PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU MATEMATIKA MELALUI LESSON STUDY (LS)

0
35

PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU MATEMATIKA MELALUI  LESSON STUDY (LS)

Oleh : Rudi Hermawan

 Abstrak

 Guru harus peka dan tanggap terhadap perubahan­perubahan , apalagi di era globalisasi saat ini. Pembaharuan dan teknologi yang terus berkembang sejalan dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Disinilah tugas guru untuk senantiasa meningkatkan wawasan ilmu pengetahuan, sikap dan ketrampilan. Melalui Lesson study, guru dapat secara kolaboratif berupaya menerjemahkan tujuan dan standar pendidikan ke alam nyata di kelas. Atas dasar hal-hal di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan tujuan untuk meningkatkan  Profesionalisme Guru Matematika melalui Lesson Study. Metodologi penelitian yang dipakai adalah kualitatif deskriptif. Hasil penelitian ini adalah bahwa siswa lebih memahami masalah materi matematika pemusatan data melalui lesson study. Lesson study sebagai suatu strategi dalam meningkatkan keprofesionalan guru oleh para guru, yang sudah tentu merupakan gerakan dari para guru untuk mewujudkannya.

Key word : Lesson study, guru, profesional

PENDAHULUAN

Profesi guru pada saat ini masih banyak dibicarakan orang, atau masih saja dipertanyakan orang, baik dikalangan para pakar pendidikan maupun diluar pakar pendidikan. Bahkan dalam dasawarsa terakhir ini hampir setiap hari, media massa baik media cetak maupun elektronik selalu memuat berita tentang guru. Ironisnya berita­berita tersebut banyak cenderung melecehkan posisi guru baik yang sifatnya menyangkut kepentingan umum sampai kepada hal-hal yang sifatnya pribadi, sedangkan dari pihak guru sendiri nyaris tak mampu membela diri. Masyarakat / orang tua muridpun cenderung mencemooh dan menuding guru tidak kompeten, tidak berkualitas dan sebagaimya, manakala putra putrinya tidak bisa menyelesaikan persoalan yang ia hadapi sendiri atau memiliki kemampuan tidak sesuai dengan keinginannya.

Dari kalangan bisnis / industrialispun memprotes para guru karena kualitas para lulusannya dianggap kurang memuaskan bagi kepentingan perusahaannya. Di mata murid-muridpun khususnya di sekolah menengah pada umumnya cenderung menghormati gururnya hanya karena ingin mendapatkan nilai yang baik. Tentu saja tuduhan dan protes dari berbagai kalangan tersebut akan merongrong wibawa guru, bahkan cepat atau lambat, pelan tapi pasti akan menurunkan martabat guru. Akankah demikian nasibmu wahai pahlawan tanpa tanda jasa ?

Sikap dan perilaku masyarakat itu memang bukan tanpa alasan, memang ada sebagian kecil oknum guru yang melanggar / menyimpang dari kode etiknya. Anehnya sekecil apapun kesalahan yang diperbuat guru mengundang reaksi yang hebat di masyarakat. Hal ini dapat dimaklumi karena dengan adanya sikap demikian menunjukan bahwa memang guru seyogyanya menjadi anutan bagi masyarakat di sekitarnya.

Menurut Nana Sudjana dalam Made Pidarta (1990), rendahnya pengakuan masyarakat terhadap profesi guru disebabkan beberapa hal :

  1. Adanya pandangan sebagian masyarakat, bahwa siapapun dapat menjadi guru.
  2. Kekurangan guru di daerah terpencil, memberi peluang untuk mengangkat seseorang yang tidak mempunyai keahlian untuk menjadi guru
  3. Banyak guru yang belum menghargai profesinya, apalagi berusaha mengembangkan kompetensi profesinya itu. Perasaan rendah diri karena menjadi guru, penyalahgunaan profesi untuk kepuasan dan kepentingan pribadinya, sehingga wibawa guru semakin merosot

Dari kenyataan-kenyataan ini sekalipun pahit bagi guru, sudah saatnya kompetensi guru perlu ditingkatkan. Guru harus peka dan tanggap terhadap perubahan­perubahan , apalagi di era globalisasi saat ini. Dalam meningkatkan professional guru ada banyak faktor yang harus diperhatikan seperti: pendidik (guru), siswa, sarana dan prasarana, laboratorium dan kelengkapannya, lingkungan, dan manajemennya. Namun pada kesempatan ini hanya akan dilihat dari segi pendidik (guru) dan siswa yang merupakan dua komponen terpenting, yang berperan dalam peningkatan kualitas pembelajaran, dengan tidak mengesampingkan komponen atau faktor-faktor lainnya.

