Pemberdayaan Siswa Berbakat Intelektual Sebagai Asisten Guru dalam Pembelajaran Pemecahan Masalah Matematika di Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah

0
117

Oleh : Rudi Hermawan

 

 ABSTRAK

 

Keterampilan pemecahan masalah  merupakan salah satu keterampilan yang harus dimilki oleh peserta didik sehingga menjadi sumber daya yang mampu bersaing di masa depan. Sayangnya keterampilan pemecahan masalah matematika kurang mendapat perhatian karena beberapa factor. Untuk itu ada baiknya jika pemecahan masalah matematika diberikan pada anak berbakat intelektual. Pada sekolah unggulan pemecahan masalah matematika dapat dilakukan dengan memberikan soal nonrutin pada materi pelajaran setiap hari. Sedangkan pada sekolah umum dapat dilakukan dengan mengangkat siswa berbakat intelektual sebagai asistem guru. Sebagai asisten guru, siswa berbakat intelektual dapat diangkat sebagai ketua kelompok  yang mempunyai tanggung jawab mengerjakan soal-soal nonrutin dan penguasaan materi matematika yang diajarkan pada teman-teman satu kelompok serta bergabung pada klub pencinta matematika yang anggotanya para asisten guru, di klub matematika ini, anak berbakat intelektual dilatih mengerjakan soal-soal nonrutin.

 

Kata Kunci : Pemecahan masalah, soal nonrutin, asisten guru

 

A.  PENDAHULUAN

 

Menghadapi era globalisasi, Indonesia harus harus memilki sumber daya manusia yang bermutu tinggi sehingga dapat bersaing di era globalisasi. Pendidikan khususnya pendidikan sekolah diharapkan mampu menjadi wadah penghasil sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu menghadapi tantangan di era globalisasi. Sayangnya pendidikan tidak dapat menjamin bahwa semua peserta didik mampu menjadi sumber daya manusia yang berkulitas. Dalam proses pendidikan terjadi seleksi, Walaupun begitu pendidikan terutama di sekolah harus dapat menciptakan lingkungan yang dapat memenuhi kebutuhan semua peserta didik yang berbeda-beda. Pemerintah telah mencobah memberikan perhatian khusus pada anak berbakat intelektual tersebut dengan mendirikan sekolah-sekolah unggulan. Sayangnya, sekolah-sekolah unggulan belum mampu menampung semua anak yang berbakat intelektual karena terbatasnya kelas yang dimiliki. Akibatnya anak-anak berbakat intelektual yang tidak tertampung mendapatkan pendidikan yang sama dengan anak anak yang memiliki kemampuan rata-rata ataupun di bawah rata-rata. Hal ini jika dibiarkan terus menerus mengakibatkan anak berbakat intelektual menjadi pasif karena ia harus menunggu orang-orang disekitarnya dan tidak dapat mengembangkan bakatnya.

Pendidikan, seyogyanya mampu membekali peserta didik dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan. Matematika sebagai queen of science (ratunya ilmu) adalah mata pelajaran yang diajarkan di semua jenjang pendidikan dan sebagai bidang ilmu yang dapat ditransfer ke bidang ilmu lain dapat menjadi alat yang effektif dalam melatih keterampilan pemecahan masalah. Sayangnya, pendidikan matematika sendiri memiliki masalah, kurangnya minat siswa terhadap mata pelajaran matematika, sehingga kemampuan matematika peserta didik menjadi rendah, rendahnya daya saing murid Indonesia di ajang internasional (Indonesia peringkat ke-34 dari 46 pada TIM SS-Third Internasional Mathematics and Science Studi tahun 2003), dan kualitas buku paket matematika yang rendah.

Sifat abstrak matematika, yang mengakibatkan jauhnya matematika dari dunia peserta didik adalah salah satu faktor penyebabnya. Peserta didik banyak dilatih dengan soal-soal yang hanya  melibatkan rumus dan algoritma yang kurang aplikasinya ke alam nyata peserta didik. Sehingga peseta didik kurang terbiasa menyelesaikan soal yang memiliki hubungan dengan masalah disekitar mereka. Padahal seperti yang telah disebutkan di atas, di era globalisasi dan era perdagangan bebas, kemampuan bernalar dan berpikir tingkat tinggi sangat menentukan keberhasilan. Karena itu, keterampilan memecahkan masalah adalah salah satu keterampilan yang harus dimilki oleh sumber daya manusia yang berkualitas. Karena itu keterampilan memecahkan masalah harus dilatih dari sekarang.

Sayangnya pembelajaran pemecahan masalah matematika kurang mendapat perhatian dalam proses belajar mengajar di kelas karena berbagai kendala yang ditemui. Apabila hal ini tidak segera diatasi maka dikhawatirkan peserta didik sebagai sumber daya manusia yang akan datang kan tertinggal jauh dalam menghadapi persaingan di era globalisasi.

