STRATEGI PEMBELAJARAN PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR

0
17

STRATEGI PEMBELAJARAN PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR

 Elsy Zuriyani

Abstrak

Guru sebagai pekerja profesional harus memfasilitasi dirinya dengan seperangkat pengalaman, keterampilan, dan pengetahuan tentang keguruan, selain harus menguasai substansi keilmuan yang ditekuninya. Banyak guru yang dalam mengajar masih terkesan hanya menggugurkan kewajiban. Guru semacam ini relatife tidak memerlukan strategi, kiat dan berbagai metode tertentu dalam mengajar. Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang demikian pesatnya peran guru dalam mengajar mengalami perkembangan, dari hanya sekedar menyampaikan pelajaran menjadi peran yang lebih kompleks dalam menciptakan suasana pembelajaran yang penuh inovatif dan kretif, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai

Kata Kunci :Guru, Berpikir kritis

PENDAHULUAN

Pada era sertifikasi guru sekarang ini, muara yang ingin dituju sebenarnya adalah guru profesional. “Banyak orang meragukan apakah jabatan guru bisa disebut professional. Bahkan banyak dari kalangan guru sendiri meragukan hal tersebut. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah semua orang dapat menjadi guru?. Bila seseorang memahami materi dengan baik kemudian dapat menyampaikannya tentunya ia bisa disebut guru yang professional? Jawabannya benar jika mengajar hanya dianggap sebagai proses penyampaian materi pelajaran. Konsep mengajar yang demikian tentulah sangat sederhana. Mengajar bukanlah hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran, akan tetapi merupakan suatu proses pengubahan tingkah laku peserta didik sesuai tujuan yang diinginkan. Oleh karena itu di dalam mengajar ada kegiatan membimbing siswa agar dapat berkembang sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya. Disamping itu juga melatih keterampilan baik keterampilan intelektual maupun keterampilan motorik sehingga siswa dapat dan berani hidup di masyarakat yang cepat berubah dan penuh persaingan, memotivasi peserta didik agar dapat memecahkan persoalan hidup dalam masyarakat yang penuh kreatif dan inovatif dan lain sebagainya. Oleh sebab itu guru perlu memiliki kemampuan merancang dan mengimplementasikan berbagai strategi pembelajaran yang dianggap cocok dengan minat dan bakat serta sesuai dengan taraf perkembangan peserta didik termasuk didalamnya memanfaatkan berbagai sumber pembelajaran dan media pembelajaran untuk menjamin efektifitas pembelajaran. Dengan demikian seorang guru perlu memiliki kemampuan khusus, kemampuan yang tidak mungkin dimiliki oleh orang yang bukan guru. Karena itu juga sababnya guru merupakan pekerjaan professional yang membutuhkan kemampuan khusus hasil proses pendidikan yang dilaksankan oleh lembaga pendidikan keguruan.

Guru sebagai pekerja profesional harus memfasilitasi dirinya dengan seperangkat pengalaman, keterampilan, dan pengetahuan tentang keguruan, selain harus menguasai substansi keilmuan yang ditekuninya. Banyak guru yang dalam mengajar masih terkesan hanya menggugurkan kewajiban. Guru semacam ini relatife tidak memerlukan strategi, kiat dan berbagai metode tertentu dalam mengajar.

Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang demikian pesatnya peran guru dalam mengajar mengalami perkembangan, dari hanya sekedar menyampaikan pelajaran menjadi peran yang lebih kompleks dalam menciptakan suasana pembelajaran yang penuh inovatif dan kretif, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Dengan, demikian seorang guru dalam mengajar harus bisa mengatur strategi pembelajaran yang tepat agar semua tujuan pembelajaran tersebut dapat tercapai. Strategi pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKB) sebagai salah satu strategi pembelajaran diharapkan mampu mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan tersebut. Dalam SPPKB materi pelajaran tidak disajikan begitu saja kepada peserta didik. Akan tetapi peserta didik dibimbing untuk menemukan sendiri konsep yang harus dikuasai melalui dialog dan tanya jawab yang terus menerus dengan memanfaatkan pengalaman siswa. Strategi pembelajaran berpikir kritis seperti yang banyak diungkapkan para ahli pendidikan.