Menurut Sukirman (2006), kebanyakan setelah kegiatan inservice teacher training, hasil monitoring yang mempersoalkan apakah ada peningkatan mutu pembelajaran yang dilakukan oleh para peserta tidak tampak nyata hasilnya. Padahal pada dasarnya, hakikat pelaksanaan kegiatan inservice teacher training selain meningkatkan kualitas guru, yang lebih penting adalah guru peserta inservice teacher training mampu menerapkan hasil training dalam proses pembelajaran di kelasnya dan mengimbaskan kepada rekan-rekan guru di sekolahnya atau di kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Namun masih banyak guru setelah mengikuti kegiatan inservice teacher training, mereka tidak mengubah cara pembelajaran untuk para siswanya. Hal ini sangat dimungkinkan karena dalam kegiatan training tersebut tidak diberikan contoh kongkret cara pembelajarannya di kelas nyata.

Matematika yang merupakan salah satu mata pelajaran yang tercantum dalam kurikulum perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas. Adapun tujuannya adalah untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi itu diperlukan sebagai bekal agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, dan kompetitif.

Bergantinya sistem sentralisasi ke sistem desentralisasi pendidikan secara mendadak seperti saat ini tidak akan serta merta mengubah pola pikir guru yang semula sebagai pelaksana pengajaran langsung menjadi pemrakarsa pembelajaran, seperti membalikkan telapak tangan. Apalagi beragamnya kualitas dan profesionalitas guru, dari guru yang bermotivasi peribadahan hingga karena keterpaksaan, dari guru yang selalu menggerutu hingga yang senantiasa tawakkal. Untuk itu perlu tersedianya pendukung yang memadai dan proses yang panjang dalam program pendidikan dan pembinaan guru. Perlu adanya gerakan dari bawah, dari para guru untuk mengidentifikasi kebutuhan dirinya dalam meningkatkan kompetensinya, agar dapat mengembangkan mutu pembelajaran pada siswanya. Bertolak dari pandangan tersebut, ditawarkan suatu sistem pembinaan guru melalui lesson study dalam rangka peningkatan keprofesionalan guru. Melalui lesson study, guru dapat mengamati pelaksanaan pembelajaran yang diteliti (research lesson) dan juga dapat mengadopsi pembelajaran sejenis setelah mengamati respons siswa yang tertarik dan termotivasi untuk belajar dengan cara seperti yang dilaksanakan pada kegiatan lesson study ini. Pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran ini dapat dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap pembelajaran yang diteliti maupun melalui laporan tertulis, video, ataupun forum diskusi untuk berbagi pengalaman dengan kolega. Sehingga dengan adanya Lesson study, guru dapat memperbaiki mutu pengajarannya di kelas serta meningkatkan keprofesionalannya.

Melalui Lesson study, guru dapat secara kolaboratif berupaya menerjemahkan tujuan dan standar pendidikan ke alam nyata di kelas. Kolaborasi yang dilakukan bertujuan untuk merancang pembelajaran sedemikian rupa sehingga siswa dapat mencapai kompetensi dasar yang diharapkan akan mereka kuasai. Dalam kolaborasi ini, guru-guru yang tergabung dalam kelompok lesson study berupaya merancang suatu skenario pembelajaran yang memperhatikan kompetensi dasar, pengembangan kebiasaan berpikir ilmiah, dan strategi pembelajaran yang digunakan sehingga siswa dapat memperoleh pengetahuan tertentu yang terkait dengan materi yang dibelajarkan. Guru-guru dalam kelompok lesson study juga harus membuat perangkat-perangkat lain yang diperlukan dalam pembelajaran seperti LKS, panduan guru (teaching guide), media pembelajaran, instrumen evaluasi pembelajaran. Atas dasar hal-hal di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ Profesionalisme Guru Matematika melalui Lesson Study “ dengan materi ukuran pemusatan data.

