SISTEM PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BAHASA ARAB SEBAGAI BAHASA ASING

0
109

SISTEM PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BAHASA ARAB SEBAGAI BAHASA ASING

OLEH :

MUHAMMAD TONTOWI

 

abstarc

Secara sosiolinguistik, bahasa dan masyarakat adalah dua hal yang saling berkaitan, keduanya memiliki hubungan mutualistik; antara yang satu dengan yang lain saling ada ketergantungan, membutuhkan, dan menguntungkan. Ujaran dan bunyi jelas disebut sebagai bahasa jika berada dan digunakan oleh masyarakat. Demikian pula, masyarakat tidak dapat eksis dan bertahan (survive) tanpa adanya bahasa yang digunakan sebagai alat berinteraksi dan berkomunikasi di antaramereka.Bahkan, lembaga–lembaga yang dibentuk oleh anggota masyarakat pun dipertahankan dan dikembangkan dengan menggunakan alat yang bernama bahasa. Jadi, tiada aktivitas dalam kehidupan ini yang dapat dipisahkan dari bahasa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan dalam menggunakan bahasa sebagai media komunikasi merupakan salah satu kunci dan dasar keberhasilan manusia dalam hidupnya. Di sini, bahasa dipahami dengan sangat praktis dan fungsional sebagai alat komunikasi, mengingat sebagian besar waktu hidup manusia digunakan untuk berkomunikasi. Bahkan, komunikasi mempengaruhi dan menjadi standar kesehatan seseorang, baik secara sosiologis maupun psikologis.

Peran bahasa bagi kehidupan manusia demikian penting sehingga pengajaran bahasa menuntut kecermatan, tujuannya agar bahasa bermakna fungsional. Oleh karena itu, terdapat perbedaan filosofi antara belajar berbahasa dengan belajar pengetahuan yang lain. Belajar pengetahuan pada umumnya, seseorang dituntut untuk mengetahui secara kognitif, afektif, dan psikomotor. Berbeda dengan belajar berbahasa (mendengar, membaca, berbicara, dan menulis) yang merupakan alat ekspresi dan komunikasi, maka seseorang dituntut untuk belajar mengaplikasikan bahasa itu sendiri dalam berekspresi dan berkomunikasi sehari-hari.4 Bahasa bukan hanya dipelajari secara teoretik, melainkan dipelajari secara praktis dan fungsional. Dalam pembelajaran berbahasa, apalah arti sebuah konsep dan teori, jika tidak pernah dipergunakan/dipraktikkan dalam interaksi sosial di masyarakat.

Kata Kunci:  Karakteristik, Bahasa , Sistem, Makna, Perbandingan

I. Pendahuluan

Rancangan menyeluruh sistem pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa Asing. Menyeluruh, dalam arti meliputi unsur-unsur dalam setiap proses pembelajaran. Untuk memudahkan pembahasan uraian akan langsung fokus pada empat aspek keterampilan bahasa Arab, yaitu istima`, kalam, qira’ah dan kitabah.

A. SISTEM PEMBELAJARAN KETERAMPILAN ISTIMA`  (تعـليم مهارات الإستماع)

Membahas sistem pembelajaran keterampilan istima` berarti membahas tentang tujuan pembelajaran istima`, materi pembelajaran yang akan disampaikan, metode yang diterapkan, media yang dipakai dan sistem evaluasi yang diterapkan. Berikut uraian masing-masing unsur sistem pembelajaran keterampilan istima` itu.

  1. Merumuskan Tujuan Pembelajaran Istima`(تحديد أهداف تعليم مهارات الإستماع)

Secara umum, tujuan pembelajaran keterampilan istima` adalah sebagai berikut:

a. Mengembangkan kemampuan mendengarkan dan perhatian terhadap materi yang didengar yang sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik, khususnya yang berkaitan dengan materi yang dihafalkan dan diterapkan karena keperluan aktivitas sehari-hari.

b. Mengembangkan kemampuan menangkap pesan dan merespons materi yang didengar.

c. Melatih memahami apa yang didengar, dengan cepat dan tepat ditengah-tengah proses percakapan.

d. Menanamkan tradisi mendengarkan ungkapan-ungkapan yang mempunyai nilai sosiologis dan edukatif.

e. Mengembangkan aspek intrest terhadap hal-hal yang kontemporer dan mengambil nilai positifnya.

f. Mengembangkan aspek berfikir secara cepat sehingga mampu menganalisis apa yang didengar dengan sumber yang shahih.

Mengembangkan kemampuan mendengarkan dan perhatian terhadap materi yang didengar, masih merupakan tujuan umum pembelajaran istima`. Oleh karena diperlukan tujuan-tujuan yang lebih spesifik, operasional dan terukur. Setiap pertemuan tatap muka harus mengusung tujuannya masing-masing. Jadi tujuan umum tersebut dapat dipecah-pecah dengan mempertimbangkan jumlah waktu tatap muka. Misalnya untuk mengembangkan kemampuan mendengarkan dan perhatian memerlukan empat kali tatap muka dengan durasi 2 x 35 menit, seperti contoh berikut:

  • Pertemuan pertama: peserta didik mampu mendengarkan dengan baik bunyi huruf-huruf hidup أ – ي baik berharakat fathah, kasrah ataupun dhammah.
  • Pertemuan kedua: peserta didik mampu mendengarkan dengan baik bunyi huruf-huruf mati أ – ي .
  • Pertemuan ketiga: peserta didik mampu mendengarkan dengan baik bunyi panjang dan pendek huruf, baik di awal, di tengah maupun di akhir kata.
  • Pertemuan keempat: peserta didik mampu mendengarkan dan memperhatikan setiap perbedaan bunyi, baik huruf hidup, huruf mati, panjang pendek maupun huruf berharakat ganda dan bunyi huruf tambahan.
  1. Menyusun Materi Pembelajaran Istima`

Berkenaan dengan tujuan tersebut, maka materi pembelajarannya berupa hal-hal berikut:

  • Pertemuan pertama: karakteris bunyi-bunyi huruf baik berharakat fathah, kasrah ataupun dhammah, membedakannya ketika huruf berharakat fathah, dengan berharakat kasrah dan ketika berharakat dhammah. Pembelajaran bisa dimulai dari menyampaikan bunyi semua huruf berharakat fathah, lalu semua huruf berharakat kasrah dan terakhir semua huruf berharakat dhammah, atau sebaliknya dari bunyi huruf berharakat kasrah, kemudian fathah dan terakhir dhammah dan seterusnya.
  • Pertemuan kedua: karakteristik bunyi huruf-huruf mati. Materi pembelajaran bisa dimulai dari bunyi huruf أ – ي atau dengan cara pengelompokan tertentu, misalnya dimulai dengan menyampaikan materi tentang huruf-huruf qalqalah (أحرف القلقلة), kemudian huruf-huruf halaq (الأحرف الحلقية), huruf-huruf hams (أحرف الهمس), shafir (صفير) dan seterusnya.
  • Pertemuan ketiga: perbedaan karakteristik setiap bunyi huruf. Pembelajaran materi ini bisa dimulai dengan perbedaan bunyi huruf berharakat hidup(فتحة, كسرة, ضمة) dan bunyi huruf mati/sukun. Selanjutnya materi tentang perbedaan bunyi-bunyi huruf yang berdekatan makhraj, misalnya antara :

أ – ع                                                 ت – ط

ح – ه                                      ت – د

ذ – ز                                     ح – خ

ث – س –  ش – ص                  ذ – ظ

خ – غ                                    ك – ق

Bagi peserta didik non Arab, mengetahui perbedaan bunyi-bunyi huruf tersebut sangat penting, sebab mereka belajar bahasa Arab tidak berangkat dari nol, tetapi telah mendapat pengaruh bahasa ibu atau bahasa lokal, sehingga telinga dengan lidahnya telah terbiasa dengan dialek, gaya bahasa dan sistem bunyi bahasa ibu atau bahasa lokal. Sementara tidak semua sistem bunyi bahasa Arab ada padannya dengan sistem bunyi bahasa ibu atau bahasa lokal. Oleh karena materi yang dipandang sangat sederhana dan mudah bagi orang Arab seringkali terasa sangat sulit bagi peserta didik non Arab. Untuk kasus Indonesia, setiap bahasa ibu mempunyai sistem bunyi huruf masing-masing. Biasanya problematika terbesar dalam pembelajaran materi istima` adalah membedakan bunyi-bunyi huruf mati, terutama huruf-huruf yang hampir sama makhraj dan shifatnya.

  • Pertemuan ketiga: karakteristik bunyi-bunyi huruf berharakat panjang (الحركات الطويلة او المد). Pembelajaran bisa dimulai dengan menyampaikan materi karakteristik bunyi panjang huruf dengan harakat fathah, kemudian bunyi panjang huruf berharakat kasrah dan selanjutnya bunyi panjang huruf berharakat dhammah, terutama kata-kata yang baku. Misalnya mengenal kata kata yang selalu dibaca panjang dengan fathah:, قال, جاء, باب, تاجر,كتاب, حساب dan sebagainya. Kemudian kata-kata yang selalu dibaca panjang dengan harakat dhammah misalnya: صورة, بولس, طول, حور, جلوس, بحوس, شكور  dan seterusnya. Selanjutnya kata-kata yang selalu dibaca panjang dengan harakat kasrah, misalnya kata: قيل, فيل, ريح, سيرة, تين, بريد, جديد, حديد, خبير, لطيف, طبيب dan seterusnya.
  • Pertemuan keempat, perbedaan karakteristik bunyi huruf , baik hidup-mati, panjang-pendek huruf `illah (ا , و, ي ), dan juga huruf bersyaddah. Materi pembelajaran bisa dimulai dengan mengenal perbedaan bunyi huruf hidup dan mati, panjang dan pendek, namun dalam kadar mengulangi materi yang telah disampaikan, lalu materi tambahan yang ditekankan adalah bunyi huruf bersyaddah dan huruf tambahan, misalnya bunyi tambahan akibat penggunaan huruf ال شمسية dan ال قمرية . Contoh:

ال الشمسية:  الثـّقافة , التّاجر, الدّور, الذّريع, الرّجال, الزّيارة, وما أشبه ذلك

ال القمرية:   البحر, الجنة, الحاجة, الخبز, العبارة, الغريزة, الفول وما أشبه ذلك

  1. Memilih Metode dan Media Pembelajaran

Adapun penerapan metode dan media dalam proses pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut: Dalam semua pertemuan, guru bahasa Arab bisa menerapkan metode langsung/ dirrect method (الطريقة المباشرة), yaitu dengan memberikan contoh langsung kata-kata yang mengandung bunyi huruf huruf dari    أ – ي, baik berharakat fathah, kasrah, dhammah, maupun berharakat sukun. Metode ini menekankan pada latihan sebanyak mungkin mendengarkan bunyi-bunyi huruf, dan dalam setiap kesempatan pembelajaran, walaupun ketika mengajarkan materi lainnya yang berkaitan dengan istima`. Teknik yang dipakai bisa menggunakan aural-oral approach, yaitu mendengarkan dan menirukan ucapan     (السمعية النطقية). Sedangkan media yang digunakan bisa memanfaatkan; radio, casset, VCD dan alat-alat yang menghasilkan audio. Lebih baik lagi bila melibatkan native speaker dari pengguna bahasa aslinya (orang Arab langsung). Dalam latihan mendengarkan dan melafalkan bisa dimulai dengan kolektif, lalu ke kelompok-kelompok kecil sampai setiap peserta didik (individual).

