STRATEGI PEMBELAJARAN ALA RASULULLAH SAW

0
181

STRATEGI PEMBELAJARAN ALA RASULULLAH SAW

Oleh : Muhammad Abduh

 

Abstrak

Strategi bukan hanya dikenal dan digunakan dalam dunia militer tetapi juga dalam dunia pendidikan. Keberadaan strategi dalam proses pembelajaran sangatlah penting karena memiliki keterkaitan erat dengan keberhasilan pencapaian tujuan. Artikel ini memfokuskan pada pembahasan tentang strategi pembelajaran yang dilakukan oleh Rasulullah saw. yang telah sukses melahirkan generasi terbaik. Strategi tersebut meliputi menciptakan suasana yang menyenangkan, mengkondisikan secara fisik dan psikis siswa, tahapan materi dalam mengajar, situasi dan kondisi peserta didik, dan metode pembelajaran.

 

Kata kunci : strategi, pembelajaran

I. PENDAHULUAN

Sebagai seorang pendidik, guru senantiasa dituntut untuk mampu menciptakan iklim belajar mengajar yang kondusif serta dapat memotivasi siswa dalam belajar sehingga berdampak positif dalam pencapaian prestasi hasil belajar secara optimal. Dengan kata lain guru harus dapat menggunakan strategi tertentu dalam pembelajaran sehingga ia dapat mengajar dengan tepat, efektif dan efisien.

Meskipun teori tentang strategi pembelajaran modern sudah banyak diterapkan dalam dunia pendidikan, namun penting juga bagi guru melihat kembali hadis-hadis tentang strategi pembelajaran yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. Hadis nabi yang jumlahnya ribuan, bahkan ratusan ribu mengandung aneka nilai yang sangat kaya. Itu semua merupakan sumber inspirasi yang tidak akan pernah habis untuk digali guna mengembangkan ilmu pengetahuan, termasuk di dalamnya starategi dalam pembelajaran.

Rasulullah saw bukan hanya dikenal sebagai Nabi dan Rasul, juga bukan hanya dikenal sebagai panglima perang, pemimpin negara, tapi juga dikenal sebagai pendidik yang hebat. Dimana secara faktual Rasulullah saw telah berhasil melahirkan generasi yang berperadaban tinggi.

Kesuksesan Rasulullah saw tersebut menarik perhatian penulis untuk menyajikan dalam artikel ini tentang bagaimana bentuk strategi pembelajaran yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dengan harapan dapat menjadi masukan bagi para guru dalam memperbaiki proses pembelajaran di sekolah.

II. PEMBAHASAN

Strategi pembelajaran

Strategi pembelajaran menurut Kemp (1995) dalam Rusman, adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien (Rusman, 2011 : 132). Sementara J.R. David (1976) dalam Wina Sanjaya menjelaskan lebih rinci bahwa strategi dalam dunia pendidikan diartikan sebagai a plane, method, or series of activities to achieves a particular education goal. Yaitu sebuah perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Wina Sanjaya, 2007 : 98).

Untuk lebih mendapat gambaran tentang arti strategi, Ismail SM mengilustrasikan strategi dalam sebuah peperangan. Dimana dalam peperangan, sang panglima perang harus sudah mempunyai gambaran terlebih dahulu tentang langkah-langkah yang akan ditempuh dan dijalankan oleh pasukannya agar kemenangan bisa didapat (Ismail, 2008 : 24). Dengan demikian strategi pembelajaran dapat dipahami sebagai rencana yang berisi langkah-langkah yang akan dilakukan untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran.

Perlu ditegaskan bahwa strategi memiliki cakupan yang luas meliputi semua aktifitas dalam proses pembelajaran termasuk didalamnya metode. Strategi harus dirumuskan sebelum pelaksanaan proses pembelajaran untuk menjadi pedoman guna memperoleh hasil yang maksimal.