PEMBAHASAN

Profesionalisme Guru

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pada bab II pasal 3, jelas tertulis fungsi dan tujuan pendidikan nasional yaitu “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa , bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab ”. Jelas terlihat bahwa pendidik mempunyai peranan yang sangat besar dalam tercapainya tujuan pendidikan nasional tersebut. Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut tentu diperlukan seorang pendidik yang professional.

Pendidik mempunyai dua arti yaitu arti luas dan arti sempit. Dalam arti luas pendidik adalah semua orang yang berkewajiban membina manusia, sedangkan dalam arti sempit pendidik adalah orang-orang yang yang disiapkan untuk menjadi tenaga pendidik. Siapa sajakah yang disebut pendidik ? Bab I pasal 1 UU No. 20 Tahun 2003 menyebutkan bahwa “ Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan”.

Guru sebagai salah seorang tenaga pendidik tentu dituntut keprofesionalismenya. Untuk mencapai tujuan tersebut tentunya dibutuhkan sumber daya manusia yang tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Pada Bab I dalan UU Guru dan Dosen tertulis Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi ”.

Sedangkan menurut Uzer Usman (1996), Guru professional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal.

Dari pendapat para ahli seperti Schein ( 1972 ), Imran Manan ( 1989 ), Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia I (1988 ), ISPI (1991 ), dan Manap Somantri ( 1996 ) dalam Made Pidarta (1990) bahwa ciri-ciri seorang professional adalah sebagai berikut

  1. Pekerjaan berdasarkan motivasi yang kuat
  2. Memiliki seperangkat pengetahuan, ilmu dan ketrampilam khusus yang bersifat dinamis dan terus berkembang.
  3. Ilmu, pengetahuan, dan ketrampilan itu diperoleh melalui studi dalam waktu lama
  4. Membuat keputusan sendiri dalam menyelesaikan pekerjaannya.
  5. Pekerjaan berorientasi pada pelayanan, bukan material semata
  6. Tidak mengarvetensikan keahliannya untuk mendapatkan klien
  7. Menjadi anggota organisasi profesi
  8. Memiliki kode etik profesi
  9. Punya kekuatan dan status yang tinggi sebagai ekspect yang diakui oleh masyarakat
  10. Berhak mendapatkan imbalan yang layak

 

Kompetensi Guru

Untuk menjadi guru yang profesional tentu diharuskan memiliki kompetensi­kompetensi yang digariskan. Kompetensi merupakan pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai dasar yang direflesikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus dapat memungkinkan seseorang untuk menjadai kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu. Sementara itu , menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 045 / U / 2002 yang dikutip dari direktorat profesi pendidik mengatakan bahwa “kompetensi diartikan sebagai seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan pekerjaan tertentu ”.

Kompetensi guru (teacher competency) merupakan kemampuan seorang guru dalam dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak.

Jabatan guru termasuk salah satu jenis pekerjaan professional. Hal ini mendapat pengakuan dari pemerintah dan masyarakat. Pengakuan pemerintah antara lain diimplementasikan pada pembayaran tunjangan professional guru, walaupun pembayaran itu belum mencapai standar yang diharapkan. Hal ini terkait dengan keterbatasan anggaran yang dapat direalisasikan.

Menurut PP I No. 19 / 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 28, pendidik adalah agen pembelajaran yang harus memiliki empat jenis kompetensi yaitu

