Strategi Penerapan dan Jenis Hukuman di sekolah

0
36

Strategi Penerapan dan  Jenis Hukuman di sekolah

Oleh

Drs.Suberia.MM

Key word : Kenakalan remaja, Jenis Hukuman ,sekolah

Abstarac :

Kemajuan zaman baik dalam bidang teknologi,social masyarakat,politik dan strata kehidupan social dalam bidang ekonomi, struktur keluarga,kesibukan orang tua disamping pengaruh lainnya serta kepribadian siswa atau remaja itu sendiri, menimbulkan ketidak patuhan mereka kepada disiplin sekolah yang menyebabkan guru harus memberikan hukuman yang edukatif kepada anak didik, tetapi dipihak lain ada perlawanan dalam bentuk phisik ataupun mental dari pihak orang tua ataupun anak didik itu sendiri.sehingga guru harus bisa memeberikan hukuman yang tepat kepada anak didik baik dari segi cara ataupun jenis hukuman yang diinginkan.

Pendahuluan

Seiring dengan kemajuan zaman terutama dalam bidang teknologi dan informasi dan budaya serta prilaku masyarakat modern yang semakin complek disamping tingkat social serta tarap ekonomi masyarakat. Yang meningkat pesat ,ini membawa  pengaruh  yang  signifikan  terhadap  sikap  orang tua dan  masyarakat  dalam menanggapi beberapa phenomena yang terjadi, terutama terhadap dunia pendidikan,

Dalam Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”

Keterpautan antara kenakalan remaja, sikap masyarakat dan begitu pentingnya mencapai tujuan pendidikan nasional sebagai cita cita bangsa, inilah yang menjadi persoalan utama yang perlu dibahas dalam artikel ini. Untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan pendidikan nasional, maka beberapa usaha yang berorientasi pada dunia pendidikan harus dilaksanakan dengan serius namun tantangan dan rintangan terjadi terutama  disekolah. antara lain kenakalan remaja, pelanggaran disiplin disekolah dan sebagainya .

Kenakalan remaja sering disebut juga dengan Juvenile Delinquency ialah perilaku jahat  atau kejahatan anak-anak muda. Anak-anak muda yang jahat itu disebut juga sebagai anak cacat secara sosial. Juvenile berasal dari bahasa Latin “Juvenilus”, artinya anak-anak, anak muda, ciri karakteristik pada masa remaja. Delinquent berasal dari kata Latin “delinquere” yang berarti terabaikan, mengabaikan, yang kemudian diperluas lagi maknanya menjadi jahat.

Mengenal siapa remaja dan apa problema yang dihadapinya adalah suatu keharusan bagi orang tua. Dan guru dengan bekal pengetahuan ini orang tua dan guru  dapat membimbing anaknya. Hal ini sangat dirasakan oleh semua karena di bahu remaja masa kini terletak tanggung jawab moral sebagai generasi penerus, menggantikan generasi yang ada saat ini. Mereka inilah yang kelak berperan menjadi sumber daya manusia yang tangguh dan berkualitas, menjadi aset nasional dan tumpuan harapan bangsa dalam kompetisi global.

Ada beberapa bentuk kenakalan remaja  adalah: Kebut-kebutan dijalanan yang mengganggu keamanan lalu lintas dan membahayakan jiwa serta orang lain.  Membolos sekolah lalu bergelandangan sepanjang jalan dan kadang-kadang pergi ke pasar untuk bermain game, Memakai dan menggunakan bahan narkotika bahkan hal yang mereka anggap ringan yakni minuman keras. Perjudian dan bentuk-bentuk permainan lain dengan taruhan, seperti permainan domino, remi dan lain-lain.  Perkelahian antar geng, antar kelompok, antar sekolah, sehingga harus melibatkan pihak yang berwajib.