Bentuk-bentuk strategi pembelajaran Rasulullah

Formula baku yang sistematis tentang strategi pembelajaran yang dilakukan oleh Rasulullah saw memang tidak akan diketemukan. Tetapi dari hadis-hadis yang ada kita dapat melihat bagaimana strategi itu dilakukan oleh Rasulullah saw. Antara lain :

a. Menciptakan suasana yang nyaman

Imam Bukhori dalam bab al-Ilmu mencantumkan salah satu hadis tentang pentingnya suasana yang nyaman dan menyenangkan. Rasulullah saw bersabda : “Mudahkanlah dan janganlah kamu mempersulit. gembirakanlah dan janganlah kamu membuat mereka lari” (H.R. Bukhari).

Dalam hadis di atas, secara jelas Rasulullah saw. memerintahkan kepada kita khususnya para pendidik untuk menyelenggarakan suatu kegiatan pembelajaran yang memudahkan, menyenangkan dan tidak menyulitkan. Suasana pembelajaran yang menyenangkan kini menjadi penting karena sangat mempengaruhi tingkat konsentrasi siswa.

Menurut hasil penelitian, konsentrasi yang tinggi meningkatkan hasil belajar. Dalam penelitian mengenai otak dan pembelajaran mengungkapkan fakta yang mengejutkan, yaitu apabila sesuatu dipelajari sungguh-sungguh (dimana perhatian yang tinggi dari seorang tercurah) maka struktur system syaraf kimiawi seseorang berubah. Di dalam diri seseorang tercipta hal-hal baru seperti jaringan syaraf baru, jalur elektris baru, asosiasi baru, dan koneksi baru.( Indrawati dan Wawan Setiawan, 2009 : 22)

Tentu saja konsentrasi yang tinggi tidak akan terwujud jika kondisi kelas tidak nyaman. Oleh karena itu pengaturan lingkungan belajar sangat diperlukan agar anak mampu melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosionalnya. Lingkungan belajar yang demokratis memberi kebebasan kepada anak untuk melakukan pilihan-pilihan tindakan belajar dan akan mendorong anak untuk terlibat secara fisik, emosional dan mental dalam proses belajar, sehingga akan dapat memunculkan kegiatan-kegiatan yang kreatif-produktif. (C. Asri Budiningsih, 2005 : 7)

b. Mengkondisikan secara fisik dan psikis siswa

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Khabbab, ia berkata, “kami duduk di pintu Rasulullah saw. Beliau keluar menemui kami dan bersabda, “dengarkanlah

Kami menjawab, “kami sudah siap mendengar

Beliau bersabda, “dengarkanlah

Kami menjawab, “kami sudah siap mendengar

Beliau bersabda, “dengarkanlah

Kami menjawab, ‘kami sudah siap mendengar

Beliau bersabda :

sesungguhnya akan datang setelahku para pemimpin, jangan kalian benarkan kebohongan mereka, jangan kalian tolong kezhaliman mereka. Barang siapa membenarkan kebohongan mereka dan menolong kezhaliman mereka, maka ia tidak akan mendatangi telagaku, al-Kautsar (Fadhl Ilahi,2006: 81).

Sebelum menyampaikan nasehat, Rasulullah saw memastikan bahwa para sahabat memperhatikan secara seksama pesan yang akan disampaikan. Beliau mengulangi kalimat “dengarkanlah” sebanyak tiga kali kepada para sahabat agar mereka mendengarkan apa yang akan disampaikan beliau. Selain itu, pengulangan tersebut tentu dapat menarik perhatian yang tinggi dari sahabat karena terkesan bahwa pesan yang akan disampaikan tersebut sesuatu yang sangat penting.