Untuk mengatasi masalah ini, maka ada baiknya pemecahan masalah matematika diberikan lebih intensif pada anak-anak yang berbakat intelektual. Adapun rumusan masalah dalam penulisan ini adalah bagaimanakah pemberdayaan siswa berbakat intelektual sebagai asisten guru dalam pembelajaran pemecahan masalah matematika?

 

B.       PEMBAHASAN

Globalisasi adalah proses masuknya ke ruang lingkup dunia  Untuk menghadapi era globalisasi harus memiliki sumber daya manusia yang mampu bersaing sehingga tidak tertinggal dengan negara lain. Sekolah dipandang sebagai penghasil sumber daya manusia yang bermutu tinggi (Soedjadi, 1994: 4). Proses pendidikan di Negara kita melalui pemerataan pendidikan telah secara ilmiah menyeleksi sebagian bakat-bakat unggul di bangku sekolah yang berhasil menampilkan siswa yang berbakat intelektual. Menurut Noone dalam Sul (2001: 1) “keterampilan terpenting untuk menghadapi tantangan adalah keterampilan memecahkan masalah”. Keterampilan pemecahan masalah telah menjadi salah satu kemampuan yang harus dicapai peserta didik dalam mata pelajaran matematika.

Menurut Wardhani (2005: 93) “pemecahan masalah adalah proses penerapan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya dalam situasi baru yang belum diketahui”. Masalah bersifat relatif. Artinya masalah bagi seseorang pada suatu saat belum tentu merupakan masalah bagi orang lain pada saat itu atau pada orang itu sendiri beberapa saat kemudian. Masalah pada hakekatnya adalah pertanyaan yang harus dijawab. Sebaliknya suatu pertanyaan belum tentu menjadi masalah bagi seseorang.

Di dalam mata pelajaran matematika, pertanyaan biasanya disebut dengan soal. Pada umumnya, soal-soal matematika dibedakan menjadi dua macam, yaitu soal rutin dan soal nonrutin (Hudoyo, 1988). Soal non rutin ini menyajikan situasi yang belum pernah dijumpai siswa sebelumnya. Dalam situasi baru itu ada tujuan yang ingin dicapai, tetapi cara pencapaiannya tidak segerah muncul dalam benak siswa.

Memberikan soal-soal nonrutin kepada siswa berarti melatih siswa menerapkan berbakai konsep matematika dalam situasi baru sehingga pada akhirnya mereka mampu menggunakan berbagai konsep ilmu yang telah mereka pelajari dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Jadi soal-soal nonrutin inilah yang dapat dipergunakan sebagai soal-soal pemecahan masalah.

Pada soal-soal pemecahan masalah, strategi dan solusi yang dipergunakan sangat bervariasi, tergantung bagaimana pola piker siswa untuk menemukan jawaban tersebut. Walaupun begitu strategi yang dipergunakan dan solusi yang didapat harus berlandaskan kebenaran konsistensi.

Menurut Polya (1981) ada dua macam masalah matematika, yaitu pertama masalah menemukan, dan kedua, masalah membuktikan. Soal pemecahan masalah menemukan dibedakan menjadi 2 macam, yaitu soal pemecahan masalah menemukan konvergen (soal pemecahan masalah yang mencari jawaban tunggal yang paling tepat/benar) dan soal pemecahan masalah menemukan divergen (soal pemecahan masalah yang menghasilkan lebih dari satu alternatif jawaban). Sedangkan masalah membuktikan untuk menunjukan bahwa suatu pernyataan adalah benar atau salah. Bagian utama dari masalah jenis ini adalah hipotesis dan konklusi dari suatu teorema yang harus dibuktikan kebenarannya.

Dunia pendidikan matematika di Indonesia sudah menyadari pentingnya pemecahan masalah. Ini dapat terlihat dengan telah dituangkannya pemecahan masalah dalam tujuan kurikulum. Sayangnya dalam penerapan sehari-hari pemecahan masalah matematika kurang mendapatkan perhatian dikarenakan beberapa faktor. Jika  kondisi ini dibiarkan terus berlanjut, maka keterampilan pemecahan masalah peserta didik kurang berkembang. Untuk mengatasi hal tersebut maka pembelajaran pemecahan masalah matematika dapat lebih intensif dan difokuskan diberikan pada anak-anak yang berbakat.