Bila dilihat dari teknik  urutannya, proses pembelajaran istima` dapat dibagi dalam empat tahap, yaitu pertama, al-taqdim, kedua, al-muhakah wa al-tikrar, ketiga, al-tamayyuz, dan keempat, al-isti`mal.  Berikut akan diuraikan bagaimana operasionalisasi konsep tersebut dalam proses pembelajaran secara riil.

a. Al-Taqdim (التقديم)

Al-Taqdim adalah tahap seorang guru bahasa Arab menyampaikan materi dengan penekanan pada aspek melafalkan bunyi huruf dengan fashih, baik dari sisi makhraj maupun shifat, baik bunyi huruf hidup ataupun huruf mati dengan gaya pengungkapan huruf maupun kata-kata secara tepat. Tahap awal proses menyampaikan materi adalah mengenalkan bunyi satu. Tahap kedua, melatih mengenal bunyi huruf tadi dalam kata-kata dengan semua perubahan harakatnya. Seperti contoh berikut:

صَ     صِ     صُ :

1-   صيا د      صوم    صدر   صيف   صار  رصاص      صوف

2-   مصير     قصور  أصدقاء    انتنص ر     حصة  أصفي  صفوص

3-   قصّ        حصص             خالص    تربص   لص  حريص    مخصوص

Pada tahap ini guru bahasa Arab bisa menggunakan metode langsung, dengan teknik pendekatan oral-aural approach (السمعية النطقية) dengan menggunakan gambar atau bila memungkinkan film hidup bahkan bendanya langsung. Misalnya pada contoh nomor satu, media yang dipersiapkan adalah gambar pemburu atau film, alat gambar, gambar seorang pemburu, alat gambar (sangat mungkin bendanya langsung).

b. Al-Muhakah wa al-Tiqrar (المحاكاة و التكرار)

Al-Muhakah wa al-Tikrar adalah tahap dimana seorang guru bahasa Arab melatih istima` dengan cara menyampaikan ungkapan-ungkapan bunyi huruf, lalu diikuti oleh semua peserta didik. Peserta didik dapat di bagi dalam beberapa kelompok kecil, misalnya kelompok satu, kelompok dua dan kelompok tiga. Berikut contohnya:

  • Guru mengucapkan bunyi huruf dan selanjutnya bunyi beberapa kata : ط – طلع – يطلع – طوال – بطولة
  • Semua peserta didik menirukan : ط – طلع – يطلع – طوال – بطولة
  • Guru menucapkan bunyi huruf dan selanjutnya bunyi beberapa kata : ط – طلع – يطلع – طوال – بطولة
  • Kelompok satu mengucapkan bunyi: ط – طلع – يطلع – طوال – بطولة
  • Guru mengucapkan bunyi huruf dan selanjutnya bunyi beberapa kata : ط – طلع – يطلع – طوال – بطولة
  • Kelompok dua mengucapkan bunyi: ط – طلع – يطلع – طوال – بطولة
  • Guru mengucapkan bunyi huruf dan selanjutnya bunyi beberapa kata : ط – طلع – يطلع – طوال – بطولة
  • Kelompok tiga mengucapkan bunyi: ط – طلع – يطلع – طوال – بطولة
  • Guru mengucapkan bunyi huruf dan selanjutnya bunyi beberapa kata : ط – طلع – يطلع – طوال – بطولة
  • Satu persatu peserta didik mengucapkan bunyi huruf dan selanjutnya bunyi beberapa kata : ط – طلع – يطلع – طوال – بطولة
  • Guru mengucapkan bunyi huruf dan selanjutnya bunyi beberapa kata : ط – طلع – يطلع – طوال – بطولة
  • Semua peserta didik mengucapkan bunyi huruf dan selanjutnya bunyi beberapa kata: ط – طلع – يطلع – طوال – بطولة

Proses pembelajaran diawali dengan melafalkan bunyi ط, secara berulang-ulang, dari kolektif, kemudian kelompok perkelompok, selanjutnya tiap individu atau dipilih beberapa saja, dan terakhir kolektif kembali. Materi selanjutnya kata-kata yang mengandung bunyi ط dengan semua perubahan harakatnya, dan menggunakan teknik seperti melafalkan bunyi ط tadi.

Metode yang digunakan untuk proses pembelajaran tahap ini bisa berupa metode langsung dengan pendekatan psiko-linguistik. Artinya sebuah pendekatan yang dapat memenej peserta didik berdasarkan kondisi psikhisnya, bagaimana ia bisa bersemangat, dapat bekerja sama dan menghargai orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Media yang digunakan dapat berupa gambar, audio atau film, dan bila memungkinkan bendanya langsung, yang terpenting adalah media yang dapat mendekatkan pada pemahaman peserta didik akan materi yang bersangkutan.

c. Al-Tamayyuz

Tahap ini pada dasarnya merupakan bentuk detail dari tahap sebelumnya, yaitu tahap pembelajaran yang lebih menekankan pada aspek memahami karakteristik bunyi huruf secara baik, yaitu dapat membedakan bunyi huruf berdasarkan perbedaan makhraj dan sifat, membedakan dari sisi panjang dan pendek, seta membedakan bunyi huruf washal dan waqaf. Namun demikian proses pembelajaran materi tidak hanya dengan menyebutkan satu huruf, tetapi dalam konteks kata. Misalnya:

تسب – نصب  سورة – صورة            نعلة جديدة – لها نعلةْ

Dalam tahap ini metode yang digunakan bisa metode langsung, tetapi lebih baik lagi ditambah dengan metode tanya jawab atau diskusi, sebab pada tahap ini peserta didik dituntut untuk menggunakan nalar kritisnya. Pengembangan kemampuan penalaran kritis akan lebih cepat bila menggunakan metode yang bersifat dialogis, seperti tanya jawab dan diskusi. Media yang digunakan lebih baik memanfaatkan kaset atau hasil rekaman lain yang melibatkan native speaker, baik berupa kaset tape rekorder atau VCD.

  1. Membuat Alat Penilaian dan Evaluasi

Adapun alat penilaian yang bisa dipersiapkan adalah:

  • Pertemuan pertama: penilaian dilakukan dengan tes lisan, guna untuk mengetahui seberapa jauh tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi istima` yang diberikan. Bentuk tesnya adalah:
  • Guru menyiapkan format penilaian seperti memberi tanda atau kode tertentu ketika mendengar bunyi huruf tertentu.
  • Peserta didik diminta menangkap bunyi huruf yang dikehendaki oleh guru dari suatu kata tertentu.
  • Guru mengucapkan bunyi huruf hidup berikut dan peserta didik mengisi pada kolom yang disiapkan

Contoh-contoh soal dapat dikembangkan dengan bentuk lain, seperti dalam bentuk kata perkata. Misalnya dalam bunyi huruf و, maka dipilihlah kata-kata yang mengandung bunyi huruf tersebut, dan lebih tepat lagi lengkap dengan perubahan bunyi yang signifikan, yaitu ketika fathah, ketika kasrah, ketika dhammah atau ketika mati, bahkan ketika berpungsi sebagai huruf mad sekalipun.

  • Pertemuan kedua: penilaian dilakukan dengan tes lisan. Tes ini untuk mengetahui seberapa jauh tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi istima` yang telah diberikan. Bentuk tesnya seperti berikut ini:
  • Guru menyiapkan format penilaian seperti memberi tanda atau kode tertentu ketika mendengar bunyi huruf tertentu, misalnya dengan menuliskan huruf dalam kolom ketika mendengarkan bunyi huruf yang dikehendaki.
  • guru mengucapkan bunyi huruf mati dan peserta didik mengisi kolom yang disiapkan
  • Pertemuan ketiga: masih menggunakan tes lisan. Tes ini untuk mengetahui tingkat penguasaan materi bunyi panjang pendek, baik di awal, tengah, maupun di akhir kata. Bentuk tesnya dapat berbentuk seperti berikut:
  • Guru menyiapkan format penilaian penilaian, dengan membuat kertas lembar jawaban dengan format tertentu seperti pada contoh di bawah nanti
  • Guru mengucapkan ungkapan atau kata-kata tertentu
  • Peserta didik menuliskan jawaban di lembar jawaban

 

  • Pertemuan keempat: masih menggunakan tes lisan. Tes ini untuk mengetahui tingkat penguasaan materi mengarkan dan memperhatikan setiap perbedaan bunyi, baik huruf hidup, huruf mati, panjang pendek maupun huruf berharakat ganda dan bunyi huruf tambahan. Bentuk tesnya dapat berbentuk seperti berikut:
  • Guru menyiapkan format penilaian penilaian, dengan membuat kertas lembar jawaban dengan format tertentu seperti pada contoh di bawah nanti
  • Guru mengucapkan ungkapan atau kata-kata tertentu
  • Peserta didik menuliskan jawaban di lembar jawaban

Tes lisan yang dimaksudkan pada contoh-contoh di atas adalah beahwa pelaksanaan tes pada dasarnya didasarkan pada kemampuan lisan, bukan tulisan. Dalam pelaksanaanya, tes ini penekanannya pada kemampuan mendengarkan, memperhatikan dan memahami ungkapan-ungkapan yang disampaikan oleh guru secara lisan dan peserta menjawabnya secara langsung, walaupun dengan cara menuliskan jawabannya pada kertas lembar jawaban. Jadi semua soal berupakan ungkapan soal, bukan soal tertulis.