Karena itu penting bagi seorang guru atau pendidik sebelum menyampaikan pelajaran untuk memastikan semua siswa siap secara fisik dan psikis untuk menerima pelajaran. Kesalahan yang banyak terjadi dimana seorang guru langsung memberikan pelajaran sementara siswa belum siap menerima. Sehingga hasil proses pembelajaran tidak maksimal dikarenakan perhatian para siswa masih terpecah. Banyak cara yang bisa digunakan guru untuk menarik perhatian siswa disaat memulai proses pembelajaran. Misalnya dengan cerita yang menarik, quis, permainan, atau bahkan sulap.

c. Tahapan materi dalam mengajar

Di antara strategi mengajar yang diterapkan Rasulullah saw. adalah beliau sangat memperhatikan skala prioritas, dan mengajarkannya tidak langsung sekaligus, melainkan berangsur-angsur, sedikit demi sedikit dan pelan-pelan. Hal ini bertujuan agar lebih mudah dipahami dan menancap lebih kuat dalam ingatan. Salah satu Sahabat Rasulullah saw. Jundub bin Abdillah ra bercerita: “ketika kita masih dalam masa-masa pubertas, kita belajar pada Nabi, dan beliau mengajari kita tentang keimanan, sebelum kita belajar al-Quran. Setelah itu, baru kita diajari (isi kandungan dan tata cara membaca) al-Quran sehingga iman kita makin bertambah dan menguat (H.R. Ibnu Majah).

Sebagian sahabat juga bertutur, Rasulullah saw. mengajarkan mereka setiap hari 10 ayat, dan beliau tidak akan menambah pelajaran lagi sebelum mereka paham betul dan menguasai serta mengamalkan apa yang di dalam 10 ayat tadi. Baru setelah itu beliau menambah pelajaran lagi (H.R.Ahmad).

Begitu pula pengajaran larangan meminum minuman keras, tidak serta merta langsung melarang meminum minuman keras. Wahyu yang berbicara tentang itu, turun berangsur sampai 4 kali. Hal itu tentu saja akan berbeda jika seorang pengajar memberikan ilmu pada muridnya sekaligus, maka justru akan lebih cepat hilang, dan peserta didik akan menjadi bingung dan frustasi serta pesimis. Sebaliknya dengan pembelajaran gradual, ilmu yang diperoleh mudah melekat, dan peserta didik tidak bingung dan frustasi, melainkan mempunyai motivasi tinggi untuk maju.

d. Situasi dan kondisi peserta didik

Adalah suatu kenyataan bahwa, tidak semua murid memiliki kemampuan dan tingkat kecerdasan yang sama. Rasulullah saw menyadari betul hal ini. Beliau sangat memperhatikan perbedaan individu (individual difference). Beliau mengajar tiap individu sesuai kadar kecerdasannya. Apa yang beliau ajarkan pada sahabat junior, tidak sama dengan yang beliau ajarkan pada sahabat senior. Dalam menjawab pertanyaan pun beliau tidak asal jawab, tetapi melihat bagaimana kemampuan pemahaman dan tingkat kecerdasan yang bertanya.

Sebuah kaidah dasar telah beliau berikan pada kita: “Anzilin Naasa ala qadri uqulihim” (Bicaralah pada orang lain sesuai dengan kadar kemampuan berpikirnya). Dalam karya monumentalnya, “ihya’ ulumiddin”, Imam Ghozali berkomentar: “Seseorang yang kita beri pelajaran, tetapi dia tidak bisa memahami dengan baik apa yang kita ajarkan karena tidak mampu dijangkau oleh akalnya, itu terkadang bisa menimbulkan salah paham. Lebih parah dari itu, kadang kala kesalahpahamannya itu malah menimbulkan fitnah.” Maka, penyampaian sebuah materi pelajaran, harus sesuai dengan tingkat usia dan tingkat kecerdasan murid. Sebisa mungkin dituntut dari kita, keterangan yang kita sampaikan, bisa dipahami dengan baik oleh semua murid yang kita ajar, baik yang bodoh ataupun yang cerclas.

