PERANAN GURU MADRASAH DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN PEMBELAJARAN HOTS

0
67

PERANAN GURU MADRASAH DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN PEMBELAJARAN HOTS

 Elsy Zuriyani

 Abstrak

Pembelajaran HOTS merupakan salah satu pembelajaran yang sangat dianjurkan oleh menteri kemendikbud untuk diterapkan. Tapi permasalahannya hasil survey dibeberapa madrasah menyatakan bahwa sebagaian besar guru melaksanakan proses pembelajaran berdasarkan KTSP walaupun dimadrasah tersebut sudah memberlakukan kurikulum 2013 revisi 2016. Oleh karena itu penulis mencoba membahas bagaimana peranan guru dan siswa dalam mengimplementasikan pembelajaran HOTS. Untuk menentukan peranan guru maka penulis mencaba mengkaji secara literatur peran guru dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013 revisi. Pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi pada prinsipnya melaksanakan pembelajaran agar peserta didik menemukan permasalahan yang akan dikaji, dan menyusun rencana serta melaksanakan pembelajaran guna bisa memecahkan atau menemukan solusi dari permasalahan yang telah diketemukan. Peran guru setelah mempersiapkan adalah memfasilitasi proses berpikir peserta didik lewat serangkaian pertanyaan, setelah peserta didik mengamati bahan awal sebagai pembuka pembelajaran.

Key Word : Pembelajaran HOTS, Kurikulum 2013

PENDAHULUAN

Widhy (2013) dalam artikelnya, menyatakan terdapat pergeseran paradigma pembelajaran abad 21 berdasarkan ciri abad 21 dan model pembelajaran yang dilakukan, yaitu bahwa informasi tersedia dimana saja, maka model pembelajaran yang harus dikembangkan adalah untuk mendorong peserta didik mencari tahu dari berbagai sumber observasi, bukan diberi tahu oleh guru. Komputasi atau penggunaan mesin elektronik, maka pembelajaran lebih diarahkan agar siswa mampu merumuskan masalah bukan hanya menyelesaikan masalah. Otomatis, maka pembelajaran diarahkan untuk melatih berpikir analitis bukan berpikir mekanistis. Komunikasi dari mana saja dan kapan saja, maka pembelajaran menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi dalam penyelesaian masalah.

Proses pembelajaran dimadrasah mengkuti kurikulum yang berlaku sekarang ini yaitu kurikulum 2013 revisi 2016. Implementasi Kurikulum 2013 pada Madrasah Intidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) menuntut adanya perubahan paradigma pada pelaksanaan pembelajaran. Pembelajaran yang awalnya berpusat pada guru (teacher centered) berubah menjadi berpusat pada peserta didik (student centered). Guru diharapkan lebih kreatif dan inovatif dalam menyajikan materi pembelajaran. Penerapan pendekatan saintifik diharapkan juga mampu mengubah iklim pembelajaran menjadi lebih aktif, kolaboratif, dan partisipatif, serta mampu merangsang kemampuan berpikir kritis dan analitis peserta didik, bahkan sampai membuat peserta didik menghasilkan sebuah karya. Pembelajaran diharapkan dapat berada pada level yang lebih tinggi baik pada aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. Peserta didik dapat memperoleh kelengkapan pendidikan karakter, literasi, kritis, dan kreatif yang terintegrasi pada kegiatan pembelajaran yang diikutinya. Pembelajaran yang semacam itu dinamakan pembelajaran berpikir tingkat tinggi, atau high order thimking skill (HOTS).

Pembelajaran HOTS merupakan salah satu pembelajaran yang sangat dianjurkan oleh menteri kemendikbud untuk diterapkan. Tapi permasalahannya hasil survey dibeberapa madrasah menyatakan bahwa sebagaian besar guru melaksanakan proses pembelajaran berdasarkan KTSP walaupun dimadrasah tersebut sudah memberlakukan kurikulum 2013 revisi 2016. Oleh karena itu penulis mencoba membahas bagaimana peranan guru dan siswa dalam mengimplementasikan pembelajaran HOTS.

