Peranan Tenaga Pendidik Terhadap Peningkatan Keterampilan Proses Sains

0
28

Oleh

Elsy Zuriyani

Abstrak

Keterampilan proses sains sebagai keterampilan proses IPA berdasarkan hakekat IPA sebagai produk dan sebagai proses. IPA sebagai produk meliputi sekumpulan pengetahuan yang terdiri atas fakta-fakta, konsep-konsep dan prinsip-prinsip IPA, sedangkan IPA sebagai proses meliputi keterampilan-keterampilan dan sikap yang dimiliki oleh para ilmuan untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan IPA. Ada pun jenis-jenis keterampilan sains adalah Observasi dan inferensi, Pengukuran dan Estimasi, Prediksi dan berhipotesis, Menyajikan data, menyimpulkan dan interpretasi, Identifikasi dan pengendalian variable, Mengajukan pertanyaan dan rumusan masalah, Merancang dan melaksanakan percobaan/penyelidikan. Dalam mengembangkan keterampilan proses peranan guru dapat dibahas secara umum, maupun secara khusus. Peranan Umumnya adalah Memberikan kesempatan untuk menggunakan keterampilan proses dalam melakukan eksplorasi materi dan fenomena, Memberikan kesempatan untuk berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil juga diskusi kelas, Mendengarkan pembicaraan siswa dan mempelajari produk mereka dan untuk menemukan proses yang diperlukan untuk membentuk gagasan mereka, Mendengarkan pembicaraan siswa dan mempelajari produk mereka dan untuk menemukan proses yang diperlukan untuk membentuk gagasan mereka, Memberikan teknik atau strategi untuk meningkatkan keterampilan, khususnya ketepatan dalam observasi dan pengukuran. Adapun peran khusus guru dalam mengembangkan keterampilan proses adalah Membantu mengembangkan keterampilan observasi, Memberikan kesempatan untuk berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil juga diskusi kelas, Membantu keterampilan klasifikasi, Membantu mengembangkan keterampilan berkomunikasi, Membantu mengembangkan keterampilan interpretasi, Membantu mengembangkan keterampilan prediksi, Membantu mengembangkan keterampilan berhipotesis, Membantu mengembangkan keterampilan berhipotesis.

Keyword: Keterampilan Proses.

 

PENDAHULUAN

Dalam berbagai sumber dinyatakan bahwa hakikat sains adalah produk, proses dan penerapannya (teknologinya), termasuk sikap dan nilai yang terkandung didalamnya. Produk sains yang terdiri dari fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori dapat dicapai melalui penggunaan proses sains, yaitu melalui metode-metode sains atau metode ilmiah (scientifict method), dan bekerja ilmiah (scientifict inquiri).

Bekerja ilmiah sesungguhnya adalah perluasan dari metode ilmiah. Di Indonesia metode ilmiah sudah ditekankan dalam IPA semenjak kurikulum 1975. Lingkup proses dalam kurikulum 1975 dirumuskan dalam tujuan kurikulum kedua yakni mampu menggunakan metode untuk konsep-konsep yang dipelajari. Dalam kurikulum 1984 lingkup proses ini dirumuskan dalam satu rumusan tujuan kurikuler dan metode ilmiah dijabarkan ke dalam jenis-jenis keterampilan proses sebagai keterampilan dasar yang harus dikembangkan atau dilatihkan sebelum seseorang mampu menggunakan metode ilmiah. Selanjutnya dalam kurikulum 1994, lingkup proses dan konsep diintegrasikan dalam setiap rumusan tujuan pembelajaran (umum) yang harus diukur pencapaiannya. Dalam kurikulum tingkat satuan (KTSP) bekerja ilmiah ditekankan pada bagian awal dan dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL).

Baik dalam bekerja ilmiah maupun metode ilmiah tercangkup didalamnya keterampilan proses sains. Apabila metode ilmiah dapat dianalogikan dengan resep, maka keterampilan proses dapat dianalogikan dengan keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk dapat mewujudkan atau membuat masakan dengan resep tersebut.

