Serba Serbi Pembelajaran Model Akselerasi

0
36

Pembelajaran Model Akselerasi

Oleh Drs.Suberia.MM

Model Akselerasi yang dirintis oleh Asih Putera mungkin agak berbeda dengan ’Konsep Akselerasi’ yang dikembangkan oleh masyarakat pada umumnya. Yang berkembang dan sedang dilakukan oleh hampir seluruh sekolah dan madrasah di masyarakat hampir semua mensyaratkan hal-hal seperti berikut:

              Dari piktogram di atas kita dapat membaca, bahwa memang benar syarat seseorang masuk kelas akselerasi (pada umumnya di sekolah/ madrasah) minimal  menurut seorang psikolog harus memiliki skor IQ 120 dan EQ 120an pula. Mengapa hanya siswa yang memiliki skor seperti itu saja yang dianjurkan  psikolog atau pakar psikologi? Jawabnya hanya merekalah yang akan mampu belajar dengan baik. Di sisi lain bukankah makna akselerasi yang secara teori terus-menerus berkembang dengan makna agak berbeda, yaitu suatu proses belajar yang secara sadar direkayasa agar mudah dipahami, mudah dipelajari, mudah diserap, murah biaya, dan dilakukan dengan gembira. .           Seperti paradoks di satu sisi siswa yang tidak punya dua syarat tadi dilarang masuk kelas akselerasi sementara pada teori akselerasi sendiri tidak ada persyaratan khusus bagi siapa saja yang mau mengaplikasikan program ini dapat dipastikan akan menghasilkan tujuan yang diinginkan (sukses). Hal ini dapat dibuktikan pada beberapa hasil penelitian, salah satunya adalah hasil sebuah survey di 750 sekolah dasar 24000 siswa di Amerika Serikat. Penelitian mengungkapkan bahwa siswa di bagi 2 kelompok. Kelompok I proses pembelajaran berlangsung di ruangan dengan cahaya dari lampu listrik, sedangkan kelompok II para siswanya lebih banyak belajar di ruang yang disinari banyak cahaya matahari. Hasilnya cukup bisa dirasakan, prestasi mata pelajaran mereka naik antara 8-12 % bagi siswa yang proses belajarnya lebih banyak mendapat cahaya matahari jauh hasilnya, sementara yang di ruangan serta mendapat cahaya listrik tidak ada peningkatan. Inilah salah satu metode/ cara/ trik yang dikembangkan dalam proses pembelajaran akselerasi, bukan semata loncat kelas.

            Kami berkeyakinan, jika para guru dan siswa banyak mengaplikasikan praktek-praktek rumus pembelajaran model akselerasi jumlah waktu studi sangat mungkin lebih pendek, lebih sedikit, lebih hemat, dst. Bagi Asih Putera sebenarnya telah mencoba pada beberapa angkatan siswa MTs sejak 2004 lalu. Hasil dari pengamatan dan fakta yang ada pada diri siswa yang mengikuti akselerasi ini, pada umumnya mereka sangat enjoy, tidak nampak rasa egois dan sosialisasinya bagus. Mereka lulus dengan baik walaupun tidak sangat istimewa. Pengamatan kita juga melihat, bahwa para siswa yang telah mengikuti (semacam uji coba) akselerasi tersebut rata-rata memiliki kematangan emosional yang baik, kehidupan sosialnya cukup baik, aktif dan memiliki kreatifitas yang baik.

            Sebaliknya sosok para siswa lain yang bukan siswa akselerasi mereka juga cukup menghargai akan kelebihannya, tidak ada cemoohan, seperti pada umumnya di sekolah tertentu biasanya siswa akselerasi mendapat julukan ’kutu buku’ misalnya karena dalam keseharian ia hanya berkutat dengan buku dan setumpuk tugas-tugas yang harus diselesaikan, tapi kita bersyukur tidak terjadi julukan seperti tadi di MTs Asih Putera. Jadi pada hemat penulis, dasar pemikirannya cukup kuat, mengapa AP berani melaunchingkan program belajar akselerasi ini, bagi MI cukup 5 tahun saja, asumsinya bahan ajar kelas 4-6 dipersiapkan khusus untuk UASBN, sedangkan bahan ajar 1-3 dijadikan 2 th. Matapelajaran pokoknya hanya merupakan pembelajaran calistung yang dimodifikasi/ direkayasa oleh para guru, targetnya adalah mampu mengikuti pembelajaran secara maksimal untuk kls 4-6. Kematangan sosial insyaallah lebih ditajamkan melalui program tamyiz, yaitu sebuah kurikulum khas AP yang dibuat untuk memberikan bekal life skill bagi siswa kelas bawah termasuk di dalamnya dilatihkan kecerdasan emosional, sosial, dan spiritualnya.

