Efektivitas Diklat Jarak Jauh (DJJ) di Balai Diklat Keagamaan Palembang

0
228

Riduwan

(Widyaiswara Bdk Palembang)

 

ABSTRAK: Peningkatan profesionalisme pegawai atau guru dapat melalui diklat. Balai Diklat Keagamaan (BDK) Palembang merupakan salah satu lembaga diklat yang berperan dalam meningkatkan kompetensi PNS di lingkungan Kementerian Agama. Salah satu diklat yang dilaksanakan di BDK Palembang adalah Diklat Jarak Jauh (DJJ). Peneliti tertarik untuk mengkaji secara mendalam dengan melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan dan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat efektivitas pelaksanaan DJJ di Balai Diklat Keagamaan Palembang.

Bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif  kualitatif yang dikombinasikan dengan penelitian kuantitatif. Adapun teknik pengumpulan datanya adalah wawancara, angket dan dokumentasi.

Hasil analisis keseluruhan data menunjukkan bahwa pelaksanaan DJJ di Balai Diklat Keagamaan Palembang kurang efektif, walaupun pada aspek input menunjukkan kegiatan ini cukup baik, namun dari aspek proses pelaksanaan dan  output menunjukkan bahwa pelaksanaan kegiatannya  kurang efektif. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pelaksanaan DJJ di Balai Diklat Keagamaan Palembang, yaitu laboratorium komputer di Balai Diklat Keagamaan Palembang yang belum memenuhi standar, baik dari jumlah maupun kondisi ruangan, calon peserta kurang memenuhi persyaratan pengetahuan terutama dalam penguasaan komputer/internet, dan peserta sering terkendala dalam mengakses ke website DJJ sehingga mereka sering gagal mengirim tugas dan interaktif lainnya dengan tutor. Selain faktor penghambat, ada juga faktor pendukung yaitu struktur organisasi kepanitiaan dan pembagian tugas yang jelas, dan pembiayaan dalam kegiatan mulai awal hingga akhir menjadi tanggungan DIPA BDK Palembang. Berdasarkan hasil temuan studi di atas, maka diajukan beberapa saran yaitu BDK Palembang  untuk dapat segera memperbaiki laboratorium komputer yang ada baik dari segi prasarana maupun sarananya dan calon peserta DJJ hendaknya mempersiapkan diri terlebih dahulu tentang pengetahuan  teknologi informasi dan komunikasi sebelum mereka mendaftar sebagai peserta DJJ agar pada pelaksanaannya dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik yang berarti juga dapat meningkatkan kompetensi guru itu sendiri.

 

PENDAHULUAN

  1. A.       Latar Belakang

Dalam Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang SNP pasal 28 ayat 1 dinyatakan bahwa Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Selanjutnya ditegaskan dalam pasal 28 ayat 3 bahwa kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi Kompetensi pedagogik, kepribadian, professional dan sosial.

Untuk meningkatkan profesionalisme guru sebagaimana yang diinginkan peraturan Pemerintah di atas di antaranya dapat dilakukan melalui diklat. Dan tujuan diklat adalah agar guru tampil beda, kepercayaan diri semakin meningkat dan tentu saja suasana belajar di dalam kelas lebih hidup. Mereka dapat menguasai dan tidak canggung menggunakan inovasi pembelajaran. Di lingkungan sejawat, dalam ruang guru yang didiskusikan masalah pembelajaran dan saling melengkapi kekurangan masing-masing. Artinya geliat perubahan paradigma, etos kerja lebih meningkat sejalan dengan tuntutan profesi. Salah satu peningkatan kemampuan profesi itu diharapkan dari belajar mengajar pada pendidikan dan pelatihan.

Pelaksanaan diklat di Kementerian Agama selama ini dirasa belum dapat menjangkau secara keseluruhan pegawai. Diklat yang diselenggarakan BDK Palembang sampai dengan tahun 2009 hanya terbatas pada diklat konvensional dan diklat di tempat kerja (DDTK). Diklat konvensional adalah diklat reguler dimana peserta diklat datang ke BDK Palembang untuk dididik dan dilatih,  sedangkan DDTK adalah diklat yang dilakukan di tempat kerja peserta sendiri, dimana seluruh panitia dan widyaiswara datang ke tempat peserta. Kedua jenis diklat di atas tentu memilki berbagai keterbatasan, sehingga menyebabkan siklus diklat yang terjadi bagi seorang pegawai rata-rata adalah tujuh tahunan, sedangkan idealnya dua tahunan. Untuk itu, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melaksanakan DJJ.