Dalam metode ilmiah dikenal adanya langkah-langkah tertentu secara berurutan yang harus dilakukan,mulai dari merumuskan masalah hingga menyimpulkan bahkan membuat generalisasi. Pendekatan semacam itu dalam pembelajaran sains dikenal sebagai pendekatan proses. Pendekatan proses tidak mementingkan konsep, yang dipentingkan hanyalah lingkup prosesnya. Berbeda dengan pendekatan proses yang perlu mengikuti langkah-langkah dan mengembangkan seluruh keterampilan proses secara berurutan dan utuh, pendekatan keterampilan proses tetap menekankan pentingnya penguasaan konsep. Bahkan dalam pendekatan keterampilan proses, berbagai keterampilan proses dikembangkan dan digunakan untuk memahami atau menguasai konsepnya.

Dengan demikian jelas bahwa pendekatan keterampilan proses tidak mengabaikan pendekatan tujuan. Pembelajaran sains tetap dapat mengutamakan pencapaian tujuan yang dirumuskan sesuai tujuan kurikuler yang diturunkan dari tujuan pendidikan nasional dan tujuan institusional, tanpa mengabaikan pencapaian penguasan konsepnya. Selain itu pendekatan keterampilan proses memungkinkan pembelajaran sains melalui penggunaan berbagai metode, bukan hanya metode ilmiah saja.

Keterampilan proses sains merupakan seperangkat keterampilan yang digunakan para ilmuan dalam melakukan penyelidikan ilmiah. Keterampilan proses sains ini dibedakan menjadi sejumlah keterampilan proses yang diperlukan dikuasai bila seseorang hendak mengembangkan pengetahuan sains dan metodenya.

Carin (1992) menyampaikan beberapa alasan tentang pentingnya keterampilan proses sains. Pertama, dalam pratiknya apa yang dikenal dalam sains merupakan hal yang tidak terpisah dari metode penyelidikan. Mengetahui sains tidak hanya sekedar mengetahui materi tentang sains (ke-IPA-an) saja tetapi terkait pula dengan memahami bagaimana cara untuk mengumpulkan fakta dan menghubungkan fakta-fakta untuk membuat suatu penafsiran atau kesimpulan. Kedua, keterampilan proses sains merupakan keterampilan belajar sepanjang hayat (life-long learning) yang dapat digunakan bukan saja untuk mempelajari ilmu tetapi juga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan untuk dapat bertahan hidup (life skills).

PENGERTIAN KETERAMPILAN PROSES SAINS

Keterampilan proses sains sebagai keterampilan proses IPA berdasarkan hakekat IPA sebagai produk dan sebagai proses. IPA sebagai produk meliputi sekumpulan pengetahuan yang terdiri atas fakta-fakta, konsep-konsep dan prinsip-prinsip IPA, sedangkan IPA sebagai proses meliputi keterampilan-keterampilan dan sikap yang dimiliki oleh para ilmuan untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan IPA. Oleh karena itu, keterampilan proses suatu saat dapat dikembangkan secara terpisah dan pada saat yang lain harus dikembangkan secara terintegrasi satu dengan yang lainnya. Keterampilan proses perlu dikembangkan sejak dini namun tidak dapat dikembangkan pada semua bidang studi untuk semua keterampilan yang ada. Hal ini menuntut adanya kemampuan guru mengenal karakteristik bidang studi dan pemahaman terhadap masing-masing keterampilan proses.

Menurut Semiawan, dkk (1992), keterampilan proses meliputi keterampilan observasi, membuat hipotesis, merencanakan penelitian/eksperimen, mengendalikan variabel, mengintrepetasikan data atau menafsirkan data, meramalkan, menerapkan dan mengkomunikasikan. Dengan keterampilan proses, siswa tidak hanya paham pada materi yang telah disampaikan, tetapi juga terampil dalam mengembangkan dan mengkomunikasikan konsep yang telah dipahami.