            Bagi siswa Madrasah Tsanawiyah lama belajarnya 2 thn, hal ini dilakukan dasarnya seperti sampel yang telah dilaksanakan selama 4 tahun, hasil akhir siswa akselerasi secara sosial, psikologis dan spiritual mereka cukup baik. Mereka tidak menjadi siswa yang eksklusif, mereka biasa-biasa saja bergaul dan berteman dengan teman-teman lainnya.Sistem penyelenggaraan memang pada hemat kami ada beberapa catatan yang ke depan tidak perlu lagi terjadi, berhubungan dengan administrasi dan komunikasi dengan matapelajaran lainnya.

            Perkembangan sosial, psikologis dan spiritual siswa merupakan dasar pertimbangan utama dalam akselerasi, mengapa? Seorang psikolog bahkan kurang menyarankan akselerasi dilakukan dua kali, misalnya seorang siswa di MI ikut akselerasi dan MTs juga akselerasi, bagaimana dengan program AP. Dasar pemikiran psikolog tadi baru pada batas ’tolong hati-hati’ bukan pada persoalan kegagalan. Jika bicara gagal sebelum berbuat ada usaha, ikhtiar, doa maka bagaimana mungkin  kita dapat memberikan karya unggul. Adalah sebuah keberanian dan tantangan, bisakah civitas akademika AP menjawab tantangan ini, mampukah kita memberikan pola yang tepat sehingga para siswa tetap bisa bergaul secara sosial dengan baik, memiliki kematangan psikologis dan berkembang sesuai perkembangannya, serta tetap cerdas secara spiritual dengan kreativitas, inovasi dan inspirasinya yang selalu memberikan nilai manfaat bagi lingkungannya. Program apa yang dapat secara khusus mempersiapkan para siswa tetap istiqomah, solusinya secara khusus dan telah terprogram di MTs AP ada program TAKLIF diharapkan ketiga perkembangan tsb mampu diasah dan ranngsang sehingga semua mampu hidup sesuai dengan ketiga perkembangan di atas.

            Pertimbangan akademik bagi penyelenggaraan akselerasi di MTs ini adalah dengan pemetaan kembali bahan ajar. Untuk bahan ajar yang overlapping bisa tidak diajarkan dua atau tiga kali, bahan ajar yang kurang penting menjadi bagian dari tugas mandiri siswa, sementara bahan untuk UN itu telah disiapkan oleh pemerintah dalam SKL (standar kelulusan), maka bahan ajar yang tidak ada dalam SKL ini tidak diajarkan saja pada siswa, agar lebih fokus. Jadi inilah yang dapat dijadikan landasannya, mengapa AP membuat program di MTs menjadi dua tahun. Datanya cukup kuat disertai bukti-bukti otentik yang valid dan sahih. Insyaallah menjadi motivasi dan mampu menghidupkan kembali kejayaan AP yang jagonya inovasi dan kreativitas sejak berdiri.

            Bagi Madrasah Aliyah Multiteknik Asih Putera, mengapa lama studi akademiknya 2 tahun dan 1 tahun untuk penajaman Life Skill (LS). Alasannya sama dengan yang telah dipaparkan terdahulu serta ada kekhususan, bahwa untuk memperoleh Life skill (LS) yang baik, lebih-lebih para siswa MAAP ini tuntutan kemandirian hidup harus sudah tertanam dengan baik, maka life skill merupakan solusi yang tidak bisa ditawar lagi, tantangan dunia semakin kompetitif menuntut setiap insan mampu survive di dalamnya, maka secara teknis bagi siswa yang 2 tahun selesai langsung mengikuti program ini, tapi belum diperbolehkan off dari MAAP, ijazahnya tidak diberikan dulu, karena ia harus mengikuti 1 tahun lagi, sesuai dengan LS yang siswa tekuni. Yang terbaik adalah meneruskan life skill sepanjang ia ikuti dalam masa studi 2 tahun. Mudah-mudahan ini dapat memberikan bekal yang cukup, apakah ia akan terjun langsung ke masyarakat (berwirausaha, dll) yang jelas setiap life skill oleh pihak AP akan berupaya untuk dihargai dalam bentuk sertifikat yang prioritasnya sertifikat internasional, jika seorang siswa mengikuti program life skill komputer, maka ia harus lulus program komputer standar internasional, dts.

