Qur’an sangat mendambakan perdamaian (Q.S. al-Nisâ’ [4]: 90-91) dan kesejahteraan (Q.S. al-Qalam [68]: 43 dan Q.S. al-Qadr [97]: 5) dalam semua level dan tingkatan sebagaimana substansi dalam term Islam. Dimulai perdamaian dalam hubungan setiap individu dengan Tuhannya, dengan jiwanya sendiri, dan dengan masyarakatnya. Selanjutnya, perdamaian itu lebih ditingkatkan lagi dalam hubungan antar golongan, antara individu dengan pemerintah, kemudian diperluas lagi antara negara dan negara.

Untuk mewujudkan tujuan yang terakhir ini, memerlukan perjalanan yang sangat panjang, mulai dari perdamaian dalam individu, perdamaian dalam keluarga, perdamaian dalam masyarakat, hingga tahapnya yang terakhir, yaitu perdamaian dunia.

Kesimpulan

Konsep perdamaian menurut Al-Qur’an adalah perdamaian yang dapat mewujudkan kalimatullah sebagai kenyataan di muka bumi, antara lain: al-‘adâlah, al-hurriyah, dan keamanan bagi segenap umat manusia. Oleh karena itu, damai dalam Al-Qur’an, selalu bermuara pada nilai-nilai tauhid. Artinya, inti kedamaian yang hakiki adalah upaya melepaskan diri dari penghambaan manusia terhadap manusia menuju kepada penghambaan kepada Tuhan.

Penyebaran prinsip ajakan berbuat kebajikan dan upaya preventif terhadap kemungkaran (الأمر بالمعروف والنهى عن المنكر) adalah syarat mutlak untuk mewujudkan perdamaian yang hakiki. Dalam kaitan ini, dapat ditegaskan bahwa Al-Qur’an secara eksplisit membolehkan orang-orang mukmin menjalin kerja sama dan berbuat baik terhadap golongan manapun atas prinsip perdamaian.

Daftar Pustaka

Al-‘Asqalânî, Ibn Hajar, 1379 H. Fath al-Bârî, Beirût: Dâr al-Ma‘rifah,  Jilid 10.

Al-Baghawî, Abû Muhammad al-Husaîn ibn Mas‘ûd al-Baghawî, 1993. Tafsîr al-Baghawî: Ma‘âlim al-Tanzîl, Beirût: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Jilid 1.

Al-Bukhârî, Muhammad ibn Ismâ‘îl Abû ‘Abd. Allâh, 1987. Shahîh al-Bukhârî. Beirût, Dâr Ibn Katsîr al-Yamâmah, Jilid. 1.

Ibn Katsîr, Abû al-Fidâ’ Ismâ‘îl ibn ‘Umar al-Dimasyqî, 1401 H. Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, Beirût: Dâr al-Fikr, Jilid 4

Ibn Zakariyâ, Abî al-Husain Ahmad, t. th.,Mu‘jam Maqâyîs al-Lugat, Beirût, Dâr al-Fikr, cet. ke-1, Jilid 2, 3.

Al-Jaûzî, Abû al-Faraj Jamâl al-Dîn ‘Abd al-Rahmân Ibn ‘Ali Ibn Muhammad, 1994.Zâd al-Masîr, Beirût, Dâr al-Kitâb al-‘Ilmiyyah, cet. ke-1, Jilid 2.

Al-Marâghî, Ahmad Mushthafâ, 1974. Tafsîr al-Marâgî, Mesir, Mushthafâ al-Bâbî al-Halabî, cet. ke-5, Jilid 5, 9, 26,27.

Muhammad Ali, Maulana, 1996. Dîn al-Islâm, diterjemahkan oleh R. Kaelan dan H.M. Bachrun dengan judul, Islamologi, Jakarta: Darul Kutubil Islamiyyah.

Muslim ibn al-Hajjâj Abû al-Husaîn al-Qusyaîrî al-Naîsâbûrî, (w.261H), t.th., Shahîh Muslim, Beirût: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiah, Jilid 1.

Al-Nugaimasyî, Ibrâhîm ibn Sulaimân, “Perdamaian Dunia dan Jihad” dalam Azhar Arsyad, et al, 2002. Islam dan Perdamaian Global,Yogyakarta: Madyan Press.

Al-Qurthubî, Abû ‘Abd. Allâh Muhammad ibn Ahmad, 1967. al-Jâmi‘ li Ahkâm al-Qur’ân, Mishr, Dâr al-Kâtib al-‘Arabî,  Jilid. 6,7, 16.

