PERAN GURU BIMBINGAN KONSELING DAN GURU PENDIDIKAN AGAMA DALAM MENGATASI KENAKALAN REMAJA DI MTSN 1 PALEMBANG

0
184

PERAN GURU BIMBINGAN KONSELING DAN GURU PENDIDIKAN AGAMA DALAM MENGATASI KENAKALAN REMAJA DI MTSN 1 PALEMBANG

 

Oleh :

Nelly Nurmely

 

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari  kehidupan manusia, begitu pula dengan proses perkembangannya. Tujuan dari pendidikan Nasional Indonesia adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UUSPN omor 20 Tahun 2003, BAB II,Pasal:3). Masa remaja di Sekolah Menengah menghadapi beberapa aspek utama perkembangan kejiwaan anak yaitu berkaitan dengan status sosial dan keragaman kemampuan kognisi yang akan mempengaruhi proses pendidikan di sekolah. Dengan kondisi perkembangan remaja  masa kini maka proses pendidikan memerlukan kondisi kondusif agar perkembangan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik remaja dapat mencapai tujuan yang diharapkan (Yudiarko, 2010: 18). Sebagaimana telah sama–sama diketahui, bahwa paling tidak terdapat tiga lingkungan pendidikan yang berpengaruh terhadap pembentukan kualitas dan kepribadian remaja, yakni lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat (Hafidhudin, 2002: 246). Remaja pada usia sekolah seharusnya difokuskan pada menuntut ilmu dan hal yang bermanfaat. Namun kenyataannya sebaliknya malah melakukan berbagai tindakan yang tidak terpuji dan seharusnya tidak mereka lakukan (Andika, 2009: 21). Kenakalan remaja semakin lama semakin meningkat. Banyak peristiwa yang merugikan bagi dirinya  dan bagi orang tuanya, kalangan pendidikan, serta masyarakat (secara umum). Kenakalan ini biasa terdapat pada anak-anak, namun yang paling dominan terdapat pada usia remaja yang pada masa ini remaja mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat cepat atau biasa disebut dengan masa peralihan (transisi) (Apriyansah, 2008: 3). Dari pengertian dan penyebab di atas dapat dikatakan bahwa kenakalan sesungguhnya terjadi akibat dari kegagalan orang-orang di luar diri remaja dalam memberikan kesempatan bagi perkembangan jiwa remaja menuju kedewasaan. Meskipun UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 13 dinyatakan tanggungjawab terhadap remaja terletak pada orangtua, wali dan keluarga, sesungguhnya setiap kita ikut bertanggung jawab sesuai dengan peran yang dapat kita mainkan. Maka, dalam hal ini harus ada suatu tindakan guna menangani masalah yang terkait dengan kenakalan yang dilakukan siswa-siswi tersebut sejak dini, karena bila tidak segera ditangani maka akan semakin besar masalah tersebut dan akan semakin lebih sulit untuk mengatasinya.  