Pengembangan keterampilan proses merupakan salah satu upaya untuk memperoleh keberhasilan optimal dalam pembelajaran. Materi pelajaran akan lebih mudah dikuasai siswa apabila mereka sendiri yang mengalami peristiwa tersebut. Ketarampilan proses bertujuan untuk memberi motivasi belajar pada siswa karena dengan keterampilan proses ini siswa dipicu untuk senantiasa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran (Semiawan, 1992).

Melalui keterampilan konsep, siswa lebih dapat memperdalam konsep, pengetahuan, dan fakta yang dipelajari. Karena pada hakikatnya siswa sendirilah yang mencari dan menemukan konsep tersebut sehingga secara tidak langsung dapat melatih siswa untuk berfikir logis dalam memecahkan masalah yang bersumber pada sikap ilmiahnya.

JENIS-JENIS KETERAMPILAN PROSES

Apabila kita mengkaji jenis-jenis keterampilan proses sains, mungkin tidak akan ada satu definisi yang sama, karena tokoh pendidikan sains melakukan pengelompokan yang bervariasi berdasarkan sudut pandangnya. Rezba, et al (1995) membedakan keterampilan proses menjadi keterampilan proses dasar dan keterampilan proses terintegrasi.Harlen (1992) membedakan tiga kategori keterampilan proses, yaitu keterampilan proses yang digunakan untuk mengumpulkan – manyaji data – menafsirkan data (observasi, pengukuran, komunikasi, interpretasi). Sementara tokoh lain tidak membedakannya seperti itu.

Berdasarkan pengelompokan keterampilan proses sains diatas maka dapat disimpulkan jenis-jenis keterampilan proses sains adalah sebagai berikut:

  1. Observasi dan inferensi

Kedua istilah di atas sangat erat kaitannya satu sama lain. Mengamati (observasi) ialah melakukan pengumpulan data tentang fenomena atau peristiwa dengan menggunakan indera. Keterampilan mengamati meliputi mengenal warna obyek (warna, bentuk, ukuran, bau, rasa,tekstur), membandingkan secara kualitatif obyek atau sifat, membandingkan secara kuantitatif obyek atau sifat, mengenal dan menggambarkan hasil suatu interaksi, menggunakan instrumen sederhana sebagai ekstensi dari indera dan mengenal dan menggambarkan sifat yang tampak (observable) dari fenomena dan peristiwa..

Inferensi merupakan penjelasan tentang fakta yang diperoleh dari pengamatan dengan menggunakan berbagai alat indera (hasil observasi). Sesungguhnya inferensi ini sudah begitu menyatu dengan observasi sehingga sering kali sulit dibedakan. Apa yang kita kemukakan acap kali hasil interferensi berdasarkan sejumlah informasi yang kita peroleh melalui observasi. Yang berbahaya adalah membuat inferensi dari hasil satu kali observasi. Akibatnya penjelasan kita itu menjadi bersifat subyektif.

  1. Pengukuran dan Estimasi

Selain memerlukan alat bantu berupa peralatan, seringkali diperlukan alat bantu untuk memperoleh data kuantitatif. Data kuantitatif biasanya diperoleh dengan melakukan pengukuran dengan bantuan alat ukur yang sesuai.

Pengukuran didalam sains dapat dilakukan secara langsung dengan menggunakan alat ukur tertentu yang sesuai, dapat juga pengukuran dilakukan secara tidak langsung. Hal yang sama dilakukan untuk obyek-obyek yang terlalu besar seperti mengukur diameter planet Mars sebagai salah satu benda langit. Kita memerlukan alat ukur diameter dan mengalikannya dengan jarak Mars ke bumi.

Selain pengukuran estimasi juga diperlukan dalam pembelajaran sains. Keterampilan estimasi dibutuhkan seseorang yang bekerja ilmiah untuk membantu atau mempermudah menemukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan dengan pengukuran.

Estimasi atau Menafsirkan ialah menarik kesimpulan dari data yang dicatatnya. Keterampilan menafsirkan pengamatan mencakup menemukan pola hubungan dari beberapa data yang diperoleh, menarik kesimpulan dari data yang diperoleh dan memilih data yang menunjang suatu kesimpulan

  1. Prediksi dan berhipotesis

Prediksi merupakan keterampilan penting dalam belajar sains. Prediksi adalah dugaan atau ramalan terhadap peristiwa yang belum terjadi.

