Strategi supaya peserta diklat tertarik dan termotivasi dalam belajar.

0
27

oleh :
Drs.Suberia.MM
Widyaiswara Madya
Balai Diklat Keagamaan Palembang
Abstract:
Teaching and training is one of the tasks of lecturers, teaching must be effective or achieve the goal, the problem of teaching that occurs is ,lecture isnot interesting in teaching so that training participants are not motivated to learn, one way is any significant change in the behavior of lecturers in teaching, this is the important thing should be done by the trainers in training that should be executed the steps explained in this article.

Key words : Strategy,termotivasi, pembelajaran
Pendahuluan

Saya adalah seorang widyaiswara ,tugas pokoknya diantaranya adalah mendidik mengajar dan melatih atau disebut dikjartih, seseorang yang suka berbagi ilmu dan mengembangkan ilmu kepada peserta diklat terutama dalam lingkup kediklatan sesuai dengan disiplin ilmu atau spesialisasi yang diemban atau dimiliki, seorang widyaiswara sudah barang tentu pekerjaannya terbiasa mencari ilmu melalui diklat atau pelatihan disamping berbagi ilmu dengan peserta diklat ketika diklat diadakan baik pada diklat regional di Balai Diklat Keagamaan ataupun pada saat melakukan diklat diluar kampus atau disebut DDLK.
Dalam proses pembelajaran terutama didalam pelaksanaan diklat kadang-kadang ada timbul persoalan diantaranya peserta diklat tidak disiplin atau masuk kelas tidak tepat waktu, tidak gairah dalam mengikuti pembelajaran, hal ini perlu mendapat perhatian yang serius dari widyaiswara atau nara sumber disamping perhatian dan pengawasan dari panitia pelaksana diklat. ketidak seriusan peserta diklat perlu adanya introspeksi diri widyaiswara yang bertanggung jawab dalam penyampaian materi ajar tersebut, apa yang yang menjadi penyebabnya, banyak factor yang mempengaruhinya, mungkin dari materi diklat yang dianggap tidak bermanfaat bagi peserta diklat, mungkin kondisi kelas yang tidak mendukung umpamanya sarana dan prasarana yang tidak lengkap, mungkin suasana belajar yang tidak mendukung umpamanya suasana lingkungan belajar yang ribut, seperti suara kendaraan yang mengganggu atau mungkin dari sudut cara widyaiswara atau narasumber sendiri yang tidak memberikan pembelajaran yang baik seperti urutan materi pembelajaran yang tidak terurut dengan benar atau materi belajar yang sudah ketinggalan ( out of date ), bahan tayangan yang tidak menarik atau perilaku widyaiswara atau narasumber yang tidak menarik baik dari sudut penampilan berpakaian, prilaku dalam kaitannya dengan proses belajar yang tidak cocok dengan kehendak peserta diklat seperti kurang memberikan motivasi, atau mengajar hanya bersipat monoton vertical saja atau dengan istilah tidak andragogi sehingga peserta diklat tidak aktif dalam proses pembelajaran .
Dari beberapa persoalan proses pembelajaran yang disebutkan diatas, penulis hanya akan mempokuskan diri pada pembahasan tentang bagaimana cara atau kiat yang dilakukan oleh widyaiswara dalam proses pembelajaran yang berpokus pada prilaku atau tindakan widyaiswara ketika sedang melakukan proses pembelajaran dikelas terutama pada diklat teknis pendidikan dan keagamaan di Balai Diklat Keagamaan Palembang.
Sebagai tujuan dari penulisan artikel ini adalah sebagai bahan masukan bagi para widyaiswara terutama widyaiswara teknis untuk menjadi informasi tambahan dalam rangka usaha bersama dalam peningkatan mutu pembelajaran diklat.

Pembahasan
Dalam bahasan pada artikel ini diprasakan perlu memberikan definisi dari beberapa istilah yang dipergunakan diantaranya :
1, Strategy menurut Wikipidia adalah pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, perencanaan, dan eksekusi sebuah aktivitas dalam kurun waktu tertentu. Di dalam strategi yang baik terdapat koordinasi tim kerja, memiliki tema, mengidentifikasi faktor pendukung yang sesuai dengan prinsip-prinsip pelaksanaan gagasan secara rasional, efisien dalam pendanaan, dan memiliki taktik untuk mencapai tujuan secara efektif. Pada awalnya kata ini dipergunakan untuk kepentingan militer saja tetapi kemudian berkembang ke berbagai bidang yang berbeda seperti strategibisnis, olahraga , ekonomi, pemasaran, perdagangan, manajemen strategi, dl
Kata “strategi” adalah turunan dari kata dalam bahasa Yunani, stratēgos. Adapun stratēgos dapat diterjemahkan sebagai ‘komandan militer’ pada zaman demokrasi Athena.
2. Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya.