Setelah dilakukan penilaian, tugas guru bahasa Arab selanjutnya adalah mengevaluasi secara menyeluruh pelaksanaan proses pembelajaran istima`. Kegiatan ini diawali dengan membuat kategori kelompok peserta didik, kelompok materi, metode, media, dan alat penilaian. Pengelompokan berdasarkan kategori-kategori itu untuk memudahkan analisis sehingga sampai pada hal-hal yang detail.

Setelah dilakukan penilaian, maka akan tampak kelompok prestasi peserta didik yang ada, yaitu berapa jumlah atau persentase peserta didik yang tergolong berprestasi tinggi, berapa yang berprestasi sedang dan berapa jumlah atau persentase peserta didik yang tergolong berprestasi rendah. Pengelompokan tersebut dijadikan sebagai variabel penting dalam analisis. Peserta didik yang mendapat prestasi tinggi mempunyai karakter seperti apa, apa modalitas dominan yang dimiliki mereka, dari setting sosial seperti apa, bagaimana kemampuan dasar yang dimiliki, bagaimana perasaan atau kondisi psikologis ketika mengikuti proses pembelajaran, bagaimana persepsi terhadap cara atau gaya mengajar guru, bagaimana kesan terhadap media yang dipakai guru, dan sebagainya. Demikian juga cara analisis terhadap kelompok peserta didik yang berprestasi menengah dan rendah. Khusus bagi kelompok murid yang mempunyai prestasi rendah analisis lebih banyak pada mengurai problematika yang dihadapi selama mengikuti proses pembelajaran, termasuk di dalamnya tingkat kesulitan materi, gaya guru mengajar, minat yang dimiliki dan sebagainya. Dengan cara analisis seperti itu, maka plus minus proses pembelajaran akan dapat dideteksi dan selanjutnya dijadikan masukan penting dalam perbaikan proses pembelajaran selanjutnya.

B. SISTEM PEMBELAJARAN KETERAMPILAN KALAM

 (تعليم مهارات الكلام )

Membahas sistem pembelajaran keterampilan kalam berarti membahas tentang tujuan pembelajaran kalam, materi pembelajaran yang akan disampaikan, metode yang diterapkan, media yang dipakai dan sistem evaluasi yang diterapkan. Setiap unsur sistem saling terkait dan saling mempengaruhi terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Berikut uraian masing-masing unsur sistem pembelajaran keterampilan kalam.

  1. Merumuskan Tujuan Pembelajaran Kalam ( تحديد أهداف مهارات الكلام)

Secara umum, tujuan pembelajaran kalam adalah sebagai berikut:

  1. Membiasakan peserta didik untuk melafalkan ungkapan secara jelas, fashih dan mengandung makna yang lengkap
  2. Membiasakan peserta didik untuk berfikir dan berbicara dengan bahasa Arab yang sistematis
  3. Membiasakan peserta didik untuk menggunakan kalimat-kalimat atau ungkapan yang sesuai dengan ragam konteksnya
  4. Agar peserta didik terbiasa untuk menggunakan kalimat yang sarat dengan makna, dan indah dalam gaya bahasa serta saheh sesuai dengan kaidah bahasa Arab standar/fushah.

Rumusan tujuan seperti tersebut di atas, merupakan tujuan permbelajaran kalam yang masih umum dan abstrak. Oleh karena itu tujuan-tujuan tersebut harus dirumuskan secara spesifik, operasional dan terukur, serta disesuaikan dengan proses pembelajaran yang akan berlangsung, misalnya disesuaikan dengan usia perkembangan peserta didik dan waktu yang tersedia. Pertimbangan pertama yang harus diperhatikan adalah jumlah jam dan pertemuan tatap muka dalam rentang waktu tertentu, misalnya dalam satu semester. Setelah itu mengetahui jumlah item atau poin-poin penting yang merupakan penjabaran dari tujuan yang umum tadi. Berikut akan diuraikan contoh rumusan tujuan yang spesifik dam kaitannya dengan proses pembelajaran di kelas.

  • Pertemuan pertama: peserta didik mampu mengucapkan dengan baik bunyi huruf-huruf hidup dan huruf huruf-huruf mati أ – ي .
  • Pertemuan kedua: peserta didik mampu memahami dan menggunakan jumlah fi`liyah, jumlah ismiyah, dan
  • Pertemuan ketiga: peserta didik mampu mengunakan beberapa kosa kata (misalnya sepuluh kata) yang terkait dengan aktivitas sehari-hari dalam jumlah ismiyah, jumlah fi`liyah, dan jumlah istifhamiyah. Misalnya tentang aktivitas di dapur, di kamar mandi, di ruang tamu dan seterusnya.
  • Pertemuan ketiga: peserta didik mampu menggunakan beberapa kosa kata (misalnya sepuluh kata benda) yang terkait dengan aktivitas sehari-hari dalam jumlah ismiyah.
  • Pertemuan keempat: peserta didik mampu menggunakan beberapa kosa kata (misalnya sepuluh kata kerja dan sepuluh kata benda) yang terkait dengan aktivitas sehari-hari di sekolah jumlah ismiyah, jumlah fi`liyah dan jumlah istifhamiyah.
    1. Menyusun Materi Pembelajaran Kalam

Berkenaan dengan tujuan tersebut, maka materi pembelajarannya berupa hal-hal berikut:

  • Pertemuan pertama: materi tentang karakteris bunyi-bunyi huruf baik berharakat fathah, kasrah, dhammah dan sukun, membedakannya ketika huruf berharakat fathah, dengan berharakat kasrah, ketika berharakat dhammah, dan ketika berharakat sukun. Pembelajaran bisa dimulai dari menyampaikan bunyi semua huruf berharakat fathah, lalu semua huruf berharakat kasrah dan terakhir semua huruf berharakat dhammah, dan sukun atau sebaliknya. Materi-materi tentang bunyi-bunyi huruf tersebut harus dalam konteks kata yang mempunyai arti jelas. Misalnya :
  • أ : أكل – تأكل – إيمان – أمور
  • ب : بعث – يبعث – إبعث – بحوث
  • ت : تبع – يتبع – تبيان – تفاحة
  • ث : ثبت – يثبت – ثياب – ثبوت
  • ج : جعل – يجعل – جسم – جهود
  • ح : حمد – يحمد – حساب – كوب
  • Pertemuan kedua: materi tentang konsep jumlah ismiyah, jumlah fi`liyah dan jumlah istifhamiyah. Materi tentang jumlah ismiyah, misalnya tentang pengertian jumlah ismiyah, unsur-unsurnya dan hukum bacaannya (i`rab). Materi tentang jumlah fi`liyah, misalnya tentang pengertian jumlah fi`liyah, unsur-unsurnya, dan hukum bacaannya (i`rab). Demikian juga dengan materi tentang jumlah istifhamiyah. Materi-materi tentang macam-macam konsep jumlah tersebut disertai dengan contoh masing-masing, misalnya:

– الجملة الإسمية         : العبادات أمور مهمة  لحياة المؤمنين

2- الجملة الفعلية         : كتب التلميد الـدرس

3- الجملة الإستفهامية   : ماذا كتب التلميد ؟

لماذا العبادات أمور مهمة لحياة المؤمنين ؟

  • Pertemuan ketiga: Materi percakapan dengan menggunakan bentuk kalimat nominal (jumlah ismiyah), kalimat verbal (jumlah fi`liyah) dan kalimat tanya (jumlah istifhamiyah) dengan materi tentang aktivitas di rumah (sebut saja aktivitas di dapur), misalnya:

1- الجملة الإسمية       : البيت مسكن للأسرة

لي بيت كبير

في البيت مطبخ

في المطبخ أّلات الطبخ والمائدة

فيها موقد, مقلى, سكين, ملعقة, شوكة, قدر وغير ذالك

2- الجمعة الفعلية        : أسكن في البيت مع أبي وأمي وأعضاء الأسرة الأخرى                                         تطبخ الأم في المطبخ

أخذت السكين في المطبخ

وضعت الصحن على رف الصحون

أجلد البصل في المطبخ

3- الجملة الإستفهامية   :  اين تسكن ؟

هل لك بيت كبير؟

هل في بيتك مطبخ؟

ماذا في المطبخ؟

اين تطبخ اللأم؟

ماذا تطبخ الأم؟

  • Pertemuan keempat: Materi pembelajaran adalah latihan dialog tentang aktivitas sehari-hari di sekolah. Materi dialog tersebut harus menggunakan format jumlah ismiyah, jumlah fi`liyah dan jumlah istifhamiyah. Materi dapat dibagi menjadi beberapa bagian, misalnya tentang aktivitas dalam kelas, di kantin sekolah dan di perpustakaan. Contoh:

1- في الفصل  : الحوار بين المدرس والتلاميذ

المدرس          : السلام عليكم

التلاميذ : وعليكم السلام ورحمة الله وبراكاته

المدرس          : أين رئيس الفصل؟

النلاميذ : هو مريض, يا مدرس

المدرس          : أين كشف الحضور؟

التلاميذ : كشف الحضور في الدرج

المدرس          : ماذا ندرس الأن؟

التلاميذ : نحن سندرس “قواعد اللغة العربية”

المدرس          : هل قرأتم كتاب القواعد اللغة العربية؟

التلاميذ : نعم, قرأناه بالأمس

المدرس          : هل تعلمتم عن “الجملة الإسمية؟

ألتلاميذ : نعم, تعلمنا في الأسبوع الماضية

 

2- في المقصف     : الحوار بين التلاميذ

محمود  : أصدقائي, حيا بنا نذهب الى المقصف!

أحمد    : ماذا ستشتري يا محمود؟

محمود  : انا جائع, سأشتري الرز المقـلى

سليم     : سأشتري المعرفة المقلية, و انت, يا نبيلة؟

نبيلة    : سأشتري موزا مقايا, ماذا تشرب, يا حميد؟

حميد    : أشرب القهوة ملبنة

محمود  : أصدقائي, من الذى يدفع هذه المأكولات والمشروبات؟

هم       : نبيلة  ستدفعها!

