PENINGKATKAN PROSES PEMBELAJARAN PESERTA DIKLAT

0
45

PENINGKATKAN PROSES PEMBELAJARAN PESERTA DIKLAT

Oleh

Elsy Zuriyani

 

  1. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Diklat adalah proses penyelenggaraan belajar mengajar dalam rangka meningkatkan kemampuan Pegawai negeri sipil (PNS). Dan PNS ini merupakan orang dewasa yang telah bekerja pada Instansi Pemerintah.

Pelaksanaan pembelajaran di balai diklat merupakan salah satu aspek penting dalam penyelenggaraan diklat. Kenyataan di lapangan, muncul berbagai masalah bagaimana kiat dan strategi pembelajaran peserta diklat tersebut. Peserta diklat sebagai pembelajar dalam kegiatan pembelajaran tidak dapat diperlakukan seperti anak-anak didik biasa yang sedang duduk di bangku sekolah. Oleh sebab itu, harus dipahami, orang dewasa yang tumbuh sebagai pribadi dan memiliki kematangan konsep diri bergerak dari ketergantungan seperti yang terjadi pada masa kanak-kanak menuju ke arah kemandirian.

Kematangan psikologi peserta diklat sebagai pribadi yang mampu mengarahkan diri sendiri ini, mendorong timbulnya kebutuhan psikologi yang sangat dalam yaitu keinginan dipandang dan diperlukan orang lain sebagai pribadi yang mengarahkan dirinya sendiri, bukan diarahkan, dipaksa, dan dimanipulasi oleh orang lain. Dengan demikian, apabila peserta dikalt menghadapi situasi yang tidak memungkinkan dirinya menjadi dirinya sendiri, maka dia akan merasa dirinya tertekan dan merasa tidak senang. Peserta diklat bukan merupakan anak kecil, sehingga pendidikan bagi peserta diklat tidak dapat disamakan dengan pendidikan anak sekolah. Perlu dipahami, apa pendorong bagi peserta didklat, apa hambatan yang dialaminya, apa yang diharapkannya, bagaimana ia dapat belajar paling baik. Dan sebagainya (Lunandi, 1987)

Pemahaman terhadap perkembangan kondisi psikologi peserta diklat tentu saja mempunyai arti penting bagi Widyaiswara dalam menghadapi peserta diklat sebagai pembelajar. Berkembangnya pemahaman kondisi psikologi peserta diklat semacam itu tumbuh dalam teori yang dikenal dengan nama andragogi. Andragogi sebagai ilmu yang memiliki dimensi yang luas dan mendalam akan teori belajar dan cara mengajar. Secara singkat, teori ini memberikan dukungan dasar yang esensial bagi kegiatan pembelajaran peserta diklat memerlukan pendektaan khusus, dan harus memiliki pegangan yang kuat akan konsep teori yang didasaerkan pada asumsi atau pemahaman peserta diklat sebagai pembelajar.

Salah satu masalah dalam pengertian andragogi adalah pandangan yang mengemukakan bahwa tujuan pendidikan itu bersifat mentransmisikan pengetahuan. Tetapi di lain pihak, perubahan yang terjadi seperti inovasi dalam teknologi, mobilisasi penduduk, perubahan sistem ekonomi, dan sejenisnya begitu cepat terjadi. Dalam kondisi seperti ini, pengetahuan yang diperoleh seseorang akan cepat menjadi usang akibat lajunya proses perubahan dimaksud. Apabila demikian halnya, maka pendidikan sebagai suaru proses transmisi, pengetahuan sudah tidak sesuai dengan kebutuhan modern (Arif, 1994)

Tujuan Penulisan

Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji keunggulan andragogi dari berbagai aspek yang mungkin dilakukan widyaiswara dalam upaya meningkatkan pembelajaran peserta diklat (andragogi) sebagai salah satu alternatif pemecahan permasalahan kediklatan, sebab diklat sekarang ini tidak lagi dirumuskan hanya sekedar sebagai upaya untuk mentrasmisikan pengetahuan, tetapi dirumuskan hanya sekedar sebagai upaya untuk mentransmisikan pengetahuan, tetapi dirumuskan sebagai suatu proses pendidikan sepanjang hanyat atau belajar seumur hidup (long life learning)