Adapun secara umum masalah-masalah yang dihadapi oleh individu khususnya oleh siswa di sekolah antara lain adalah: (1) Masalah-masalah pribadi, (2) Masalah yang menyangkut pembelajaran, (3) Masalah pendidikan, (4) Masalah karier atau pekerjaan, (5) Masalah penggunaan waktu senggang, dan (6) Masalah-masalah social (Tohirin, 2007: 13). Di dalam lembaga pendidikan baik sekolah maupun madrasah sudah ada suatu bidang yang memang dikhususkan untuk menangani berbagai masalah-masalah siswa, yang di antaranya lebih sering kita kenal dengan Bimbingan Konseling (BK). Dengan adannya bimbingan konseling di sekolah maupun madrasah diharapkan perannya mampu mengatasi dan membantu berbagai masalah yang dialami siswa. Berdirinya bimbingan konseling juga tak lepas karena adanya masalah-masalah yang dialami siswa, selain itu juga merupakan suatu bentuk upaya yang dilakukan oleh lembaga pendidikan untuk memberikan wadah dan saluran bagi siswa yang mengalami masalah untuk menyelesaikannya yang salah satunya lewat bimbingan konseling (Sudrajat, 2008: 3). Guru Pendidikan Agama Islam merupakan pendidik yang bertanggung jawab langsung terhadap pembinaan moral dan penanaman norma hukum tentang baik buruk serta tanggung jawab seseorang atas segala tindakan yang dilakukan.  Oleh karena itu penanaman pemahaman siswa tentang hal ini merupakan kontrol atas segala tindakan atau tingkah laku sehingga siswa sadar terhadap apa yang diperbuatnya. Posisi remaja dalam suatu masyarakat sangatlah penting, karena remaja merupakan generasi penerus dengan kualitas sumber daya manusia yang baik, kreatif, produktif, bermoral tinggi serta memiliki iman religius yang tinggi. MTS Negeri 1 Palembang merupakan salah satu sekolah di Palembang. Kenakalan remaja yang terjadi segera di atasi dengan baik. Adapun yang berperan dalam mengatasi kenakalan remaja tersebut diantaranya adalah guru bimbingan konseling dan juga guru pendidikan agama. Dengan pengoptimalan bimbingan konseling dan pembelajaran agama, kenakalan remaja di MTSN 1 dapat diminimalisir. Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya guru bimbingan konseling dalam mengatasi kenakalan remaja di MTSN 1 Palembang dan untuk mendeskripsikan upaya guru pendidikan agama dalam mengatasi kenakalan remaja di MTSN 1 Palembang.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, karena sumber data utama dan hasil penelitian berupa kata-kata atau pernyataan yang sesuai dengan keadaan sebenarnya (alamiah). Penelitian kualitatif menghasilkan deskripsi analitik tentang fenomena-fenomena secara murni bersifat informatif dan berguna bagi masyarakat, peneliti, pembaca dan juga partisipan (Sukmadinata, 2007: 107). Kelompok yang diteliti merupakan satuan kecil yaitu MTSN 1 Palembang yang memiliki kekhususan dan keunggulan.  . Metode wawancara (interview) ini penulis gunakan dengan tujuan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan pengelolaan kenakalan remaja. Adapun sumber informasi (Informan) adalah, Guru, siswa, dan Guru Bimbingan Konseling di MTSN 1 Palembang . Teknik pemeriksaan data digunakan untuk menetapkan keabsahan suatu data agar data itu sah.