نبيلة    : لماذا أدفعكم؟

هم       : لأنك تناولت المنحة الدراسية بالأمس

  1. Memilih Metode dan Media Pembelajaran

Metode yang diterapkan untuk pembelajaran materi kalam adalah metode langsung, yaitu proses pembelajaran langsung menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar. Teks percakapan antara guru dan para peserta didik pada contoh nomor satu di atas adalah materi pembelajaran kalam tentang aktivitas di dalam ruang kelas. Sebelum menampilkan teks – sebagaimana tertulis di atas – sebaiknya guru bahasa Arab menampilkan gambar (visual) atau ungkapan (audio) yang dapat ditampilkan di depan kelas. Penampilan materi dengan media tersebut untuk beberapa saat, lalu guru mengajak para peserta didik untuk menangkap kata-kata dalam ungkapan tersebut dan mencoba memahami makna yang terkandung di dalamnya. Selanjutnya guru bahasa Arab menginventarisir beberapa mufradat yang ditangkap dari media, dan lebih baik menuliskan mufradatmufradat tadi di papan tulis dengan tulisan yang agak kabur. Selanjutnya materi pembelajaran disampaikan dengan teknik berikut:

  1. Menjelaskan sebelum mengulangi (الشرح يسبق التكرار)

Langkah pertama, pembelajaran kalam diawali dengan menampilkan gambar dan suara. Selanjutnya adalah percakapan tentang gambar yang telah disajikan tadi, baik dari aspek bunyi lafadh yang terkandung, makna dari lafadh-lafadh tersebut, aspek nahw dan sharaf. Namun demikian, penekanan hanya terbatas pada aspek makna yang terkandung dari gambar yang ditampilkan tadi, belum pada aspek perbedaan bunyi atau lafadh. Untuk meyakinkan tingkat pemahaman makna, sebaiknya peserta didik diberikan beberapa pertanyaan tentang materi tadi. Aplikasi teknik ini adalah sebagai berikut:

a. Guru bersama-sama dengan para peserta didik memperhatikan materi kalam yang terdapat dalam media

b. Guru dan para peserta didik menginventarisir kosa kata atau ungkapan yang berhasil ditangkap sambil memahami makna yang terkandung

c. Guru meminta beberapa peserta didik untuk mengemukakan beberapa mufradat yang berhasil ditangkap dari media tadi

d. Guru menyusun beberapa mufradat yang diungkapkan oleh beberapa peserta didik di papan tulis dan bila masih ada mufradat yang tertinggal langsung dilengkapinya

e. Selanjutnya guru menjelaskan makna mufradatmufradat tadi satu persatu, yakni mulai dari kata (أين), bahkan dari judul percakapan sampai dengan kata (في الأسبوع الماضية) dengan menggunakan ekspresi, gerakan, dengan menunjukkan benda atau gambarnya

f. Setelah itu, langkah selanjutnya adalah pengulangan. Pengulangan kata-kata yang terkandung di dalam materi seperti pada gambar tadi, bisa dimulai dari kelompok atau kolektif, kemudian kelompok-kelompok kecil dan individual sampai semua mendapat giliran. Kalau tidak memungkinkan bisa dipilih beberapa peserta didik yang berada pada titik ekstrim, yaitu dari kelompok yang “lebih” (fashih, cerdas) dan dari kelompok yang “kurang” (belum fashih, lambat menangkap). Pengulangan materi yang dimaksud adalah praktek percakapan sebagaimana materi yang ada dalam media tadi secara berulang-ulang sampai betul-betul paham dan lancar.

2. Mengulangi sebelum menjelaskan (التكرار يسبق الشرح)

Langkah pertama, guru mengucapkan kata-kata yang ada dalam materi yang disajikan dalam media tadi satu persatu secara berulang-ulang, dan bila perlu sambil menunjukkan gambar atau gerakan, setelah itu peserta didik menirukannya berulang-ulang secara kolektif, kemudian ke kelompok-kelompok kecil dan satu persatu. Setelah guru merasa yakin bahwa semua peserta didik dapat melafazhkan kata-kata tersebut secara benar, lalu ia menjelaskan makna, unsur nahw dan sharafnya. Semua proses pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan bahasa Arab, tanpa menggunakan bahasa ibu atau bahasa lokal peserta didik sama sekali.  Langkah selanjutnya adalah tahap eksploitasi (الإستثمار) yaitu optimalisasi peserta didik dalam pembelajaran kalam sebagaimana  ahl al-lughah menggunakannya. Aplikasi teknik ini adalah sebagai berikut:

  • Guru melatih peserta didik untuk menggunakan kalimat-kalimat atau ungkapan yang mempunyai makna lengkap sebagaimana ungkapan percakapan di atas, baik menggunakan gambar ataupun tidak sama sekali.
  • Setelah guru yakin akan kemampuan semua peserta didik dalam menggunakan ungkapan tadi, lalu materi nahw dan sharaf
  • Selanjutnya guru bisa mulai menerapkan teknik diskusi, dialog secara bebas yang melibatkan semua peserta didik tentang topik materi di atas.
  • Peserta didik sudah dapat diberikan tugas untuk mengembangkan kegiatan kalam dengan memainkan peran-peran tertentu sebagai kegiatan bahasa yang sesungguhnya. Misalnya dengan membuat kelompok diskusi; ada yang diberikan tugas untuk menjadi moderator, panelis, penanggap, notulis, dan sebagainya.
  1. Membuat Alat Penilaian dan Evaluasi

Alat penilaian yang dipakai untuk melihat tingkat kemampuan kalam, sebaiknya tidak menggunakan tes tertulis, tetapi tes lisan. Tes lisan dipandang lebih efektif daripada tes tertulis, sebab keterampilan kalam pada dasarnya lebih terletak pada aspek ungkapan lisan dengan segala aspeknya. Berdasarkan tujuan dan materi pembelajaran yang dijadikan contoh dalam tulisan di atas, maka bentuk tes yang dipersiapkan adalah sebagai berikut:

  1. Sebutkan masing-masing empat kata yang mengandung bunyi huruf hidup dan juga huruf mati: ء – ب – ت – ث – ج – ح
  2. Sebutkan contoh jumlah ismiyah, jumlah fi`liyah dan jumlah istifhamiyah, masing-masing lima kalimat.
  3. Praktek percakapan tentang aktivitas di rumah
  4. Praktek percakapan tentang aktivitas di dalam kelas

Alat tes untuk soal nomor satu, guru bahasa Arab bisa menggunakan media gambar. Gambar yang ditampilkan mengandung kata-kata yang unsur katanya mengandung bunyi huiruf-huruf yang dimaksud. Untuk soal nomor dua, guru bahasa Arab bisa memanfaatkan media gambar dan juga bisa dengan cara membuat kata-kata secara acak untuk disusun menjadi kalimat sempurna, dalam bentuk jumlah ismiyah, jumlah fi`liyah dan jumlah istifhamiyah. Sedangkan untuk soal nomor tiga dan empat, guru bahasa Arab sebaiknya menyiapkan gambar yang lebih kompleks tentang aktivitas di rumah dan di dalam kelas. Setelah itu tes dilakukan dengan cara meminta peserta didik secara berpasangan untuk melakukan percakapan. Selain itu bisa juga dengan cara membuat kelompok kecil diskusi untuk membicarakan tentang topik yang disajikan dalam gambar tersebut.

Tahap berikutnya yang harus dilakukan oleh guru bahasa Arab adalah mengolah hasil penilaian. Hasil penilaian pada dasarnya merupakan data base untuk mengevaluasi seluruh aktivitas proses pembelajaran. Hasil penilaian selanjutnya diolah berdasarkan kategori-kategori tertentu sesuai dengan kebutuhan. Misalnya untuk mengetahui tingkat penguasaan terhadap materi pembelajaran, maka hasil penilaian dapat dikategorikan berdasarkan aspek; kefashihan dalam pengujaran, aspek penguasaan kosa kata, kemampuan menyusun kata-kata menjadi kalimat sempurna dalam bentuk jumlah ismiyah, jumlah fi`liyah atau jumlah istifhamiyah, aspek mafhum al-masmu` dan sebagainya. Setiap aspek kemampuan itu, kemudian dikelompokkan berdasarkan kategori tingkat kesulitan dan kemudahannya, tingkat rata-rata keberhasilan dan seterusnya. Kategori-kategori tersebut selanjutnya dipakai sebagai alat untuk menganalisis semua komponen pembelajaran. Artinya analisis interkoneksi antar komponen, misalnya tujuan dengan materi pembelajaran, materi dengan metode pembelajaran, metode pembelajaran dengan modalitas peserta didik, media dan sumber pembelajaran serta sistem penilaian yang diterapkan. Dengan cara ini, maka plus minus proses pembelajaran dapat didiagnosa dan selanjutnya dijadikan bahan penting untuk perbaikan proses pembelajaran selanjutnya.

C. SISTEM PEMBELAJARAN KETERAMPILAN QIRA’AH (تعـليم مهارات القراءة)        

Membahas sistem pembelajaran keterampilan qira’ah berarti membahas tentang tujuan pembelajaran qira’ah, materi pembelajaran yang akan disampaikan, metode yang diterapkan, media yang dipakai dan sistem evaluasi yang diterapkan. Setiap unsur sistem saling terkait dan saling mempengaruhi terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Berikut uraian masing-masing unsur sistem pembelajaran keterampilan qira’ah.

  1. Merumuskan Tujuan Pembelajaran Keterampilan Qira’ah.

Secara umum tujuan pembelajaran keterampilan qira’ah adalah agar peserta didik mempunyai kemampuan berikut:[1]

  1. Mampu membaca dengan fashih
  2. Mampu melihat “benang merah” antara makna dan lafadh
  3. Mampu memahami kata-kata berdasarkan konteks kalimat dan memilih makna yang tepat
  4. Mampu menangkap pola pikir dalam tulisan
  5. Mampu melihat kelebihan dan kekurangan sebuah ungkapan
  6. Mampu memahami dengan baik terhadap kalimat, alinea, dan menangkap ide dasarnya
  7. Mampu menangkap makna dasar dan mengembangkan gagasan
  8. Mampu memahami sistematika tulisan dan logika yang terkandung
  9. Mampu mengkritisi bacaan, baik dari aspek gaya bahasa, tujuan penulis maupun gaya tulisan
  10. Mampu menangkap pesan yang terkandung dan menarik “benang merah” dengan fenomena yang terjadi baik pada masa lampau maupun kontemporer.