Di BDK Palembang, DJJ telah dilaksanakan sejak tahun 2010 dengan 2 angkatan yaitu DJJ Guru Matematika MTs dan Guru Fisika MA, sedangkan pada tahun 2011 dilaksanakan DJJ Guru Matematika MA. DJJ tersebut dimaksudkan untuk menjangkau lebih banyak para peserta diklat agar segera terwujud pemerataan dan peningkatan kompetensi bagi seluruh PNS Kemenag di wilayah kerja BDK Palembang yang meliputi provinsi Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, dan Kepulauan Bangka Belitung.

DJJ memiliki karakteristik utama, yaitu adanya jarak  pemisah ruang dan waktu antara pengajar dan pembelajar. DJJ diselenggarakan dengan tujuan agar pelaksanaan diklat dapat dilaksanakan lebih efektif dan efisien serta dapat menjangkau peserta lebih banyak. Selain itu DJJ juga dimaksudkan sebagai solusi dalam mengatasi sulitnya interaksi tatap muka langsung antara pengajar dan pembelajar melalui berbagai cara. Masalah ini dapat diselesaikan dengan menggunakan media cetak dan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK), hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan Munir (2009:2) yaitu :

Pemanfaatan teknologi dalam sistem pembelajaran menimbulkan pembelajaran berbasis elektronik sebagai hasil teknologi. Salah satu aplikasi teknologi adalah teknologi informasi dan komunikasi. Pembelajaran berbasis teknologi informasi dan teknologi dan komunikasi ini yang telah mengubah sistem pembelajaran pola konvensional atau tradisional menjadi pola bermedia, diantaranya media komputer dengan internetnya yang memunculkan e-learning. Pola pembelajaran bermedia ini, pembelajar dapat memilih materi pembelajaran berdasarkan minatnya sendiri, sehingga belajar menjadi menyenangkan, tidak membosankan, penuh motivasi, semangat, menarik perhatian dan sebagainya.

 

DJJ di BDK Palembang termasuk jenis diklat yang jarang dilaksanakan, karena itu banyak hal yang perlu dievaluasi tentang efektivitasnya, diantaranya tentang kesiapan sarana prasarana serta sumber daya manusianya, proses pembelajaran DJJ dan bagaimana kompetensi peserta diklat setelah mengikuti DJJ tersebut.

Berdasarkan latar belakang di atas, persoalan yang hendak dipecahkan melalui penelitian ini adalah efektivitas pelaksanaan DJJ yaitu bagaimana pelaksanaan DJJ di Balai Diklat Keagamaan Palembang

  1. B.  Rumusan Masalah
  2. Bagaimana efektivitas DJJ di Balai Diklat Keagamaan Palembang?
  3. Faktor-faktor apakah yang mendukung dan menghambat efektivitas DJJ di Balai Diklat Keagamaan Palembang?
  4. C.  Tujuan Penelitian
  5. Untuk mengetahui efektivitas DJJ di Balai Diklat Keagamaan Palembang.
  6. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan menghambat efektivitas Diklat Jarak Jauh di Balai Diklat Keagamaan Palembang.
  7. D.  Metodologi Penelitian

Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif  kualitatif.

 

Sumber Data

  1. Narasumber (informan), yaitu:
  2. Kepala Balai Diklat Keagamaan Palembang
  3. Ketua/Wakil Ketua Panitia
  4. Widyaiswara / Tutor
  5. Peserta Diklat Jarak Jauh Balai Diklat Keagamaan Palembang
    1. Dokumen dan arsip; yaitu dokumen Balai Diklat Keagamaan.

 

Teknik Sampling

Dari peserta DJJ yang berjumlah 120 orang (empat angkatan), maka diambil sebagai sampel sebanyak 40 orang, dalam arti dari setiap angkatan diambil 10 orang sebagai sampel.

 

Teknik Pengumpulan Data

  1. Wawancara;
  2. Dokumentasi;
  3. Kuesioner/Angket

Validitas Data

Validitas data yang digunakan dalam penelitian ini adalah trianggulasi sumber dan trianggulasi metode. Trianggulasi sumber dapat dilakukan dengan memanfaatkan jenis sumber data yang berbeda-beda untuk menggali informasi yang sejenis. Trianggulasi metode bisa dilakukan oleh peneliti dengan mengumpulkan data sejenis tetapi dengan menggunakan teknik atau metode pengumpulan data yang berbeda.

Teknik Analisa Data

Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kualitatif. Menurut Nasution (2009), penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif berlangsung dalam tahap-tahap berikut ini :

  1. Pengumpulan data adalah tahap awal dalam penelitian kualitatif
  2. Reduksi data, mengambil data untuk keperluan analisis
  3. Display data, agar data lebih mudah untuk dimengerti maka data dikumpulkan dalam matrik, gambar, atau sekema sehingga analisis yang dilakukan lebih akurat.
  4. Kesimpulan dan verifikasi adalah tahap penarikan kesimpulan, setelah melakukan reduksi dan display terhadap data.