Contoh yang Rasulullah saw. lakukan dalam masalah ini, adalah kisah Mu’adz bin Jabal r. a. Rasulullah Saw bersabda pada Mu’adz :”Siapapun, yang bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dengan sepenuh hati (cukup itu saja), maka dia tidak akan masuk neraka.” Mu’adz pun menjawab: “jika memang begitu, akan saya sebarkan hal ini pada semua orang, biar mereka bergembira. Segera Rasulullah menjawab: “Oh, jangan, nanti malah mereka enak-enakan, tidak mau beribadah”. Rasulullah memberikan isyarat pada Mu’adz agar jangan setiap orang diberitahu, kecuali mereka yang benar-benar telah mantap amal ibadahnya.

Ada juga sebuah kisah, seorang pemuda datang pada Beliau dan bertanya: “Wahai Rasulullah, jika puasa, boleh apa tidak saya mencium istri saya?” “Tidak boleh”, jawab beliau. Sejenak kemudian datang orang tua dan bertanya hal yang sama pada beliau, dan beliau jawab: “Ya, tidak apa-apa kamu menciumnya”. Tentu saja para sahabat terheran-heran dan saling pandang di antara mereka, mengapa jawaban tidak sama, sementara pertanyaan sama. Mengetahui hal itu, dengan bijak beliau menjawab :”Kalau yang tua tadi, pasti bisa menguasai diri dan nafsunya, jadi tidak akan kebablasan (melakukan senggama)” (H.R.Ahmad).

Dalam prakteknya, pendidikan nasional kita sudah melaksanakan proses pembelajaran sistem kelas dengan kriteria-kriteria tertentu. Misalnya pengelompokan siswa berdasarkan tingkat kecerdasan. Siswa yang pintar digabung dengan sesama siswa yang pintar demikian pula sebaliknya. Cuma dalam prakteknya banyak terjadi kesalahan orientasi yang semestinya untuk membedakan cara melakukan pendekatan dalam pembelajaran justru meperlakukan siswa secara diskriminatif.

E. Metode pembelajaran

1. Dialog dan tanya jawab

Salah satu yang menonjol dari metode Rasulullah saw. dalam mengajar adalah kerap kali beliau mengajar dengan cara berdialog dan tanya jawab. Dialog sangat membantu sekali dalam membuka kebuntuan otak dan kebekuan berpikir. Contoh dari dialog dan tanya jawab yang Rasulullah saw. lakukan adalah suatu hari beliau bertanya pada sahabat-sahabatnya: “Andai di depan rumah kalian ada sungai, lalu kalian mandi 5 kali sehari, apakah akan ada kotoran yang tertinggal di tubuh (kalian)?” “Tentu tidak wahai Rasulullah”, jawab mereka. “Begitu juga salat 5 waktu, yang dengannya dosa-dosa dan segala kesalahan dihapus oleh Allah Ta’ala” (HR.Bukhori dan Muslim).

Contoh lain adalah, beliau pernah bertanya : “Kalian tahu tidak, siapakah Muslim itu?”. “Allah dan Rasulullah yang lebih tahu”, jawab para sahabat. “Orang muslim adalah, orang yang teman-teman dia selamat dari gangguan lidah dan tangannya; kalau orang Mu’min ?”. “Allah dan Rasulullah yang lebih tahu”, jawab para sahabat. “Adalah orang yang teman-temannya merasa aman atas din dan harta mereka dan gangguannya. Sedangkan Muhajir, adalah orang yang meninggalkan kejelekan-kejelekan dan menghindarinya” (H.R. Ahmad).

Beliau pada kesempatan lain bertanya lagi pada para sahabat, “Kalau orang yang bangkrut itu bagaimana?”. “Tentu saja orang yang tidak punya uang dan harta”, tukas para sahabat beliau. Dengan bijak beliau menjawab, “Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku, adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan amal ibadah lengkap. Hanya sayangnya dia suka mencaci maki, menggunjing, korupsi, mengganggu; sehingga semua pahala amal baiknya digunakan untuk menebus keburukan-keburukan itu sampai habis. Jika keburukannya itu belum tertebus semua, maka kesalahan­-kesalahan orang lain yang disakitinya, ditimpakan kepadanya. Pada akhirnya dia diceburkan ke neraka” (H.R.Muslim).

