PRINSIP BELAJAR EFEKTIF

0
27

PRINSIP BELAJAR EFEKTIF

Oleh : Muhammad Tontowi,S.Ag

 

Abstrak: Tulisan yang berjudul “Prinsip Belajar” ini, akan membahas lima bahasan yaitu;  pertama  Motivasi, kedua  Perhatian, ketiga Aktivitas, keempat, Balikan, dan kelima Perbedaan Individual. Didalam tulisan ini anda akan diperkenalkan kepada hal-hal apa yang harus diperhatikan dan diupayakan supaya belajar terjadi secara baik. Karena perinsip belajar merupakan ketentuan atau hokum yang harus dijadikan pegangan di dalam pelaksanaan, kegiatan belajar. Sebagai suatu hukum, prinsip belajar akan sangat menentukan proses dan hasil belajar.

Kata Kunci: Prinsip Belajar

A. PENDAHULUAN

Belajar sebagai suatu proses psikologis sering merupakan sesuatu yang tidak mudah dipahami dengan baik.  Proses psikologis dalam diri peserta didik yang belajar banyak mengandung misteri, artinya proses psikologis yang disebut belajar itu selalu mengandung persoalan yang sulit dipecahkan secara tuntas oleh satu pendekatan tunggal, pembahasan belajar oleh satu pendekatan tertentu selalu berujung dengan persoalan baru yang rumit.

Tidak ada suatu pendekatan belajar yang mengklaim dapat menjawab semua persoalan yang terkait dengan proses psikologis belajar secara lengkap dan tuntas. Suatu pendekatan belajar selalu bertitik tolak dari suatu sudut pandang tertentu yang sudah pasti berbeda dengan pendekatan belajar yang lain yang bertitik tolak dari sudut pandang yang berlainan. Jadi kemampuan suatu pendekatan untuk menjelaskan proses psikologis belajar itu sangat terbatas, dan berbeda-beda. Selanjutnya yang menjadi persoalan kita ialah hal-hal apa yang harus diperhatikan dan diuapayakan supaya belajar terjadi secara baik.

BPEMBAHASAN

Prinsip belajar merupakan ketentuan atau hukum yang harus dijadikan pegangan di dalam pelaksanaan kegiatan belajar. Sebagai suatu hukum, prinsip belajar akan sangat menentukan proses dan hasil belajar. Ada lima prinsip belajar yaitu: (1) Motivasi,(2) Perhatian, (3) Aktivitas, keempat, (4) Balikan, dan (5) Perbedaan Individual.

Ad 1. Motivasi

Pengertian dan definisi motivasi menurut beberapa ahli. Prof. Drs. Nasution (1995) menjelaskan motivasi adalah usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi sehingga anak itu mau melakukan sesuatu. (expresisastra.bl, panduan membuat skripsi dan penelitian), diakses 23 Maret 2015). Robins dan Judge (2007) mendefenisikan motivasi sebagai proses yang menjelaskan intensitas, arah dan ketekunan usaha untuk mencapai suatu tujuan. (expresisastra.bl, panduan membuat skripsi dan penelitian), diakses 23 Maret 2015).

            Drs. Moh. Uzer Usman (2000) mengatakan bahwa; Motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi /tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan/keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan. (expresisastra.bl, panduan membuat skripsi dan penelitian), diakses 23 Maret 2015).

Motivasi berfungsi sebagai motor penggerak aktivitas. Bila motornya tidak ada, maka aktivitas tidak akan terjadi, dan bila motornya lemah, aktivitas yang terjadi pun lemah pula.

Motivasi belajar berkaitan erat dengan tujuan yang hendak dicapai oleh individu yang sedang belajar itu sendiri. Bila seseorang yang sedang belajar menyadari bahwa tujuan yang hendak dicapai berguna atau bermanfaat baginya, maka motivasi belajar akan muncul dengan kuat. Motivasi belajar seperti itu disebut motivasi intrinsik atau motivasi internal. Jadi munculnya motivasi intrinsik dalam belajar, karena peserta didik ingin menguasai kemampuan yang terkandung di dalam tujuan pembelajaran.