Pada data angket, analisis datanya akan dilakukan secara sederhana. Angket ini diberikan kepada responden dengan maksud ingin melihat respon peserta terhadap pelaksanaan Diklat Jarak Jauh. Angket yang diberikan berisi pernyataan-pernyataan. Data-data yang diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan skala Likert. Skala Likert adalah skala yang dapat dipergunakan untuk mengukur sikap, pendapat, atau persepsi seseorang atau kelompok orang tentang suatu variabel, konsep atau gejala atau fenomena (Djaali , 2004 : 37). Rumus yang digunakan adalah :

Keterangan :      = Nilai Angket

= Skor yang diperoleh responden

= Skor maksimum (Djaali, 2004:123)

Tabel 1

Kategori efektivitas DJJ

Nilai Angket ( % )

Kategori

86  –  100

70  –  85

52  –  69

36  –  51

20  –  35

Sangat baik

Baik

Cukup

Kurang baik

Buruk

(Modifikasi Djaali, 2004)

Selanjutnya nilai angket dikonversikan ke dalam data kualitatif untuk menentukan pendapat responden terhadap efektivitas pelaksanaan DJJ di Balai Diklat Keagamaan Palembang.

 

LANDASAN TEORI

  1. A.  Efektivitas

Sastradipoera (2001) mengungkapkan “efektivitas adalah suatu keadaan yang menunjukan tingkat keberhasilan kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu.” Gibson (1998) menyatakan, “efektivitas  adalah konteks perilaku organisasi merupakan hubungan antar produksi, kualitas, efisiensi, fleksibilitas, kepuasan, sifat keunggulan dan pengembangan.”

Berdasarkan pendapat para ahli di atas diketahui bahwa efektivitas merupakan suatu konsep yang sangat penting karena mampu memberikan gambaran mengenai keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai sasarannya atau dapat dikatakan bahwa efektivitas  merupakan tingkat ketercapaian tujuan dari aktivasi-aktivasi yang telah dilaksanakan dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan sebelumnya. Gibson (1998) mengungkapkan tiga pendekatan mengenai efektivitas  yaitu:

  1. Pendekatan Tujuan; untuk mendefinisikan dan mengevaluasi efektivitas  merupakan pendekatan tertua dan paling luas digunakan.
  2. Pendekatan Teori Sistem; menekankan pada pertahanan elemen dasar masukan-proses-pengeluaran dan mengadaptasi terhadap lingkungan yang lebih luas yang menopang organisasi. Teori sistem juga menekankan pentingnya umpan balik informasi. Teori sistem dapat disimpulkan: (1) Kriteria efektivitas  harus mencerminkan siklus masukan-proses-keluaran, bukan keluaran yang sederhana, dan (2) Kriteria efektivitas  harus mencerminkan hubungan antar organisasi dan lingkungan yang lebih besar dimana organisasai itu berada. Jadi: (1) Efektivitas  organisasi adalah konsep dengan cakupan luas termasuk sejumlah  konsep komponen. (2) Tugas manajerial adalah menjaga keseimbangan optimal antara komponen dan bagiannya
  3. Pendekatan Multiple Constituency; adalah perspektif yang menekankan pentingnya hubungan relatif di antara kepentingan kelompok dan individual dalam hubungan relatif diantara kepentingan kelompok dan individual dalam suatu organisasi.

 

Di bawah ini akan diuraikan empat faktor yang mempengaruhi efektivitas, yang dikemukakan oleh Steers (1985):

  1. Karakteristik Organisasi adalah hubungan yang sifatnya relatif tetap seperti susunan sumber daya manusia yang terdapat dalam organisasi.
  2. Karakteristik Lingkungan, mencakup dua aspek. Pertama; lingkungan ekstern yaitu lingkungan yang berada di luar batas organisasi dan sangat berpengaruh terhadap organisasi, terutama dalam pembuatan keputusan dan pengambilan tindakan. Kedua; lingkungan intern yang dikenal sebagai iklim organisasi yaitu lingkungan yang secara keseluruhan dalam lingkungan organisasi.
  3. Karakteristik Pekerja merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap efektivitas.
  4. Karakteristik Manajemen adalah strategi dan mekanisme kerja yang dirancang untuk mengkondisikan semua hal yang di dalam organisasi sehingga efektivitas  tercapai.
  1. B.  Pendidikan

Pendidikan berasal dari kata pedagogi (paedagogie, Bahasa Latin) yang berarti pendidikan. Pendidikan berkaitan erat dengan segala sesuatu yang bertalian dengan perkembangan manusia mulai perkembangan fisik, kesehatan keterampilan, pikiran, perasaan, kemauan, sosial, sampai kepada perkembangan Iman. Perkembangan ini mengacu kepada membuat manusia menjadi lebih sempurna, membuat manusia meningkatkan hidupnya dan kehidupan alamiah menjadi berbudaya dan bermoral.

Dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan darinya, masyarakat, bangsa, dan Negara “.

Banyak sekali definisi tentang pendidikan yang disampaikan oleh para ahli, namun dari berbagai definisi yang dikemukakan dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan usaha yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan terencana (bertahap) dalam meningkatkan potensi diri peserta didik dalam segala aspeknya menuju terbentuknva kepribadian dan ahklaq mulia dengan menggunakan media dan metode pembelajaran yang tepat guna melaksanakan tugas hidupnya sehingga dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

 

  1. C.  Pelatihan

Sedangkan Michael J. Jucius (dalam Moekijat, 1993:2) menjelaskan bahwa istilah latihan  menunjukkan setiap proses untuk mengembangkan bakat, keterampilan dan kemampuan pegawai guna menyelesaikan pekerjaan-­pekerjaan tertentu.  Pelatihan mengandung makna yang lebih khusus (spesifik), dan berhubungan dengan pekerjaan/tugas yang dilakukan seseorang. Definisi pelatihan menurut Center for Development Management and Productivity adalah belajar untuk mengubah tingkah laku orang dalam melaksanakan pekerjaan mereka. Pelatihan pada dasarnya adalah suatu proses memberikan bantuan bagi para karyawan atau pekerja untuk menguasai keterampilan khusus atau membantu untuk memperbaiki kekurangan dalam melaksanakan pekerjaan mereka.

Rivai (2004:226) menegaskan bahwa “pelatihan adalah proses sistematis mengubah tingkah laku pegawai untuk mencapai tujuan organisasi. Pelatihan berkaitan dengan keahlian dan kemampuan pegawai dalam melaksanakan pekerjaan saat ini. Pelatihan memiliki orientasi saat ini dan membantu pegawai untuk mencapai keahlian dan kemampuan tertentu agar berhasil melaksanakan pekerjaan”.

Memperhatikan pengertian tersebut, ternyata tujuan pelatihan tidak hanya untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap saja, akan tetapi juga untuk mengembangkan bakat seseorang, sehingga dapat melakukan pekerjaan sesuai dengan yang dipersyaratkan. Moekijat (1993) menjelaskan tujuan umum pelatihan sebagai berikut :

(1) untuk mengembangkan keahlian, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan lebih efektif,

(2) untuk mengembangkan pengetahuan, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan secara rasional,

(3) untuk mengembangkan sikap, sehingga menimbulkan kemauan kerjasama dengan teman-teman pegawai dan dengan manajemen (pimpinan).

Pelatihan menurut Tjiptono dan Diana juga memberikan manfaat mengurangi kesalahan produksi; meningkatkan produktivitas; meningkatkan kualitas; meningkatkan fleksibilitas karyawan; respon yang lebih baik terhadap perubahan; meningkatkan komunikasi; kerjasama tim yang lebih baik, dan hubungan karyawan yang lebih harmonis … (1998:215).

 

Asas-asas Pelatihan

Dalam penyelenggaraan pelatihan, agar dapat bermanfaat bagi peserta dan dapat mencapai tujuan secara optimal, hendaknya penyelenggaraannya mengikuti asas-asas umum pelatihan. Menurut Yoder (2002),  menyebutkan sembilan asas yang berlaku umum dalam kegiatan pelatihan yaitu (1).Individual differences; (2) relation to job analysis; (3) motivation (4) active participation, (5) selection of trainees, (6). Selection of trainers; (7) trainer’s of training (8) training method’s dan (9) principles of learning

Pendapat Yoder di atas mengisyaratkan bahwa dalam kegiatan pelatihan perbedaan individu peserta pelatihan harus mendapat perhatian yang utama. Karakteristik peserta pelatihan akan mewarnai dan menentukan keberhasilan pelaksanaan suatu pelatihan. Pelatihan harus juga dihubungkan dengan analisis pekerjaan peserta (calon peserta) pelatihan, sehingga nantinya hasil pelatihan bermanfaat dalam melaksanakan tugas pekerjaannya.