Proses pembelajaran berpikir kritis dimulai dengan suatu pernyataan apa yang dipelajari, menampilkan temuan tidak terbatas dan pertimbangan kemungkinan-kemungkinan, dan kesimpulan pola-pola pengertian yang didasrkan pada kejadian. Alasan-alasan penyimpangan, dan prasangka baik para pengajar maupun para ahli membandingkan dan membentuk lembaga penilaian .

Apakah Berpikir kritis itu? Banyak definisi yang ditawarkan mengenai berpikir kritis, salah satunya yang dikemukakan oleh Semebl (2003) adalah sebagai berikut. Berpikir kritis merupakan sebuah proses. Proses berpikir ini bermuara pada tujuan akhir yang membuat Kesimpulan ataupun keputusan yang masuk akal tentang apa yang harus kita percayai dan tindakan apa yang akan kita lakukan. Berpikir kritis bukanlah dilakukan untuk mencari jawaban semata, tetapi yang terlebih utama adalah mempertanyakan jawaban, fakta, atau informasi yang ada. Dengan demikian bisa ditemukan alternative atau solusi terbaiknya.

Untuk selanjutnya strategi pembelajaran berpikir kritis tersebut disamakan pembahasannya dengan strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir (SPPKB).

PEMBAHASAN

A. Pengertian Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKBK)

Menurut Sanjaya (2006) SPPKBK nerupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada kemampuan berpikir peserta didik. Dalam SPPKB materi pelajaran tidak disajikan begitu saja kepada peserta didik melainkan berupa proses dialog yang berkesinambungan berbekal pengalaman peserta didik untuk memecahkan masalah yang diajukan.

Ada tiga hakikat dasar yang terkandung dalam pengertian SPPKB yaitu:

1. Karena SPPKB merupakan model pembelajaran yang bertumpu pada pengembangan berpikir, maka tujuan yang dicapai bukan hanya peserta didik menguasai sejumlah materi pelajaran, tetapi peserta didik harus bisa memberikan gagasan-gagasan atau ide-ide melalui kemampuan berbahasa secara verbal, sebab kemampuan berbicara juga merupakan salah satu kemampuan berpikir.

2. Fakta-fakta yang ditelaah merupakan dasar pengembangan kemampuan berpikir, dengan kata lain pengembangan gagasan dan ide-ide didasarkan pada kemampuan anak mendiskripsikan hasil pengamatan mereka peroleh dalam sehari-hari.

3. Sasaran akhir SPPKB adalah kemampuan anak untuk memecahkan masalah-masalah dengan taraf perkembangan anak.

B.  Karakteristik SPPKB

Karakteristik SPPKB dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Pada proses pembelajaran SPPKB tidak hanya menuntut peserta didik untuk mendengar dan mencatat, tetapi menghendaki aktivitas peserta didik dalam proses berpikir.

2. SPPKB dibangun dalam nuansa dialogis dan proses tanya jawab secara terus menerus. Proses tanya jawab dan dialog itu diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik, yang pada gilirannya kemampuan berpikir tersebut dapat membantu peserta didik memperoleh pengetahuan yang mereka kontribusi sendiri.

3. SPPKB adalah model pembelajaran yang menyadarkan pada dua sisi yang sama pentingnya, yaitu dua sisi proses dan hasil belajar. Proses belajar diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir, sedangkan hasil belajar diarahkan untuk mengonstruksi pengetahuan atau penguasaan materi pembelajaran.

C. Perbedaan SPPKB dengan Pembelajaran Konvensional

Adapun perbedaan yang mendasar antara SPPKB dengan strategi pembelajaran konvensional

1. Dari segi peserta didik pada SPPKB sebagai subjek belajar sedangkan pada pembelajaran konvensional sebagai objek belajar

2. Dari segi pembelajaran pada SPPKB dikaitkan dengan kehidupan nyata melalui penggalian pengalaman siswa sedangkan pada pembelajaran konvensional bersifat teoritis

3. Dari segi perilaku pada SPPKB dibangun atas kesadaran sendiri sedangkan pembelajaran konvensional atas proses kebiasaan

4. Dari segi kemampuan pada SPPKB didasarkan atas penggalian pengalaman sedangkan pada pembelajaran konvensional diperoleh melalui latihan-latihan