Adapun contoh metode dialog yang sangat terkenal adalah Hadis Jibril , dalam pelajaran penting tentang dasar-dasar teologi, yang disampaikan di hadapan para sahabatnya dalam bentuk dialog antara Beliau Saw., dengan malaikat Jibril (yang datang menyamar dalam bentuk manusia). Hadis tersebut adalah sebagai berikut :

“Ketika kita sedang duduk-duduk dengan Rasulullah Saw., tiba-tiba datang seseorang dengan pakaian putih bersih, penampilannya sangat rapi, tak satu pun dan kami yang mengenalnya. Dia segera mengambil posisi dengan duduk sopan berhadapan langsung dengan Rasulullah Saw. Lalu dia membuka percakapan.”Muhammad, ben tahu aku tentang Islam.” “Islam itu; kamu bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya, lalu kamu mendirikan Salat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadan, dan haji, jika kamu mampu”. Jawab Rasulullah Saw. “Ya, jawabanmu benar”, kata or­ang tadi.

Tentu saja kami heran, orang ini datang bertanya, dijawab, tetapi juga membenarkan jawaban itu. “Sekarang beri tahu aku tentang iman”, tanya orang itu lagi. “Iman adalah kamu percaya pada Allah, malaikat­malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, para rasul utusan-Nya, hari akhir (kiamat), dan kamu percaya akan takdir, baik dan buruknya”, jawab Rasulullah Saw. “Benar apa yang kamu katakan itu”, komentar or­ang itu lagi. “Beri tahu aku juga tentang Ihsan”, tanya orang itu lagi. “Ihsan adalah kamu menyembah Allah, seolah-olah kamu melihat-­Nya, meskipun kamu tidak melihat-Nya, tapi Dia melihatmu” “Kalau hari kiamat?”. “Kalau ini, kita sama-sama tidak tahu”, jawab Rasulullah saw diplomatis. “Jika begitu, beri tahu aku tanda­tandanya”. Di antara tandanya, jika seorang budak melahirkan tuannya, dan jika kamu melihat orang-orang pedesaan (yang rata-rata miskin itu) saling berlomba membangun bangunan yang tinggi”.

Setelah itu orang tadi pun pergi, beberapa hari kemudian Rasulullah Saw bertanya kepadaku: “Umar, kamu tahu tidak, siapa orang yang (kemarin) bertanya padaku itu?”. “Allah dan Rasul lebih tahu”, jawabku. “Dia adalah Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajarkan pada kalian tentang (inti) agama yang kalian peluk” (H.R. Muslim).

Dari hadis yang merupakan hadis kedua Hadis Arbain An Nawawi tersebut terdapat beberapa pelajaran penting yang dapat diambil:

a. Jibril menggunakan metode pembelajaran dialog dan tanya jawab yang mendorong audiens berpikir. Cara demikian menyebabkan otak lebih mudah menyimpanmemori.

b. Penampilan Jibril sangat menarik dan berwibawa. Beliau digambarkan sebagai laki-laki yang menggunakan pakaian serba putih, rambutnya hitam dan tidak ada tanda-tanda kelelahan. Hal ini mengisyaratkanbahwa seorang pendidik, seyogyanya tampil prima dihadapan muridnya. Pendidik harus terlihat menarik, tidak lusuh atau menampakkan kelelahannya, agar anak didik menjadi antusias belajar

c. Sahabat Umar ketika ditanya Rasul tentang siapa orang yang bertanya tadi, beliau memberi jawaban yang menunjukkan ketawaduan seorang murid di hadapan gurunya : “Allah dan Rasul lebih tahu”. Seorang murid mestinya demikian.

d. Suasana dialogis dalam proses pembelajaran ditunjukkan dalam proses tersebut. Hal ini merupakan suatu keniscayaan yang hares diwujudkan dalam proses pembelajaran.