Contoh:

Athar peserta didik kelas IV suatu sekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI), bersungguh-sungguh mempelajari matematika, karena ia menyadari bahwa kemampuan dalam bidang matematika bermanfaat sekali di dalam kehidupan sehari-hari. Contoh lain Aca sangat bersungguh-sungguh belajar senisuara, karena ia ingin menjadi penyanyi yang baik.

Coba sekarang anda perhatikan contoh berikut:

Parub peserta didik kelas II, bersungguh-sungguh belajar karena ayahnya menjanjikan sepeda mini bila ia menjadi peserta didik terbaik. Contoh lain: Tiara sungguh-sungguh belajar, karena ibu gurunya pernah memberikan pujian saat ia memperoleh nilai terbaik.

Dua contoh terakhir memiliki perbedaan dari dua contoh sebelumnya. (khusus Athar dan aca). Terlihatkah dimana letak perbedaannya?. Ya, pada dua contoh terakhir (Parub dan Tiara), mereka sungguh-sungguh belajar bukan karena ingin menguasai kemampuan yang terkandung di dalam pelajaran, akan tetapi karena ingin hadiah atau pujian. Jadi tujuan yang ingin mereka raih berada di luar tujuan pelajaran yang mereka pelajari. Motivasi seperti itu disebut motivasi ekstrinsik atau motivasi eksternal.

Keempat contoh kasus tersebut memiliki persamaan, yaitu semua peserta didik tersebut memiliki dorongan belajar, walaupun kadarnya berbeda.

Motivasi instrinsik disebut juga motivasi murni, karena muncul dari dirinya sendiri. Oleh karena itu. Sedapat mungkin guru harus berusaha memunculkan motivasi instrinsik dikalangan para peserta didik pada saat mereka belajar; umpamanya dengan cara menjelaskan kaitan tujuan pembelajaran dengan kepentingan atau kebutuhan peserta didik.

Memunculkan motivasi instrinsik di kalangan siswa-siswa kelas rendah memang agak sulit, karena pada umumnya mereka belum menyadari pentingnya pelajaran yang mereka pelajari. Memunculkan motivasi ekstrinsik dapat dilakukan antara lain dengan cara memberi pujian atau hadiah, menciptakan situasi belajar yang menyenangkan, memberi nasihat, kadang-kadang teguran. Kegiatan-kegiatan seperti itu sangat penting untuk dipertimbangkan guru di dalam membimbing peserta didik belajar.

Ad 2. Perhatian

            Sumadi Suryabrata (1996:14) mengatakan perhatian adalah perumusan tenaga psikis yang tertuju pada suatu obyek, atau banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai sesuatu aktivitas yang dilakukan. (forumgurunusantara.blogspot/…/pen..)diakses 26 Oktober 2012

            Ramayulis (1994:175), bahwa perhatian adalah merupakan salah satu faktor psikologis yang dapat membantu terjadinya interaksi dalam proses belajar mengajar. Kondisi psikologis ini dapat terbentuk melalui dua hal, yaitu pertama, yang timbul secara instrinsik, dan yang kedua melalui bahan pelajaran (content). (forumgurunusantara.blogspot/…/pen..)diakses 26 Oktober 2012.

Perhatian erat sekali dengan motivasi bahkan tidak dapat dipisahkan. Anitah W Sri, dkk (2007:1.10) mengatakan bahwa;

Perhatian ialah pemusatan energi psikis (pikiran dan perasaan) terhadap suatu objek). Makin terpusat perhatian pada pelajaran, proses belajarmakin baik, dan hasilnya akan maikn baik  pula. Oleh karena itu guru harus selalu berusaha supaya perhatian peserta didik terpusat pada pelajaran.

Memunculkan perhatian seseorang pada suatu objek dapat diakibatkan oleh dua hal.

Pertama, orang itu merasa bahwa objek tersebut mempunyai kaitan dengan dirinya; umpamanya dengan kebutuhan, cita-cita, pengalaman, bakat, dan minat.

Kedua, objek itu sendiri dipandang memiliki sesuatu yang lain, dari yang lain, atau yang lain dari yang sudah biasa.

Perhatikan contoh kasus berikut ini.

