REVOLUSI MENTAL BAGI PENYULUH AGAMA ISLAM

0
514

REVOLUSI MENTAL BAGI PENYULUH AGAMA ISLAM

Oleh:

Sri Sunarti, M.Pd

sribdk@gmail.com

 

 

Abstrak – penyuluh agama Islam merupakan petugas yang diberikan kepercayaan untuk memberikan penyuluhan, dan penyuluhan baik yang bersifat agama, edukasi/pendidikan maupun advokasi. Penyuluh agama Islam juga dapat membantu peran pemerintah dalam menegakkan hukum dan memberantas criminal, seperti pengedaran narkoba, kenakalan remaja, dan lain-lain. Oleh sebab itu, penyuluh agama perlu mengembangkan mental dengan revolusi mental dan menerapkannya ke masyarakat. Dengan adanya, penyuluh agama Islam maka mental masyarakat akan berubah menjadi lebih baik lagi.

Kata Kunci: Penyuluh Agama Islam, Revolusi Mental

 

 

Pendahuluan

Revolusi mental saat ini sedang berkembang dan di sosialisasikan di setiap lembaga baik dunia usaha maupun pendidikan. Tak luput juga penyuluh agama yang mempunyai peran dalam mengembangkan revolusi mental baik untuk diri sendiri maupun masyarakat. Revolusi mental adalah gerakan seluruh rakyat Indonesia bersama Pemerintah untuk memperbaiki karakter bangsa menjadi Indonesia yang lebih baik. Namun, banyak permasalahan yang terjadi di negara kita saat ini, mulai dari kelakuan pejabat dalam melakukan korupsi, pelanggaraan HAM, hingga perilaku masyarakat yang semakin lama semakin terpuruk, seperti tidak antre, kurang peduli dan masih banyak lagi. Ini semua karena mental masyarakat masih rendah dan perlu dibangun kembali. Oleh karena itu, revolusi mental diharuskan diterapkan di Indonesia agar bangsa kita bisa berkembang lebih maju lagi dan sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya.

Revolusi mental dimulai dari diri sendiri dengan merujuk pada tujuan revolusi mental, yaitu:

  1. Mengubah cara pandang, berpikir, kerja dan perilaku yang berorientasi pada kemajuan dan kemoderan sehingga Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa lain di dunia.
  2. Membangkitkan kesadaran dan membangun sikap optimistik dalam menatap masa depan Indonesia sebagai negara dengan kekuatan besar untuk berprestasi tinggi, produktif dan berpotensi menjadi bangsa maju dan modern dengan pondasi tiga pilar trisakti.
  3. Mewujudkan Indonesia yang berdaulat secara politik, mandiri dan ekonomi dan berkepribadian yang kuat melalui pembentukan manusia Indonesia baru yang unggul.

Hasil survey internasional menunjukkan bahwa persepti tentang korupsi, Indonesia berada di rangking 114 dengan skor 32 dari 177 negara. Akibat dari ini, masyarakat Indonesia masih merasa resah dengan perilaku pejabat. Ini berarti Indonesia masih krisis mental dan karakter, serta toleransi. Selain itu, ada beberapa contoh lain yang menunjukkan rendahnya mental masyarakat Indonesia seperti praktek KKN dan money politik, tawuran remaja, manipulasi ijazah dan gejala sosial lainnya.

Ada beberapa pihak yang mempunyai tugas untuk memberikan penyuluhan merubah mental dan mindset masyarakat Indonesia, salah satunya penyuluh agama. Penyuluh agama sudah ada di Indonesia sejak zaman Belanda. Mereka memiliki tugas, seperti memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa ajaran komunisme yang ateis tidak cocok untuk hidup di bumi Indonesia, jiwa  pancasila yang hidup di dalam kalbu bangsa dan rakyat Indonesia harus diperkuat ketahanan mental rohaniahnya. Hal ini akan memberikan dampak positif bagi masyarakat Indonesia karena pembangunan memerlukan partisipasi seluruh anggota masyarakat dan umat beragama. Media penyuluhan ini merupakan sarana dan modal penting dalam melaksanakan pendidikan agama Islam pada masyarakat sekaligus dalam upaya peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Dengan demikian, penyuluhan agama Islam bukanlah agama semata melainkan mengamalkan ajaran agama dalam rangka meningkatkan partisipasi dalam menyukseskan pembangunan di Indonesia.