Pengembangan Program Pelatihan

Ada tiga tahapan pada pelatihan yaitu tahap penilaian kebutuhan, tahap pelaksanaan pelatihan dan tahap evaluasi. Atau dengan istilah lain ada fase perencanaan pelatihan, fase pelaksanaan pelatihan dan fase pasca pelatihan. Dari tiga tahap atau fase tersebut, mengandung langkah-langkah pengembangan program pelatihan. Langkah-langkah yang umum digunakan dalam pengembangan program pelatihan, yang pada prinsipnya meliputi (l) need assessment; (2) training and development objective; (3) program content; (4) learning principles; (5) actual program, (6) skill knowledge ability of works; dan (7) evaluation.

 

 

 

 

     Mekanisme Pelatihan

Mekanisme pelatihan di sini diartikan cara atau metode yang digunakan dalam suatu kegiatan pelatihan. Dalam penyelenggaraan pelatihan, tidak ada satupun metode dan teknik pelatihan yang paling baik. Semuanya tergantung pada situasi kondisi kebutuhan. Dalam memilih metode dan teknik suatu pelatihan ditentukan oleh banyak hal, tidak ada satu teknik pelatihan yang paling baik, metode yang paling baik tergantung pada efektivitas biaya, isi program yang diinginkan, prinsip-prinsip belajar, fasilitas yang layak, kemampuan dan preference peserta serta kemampuan dan preference pelatih.

 

D. Efektivitas  Pendidikan dan Pelatihan (Diklat)

Menurut Gibson (1998:l28), efektivitas dipandang tiga perspektif: (1) efektivitas  dari perspektif individu; (2) efektivitas  dari perspektif kelompok; dan (3) efektivitas  dari perspektif organisasi. Hal ini mengandung arti bahwa efektivitas memiliki tiga tingkatan yang merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi. Dimana efektivitas  perspektif individu berada pada tingkat awal untuk menuju efektif kelompok maupun efektif organisasi.

Katzel (dalam Steers,1985) mengemukakan  bahwa efektivitas  selalu diukur berdasarkan prestasi, produktivitas, laba dan sebagainya.  Dilihat dari definisi di atas menunjukkan bahwa produktivitas merupakan bagian dari efektivitas. Adapun konsep pendidikan yang memiliki produktivitas yaitu pendidikan yang efektif dan efisien. Selanjutnya efektivitas dapat dilihat pada: (1) masukan yang merata, (2) keluaran yang banyak dan bermutu tinggi, (3) ilmu dan keluaran yang gayut dengan kebutuhan masyarakat yang sedang membangun, dan (4) pendapatan tamatan atau keluaran yang memadai.

Dari beberapa pengertian di atas efektivitas mengandung arti berorientasi kepada input (mencakup komponen organisasi, program kegiatan, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, dan pembiayaan), proses (mencakup keterlaksanaan kegiatan sesuai dengan yang telah ditetapkan di dalam input) dan  Output ( Hasil-hasil yang diperoleh sesuai dengan program kerja yang direncanakan). Kemudian penerapannya kepada suatu diklat yang efektif adalah kemampuan organisasi dalam melaksanakan program-programnya yang telah direncanakan secara sistematis dalam upaya mencapai hasil atau tujuan yang telah ditetapkan. Sesuai dengan makna efektivitas  tersebut di atas maka diklat yang efektif merupakan diklat yang berorientasi input, proses, dan output dimana organisasi tersebut dapat melaksanakan program-program yang sistematis untuk mencapai tujuan dan hasil yang dicita-citakan. Sehingga diklat efektif apabila pendidikan dan pelatihan tersebut dapat menghasilkan sumber daya manusia yang meningkat kemampuannya, keterampilan dan perubahan sikap yang lebih mandiri. Keefektifan diklat akan mempengaruhi kualitas kinerja sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkannya. Sehingga efektif tidaknya pelatihan dilihat dari dampak pelatihan bagi organisasi untuk mencapai tujuannya. Simamora (2004) yang mengukur bahwa keefektifan diklat dapat dilihat dari 1) reaksi-reaksi bagaimana perasaan partisipan terhadap program; 2) belajar-pengetahuan, keahlian,  dan sikap-sikap yang diperoleh sebagai hasil dari pelatihan; 3) perilaku perubahan-perubahan yang terjadi pada pekerjaan sebagai akibat dari pekerjaan: dan 4) hasil-hasil  dampak pelatihan pada keseluruhan yaitu efektivitas organisasi atau pencapaian pada tujuan-tujuan organisasional.

Menurut Tamim dan Hermansjah (2002), efektivitas  diklat dapat terlihat antara lain dari:

a. Terlaksananya seluruh program diklat sesuai dengan jadwal waktu yang telah ditetapkan,

b. Rapinya penyelenggaraan seluruh kegiatan diklat berkat disiplin kerja, dedikasi dan kemampuan para penyelenggara,

  1. Efisiensi dalam penggunaan sarana dan prasarana yang tersedia,

d. Tercapainya sasaran yang telah ditetapkan bagi program diklat.