PEMBAHASAN

Pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi atau HOTS, peran guru tidak banyak menerangkan, sebaliknya guru banyak melakukan stimulasi pertanyaan untuk mendorong memunculkanya pikiran-pikiran orsinil peserta didik.

Dalam praktik pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir ingkat tinggi atau HOTS, pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat diklasifikasikan kedalam empat macam pertanyaan yang menjadi sarana penting bagi guru untuk melaksanakan pembelajaran yang mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik. Pertanyaan tersebut adalah.

  1. Pertanyaan Inferensial.

Pertanyaan yang segera dijawab setelah peserta didik melakukan pengamatan maupun pengkajian atas bahan yang diberikan oleh guru. Seperti: Apa yang saudara temukan ?

  1. Pertanyaan pertanyaan interpretasi.

Pertanyaan interpretasi diajukan pada peserta didik berkaitan dengan informasi yang tidak lengkap, atau tidak ada dalam bahan yang disajikan oleh guru, dan para peserta didik mesti bisa memberikan makna. Seperti, Mengapa saudara memiliki pendapat itu?, Apa penyebab kegagalan dari upaya untuk …? Apa penyebab banjir besar hang terjadi di …?

  1. Pertanyaan pertanyaan transfer.

Apabila dua macam pertanyaan sebelumnya merupakan upaya untuk mendalami masalah atau hakekat sesuatu, pertanyaan transfer merupakan upaya untuk memperluas wawasan atau bersifat horizontal. Seperti: Apakah perbedaan teori … dengan teori …?

  1. Pertanyaan pertanyaan hipotetik (Pertanyaan tentang hipotesis, generalisasi, dan kesimpulan).

Pertanyaan hipotesis memiliki arah untuk mendorong peserta didik melakukan prediksi atau peramalan dari sesuatu permasalahan yang dihadapi dan/atau mengambil kesimpulan untuk generalisasi. Seperti, Apa yang terjadi manakala cuaca panas dingin berubah cepat silih berganti?

Guru senantiasa membina komunikasi yang efektif agar para peserta didik bisa melaksanakan perannya dalam pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi, keterlibatan guru dalam proses pembelajaran menjadi sangat penting dalam menghasilkan peserta didik pintar, untuk menjadikan peserta didik pintar, maka seorang guru harus berperan dalam proses pembelajaran. Adapuun peran guru dalam mengimplementasikan pembelajaran HOTS adalah sebagai berikut.