Rumusan tujuan pembelajaran keterampilan qira’ah tersebut di atas merupakan rumusan yang masih sangat umum dan abstrak. Oleh karena itu diperlukan rumusan tujuan yang lebih spesifik dan terukur dan operasional.  Spesifik dalam arti fokus pada salah satu aspek dan terukur dalam arti dapat dilihat hasilnya setelah mengikuti tatap muka dan operasional dalam arti bisa langsung dijabarkan dalam materi pada setiap tatap muka. Tujuan pembelajaran yang spesifik, terukur dan operasional merupakan acuan awal dalam proses pembalajaran di kelas. Dari tujuan itu, selanjutnya materi disusun, sumber belajar dipilih dan alat penilaian dibuat.

Berikut akan diuraikan contoh tujuan pembelajaran qira’ah yang spesifik, operasional dan terukur dalam konteks pembelajaran di kelas, misalnya tujuan pembelajaran qira’ah adalah peserta didik mampu membaca dengan fashih. Maka tujuan tersebut harus dipecah-pecah menjadi beberapa tujuan dalam beberapa kali pertemuan, seperti contoh berikut:

  • pertemuan pertama: peserta didik mampu membaca bunyi huruf dengan
  • Pertemuan kedua: peserta didik mampu membaca kalimat sesuai dengan qa`idah i`rab
  • Pertemuan ketiga: peserta didik mampu membaca kalimat sesuai dengan gaya bahasa sebagaimana orang membaca

Contoh tujuan yang tersebut di atas menunjukkan bahwa ada tiga tujuan pembelajaran qira’ah yang bersifat spesifik, operasional dan terukur. Dengan demikian diperlukan tiga kali pertemuan untuk mencapai tujuan tersebut. Lalu materinya seperti apa agar tujuan tersebut dapat tercapai secara efektif dan efisien?.

  1. Menyusun Materi Pembelajaran Keterampilan Qira’ah

Bila tujuan seperti pada contoh di atas, maka materi pembelajaran qira’ah disusun sebagai berikut:

  • pertemuan pertama: materi tentang makhraj dan shifat huruf dengan segala seluk beluknya
  • pertemuan kedua: materi pembelajaran tentang i`rab dengan segala seluk beluknya, diantaranya meliputi, al-`awamil, `alamat i`rab, tarkib dan sighat.
  • Pertemuan ketiga: materi pembelajaran berupa al-nabr, al-tanghim, waqaf dan washalnya

Tiga kategori materi di atas pada dasarnya masih bersifat global, oleh karena itu perlu dibagi-bagi lagi menjadi lebih spesifik dengan memperhatikan waktu yang tersedia. Bila waktu yang tersedia setiap pertemuan 90 menit, maka, waktu 90 menit itu dibagi-bagi lagi disesuaikan dengan jumlah bagian-bagian materi.  Misalnya materi dalam pertemuan pertama dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

  • 30 menit untuk pembelajaran materi tentang makhraj huruf, terdiri dari; 10 menit untuk materi tentang makhraj huruf halqy, 10 menit untuk materi tentang huruf lisany dan 10 menit untuk materi tentang huruf syafawy.
  • 30 menit untuk pembelajaran materi shifat huruf, terdiri dari; 10 menit untuk materi tentang sifhat huruf ithbaq, 10 menit untuk materi tentang huruf infitah dan 10 menit untuk huruf hams dan qalqalah.
  • 30 menit untuk latihan dan evaluasi

Selanjutnya, untuk pertemuan kedua materi pembelajaran tentang `awamil, `alamat i`rab, tarkib dan sighat, juga harus diperinci secara detail sesuai dengan waktu yang tersedia. Bila pertemuan kedua waktu yang tersedia 90 menit, maka waktu 90 menit itu bisa dibagi lagi menjadi lima bagian, yaitu:

  • 20 menit untuk pembelajaran materi tentang `awamil, terdiri; dari 5 menit materi tentang `awamil rafa`, 5 menit untuk materi tentang `awamil nashab, 5 menit untuk materi tentang `awamil jar dan 5 menit untuk materi tentang `awamil jazm.
  • 20 menit untuk pembelajaran materi tentang `alamat i`rab, terdiri dari; 5 menit untuk materi tentang `alamat i`rab rafa`, 5 menit untuk materi tentang `alamat i`rab nashab, 5 menit untuk materi tentang `alamat i`rab jar, dan 5 menit untuk materi tentang `alamat i`rab jazm.
  • 10 menit untuk pembelajaran materi tentang tarkib, terdiri dari; 5 menit untuk materi tentang jumlah mufidah, dan 5 menit untuk materi tentang jumlah mu`taridhah.
  • 10 menit tentang shighat kalimat, terdiri dari: 5 menit untuk materi tentang kalimat musytaq dan 5 menit untuk materi tentang kalimat jamid.
  • 30 menit untuk latihan dan evaluasi

Pembagian-pembagian seperti di atas hanya sekedar contoh dan dapat dikembangkan lebih jauh sesuai dengan tujuan, materi, serta waktu yang tersedia. Namun pada prinsipnya, setiap pembelajaran, apapun materinya harus dapat dirinci secara detail, sehingga betul-betul bersifat kongkrit operasional dan terukur, sehingga proses pembelajaran dapat terkontrol dengan baik. Oleh karena itu diperlukan penguasaan konsep pembelajaran dengan baik, dan guru bahasa Arab harus menyadari hal itu.

  1. Memilih Metode dan Media Pembelajaran Qira’ah

Sebelum membicarakan mengenai metode yang harus dipilih untuk diterapkan dalam pembelajaran, harus diketahui bahwa qira’ah pada dasarnya dibedakan menjadi dua jenis, yaitu qira’ah shamitah dan qira’ah jahriyah. Dalam qira’ah shamitah, aspek penekanannya pada fahm al-ma`any, yaitu memahami makna yang terkandung di dalam teks bacaan. Sedangkan qira’ah jahriyah aspek penekanan pada aspek tahsin al-qira`ah sesuai dengan uslub dan musiqy nuthqy. Oleh karena itu metode yang dipakai untuk proses pembelajaran dua jenis qira’ah tersebut tentunya tidak harus sama.

Pada bab sebelumnya telah dijelaskan tentang ragam metode dan prinsip dasar memilih metode pembelajaran qira’ah. Oleh karena itu pada bab ini, uraian tentang memilih metode dan media pembelajaran qira’ah diarahkan pada aspek aplikasinya dalam proses pembelajaran, misalnya metode yang diterapkan untuk pembelajaran materi qira’ah seperti contoh di atas.

Pertemuan pertama materi pembelajaran qira’ah adalah tentang makhraj dan shifat huruf. Pembelajaran materi tentang makhraj dan shifat huruf dalam qira’ah tidak terlepas dari hakekat pembelajaran qira’ah yang sesungguhnya, yaitu membaca teks atau naskah yang mengandung makna sempurna. Jadi bukan pembelajaran al-tahajy, tetap dalam konteks qira’ah al-nushush. Tahap-tahap dalam pembelajaran makhraj dan shifat huruf adalah:

  • guru menyiapkan naskah bacaan yang sesuai dengan realitas peserta didik, yakni sesuai dengan kemampuan rata-rata peserta didik, sesuai dengan tingkat perkembangan nalar, psikologis, setting sosial dan tidak terlalu asing bagi peserta didik.
  • guru meminta seluruh peserta didik untuk membaca di dalam hati, kemudian memilih ketepatan harakat dan sambil merenungkan makna yang terkandung
  • setelah semua peserta didik diperkirakan sudah membaca sekilas, kemudian guru meminta beberapa peserta didik untuk membaca dengan bergilir dan yang lain menyimak secara cermat.
  • ketika peserta didik sedang membaca, guru membuat catatan-catatan tentang hasil bacaan, misalnya mengenai kata-kata yang sering dibaca salah, atau huruf-huruf yang dirasa kurang bisa dibaca secara fashih.
  • selanjutnya, guru bisa menggunakan media audio atau audio visual tentang materi yang dimaksud.
  • berikutnya, guru melengkapi penjelesan dengan mengemukakan beberapa contoh lain di luar teks bacaan.
  • setelah itu, latihan membaca bunyi huruf-huruf yang sering salah tadi secara berulang-ulang dari kolektif seluruh peserta didik, lalu ke kelompok-kelompok kecil, sampai individual dan terakhir kolektif kembali.

Pertemuan kedua, materi pembelajaran qira’ah adalah tentang al-`awamil, `alamat i`rab, tarkib dan sighat. Pembelajaran materi tentang al-`awamil, `alamat i`rab, tarkib dan sighat tidak terlepas dari hakekat pembelajaran qira’ah yang sesungguhnya, yaitu membaca teks atau naskah yang mengandung makna sempurna. Jadi bukan pembelajaran al-`awamil, `alamat i`rab, tarkib dan sighat, seperti pada materi qawa`id, tetapi tetap dalam konteks qira’ah al-nushush. Tahap-tahap dalam pembelajaran al-`awamil, `alamat i`rab, tarkib dan sighat adalah:

  • guru menyiapkan naskah bacaan yang sesuai dengan realitas peserta didik, yakni sesuai dengan kemampuan rata-rata peserta didik, sesuai dengan tingkat perkembangan nalar, psikologis, setting sosial dan tidak terlalu asing bagi peserta didik.
  • guru meminta seluruh peserta didik untuk membaca di dalam hati, kemudian memilih ketepatan harakat dan sambil merenungkan makna yang terkandung
  • setelah semua peserta didik diperkirakan sudah membaca sekilas, kemudian guru meminta beberapa peserta didik untuk membaca dengan bergilir dan yang lain menyimak secara cermat.
  • ketika peserta didik sedang membaca, guru membuat catatan-catatan tentang hasil bacaan, misalnya mengenai kata-kata yang sering dibaca salah, atau huruf-huruf yang dirasa kurang bisa dibaca secara fashih.
  • selanjutnya, guru bisa menggunakan media audio atau audio visual tentang materi yang dimaksud.
  • berikutnya, guru melengkapi penjelasan dengan mengemukakan beberapa contoh lain di luar teks bacaan.
  • setelah itu guru membuka kesempatan untuk diskusi, tanya jawab untuk menganalisis hasil bacaan dari aspek al-`awamil, `alamat i`rab, tarkib dan sighat Misalnya, kata ini dibaca apa (i`rab), apa `alamatnya, mengapa memakai `alamat itu, shighatnya apa, jumlah fi`liyah atau jumlah ismiyah, dan seterusnya
  • setelah itu, latihan membaca bunyi huruf-huruf yang sering salah tadi secara berulang-ulang dari kolektif seluruh peserta didik, lalu ke kelompok-kelompok kecil, sampai individual dan terakhir kolektif kembali.