  1. E.   E-Learning

Dong (dalam Munir, 2009) mendefinisikan e-learning sebagai kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya. Hartanto dan Purbo (2002) menjelaskan bahwa istilah “e” atau singkatan dari elektronik dalam e-learning digunakan sebagai istilah untuk segala teknologi yang digunakan untuk mendukung usaha-usaha pengajaran lewat teknologi elektronik internet.  Internet, Intranet, satelit, tape audio/video, TV interaktif dan CD-ROM adalah sebahagian dari media elektronik yang digunakan dalam pengajaran yang boleh disampaikan secara ‘synchronously’ (pada waktu yang sama) ataupun ‘asynchronously’ (pada waktu yang berbeda). Materi pengajaran dan pembelajaran yang disampaikan melalui media ini mempunyai teks, grafik, animasi, simulasi, audio dan video. Ia juga harus menyediakan kemudahan untuk ‘discussion group’ dengan bantuan profesional dalam bidangnya.

Karakteristik e-learning, antara lain. Pertama, Memanfaatkan jasa teknologi elektronik; di mana pengajar dan pelajar, pelajar dan sesama pelajar atau pengajar dan sesama pengajar dapat berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler. Kedua, Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan computer networks). Ketiga, Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials) disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh pengajar dan pelajar kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukannya. Keempat, Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.

Untuk dapat menghasilkan e-learning yang menarik dan diminati, Hartanto dan Purbo (2002) mensyaratkan tiga hal yang wajib dipenuhi: sederhana, personal dan cepat. Sistem yang sederhana akan memudahkan peserta didik dalam memanfaatkan teknologi dan menu yang ada, dengan kemudahan pada panel yang disediakan, akan mengurangi pengenalan sistem e-learning itu sendiri, sehingga waktu belajar peserta dapat diefisienkan untuk proses belajar itu sendiri dan bukan pada belajar menggunakan sistem e-learning-nya. Personal berarti pengajar dapat berinteraksi dengan baik seperti layaknya seorang guru yang berkomunikasi dengan murid di depan kelas. Kemudian layanan ini ditunjang dengan kecepatan, respon yang cepat terhadap keluhan dan kebutuhan peserta didik lainnya. Dengan demikian perbaikan pembelajaran dapat dilakukan secepat mungkin oleh pengajar/pengelola.

 

Teknologi Pendukung E-Learning

Dalam prakteknya e-learning memerlukan bantuan teknologi oleh karena itu dikenal istilah: computer based learning (CBL) yaitu pembelajaran yang sepenuhnya menggunakan komputer; dan computer assisted learning (CAL) yaitu pembelajaran yang menggunakan alat bantu utama komputer. Teknologi pembelajaran terus berkembang. Namun pada prinsipnya teknologi tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: Technology based learning dan Technology based web-learning. Technology based learning ini pada prinsipnya terdiri dari Audio Information Technologies (radio, audio tape, voice mail telephone) dan Video Information Technologies (video tape, video text, video messaging). Sedangkan technology based web-learning pada dasarnya adalah Data Information Technologies (bulletin board, Internet, e-mail, tele-collaboration). Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari, yang sering dijumpai adalah kombinasi dari teknologi yang dituliskan di atas (audio/data, video/data, audio/video). Teknologi ini juga sering di pakai pada pendidikan jarak jauh (distance education), dimasudkan agar komunikasi antara murid dan guru bisa terjadi dengan keunggulan teknologi e-learning ini.

Di antara banyak fasilitas internet, menurut Hartanto dan Purbo (2002), “ada lima aplikasi standar internet yang dapat digunakan untuk keperluan pendidikan, yaitu email, Mailing List (milis), News group, File Transfer Protocol (FTC), dan World Wide Web (WWW)”. Tiga kriteria dasar yang ada dalam e-learning. Pertama, e-learning bersifat jaringan, yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan informasi. Kedua, e-learning dikirimkan kepada pengguna melalui komputer dengan menggunakan standar teknologi internet. Ketiga, e-learning terfokus pada pandangan pembelajaran yang paling luas, solusi pembelajaran yang menggungguli paradikma tradisional dalam pelatihan.