Dari berbagai masalah di Indonesia, masyarakat perlu menerapkan revolusi mental agar bangsa ini tidak tenggelam dalam keterpurukan. Orang yang bisa terjun langsung dalam lingkungan masyarakat Indonesia adalah penyuluh agama. Penyuluh agama adalah pembimbing umat dan tokoh masyarakat. Mereka dengan tanggung jawab memberikan bimbingan, mengayomi dan menggerakkan masyarakat untuk berbuat baik. Penyuluh agama juga membangun bangsa melalui pintu agama baik rohani maupun spiritual.

Pembahasan

  1. Pengertian Penyuluh Agama Non PNS

Penyuluh Agama Honorer adalah petugas penyuluhan keagamaan bukan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang berada di bawah Kantor Urusan Agama (KUA) dengan mendapatkan surat kerja (SK) dari Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama setempat untuk diperbantukan di daerah-daeran yang mendapat honor dari Kementerian Agama karena melaksanakan fungsinya itu. Keberadaan mereka di bawah Lembaga Kementerian Agama dibidang PENAMAS (Pendidikan Penerangan Agama dalam Masyarakat) untuk mengemban beberapa program kerja yang telah ditugaskan kepada Kantor Urusan Agama (KUA) setempat.

Peran penyuluh agama honorer membantu suksesnya program bimbingan keagamaan yang dirumuskan KUA. Secara teoritis, aktivitas bimbingan keagamaan yang dijalankan oleh penyuluh agama honorer dapat dikorelasikan dengan prinsip agama Islam. Penyuluh dapat membantu ibu-ibu dalam melakukan pengajian (majelis taklim), bimbingan penyuluhan konsultasi keagamaan, dan lain sebagainya.

 

  1. Pengertian Revolusi Mental

Revolusi mental berasal dari bahasa Latin, yaitu revolution yang berarti perputaran arah atau perubahan mendasar dalam struktur kekuatan atau organisasi yang terjadi dalam periode waktu yang relative singkat. Sedangkan kata mental atau mentalitas merupakan cara berpikir atau kemampuan untuk berpikir, belajar dan merespon terhadap suatu situasi atau kondisi. Jadi revolusi mental adalah perubahan yang relative cepat dalam berpikir, merespon dan bekerja.

Terdapat tiga pilar nilai revolusi mental yaitu sebagai berikut:

  • Integritas

Integritas adalah kesesuaian antara apa yang dikatakan dengan apa yang diperbuat, berkata dan berlaku jujur, dapat dipercaya, berpegang teguh dengan prinsip-prinsip kebenaran. Selain itu, memiliki pemikiran dan ide kreatif dalam menciptakan tata kelola pemerintahan baik serta memberikan pelayanan dengan baik.

  • Etos Kerja

Sikap yang berorientasi pada hasil yang baik, semangat yang tinggi, optimis dan mencari cara-cara yang produktif dan inovatif sehingga mencapai visi dan misi lembaga.

  • Gotong Royong

Sikap melakukan kegiatan secara bersama-sama dan bersifat sukarela agar kegiatan berjalan secara efektif dan efisien. Dengan kata lain, usaha bersama dengan cara saling bahu membahu demi kepentingan bersama yang melibatkan setiap lapisan masyarakat yang dimulai dari diri sendiri hingga level pemerintahan dan bangsa Indonesia.

Revolusi mental bertujuan untuk mencapai pembangunan nasional, yang terdiri dari meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia. Bangsa yang maju ditentukan oleh mentalitas yang tangguh, baik individual maupun secara kolektif dari seluruh warganegaranya. Revolusi mental merupakan gerakan bersama yang melibatkan seluruh masyarakat dan peran pemerintah. Dalam pelaksanaannya, dilakukan dengan internalisasi nilai-nilai esensial individu, keluarga, institusi social masyarakat dan lembaga Negara. Ada beberapa tujuan penerapan revolusi mental di Indonesia, yaitu:

  • Mengubah cara pandang pola pikir, sikap, perilaku dan cara kerja yang berorientasi pada kemajuan dan kemoderanan
  • Membangkitkan kesadaran dan membangun sikap optimistic dalam menatap masa depan bangsa Indonesia dengan melakukan prestasi tinggi, produktif, dan memiliki pondasi tiga pilar tri sakti.