  1. ISI

Keberhasilan dalam proses pendidikan orang dewasa terletak pada orang yang belajar, bukan pada seorang guru. Peran guru, pengajar atau pembimbing dalam proses pendidikan pada orang dewaasa adalah mempersiapkan perangakat atau prosedur untuk mendorong dan melibatkan secara aktif seluruh warga belajar. Oleh karena itu,dalam proses interaksi kegiatan belajar, peran guru bukanlah memindahkan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta belajar melainkan mendorong, dan melibatkan seluruh pesertaa dalam proses interaksi belajar yang mandiri, yaitu proses belajar untuk memahami permasalahan nyata yang dihadapinya, memahami kebutuhan belajarnya sendiri, dapat merumuskan tujuan belajar, dan mendiagnosis kembali kebutuhan belajarnya sesuai dengan perkembangan yang terjadi dari waktu ke waktu. Hal tersebut dapat dicapai kalau peserta belajar dan guru berada dalam satu kelompok, sehingga dari keakraban hubungan mereka dalam kelompok akan menimbulkan perasaan pada peserta dan guru sebagai satu, tanpa membuat perbedaan.

Proses belajar yang terjadi di dalam kelompok akan mengiuti daur sebagai berikut:

Gamabar : Daur Proses Belajar Orang Deawasa

  1. Tahap Mengalami

Pengalaman merupakan inti proses belajar. Ini merupakan langkah awal dari proses refleksi. Hal ini mencakup segala sesutu yang telah kita alami dan mencangkup keberadaan kita, kegiatan-kegiatan kita, perasaan-perasaan kita, pengamatan kita dan apa saja yang kita dengar. Pendekatan daur belajar berdasarkan pengalaman didasarkan pada pengalaman yang dibagikan merupakan pengalaman rill, konkret dan sejauh mungkin mempunyai dampak berarti. Secara umum masing-masing tahapan tersebut diatas mengandung beberapa unsure penting dan mempunyai cirri-ciri pokok tertentu, yang mempunyai implikasi peran dan fungsi  berbeda dari setiap tahapan bagi seorang fasilitator (Pemandu) atau bagi seorang pelatih (tainer) di dalam proses kegiatan belajar.

  1. Tahapan berbagai pengalaman/tahap ungkapan

Merupakan tahap kedua dalam proses pelatihan. Kita memaparkan atau menyampaikan berbagai pengalaman kita. Apa yang terjadi; apa yang saya katakan, saya rasakan; apa yang dirasakan dan dikatakan oleh orang lain; Bagaimana pengalaman itu mempunyai arti. Kita ingin berbagai pengalaman, perasaan dan nilai-nilai yang terkandung dalam berbagai isu dan konteks dimana isu dan konteks tersebut mempunyai hubungan dan arti dalam kehidupan kita.

  1. Tahapan Menganalisis

Tahapan ini merupakan suatu proses pemahaman. Ini merupakan suatu proses untuk mencoba memahami berbagai ungkapan pengalaman dari berbagai pihak yang terlibat dalam proses belajar atau proses pelatihan secara kritis. Dalam tahapan ini banyak hal yang perlu diperhatikan, terutama yang berkaitan dengan peranan dan pengaruh dari berbagai factor dan berbagai pihak. Misalkan, Siapakan yang mempunyai kewenangan dalam situasi seperti ini?; Suara siapa yang lebih didengar dan diperhatikan?; Siapa yang mengambil keputusan?; Siapa yang terkena imbas dan terkena dampak atas keputusan tersebut?;

  1. Tahap Menyimpulkan dan Merencanakan

Ini merupakan tahap yang kritis dalam proses belajar dan proses pelatihan. Berbagai ungkapan pengalaman dan analisis yang terjadi, perlu ditarik suatu “generalisasi dan menyimpulkan sebagai bahan untuk menyusun perencanaan. Dalam proses belajar berdasarkan pengalaman, belajar atau pelatihan tanpa kegiatan tindak lanjut atau perencanaan, akan mengarahkan kepada hal-hal yang kurang tepat, apatis dan ketidakberdayaan; lebih tepat lagi yaitu yang dapat kita lakukan sebagai perencanaan untuk membuat suatu perubahan yang diperlkukan sehingga pengalaman yang kurang baik tidak terjadi lagi, sebagaimana pepatahn mengatakan “Keledai tidak akan terantuk pada batu yang sama:

  1. Tahap menerapkan/penerapan

Merupakan tahap dimana kita melakukan dan melaksanakan sesuatu yang telah direncanakan atas hasil pembelajaran. Pelaksanaan pat juga merupakan termasuk di dalam uji coba, penelitian, implementasi dan pengambilan resiko, tetapi dapat juga merupakan kegiatan menunggu, mendengarkan dan mengamati. Sebab melaksanakan suatu kegiatan tersebut akan menjadi pengalaman nyata yang kita perlukan untuk kita pikirkan lebih jauh tentang apa yang dapat kita pelajari dari pengalaman-pengalaman tersebut untuk menetapkan tujuan dalam pembelajaran atau pelatihan.