            Lain halnya dengan siswa yang akan melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi, pihak MAAP tetap akan mendorong para siswanya untuk senantiasa berkarya unggul disamping menyelesaikan studinya, agar life skill yang telah diperoleh dapat bermanfaat terutama untuk membantu dana pendidikannya secara mandiri. Mengapa hal ini disampaikan? Fenomena dan fakta sekarang sudah sekian ribu bahkan ratus ribu tenaga lulusan S1 tidak mendapatkan lapangan kerja. Hal ini terjadi mungkin salah satunya adalah karena terlalu bertumpu pada ijazahnya, padahal  dunia nyata tidak demikian. Lapangan pekerjaan sedikit, jika ada mungkin kompetensi kita kurang, karenanya langkah yang dilakukan AP terhadap lulusan MAAP adalah sudah berada dalam program yang tepat sasaran.

            Secara sederhana konsep atau model akselerasi yang dikembangkan oleh Asih Putera diskemakan sbb:

TK1-2 th MI1-5 th* MTs1-2 th* MA1-2 +1 th LS
  • Pembelajaran di TK targetnya:
  1. Guru mampu memberikan stimulus positif pada anak dalam setiap aktivitasnya  agar    kecerdasan yang dimilikinya berkembang optimal.
  2. Suasana belajar yang love, fun  & happy
  • Pembelajaran di MI targetnya:
  1. Guru lebih mempertajam stimulus positif pada siswa agar kecerdasannya optimal serta     mengklasifikasikan siswa berdasarkan gaya belajar.
  2. Memberikan ruang belajar yang lebih terbuka dan luas dalam mengembangkan kecerdasannya.
  3. Suasana belajar yang love, fun  & happy

,

* Berdasarkan hasil rekomendasi seorang siswa memasuki program akselerasi, namun pihak atau orang tua menghendaki putra/i-nya tetap akan mengambil lama belajar 6 th, maka pihak Manajemen Asih Putera akan memfasilitasi-nya dengan memasukan siswa tsb.pada program MTs selama 1 th. Sebaliknya jika manajemen madrasah merekomendasikan seorang siswa belajarnya belum tuntas 5 th, maka ditambah lagi 1 th tetapi tetap di MI AP.

  • Pembelajaran di MTs targetnya:
  1. Guru mampu membimbing siswa MTs bahwa  mereka memiliki minat, bakat &kecerdasan tertentu dan harus ditekuni serta mengklasifikasikan siswa berdasarkan gaya belajar.
  2. Memberikan ruang belajar yang lebih terbuka dan luas dalam mengembangkan kecerdasan.
  3. Menyediakan sarana untuk melayani ekspresi kecerdasan siswa.
  4. Suasana belajar yang love, fun  & happy

 *Berdasarkan hasil rekomendasi seorang siswa memasuki program akselerasi, namun pihak orang tua menghendaki putra/i-nya tetap akan mengambil lama belajar 3 th, maka pihak Manajemen Asih Putera akan memfasilitasi-nya dengan memasukan siswa tsb.pada program MA selama 1 th.. Sebaliknya jika manajemen madrasah merekomendasikan seorang siswa belajarnya belum tuntas 2 th, maka ditambah lagi 1 th tetapi tetap di MTs AP.