2. Diskusi dan dialektika

Metode pembelajaran Rasulullah saw. lainnya adalah diskusi dan dialektika, melakukan perbandingan secara logika, dan pendekatan psikologi. Hal itu digunakan untuk mencerabut keraguan dan kebatilan dari hati seseorang yang beranggapan bahwa hal yang batil itu bagus. Atau untuk menancapkan sugesti tentang kebenaran di hati seseorang yang sebelumnya enggan dan cenderung menjauhi kebenaran itu. Metode yang beliau tempuh ini adalah petunjuk bagi para pengajar dan pendidik untuk menggunakan perbandingan secara logika rasional jika keadaan menuntut untuk itu.

Contoh hal itu adalah pada hadis yang diriwayatkan Ahmad bin Hambal dan Thabarani, sebagai berikut: “Pada suatu hari datang pada beliau seorang pemuda yang minta legalisasi baginya untuk berzina. Beliau saw. tidak lantas memarahinya (padahal sahabat di sekitar beliau sudah hampir meluapkan kemarahan melihat kelancangan pemuda itu). Beliaupun juga tidak meng­gunakan dalil al-Qur’an yang menegaskan haramnya zina. Tetapi beliau menyuruh pemuda itu untuk mendekat kepadanya, dan dengan bijak diajakmya pemuda itu berdiskusi. “Kamu suka tidak andai ibumu dizinai orang?”. “Tidak wahai Rasul, Demi Allah! Tak ada seorangpun yang mau ibunya dizinai!”. “Nah, kalau sekarang putrimu dizinai, kamu rela tidak?”. “Tidak ya Rasul, Demi Allah! Semoga Allah menjadikanku tebusan bagimu, tidak ada orang yang rela putrinya dizinai!”. Dan Rasulullah Saw terus menanyai, bagaimana jika hal itu menimpa saudarinya, bibi-bibinya (atau juga jika istrinya kelak diselingkuhi), jawaban pemuda itu pun juga tetap sama. Lalu Rasulullah Saw menaruh telapak tangan beliau di pundak pemuda itu seraya berdoa, “Ya Allah, ampunilah dia, bersihkan hatinya, jagalah kemaluannya”. Sejak itu pemuda tadi tidak lagi punya pikiran dan keinginan untuk berzina.

Contoh lain, dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Pada suatu saat di Hari Raya, Rasulullah saw. melewati sekelompok wanita, beliau lantas berujar: “Wahai kaum wanita, banyaklah kalian bersedekah, sebab aku melihat penduduk neraka paling banyak adalah kalian kaum wanita”. “Bagaimana bisa begitu wahai Rasulullah?” tanya para wanita itu bergidik. “Sebab kalian terlalu banyak mencaci, dan kerap tidak bisa berterima kasih pada suami. Sungguh, aku tidak melihat orang yang minus akal dan agamanya, yang sanggup melenakan lelaki yang teguh dan kuat hatinya daripada kalian, kaum wanita”. Para wanita itu bertanya, “Lalu apa kekurangan pada akal kami, dan kekurangan pada agama kami wahai Rasul”. Dengan bijak beliau menjawab sambil bertanya, “Bukankah kesaksian satu wanita itu sama dengan setengah laki-laki”. “ya benar”. “Nah, itu menunjukkan kekurangan, dan minus pada akal wanita. Dan bukankah jika kalian menstruasi, kalian tidak salat juga tidak puasa bukan?”. “Ya, benar”, “Nah, itu yang menunjukkan kekurangan pada agama kalian”

Metode pembelajaran diskusi dan dialektika merupakan metode yang sangat efektif untuk melahirkan pemahaman dan kesadaran peserta didik.