Berhipotesis sangat penting dalam belajar sains. Berhipotesis berkaittan dengan variabel. Kita telah mempelajari pentingnya variabel bukan hanya dalam merumuskan pertanyaan penelitian, melainkan juga dalam membuat prediksi. Apabila prediksi merupakan proses yang menggunakan observasi atau data sejalan dengan jenis pengetahuan ilmiah untuk meramalkan peristiwa yang belum terjadi, berhipotesis lebih melibatkan cara menjelaskannya dengan jalan mengubah salah satu variabel agar variabel lain yang diharapkan dapat terpengaruh. Walaupun sama-sama menjelaskan hal yang belum terjadi, dalam prediksi tidak ditawarkan cara baru untuk menguji penjelasan atau perkiraannya itu dapat diterima atau tidak. Dalam hipotesis justru penjelasan akan hal yang belum terjadi itu menawarkan cara baru yang sama sekali berbeda dengan cara sebelumnya.Dalam kegiatan ilmiah, khususnya dalam kegiatan penelitian atau penyelidikan, hipotesis seringkali dinamakan jawaban sementara atau dugaan terhadap rumusan masalah yang berupa pertanyaan.

  1. Menyajikan data, menyimpulkan dan interpretasi

Data dapat disajikan dengan tiga cara. Pertama data disajikan dalam bentuk uraian. Kedua data disajikan dalam bentuk carta. Ketiga data disajikan dalam bentuk tabel. Terdapat dua tipe grafik yang digunakan dalam menyajikan data secara ilmiah, yakni grafik batang dan grafik garis. Data deskriptif memerlukan grafik batang, sedangkan data kontinyu memerlukan grafik garis. Menyajikan data dalam bentuk kuantitatif yang memudahkan menyimpulkan dan atau interpretasi termasuk berkomunikasi ilmiah.

Selain itu data yang menyatakan bahwa inferensi itu sebagai kesimpulan sementara. Kesimpulan yang tidak sementara dinamakan konklusi. Jadi menyimpulkan atau menarik kesimpulan sebenarnya merupakan lanjutan dari inferensi, atau berbagai inferensi mengiring kita kepada kesimpulan. Sehingga pakar sains memasukan menyimpulkan atau menarik kesimpulan itu kepada interpretasi atau penafsiran. Interpretasi biasanya dilakukan apabila sejumlah data yang dapat diartikan atau ditafsirkan berulang kali sehingga kita sampai kepada kesimpulan. Apabila ada informasi disajikan dalam bentuk tabel, bagan, atau grafik  maka kita akan lebih mudah melakukan interpretasi atau penarikan kesimpulan. Menyimpulkan merupakan salah satu bentuk menafsir atau interpretasi.

  1. Identifikasi dan pengendalian variabel

Dalam suatu kegiatan penyelidikan ilmiah kita kenal ada tiga jenis variabel. Variabel yang dikendali (kadang-kadang dikenal sebagai variabel independen atau variabel bebas) adalah suatu faktor atau kondisi dalam sebuah eksperimen yang secara khusus diubah oleh seorang peneliti. Variabel yang merespon atau terikat adalah suatu faktor atau kondisi yang mungkin dipengaruhi atau dikenal akibat dari perubahan tersebut. Suatu variabel yang tidak dirubah disebut variabel kontrol.

  1. Mengajukan pertanyaan dan rumusan masalah

Pertanyaan penelitian mendefinisikan suatu masalah yang diselidiki. Terdapat dua tipe pertanyaan penelitian. Tipe pertama adalah pertanyaan yang terfokus pada satu variabel. Tipe kedua adalah pertanyaan yang menyatakan hubungan antara dua variabel atau variabel yang satu mempengaruhi variabel yang lainnya.