Pertemuan ketiga, mengikuti langkah yang sama dengan kedua langkah di atas, tetapi bedanya pada aspek penekanan, yaitu bukan pada pada makhraj dan shifat, bukan juga dari sisi qawa`id, tetapi pada aspek al-nabr,  al-tanghim, waqaf dan washalnya. Pada tahap ini pembelajaran lebih banyak menekankan pada latihan dan latihan, sehingga lidah menjadi terbiasa, menyatu antara pikiran dan ucapan dan sampai nampak seperti penutur bahasa asli.

Selain media audio atau audio visul, media lain yang dapat digunakan dalam pembelajaran qira’ah adalah “kartu qira’at”. Kartu qira’at yang dimaksud adalah, kartu yang terbuat dari kertas yang berisi materi pembelajaran. Materi pembelajaran yang dimaksud terdiri dari berbagai macam aspek keterampilan qira’at. Berikut akan diuraikan berbagai karakteristik kartu qira’at sebagai media pembelajaran materi qira’at.

a. Kartu pesan pembelajaran (بطاقات تنفيذ التعليمات)

Kartu pesan pembelajaran adalah secarik kertas yang di dalamnya tertulis kalimat yang mengandung pesan atau perintah yang harus dilakukan oleh peserta didik. Sebelum proses pembelajaran dimulai, guru telah menyiapkan kartu ini sesuai dengan jumlah peserta didik. Setiap peserta didik dibagikan satu kartu, kemudian guru memanggil satu persatu dan meminta mereka untuk melaksanakan pesan yang setiap kartu yang dimilikinya.

b. Kartu memilih jawaban yang tepat (بطاقات اختيار الإجابة الصحيحة)

Bentuk kartu ini sama dengan dengan kartu pesan pembelajaran seperti di atas, namun bedanya adalah pada isi kartu. Kartu ini berisi sebuah cerita pendek, dan di bawahnya tertulis pertanyaan dan daftar jawaban yang harus dipilih salah satu. Setiap kartu diberi nomor sebagai tanda, dan setiap peserta didik menulis jawaban yang tepat di dalam buku tulis masing-masing. Jumlah kartu mungkin tidak sebanyak jumlah peserta didik, misalnya sepertiga dari jumlah peserta didik. Misalnya jumlah peserta didik ada tiga puluh orang, maka kartu yang disiapkan ada sepuluh dengan nomor kartu satu sampai sepuluh. Kartu nomor satu dibagikan kepada tiga orang, demikian untuk kartu nomor sampai kartu nomor sepuluh. Setelah semua peserta didik menulis jawabannya di dalam buku tulis masing-masing, guru membahas jawaban setiap kartu, namun sebelumnya peserta didik untuk membaca setiap kartu dan jawaban yang dipilih.

c. Kartu jawaban dari satu soal (بطاقات الإجابة عن سؤال واحد)

Kartu ini hampir sama dengan kedua jenis kartu di atas, hanya bedanya isi kartu ini berupa cerita pendek dan satu pertanyaan yang harus dijawab. Jumlah kartu bisa sebanyak jumlah peserta didik dengan masing-masing isi kartu yang berbeda atau seperti kartu kedua hanya beberapa saja, tetapi kemudian setiap nomor kartu harus dijawab oleh setiap peserta didik. Misalnya ada sepuluh nomor kartu, berarti sepuluh pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap peserta didik. Jawaban tetap ditulis di dalam buku tulis masing-masing. Setelah itu guru meminta masing-masing peserta didik untuk membacakan hasil jawaban masing-masing nomor kartu, dan selanjutnya dibahas bersama-sama.

d. Kartu kuis (بطاقات الألفاز)

Bentuk kartu ini hampir sama dengan kartu pesan pembelajaran, tetapi berbeda dalam isi. Kartu ini berisi petunjuk-petunjuk yang merupakan ciri khas sesuatu yang menjadi pertanyaan inti. Misalnya untuk menebak huruf khalaq, maka kata-kata petunjuknya meliputi; kami berjumlah enam, saya berada di bawah kepala, kalau ada nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu dari kami, maka cara membacanya harus jelas, siapakah kami?. Kartu bisa dibuat sebanyak jumlah peserta didik atau beberapa saja dengan dilengkapi nomor kartu, lalu setiap peserta didik mendapat satu kartu atau semuanya, tergantung dari kemauan guru dan jumlah waktu yang tersedia. Setelah itu setiap peserta didik untuk membacakan kartu masing-masing dan hasil jawannya secara bergilir, dan terakhir guru menjelaskan jawaban yang tepat, bila perlu disertai dengan penjelasan dengan mengemukakan contoh-contoh lain.

e. Kartu melengkapi atau menyempurnakan (بطاقات التكميل)

Bentuk kartu ini sama dengan kartu-kartu lain di atas, tetapi isinya memuat kalimat atau ungkapan yang belum sempurna. Kata-kata atau kalimat untuk menyempurnakannya tersedia di dalam kartu tersebut tetapi harus dipilih dan disusun secara tepat pada tempat-tempat yang kosong dari setiap kalimat yang tersedia. Jumlah kartu mengikuti model kartu-kartu di atas. Setelah itu guru meminta setiap peserta didik membacakan hasil jawabannya secara bergiliran, dan kemudian guru bersama-sama dengan peserta didik membahas hasil jawaban yang tepat, bahkan bila perlu guru menjelaskannya dengan contoh-contoh lain.

f. Kartu pertanyaan (بطاقات الأسئلة)

Kartu ini bentuknya sama dengan kartu-kartu sebelumnya, hanya saja isinya berupa bacaan, dan peserta didik diminta untuk membuat daftar pertanyaan dari isi bacaan tersebut.

g. Kotak cerita (صناديق القصص)

Kotak cerita adalah sebuah kotak kecil yang di dalamnya terdapat potongan-potongan kertas yang setiap potongnya tertulis kata. Bila potongan-potongan tersebut disusun secara benar, akan terdapat sebuah cerita pendek. Susunan cerita tersebut kemudian disalin di dalam buku tulis. Setiap kotak cerita diberi nomor sebagai tanda dan setiap peserta didik mendapat satu kotak.

  1. Membuat Alat Penilaian dan Evaluasi

Penilaian terhadap keterampilan qira’ah bisa dilakukan melalui tes lisan dan tes tertulis. Bila yang dinilai adalah keterampilan qira’ah shamitah, maka alat penilaian tes tertulis dapat dipergunakan secara efektif. Bentuk soal tes pun beragam sesuai dengan situasi, kondisi dan kepentingan, misalnya melalui lembar soal ujian seperti lazimnya tes-tes pada umumnya, atau dapat juga menggunakan media seperti kartu-kartu sebagaimana di jelaskan di atas. Namun apa bila yang dinilai keterampilan qira’ah jahriyah, alat penilaian tes tertulis kurang tepat digunakan, sebab aspek penilaian terletak pada oral atau lisan, seperti menyebutkan bunyi huruf, mempraktekkan gaya membaca dan seterusnya. Setelah penilaian hasil belajar keterampilan dilaksanakan, hal penting yang harus disadari adalah nilai penting dari kegiatan penilaian itu sendiri, apa sesungguhnya manfaat penilaian bagi sistem pembelajaran. Artinya kegiatan penilaian harus menjadi bahan evaluasi sistem pembelajaran yang telah berlangsung.

Evaluasi adalah sebuah kegiatan yang sangat penting dalam sistem pembelajaran. Evaluasi bukan sekedar menilai hasil belajar yang diperoleh peserta didik dalam ujian atau tes. Evaluasi lebih melihat hubungan antar unsur dan komponen pembelajaran yang saling terkait. Bila tes atau ujian dipandang sebagai alat untuk menilai prestasi atau tingkat kemampuan peserta didik dalam menguasai materi pembelajaran atau secara riil, sebagai alat untuk menunjukkan tingkat kemampuan menjawab soal ujian, maka evaluasi justru mempertanyakan sebab akibat yang menimbulkan diraihnya suatu prestasi atau hasil ujian peserta didik. Bila tes ujian atau penilaian lebih menekankan pada peserta didik sebagai sasaran, maka evaluasi tidak demikian. Evaluasi justru mempertanyakan faktor-faktor yang lebih kompleks dari sekedar peserta didik sebagai sasaran itu, misalnya masalah interkoneksi antara peserta didik dengan penampilan guru ketika mengajar, interkoneksi antara karakteristik peserta didik dengan metode yang digunakan guru dalam mengajar, interkoneksi materi pembelajaran dengan sumber belajar dan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik, interkoneksi antara materi pembelajaran dengan sistem penilaian yang digunakan dan seterusnya.

D. SISTEM PEMBELAJARAN KETERAMPILAN KITABAH

(تعليم مهارات الكتابة)

Menulis atau kitabah adalah salah satu aspek keterampilan bahasa Arab. Bagi peserta didik non Arab menulis Arab merupakan materi pembelajaran bahasa Arab yang termasuk dalam kategori “sukar”. Hal ini disebabkan karena mereka belajar telah terbiasa menulis dengan menggunakan tulisan latin, sedangkan kaidah menulis latin berbeda dengan kaidah menulis Arab. Dalam tulisan latin, semua lambang bunyi dapat ditulis dengan huruf baku, tanpa harus diberikan tanda tertentu, akan tetapi dalam sistem tulisan Arab tidak seperti itu. Lambang bunyi Arab, selain ditulis dengan lambang huruf, juga ditentukan oleh tanda yang ada pada huruf tersebut. Satu huruf Arab bisa mempunyai bunyi lebih dari satu macam, bila diberi tanda yang berbeda.