Proses pendidikan pada orang dewasa menuntut keterlibatan secara langsung dan aktif dari peserta. Hal tersebut dapat terjadi apabila di dalam kelompok untuk mengungkapkan perasaan dan pendapatnya tanpa harus tertekan. Inti belajar orang dewasa adalah pemecahan masalah, karena orang dewasa pada kenyataannya memiliki berbagai masalah yang menuntut pemecahan. Peserta akan tertarik apabila hal yang dipelajari merupakan jawaban dari pemecahan masalah yang dihadapi.

Proses belajar melalui kegiatan pemecahan masalah pada pendidikan orang dewasa, akan pula mengembangkan kepercayaan peserta terhadap arti pendekatan rasional terhadap kebutuhan-kebutuhan praktis. Peserta dapat belajar menghadapi tekanan-tekanan yang ditimbulkan lingkungannya dengan sistematis dan mengembangkan keterbukaan yang lebih besar bagi pemecahab-pemecahan baru.

Lingkungan sangat mempengaruhi keberhasilan pendidikan orang dewasa, oleh karena itu perlu pengaturan lingkungan untuk menciptakan suasana lingkungan belajar yang memungkinkan peserta dapat belajar dengan baik. Pengaturan dapat dilakukan pada lingkungan fisik dan lingkungan sosial dan psikologis.

  1. Pengaturan lingkungan fisik

Pengaturan lingkungan fisik merupakan salah satu unsur dimana orang dewasa merasa terbiasa, aman, nyaman dan mudah. Untuk itu perlu dibuat senyaman mungkin:

1). Penataan dan peralatan hendaknya disesuaikan dengan kondisi orang dewasa

2). Alat peraga dengar dan lihat yang dipergunakan hendaknya disesuaikan dengan kondisi fisik orang deawasa

3). Penataan ruang, pengaturan meja, kursi dan peralatan lainnya hendaknya memungkinkan terjadinya interaksi sosial.

  1. Pengaturan Lingkungan sosial dan psikologis

Iklim psikologis hendaknya merupakan salah satu faktor yang membuat orang dewasa merasa diterima, dihargai dan didukung.

1).  Fasilitator lebih bersifat membantu dan mendukung

2). Mengembangkan suasana bersahabat, informal dan santai melalui kegiatan Bina Suasana dan berbagai permainan yang sesuai

3). Menciptakan suasana demokratis dan kebebasan untuk menyatakan pendapat tanpa rasa takut.

4).  Mengembangkan semangat kebersamaan

5).  Menghindari adanya pengarahan dari “pejabat-pejabat” pemerintah

6).  Menyusun kontrak belajar yang disepakati bersama.

  1. Metode pendidikan pada orang deawasa

Metode pembelajaran pada orang dewasa harus mempertimbangkan faktor sarana dan prasarana yang tersedia untuk mencapai tujuan akhir pembelajaran yaitu agar peserta dapat memiliki suatu pengalaman belajar yang baik. Penentuan metode pembelajaran jangan dikarenakan kemudahan menggunakan metode tersebut atau karena keinginan dari guru atau pembimbing. Penetapan pemilihan metode berdasarkan pertimbangan aspek tujuan yang ingin dicapai, yang dalam hal ini mengacu pada garis besar program pembelajaran yang dibagi dalam dua jenis:

1). Rancangan proses untuk mendorong orang dewasa mampu menata dan mengisi pengalaman baru dengan mempedomani masa lampau yang pernah dialami, misalnya dengan mempedomani masa lampau yang pernah dialami, misalnya dengan latihan keterampilan, melalui tanya jawab, wawancara, konsultasi, latihan kepekaan, dan lain-lain, sehingga mampu memberi wawasan baru pada masing-masing individu untuk dapat memanfaatkan apa yang sudah diketahuinya.

2). Proses pembelajaran yang dirancang untuk tujuan meningkatkan transfer pengetahuan baru, pengalaman baru, keterampilan baru, untuk mendorong masing-masing individu orang deawasa dapat meraih semaksimal mungkin ilmu pengetahuan yang diinginkannya, misalnya belajar menggunakan program komputer yang dibutuhkan di tempat ia bekerja.