  1. Kompetensi paedagogik
  2. Kompetensi Profesional
  3. Kompetensi Kepribadian
  4. Kompetensi Sosial

Pengertian Lesson Study

Lesson Study (LS) pada awalnya dimulai dengan pengkajian materi kurikulum (kyouzai kenkyuu) yang berfokus pada pengajaran matematika bagi guru-guru di Jepang. Kajian tersebut mendasarkan diri pada kurikulum matematika di U.S yang dirancang berbasis temuan-temuan penelitian unggul. Kajian tersebut melahirkan suatu perubahan paradigma tentang materi kurikulum dari ”memanjakan” menuju pada ”pemberdayaan” potensi siswa. Paradigma ”memanjakan” mengalami anomali,  karena materi kurikulum sering tidak memperhatikan karakteristik siswa, sehingga substansi materi sering lepas konteks dan tidak relevan dengan kebutuhan siswa. Akibatnya, siswa kurang tertarik, pembelajaran menjadi tidak bermakna, siswa sering menyembunyikan ketidakmampuan. Hal ini terjadi sebagai akibat koreksi dan perhatian guru yang lemah terhadap potensi mereka. Sementara, paradigma ”pemberdayaan” bertolak dari potensi siswa yang mampu ”mengada”, sehingga materi kurikulum seyogyanya dikembangkan berbasis kebutuhan siswa, materi seyogyanya menyediakan model pedagogi yang mampu menampilkan aspek kemenarikan pembelajaran. Paradigma tersebut dapat berkembang jika pembelajaran dihasilkan dari kerja tim mulai dari perencanaan, pelaksanaan, diskusi, kolaborasi, dan refleksi secara berkesinambungan. Cara seperti ini melahirkan konsep Lesson Study (LS).

LS merupakan terjemahan dari bahasa Jepang jugyou (instruction =pengajaran, atau lesson = pembelajaran) dan kenkyuu (research = penelitian atau study = kajian). Lesson study, yang dalam bahasa Jepangnya jugyou kenkyuu, adalah sebuah pendekatan untuk melakukan perbaikan-perbaikan pembelajaran di Jepang. Perbaikan­perbaikan pembelajaran tersebut dilakukan melalui proses-proses kolaborasi antar para guru.

Lesson Study adalah suatu metode analisis kasus pada praktek pembelajaran , ditujukan untuk membantu membantu pengembangan profesionalisme guru dan membuka kesempatan bagi mereka untuk saling belajar berdasarkan praktek-praktek nyata di tingkat kelas (Pelita, 2009). Lesson Study merupakan suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun learning community. Lesson Study bukan suatu metode pembelajaran atau suatu strategi pembelajaran, tetapi dalam kegiatan Lesson Study dapat memilih dan menerapkan berbagai metode/strategi pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi pendidik. Lesson study dapat merupakan suatu kegiatan pembelajaran dari sejumlah guru dan pakar pembelajaran yang mencakup 3 (tiga) tahap kegiatan, yaitu perencanaan (planning), implementasi (action) pembelajaran dan observasi serta refleksi (reflection) terhadap perencanaan dan implementasi pembelajaran tersebut, dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran.

1 . Tahap perencanaan ( Plan )

Pada tahap ini dilakukan identifikasi masalah yang ada di kelas yang akan digunakan untuk kegiatan lesson study dan perencanaan alternatif pemecahannya. Identifikasi masalah dalam rangka perencanaan pemecahan masalah tersebut berkaitan dengan pokok bahasan (materi pelajaran) yang relevan dengan kelas dan jadwal pelajaran, karakteristik siswa dan suasana kelas, metode/pendekatan pembelajaran, media, alat peraga, dan evaluasi proses dan hasil belajar.

Dari hasil identifikasi tersebut didiskusikan (dalam kelompok lesson study) tentang pemilihan materi pembelajaran, pemilihan metode dan media yang sesuai dengan karakteristik siswa, serta jenis evaluasi yang akan digunakan. Pada saat diskusi, akan muncul pendapat dan sumbang saran dari para guru dan pakar dalam kelompok tersebut untuk menetapkan pilihan yang akan diterapkan. Pada tahap ini, pakar dapat mengemukakan hal-hal penting/baru yang perlu diketahui dan diterapkan oleh para guru, seperti pendekatan pembelajaran konstruktif, pendekatan pembelajaran yang memandirikan belajar siswa, pembelajaran kontekstual, pengembangan life skill, Realistic Mathematics Education, pemutakhiran materi ajar, atau lainnya yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pemilihan tersebut.

Hal yang penting pula untuk didiskusikan adalah penyusunan lembar observasi, terutama penentuan aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam suatu proses pembelajaran dan indikator-indikatornya, terutama dilihat dari segi tingkah laku siswa. Aspek-aspek proses pembelajaran dan indikator-indikator itu disusun berdasarkan perangkat pembelajaran yang dibuat serta kompetensi dasar yang ditetapkan untuk dimiliki siswa setelah mengikuti proses pembelajaran.