Bakat dalam bidang pendidikan adalah bakat yang paling mudah diidentifikasi oleh guru. Bakat seperti ini disebut bakat intelektual. Bakat intelektual dapat diidentifikasi oleh guru dengan melihat (1) prestasi belajar, (2) kecepatan siswa dalam belajar, (3) kreativitas siswa dalam proses belajar mengajar, (4) kualitas pertanyaan siswa. Untuk anak-anak berbakat intelektual pada sekolah-sekolah unggulan pemecahan masalah matematika lebih mudah dilakukan dengan memberikan soal-soal nonrutin pada materi pelajaran yang dipelajari setiap hari. Pada anak-anak berbakat intelektual di sekolah umum, pemecahan masalah dapat di dalam dan diluar kelas. Di dalam kelas, setelah memberikan materi pelajaran, guru dapat membentuk kelompok belajar dimana anak-anak berbakat intelektual sebagai pemimpin dari kelompok tersebut. Sebagai ketua kelompok anak-anak berbakat intelektual dapat kita pilih sebagai asisten guru pada kelompoknya. Sebagai asisten guru, anak-anak berbakat intelektual dapat mengajarkan teman-temannya yang belum memahami pelajaran yang kita berikan sehingga semua anggota kelompok dapat memahami materi pelajaran. Untuk hal ini, kita sebagai guru harus benar-benar yakin bahwa anak berbakat intelektual telah bener-benar memahami materi yang diajarkan.

Sebagai ketua kelompok, anak-anak berbakat intelektual juga mempunyai tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas-tugas latihan yang diberikan. Pada soal-soal yang diberikan kita dapat menyisipkan soal-soal nonrutin. Hal ini diberikan agar semua siswa dapat mengerjakan soal-soal. Pada pengerjaan soal kelompok guru harus benar-benar mempersiapkan tugas yang diberikan, anak-anak berbakat intelektual memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan soal-soal rutin dan nonrutin, sementara anak-anak dengan kemampuan biasa dan ke bawah mengerjakan soal-soal yang rutin, apabila siswa dengan kemampuan menengah dan ke bawah telah mengerjakan soal rutin mereka pun dapat mempelajari soal-soal nonrutin.

Untuk itu perlu diadakan kompetisi antar kelompok. Sebagai ketua kelompok, anak berbakat intelektual memiliki tanggung jawab terhadap kelompoknya. Ini dapat dilakukan dengan meminta secara bergiliran kepada kelompok untuk mempresentasikan tugas yang telah mereka kerjakan dan memberikan nilai antar kelompok, nilai ini diumumkan pada waktu-waktu tertentu dan memberikan sedikit penghargaan.

Dengan mempresentasikan tugas yang telah mereka kerjakan, peserta didik khususnya anak berbakat intelektual belajar untuk mempretanggung jawabkan pekerjaannya, bekerjasama antar kelompok dan lebih kritis dalam menghadapi sesuatu. Disini sebagai guru kita harus membimbing mereka dengan benar dan menjadi moderator yang baik. Pengumuman kelompok terbaik diwaktu-waktu tertentu juga sangat penting karena dapat memberikan kebanggaan pada siswa dan meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari matematika pada umumnya dan mempelajari pemecahan masalah pada khususnya.

Berlatih strategi pemecahan masalah juga dapat dilakukan di luar kelas. Di luar kelas, strategi pemecahan masalah dapat dilakukan dengan membentuk klub pencinta matematika yang anggotanya terdiri dari para asisten guru. Disini kita sebagai guru dapat lebih banyak melatih siswa mengajarkan soal-soal pemecahan masalah. Pada klub pencinta matematika guru hendaknya mengajarkan soal pemecahan masalah dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi, misalnya dengan memberikan soal-soal olimpiade matematika.  Melalui klub pencinta matematika ini secara tidak langsung kita mengajarkan strategi pemecahan masalah dan dapat mempersiapkan siswa dalam berkompetisi dalam kompetisi matematika seperti olimpiade matematika.

 

Gambar 1. Sistematika pemecahan masalah nonrutin

            Suatu soal yang yang menantang menjadi suatu masalah bagi siwa bila siswa tersebut menerima tantangan menyelesaikan suatu masalah merupakan proses yang diawali dengan kemauan menerima tantangan dalam menyelesaikan masalah tersebut. Karena itu guru harus dapat memberikan motivasi kepada siswa agar menerima tantangan masalah dan membimbing mereka sampai dapat menyelesaikan masalah.

Guru memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar pemecahan masalah matematika di sekolah. Pemecahan masalah matematika memerlukan pemikiran tingkat tinggi. Karena itu dalam mengajarkan pemecahan masalah disekolah guru harus dapat memotivasi siswa dalam menyelesaikan problem, bukan menurunkan motivasi siswa. Guru harus menunjukan kesabaran, pengertian dan eksistensi yang mendorong siswa. Guru juga dituntut untuk menciptakan lingkungan kelas yang menyenangkan sehingga siswa merasakan kepuasan dalam mencari penyelesaian yang kreatif.

