QUANTUM TEACHING “Mengajar Ibarat Memimpin Orkestra”

0
23

QUANTUM TEACHING

“Mengajar Ibarat Memimpin Orkestra”

Disarikan Oleh: Basuki, M.Pd

Widyaiswara Madya

Abstrak

Lompatan (quantum) adalah satu kata yang enak didengar untuk orang-orang yang memerlukan percepatan dan keberhasilan optimal.Tidak terkecuali dalam proses belajar mengajar.Siapa sih guru yang tidak ingin murid –muridnya mampu menangkap apa yang disampaikan secara tepat dan cepat, melejitkan potensi siswanya, atau juga ingin menghidupkan kelas-kelas mengajarnya? Cara quantum bisa menjadi satu cara yang meniscayakan kondisi seperti itu.

 

Pendahuluan

 

Quantum Teaching  merupakan satu gagasan brilian tentang cara mengajar yang dikemas oleh Bobbi Deporter bersama-sama para pendidik senior, Merk Reardon,M.S dan Sarah Singer-Nourie,M.A menjadi sebuah buku yang amat bagus. Lewat gagasan ini Bobbi Deporter ingin mengajak kita, para guru untuk mencetak siswa-siswa yang tidak hanya memiliki ketrampilan akademis, tetapi juga memiliki ketrampilan hidup (life skill) sebuah ketrampilan penting yang penggunaannya tidak dibatasi oleh dinding-dinding ruangankelas, tetapi juga oleh langit, udara, laut dan bumi. Hal yang tidak berlebihan mengingat Quantum Teaching  merupakan gabungan dari teori-teori pendidikan seperti Accelerated Learning (Lozanov), Multiple Intellegences (Gardner), Neuro-Linguistic Programming (Grinder dan Bandler), Expreriential Learning (Hahn), Coorperative Learning (Johnson dan Johnson) dan Elements Of Effective Instruction (Hunter). Quantum Teaching  merangkaikan yang paling baik dari yang terbaik menjadi sebuah paket multisensori, multi kecerdasan, dan kompetibel dengan otak, yang pada akhirnya akan melejitkan kemampuan guru untuk mengilhami dan kemampuan murid untuk berprestasi.

Metode Quantum Teaching ini sudah pernah diujicobakan di supercamp, sebuah program percepatan quantum learning yang ditawarkan oleh quantum forum sebuah perusahaan pendidikan internasional yang menekankan pada perkembanganakademis dan ketrampilan pribadi. Dari program ini dihasilkan siswa-siswa yang mampu memperoleh nilai yang lebih baik, lebih banyak prestasi, dan merasa lebih banggaakan dirinya sendiri. Berikut prestasi hasil supercamp: 68% meningkatkan motivasi, 73% meningkatkan nilai, 81% meningkatkan rasa percaya diri, 84% meningkatkan harga diri, dan 98% melanjutkan penggunaan keterampilan.

Bawalah Dunia Mereka Ke Dunia Kita dan Antarkan Dunia Kita Ke Dunia Mereka.

 

Itulah asas utama quantum Learning. Pada dasarnya kita sebagai guru telah memiliki wewenang mengajar berdasarkan ijazah kita dari bidang kependidikan ataupun atas rekomendasi dari Depdikbud. Namun, kita belum tentu punya hak mengajar dikelas kita. Hak mengajar hanya bisa kita raih atas rekomendasi dari siswa kita. Belajar dari segala definisinya adalah kegiatan full-contact. Dengan kata lain, belajar melibatkan semua aspek kepribadian masusia, pikiran, perasaan dan bahasa tubuh, disamping pengetahuan, sikap dan keyakinan sebelumnya serta persepsi masa mendatang. Dengan demikian, karena belajar berurusan dengan orang secara keseluruhan, hak untuk memudahkan belajar tersebut harus diberikan oleh pelajar dan diraih oleh guru.