Dari hasil identifikasi masalah dan diskusi perencanaan pemecahannya, selanjutnya disusun dan dikemas dalam suatu perangkat pembelajaran yang terdiri atas :

1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

2. Petunjuk Pelaksanaan Pembelajaran (Teaching Guide)

3. Lembar Kerja Siswa (LKS)

4. Media atau alat peraga pembelajaran

5. Instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran.

6. Lembar observasi pembelajaran.

Penyusunan perangkat pembelajaran ini dapat dilakukan oleh seorang guru atau beberapa orang guru atas dasar kesepakatan tentang aspek-aspek pembelajaran yang direncanakan sebagai hasil dari diskusi. Hasil penyusunan perangkat pembelajaran tersebut perlu dikonsultasikan dengan dosen atau guru yang dipandang pakar dalam kelompoknya untuk disempurnakan.

Perencanaan itu dapat juga diatur sebaliknya, yaitu seorang atau beberapa orang guru yang ditunjuk dalam kelompok mengidentifikasi permasalahan dan membuat perencanaan pemecahannya yang berupa perangkat-perangkat pembelajaran untuk suatu pokok bahasan dalam suatu mata pelajaran yang telah ditetapkan dalam kelompok. Selanjutnya, hasil identifikasi masalah dan perangkat pembelajaran tersebut didiskusikan untuk disempurnakan.

2. Tahap Implementasi dan Observasi ( Do )

Pada tahap ini seorang guru yang telah ditunjuk (disepakati) oleh kelompoknya, melakukan implementasi rencana pembelajaran (RP) yang telah disusun tersebut, di kelas. Pakar dan guru lain melakukan observasi dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan dan perangkat lain yang diperlukan. Para observer ini mencatat hal-hal positif dan negatif dalam proses pembelajaran, terutama dilihat dari segi tingkah laku siswa. Selain itu (jika memungkinkan), dilakukan rekaman video (audio visual) yang mengclose-up kejadian-kejadian khusus (pada guru atau siswa) selama pelaksanaan pembelajaran. Hasil rekaman ini berguna nantinya sebagai bukti autentik kejadian-kejadian yang perlu didiskusikan dalam tahap refleksi atau pada seminar hasil lesson study, disamping itu dapat digunakan sebagai bahan diseminasi kepada khalayak yang lebih luas.

3. Tahap Refleksi ( See )

Selesai praktik pembelajaran, segera dilakukan refleksi. Pada tahap refleksi ini, guru yang tampil dan para observer serta pakar mengadakan diskusi tentang pembelajaran yang baru saja dilakukan. Diskusi ini dipimpin oleh Kepala Sekolah, Koordinator kelompok, atau guru yang ditunjuk oleh kelompok. Pertama guru yang melakukan implementasi rencana pembelajaran diberi kesempatan untuk menyatakan kesan-kesannya selama melaksanakan pembelajaran, baik terhadap dirinya maupun terhadap siswa yang dihadapi. Selanjutnya observer (guru lain dan pakar) menyampaikan hasil analisis data observasinya, terutama yang menyangkut kegiatan siswa selama berlangsung pembelajaran yang disertai dengan pemutaran video hasil rekaman pembelajaran. Selanjutnya, guru yang melakukan implementasi tersebut akan memberikan tanggapan balik atas komentar para observer. Hal yang penting pula dalam tahap refleksi ini adalah mempertimbangkan kembali rencana pembelajaran yang telah disusun sebagai dasar untuk perbaikan rencana pembelajaran berikutnya. Apakah rencana pembelajaran tersebut telah sesuai dan dapat meningkatkan performance keaktifan belajar siswa. Jika belum ada kesesuaian, hal-hal apa saja yang belum sesuai, metode pembelajarannya, materi dalam LKS, media atau alat peraga, atau lainnya. Pertimbangan-pertimbangan ini digunakan untuk perbaikan rencana pembelajaran selanjutnya.

Pelaksanaan Lesson Study

Lesson Study adalah suatu model peningkatan mutu pembelajaran melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip­prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun learning community. Oleh karena itu lesson study dapat dilaksanakan dalam satu sekolah, kelompok sekolah, kelompok guru mata pelajaran sejenis atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Suatu sekolah dapat melaksanakan school based lesson study, jika banyaknya guru mata pelajaran sejenis atau serumpun minimal 3 (tiga) orang, untuk mata pelajaran yang akan diterapkan lesson study. Mereka dapat secara rutin bersama dan berkelanjutan dalam melaksanakan lesson study, baik dalam perencanaan (plan), implementasi (do) dan observasi serta refleksi (see) pada suatu mata pelajaran. Dalam pelaksanaan lesson study di suatu sekolah, agar tidak mengganggu kewajiban guru dalam tugas mengajarnya, perlu penyusunan jadwal pelajaran yang menyediakan pertemuan rutin guru mata pelajaran sejenis/serumpun.