Berkaitan dengan kenakalan remaja yang diuraikan diatas,bila dihubungkan dengan disiplin atau aturan yang ada disekolah, sering terjadi pelanggaran atau tidak terlaksananya penegakkan disiplin dengan sempurna,bila mana hal itu dibiarkan maka akan terjadi kerusakan atau ketidak teraturan disiplin, sebagai akibatnya proses belajar mengajar tidak dapat berjalan dengan efektif. atau bahkan lebih jauh dari itu, yaitu tidak tercapai tujuan pendidikan secara umum sebagaimana disebutkan dalam tujuan pendidikan nasional Pasal 3 UU Sisdiknas.

Sebagai langkah untuk menghindari ketidak teraturan atau tidak terlaksananya disiplin dengan baik serta demi tercapainya tujuan pendidikan,maka penegakan disiplin harus dilaksanakan dengan berbagai macam cara, salah satu diantaranya adalah memberikan hukuman edukatif kepada anak didik. Namun persoalannya adalah ketika guru menghukum anak didik, ada   respon negative  dari anak didik itu sendiri atau bahkan dari orang tua anak didik yang bersangkutan ,seperti ,ada pembalasan secara pisik atau mental  dari pihak anak didik yang bersangkutan atau pihak orang tua .seperti diadukan kepolisi,dianggap melanggar hak azazi manusia dan sebagainya.

Sebagai akibatnya banyak guru-guru atau para pendidik merasa bingung tentang bagaimana pola pemberian hukuman yang  edukatif serta sesuai dengan kondisi anak didik dan lingkungan sosialnya dan seiring dengan kemajuan zaman.

Inilah urgensi yang perlu dibahas dalam tulisan ini. Yaitu memberikan tinjauan secara psikologis tentang  hal hal yang menjadi penyebab timbulnya kenakalan remaja  disamping mencari konsep pemberian hukuman yang tepat serta edukatif  dan efektif  terutama terhadap pelanggaran disiplin dan kenakalan remaja yang terjadi disekolah.

Pembahasan

Langkah awal yang harus ditempuh adalah mengenal lebih detail tentang remaja itu sendiri dan factor yang menjadi penyebab terjadinya kenakalan serta solusi mengatasinya, kemudian dikaitkan dengan kenakalan anak didik disekolah serta solusi pemberian hukuman yang efektif dan edukatif ditinjau dari sudut teori  pendidikan dan atau islam.

 Kita menemukan berbagai tafsiran dari para ahli tentang masa remaja : Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif. Charlotte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi.Spranger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan struktur kejiwaan yang fundamental.. Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa pembentukan sikap-sikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu.. G. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai dan topan).

Para ahli umumnya sepakat bahwa rentangan masa remaja berlangsung dari usia 11-13 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin, 2003). Pada rentangan periode ini terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Oleh karena itu, para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s.d. 14-15 th); dan (2) remaja akhir (14-16 th s.d.18-20 th).