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Upaya Guru Bimbingan Konseling dalam mengatasi kenakalan remaja di   

   MTSN 1  Palembang

 

Jenis kenakalan remaja yang sering dilakukan siswa MTSN 1 Palembang  berkaitan dengan pelanggaran tata tertib dan juga kurang kedisiplinan dalam diri siswa. Pelanggaran tata tertib yang dilakukan oleh siswa misalnya saja siswa mengunakan HP pada saat jam pelajaran dan juga siswa minta ijin pulang mengambil buku /tugas yang ketinggalan. Kurang disiplinnya siswa dapat dilihat dari kurang tepat waktu dalam mengerjakan tugas dari guru, masih ada siswa yang masuk tanpa ijin, kurangnya disiplin pada saat masuk jam pelajaran. Penyebab kenakalan remaja tersebut diantaranya adalah kurang perhatian orang tua, pergaulan, dan juga perkembangan IPTEK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab kenakalan remaja antara lain kondisi keluarga yang strata ekonominya rendah, keluarga yang anggota keluarganya lebih dari 7, serta kurang perhatiannya orang tua karena sibuk mencari nafkah. Jika dibandingkan antara penelitian yang dilakukan oleh Ngale (2009) dengan penelitian yang dilakukan di MTSN 1 Palembang  memiliki persamaan dan perbedaan. Keduanya membahas mengenai kenakalan remaja dan juga penyebabnya. Hanya saja penelitian yang dilakukan oleh Ngale (2009) penyebab kenakalan remaja hanya dilihat dari faktor keluarga saja. Sedangkan penelitian yang dilakukan di MTSN 1 Palembang membahas penyebab kenakalan remaja terjadi dari faktor adalah kurang perhatian orang tua, pergaulan, dan juga perkembangan IPTEK. Upaya yang dilakukan Guru Bimbingan Konseling MTSN 1 Palembang adalah melakukan kegiatan pencegahan yaitu sering disebut dengan kegiatan preventif. Kegiatan preventif yang dilakukan misalnya saja memberikan bimbingan, koordinasi dengan orang tua, pemantauan harian, dan juga program pendukung. Program pendukung yang dimaksud dalah program pembinaan pada saat upacara bendera, serta kerja sama dengan pihak luar seperti polisi dan juga puskesmas. Program pendukung lainnya yang diselenggarakan guru Bimbingan Konseling adalah kegiatan MOS yang diisi dengan pemberian materi BK kepada siswa baru. Kegiatan kuratif yang dilakukan oleh guru Bimbingan Konseling bervariasi seperti bekerja sama dengan pihak luar yang rutin dilakukan setiap tahunnya. Upaya kuratif tidak sebatas melakukan kerja sama dengan pihak luar saja, namun Guru Bimbingan Konseling MTSN 1 Palembang bersedia melakukan home visit. Guru juga meminta orang tua untuk memberikan perhatian penuh dan selalu mengawasinya. Upaya home visit sekaligus berkoordinasi dengan orang tua  menjadi upaya yang tepat yang dilakukan oleh guru BK MTSN 1 Palembang. Upaya kunjungan rumah menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam mengatasi kenakalan remaja. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tiga kunci untuk mengatasi kenakalan remaja yaitu kepemimpinan yang kuat, berbagi informasi, serta koordinasi dengan orang tua siswa. Guru Bimbingan Konseling MTSN 1 Palembang tidak melakukan tindakan represif atau pemberian hukuman. Pemberian tindakan hukuman dirasa akan membuat siswa justru akan semakin sulit diatur dan akan melakukan tindakan kenakalan remaja lagi. Guru hanya sebatas memberikan peringatan dan sanksi kepada siswa agar tidak mengulangi pernbuatannya kembali. Siswa tersebut diminta membuat surat pernyataan yang berisi pernyataan untuk tidak mengulangi tindakan kenakalan remaja.

  1. Upaya Guru Pendidikan Agama dalam mengatasi kenakalan remaja di MTSN 1  

   Palembang .