Peran Guru

  1. Mempersiapkan Pembelajaran, antara lain sebagai berikut:
  2. Guru merencanakan cara-cara agar setiap peserta didik aktif partisipatif dalam pembelajaran.
  3. Menyusun skenario pelaksanaan inquiry dengan mempersiapkan pokok bahasan yang akan dikaji .
  4. Mempersiapkan bahan-bahan bahan materi yang diperlukan dalam investiogasi dan diskusi
  5. Mempersiapkan pertanyaan – pertanyaan untuk mendalami diskusi dan mengembangkan critical thinking
  6. Mencari dan mempersiapkan bahan untuk menstimulir pemikiran peserta didik mengawali pembelajaran
  7. Memiliki ketrampilan, pengetahuan, dan perilaku kebiasaan serta pola pikir yang diperlukan dalam pembelajaran HOTS.
  8. Menguasai tehnik dan merencanakan cara cara untuk mendorong peserta didik berpartisipasi dan memiliki tanggung jawab dalam pembelajaran.
  9. Memastikan pembelajaran fokus pada tujuan yang akan dicapai.
  10. Antisipasi antisipasi munculnya pertanyaan dan saran yang tidak diduga atau diharapkan.
  11. Mempersiapkan lingkungan kelas dengan peralatan, bahan-bahan, dan sumber sumber yang diperlukan guna belangsungnya pembelajaran.
  12. Memfasilitasi Kegiatan Pembelajaran, antara lain:
  13. Mempersiapkan kerangka pembelajaran dalam bentuk catatan harian, mingguan, bulanan dan bahkan tahunan. Juga dirumuskan penekanan kompetensi yang dikembangkan dan model serta pengembangan kebiasaan perilaku dan pola pikir peserta didik.
  14. Menciptakan suasana kelas yan bebas, nyaman dan mnyenangkan untuk aktivitas berpikir
  15. Memberikan pedoman sesuai dengan bahan atau pokok yang akan dikaji
  16. Memahami bahwa mengajar merupakan bagian kesatuan dalam proses pembelajaran.
  17. Mengajukan pertanyaan – pertanyaan untuk mendorong berpikir mulai pertanyaan inferensial, peranyaan interpretatif, pertanyaan transfer dan pertanyaan hipotetik, sebagai sarana mengantarkan peserta didik dalam proses pembelajaran.
  18. Menghargai dan mendorong munculnya tanggapan dan manakala tanggapan kurang tepat atau adalah kesalahan konsep, guru membawa peserta didik melakukan eksplorasi secara efektif untuk menemukan mengapa terjadi kesalahan konsepsi dan menemukan konsep yang benar. Dengan demikian peserta didik akan memiliki cara – cara untuk melakukqn sesuatu lebih benar.
  19. Menghilangkan hambatan pembelajaran dan apa bila diperlukan memberikan petunjuk kepada peserta didik.
  20. Melakukan asesmen perkembangan peserta didik dan memberikan fasilitas dalam pembelajaran.
  21. Mengkontrol kelas meski secara tidak langsung
  22. Memonitor kegiatan peserta didik .

Peran Siswa

ebagai pembelajar.

  1. Senantiasa terus belajar.
  2. Menunjukan kemauan mempelajari lebih lanjut.
  3. Kerja dan bekerjasama dengan guru serta temanya.
  4. Menunjukan percaya diri dalam belajar, menunjukan kemauan memahami dan mengubah menambah gagasan, berani menanggung resiko serta cukup spesifik terhadap sesuatu yang baru.
  5. Tertantang dan bersemangat melakukan eksplorasi.
  6. Menunjukan rasa keinginan tahu dan melakukan observasi, mengkaji, memahami.
  7. Mencari, bahan bahan, fakta, data, informasi yang diperlukan.
  8. Mendsikusikan dengan teman dan guru tentang apa yang diobservasi atau dikaji atau pertanyaan yang diajukan.
  9. Mencoba untuk menguji gagasan sendiri.
  10. Mempertanyakan, mengajukan eksplanasi, dan melakukan observasi.
  11. Peserta didik mengajukan pertanyaan, baik lewat verbal maupun perilaku.
  12. Peserta didik mengajukan pertanyaan yang mengarah pada kegiatan lebih lanjut.

c.Peserta didik melakukan pengamatan secara kritis, mendengarkan secara serius, menyampaikan gagasan scara jelas dan sopan.

  1. Peserta didik menilai dan mempertanyakan sebagai bagian dari pembelajaran.
  2. Peserta didik mengembangkan keterkaitan antara informasi baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
  3. Merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran.
  4. Peserta didik merencanakan cara mencoba gagasannya.
  5. Peserta didik merencanakan untuk melakukan ferivikasi, mengembangkan, mengkonfrmasi atau membuang gagasannya.
  6. Peserta didik melakukan kegiatan dengan menggunakan alat, melakukan observasi, mngevaluasi, dan mencatat informasi.
  7. Peserta didik dan mensortir informasi.
  8. Peserta didik mengkaji secara detail, mengikuti urutan kegiatan, memahami adanya perubahan, dan mengkaji persamaan dan perbedaan yang terjadi.
  9. Melakukan evaluasi dan kritik atas apa yang telah dilakukan
  10. Peserta didik mengembangkan indikator untuk mengevalausi kerja mereka sendiri.
  11. Peserta didik mengidendifikasi kelemahan dan kelebihan dari apa yang telah mereka kerjakan.
  12. Peserta didik melakukan refleksi atas yang mereka kerjakan dengan teman dan gurunya.

Pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi pada prinsipnya melaksanakan pembelajaran agar peserta didik menemukan permasalahan yang akan dikaji, dan menyusun rencana serta melaksanakan pembelajaran guna bisa memecahkan atau menemukan solusi dari permasalahan yang telah diketemukan. Peran guru setelah mempersiapkan adalah memfasilitasi proses berpikir peserta didik lewat serangkaian pertanyaan, setelah peserta didik mengamati bahan awal sebagai pembuka pembelajaran. Bahan pembuka tersebut bisa berupa uraian singkat, video, potongan berita koran, foto, gambar, sanjak, dan lain sebagainya. Setelah peserta didik mengamati bahan, maka guru menyampaikan pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan strategi untuk membawa peserta didik mengkaji secara bertahap mulai persoalan sampai menemukan solusi. Dengan pentahapan berpikir ini akan melatih para peserta didik kritis dan evaluative untuk menemukan pemecahan masalah dan bagaimana melaksanakan.

Desain pembelajaran yang dikembangkan perlu diperhatikan langkah-langkah yang sistimatis yang mengajak guru untuk merunut alur desain pembelajaran berorientasi pada keterampilan bepikir tingkat tinggi.

Langkah-langkah strategis yang perlu diperhatikan guru dapat dilihat sebagai berikut.

  1. Menentukan dan menganalisis kompetensi dasar yang sesuai dengan tuntutan Permendikbud Nomor 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Dasar yang menjadi sasaran minimal yang akan dicapai sesuai Kompetensi Dasar. Sesuai dengan format di bawah.
  2. Tentukan target yang akan dicapai sesuai dengan Kompetensi Dasar, sesuai dengan format dibawah, dengan cara memisahkan target kompetensi dengan materi yang terdapat pada KD.
  3. Kombinasikan dimensi pengetahuan dengan proses berpikir.
  4. Perumusan Indikator Pencapaian Kompetensi dapat dilakukan dengan mengikuti langkah sebagai berikut.
  5. Perhatikan dimensi proses kognitif dan dimensi pengetahuan yang menjadi target yang harus dicapai peserta didik.
  6. Tentukan KD yang akan diturunkan menjadi IPK
  7. Menggunakan Kata Kerja Operasional yang sesuai untuk perumusan IPK agar konsep materi dapat tersampaikan secara efektif. Gradasi IPK diidentifikasi dari Lower Order Thinking Skill (LOTS) menuju Higher Order Thinking Skill (HOTS)
  8. Merumuskan IPK penunjang dan IPK kunci, sedangkan IPK pengayaan dirumuskan apabila kompetensi minimal KD sudah dipenuhi oleh peserta didik.
  9. Merumuskan tujuan pembelajaran, apakah peningkatan kognitif, psikomotor atau afektif. Perumusan tujuan pembelajaran harus jelas dalam menunjukkan kecakapan yang harus dimiliki peserta didik. Tujuan pembelajaran mengisyaratkan bahwa ada beberapa karakter kecakapan yang akan dikembangkan guru dalam pembelajaran. Selain itu, tujuan pembelajaran ini juga bertujuan untuk menguatkan pilar pendidikan.
  10. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran berdasarkan model pembelajaran:
  11. Pahami KD yang sudah dianalisis
  12. Pahami IPK dan materi pembelajaran yang telah dikembangkan
  13. Pahami sintak-sintak yang ada pada model pembelajaran, rumuskan kegiatan pendahuluan yang meliputi orientasi, motivasi, dan apersepsi
  14. Rumuskan kegiatan inti yang berdasarkan pada:
  • IPK
  • Karakteristik peserta didik
  • Pendekatan saintifik
  • 4C (creativity, critical thinking, communication, collaboration)
  • PPK dan literasi
  1. Rumuskan kegiatan penutup yang meliputi kegiatan refleksi baik individual maupun kelompok.memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  • melakukan kegiatan tindak lanjut
  • menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran untuk pertemuan berikutnya.
  • kegiatan penutup dapat diberikan penilaian akhir sesuai KD bersangkutan
  1. Tentukan sumber belajar berdasarkan kegiatan pembelajaran
  2. Rumusan penilaian (formatif dan sumatif) untuk pembelajaran yang mengaju kepada IPK