Setelah memberikan definisi  dan batasan usia remaja diatas, .kita perlu  memahami factor apa sajakah yang menyebabkan terjadinya kenakalan remaja itu .Dikutip dari Wikipedia kenakalan remaja disebabkan oleh dua faktor yaitu subjektif (dari diri sendiri) dan objektif (dari lingkungan). Menurut Psikolog Adelina Syarief, SE, Mpsi.  Remaja yang melakukan perilaku menyimpang dalam hal ini yaitu kenakalan remaja disebabkan dari diri sendiri atau lingkungan. “Penyebabnya bisa dari sifat bawaan atau dari keluarga misalnya orangtua yang terlalu sibuk, kurangnya komunikasi atau perceraian. Anak yang sudah merasa tidak nyaman dalam rumah maka mudah terpengaruh lingkungan misalnya ajakan teman yang membuatnya melakukan hal negatif. Faktor Internal (Dalam). Reaksi frustasi diri, Dengan semakin pesatnya usaha pembangunan, modernisasi yang berakibat pada banyaknya anak remaja yang tidak mampu menyesuaikan diri terhadap berbagai perubahan sosial itu. Mereka lalu mengalami banyak kejutan, frustasi, ketegangan batin dan bahkan sampai kepada gangguan jiwa. Gangguan pengamatan dan tanggapan pada anak remaja. Adanya gangguan pengamatan dan tanggapan di atas sangat mengganggu daya adaptasi dan perkembangan pribadi anak yang sehat. Gangguan pengamatan dan tanggapan itu, antara lain : halusinasi, ilusi dan gambaran semua.Tanggapan anak tidak merupakan pencerminan realitas lingkungan yang nyata, tetapi berupa pengolahan batin yang keliru, sehingga timbul interpretasi dan pengertian yang salah. Sebabnya ialah semua itu diwarnai harapan yang terlalu muluk, dan kecemasan yang berlebihan. Gangguan berfikir dan intelegensi pada diri remaja, Berfikir mutlak perlu bagi kemampuan orientasi yang sehat dan adaptasi yang wajar terhadap tuntutan lingkungan. Berpikir juga penting bagi upaya pemecahan kesulitan dan permasalahan hidup sehari-hari. Jika anak remaja tidak mampu mengoreksi pekiran-pekirannya yang salah dan tidak sesuai dengan realita yang ada, maka pikirannya terganggu.

Gangguan perasaan pada anak remaja, Perasaan memberikan nilai pada situasi kehidupan dan menentukan sekali besar kecilnya kebahagiaan serta rasa kepuasan. Perasaan   bergandengan dengan pemuasan terhadap harapan, keinginan dan kebutuhan manusia. Jika semua tadi terpuaskan, orang merasa senang dan bahagia.sebagai akibatnya adalah timbulnya gangguan fungsi perasaan seperti   :       Inkontinensi emosional ialah tidak terkendalinya perasaan yang meledak-ledak, tidak bisa dikekang. Labilitas  emosional ialah suasana hati yang terus menerus berganti-ganti dan tidak tetap. Sehingga anak remaja akan cepat marah, gelisah, tidak tenang dan sebagainya. Ketidak  pekaan dan mempunyai perasaan biasa disebabkan oleh sejak kecil anak tidak pernah diperkenalkan dengan kasih sayang, kelembutan, kebaikan dan perhatian. Kecemasan   merupakan bentuk “ketakutan” pada hal-hal yang tidak jelas, tidak riil, dan dirasakan sebagai ancaman yang tidak bisa dihindari.

 Hal lain yang mempengaruhi keribadiaan anak remaja adalah . Faktor Eksternal (Luar) antara lain

a.Keluarga.

Kebanyakan  remaja yang terlibat dalam kenakalan atau melakukan tindak kekerasan biasanya berasal dari keluarga yang berantakan, keluarga yang tidak harmonis di mana pertengkaran ayah dan ibu menjadi santapan sehari-hari remaja. Bapak yang otoriter, pemabuk, suka menyiksa anak, atau ibu yang acuh tak acuh, ibu yang lemah kepribadian dalam atri kata tidak tegas menghadapi remaja, kemiskinan yang membelit keluarga, kurangnya nilai-nilai agama yang diamalkan dll semuanya menjadi faktor yang mendorong remaja melakukan tindak kekerasan dan kenakalan.  Reaksi terhadap kehidupan anak-anaknya tidak adekuat, tidak cocok,  tidak  harmonis. Mereka   tidak  sanggup memenuhi ke­butuhan anak-anaknya, baik yang fisik maupun yang psikis sifatnya  Ayah  hampir selalu absen atau tidak pernah ada di tengah keluarganya, tidak perduli, dan sewenang-wenang ter­hadap anak dan istrinya.  Kegagalan seorang ayah   dalam memberikan supervisi dan tuntunan moral kepada anak laki-lakinya. Umpamanya  mendidik anaknya dengan disiplin yang terlalu ketat dan keras atau dengan disiplin yang tidak teratur, tidak kon­sisten.