5. Dari segi tujuan akhir SPPKB berasal dari kemampuan berpikir melalui proses menghubungkan antara pengalaman dengan kenyataan sedangkan pada pembelajaran konvensional berasal dari penguasaan materi pembelajaran

6. Dari segi tindakan perilaku siswa dalam pembelajaran pada SPPKB merupakan kesadaran yang didorong dari dalam diri siswa sedangkan pada pembelajaran konvensional didorong dari faktor luar dirinya seperti rasa takut hukuman

7. Dari segi pengetahuan yang dimiliki setiap siswa pada SPPKB selalu berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya sedangkan pada pembelajaran konvensional pengetahuan yang dimiliki bersifat absolute karena pengetahuan tersebut dikonstruksi oleh orang lain.

8. Dari segi tujuan yang dicapai pada SPPKB maka tujuan yang ingin dicapai kemampuan siswa dalam proses berpikir untuk memperoleh pengetahuan dan ditentukan oleh proses dan hasil belajar sedangkan pada pembelajaran konvensional keberhasilan belajar biasanya diukur oleh tes.

D. Tahapan Pembelajaran SPPKB

Menurut George W. Maxim, dalam Sanjaya (2006) ada 6 tahapan dalam  SPPKB. Setiap tahapan dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Tahapan Orientasi

Pada tahapan ini guru dapat mengondisikan peserta didik pada posisi siap melakukan pembelajaran. Tahapan orientasi dilakukan dengan, pertama, penjelasan tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Ke dua, penjelasan proses pembelajaran yang harus dilakukan peserta didik dalam setiap tahapan proses pembelajaran.

Tahapan ini merupakan tahapan yang penting dalam implementasi proses pembelajaran. Untuk itu dialog yang dikembangkan guru pada tahapan ini harus mampu menggugah dan menumbuhkan minat belajar peserta didik.

2. Tahapan Pelacakan

Pada tahapan ini yang disebut juga tahapan penjajakan adalah untuk memahami pengalaman dan kemampuan dasar peserta didik sesuai dengan tema atau pokok persoalan yang akan dibicarakan. Melalui tahapan ini guru mengembangkan dialog dan tanya jawab untuk mengungkapkan pengalaman apa saja yang telah dimiliki peserta didik yang dianggap relevan dengan tema yang akan dikaji. Dengan berbekal pemahaman itulah selanjutnya guru menentukan bagaimana ia harus mengembangkan dialog dan tanya jawab pada tahapan-tahapan selanjutnya.

3. Tahapan Konfrontasi

Tahapan konfrontasi adalah tahapan penyajian persoalan yang harus dipecahkan sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik pada tahapan ini guru dapat memberikan persoalan-persoalan dilematis yang memerlukan jawaban atau jalan keluar. Persoalan yang diberikan sesuai dengan tema atau topik dan juga sesuai dengan kemampuan dasar atau pengalaman peserta didik benar-benar memahami persoalan yang harus dipecahkan, karena pemahaman terhadap masalah akan mendorng peserta didik untuk berpikir. Jadi keberhasilan tahap ini menjadi penentu untuk tahapan selanjutnya.

4. Tahapan Inkuiri

Merupakan tahapan penting dalam SPPKB, karena pada tahapan ini peserta didik belajar berpikir yang sesungguhnya. Melalui tahapan ini peserta didik belajar berpikir yang sesungguhnya. Melalui tahapan inkuiri, peserta didik diajak untuk memecahkan persoalan yang dihadapi. Pada tahapan ini guru harus memberikan ruang dan kesempatan pada peserta didik untuk mengembangkan gagasan dalam upaya pemecahan persoalan. Melalui berbagai teknik pertanyaan guru harus dapat menumbuhkan keberanian peserta didik agar mereka dapat menjelaskan, mengungkapkan fakta sesuai dengan pengalamannya, memberikan argumentasi yang meyakinkan, mengembangkan gagasan dan lain sebagainya.