  1. Nelly, salah seorang peserta didik di suatu Madrasyah Ibtidaiyah (MI) sangat tertarik dengan penjelasan ibu gurunya tentang perpindahan penduduk sehingga ia sungguh-sungguh memperhatikan pelajaran tersebut, karena ia pernah dibawa orang tuanya bertransmigrasi
  2. Sekelompok peserta didik di suatu Madrasyah Ibtidaiyah (MI), pada suatu waktu mengikuti pelajaran dengan penuh perhatian, karena guru mengajarkan pelajaran tersebut dengan menggunakan alat peraga, yang sebelumnya guru tersebut belum pernah melakukannya.
  3. Sekelompok peserta didik sedang asyik mengerjakan tugas kelompok, dalam pelajaran Sains. Kelihatannya mereka sangat sungguh-sungguh mengerjakan tugas tersebut. Biasanya mereka belajar cukup dengan mendengarkan ceramah dari guru.

Ketiga contoh tersebut menggambarkan peserta didik belajar dengan penuh perhatian, akan tetapi penyebabnya berbeda. Contoh pertama Nelly belajar dengan penuh perhatian, karena pelajaran tersebut memiliki kaitan dengan pengalamannya (pelajaran tersebut ada kaitannya dengan diri peserta didik). Pada contoh kedua, peserta didik dengan penuh perhatian, karena guru mengajar dengan menggunakan alat peraga (cara guru mengajar lain dari kebiasaannya). Demikian pula pada contoh ketiga, peserta didik belajar dengan penuh perhatian karena guru menggunakan metode yang bervariasi (tidak hanya ceramah).

Dari uraian dan contoh tersebut dapat disimppulkan hal-hal berikut.

  1. Belajar dengan penuh perhatian pada pelajaran yang sedang dipelajari, proses dan hasilnya akan lebih baik.
  2. Upaya guru menumbuhkan dan meningkatkan perhatian peserta didik terhadap pelajaran dappat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:
  • Mengaitkan pelajaran dengan pengalaman, kebutuhan, cita-cita, bakat, atau minat peserta didik.
  • Menciptakan situasi yang tidak menoton, seperti penggunaan media, tempat belajar tidak terpaku hanya dialam kelas saja.

Ad 3. Aktivitas

Seperti telah dibahas di di atas bahwa belajar itu sendiri adalah aktivitas, yaitu aktivitas mental dan emosional. Bila ada peserta didik yang duduk di kelas pada saat pelajaran berlangsung, akan tetappi mental emosionalnya tidak terlibat aktif di dalam situasi pembelajaran itu, pada hakekatnya peserta didik tersebut tidak ikut belajar.

Oleh karena itu, guru-guru jangan sekali-kali membiarkan peserta didik tidak ikut aktif  belajar. Lebih dari sekadar mengaktifkan peserta didik belajar, guru harus berusaha meningkatkan kadar aktivitas belajar tersebut.

Kegiatan mendengarkan penjelasan guru, sudah menunjukkan adanya aktivitas belajar. Akan tetapi barangkali kadarnya perlu ditingkatkan dengan menggunakan metode-metode mengajar lain.

Ad 4. Balikan

Peserta didik perlu dengan segera mengetahui apakah yang ia lakukan di dalam proses pembelajaran tersebut sudah benar atau belum. Bila ternyata masih salah, pada bagian mana ia masih salah dan mengapa salah, dan mengapa salah, serta bagaimana seharusnya ia melakukan kegiatan belajara tersebut.

Untuk itu peserta didik perlu sekali memperoleh balikan dengan segera, supaya ia tidak terlanjur berbuat kesalahan yang dapat menimbulkan kegagalan belajar. Bagaimana caranya untuk   memberikan balikan terhadap peserta didik?. Berikut ini ada beberapa cara yang dapat dilakukan:

  • Guru mengatakan bahwa pekerjaan peserta didik salah.
  • Guru mengatakan bahwa pekerjaan peserta didik masih salah dan tunjukkan pada bagian mana kesalahannya
  • Guru menunjukkan kepada peserta didik pada bagian mana peserta didik masih salah, kemudian dijelaskan mengapa masih salah dan diminta kepada peserta didik tersebut untuk memperbaiki bagian yang masih salah itu.

Dari ketiga cara tersebut, cara yang ketiga merupakan cara yang lebih baik dalam memberikan balikan dari pada cara pertama dan kedua, karena dengan cara ketiga guru bukan hanya menyalahkan, akan tetapi menjelaskan pula kepada peserta didik mengapa pada bagian tersebut peserta didik masih salah.