Perlindungan-lebih dari orang tua. Bila orang tua terlalu banyak melindungi dan memanjakan anak-anaknya, dan menghin­darkan mereka dari berbagai kesulitan atau ujian hidup yang kecil, anak-anak pasti menjadi rapuh dan tidak akan pernah sanggup belajar mandiri. Mereka akan selalu bergantung pada bantuan – orang tua, merasa cemas dan bimbang ragu selalu; aspirasi dan harga-dirinya tidak bisa tumbuh berkembang. Kepercayaan diri­nya menjadi hilang.   

b. Lingkungan Sekolah yang Tidak Menguntungkan

Sekolah kita sampai waktu sekarang masih banyak berfungsi sebagai “sekolah dengar” daripada memberikan kesempatan luas untuk membangun aktivitas, kreativitas dan inventivitas anak. Dengan demikian sekolah tidak membangun dinamisme anak, dan tidak merangsang kegairahan belajar anak. Selanjutnya, berjam-jam lamanya setiap hari anak-anak harus melakukan kegiatan yang tertekan, duduk, dan pasif mendengarkan, sehingga mereka menjadi jemu, jengkel dan apatis. Di kelas, anak-anak-terutama para remajanya sering mengalami frustasi dan tekanan batin, merasa seperti dihukum atau terbelenggu oleh peraturan yang “tidak adil”. Di satu pihak pada dirinya anak ada dorongan naluriah untuk bergiat, aktif dinamis, banyak bergerak dan berbuat; tetapi di pihak lain anak­ dikekang ketat oleh disiplin mati di sekolah serta sistem regimentasi dan sistem sekolah-dengar.  Ada pula guru yang kurang simpatik, sedikit memiliki de­dikasi pada profesi, dan tidak menguasai didaktik-metodik mengajar. Tidak jarang profesi guru/dosen dikomersialkan, dan pe­ngajar hanya berkepentingan dengan pengoperan materi ajaran belaka. Perkembangan kepribadian anak sama sekali tidak diperhatikan oleh guru, sebab mereka lebih berkepentingan dengan ­masalah mengajar atau mengoperkan informasi belaka.

c.     Media elektronik Tv, video, film dan sebagainya nampaknya ikut berperan merusak mental remaja, padahal mayoritas ibu-ibu yang sibuk menyuruh anaknya menonton tv sebagai upaya menghindari tuntutan anak yang tak ada habisnya.

d. Pengaruh pergaulan

Di usia remaja, anak mulai meluaskan pergaulan sosialnya dengan teman-tema sebayanya. Remaja mulai betah berbicara berjam jam melalui telefon. Topik pembicaraan biasanya seputar pelajaran, film, tv atau membicarakan cowok/ cewek yang ditaksir dan sebagainya

Dalam kaitannya dengan kenakalan remaja serta factor yang menyebabkan terjadinya kenakalan. Bila dihubungkan juga dengan terjadinya pelanggaran disiplin disekolah yang mengharuskan guru dan tenaga kependidikan lainnya dapat secara tepat dalam memberikan hukuman kepada siswa demi tercapainya  tujuan pengajaran,tujuan sekolah ataupun tujuan pendidikan. Hukuman apa sajakah yang dapat serta patut diberikan kepada anak didik, disamping bagaimana  cara memeberikan hukuman itu sehingga dapat efektif dan edukatif. Dalam bahasan ini maka Louis Cohen Lawrence  Manion dan Keith Morison dalam bukunya berjudul  : A Guide to Teaching Practise .mengungkapkan tentang strategi mengatasi hal hal yang tidak diharapkan terjadi dalam kelas ketika proses pembelajaran berlangsung yaitu dengan cara sebagai berikut :Diskusikan masalah dengan siswa di kelas ,apakah yang menjadi penyebab   siswa meninggalkan kelas .temukan  Alasan dengan siswa mengapa mereka berada di luar kelas .untuk memudahkan maka hapus hak istimewa yang dimiliki  oleh siswa jika itu sudah terlanjur diberikan sebelumnya karena pertimbangan tertentu kemudian Carilah keterlibatan orang tua .adakan pertemuan dan perbincangan  dengan siswa dan orang tua siswa .setelah itu aturlah kerja ekstra ,jika terjadi gangguan maka abaikan saja .kalau memang diperlukan boleh diadakan  Penahanan yang bersipat mendidik terhadap siswa yang melakukan tindakan tidak disiplin tersebut,setelah itu coba dipelajari bagaimana sikap siswa terhadap guru lain. Apabila persoalan tersebut tidak dapat  diatasi oleh guru maka laporkan siswa yang bersangkutan dengan kepala sekolah .dan jika perlu dalam artian sekolah atau guru tidak bias mengatasi masalah kenakalan anak yang bersangkutan ,siswa tersebut bias dikeluarkan dari sekolah.