Revolusi mental merupakan jembatan yang mentransformasikan dunia lama menuju dunia baru yang berdampak besar dalam struktur mental dan keyakinan. Dengan kata lain, adanya perubahan mentalitas baik pola pikir maupun sikap kejiwaan yang lebih kondusif baik untuk perbaikan kehidupan. Revolusi mental juga membangkitkan kesadaran bahwa bangsa Indonesia memiliki kekuatan besar untuk berprestasi tinggi, produktif dan berpotensi menjadi bangsa maju dan modern serta merubah cara pandang, pikiran, sikap, perilaku yang berorientasi pada kemajuan dan kemodernan.

Dalam rangka mewujudkan revolusi mental, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu:

  • Mempunyai ilmu dengan pendidikan baik, memiliki keahlian, dan menguasai teknologi, pekerja keras, dan mempunyai etos kemajuan,
  • Mempunyai sikap optimis dalam melakukan perubahan-perubahan, cara pandang, sikap, perilaku dan kebaikan-kebaikan,
  • Memiliki kesadaran untuk menjaga sumber daya alam dan lingkungan hidup yang harus digunakan secara efisien dan berkualitas.

Dalam melakukan revolusi mental untuk terjadinya suatu perubahan tidak terlepas dari terbentuknya konsep diri yang terbentuk dari pengalaman. Menurut Higgins (1987) ada empat konsep diri, yaitu:

  • Diri Ideal

          Diri ideal dimaksudkan dengan pribadi yang mempunyai karakter melayani masyarakat. Diri ideal ini menyangkut keyakinan kita tentang diri kita yang seharusnya berdasarkan pada nilai-nilai yang sudah diinternalisasikan dan dipengaruhi oleh lingkungan.

  • Citra Diri

          Citra diri adalah penampilan seseorang, kemampuan, peranan dan status sosialnya. Citra diri muncul dari penilaian orang lain yang menggambarkan tentang diri kita.

  • Harga Diri

          Harga diri adalah rasa menghargai diri sendiri dan kemampuan mengendalikan emosi dalam menghadapi masalah. Harga diri bisa tinggi dan rendah tergantung bagaimana menjalankan kehidupan sehari-hari. Semakin tinggi penghargaan seseorang terhadap dirinya berarti dia dapat mengendalikan emosinya.

  • Diri yang Sejati

          Diri yang sejati adalah bagian diri yang merupakan citra diri yang paling murni dan suci. Namun, terkadang sering di pengaruhi oleh lingkungan, keluarga dan masyarakat.

  1. Revolusi Mental bagi Penyuluh Agama Islam

Penyuluh agama Islam saat ini dihadapkan dengan berbagai kondisi masyarakat yang cepat berubah baik secara fungsional, teknologis, saintifik, dan terbuka. Setiap penyuluh agama Islam secara terus menerus perlu meningkatkan pengetahuan, wawasan dan pengembangan diri. Keberhasilan seorang penyuluh agama Islam dalam melaksanakan tugasnyadi masyarakat dipengaruhi oleh beberapa komponen diantaranya komponen strategi dakwah yang telah dipilih dan dirumuskan. Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai suku, ras, tradisi, bahasa serta status social ekonomi memiliki berbagai karakter yang berbeda-beda. Dalam menghadapi kondisi ini seorang penyuluh harus menyusun strategi yang tepat dalam pelaksanaan tugas kepenghuluannya sehingga tercapai tujuan yang di harapkan.