Jadi, masuki dulu dunia mereka dan antarkan dunia kita pada mereka. Kaitkan apa yang kita ajarkan dengan sebuah peristiwa, pikiran, atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, sosial, olahraga, musik, seni, rekreasi atau akademisi mereka. Setelah kaitan itu terbentuk, kita dapat membawa mereka ke dalam dunia kita dan mulai memberi mereka pemahaman kita tentang isi dunia itu.

Ibaratnya penerapan Quantum Teaching seolah kita memimpin sebuah pergelaran orkestra. Kitalah si maestro konduktor, dan murid-murid kita memegang peranan masing-masing, sebagai pemetik gitar, penggesek biola, pembetot bass, atau penggebuk drum. Kita harus memahami setiap karakter yang dimainkan oleh murid-murid kita. Ketika kita telah memasuki dunia mereka dan mereka mencurahkan pula perhatian penuh untuk dunia kita, leluasalah kita menggerakkan tongkat konduktor kita mengajak para siswa untuk melantunkan kesuksesan yang kita inginkan.

Orkestra Quantum ini dibangun dengan dasar kerangka yang disebut TANDUR

T = Tumbuhkan dengan maksud menumbuhkan minat pada pelajar tentang manfaat apa

yang akan diterimanya lewat pembelajaran.

A = Alami dengan maksud menciptakan atau mendatangkan pengalaman umum yang

dapat dipahami oleh semua pelajar.

N = Namai dengan maksud menyediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi,

sebuah masukan.

D = Demontrasikan dengan maksud menyediakan kesempatan bagi pelajar untuk

menunjukkan bahwa mereka tahu.

U = Ulangi dengan maksud menunjukkan pada pelajar cara-cara mengulangi materi dan

menegaskan, aku tahu bahwa aku memang tahu ini.

R = Rayakan dengan maksud memberi pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi dan

pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan.

 

Sejatinya  Quantum Teaching merupakan proses pendidikan yang mencoba memanusiakan manusia. Pendekatan kecerdasan emosional diupayakan terlebih dahulu untuk berangsur-angsur menumbuhkan kecerdasan intelektual. Siswa-siswa ditempatkan sebagai manusia-manusia yang harus diberi sugesti da penghargaan, bukan malah dipojokkan karena ketidakmampuan maereka. Pendekatan kemanusiaan ini tentunya akan memperoleh umpan balik yang manusiawi pula sehingga mampu menimbulkan semangat dan kegairahan guru dalam mengajar. Wajarlah jika Jack Canfield (penulis buku Chicken Soup For The Soul) menyatakan bahwa Quantum Teaching cocok untuk guru-guru yang telah kehilangan idealisme, gairah, dan cinta mengajar yang pernah dimiliki. Quantum Teaching akan mengobarkan kembali api dalam diri kita, juga diri siswa kita.

Kita ingin tahu lebih jauh penerapan Quantum Teaching atau sekedar penasaran ingin membandingkannya dengan pengalaman mengajar kita? Beruntunglah konsep ini telah dikemas menjadi buku dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul  Quantum Teaching oleh penerbit Kaifa dan kita bisa membacanya sampai habis. Tentulah tulisan yang ringkas ini tidak mampu merangkum isi buku itu secara keseluruhan yang sarat dengan ide dan imajinasi-imajinasi luar biasa tentang proses belajar mengajar.

Namun, bagaimanapun kita punya potensi untuk melejitkan diri kita menjadi Quantum Teacher. Dan terbayang di benak kita  sendiri betapa sekolah-sekolah di Indonesia akan bertumbuh dan berkembang menjadi sekolah-sekolah super dengan guru-guru dan siswa-siswa yang juga super seandainya Quantum Teaching ini benar-benar  dipraktekkan. Cerita sedih tentang krisis dunia pendidikan kita niscaya akan segera hapus, semoga.

 

 

Disarikan dari buku Quantum Teaching: Mempraktekkan Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas Terbitan Kaifa, 2000.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.