Agar proses pembelajaran kitabah dapat berjalan dengan efektif dan efisien, seorang guru bahasa Arab hendaknya memahami prinsip-prinsip dasar dalam pembelajaran kitabah. Di antara prinsip-prinsip dasar yang harus dipahami oleh guru bahasa Arab dalam pembelajaran kitabah adalah sebagai berikut:

  • Metode pembelajaran kitabah bagi orang Arab berbeda dengan metode pembelajaran kitabah bagi orang non Arab, namun tetap sama dalam hal materi. Bagi orang Arab, belajar menulis Arab dimulai sejak ia masuk sekolah bahkan sangat mungkin usia pra sekolah, melalui bimbingan orang tua dalam rumah tangga. Sedangkan bagi orang non Arab belajar kitabah justru harus disampaikan setelah materi istima`, kalam, dan qira’ah.
  • Bagi orang Arab, belajar menulis Arab sejak awal dianggap sebagai kegiatan menulis, namun bagi orang non Arab berbeda, yakni pada awalnya ia akan menulis Arab bagaikan melukis sebuah gambar tertentu. Artinya, bagi orang Arab belajar menulis akan dapat berjalan dengan cepat sejak masa awal-awal belajar, namun berjalan lebih lambat bagi orang non Arab.
  • Adanya pengaruh bahasa ibu. Bagi orang non Arab, pada umumnya sudah terbiasa menulis dari arah kiri ke kanan, namun ketika menulis Arab harus dari arah terbalik, yakni dari kanan ke kiri.
  • Akurasi tulisan Arab banyak dipengaruhi dari latihan mendengarkan secara tepat, dengan memahami perbedaan setiap karakteristik bunyi huruf dan banyak memperhatikan contoh-contoh tulisan kata-kata yang umum digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Lebih dari itu, dengan memperhatikan karakter tulisan yang benar, misalnya huruf apa saja yang ditulis di atas garis, mana yang harus di bawah garis, seberapa tinggi tulisan dibandingkan dengan huruf standar lainnya, bagaimana karakter rigit, titik dan sebaginya.
  • Kitabah merupakan salah satu aspek kemahiran/keterampilan bahasa Arab, oleh karena itu perlu memanfaatkan aspek keterampilan yang lain untuk kelancaran pembelajaran kitabah.

Prinsip-prinsip tersebut di atas merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam sistem pembelajaran kitabah. Berbicara tentang sistem pembelajaran keterampilan kitabah sesunguhnya berbicara mengenai unsur-unsur dan komponen yang saling terkait dan saling mempengaruhi dalam proses pembelajaran kitabah. Artinya ada unsur guru, peserta didik, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, media yang digunakan, alat penilaian yang dipakai dan sistem evaluasinya. Berikut akan diuraikan masing-masing unsur sistem pembelajaran kitabah dalam konteks perencanaan pembelajarannya di dalam kelas.

  1. Tujuan Pembelajaran Keterampilan Kitabah.

Secara umum, tujuan pembelajaran kitabah adalah sebagai berikut:

  1. peserta didik memahami struktur tulisan setiap huruf
  2. peserta didik memahami setiap perubahan karakter tulisan setiap huruf arab.
  3. peserta dididik memahami karakteristik harakat huruf arab.
  4. peserta didik memahami tanda baca huruf arab
  5. peserta didik mampu menulis kata demi kata dalam kalimat sempurna secara sistematis, lengkap dengan tanda baca.
  6. peserta didik mampu menulis kata demi kata yang pernah dilihat.
  7. peserta didik mampu menulis kata demi kata yang didengar.
  8. peserta didik mampu menulis kalimat demi kalimat yang mencerminkan gagasan di dalam pikirannya.
  9. menumbuhkan motivasi dan minat peserta didik untuk menulis dalam rangka mengembangkan gagasan-gagasan tertentu.

Tujuan-tujuan pembelajaran kitabah sebagaimana tersebut di atas, merupakan tujuan yang masih bersifat umum dan abstrak. Oleh karena itu perlu spesifikasi tujuan secara kongkrit, terukur dan bersifat operasional dalam setiap proses pembelajaran kitabah. Artinya, setiap tujuan umum diperlukan tujuan khusus yang dapat dicapai dalam setiap kali tatap muka. Contoh, bila tujuan pembelajaran adalah agar peserta didik memahami struktur tulisan setiap huruf  Arab, maka tujuan tersebut dapat dibuat menjadi lebih spesifik sebagai berikut:

  • peserta didik mampu memahami karakteristik tulisan huruf berstruktur tunggal, meliputi; ا, د, ر, ء , و , ه
  • peserta didik mampu memahami karakteristik tulisan huruf berstruktur ganda, meliputi; ب , و, ت, ث, ز, ذ, ك, س, ص, ط, ع,  ف, ق, ل, م, ن, ي, ح
  • peserta didik mampu memahami karakteristik tulisan huruf berstruktur tiga, meliputi; ج خ, ش, ض, ظ, غ ,

Demikianlah contoh bagaimana cara mengembangkan konsep tujuan pembelajaran yang masih bersipat umum dan abstrak menjadi tujuan yang lebih besifat khusus, kongkrit, terukur dan operasional. Contoh tersebut dapat digunakan salah satu model untuk mengembangkan tujuan-tujuan pembelajaran kitabah yang lainnya.

  1. Menyusun Materi Pembelajaran Kitabah.

Materi pembelajaran kitabah yang baik harus disusun berdasarkan pertimbangan beberapa faktor penting; yaitu, tujuan yang ingin dicapai, prinsip dasar pembelajaran kitabah, realitas kemampuan dasar yang dimiliki oleh peserta didik dan kebutuhan yang ingin dipenuhi. Untuk lebih memudahkan dalam memahami konsep ini, uraian mengenai menyusun materi pembelajaran kitabah akan menyertakan contoh kongkrit dengan mempertimbangkan tujuan sebagai faktor utama dalam menyusun materi pembelajaran. Tujuan, menjadi faktor utama yang dijadikan dasar menyusun materi pembelajaran didasarkan asumsi bahwa tujuan pembelajaran sesungguhnya merupakan rumusan kongkrit dari realitas peserta didik, kebutuhan yang ingin dipenuhi dan cita-cita yang ingin dicapai.

Bila tujuan pembelajaran kitabah adalah agar peserta didik memahami struktur tulisan setiap huruf  Arab, maka materi pembelajaran berupa:

  1. mengenal dan memahami struktur tulisan huruf arab berstruktur tunggal. materi mengenai huruf arab berstruktur tunggal meliputi huruf-huruf; ا, د, ر, ء , و ه dengan menguraikan karakteristik huruf-huruf tersebut ketika berdiri sendiri, ketika berada di awal dan bertemu dengan huruf-huruf lainnya, ketika di tengah, didahului dan bertemu dengan huruf-huruf lainnya, dan juga ketika di akhir kata dan didahului oleh huruf-huruf lainnya.
  2. mengenal dan memahami huruf arab berstruktur ganda. materi mengenai huruf arab berstruktur ganda meliputi huruf; ب , و, ت, ث, ز, ذ, ك,  س, ص, ط, ع,  ف, ق, ل, م, ن, ي, ح , dengan menguraikan karakteristik huruf-huruf tersebut ketika berdiri sendiri, ketika berada di awal dan bertemu dengan huruf-huruf lainnya, ketika di tengah, didahului dan bertemu dengan huruf-huruf lainnya, dan juga ketika di akhir kata dan didahului oleh huruf-huruf lainnya.
  3. mengenal dan memahami huruf arab berstruktur tiga. Materi mengenai huruf arab berstruktur tiga meliputi huruf; ج خ, ش, ض, ظ, غ ,, dengan menguraikan karakteristik huruf-huruf tersebut ketika berdiri sendiri, ketika berada di awal dan bertemu dengan huruf-huruf lainnya, ketika di tengah, didahului dan bertemu dengan huruf-huruf lainnya, dan juga ketika di akhir kata dan didahului oleh huruf-huruf lainnya.

Bila tujuan pembelajaran kitabah adalah agar peserta didik memahami tanda baca, maka materi pembelajaran berupa:

  1. mengenal dan memahami karakteristik harakat materi mengenai harakat tunggal meliputi harakat; fathah, kasrah, dhammah, sukun dan syaddah.
  2. mengenal dan memahami karakteristik harakat Materi mengenai harakat ganda meliputi harakat; fathatain, kasratain, dan dhammatain.
  3. memahami karakteristik huruf-huruf berharakat khusus, seperti harakat huruf ‘illah, dan harakat huruf akhir dari isim ghairu munsharif.

Bila tujuan pembelajaran kitabah adalah agar peserta didik mampu menulis kata demi kata dalam kalimat sempurna secara sistematis, maka materi pembelajaran berupa:

  1. latihan menyusun jumlah ismiyah dengan segala bentuknya, seperti jumlah ismiyah dengan menggunakan mubtada’ khabar biasanya, jumlah ismiyah dengan menggunakan khabar muqaddam, mubtada’ mu’akhar, dengan menggunakan jumlah mu’taridhah dan sebagainya.
  2. latihan menyusun jumlah fi`liyah dengan segala bentuknya, seperti jumlah fi`liyah dengan menggunakan fi`il lazim, fi`il muta`ady, fi`il mabni majhul dan sebagainya.
  3. latihan menyusun jumlah ismiyah dengan menggunakan `awamil nawasikh, manfy dan sebagainya
  4. latihan menyusun jumlah fi`liyah dengan menggunakan `awamil nawasikh, dan sebagainya.

Bila tujuan pembelajaran kitabah agar peserta didik  mampu menulis kata demi kata yang pernah dilihat, maka materi pembelajaran berupa:

  1. latihan menyalin materi pembelajaran yang telah dipelajari, misalnya materi qira’ah yang telah dipelajari sebelumnya.
  2. latihan menyalin materi yang telah dihapal, misalnya nazham qawa`id.
  3. menyalin materi-materi yang berkenaan dengan pengetahuan umum, misalnya tentang ayat-ayat al-Qur’an.