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi pada prinsipnya melaksanakan pembelajaran agar peserta didik menemukan permasalahan yang akan dikaji, dan menyusun rencana serta melaksanakan pembelajaran guna bisa memecahkan atau menemukan solusi dari permasalahan yang telah diketemukan. Peran guru setelah mempersiapkan adalah memfasilitasi proses berpikir peserta didik lewat serangkaian pertanyaan, setelah peserta didik mengamati bahan awal sebagai pembuka pembelajaran.

  1. Rekomendasi

Dengan diberlakukannya kurikulum 2013 revisi maka dalam proses pembelajaran guru madrasah harus memperhatikan dan benar-benar menerapakan peran guru agar tercipta pembelajaran abad 21 yang akan menunjang tercapainya pembelajaran kurikulum 2013 revisi.

DAFTAR PUSTAKA 

Akinoglu, O.,& Tandogan, O.R, 2006. The Effect of Problem Based Learning in Science Education Student’s Academic Achievement, Attitude and Concept Learning. Eurasia Journal of Mathematics, Science &Technology Education, 3 (1): 71-81.

Afandi & Sajidan. 2017. Stimulasi Keterampilan Tingkat Tinggi. UNSPRESS.

Amir, T.M, 2009. Inovasi Pendidikan melalui Problem Based Learning: Bagaimana Pendidik Memberdayakan Pembelajar di Era Pengetahuan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Arends, R.I. 2012. Learning to Teach. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.

Ditjen GTK. Direktorat PG Dikdas. 2017. Peningkatan Kompetensi Pedagogik Melalui PKB Guru Sekolah Dasar

Joyce, B & Weil, M. 2000. Models of Teaching. Boston: Allyn & Bacon

King, F.J., Goodson, L., & Rohani. 2006. Higher Order Thinking Skills. Center for Advancement of Learning and Assessment

Kuntari Eri Murti. 2013. Pendidikan Abad 21 Dan Implementasinya Pada Pembelajaran Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Untuk Paket Keahlian Desain Interior

Lewis, A., & Smith, D. 1993. Defining High Order Thinking. Theory into Practice, 32 (3): 131-137.

Maya Bialik & Charles Fadel. 2015. Skills for the 21st Century: What Should Students Learn?. Center for Curriculum Redesign Boston, Massachusetts

Metiri Group. 2003. enGauge 21st Century Skills: Helping Students Thrive in the Digital Age

National Education Sociaty. An Educator’s Guide to the “Four Cs”: Preparing 21st Century Students for a Global Society

Seng, O.T. 2003. Problem Based Learning Innovation: Using Problem to Power Learning in 21𝑠𝑡 Century. Singapore: Thompson Learning.

Siska Rahmawati, & Sunardi, & Dian Kurniati. 2017. Pengembangan Indikator 4 C’s Yang Selaras Dengan Kurikulum 2013 Pada Mata Pelajaran Matematika SMP/MTs Kelas Viii Semester 1

Siti Zubaidah. 2016. Keterampilan Abad Ke-21: Keterampilan Yang Diajarkan Melalui Pembelajaran

  1. J. Mourtos, N. DeJong Okamoto & J. Rhee. 2004. Defining, teaching, and assessing problem solving skills. San Jose State University San Jose, California 95192-0087

Dimyati dan Mudjiono. 1994. Belajar dan Mengajar. Jakarta; Rineka Cipta.

Modul pelatihan implementasi kurikulum 2013, kemendikbud, 2015

Jan Kusiak, Derrick Brown, 2007, Creative Thinking Technique, Australia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.