Langkah yang disebutkan oleh Louis Cohen Lawrence  Manion dan Keith Morison  mirip dengan saran yang dikemukakan oleh Elton  untuk siswa sekolah menengah, dengan pengecualian bahwa penahanan dipandang sebagai hal yang  lebih efektif .  Elton memberi komentar  bahwa untuk siswa sekolah dasar dan menengah sebaiknya tidak mengabaikan pelanggaran kecil yang mungkin dengan mudah berkembang menjadi masalah besar .

Menurut Peters  menunjukkan bahwa hukuman adalah gagasan yang jauh lebih spesifik daripada disiplin dan bahwa setidaknya ada tiga kriteria yang harus dipenuhi jika kita ingin menyebut sesuatu kasus hukuman .yaitu  ( 1 ) hukuman yang disengaja menimbulkan rasa sakit atau ketidaknyamanan ( 2 ) oleh seseorang yang berkuasa ( 3 ) pada seseorang sebagai konsekuensi dari pelanggaran aturan yang telah ditentukan  . Meskipun beberapa tindakan dalam situasi sekolah yang longgar disebut sebagai kasus ‘ hukuman ‘ tanpa memenuhi semua kriteria tersebut , misalnya meminta siswa untuk melakukan sebuah kesalahan kembali,  tindakan tersebut  tetap memberikan  kerangka acuan  yang berguna untuk pertimbangan singkat bahwa hal itu termasuk masalah  penting.

Meskipun mungkin tidak menyenangkan , hukuman mungkin sangat baik serta memiliki peranan dalam pengembangan dan pengendalian siswa . Tentu saja, seorang guru yang  menerapkan hukuman saja dan hanya  bergantung pada hukuman tidak bisa berharap untuk berhasil kecuali dalam arti sempit dan sementara. Karena jika itu dilakukan maka akan menimbulkan  reaksi emosional negatif yang tidak semestinya terjadi yang  mengakibatkan  kecemasan dan frustrasi dan merusak hubungan permanen. Namun demikian , guru tidak perlu ragu untuk menggunakan hukuman ketika kesempatan itu menuntut untuk dipergunakan,  bila digunakan dengan benar,  itu adalah cara yang sah dan membantu menangani masalah-masalah disiplin tertentu .

Seorang guru sekarang ini  perlu  mempertimbangkan hukuman yang diberlakukan  kelas  dalam bentuk atau jenis hukuman yang akan diberikan serta kapan  kesempatan  hukuman tersebut harus dijalankan disamping cara bagaimana melaksanakan hukuman yang dimaksud.