        Pembelajaran di MA AP targetnya:

  1. Guru mampu membimbing siswa MTs bahwa  mereka  memiliki minat, bakat & kecerdasan tertentu dan harus ditekuni serta mengklasifikasikan siswa berdasarkan gaya belajar.
  2. Memberikan ruang belajar yang lebih terbuka dan luas dalam mengembangkan kecerdasannya.
  3. Menyediakan sarana untuk melayani ekspresi kecerdasan siswa.
  4. Siswa MAAP memiliki salah satu life skill yang ditekuninya semenjak ia tahun pertama sesudah lulus ia juga mendapatkan beberapa sertifikat keahlian.
  5. Suasana belajar yang love, fun  & happy

*     Berdasarkan hasil rekomendasi seorang siswa memasuki program akselerasi, namun pihak orang tua menghendakiputra/i-nya tetap akan mengambil lama belajar 3 th, maka pihak Manajemen Asih Putera akan memfasilitasi-nya dengan memasukan siswa tsb.pada program khusus MA selama 1 th. Sebaliknya jika manajemen madrasah merekomendasikan seorang siswa belajarnya belum tuntas 2 th, maka ditambah lagi 1 th tetapi tetap di MA AP.

Lanjutan:

            Jika kita hitung lama studi sejak TK bisa menjadi 12 tahun, berbeda 2 tahun dengan sistem yang umum, yakni jika dihitung juga dari TK 2 thn maka lama belajar akan menjadi 14 tahun.Selama studi di AP insyaallah akan mendapatkan layanan yang berkesinambungan dan berkelanjutan, mulai kurikulum, SDM, sarana, metode dan tentunya karena berkelanjutan kita punya quality assurance (jaminan mutu), sesudah lulus dari AP secara tuntas 12 tahun kita jamin siswa memiliki karakter unggul serta life skill.

            Struktur kurikulum memegang peran penting dalam meraih tujuan pembelajaran, karenanya strategi yang dibuat oleh AP untuk jumlah matapelajaran/ bidang studi yang disyaratkan oleh Departemen (Depag atau Depdiknas) secara kreatif diklasifikasikan kembali hingga jumlahnya tidak sebanyak muatan yang dianjurkan. Khususnya untuk MI, MTs, dan MA maka matapelajarannya dibagi menjadi 6 rumpun bisang studi yaitu: Pertama, Tafaqquh Fiddien (TF)  yaitu berisi matapelajaran agama Islam (aqidah –akhlak, fiqh, sejarah keb.Islam, dan al-Qur’an – Hadits) yang telah direkayasa kembali oleh team Manajer Bidang studi TF, keduaKetiga, Matematika, keempatKelima, Komunikasi yaitu berisi matapelajaran bahasa Inggris, Indonesia, Arab, Sunda, dan Jepang, keenam yaitu Life Skill memuat  mata pelajaran Seni (rupa, musik, teater, dan tari) dan olah raga. Sains & Teknologi, berisi matapelajaran Biologi, Fisika, Kimia, dan Komputer. Sosial dan PKn yaitu meliputi bahan ajar Geo grafi, Ekonomi, Sejarah Umum, Akuntansi, Sosiologi, Antropologi, Sosiologi dan PPKn.

            Dari 6 bidang studi tersebut, para guru membuat silabus terpadu masing-masing rumpun, kemudian dibuatkan bahan ajar berupa modul. Mengapa modul? Untuk melaksanakan program AL, maka sistem modul akan lebih adil dalam melayani siswa dari berbagai katagori kecepatan belajar. Kalau lembaga telah menetapkan lama studi dengan waktu tertentu, maka siswa dengan kecepatan menyelesaikan tugas belajarnya sangat mungkin bisa lebih cepat lagi dibanding waktu yang sudah tersedia. Bahkan untuk MTs dan MAAP untuk tahun ajaran 2009 nanti insyaallah diterapkan pola belajar e-learning bagi bidang studi tertentu, artinya kesiapan bahan ajar modul menjadi sebuah kebutuhan.

            Apa saja yang disajikan dari bahan ajar modul, yang ideal tentunya harus memuat beberapa komponen baku, namun demikian untuk sementara tahap awal, kita hanya menekankan kepada 3 komponen yang sederhana yaitu: Pertama, Guru hanya membuat pokok-pokok bahan ajar dalam satu bab banyaknya 1-3 halaman saja, berupa skema atau gambar/ foto, video yang erat dengan pokok bahasan, kedua, guru membuat soal berupa uji kompetensi kognitif siswa ( esai, PG, isian, gambar, scabble, dll) mungkin 1 halaman saja, dan ketiga berisi kesimpulan/ key word yang harus diingat sekali dalam bab ini dan juga dalam halaman ini dibuat daftar pustaka atau catatan kaki, halaman ini cukup 1 hlm saja. Jadi isi modul sederhana ini per-bab/ unit hanya berisi maksimal 5 halaman saja. Siswa dapat pula membawa buku referensi lainnya.