Rumusan masalah dapat diartikan bahwa masalahnya sudah diperjelas atau dipersempit. Biasanya rumusan masalah itu berupa pertanyaan.

  1. Merancang dan melaksanakan percobaan/penyelidikan

Melakukan percobaan/eksperimen biasanya dilakukan untuk menguji kebenaran dari teori yang dipelajari atau untuk membuktikan bahwa hipotesis yang telah dibuat sebelumnya benar atau tidak. Dalam satu kali percobaan hanya satu variabel yang diubah, sedangkan variabel lainnya dibuat tetap atau sama selama percobaan dilakukan. Melakukan penyelidikan merupakan rekapitulasi seluruh keterampilan proses sains yang dimulai dengan adanya masalah dan cara-cara penyelidikan.

PERANAN TENAGA PENDIDIK DALAM MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN PROSES

          Keterampilan intelektual dan keteramplan fisik diperlukan ketika siswa berupaya untuk menerapkan gagasan mereka pada situasi baru. Tentunya hal ini perlu dilakukan oleh guru atau praktisi pendidikan. Dalam mengembangkan keterampilan proses peranan guru dapat dibahas secara umum, maupun secara khusus.

1      Peranan Umum

Secara umum peran guru terutama berkaitan dengan pengalaman mereka membantu siswa mengembangkan keterampilan proses sains. Menurut Harlen (Rustaman, 2003:96) sedikitnya terdapat lima aspek yang perlu diperhatikan oleh guru dalam berperan mengembangkan keterampilan proses sains :

a. Memberikan kesempatan untuk menggunakan keterampilan proses dalam melakukan eksplorasi materi dan fenomena. Pengalaman langsung tersebut memungkinkan siswa untuk menggunakan alat-alat inderanya dan mengumpulkan informasi atau bukti-bukti untuk kemudian ditindak lanjuti dengan mengajukan pertanyaan, merumuskan hipotesis berdasarkan gagasan yang ada.

b. Memberikan kesempatan untuk berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil juga diskusi kelas.

c. Mendengarkan pembicaraan siswa dan mempelajari produk mereka dan untuk menemukan proses yang diperlukan untuk membentuk gagasan mereka. Dengan kata lain aspek ketiga ini menekankan membantu siswa pengembangkan keterampilan bergantung pada pengetahuan bagaimana siswa menggunakannya.

d. Mendorong siswa mengulas (review) secara kritis tentang bagaimana kegiatan yang telah mereka lakukan. Selama dan setelah menyelesaikan kegiatan para siswa mendiskusikan bagian-bagian atau keseluruhan penyelidikan. Guru juga hendaknya mendorong siswa mempertimbangkan mengenali keterampilan-keterampilan yang perlu ditingkatkan. Membantu siswa untuk menyadari keterampilan-keterampilan yang telah mereka perlukan adalah penting sebagai bagian dari proses belajar mereka sendiri.

e. Memberikan teknik atau strategi untuk meningkatkan keterampilan, khususnya ketepatan dalam observasi dan pengukuran. Begitu pula dalam penggunaan alat, menggunakan teknik yang tepat berarti memerlukan pengetahuan bagaimana cara menggunakannya.

2. Peranan Khusus

Adapun peran khusus guru dalam mengembangkan keterampilan proses adalah :

a. Membantu mengembangkan keterampilan observasi.

Kesempatan untuk menggunakan alat-alat indera untuk memperoleh fakta dari objek atau fenomena yang dijajaki. Minat terhadap apa yang ada di meja di dalam kelas merupakan salah satu cara. Sangatlah baik apabila menggunakan obyek untuk memulai topik baru beberapa saat sebelumnya untuk membangkitkan minat siswa. Selanjutnya dapat ditampilkan contoh-contoh lainnya agar siswa dapat mengembangkan keterampilan observasi diperlukan waktu lebih banyak daripada keterampilan proses lainnya.