Bentuk hukuman

Hukuman dapat digunakan untuk retribusi , pencegahan dan / atau rehabilitasi  Sebelum memutuskan bentuk hukuman yang anda niatkan  untuk menggunakannya  selama anda  mengajar  ,  ada dua hal yang patut diingat. Pertama , Anda tidak mulai dari titik awal: sebagian besar sekolah akan memiliki sistem hukuman yang mapan sebagai bagian dari tradisi mereka dan tidak diragukan lagi bentuk-bentuk yang dibutuhkan akan terkait dengan aturan-aturan yang berlaku dalam sekolah . Dengan demikian, Anda harus mencari tahu apa alternatif yang ada dalam kebiasaan  sehingga anda dapat menggunakannya bila diperlukan . Jangan gunakan hukuman fisik – Anda bisa dituntut karena dianggap sebagai tindakan  penyerangan . Ini adalah ilegal . Kedua , lebih baik bila memungkinkan untuk mengantisipasi dan dengan demikian menghindari insiden cenderung berujung pada kebutuhan untuk melakukan hukuman.

Sebagai mana yang diungkapkan oleh Peters bahwa  ,Dalam kondisi normal antusiasme, dikombinasikan dengan teknik imajinatif  presentasi dan manajemen kelas yang efisien akan mencegah kebutuhan untuk penerapan hukuman . Kebosanan adalah salah satu penyebab paling ampuh terjadinya  gangguan . Menjaga kelas setelah sekolah dapat menjadi pencegah yang efektif dan yang sangat berguna bagi  guru siswa,  tetapi harus ditangani  secara professional .

Sebuah bentuk hukuman yang berguna bagi pelaku secara  individual  adalah  isolasi ( pengasingan ), Hal ini penting bagi guru siswa untuk mengingat bahwa tidak perlu untuk  meminta siswa keluar dari ruangan untuk mengadakan  isolasi   tetapi cukup dengan  membuatnya berbeda dari siswa lain dalam  kelas  dengan cara dia berdiri di sudut  atau lebih baik lagi  dengan cara dia  duduk di meja jauh dari yang lain .  Jenis hukuman psikologis yang  wajar  dapat  dilakukan dalam banyak  bentuk,  tetapi tetap memperhatikan  bentuk-bentuk yang dipergunakan di sekolah sesuai dengan rentang usia siswa  yang bersangkutan .

Ada beberapa praktek hukuman yang  umumnya dilakukan    adalah  sebagai berikut :

ØMeminta siswa untuk tinggal sementara untuk   diskusi beberapa menit setelah seluruh kelas  bubar, tinggal sementara waktu di ruangan kelas. Sehingga ia terakhir dalam antrian untuk pulang, sehingga  hal itu menyebabkan teman-temannya  menunggunya .

ØPenahanan resmi dengan beberapa tugas   untuk  dikerjakan yang  tidak secara langsung berhubungan dengan pelajaran supaya  antipatinya terhadap  pelajaran tersebut tidak meningkat 

ØPenahanan untuk menyelesaikan pekerjaan yang  sengaja tidak selesai dalam waktu jam  pelajaran, dalam persyaratan hukuman   dengan   pemberitahuan penahanan  selama beberapa jam tertentu .

ØPenarikan hak istimewa , seperti penggunaan waktu  saat istirahat , atau akses ke ruang umum atau ruang kelas selain

ØIsolasi atau pengecualian dengan pekerjaan , baik di sudut kelas atau di bagian lain dari sekolah;

Ø jika ada property yang  rusak siswa mungkin diperlukan untuk memperbaikinya , jika tindakan tersebut sesuai , atau untuk melakukan tugas sosial berguna seperti merapikan kelas atau mengambil kertas di taman bermain dan lain sebagainya.

Øsebagai respon terhadap  penggunaan bahasa yang  tidak layak diucapkan  mungkin diperlukan untuk menulis kata-kata yang menyinggung beberapa kali. .

Namun ada suatu hal yang harus diperhatikan, apabila kita mengadakan  Pengesolasian  dapat sangat efektif jika diberikan  tidak berlangsung terlalu lama, Pelanggar yang telah sangat mengganggu dapat diisolasi dengan pekerjaan mereka,  tapi sekali lagi isolasi seharusnya tidak berlangsung terlalu lama . Tidak peduli seberapa nakal anak  yang bersangkutan..