            Jika seorang siswa telah menyelesaikan satu bab dengan kriteria tuntas dalam bab itu, maka ia diperbolehkan melanjutkan studinya ke bab berikutnya tanpa harus menunggu teman-temannya yang belum tuntas.Guru harus dapat melayani dengan baik dan ramah setiap kebutuhan belajar siswa, tidak ada diskriminasi dan juga tidak ada istilah anak emas pada siswa. Tanda siswa selesai dalam satu bab/ unit diakhiri dengan uji kompetensi kognitif ( tes yang ada di modul) dan tes afektif & psikomotor oleh guru melalui alat evaluasi skala sikap dan praktek (lihat buku Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Pendidikan / PPKP yang telah diterbitkan YAP).

            Teknik belajar dalam model akselerasi yang dikembangkan AP insyaallah para guru banyak menguasai teknik belajar kreatif dan teknik berfikir kreatif. Dalam belajar kreatif agar kita mampu mengingat dengan tepat, maka dapat difokuskan pada 8 unsur penunjang asosiasi yaitu : 1) indra, yaitu segala sesuatu pasti akan dengan mudah diingat jika menggunakan indra, lebih hebat lagi jika yang digunakan indra dengan kombinasi yang banyak, 2) intens, yaitu untuk menjadi perhatian maka intens-kan dengan: penuh warna, berlebihan atau imajinatif, 3) lain sendiri, yaitu jika semua orang warna baju biru, maka tonjolkan sendiri dengan warna hijau, 4) emosional, yaitu buat kesan itu dengan penuh: cinta, kebahagiaan, dan kesedihan, insyaallah mudah diingat, 5) kemampuan untuk bertahan, yaitu bagaimana kita bisa bertahan dlm meningkatkan motivasi tekanannya adalah AMBAK (Apa Manfaat BagiKu), 6) keutamaan pribadi, yaitu asosiasikan dengan kehidupan kita seperti dengan: keluarga kita, teman, peristiwa, dll,

7) pengulangan, yaitu dengan cara mengulang-mengulang daya ingat, agar daya ingat lebih terasah, maka buatkan cara kreatif seperti mengulang dengan membuat peta pikiran atau mengucapkan dengan keras, dan 8) pertama & terakhir yaitu ingatan kita ketika bertemu dengan orang banyak pasti yang paling diingat orang yang pertama bertemu dan terakhir ketemu, demikian juga tatkala nonton film, hanya bagian awal dan akhir yang akan diingatnya, maka presentasi awal dan akhir akan menjadi penentu ingatan siswa.

            Selanjutnya berikut penulis kutipkan beberapa bagian cara belajar kreatif dari buku Quantum Quotien ( Agus nnggermanto), sbb:

  1. Sistem cantol, yaitu salah satu metode/ cara menghafal cepat (sudah dipraktekan sejak lama). Caranya adalah dengan membuat cantolan, mengasosiasikan dengan materi yang sedang dihafal, mengimajinasikan secara kreatif dan mengulanginya, jika diperlukan. Contoh belajar dengan cara cantolan akan dibahas secara khusus.
  2. Menyanyi, metode ini banyak digunakan terutama di TK dan SD, namun demikian trend masa kini tidak menutup kemungkinan diterapkan pada usia MTs dan MA (SMP-SMA).Bahan ajar yang demikian banyak dapat diringkas lalu dibuatkan lagu.
  3. Gerakan, salah satu teknik mengaktifkan memori adalah dengan melakukan gerakan, mengapa ? Otak kita memiliki satu pusat kecerdasan yaitu bodly-kinestethyc-intelligence – kecerdasan gerak. Dengan gerakan akan memicu pusat kecerdasan aktif. Bagi kaum muslimin contoh paling sederhana adalah tatkala mengerjakan shalat, gerakan disertai doa atau bacaan adalah keserasian yang membuat otot-otot lebih rileks, santai. Gerakan juga dapat membangkitkan semangat, mengusir kemalasan dan kejenuhan.
  4. Konsonan kreatif, yaitu teknik belajar menghafal nomor telepon, kode rahasian, dan bahkan menghafal buku dengan cara pertama mengganti angka-angka dengan huruf konsonan, lalu dibuat kata atau kalimat yang menarik sehingga mudah diingat dan dihafal. Misalnya angka 1 diganti dengan tu = T, angka 2 = dua= D, dst.Untuk selanjutnya contoh-contoh akan disampaikan kemudian.