3. Metode isyarat dan menggambar

Untuk menguatkan agar pesan sampai kepada penerima, terkadang Rasulullah menggunakan isyarat. Adakalah Rasulullah memberikan isyarat dengan dua jari, empat jari, atau menyelangi jari. Mislanya ketika Rasulullah saw menjelaskan tentang dekatnya hari kiamat beliau mengumpakan dengan dua jari. Beliau bersabda : “saya diutus dan hari kiamat seperti dua ini”. Beliau memberi isyarat dengan dua jarinya dan mendekatkan keduanya” (HR. Bukhori). Dalam hadis ini Rasulullah saw menjelaskan dekatnya hari kiamat dengan zaman kerasulan beliau. Imam al-Qurthuby berkata : “Kesimpulan hadis tersebut adalah dekatnya hari kiamat dan kedatangannya yang cepat, (Fadl Ilahi, 2006 : 125).

Lalu ketika menjelaskan sesuatu yang bersifat abstrak dan membutuhkan sebuah media untuk memudahkan pemahaman, Rasulullah saw. terkadang membuat sebuah gambar sebagaimana halnya penjelasan beliau tentang panjangnya angan-angan dan dekatnya kematian. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Rasulullah saw membuat garis segi empat, dan membuatkan satu garis lurus di tengahnya hingga keluar darinya. Dan membuatkan garis-garis kecil dari garis tengah ke garis yang ada di sampingnya lalu bersabda, “ini manusia dan ini ajal yang mengelilinginya. Garis yang keluar adalah harapannya, garis-garis kecil adalah sesuatu yang bermanfaat atau mudharat baginya di dunia dan di akherat. Jika ia selamat dari ini, maka ia tidak akan selamat dari yang ini. Jika ia selamat dari yang ini, maka ia tidak akan selamat dari yang ini”. (HR. Bukhori).

4. Metode perumpamaan

Diriwayatkan dari Abu Musa, Rasulullah saw bersabda : “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang jelek adalah seperti pembawa minyak wangi dan pandai besi. Pembawa minyak wangi akan memberikan minyak wangi kepadamu atau kamu membeli darinya atau mendapatkan aroma wangi darinya. Adapun pandai besi, ia akan membakar bajumu atau kamu mendapatkan bau yang tidak sedap” (HR. Bukhori dan Muslim)

5. Metode pengulangan

Hal yang menarik dari metode penyampaian Rasulullah saw adalah pengulangan. Adakalahnya beliau mengulang suatu kalimat sebanyak dua kali dan juga terkadang tiga kali. Demikian pula penjelasan tentang sesuatu, Rasulullah saw terkadang menjelaskannya sebanyak tujuh kali bahkan sampai lebih dari dua puluh kali. Penjelasan yang diulang sebanyak tujuh kali seperti hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani dari Abu Ummah, ia berkata “seandainya saya tidak mendengarkan dari Rasulullah saw sebanyak tujuh kali, saya tidak akan menceritakannya, Rasulullah saw bersabda : “Apabila seorang wudhu seperti yang diperintahkan, maka dosanya akan hilang dari pendengarannya, penglihatannya, tangan dan kakinya”. (Fadl Ilahi, 2006 : 118). Sedangkan pengulangan penjelasan hadis lebih dari dua puluh kali adalah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Umar. Rasulullah saw bersabda : “Akan muncul generasi yang membaca al-Qur’an hanya melewati tenggorokan mereka. Setiap kali keluar sekelompok dari mereka , langsung dibinasakan”. Ibnu Umar berkata, “saya mendengar Rasulullah saw menyampaikan kalimat tersebut lebih dari dua puluh kali. (Fadl Ilahi, 2006 : 122)

6. Metode praktik

Dalam mengajarkan masalah keagamaan kepada para sahabat, Rasulullah saw sering menjelaskannya dengan perbuatan. Seperti ketika mengajarkan tata cara shalat, wudhu, dan tayamum. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Abdurrahman bin Abzi dari ayahnya, ia berkata, “seseorang datang kepada Umar dan berkata, “saya sedang junub dan tidak mendapatkan air”.