 

Kelebihan dan Kekurangan E-Learning

Manfaat penggunaan internet, khususnya dalam pendidikan terbuka dan jarak jauh (Soekartawi, 2002), antara lain. Pertama, Tersedianya fasilitas e-moderating di mana guru dan siswa dapat berkomunikasi secara mudah melalui fasilitas internet secara regular atau kapan saja kegiatan berkomunikasi itu dilakukan dengan tanpa dibatasi oleh jarak, tempat dan waktu. Kedua, Guru dan siswa dapat menggunakan bahan ajar atau petunjuk belajar yang terstruktur dan terjadual melalui internet, sehingga keduanya bisa saling menilai sampai berapa jauh bahan ajar dipelajari. Ketiga, Siswa dapat belajar atau me-review bahan ajar setiap saat dan di mana saja kalau diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di komputer. Keempat, Bila siswa memerlukan tambahan informasi yang berkaitan dengan bahan yang dipelajarinya, ia dapat melakukan akses di internet secara lebih mudah. Kelima, Guru dan siswa dapat berdiskusi melalui internet yang dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak, sehingga menambah ilmu pengetahuan dan wawasan yang lebih luas. Keenam, Berubahnya peran siswa dari yang biasanya pasif menjadi aktif. Ketujuh, Relatif lebih efisien. Misalnya bagi mereka yang tinggal jauh dari perguruan tinggi atau sekolah konvensional. Walaupun demikian pemanfaatan internet untuk pembelajaran atau e-learning juga tidak terlepas dari berbagai kekurangan. Berbagai kritik antara lain. Pertama, Kurangnya interaksi antara guru dan siswa atau bahkan antar siswa itu sendiri, akhirnya bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar dan mengajar. Kedua, Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial, sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis/komersial. Ketiga, Proses belajar dan mengajarnya cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan. Keempat, Berubahnya peran guru dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT. Kelima, Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal. Keenam, Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet. Ketujuh, Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki ketrampilan internet. Kedelapan, Kurangnya penguasaan bahasa komputer.

 

  1. F.   Pendidikan dan Pelatihan Jarak Jauh

Pendidikan dan pelatihan dalam penelitian ini adalah DJJ dengan sistem blended learning, yaitu perpaduan antara e-learning dan tutorial atau tatap muka. Menurut buku panduan Diklat Jarak Jauh (2010), menyebutkan bahwa Diklat Jarak Jauh adalah kegiatan pelatihan jarak jauh yang memanfaatkan fasilitas teknologi informasi dan komunikasi (TIK) secara optimal. Pada DJJ online, peserta dapat belajar kapan saja dan di mana saja melalui jaringan internet. Seluruh aktivitas belajar, mencakup membaca ataupun mendownload bahan belajar, mengikuti forum diskusi, tutorial, chatting, mengerjakan tugas, latihan, ujian on line, dan lain-lain dapat dilakuan melalui komputer yang terhubung ke internet. Pembelajaran dikelola dalam sebuah sistem aplikasi LMS, yang dapat mencatat dan mengolah seluruh aktitas peserta dalam mengikuti diklat. Agar pembelajaran lebih efektif, DJJ online juga didukung oleh tutorial melalui televisi edukasi (TVE), tutorial tatap muka, serta ujian offline. Sedangkan pada pembelajaran tutorial tatap muka dilakukan sebanyak 2-3 kali, yaitu pada awal pertemuan DJJ untuk membahas tentang tata cara mengikuti DJJ. Untuk pertemuan berikutnya membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan proses pembelajaran dan ujian akhir secara offline.

DJJ merupakan salah satu sistem di dalam kegiatan pembelajaran berbasis TIK. DJJ diselenggarakan untuk mempercepat siklus diklat, mempergunakan TIK dalam dunia kedilatan serta mengurangi keterbatasan jarak dan waktu antara penyelenggara diklat, tutor dan peserta diklat. Dengan DJJ penyelenggara, tutor dan peserta bisa saling berinteraksi kapan pun dan di mana pun. Dengan sistem ini, peserta dapat mengikuti diklat tanpa harus meninggalkan tugas.

Kegiatan DJJ ini dikatakan efektif jika pendidikan dan pelatihannya berorientasi input, proses, dan output dimana organisasi tersebut dapat melaksanakan program-program yang sistematis untuk mencapai tujuan dan hasil yang dicita-citakan. Sehingga pendidikan dan pelatihan efektif apabila pendidikan dan pelatihan tersebut dapat menghasilkan sumber daya manusia yang meningkat kemampuannya, keterampilan dan perubahan sikap yang lebih mandiri. Berikut adalah indikator pada penelitian ini dari beberapa aspek :

  1. Input; a). Mempunyai kepanitiaan yang resmi, b). Struktur kepanitiaan yang jelas, c). Perencanaan program yang jelas, d). Fokus kegiatan pada guru, e). Penggunaan ruang laboratorium untuk kegiatan, f). Ketersediaan dana untuk pelaksanaan kegiatan, g). Sosialisasi DJJ pada peserta, h). Kemudahan mendaftar jadi peserta DJJ, i). Syarat-syarat sebagai peserta DJJ, j). Pemanggilan peserta DJJ dan k). Tenaga tutor yang kompeten