Penyuluh agama Islam mempunyai peranan penting dalam kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara. Berdasarkan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 79 tahun 1985 bahwa, “Penyuluh Agama mempunyai peranan sebagai pembimbing masyarakat, sebagai panutan dan sebagai penyambung tugas pemerintah’.  Revolusi mental adalah perubahan yang relative cepat dalam berpikir, merespon, bekerja dan bertindak. Ada beberapa peran penyuluh agama Islam berdasarkan KMA dalam revolusi mental, yaitu:

  • Peran sebagai pembimbing masyarakat

Dalam melaksanakan tugasnya, penyuluh agama Islam tidak semata-mata melaksanakan penyuluhan agama saja dalam artian memberikan bimbingan pada pengajian akan tetapi keseluruhan kegiatan penerangan baik bimbingan dan penerangan tentang berbagai program pembangunan, keluarga sakinah, kerajinan dan keterampilan, serta gaya hidup yang baik. Hal ini berarti penyuluh agama Islam berperan sebagai pembimbing umat yang bertanggung jawab demi kesejahteraan masyarakat. Posisi penyuluh agama Islam ini sangat strategis untuk menyampaikan masalah keagamaan di masyarakat dan program-program di masyarakat. Kekurangtahuan pengetahuan masyarakat tentang tata cara sholat yang sebenarnya, merupakan salah satu contoh masalah keagaamaan di masyarakat. Selain itu, contoh program pembangunan masyarakat, peningkatan fasilitas dan pemberdayaan potensi ekonomi masyarakat melalui sector pertanian, pembangunan desa, pelatihan budidaya pertanian, peternakan dan perkebunan.

  • Peran sebagai Panutan dan Motivator

Dalam pelaksanaannya, penyuluh agama Islam dapat menjadi tauladan dalam kehidupan sehari-hari sehingga masyarakat termotivasi untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Seperti contoh, seorang penyuluh agama Islam memberikan penyuluhan tentang cara berpakaian syar’I bagi wanita muslim. Masyarakat akan memberikan kritikan apabila penyuluh agama Islam wanita tidak mengenakan pakaian syar’I juga. Oleh sebab itu, penyuluh agama Islam dapat dijadikan tauladan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

  • Peran sebagai Penyambung Tugas Pemerintah

Posisi menjadi jembatan / penyambung antara pemerintah dan masyarakat bukanlah hal yang mudah dalam pelaksanaannya. Di kalangan masyarakat, banyak sekali saat ini kejadian yang sangat memprihatinkan masyarakat. Seperti contoh, penggunaan teknologi yang disalahgunakan, dan penggunaan obat-obat terlarang/narkoba. Pemerintah telah berusaha keras untuk membuat undang-undang tentang penyalahgunaan teknologi namun hal itu terkadang masih saja diabaikan. Apalagi anak-anak yang sekarang ini telah terkontaminasi oleh perkembangan zaman dan teknologi. Anak-anak dan remaja telah terlena dengan kecanggihan teknologi itu. Oleh sebab itu, peran penyuluh agama Islam sangat diperlukan disini untuk memberikan bimbingan dan arahan tentang penggunaan teknologi. Selain itu, narkoba yang telah menjamur di masyarakat sangat meresahkan dan memprihatinkan. Pemerintah telah menangkap dan mencari para pengedar, Bandar dan penggunanya. Namun, masih saja bisa masuk ke masyarakat umum mulai dari anak-anak sampai dewasa. Oleh sebab itu, penyuluh agama Islam harus berusaha dengan giat memberikan pencerahan ke masyarakat untuk membantu pemerintah agar masyarakat tidak mudah tergoda oleh hal-hal yang dapat merusak mental masyarakat.

Penutup

Revolusi mental merupakan gerakan nasional untuk mengubah cara pandang, pola pikir, sikap, nilai-nilai dan perilaku bangsa Indonesia untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, berdikari dan berkepribadian. Dengan kata lain, diinginkan adanya perubahan mental yang lebih baik di Indonesia. Hal ini didasarkan oleh tiga nilai utama revolusi mental yaitu integritas, etos kerja dan gotong royong.

 

Daftar Pustaka

Harris, P. R. 1998. The New Work Culture. Amherst: HRD PressSiew, K and Jean, L,       2004,”Corporate culture and organizational performance”, Journal of Managerial       Psychology, Vol. 19 Iss: 4 pp. 340 – 359

Robbins, S.P. 2003. Perilaku Organsasi.  Edisi Indonesia. Jakarta: PT. INDEKS Kelompok GRAMEDIA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.