Kemampuan orang dewasa belajar dapat diperkirakan sebagai berikut: (a) 1% melalui indera perasaan, (b) 1,5% melalui indera peraba, (c) 3,5% melalui indera penciuman (d) 11% melalui indera pendengar, dan (e) 83% melalui indera penglihatan. Sejalan dengan itu, orang dewasa belajar lebih efektif apabila ia dapat mendengarkan dan berbicara. Lebih baik lagi kalau di samping itu ia dapat melihat pula, dan makin efektif lagi kalau dapat juga mengerjakan. Komposisi kemampuan tersebut dapat dilukiskan ke dalam piramida belajar (pyramida of learning)

Gambar

Piramida Belajar Orang Dewasa

 

Dari gambaran di atas tampak pada ceramah peserta hanya mendengarkan. Fungsi bicara hanya sedikit terjadi pada waktu tanya jawab. Untuk metode diskusi bicara dan mendengarkan adalah seimbang. Dalam pendidkan dengan cara demontrasi, peserta sekaligus, sehingga dapat diperkirakan akan menjadi paling efektif.

Metode yang dapat digunakan dalam proses pendidikan pada orang dewasa dalam kelompok sebagai berikut:

  1. Metode Ceramah

Metode Ceramah sering kali disebut metode kuliah (The Lecture Method). Dapat pula disebut dengan metode deskripsi. Metode ceramah merupakan metode yang memberikan penjelasan atau deskripsi lisan secra sepihak (oleh seorang guru atau pembimbing) tentang suatu materi pelajaran tertentu.Tujuannya adalah agar peserta mengetahui dan memahami materi tertentu dengan jalan menyimak dan mendengarkan. Peran guru atau pembimbing dalam metode ceramah sangat aktif dan dominan sedangkan peserta hanya duduk dan mendengar saja. Metode ini kurang tepat untuk pelatihan orang dewasa, karena dalam pelatihan orang dewasa menghendaki keterlibatan aktif seluruh peserta.

  1. Curah Pendapat (Brainstorming)

Adalah sebuah metode umum yang digunakan dalam proses pembelajarn orang deawasa untuk membantu peserta memikirkan sebanyak mungkin tanpa perlu memikirkan nilai dari pada pendapat itu. Tekanannya ialah pada kuantitas, dan bukan kualitas.

Tidak dibenarkan adanya kritik terhadap pendapat-pendapat (pendapat anda sendiri atau pendapat orang lain) karena orang-orang akan merasa lebih bebas untuk membiarkan imajinasi-imajinasi mereka berjalan dan untuk memberikan sumbangsih secara bebas/leluasa jika mereka tidak harus merasa kuatir tentang apa yang akan dipikirkan oleh orang lain tentang kontribusi-kontribusi mereka. Masing-masing individu bebas untuk memberikan sebayak mungkin sran seperti yang dia inginkan. Seorang juru catat mencatat setiap kontribusi pada sebuah papan tulis atau di atas lembaran kertas koran dan semua peserta didorong untuk mengembangkan pendapat-pendapat orang lain. Sangat sering terjadi bahwa suatu pendapat yang nampaknya tidak berguna atau lucu akan memicu pendapat orang lain yang ternyata menjadi sangat bernilai tinggi. Setelah dilakukan curah pendapat, seluruh peserta kemudian dapat mengadakan evaluasi terhadap saran-saran tersebut dan melakukan pembahasan.

  1. Metode Kelompok Nominal

Adalah hampir sama dengan curah pendapat, tetapi ini dirancang untuk mendorong setiap pribadi peserta pelatihan untuk memberikan sumbangsihnya dan untuk mencegah adanya dominasi peserta tertentu. Prosedr itu dimulai dengan suatu saat yang hening selama lima sampai sepuluh menit saat mana digunakan oleh peserta-peserta untuk menulis pendapat-pendapat sebanyak mungkin di atas selembar kertas. Pendapat-pendapat itu merupakan jawaban terhadap suatu pertanyaan yang spesifik yang diajukan oleh fasilitator atau sudah disetujui oleh peserta pelatihan.