2. Proses; a). Fasilitas laboratorium komputer (off-line) DJJ, b). Pembelajaran sesuai dengan program DJJ, c). Kemudahan mengakses website DJJ, d). Proses log-in ke website DJJ, e). Tampilan website DJJ, f). Cara mendownload materi DJJ, g). Kemudahan melakukan chatting, h). Kemudahan memperoleh siaran TV-E, i). Kemampuan peserta mengakses internet pada tutorial awal DJJ, j). Kemampuan peserta mengakses internet pada tutorial berikutnya DJJ, k). Strategi pembelajaran sesuai kebutuhan guru, l). Memperlakukan keluhan sebagai umpan balik untuk memperbaiki diri, m). Penilaian Anda tentang evaluasi on-line dan n). Penilaian Anda tentang evaluasi off-line

3. Output; a). Mendorong orang untuk berinovasi dan berkreasi, b). meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap serta mengadopsi pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif bagi guru, c). memperluas wawasan dan pengetahuan guru dalam berbagai hal, seperti penyusunan dan pengembangan silabus, Rencana Program Pembelajaran (RPP), dll, d). mengubah budaya kerja dan mengembangkan profesionalisme guru dalam upaya menjamin mutu pendidikan, e). Terwujudnya peningkatan mutu pelayanan pembelajaran yang mendidik, menyenangkan, dan bermakna bagi siswa, f). Terjadinya saling tukar pengalaman dan umpan balik antar guru peserta DJJ, g). Meningkatnya pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kinerja peserta DJJ dalam melaksanakan proses pembelajaran yang lebih profesional ditunjukkan dengan perubahan perilaku mengajar yang lebih baik di dalam kelas, h). Meningkatnya mutu pembelajaran di sekolah melalui hasil kegiatan DJJ, i). Termanfaatkannya kegiatan DJJ bagi guru, j).Penilaian Anda tentang pelaksana DJJ secara keseluruhan?, k). Keefektifan pendidikan dan pelatihan akan mempengaruhi kualitas kinerja sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkannya. Sehingga efektif tidaknya pelatihan dilihat dari dampak pelatihan bagi organisasi untuk mencapai tujuannya. Hal ini  selaras dengan Henry Simamora (2007, hal. 320) yang mengukur keefektifan Diklat dapat dilihat dari: 1) reaksi-reaksi bagaimana perasaan partisipan terhadap program; 2) belajar-pengetahuan, keahlian,  dan sikap-sikap yang diperoleh sebagai hasil dari pelatihan; 3) perilaku perubahan-perubahan yang terjadi pada pekerjaan sebagai akibat dari pekerjaan: dan 4) hasil-hasil  dampak pelatihan pada keseluruhan yaitu  efektivitas  organisasi atau pencapaian pada tujuan-tujuan organisasional.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. A.  Dimensi Input

Pada dimensi input peneliti melakukan wawancara dengan kepala Balai Diklat Keagamaan Palembang dan ketua panitia DJJ. Berikut adalah hasil wawancara sesuai dengan indikator.

–       Mempunyai kepanitiaan yang resmi

Setiap kegiatan diklat di Balai Diklat Keagamaan Palembang, Kepala Balai selalu membuat SK Kepanitiaan, dengan tujuan untuk melegalkan kegiatan dan sekaligus menunjuk pegawai-pegawai agar bertanggungjawab atas kegiatan dimaksud, tidak terkecuali untuk kegiatan DJJ. Kepanitiaan dibentuk 1-2 minggu sebelum kegiatan. Dalam wawancara beliau menjelaskan:

“Khusus untuk kegiatan DJJ, kepanitiaan ditentukan berdasarkan pengetahuan mereka akan pembelajaran yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini dilakukan karena DJJ ini menggunakan teknologi informasi dan komunikasi sebagai sarana pembelajarannya. Pembelajaran dilakukan dengan menggabungkan antara pembelajaran jarak jauh dan tutorial. Waktu pelaksanaannya selama 3 bulan.”

 

Hal yang serupa dikatakan ketua panitia bahwa kepanitiaan harus selalu dibentuk sebelum suatu kegiatan berlangsung. Kepanitiaan ini  terdiri dari ketua panitia, wakil ketua, sekretaris dan anggota. Masing-masing kepanitiaan mempunyai tugas dan wewenang masing-masing. Pada kepanitiaan DJJ ini dipilih orang-orang y