5. Tahapan Akomodasi

Adalah tahapan pembentukan pengetahuan baru melalui proses penyimpulan. Pada tahapan ini peserta didik dituntut untuk dapat menemukan kata-kata kunci sesuai dengan topik atau tema pembelajaran. Guru membimbing peserta didik agar dapat menyimpulkan apa yang mereka temukan dan mereka pahami sekitar topik yang dipermasalah. Tahapan ini disebut juga sebagai tahapan pemantapan hasil belajar, karena pada tahapan ini peserta didik diarahkan untuk mengungkapkan kembali pembahasan yang dianggap penting dalam proses pembelajaran.

6. Tahapan Transfer

Pada tahapan ini disajikan suatu masalah baru yang sepadan dengan masalah semula. Tahapan transfer ini dimaksudkan sebagai tahapan agar peserta didik mampu mentransfer kemampuan berpikir setiap peserta didik untuk memecahkan masalah-masalah baru. Pada tahapan ini guru memberikan tugas-tugas yang sesuai dengan topik pembahasan.

Beberapa yang harus diperhatikan agar SPPKB dapat berhasil dengan sempurna khususnya bagi guru sebagai pengelola pembelajaran

  1. SPPKB adalah model pembelajaran yang bersifat demokratis, oleh sebab itu guru harus mampu menciptakan suasana yang terbuka dan sating menghargai, sehingga setiap siswa dapat mengembangkan kemampuannya dalam menyampaikan pengalaman dan gagasan. Dalam SPPKB guru harus menempatkan siswa sebagai subjek belajar bukan sebagai objek. Oleh sebab itu, inisiatif pembelajaran harus muncul dari siswa sebagai subjek.
  2. SPPKB dibangun dalam suasana tanya jawab, oleh sebab itu guru dtuntut untuk dapat mengembangkan kemampuan bertanya, misalnya kemampuan bertanya untuk melacak, kemampuan bertanya untuk memamncing, bertanya induktif-deduktif, dan mengembangkan pertanyaan terbuka dan tertutup. Hindari peran guru sebagai sumber belajar yang memberikan informasi tentang materi pelajaran.
  3. SPPKB juga merupakan model pembelajaran yang dikembangkan dalam suasana dialogis, karena itu guru harus mampu merangsang dan membangkitkan keberanian siswa untuk menjawab pertanyaan, menjelaskan, membuktikan dengan memberikan data dan fakta social serta keberanian untuk mengeluarkan ide dan gagasan serta menyusun kesimpulan dan mencari hubungan antar aspek yang dipermasalahan.

Kesimpulan

Dari penjelasan mengenai SPPKB di atas dapat disimpulkan bahwa:

  1. Strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir (SPPKB) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan pada suatu proses dialogis dan tanya jawab yang dirancang guru sedemikian rupa dengan mengaitkan tema yang dipelajari dengan pengalaman peserta didik.
  2. Melalui proses dialogis dan tanya jawab yang dikaitkan dengan pengalaman peserta didik tersebut peserta didik diharapkan mampu memecahkan permasalahan sesuai tema pembelajaran dengan meningkatkannya kemampuan berpikir.
  3. SPPKB jika dikembangkan dalam suasana demokrasi, terbuka dan saling menghargai, maka diyakini dapat merangsang dan membangkitkan keberanian peserta didik untuk menjawab pertanyaan, menjelaskan, membuktikan dengan data dan fakta serta keberanian untuk mengeluarkan ide dan gagasan serta menyusun kesimpulan dan mencari hubungan antara aspek-aspek yang dipermasalahankan.

 

Saran

Sebaiknya pembelajaran SPPKB harus diterapkan di berbagai sekolah agar dapat menumbuhkan rasa ingin tahu siswa. Selain itu dengan pembelajaran ini seorang guru bisa mengetahui seberapakah pengetahuan yang dimiliki oleh murid dan bagi murid sendiri akan lebih aktif serta menambah keberanian diri untuk mengungkapkan apa yang ingin diungkapkannya.

DAFTAR PUSTAKA

Ausubel,D.P.(1980). Education for rational thinking: a critique, 1980 AETS yearbook, The Psychology for Teaching For Thinking andCreativity, Ohio: The Ohio State University. Bandung.

Nasution, S. (1989). Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Sanjaya, W. (2009). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana

Sapriya. (2008). Pendidikan IPS . Bandung: Laboratorium PKn UPI Press.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.