Namun, tidak semua observasi perlu dilakukan di dalam kelas. Persiapan yang direncanakan dengan baik untuk melakukan ekspedisi (observasi diluar kelas, diluar jam pelajaran) juga memungkinkan kegiatan yang kaya dengan observasi, memberikan lembar pengamatan yang sudah dirancang dengan mempertimbangkan aspek-aspek penting yang harus diamati sangat membantu guru dan siswa untuk mengungkapkan hasil pengamatan siswa.

b. Membantu keterampilan klasifikasi.

Klasifikasi sering dimasukan ke dalam keterampilan observasi. Padahal sesungguhnya klasifikasi merupakan keterampilan yang didasarkan pada keterampilan observasi. Jadi keterampilan klasifikasi merupakan keterampilan “beyond observation”. Seperti dalam persiapan keterampilan observasi, guru juga perlu menyiapkan beragam obyek yang perlu menyiapkan beragam obyek yang perlu diobservasi sebagai persiapan mengembangkan keterampilan klasifikasi. Berdasarkan hasil observasi, ditentukan ciri tertentu yang diamati yang akan digunakan sebagai dasar klasifikasi. Setelah itu barulah dilakukan pemilihan anggota (obyek) yang memiliki ciri tersebut dan yang tidak. Untuk itu perlu disiapkan format lembar kerja yang berisi aspek-aspek tersebut dalam bentuk matrik.

c. Membantu mengembangkan keterampilan berkomunikasi.

Karena berkomunikasi dapat dilakukan melalui tulisan, gambar, membaca dan berbicara, maka guru hendaknya merencanakan agar dalam memilihkan gambar dan tabel untuk memulai kegiatan yang dapat mengembangkan keterampilan berkomunikasi, dan meminta mereka untuk menjawab pertanyaan yang disertakan bersamanya. Dengan kata lain guru sebaiknya menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang meminta siswa untuk membaca dalam gambar atau tabel dan menggunakannya kembali. Selain itu dapat pula guru memberikan tugas kepada siswa untuk menyajikan data hasil pengamatan ke dalam bentuk tabel atau grafik.

d. Membantu mengembangkan keterampilan interpretasi.

Guru sebaiknya membantu siswa mengembangkan keterampilan interpretasi dengan meminta mereka menemukan pola dari sejumlah data yang sudah dikumpulkan dengan mengajak mereka mengartikan maksud atau maknanya, dengan menarik kesimpulan. Kembali dalam hal ini gambar dan tabel dapat digunakan untuk memulainya.

e. Membantu mengembangkan keterampilan prediksi.

Untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan prediksi sebaiknya guru bertolak dari aspek keterampilan interpretasi tertentu, yaitu menemukan pola. Setelah pola dikenali oleh siswa, mereka diajak untuk memperkirakan hal-hal yang belum terjadi berdasarkna pola tersebut. Melalui cara ini prediksi akan lebih nyata bagi mereka dan jelas perbedaannya dengan meramalkan biasa atau dengan hipotesis.

f. Membantu mengembangkan keterampilan berhipotesis.

Sebagaimana kita ketahui hipotesis adalah upaya untuk menjelaskan beberapa hasil observasi, kejadian atau hubungan. Ada hal penting yang harus diketahui dalam mengembangkan keterampilan proses ini, yakni gagasan atau pendapat bahwa hipotesisnya itu benar. Hipotesis dirumuskan berdasarkan pengetahuan tentang apa yang sedang terjadi. Kesan ini dapat dikembangkan melalui pertanyaan yang diajukan siswa suatu pernyataan mungki sukar dijawab walau dengan menduga-duga. Umpanya pertanyaan “mengapa daun menjadi coklat sebelum gugur?” namun apabila pertanyaannya diubah menjadi: “menurut pendapatmu mengapa beberapa jenis daun menjadi coklat?” atau “apa yang dapat kamu pikirkan penyebab berubahnya warna menjadi coklat?” akan mendorong siswa untuk berpikir dan membuat jawaban sementara.