Kenalan remaja terjadi karena beberapa sebab diantaranya adalah ekonomi, kurang pengawasan orang tua, dan juga salah pergaulan. Dalam kegiatan pembelajaran Guru Agama Islam melakukan pendekatan kepada siswa dan mengelola materi dengan sistematis. Pendekatan tersebut dilakukan secara pribadi agar siswa lebih terbuka dan percaya untuk mengutarakan masalah yang dihadapinya. Melalui pendekatan tersebut guru akan memberikan masukan mengenai nilai-nilai agama dan untuk giat beribadah. Guru Agama mengelola kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode dan media dengan tujuan siswa paham akan materi dan dapat mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Media yang digunakan guru biasanya berupa animasi dan juga slide presentasi yang ditayangkan melalui LCD. Sedangkan metode yang digunakan guru misalnya saja listening study, pembahasan materi, diskusi, kerja kelompok, dan juga menanyakan materi dalam LKS. Sebagai guru agama yang bertugas dalam membina etika dan perilaku siswa sudah selayaknya guru tanggap terhadap masalah-masalah kesiswaan. Informasi mengenai kondisi diperoleh siswa dari Guru Mata Pelajaran,  Guru BK, dan juga Wakasek bidang Kesiswaan. Guru Agama MTSN 1 Palembang menyelenggarakan kegiatan pembiasaan yang wajib dilakukan oleh semua siswa. Dampak positif yang dirasakan siswa dari adanya program pembiasaan diantaranya adalah membantu siswa dalam mengimplementasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Siswa yang sebelumnya belum terbiasa melakukan kegiatan sholat dilatih untuk sholat. Siswa belajar berbagi melalui kegaitan zakat dan qurban. Ada kalanya Guru Agama melakukan sidak atau inspeksi mendadak mengenai pelanggaran yang dilakukan oleh siswa. Upaya-upaya yang dilakukan guru Agama baik yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran maupun yang dilakukan di luar kegiatan pembelajaran memberikan dampak positif bagi perubahahan sikap siswa yang menunjukkan nilai-nilai agama. Meskipun memberikan dampak positif bagi perubahan sikap siswa yang religius, namun dalam melakukan berbagai upaya mengatasi kenakalan remaja guru Agama MTSN 1 Palembang mengalami hambatan. Faktor tersebut terutama datang dari lingkungan di sekitar siswa dan juga kurang kompaknya guru dan orang tua dalam mengawasi perilaku siswa. Faktor dari lingkungan misalnya saja: a. Lingkungan yang kurang mendukung contoh dimasyarakat masih di jumpai adanya main judi, perselingkuhan, tidak tertib lalu lintas b. Pengawasan dan kepeduliann dari sebagian orang tua yang masih kurang c. Adanya broken home dalam keluarga d. Pesatnya perkembangan Tehnologi Informasi, (TV, HP) remaja belum mampu menyaring mana yang bermanfaat mana yang tidak, mana yang baik, mana yang kurang baik.

 

SIMPULAN

Guru Bimbingan Konseling MTSN 1 Palembang  melakukan berbagai upaya untuk mengatasi kenakalan remaja diantaranya : a. Kegiatan preventif meliputi bimbingan pribadi, koordinasi dengan orang tua, pemantauan harian, dan pembinaan upacara hari senin. b. Kegiatan kuratif meliputi kerja sama dengan pihak kepolisian dan puskesmas, melakukan home visit, dan pengarahan bakat dan minat. c. Memberikan pemahaman siswa akan pentingnya bersikap baik dan berhati-hati terutama dalam mentaati tata tertib sekolah. Upaya Guru Pendidikan Agama dalam Mengatasi Kenakalan Remaja di MTSN 1 Palembang adalah: a. Upaya yang dilakukan melalui kegiatan pembelajaran, guru mengemas kegiatan dengan menggunakan media dan metode serta mengintegrasikan nilai-nilai karakter bangsa ketika menyampaikan materi tentang keagamaan. b. Upaya yang dilakukan di luar pembelajaran dengan menyelenggarakan program pembiasaan, mendekati siswa secara pribadi, berkoordinasi dengan orang tua, memotivasi siswa aktif dalam kegiatan ROHIS, serta melakukan operasi ketertiban. Upaya tersebut memberikan dampak positif bagi sikap siswa yang religius.

DAFTAR PUSTAKA

Andika. 2009. Perkembangan Psikologi Remaja. Jakarta: Rineka Cipta.

Apriyansah. 2008. Dunia Remaja. http://darsanaguru.blogspot.com/2008/04/ Dunia

Remaja/htm.Diakses pada tanggal 23 Januari 2013.

 

Bernburg, Jn Gunnar. 2009. “Official Labeling, Criminal Embeddedness, and

Subsequent Delinquency A Longitudinal Test of Labeling Theory”. Journal of Research in Crime and Delinquency.Volume 43 Number 1. Pg: 67-88. Gatti, Uberto. 2009.

“Iatrogenic effect of juvenile justice”. Journal of Child Psychology and Psychiatry.Vol

50 No 8. Pg: 991–998.

Hafidhudin. 2002. Lingkungan Pendidikan Kepribadian.    Yogyakarta: Tiara Wacana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.