Langkah berikutnya ialah untuk peserta mengambil giliran membaca pendapat-pendapat dari daftar-daftar mereka. Hal ini dilakukan dengan cara bergilir, setiap anggota ,e,bacakan hanya satu pendapat saja untuk satu kesempatan. Peserta-peserta didorong untuk menambahkan ke dalam dafar-daftar mereka setiap saat selama berlangsungnya tahapan ini, dan saling mengembangkan pendapat antara satu dengan yang lainnya. Seorang mencatat pendapat-pendapat itu dalam kata-kata yang sam persis yang akan disampaikan oleh penyumbang pendapat di atas buah daftar yang bisa dilihat oleh semua orang. Peserta lain boleh mengatakan pas atau belum ada ide setiap kali mendapat giliran dan boleh menyampaikan pendapat lagi pada giliran berikutnya. Hanya setelah setiap pendapat sudah dicatat barulah seluruh peserta mendiskusikannya semuannya. Seluruh peserta mengklasifikasi pendapat-pendapat dan, jika para penyumbang pendapat setuju, menggaabungkan pendapat-pendapat yang sama atau hampir sama. Setelah tahapan diskusi, salah satu cara untuk memprioritaskan item-item ialah bagi setiap anggota menuliskan lima yang menurut dia adalah yang paling penting, dan sesudah itu dibuat ranking dari kelimanya. Pencatat membacakan setiap item dari daftar itu dan menambahkan poin-poin yang ditugaskan padanya. (Sebuah item dibebankan lima poin untuk setiap satu kali hal tersebut dicatat sebagai prioritas pertama dari seseorang, empat poin setiap kali ia didaftarkan kedua kalinya). Dengan cara ini kelompok dapat menentukan nilai-nila apa yang ditempatkan oleh anggota-angota secara kolektif pada pendapat-pendapat yang sudah disarankan, setelah pendapat-pendapat itu dihasilkan

  1. Metode Diskusi

Metode diskusi merupakan metode yang biasanya dipergunakan dalam pelatihan orang deawasa, karena mereka dapat berpartisipasi aktif untuk menyumbangkan pemikiran, gagasan dalam kegiatan diskusi. Kalau dalam metode ceramah hanya terjadi komunikasi satu arah, maka metode diskusi adalah mengemukakan pendapat dan gagasan dalam musyawarah untuk mencapai mufakat. Biasanya peserta diskusi dihadapkan pada suatu atau sejumlah masalah yang mungkin disodorkan oleh fasilitator. Atau peserta dapat pula menentukan sendiri topik yang diperlukan dipecahkan bersama. Tujuan diskusi pada umumnya adalah mencari pemecahan permasalahan, dari sinilah muncul bermacam-macam jawaban yang perlu dipilih satu atau dua jawaban yang logis dan tepat guna dari bermacam-macam jawaban yang lain untuk mencapai mufakat/persetujuan.

  1. Simulasi (Simulation)

Simulasi berasal dari bahasa Inggris Simulation artinya meniru perbuatan yang bersifat pura-pura atau tidak dalam kondisi sesungguhnya. Tujuan simulasi adalah menanamkan materi pembahasan melalui pengalaman berbuat dalam proses simulasi. Sebenarnya simulasi lebih tepat untuk meningkatkan keterampilan tertentu dengan jalan “melakukan sesuatu” dalam kondisi tidak nyata.

  1. Memainkan Peran (Role Play)

Peserta diminta untuk melakukan peran tertentu dan menyajikan “permainan peran” dan melakukan “dialog-dialog” tertentu yang menekankan pada karkakter, sifat dan sikap yang perlu dianalisa. Bermain peran haruslah mengukapkan suatu masalah atau kondisi nyata yang akan dipergunakan sebagai bahan diskusi atau pembahasan materi tertentu. Dengan demikian, setelah selesai melakukan peran, langkah penting adalah analisis dari bermain peran tersebut. Para pemain diminta untuk mengemukakan peran dan perasaan mereka tentang peran yang dimainkan, demikian pula dengan peserta yang lain. Untuk itu guru atau pembimbing harus mempersiapkan skenario dan cerita tertentu dengan mempersiapkan “peserta” yang akan memerankan peran tertentu tersebut, serta kelengkapan lain sebagai bahan analisis yang diperlukan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Lunandi. (1987). Pendidikan Orang Dewasa. Jakarta; Gramedia

 

Padmowihardjo, S. (2006). Pendidikan Orang Dewasa. Jakarta: Universitas Terbuka.

http://ippamaradhi.multiply.com/journal/item/102/10-Prinsip-Pendidikan-Orang-

 

Suprijanto, H. (2007). Pendidikan Orang Dewasa; Dari Teori Hingga Aplikasi. Jakarta : Bumi Aksara.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.