Dengan cara ketiga seperti itu peserta didik akan lebih memahami alasan ia melakukan kesalahan. Belajar dengan penuh pemahaman hasilnya akan lebih baik. Bahkan bila waktu mencukupi, peserta didik yang bersangkutan diminta untuk mengoreksi pekerjaannya sendiri di bawah bimbingan guru. Setelah menemukan kesalahannya sendiri, selanjutnya peserta didik mendiskusikan kesalahannya itu dengan guru sambil dicari sendiri, cara-cara yang lebih tepat.

Dengan cara seperti itu kadar aktivitas belajar lebih tinggi. Peserta didik tidak terlalu banyak bergantung kepada guru, karena peserta didik yang lebih banyak aktif mencari dan menemukan sendiri. Akan tetapi jangan lupa, peserta didik harus tetap dibimbing.

Ad 5.Perbedaan Individual

Belajar tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Tidak belajar, berarti tidak akan memproleh kemampuan. Belajar dalam arti proses mental dan emosional terjadi secara individual. Jika kita mengajar di suatu kelas, sudah barang tentu kadar aktivitas belajar para peserta didik beragam. Di samping itu, peserta didik belajar sebagai pribadi tersendiri, yang memiliki perbedaan dari  peserta didik lain. Perbedaan itu mungkin dalam hal pengalaman, minat, bakat, kebiasaan belajar, kecerdasan, tipe belajar dan sebagainya. Dengan demikian, guru yang menyamaratakan peserta didik, menganggap semua      peserta didik sama sehingga memerlakukan mereka sama, pada prinsipnya bertantangan dengan hakekat manusia, dalam hal ini peserta didik.

Guru yang bijaksana akan menghargai dan memperlakukan peserta didik sesuai dengan hakikat mereka masing-masing. Suatu tindakan guru yang dipandang tepat terhadap seorang peserta didik, belum tentu tepat untuk peserta didik yang lain. Akan tetapi ada perlakuan yang memang harus sama terhadap semua peserta didik. Demikian pula yang menyangkut pelajaran. Pelajaran mana yang harus dipelajari oleh semua peserta didik, dan pelajaran mana yang boleh dipilih oleh peserta didik sesuai dengan bakat mereka.

Perlakuan guru terhadap peserta didik yang cepat harus berbeda dari perlakuan terhadap peserta didik yang termasuk lamban.peserta didik yang lamban perlu banyak dibantu, sedangkan peserta didik yang cepat diberi kesempatan lebih dulu maju atau melakukan pengayaan.

Di dalam menggunakan metode mengajar, guru perlu menggunakan metode mengajar bervariasi, sebab peserta didik yang kita ajar memiliki tipe belajar yang berbeda. Peserta didik yang memiliki tipe belajar auditif akan lebih mudah belajar yang melalui pendengaran. Peserta didik yang memiliki tipe belajar visual akan lebih mudah melalui penglihatan, sedangkan peserta didik yang memiliki tipe belajar kinestetik akan lebih mudah belajar melalui perbuatan.

Untuk keperluan itu semua guru perlu memahami pribadi masing-masing peserta didik  yang menjadi bimbingannya. Oleh karena itu, catatan pribadi tiap peserta didik sangat bermanfaat. Setiap peserta didik perlu dicatat tentang: kecerdasannya, bakatnya, tipe belajarnya, latar belakang kehidupan orang tuanya, kemampuan pancainderanya., penyakit yang dideritanya, bahkan kejadian sehari-hari yang dipandang penting. Semua itu harus dicatat pada catatan pribadi peserta didik. Buku catatan pribadi peserta didik tersebut harus diisi secara rutin dan harus terus mengikuti peserta didik tersebut ke kelas dan ke jenjang pendidikan berikutnya.

Buku catatan pribadi tiap peserta didik Kelas I, setelah mereka naik Kelas II, harus diserahkan kepada guru kelas II untuk digunakan dan diisi dengan data/catatan baru, begitulah seterusnya sampai ke jenjang pendidikan berikutnya.