Dalam pemberian hukuman,hukuman dapat mencakup beberapa bentuk diantaranya :

§  Menulis tugas-tugas seperti esai tentang bagaimana dan mengapa  untuk memperbaiki perilaku ( meskipun mungkin membawa resiko yang sangat nyata membuat menulis kegiatan negatif,  penahanan ( sekolah harus memiliki kebijakan ini ), hilangnya hak ( misalnya untuk interaksi social, acara ) pengecualian dari kelas untuk jangka waktu tertentu, yang tunduk pada kebijakan sekolah dan persyaratan pengawasan. Interaksi verbal,  misalnya teguran yang sangat parah dari seorang anggota senior dari sekolah,  menginformasikan orang lain yang  signifikan , misalnya orang tua,  kepala sekolah,  hukuman simbolis,  misalnya sistem tanda yang termasuk dalam laporan sekolah, pengecualian dari sekolah , yang  terkait dengan pelanggaran  peraturan  .

§  Beberapa jenis hukuman yang sebaiknya  dihindari dan dapat diperinci sebagai berikut :Tugas sekolah tidak boleh digunakan sebagai hukuman,  Seorang  anak  dikurung dan diberi  permainan  atau diminta  bermain yang dikaitkan dengan kesenangannya,   hindari hukuman kolektif,   ketika hanya satu atau dua individu yang bersalah . Tindakan tersebut akan memunculkan rasa dendam yang tidak perlu dari para anggota yang tidak bersalah . Bentuk hukuman mental seperti kritik pedas tentang pribadi,  cemoohan , sarkasme dan seterusnya tidak boleh dilakukan dalam .memberikan hukuman yang menyebabkan ketakutan  atau  sanksi koersif , yaitu  melibatkan komponen fisik seperti cambuk dan lainnya,  tidak boleh digunakan , karena itu adalah bentuk-bentuk hukuman  yang  illegal  ( tidak dibenarkan ) mengirim anak ke kepala sekolah hanya dilakukan sebagai upaya terakhir,  atau ketika anda dihadapkan dengan kasus perilaku yang sangat serius. Tindakan seperti itu dapat dilihat sebagai melemahkan otoritas guru (meskipun di beberapa sekolah itu terlihat terjadi. Namun, jangan ragu untuk mencari nasihat pribadi dari anggota lain dari staf ketika  anda membutuhkan bantuan. Hindari mengusir seorang  siswa dari kelas jika mungkin .walaupun  Anda merasa isolasi dibenarkan , cobalah untuk membiarkannya berada dalam kelas. Sekolah memiliki kebijakan dan prosedur untuk menangani perilaku dan sanksi , dan guru siswa akan perlu mencari tahu apa itu.

Kapan dan Bagaimana  hokum itu dilakukan     

Brophy , dalam analisis hukuman,  menunjukkan bahwa hukuman hanya cocok dalam menangani masalah perilaku  yang  berulang ulang, bukan terhadap tindakan yang baru pertama  kali terjadi, hokuman yang bersipat  terisolasi, tidak peduli seberapa serius  masalahnya  . Ini adalah hukuman  yang harus diambil ketika seorang siswa tetap  melakukan kesalahan dalam jenis yang sama  meskipun ekspresi terus menjadi perhatian dan ketidak setujuan dari guru siswa,  karena  hukuman bukanlah langkah yang bisa dianggap enteng karena itu menandakan bahwa baik guru maupun siswa   dapat menangani situasi . pada sisi lain  : hukuman tidak boleh diberikan jika jelas bahwa siswa sedang melakukan kesalahan percobaan. Dia harus diberi manfaat dari keraguan dan , jika mungkin , dihargai untuk upaya perbaikan.