3. Pembelajaran adalah proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Definisi sebelumnya menyatakan bahwa seorang manusia dapat melihat dalam perubahan yang terjadi, tetapi tidak pembelajaran itu sendiri.[2] Konsep tersebut adalah teoretis, dan dengan demikian tidak secara langsung dapat diamati: Anda telah melihat individu mengalami pembelajaran, melihat individu berperilaku dalam cara tertentu sebagai hasil dari pembelajaran, dan beberapa dari Anda (bahkan saya rasa mayoritas dari Anda) telah “belajar” dalam suatu tahap dalam hidup Anda. Dengan perkataan lain, kita dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran telah terjadi ketika seorang individu berperilaku, bereaksi, dan merespon sebagai hasil dari pengalaman dengan satu cara yang berbeda dari caranya berperilaku sebelumnya.

Dalam kaitannya dengan problematika pembelajaran yang dikemukankan diatas ada beberapa hal yang harus diketahui oleh widyaiswara diantaranya ,
1.Kenali Gaya Peserta Anda Dalam Diklat (The Manual of Learning Styles by Peter Honey and Alan Mumford)
Dalam proses pembelajaran di kelas, seorang widyaiswara memiliki cara-cara tersendiri dalam melakukan proses transfer ilmu. Widyaiswara memiliki kekuatan ataupun kemampuan, artinya setiap widyaiswara memiliki cara-cara tersendiri dalam memasuki tahapan pembelajaran. Namun widyaiswara juga harus mengetahui gaya-gaya peserta dalam Pendidikan dan Pelatihan (Diklat).

Dengan mengetahui gaya-gaya umum peserta Diklat maka setiap metode pembelajaran yang akan dibawakan akan berdampak positif bagi peserta sebagai penampung ilmu dari seorang widyaiswara. Widyaiswara harus menyadari bahwa peserta yang mengikuti Diklat biasanya tidak sebagai orang dengan minim pengetahuan‘gelas kosong’ namun sebagai orang yang memiliki pengetahuan dan ingin menambah pengalaman dalam Diklat.
Eddie Davies (2005), dalam buku The Art of Training and Development, dua psikolog Inggris, Peter Honey dan Alan Mumford, telah mengidentifikasi 4 (empat) gaya seseorang dalam menyerap ilmu. Hal tersebut dikolaborasikan dengan siklus pembelajaran Kolb dalam buku karya David Kolb “Experimental Learning” (1984), maka dapat dilihat dalam siklus sebagai berikut :

Banyak lagi model pembelajaran yang di kembangkan oleh David Kolb. Dengan mengikuti tahapan secara berurut, widyaiswara akan bisa mendapatkan hasil pembelajaran yang diinginkan dan mengetahui peserta masuk ke dalam tahapan yang mana.

Berikut adalah penjelasan identifikasi gaya peserta Diklat dalam mengikuti pembelajaran:
1. AKTIVIS
Aktivis adalah orang yang bisa menikmati peristiwa saat ini dan di sini. Mereka sangat didominasi oleh peristiwa yang sering terjadi. Mereka cenderung memperhatikan krisis jangka pendek dan menjadi seseorang dengan tingkat solusi paling tinggi mengahadapi peristiwa-peristiwa tersebut. Pengajar tersebut memang menyukai tantangan pengalaman baru, namun mudah bosan dan tidak menyukai implementasi ataupun konsolidasi jangka panjang. Mereka suka bekerja dengan orang lain, namun cenderung mendominasi, terlalu banyak melakukan sendiri serta menyerahkan ke orang lain yang dianggapnya tidak penting.
Mereka cenderung belajar dengan baik dari kegiatan jangka pendek yang menuntut keterlibatan segera, namun sementara. Dalam siklus pembelajaran, mereka siap masuk ke tahapan pertama, namun enggan untuk merenungkan peristiwa yang dialami dan menyimpulkannya. Mereka cenderung menjadi pembelajar intuitif yang tidak menyukai ceramah panjang dari widyaiswara di kelas.