Bila tujuan pembelajaran kitabah agar peserta didik mampu menulis kata demi kata yang didengar, maka materi pembelajaran berupa:

  1. latihan dikte tentang pengetahuan secara umum.
  2. latihan menyalin materi muhadatsah yang pernah diberikan tanpa melihat teks.
  3. latihan menulis materi qira’ah yang sedang didengarkan, dan sebagainya.

Bila tujuan pembelajaran kitabah agar peserta didik mampu menulis kalimat demi kalimat yang mencerminkan gagasan di dalam pikirannya, maka materi pembelajaran berupa:

  1. latihan menulis karangan terbimbing
  2. latihan menulis karangan bebas
  3. latihan menulis karangan berbentuk narasi
  4. latihan menulis karangan yang berbentuk argumentasi
  5. latihan menulis karangan yang berbentuk khithaby
  6. dan sebagainya

Demikianlah uraian mengenai contoh-contoh cara menjabarkan tujuan ke dalam  materi pembelajaran. Cara ini dapat digunakan untuk bidang-bidang pembelajaran bahasa Arab lainnya. Namun demikian keberhasilan pembelajaran bahasa Arab, khususnya kitabah tidak hanya ditentukan dengan penyusunan materi yang baik, tetapi juga dipengaruhi oleh ketepatan memilih metode dan media pembelajaran yang digunakan.

  1. Memilih Metode Dan Media Pembelajaran Kitabah

Metode dan media pada dasarnya digunakan sebagai alat dan teknik untuk menunjang efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran. Artinya jangan sampai penggunaan media dan metode justru menambah beban atau menyita perhatian dan waktu yang sesungguhnya tidak perlu terjadi, misalnya karena pengoperasiannya terlalu rumit, terlalu banyak membutuhkan dana dan sebagainya. Oleh karena perlu pertimbangan yang matang sebelum penerapan suatu metode atau pun media pembelajaran. Faktor utama yang menjadi pertimbangan dalam memilih metode dan media pembelajaran adalah realitas karakteristik modalitas peserta didik. Bila mayoritas peserta didik di dalam kelas mempunyai modalitas auditorial, maka media audio dan metode ceramah dapat digunakan secara efektif. Namun bila modalitas yang dimiliki peserta didik kebanyakan visual, maka metode ceramah kurang efektif, dan metode yang tepat adalah patern drill dengan menggunakan media visual. Sementara bagi peserta didik yang mempunyai modalitas kinestetik, akan lebih tepat bila menggunakan metode penugasan, bermain peran dengan menggunakan media audio visual sekaligus, serta dialogis. Dalam hal ini kartu pembelajaran seperti yang digunakan dalam pembelajaran qira’ah, dapat digunakan.

  1. Membuat Alat Penilaian dan Evaluasi

Penilaian terhadap keterampilan kitabah bisa dilakukan melalui tes lisan dan tes tertulis. Bila yang dinilai adalah keterampilan menulis apa yang didengar, maka alat penilaian tes lisan dapat dipergunakan secara efektif. Tes lisan yang dimaksud berupa soal-soal dikte, atau dengan menggunakan media audio, misalnya menulis apa yang didengar dari suatu percakapan atau cerita yang ditampilkan dari sebuah kaset tape recorder. Sedangkan bentuk tes tertulis dapat digunakan, bila untuk menilai kemampuan menulis apa yang dilihat, atau apa yang menjadi gagasan. Tes tertulis ini dapat ditampilkan dengan menggunakan media visual seperti gambar atau film. Kemudian masalahnya adalah materi tesnya seperti apa?. Materi tes sesungguhnya adalah materi pembelajaran yang telah diberikan dengan mengacu pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

Bila yang ingin dilihat adalah kemampuan peserta didik dalam memahami struktur tulisan huruf arab, maka materi tes berupa:

  1. ketepatan menulis huruf perhuruf sesuai dengan strukturnya
  2. ketepatan menulis huruf perhuruf sesuai dengan kaidah kitabiyah, terutama perubahan bentuk huruf berdasarkan posisinya dalam suatu kata
  3. ketepatan menulis huruf-perhuruf sebagai lambang bunyi.

Bila  yang ingin dilihat adalah kemampuan peserta didik dalam memahami karakteristik harakat huruf arab, maka materi tes berupa:

  1. ketepatan menulis harakat huruf perhuruf sesuai dengan kaidah nahwiyah
  2. ketepatan menulis harakat huruf perhuruf sesuai dengan kaidah sharfiah
  3. ketepatan menulis harakat huruf perhuruf sesuai dengan kaidah imla’ secara umum.

Bila yang ingin dilihat adalah keemampuan peserta didik dalam memahami tanda baca huruf arab, maka materi tes berupa:

  1. ketepatan menggunakan tanda koma dalam suatu kalimat
  2. ketepatan menggunakan tanda titik
  3. ketepatan menggunakan tanda seru
  4. ketepatan menggunakan tanda petik
  5. dan sebagainya.

Bila yang ingin dilihat adalah kemampuan peserta didik dalam menulis kata demi kata dalam kalimat sempurna, maka materi tes dapat berupa:

  1. ketepatan menggunakan kata sebagai mubtada’ dan khabar dalam jumlah ismiyah
  2. ketepatan menyusun kata demi kata dalam konteks jumlah fi`liyah
  3. ketepatan menggunakan kata keterangan dalam konteks kalimat sempurna
  4. ketepatan memilih kata yang sesuai dengan konteks kalimat sempurna.

Bila yang ingin dilihat adalah kemampuan peserta didik mampu menulis kalimat demi kalimat yang mencerminkan gagasan di dalam pikirannya, maka materi tes berupa:

  1. gaya bahasa yang dipakai dalam karangan
  2. makna yang terkandung dalam karangan
  3. ketepatan dalam menggunakan tanda baca.

Setelah di dilakukan tes, baik lisan maupun tertulis, langkah selanjutnya adalah bagaimana mengolah hasil tes tersebut sebagai bahan evaluasi menyeluruh. Langkah evaluasi dapat mengikuti pola seperti dalam keterampilan istima`, kalam dan qira’ah sebagaimana telah tersebut di atas, hanya saja penekanannya lebih pada aspek kitabah sebagai akibat dari interkoneksi antar unsur dalam sistem pembelajaran.

III. Penutup

A. Kesimpulan

Berdasarkan paparan yang telah dikemukakan dalam tulisan ini, penulis dapat menyimpulkan bahwa, mengenai contoh-contoh cara menjabarkan tujuan ke dalam  materi pembelajaran. Cara ini dapat digunakan untuk bidang-bidang pembelajaran bahasa Arab lainnya. Namun demikian keberhasilan pembelajaran bahasa Arab, khususnya kitabah tidak hanya ditentukan dengan penyusunan materi yang baik, tetapi juga dipengaruhi oleh ketepatan memilih metode dan media pembelajaran yang digunakan.

Bahasa sebagai sistem yang terdiri dari unsur-unsur fungsional menunjukan satukesatuan yang tak dapat dipisah-pisahkan (integral). Karena itu, ketidakmampuan guru dalam satu sub-sistem linguistik akan berpengaruh pada hasil atau output pengajaran.  Subsistem bahasa yang dimaksud terdiri dari tata-bunyi, kosakata, tata-kalimat, dan ejaan (tulisan).

Peningkatan kemampuan guru bahasa arab dalam faktor pengetahuan dan keterampilan fonologi system akan membantu mereka untuk mempermudah dalam mengerjakan tugas mengajar dan sekaligus dapat menjadi tauladan yang baik buat peserta didiknya. Jelas ini akan memberikan dampak langsung berupa penurunan kesalahan pengucapan sekaligus kesalahan pendengaran pada lawan bicara. Disini bunyi/ucapan/suara adalah basic dalam belajar linguistik arab sebelum tahapan kemahiran berikutnya. Secara runtut tahap pembelajarannya sebagai berikut; menyimak (al-istima’, listening), berbicara (alkalam, speaking), membaca (al-qira’ah, reading), dan menulis (kitabah, writing).

B. Saran

Berdasarkan hasil kesimpulan, maka peneliti mengemukakan saran-saranyang diharapkan oleh penulis  dan bermanfaat bagi peningkatan kualitas pembelajaran bahasa arab. Beberapa saran terebut dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Fungsi bahasa salah satunya adalah alat komunikasi, untuk itu agar peserta didik cepat mahir dalam keterampilan berbasa arab sudah seharusnya setiap pelaksanaan diklat bahasa arab bahasa komunikasinya dengan menggunakan bahasa arab baik didalam kelas maupun diluar kelas.
  2. Metode atau pendekatan yang dipakai dalam proses pembelajaran bahasa arab harus senantiasa disesuaikan dengan kondisi kebutuhan yang terjadi.
  3. Kemampuan dalam menggunakan bahasa sebagai media komunikasi merupakan salah satu kunci dan dasar keberhasilan manusia dalam hidupnya.
  4. Peran bahasa bagi kehidupan manusia demikian penting sehingga pengajaran bahasa menuntut kecermatan, tujuannya agar bahasa bermakna fungsional.

 

Daftar Pustaka

Ahmad Ibn `Ali al-Buniy, Syams al-Ma`arif al-Kubra, (Beirut: Maktabah al-Sabaniyah, 1985)

Al-Zarnuji, Ta`lim al-Muta`allim, (Kudus: Menara Kudus, 1963)

As`ad Humam, K.H., Iqra’ , Cara Cepat Belajar Membaca al-Qur’an, (Yogyakarta: Team Tadarrus al-Qur’an “AMM”, t.t.)

Barbaour Ian, G., Issues in Science and Relegion (New York: Prentice-Hall, Inc, 1966)

Berger, Peter L. dan Luckmann, Thomas, The Social Contruction of Reality,  a Treatise in the Sociology of Knowledge, (New York: Doubleday & Company, 1966)

Buku Pedoman Kurikulum Pembelajaran  Membaca al-Qur’an TK. al-Qur’an Sunan, (Ngunut Tulung Agung: Emyu Com, Ltd, 1999)

Dachlan Salim Zarkasyi, Metode Praktis Belajar Membaca al-Qur’an: Qira’aty, jilid I-X, (Semarang: al-Alawiyah, t.t)

Fachrurrazi, H., Terjemahan Yasin Fadhilah Berikut Do`a-do`anya, (Sinar Baru Algesindo, t.t)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.