Hukuman harus sistematis dan konsisten dalam penerapannya . Jadi sekali lagi  yang paling baik yaitu  menyepakati aturan dasar kelas, karena dalam menyediakan  kerangka yang berimbang tentang acuan bagi guru siswa dan siswa secara bersama  sama,  juga menjamin bahwa penerima,  dalam mengenali logika dan keadilan hukuman,  akan cenderung untuk merespon secara emosional.

Faktor lain dalam situasi menghukum menyangkut sifat dan tingkat pembicaraan guru terlibat  sebagaimana dijelaskan oleh  Wright   menjelaskan bahwa ini dapat melayani beberapa fungsi, salah satunya membantu siswa untuk menafsirkan tindakannya dengan cara tertentu, untuk struktur kognitif mereka dan menghubungkannya dengan aturan umum. Dalam demikian membenarkan hukuman kepada siswa, jelas bicara guru siswa akan memperjelas sifat pelanggaran ,  akan memberikan alasan untuk menilai bahwa  itu salah, akan menjelaskan dampaknya pada orang lain dan akan menghubungkannya dengan kesempatan masa depan . Sebuah modus operandi yang konsisten alam ini akan memberikan siswa kriteria yang diperlukan untuk membuat keputusan sendiri .sebab bagaimanapun juga hukuman adalah menempatkan batasan antara siswa dan guru, hukuman harus diberikan secara logis sesuai dengan tingkatan kesalahan yang dilakukan

Untuk mempertajam langkah yang harus dilakukan guru dalam penegakan disiplin disekolah. Guru sebagai pendidik harus secara bijaksana  menyampaikan materi pelajaran ataupun pendidikan dengan bijaksana  dan penuh dengan kasih saying. Hindari perbuatan kejam dan tindakan kasar..hal ini sesuai dengan tuntunan yang ada dalam Al-Quran  Surat An-Nahl ayat 125 dan Al-Quran Surat Ali Imran ayat 159.

 Kesimpulan

Kenakalan remaja disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor intern dan ektern, yakni kepribadian siswa itu sendiri dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Untuk  mengatasi  kenakalan siswa atau tidak berjalannya disiplin disekolah bisa digunakan strategi mendiskusi persoalan tersebut  dengan siswa di kelas untuk mengetahui penyebab pelanggaran yang terjadi sehingga menemukan  mengapa siswa melakukan pelanggar serta libatkan orang tua  dalam bentuk pertemuan dan diskusi untuk menemukan solusi.

Hukuman dapat diberikan kepada siswa yang melanggar dengan lebih menekankan pada hukuman yang bersipat mental dan kesadaran pribadi  bukan pada hukuman phisik dengan memperhatikan situasi,lingkungan,tingkat usia  dan perkembangan mental anak didik.

Hukuman seharusnya diberikan dalam bentuk tugas atau kegiatan yang bersipat mendidik.

Seorang pendidik atau guru harus bertindak bijaksana dan menghindari perbuatan kasar dan kejam sesuai dengan  tuntunan  Al-Quran  Surat An-Nahl ayat 125 dan Al-Quran Surat Ali Imran ayat 159.

Daftar Pustakaesalahan

Al-Quran  dan Terjemahan  Kementerian Agama Republik Indonesia.

Classroom,The University of British Columbia.Canada,2007

Kevin Ryan dan James M.Cooper, Those Who Can Teach, Houghton Miffin Company, Boston, 1981, hlm. 199.

Louis Cohen, Lawrence Manion and Keith Morrison ,A Guide to Teaching Practice,Routledge  London and New York, 1977

Stephen Petrina, Advanced Teaching Method  for the Technology

Sofyan S.Willis, Problema Remaja dan Pencegahannya, Angkasa Bandung, 1981, hlm. 199.

Undang –Undang Sisdiknas no 20/2003

www.routledgefalmer.com/companion/ 0415306752, Chapter 10 Learning and teaching, Teacher–student relationships.

 Sofyan S.Willis, Problema Remaja dan Pencegahannya, Angkasa Bandung, 1981hlm. 71.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.