2. REFLEKTOR
Reflektor adalah perenung. Mereka senang meninjau peristiwa yang sudah terjadi, mengobservasi untuk mengumpulkan data serta memikirkan segala sesuatu dengan cermat. Mereka hati-hati dan metodi, menganalisis segala sesuatu dengan cermat sebelum mengambil kesimpulan. Mereka bisa menjadi terlalu waspada, menganalisis situasi dari semua sudut yang mungkin untuk diperhitungkan dan menghilangkan semua resiko.
Dalam siklus pembelajaran, umumnya mereka efektif dalam tahap melihat kembali peristiwa. Mereka juga cenderung mengadopsi cara-cara reaktif. Mereka senang berdiskusi, mendengarkan pendapat orang lain sebelum membuat keputusan. Dalam kegiatan pembelajaran, mereka lebih suka untuk melakukan riset sebelum bertindak, tidak suka untuk langsung melakukan uji coba dan memimpin. Untuk melakukan presentasi sekalipun, mereka ‘takut’ apabila tanpa persiapan yang matang.

3. TEORETISI
Teoretisi, senang menganalisis dan mensintesiskan serta menciptakan model dan sistem. Mereka senang memilah dan menggolongkan fakta untuk dicocokkan dengan suatu skema rasional. Mereka senang bekerja melalui tahapan-tahapan yang sistematis. Mereka cenderung menjadi perfectionist dan menolak keputusan dan tindakan intuitif yang tidak sesuai dengan pendekatan logis.
Dalam siklus pembelajaran, teoretisi berada pada tahapan menyimpulkan (tahap ketiga). Teoretisi bisa belajar secara reaktif ataupun proaktif. Mereka sama dengan reflektor, tetapi lebih senang meletakkan proses pembelajarannya pada konteks model atau teori. Mereka merasa tidak nyaman apabila tidak terstruktur atau disajikan secara tidak terorganisasi, atau apabila tidak mengandung bobot intelektual.
4. PRAGMATIS
Pragmatis tertarik bereksperimen untuk menerapkan teknik-teknik baru. Mereka adalah jenis orang yang segera ingin menguji coba hasil pembelajaran yang telah diperoleh dari kelas. Merasa nyaman apabila segala sesuatunya berjalan dengan baik dalam praktik. Seorang pragmatis akan menolak segala gagasan yang belum diuji coba, atau belum terbukti dalam praktik. Mereka cepat beradaptasi dengan sesuatu yang baru, bertindak cepat dengan penuh percaya diri dan nyaman dengan situasi yang tidak terstruktur. Seorang pragmatis memiliki kecenderungan untuk mengambil alternatif solusi yang pertama atau ditemukan.
Dalam kaitannya dengan siklus pembelajaran, mereka tertarik pada tahap perencanaan tindakan karena lebih praktis. Pragmatis memiliki beberapa kesamaan dengan aktivis. Bedanya adalah pragmatis bisa mengambil pelajaran dengan baik apabila melihat hubungan yang jelas antara apa yang dipelajari dan masalah nyata di tempat kerja. Mereka cenderung cocok dengan pendekatan proaktif yang bisa menutup kelemahan bias dalam perencanaan. Mereka membutuhkan kesempatan untuk menguji keterampilanya dan mendapatkan umpan balik mengenai efektivitasnya. Seorang pragmatis akan kesal apabila harus belajar dari sesuatu yang murni teoretis. Mereka juga kesal apabila manajemen atau kepentingan politis menghalangi mempraktikkan hasil pembelajaran di tempat kerja.
Dari keempat gaya umum peserta Diklat tersebut, maka seorang widyaiswara haruslah memiliki senjata ampuh dalam melakukan sharing knowledge yaitu dengan metodologi pembelajaran yang pas dengan gaya-gaya peserta Diklat. Yang harus menjadi perhatian seorang widyaiswara adalah peserta Diklat bukanlah seorang yang minim akan pengetahuan dan pengalaman, maka dengan berprinsip seperti inilah seorang widyaiswara akan lebih banyak membuat variasi metode dalam proses pengajaran dalam kelas.
Disamping penjelasan diatas ada bebrapa langkah kegiatan yang perlu diperhatikan oleh widyaiswara :
Jadi widyaiswara jangan naif, kadang peserta diklat lebih pintar. Karena itu suatu nkeharusan bagi widyaiswara untuk selalu menambah ilmu baik melalui pendidikan formal ataupun dengan memaca buku yang berkaitan dengan disiplin keilmuan yang ditekuninya
a.Mengajar itu horisontal, bukan vertikal