Quthb, Sayid, 1986. Fî Zhilâl Al-Qur’an -Ma‘âlim fi al-Tharîq. Mekkah, Dâr al-‘Ilm li al-Thibâ‘ah wa al-Nusyr, Jilid 1 dan 2.

_______,Sayyid, 1977. Islam and Universal Peace,Washington: American Trust Publications.

Salim, Abd. Muin, 28 April 1999. Metodologi Tafsir (Sebuah Rekonstruksi Epistemologis Memantapkan Keberadaan Ilmu Tafsir sebagai disiplin Ilmu), Orasi Pengukuhan Guru Besar di Hadapan Rapat Senat Luar Biasa IAIN Alauddin Ujungpandang.

Al-Shâbûnî, Muhammad ‘Alî, 1981. Shafwat al-Tafâsîr, Beirût: Dâr al-Qur’ân al-Karîm, cet . ke-2.

Al-Shâlih, Shubhî, 1988. Mabâhits fî ‘Ulûm al-Qur’ân, Beirût, Dâr al-Fikr li al-Malâyîn.

Shihab M. Quraish (ed), 1997. “Shalaha”, Ensiklopedi Al-Qur’an, Jakarta: Yayasan Bimantara.

_______, M. Quraish, 2002. Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati, Vol. 2,5,13.

Al-Suyûthî, Jalâl al-Dîn, t.th., al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qur’ân, Beirût, Dâr al-Fikr, Jilid 2.

Al-Syaukânî, Muhammad ibn ‘Ali ibn Muhammad, t.th., Fath al-Qadîr, Beirût, Dâr al-Fikr, Jilid 1, 2.

Al-Thabarî, Abû Ja‘far ibn Muhammad ibn Jarîr, 1954. Jâmi‘ al-Bayân ‘an Ta’wîl Âyi al-Qur’ân, Mishr, Mushthafâ al-Bâbî al-Halabî wa Aulâduh, Jilid 1, 5, 11.

Al-Wâhidî, ‘Alî bin Ahmad, 1415 H. al-Wajîz fî Tafsîr al-Kitâb al-‘Azîz, Damasqus: Dâr al-Qalam, Jilid 1.


* Widyaiswara Madya BDK Palembang

[1]Lihat uraian ini dalam E.W. Lane, Maddu I – Kamous, An Arabic English Lexicon, (Beirût: Libraire du Liban, 1968), Vol. 4, h. 1412. Bandingkan dengan karya orientalis lainnya, D.Z.H. Baneth, “Apakah yang Dimaksud Muhammad SAW. dengan Menamakan Agamanya Islam?”, dalam Beck dan Kaptein (redaktur), Pandangan Barat terhadap Islam lama, (Jakarta: INIS, 1989), h. 3-10. Lebih jauh Baneth menyatakan bahwa Islam harus dilihat dari kacamata konteks sosial-historis pada saat Nabi hidup. Misalnya, bila hanya diartikan “tunduk” dan “pasrah”, apakah logis untuk komunitas Arab Jahiliyah? Baneth menyimpulkan bahwa kata Islam harus diartikan secara dinamis-aktif. Lihat Selanjutnya Abdul Aziz Thaba, Islam dan Negara dalam Politik Orde Baru, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), cet. ke-1, h. 39.

[2]Kata Islam dalam makna yang asli masuk dalam ‘perdamaian’. Karena itu orang Muslim ialah orang yang damai dengan Allah dan damai dengan manusia. Damai dengan Allah, artinya, berserah diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya, dan damai dengan manusia, bukan saja berarti menghindari berbuat jahat atau sewenang-wenang kepada sesamanya melainkan pula ia berbuat baik kepada sesamanya. Lihat, Maulana Muhammad ‘Alî, Dîn al-Islâm, diterjemahkan oleh R. Kaelan dan H.M. Bachrun dengan judul, Islamologi, (Jakarta: Darul Kutubil Islamiyyah, 1996), cet. ke-5, h. 5.

[3]Pada masa pemerintahan ‘Umar ibn ‘Abd al-Aziz, ketika orang-orang Nasrani Damascus mengadukan kepada Umar bahwasanya al-Walid telah merusak gereja mereka dan menggabungkannya ke dalam pekarangan masjid. Mendengar itu, Umar pun menyuruh agar dikembalikan kepada mereka. Selanjutnya orang-orang Islam dapat mengadakan suatu perdamaian dengan mereka itu. Selanjutnya lihat Sayyid Quthb, Islam Universal Peace, h.15.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.