            Pada sisi lain guru juga dituntut untuk berfikir kreatif, menurut  James C Coleman dan Coustance L Hammen yang dikutip kembali oleh Jalaludin Rahmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi ’thingking wich produces new methods, new concepts, new understandings, new inventions, new work of art’. Berfikir kreatif mengharuskan guru untuk mendesain pesan/ bahan ajar yang akan disampaikan (rpp, dst) dengan metodenya yang tepat, konsep yang benar, pemahaman yang baik, media yang tepat disertai cara melaksanakannya dengan penuh cinta.

            Pada intinya berfikir kreatif minimal memenuhi tiga syarat, yaitu pertama, kreativitas yang dibuat melibatkan respon atau gagasan baru, kedua, dapat memecahkan masalah secara realistis, dan ketiga kreativitas merupakan usaha untuk mempertahankan in-sight yang orisinal kemudian menilai dan mengembangkannya dengan sebaik mungkin. Berfikir kreatif akan tumbuh manakala didukung oleh personal dan situasional.

Maka berikut ini kami sampaikan faktor-faktor yang berpengaruh dalam menunjang proses berfikir kreatif, yaitu:

            Kemampuan kognitif, di dalamnya termasuk kemampuan di atas rata-rata dan fleksibilitas kognitif. Karenanya cara yang paling tepat dalam mengisi ruang potensi otak yang sedemikian besar ( menurut Tony Buzan: kapasitas otak manusia sebesar 10 pangkat 800 ( angka 10 diikuti 800 angka 0 dibelakangnya) yaitu dengan accelerated learning.

            Sikap yang terbuka, sikap seorang kreatif ia telah mempersiapkan dirinya dalam menerima stimulus baik internal maupun eksternal. Sikap inilah merupakan komitmen yang dipegang teguh. Manfaat dari seorang yang terbuka adalah ia akan menerima banyak informasi dan kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk menjadi kreatif.

            Sifat yang bebas, otonom, dan percaya pada diri sendiri, memang orang kreatif itu tidak senang ’digiring-giring’ , ia ingin menampilkan diri semau dan semampunya, tidak terlalu mau terikat dengan hal-hal yang sudah menjadi kesepakatan secara sosial. Maka sering orang kreatif itu dianggap ’nyentrik’ atau gila.

            Modal untuk menjadi kreatif itu bagaimana? Kreativitas itu adalah keterampilan. Siapa yang mau melakukan latihan-latihannya pastia ia dapat, asalkan melakukannya dengan benar, kreativitas bukan miliknya para seniman saja, tapi kita-pun punya peluang dan hak yang sama untuk menjadi kreatif. Adapun cara yang paling praktis untuk menjadi kreatif adalah: pertama, yakinkan pada diri kita kreatif dan bertindaklah sebagai seorang kreatif. Kedua, kita punya keajaiban otak yang supercanggih dibanding komputer sekalipun, kita diberikan keunggulan otak kreatif, ketiga, kita semua bisa membaca makna tulisan dan angka-angka, disamping tulisan dan angka tersebut kita juga mampu menangkap makna-makna lain dibalik realitas tulisan tsb.

            Sesudah meyakini diri kreatif, maka tindakan menjadi penentu untuk mewujudkan ide kreatif tsb. Seperti dua keping mata uang tak bisa dipisahkan antara ide kreatif dengan tindakan/ perbuatan. Contohnya bila anak didik kita belum bisa membiasakan diri buang sampah pada tempatnya, kita bantu dan selalu memberi teladan, maka insyaallah anak didik kita akan lebih pandai memenej dirinya.