Sudakah anda ditempat mengajar masing-masing mencobakan/melaksanakan buku catatan pribadi tiap peserta didik di kelas tempat anda mengajar?. Bila sudah ada , coba pelajari hal-hal berikut ini.

1.Data apa saja yang dicatat?

  1. Kapan buku tersebut diiisi?
  2. Pernahkah buku catatan pribadi tersebut digunakan, dan untuk apa?
  3. Bagaimana saran anda untuk pemanfaatan buku catatatn pribadi tersebut tentang: data dan pengisiannya, serta penggunaannya.

Jika ternyata anda belum ada, coba buat sebuah model buku catatan pribadi peserta didik yang menurut anda cukup lengkap untuk keperluan pembimbingan belajar terhadap peserta didik yang anda ajar, anda boleh mengembangkan selain yang ada pada tulisan ini demi untuk kemajuan anak bangsa kita ini, semoga sukses! Amin.

C. KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan; Supaya belajar terjadi secara efektf perlu diperhatikan beberapa perinsip berikut.

  1. Motivasi, yaitu dorongan untuk melakukan kegiatan belajar, baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik dinilai lebih baik, karena berkaitan langsung dengan tujuan pembelajaran itu sendiri.
  2. Perhatian atau pemusatan energi psikis terhadap pelajaran erat kaitannya dengan motivasi. Untuk memusatkan perhatian peserta didik terhadap pelajaran, guru dapat mengaitkan pelajaran dengan diri peserta didik itu sendiri (kebutuhan, minat, atau pangalaman peserta didik) dan atau menciptakan situasi pembelajaran yang dapat menarik perhatian peserta didik.
  3. Belajar itu sendiri adalah aktivitas. Bila pikiran dan perasaan peserta didik tidak terlibat aktif dalam situasi pembelajaran, metode dan media yang bervariasi dapat merangsang peserta didik lebih aktif belajar.
  4. Balikan di dalam belajar sangat penting, supaya peserta didik segera mengetahui benar tidaknya pekerjaan yang ia lakukan. Balikan dari guru sebaiknya yang mampu menyadarkan peserta didik terhadap kesalahan mereka dan meningkatkan pemahaman peserta didik akan pelajaran tersebut.
  5. Perbedaan individual. Individu merupakan pribadi tersendiri yang memiliki perbedaan dari yang lain. Guru hendaknya mampu memperhatikan dan melayani peserta didik sesuai dengan karakteristik mereka masing-masing. Berkaitan dengan ini catatan pribadi setiap peserta didik sangat diperlukan.

D. REKOMENDASI

Berdasarkan uraian diatas perlu disampaikan rekomendasi sebagai bahan masukan

kepada semua guru-guru Tingkat Dasar (SD/MI, SMP/MTs) bahwa:

  1. Cara untuk membangkitkan motivasi belajar peserta didik yang dipandang lebih baik adalah Anda sebaiknya mengaitkan tujuan pembelajaran dengan kebutuhan hidup peserta didik sehari-hari.
  2. Sebelum pelajaran baru Anda ajarkan, kegiatan pendahuluan yang dapat menumbuhkan perhatian peserta didik ialah mengungkapkan pengalaman sehari-hari peserta didik kemudian dikaitkan dengan pelajaran baru.
  3. Anda adakan balikan yang lebih efektif terhadap peserta didik, karena balikan yang lebih efektif terhadap peserta didik tersebut, maka peserta didik dirangsang untuk mengoreksi pekerjaannya sendiri dan diminta mencari cara yang terbaik untuk memperbaiki yang salah

 

DAFTAR PUSTAKA

Anitah, W, Sri, dkk. (2007). Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Djamarah, Syaiful Bahri ,(2000). Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional

Sardjiyo, dkk. (2012) Pendidikan Anak di SD. Jakarta:  Pusat Penerbitan Universitas Terbuka

Semiawan, Conny R. (Ed) (1999). Perkembangan dan belajar Peserta Didik. Jakarta: Depdikbud.

Taufik, Agus, dkk (2011). Pendidikan Anak Di SD. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Udin S. Winataputra. (2003).  Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Pusat Penerbitan  Universitas Terbuka

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

(expresisastra.bl, panduan membuat skripsi dan penelitian), diakses 23 Maret 2015). (forumgurunusantara.blogspot/…/pen..)diakses 26 Oktober 2012

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.