Walaupun keterampilan berhipotesis tidaklah mudah, namun yang penting di sini adalah guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan penjelasan pada kondisi spesifik berdasarkan gagasan yang ada. Hal ini menjadi dasar pengembangan keterampilan proses selanjutnya, yaitu menerapkan konsep dan prinsip yang lebih luas, bahkan menerapkan teori

g. Membantu mengembangkan keterampilan menyelidiki

Dalam melakukan kegiatan di kelas atau laboratorium, seringkali para siswa melakukan secara rutin tanpa menyadari mengapa mereka perlu melakukannya demikian. Untuk menghindarkan atau mengurangi hal itu sebaiknya diingatkan hal-hal penting yang perlu diperhatikan agar diharapkan. Umpamanya dalam percobaan osmosis dengan kubus dari kentang perlu ditambahkan ungkapkan seperti ini: “periksalah apakah kedua ukuran kubus tersebut betul-betul sama, juga apakah kedua kubus tersebut dibuat dari suatu kentang”. Hal ini sangat penting karena tanpa peringatan tersebut, mereka membandingkan dua hal yang betul-betul berbeda dalam banyak hal, padahal mereka semula hanya ingin menyelidiki pengaruh konsentrasi larutan gula dalam sumur kentang pada laju osmosis. Dengan banyak hal yang berbeda, konsentrasi larutan gula yang digunakan menjadi tidak dapat dibandingkan karena tidak lagi menjadi faktor penentu. Faktor penentu atau variabel bebas dapat diketahui pengaruh atau peranannya hanya dan hanya jika faktor atau variabel lainnya ditiadakan atau diupayakan sama (variabel kontrol). Variabel bebas akan memberikan pengaruh atau pengaruh atau peranan tertentu yang nyata atau tidak, dengan kata lain variabel terikat dapat diketahui akibat pengaruh variabel bebas.

KESIMPULAN

           Merancang pengalaman belajar sains terkait erat dengan pengembangan keterampilan proses sains karena rancangan belajar sains harus sesuai dengan hakikat belajar sains dan terutama sekali sesuai dengan tujuan pembelajaran yang sudah dirumuskan dalam Silabus dan Standar Isi. Walaupun pengalaman belajar siswa dapat bervariasi, tetapi seorang guru yang profesional akan berupaya agar siswanya belajar secara bermakna. Belajar sains secara bermakna baru akan dialami siswa apabila siswa terlibat aktif secara intelektual, manual, dan sosial. Pengembangan keterampilan proses sains sangat ideal dikembangkan apabila guru memahami hakikat belajar sains, yaitu sains sebagai produk dan proses.

Belajar dengan pendekatan keterampilan proses memungkinkan siswa mempelajari konsep yang menjadi tujuan belajar sains dan sekaligus mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar ber-IPA (sciencing), bekerja ilmiah (sceintific inkuiry), dan bersikap ilmiah.

Keterampilan proses perlu dikembangkan melalui pengalaman langsung, sebagai pengalaman belajar, dan disadari ketika kegiatannya sedang berrlangsung. Melalui pengalaman langsung seseorang dapat lebih menghayati proses atau kegiatan yang sedang dilakukan. Namun apabila dia sekedar melaksanakan tanpa menyadari yang sedang dikerjakannya, maka perolehannya kurang bermakna dan memerlukan waktu lama untuk menguasainya. Kesadaran tentang apa yang sedang dilakukannya, serta keinginan untuk melakukannya dengan tujuan untuk menguasainya sangat penting.

DAFTAR PUSTAKA

Carin, A. (1993). Teacing Science Through Discovery. New York: Macmillan Publishing Company.

Dahar, R.W, (1985). Kesiapan Guru Sekolah Dasar dalam Mengembangkan Keterampilan Proses Sains. Disertasi Doktor Kependidikan. Pendidikan IPA IKIP Bandung. Bandung Tidak dipublikasi

Depdiknas. (2003). Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Fisika Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah. Jakarta; Depdiknas

Hadiat, I.N. Kertayasa. (1976). Metodologi Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta; Depdikbud

Rustaman Nuryani dkk, (2009). Materi dan Pembelajaran IPA SD. Penerbit Universitas Terbuka

Semiawan, C.R. dkk. (1986). Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta: Gramedia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.