Sayangnya pada kenyataannya kendala utama dalam pelaksanaan pembelajaran pemecahan masalah justru terletak pada guru. Menurut Sul (2001: 15) “sekurang-kurangnya ada 2 kemampuan yang dituntut pada guru dalam rangka pembelajaran pemecahan masalah di sekolah: (1) kemampuan dalam pengauasaan materi pelajaran, (2) kemampuan dalam penggunaan strategi/siasat dalam pemecahan masalah”. Keterampilan pemecahan masalah dapat dimiliki siswa bilamana gurunya telah memiliki kemampuan pengelolahan pengajaran pemecahan masalah, Yaitu (1) perencanaan, (2) pengorganisasian, (3) pengarahan dan (4) pengawasan/evaluasi.

Menurut Purwoko (2002: 2), generalisasi menyelesaikan pemecahan masalah antara lain sebagai berikut:

  1. Strategi pemecahan masalah dapat diajarkan secara khusus.
  2. Mengajarkan sejumlah strategi tentang bagaimana memecahkan masalah memberikan anak-anak pilihab bagi masalah yang mereka temui.
  3. Siswa perlu dihadapkan pada masalah yang cara penyelesaiannya tidak jelas.
  4. Pencapaian pemecahan masalah bagi anak-anak berhubungan dengan tingkat perkembangan mereka. Jadi mereka perlu masalah yang mempunyai tingkat kesulitan sesuai dengan perkembangannya.

 

Sayangnya pada kenyataannya kendala utama dalam pelaksanaan pembelajaran pemecahan masalah justru terletak pada guru. Guru matematika kadangkala menjadi guru yang ditakuti, untuk mengatasi hal tersebut guru harus mempunyai kedekatan dengan siswa, sehingga apabila siswa mengalami kesulitan siswa tidak merasa takut untuk bertanya. Disis lain, kemampuan guru dalam menyelesaikan pemecahan masalah sendiri masih rendah. Untuk itu perlu dilakukan peningkatan kualitas guru terhadap pemecahan masalah, diantaranya:

  1. Pada Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) hendaknya guru dilatih keterampilan dan strategi pemecahan masalah,
  2. Guru memberikan waktu khusus untuk dirinya mencari dan mengerjakan bermacam-macam soal-soal nonrutin.
  3. Untuk calon-calon guru, perguruan tinggi hendaknya memberikan mata kuliah yang secara khusus membahas tentang pemecahan masalah.
  4. Dinas Pendidikan Nasional hendaknya menerbitkan buku-buku yang yang memuat soal-soal pemecahan masalah sehingga lebih memudahkan guru dalam mencari soal-soal pemecahan masalah.

C.       KESIMPULAN

Dalam era globalisasi, dunia pendidikan dituntut untuk menciptakan sumber daya manusia yang bermutu tinggi. Salah satu ciri sumber daya manusia yang bermutu tinggi adalah memiliki keterampilan memecahkan masalah.

Keterampilan pemecahan masalah dapat dilatih pada siswa melalui mata pelajaran matematika dengan memberikan soal-soal nonrutin khususnya pada anak  berbakat intelektual. Pada sekolah-sekolah biasa, pembelajaran pemecahan masalah matematika pada anak berbakat intelektual dengan menjadikan mereka sebagai asisten guru, yang berfungsi sebagai ketua kelompaok dan anggoota klub pencinta matematika.

 

D.      REKOMENDASI

Guru diharapkan dapat meningkatkan kompetensi akademiknya sehingga mempunyai ketrampilan membuat soal-soal nonrutin. Hal ini dapat dilakukan pada Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), dimana hendaknya guru dilatih keterampilan dan strategi pemecahan masalah, serta guru hendaknya berlatih mencari dan mengerjakan bermacam-macam soal-soal nonrutin dan untuk calon-calon guru, perguruan tinggi hendaknya memberikan mata kuliah yang secara khusus membahas tentang pemecahan masalah.

 

REFERENSI

 

 Hudoyo, Herman. 1988. Pengembangan Kurikulum Matematika dan Pelaksanaannya di Depan Kelas. Surabaya: Usaha Nasional

Polya, George. 1981. Mathematical Discovery On Understanding, Learning and Teaching Problem Solving. New York: John Wiley and Sons Inc.

Purwoko. 2000. Pengajaran Pemecahan Masalah. Indralaya: Universitas Sriwijaya.

Soedjadi, R. 1994. Memantapkan Matematika Sekolah sebagai Wahana Pendidikan dan Dampak Penalaran. Surabaya: IKIP Surabaya.

Sul, Ismail. 2001. Pemecahan Masalah dalam Mata Pelajaran Matematika di Sekolah Menengah (Laporan Penelitian). Indralaya: Universitas Sriwijaya.

Wardhani, Sri. 2005. Pembelajaran dan Penilaian Aspek Pemahaman Konsep, Penalaran dan Komunikasi, Pemecahan Masalah. Yogyakarta: PPPG Matematika Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.