            Selanjutnya, dalam mengembangkan teknik berfikir kreatif, kita mengenal teknik membaca cepat, berhitung cepat, kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Secara singkat dapat penulis sampaikan bahwa apabila cara praktis membaca cepat dapat dilakukan dengan benar, insyaallah konsep AL dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan serta hasil yang baik, begitu juga dengan teknik-teknik berhitung cepat dapat sangat membantu dalam pembelajaran. Contoh-contoh cara membaca dan berhitung cepat dapat disajikan dalam lembaran khusus. Berkenaan dengan EQ dan SQ secara khusus pula dibahas kemudian.

            Bagaimana pembelajaran, evaluasi dan hasil atau tujuan dari AL ini? Pada bagian-bagian terdahulu telah dapat kita telusuri arah, sasaran, proses serta tujuan/ goal yang dikehendaki dari AL ini, khususnya bagi keberlangsungan di AP ini, terutama pada arah kebijakan waktu penyelenggaraan pendidikan. Sebenarnya andaikata teknik, strategi, dan proses dari konsep AL ini dapat dilaksanakan dengan penuh komitmen dan konsisten oleh semua pihak, dampaknya akan dirasakan pada penghematan waktu belajar, dst. Maka evaluasi yang baik dari proses pola pembelajaran AL diserahkan kepada siswa itu sendiri, yang mengevaluasi tentunya guru/pembimbing, namun kapan dan dimana evaluasi akan dilaksanakan hendaknya siswa yang menentukan. Waktu evaluasi adalah sesudah siswa tuntas menyelesaikan modul unit tertentu, sedangkan hasil yang dicapainya, guru telah memiliki standar kelulusannya, agar siswa terus terpacu untuk menguasai kompetensi dengan baik, maka standar kelulusannya dapat dibuat skor angka setinggi-tingginya antara 80 – 100 untuk semua bidang studi.

            Proyeksi hasil atau tujuan yang diinginkan oleh kita apabila telah kita sepakati bersama hal-hal yang sudah kita bahas dari konsep, implementasi/ proses, hingga evaluasinya seperti itu, maka komitmen kita hasilnya akan baik, walaupun untuk tahap awal kita akan bekerja menguras kreativitas dan tindakan sekuat-kuatnya. Yang jelas pekerjaan menjalankan pembelajaran AL ini membutuhkan pengorbanan yang banyak, waktu, dana, pemikiran, tenaga, dan keikhlasan yang tak terhingga.

            Demikian tulisan ini disampaikan, walaupun masih banyak pembahasan yang harus dilanjutkan, seperti contoh-contoh teknik cantolan, membaca cepat, menghitung cepat, model pembelajaran, evaluasi serta tujuan/ hasilnya dari AL ini. Insyaallah pada tulisan lain akan coba kita diskusikan, mudah-mudahan ada manfaatnya. Amin

Referensi:

  1. The Holly Quran  (terjemah), Abdullah Yusuf Ali, Pustaka Firdaus, Jakarta,1993
  2. Asbabun Nuzul, KH.Qamarudin Shaleh, dkk, CV.Diponegoro, Bandung,1985
  3. al-Fikru al-Tarbawiy, Majid Arsan Kailani, Maktabah Dar al-Turats, Madinah al-nawarah, 1647
  1. The Accelerated Learning (terjemah), Dave Merier, Kaifa (Mizan), Bandung,2002
  2. Revolusi Cara Belajar I (terjemah), Gordon Dryden & Dr.Jeannette Vos, Kaifa(Mizan), 2000
  1. Quantum Quotient, Agus Nggermanto, Nuansa, Bandung, 2002
  2. Quantum Learning (terjemah), Bobbi Deporter & Mike Hernacki, Kaifa (Mizan), Bandung, 2000
  1. Active Learning (terjemah), Melvin L.Silberman, Nusamedia & Nuasa, Bandung,    2004
  1. Mahir Berbahasa Visual (terjemah), Milly R.Sonneman, Kaifa (Mizan), Bandung,    2002
  1. High Tech High Touch (terjemah), Nana Naisbitt & Douglas Philips, Mizan, 2001
  2. Visi dan Pondasi Pendidikan dalam Perspektif Islam, Sanusi Uwes,Logos, Jakarta,      2001
  1. The Turning Point (terjemah), Fritjof  Capra, CV.Adipura, Yogyakarta, 2000
  2. Silsilatu al-tadrib wa al-thawir (terjemah), M.Jawad Abdul Jawad, Syaamil, Bandung, 2002

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.