Sifat mengajar yang horisontal berarti kita sebagai tentor menempatkan diri sama tinggi dengan kita. Kita berbicara sebagai orang yang lebih dahulu tahu, bukan lebih pintar. Kita mentransfer ilmu, bukan memberi ilmu. Saya seringnya mengatakan seperti ini setelah perkenalan:
“Saya berdiri di depan anda sekalian bukan karena saya lebih pintar dari anda, namun hanya karena saya kebenaran memperoleh informasi lebih daulu tentang topic bahasan yang akan kita bicarakan . Mungkin suatu saat diantara anda sekalian ada yang lebih mengerti memahami daripada saya. Saya berkeyakinan kuat akan hal ini. Pernyataan diatas sudah memberikan dorongan kepada peserta diklat untuk lebih santai dan lebih menikmati kebersamaannya dengan anda. Jika kelas sudah santai dan dinikmati, maka pelajaran mudah diberikan. Dalam memberikan pelajaran, anggaplah kita sedang bercerita tentang pengalaman sehingga ilmu apapun itu tidak terkesan menyeramkan.
b. Mengajar itu memberikan motivasi
Peserta diklat yang termotivasi, tidak mencontek. Dalam mengajar, pastikan selalu memberikan motivasi kepada peserta diklat-diklat . Motivasi bisa dilakukan di seluruh waktu, namun ada waktu-waktu yang terbaik. Motivasi bisa dilakukan pada pertemuan pertama, pada tengah pelajaran dan juga diakhir pembelajaran dalam bentuk rfleksi .atau dengan pemberian Reward yang disesuaikan dengan kebutuhan
Dan tak lupa, sebagai seorang widyaiswara kita haruslah menjadi seseorang yang dapat menyakinkan peserta diklat kita bahwa mereka hebat. Kita harus bisa menanamkan kepada mereka bahwa mereka pasti bisa melakukan apa saja asalkan berusaha dengan baik. Hal ini dapat kita tempuh dengan menghindari kalimat-kalimat yang menurunkan keyakinan terhadap diri mereka sendiri. Saya sendiri berpendapat bahwa tidak ada orang bodoh, hanya saja memiliki pemahaman yang berbeda.
c.Mengajar itu memberikan contoh
Seorang widyaiswara teknis boleh mempunyai prinsip “ajarkan apa yang kamu bisa, bukan apa yang kamu tahu”. Maksudnya adalah apa yang kita ajarkan sebaiknya adalah sesuatu yang kita mengerti dan bisa kita lakukan. Lakukan dengan memberikan contoh. Ketika memberikan pelatihan, saya lebih banyak memberikan contoh dan mempraktekkan langsung supaya peserta diklat mengerti dan tidak hanya mengimajinasikan dalam pikiran saja. Oleh karena itu sebagai widyaiswara kita harus paham konsep dari suatu hal yang diajarkan. Pemahaman konsep akan membuat kita mudah memberikan contoh apa saja dan memecahkan problematika yang mungkin dihadapi oleh para peserta diklat.
Kesimpulan
Dari pembahasan yang dikemukakan diatas,dapat kita tarik kesimpulan bahwa :
1. seorang widyaiswara harus mengenali gaya peserta anda dalam diklat,seperti gaya aktivis,reflector,teoritis,pragmatis .
2. Mengajar itu horisontal, bukan vertical, Mengajar itu memberikan motivasi, Mengajar itu memberikan contoh.
3. Widyaiswara harus mengembangkan keilmuan ( kompetensi )baik kognitif,psikomotor dan afektif yang dimilikinya .
4. Gunakan pendekatan andragogi yaitu proses pembelajaran orang dewasa,saling member,saling menerima,saling menghargai satu sama lain.

Daftar pustaka
Arief S. Sadiman, dkk., 1990, Media Pendidikan : Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya, CV. Rajawal i, Jakarta
Asri Budiningsih, C., 2005, Belajar dan Pembelajaran, Bumik Aksara, Jakarta.
http://samarinda.lan.go.id/kenali_gaya_peserta_anda_dalam_diklat_the_manual_of_learning_styles_by_peter_honey_and_alan_mumford_252.htm
http://definisimu.blogspot.com/2012/11/definisi-strategi.html

Cara Mengajar yang Efisien dan Efektif

Indrawati, M.Pd dan Wawan Setiawan, 2009, Modul Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Diterbitkan oleh PPPPTK I PA.
Ismail SM, M.Ag, 2008, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis Paikem, Semarang : Rasail Media Group.
Rusman, M .Pd, 2011, Model-Model Pembelajaran, Jakarta : Rajawali Pers.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.