Ammar bin Yasir berkata kepada Umar bin Khatab “tidakkah anda ingat ketika saya dan anda dalam sebuah perjalanan. Adapun anda belum shalat, sedangkan saya berguling-guling (di tanah) kemudian saya shalat. Saya pun menceritakannya kepada Rasulullah saw kemudian beliau bersabda :”sebenarnya anda cukup begini”. Rasulullah saw memukulkan kedua telapak tangannya ke tanah dan meniupnya, kemudian mengusapkan keduanya pada wajah dan tapak tangan beliau (HR. Bukhori).

Metode ini bermanfaat untuk menghindari kesalahan serta agar pemahaman menjadi jelas.

7. Metode keteladanan

Tidak diragukan lagi bahwa kesuksesan dakwah Rasulullah saw karena keteladanan yang beliau contohkan langsung kepada para sahabat. Tidak ada satu keutamaan yang dianjurkan kecuali beliau lakukan, bahkan mendahululi yang lain dalam mengamalkannya. Sebaliknya, tidak ada kejelekan yang beliau larang, kecuali beliau orang yang paling jauh darinya. Karenanya Allah memerintahkan manusia untuk meneladani Rasulullah seperti yang tercantum dalam Surat Al Ahzab ayat 21 “Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu ada tauladan yang baik bagi orang yang mengharapkan (bertemu dengan) Allah dan hari kemudian dan yang mengingat Allah sebanyakbanyaknya”. (Q.S. Al Ahzab, 21)

Musthafa al-Maraghi mengatakan bahwa mencontoh dan megikuti nabi adalah wajib dalam amal perbuatannya, dan hendaknya berjalan sesuai dengan petunjuknya, jika mereka ingin mengharapkan pahala dan pertolongan dari Allah SWT. di hari kiamat. ( Musthafa al-Maraghi, 1987: 277)

III. PENUTUP

Tak seorangpun dapat membantah bahwa pendidikan Rasulullah saw adalah pendidikan yang paling sukses sepanjang sejarah. Bahkan pengaruh kesuksesan beliau bukan hanya dirasakan oleh generasi awal saja yakni para sahabat, akan tetapi juga dapat dirasakan pengaruhnya sampai dengan sekarang. Karena itulah, maka Michael H. Hart dalam bukunya 100 tokoh berpengaruh terkemuka di dunia menempatkan Rasulullah saw di urutan pertama.

Keberhasilan Rasulullah saw dalam mendidik umat, tidak terlepas dari berbagai strategi pendekatan yang beliau lakukan. Strategi tersebut antara lain : menciptakan suasana yang menyenangkan, mengkondisikan secara fisik dan psikis penerima pesan, mengajar secara bertahap, mengajar disesuaikan dengan kondisi yang diajar, dan penggunaan metode yang bervarisasi.

Akhirnya penulis menyadari tak mungkin dapat menggambarkan strategi pembelajaran Rasulullah saw secara detil dalam artikel yang sangat sederhana ini, karena itu hendaknya kita senantiasa tanpa henti untuk menggalinya.

REFRENSI

Asri Budiningsih, C., 2005, Belajar dan Pembelajaran, Bumik Aksara, Jakarta.

Indrawati, M.Pd dan Wawan Setiawan, 2009, Modul Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Diterbitkan oleh PPPPTK I PA.

Fadhl Ilahi. 2006, Muhammad Saw : Sang guru yang hebat. Sirah nabi sebagai guru berdasarkan al-Qur’an dan Hadis-hadis shahih, Surabaya : eLBA

Musthafa Al-Maraghi, Ahmad,Tafsir Al Maraghi, Semarang: Toha Puta, 1987

Rusman, Model-Model Pembelajaran : mengembangkan profesionalisme guru, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2011

SM, Ismail. 2008. Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM: Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Semarang : RaSAIL Media Group bekerja sama dengan LSIS (Lembaga Studi Islam dan Sosial).

Wina Sanjaya, strategi pembelajaran : Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta : Kencana, 2007.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.