Lesson study dapat pula dilaksanakan dengan cara: seorang guru menyusun seluruh perangkat pembelajaran secara lengkap untuk suatu topik tertentu (yang bermasalah) untuk didiskusikan dengan beberapa teman sejawat. Selanjutnya ia tampil sebagai guru model dan teman sejawat melakukan observasi, lalu melakukan refleksi atas pembelajaran yang telah dilakukan.

KESIMPULAN

Profesional sangat penting, tidak ada orang lain yang bisa melaksanakan tugas mendidik kecuali pendidik profesional. Seorang profesional bukan hanya mengajar saja namun juga mendidik dan melatih.

Lesson study sebagai suatu strategi dalam meningkatkan keprofesionalan guru oleh para guru, yang sudah tentu merupakan gerakan dari para guru untuk mewujudkannya. Lesson study dapat diimplementasikan dalam pembelajaran melalui siklus plan-do-see. Oleh karena itu, perlu komitmen dari para guru yang didukung oleh kebijakan para pengambil keputusan, agar gerakan itu terwujud.

Adapun efek Lesson Study terhadap profesionalisme guru adalah :

  1. Kompetensi Paedagogi
  • Pada kompetensi ini terlihat peningkatan proses belajar mengajar dengan membuat suatu rancangan pembelajaran, rencana pelaksanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan pengalaman hidup siswa.
  • Guru menentukan strategi pembelajaran dengan mengaitkan kontektual pada materi ukuran pemusatan data.
  • Pelaksanaan proses belajar mengajar yang membuat siswa memahami konsep dari ukuran pemusatan data.
  • Mengevaluasi proses belajar mengajar dengan melalkukan refleksi
  1. Kompetensi Profesional                                                       . Memahami materi ajar statistika khususnya ukuran pemusatan data dengan menggabungkan materi-materi yang didapat dari berbagai referensi dan masukan dari teman-teman MGMP
  2. Kompetensi Kepribadian
  • Keterbukaan terhadap pendapat-pendapat para observer pada saat refleksi.
  1. Kompetensi Sosial
  • Melakukan komunikasi dengan sesama guru MGMP dan siswa secara
  • Merumuskan kompetensi yang harus dimiliki siswa sebagai dasar untuk pengembangan belajar siswa;
  • Melaksanakan diskusi setelah pembelajaran bersama dalam kelompok
  • kolaboratif mereka untuk mendiskusikan dan merevisi rencana

Saran

Berdasarkan hasil penelitian, dapat direkomendasikan beberapa hal yaitu :

  1. Lesson study merupakan salah satu proses pembelajaran yang dapat meningkatkan profesionalisme guru.
  2. Pihak yang berwenang (kepala sekolah, kepala kantor kementerian agama kabupaten/kota, kepala kantor wilayah kementerian agama) hendaknya dapat memberikan dukungan pada pelaksanaan lesson study ini dalam upaya peningkatan profesionalisme guru.
  3. Balai Diklat hendaknya memberikan dukungan berupa pendidikan dan pelatihan tentang Lesson Study.

 

REFERENSI

 

Depdiknas, 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan : Standar Kompetensi Matematika. Jakarta : Depdiknas

Direktorat Profesi Pendidik, 2006. Bahan Sosialisasi Sertifikasi Guru. Jakarta : Depdiknas.

Pidarta, Made, 1990. Landasan Kependidikan : Stimulus Ilmu Pendidikan bercorak Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta

Sukirman, 2006. Kumpulan Makalah : Pelatihan Lesson study bagi Guru-guru Berprestasi dan Pengurus MGMP MIPA SMP se-Indonesia. Jogyakarta : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNY

Uzer Usman, 1996. Menjadi Guru Profesional. Bandung : Remaja Rosdakarya .

____ . 2006. Undang-Undang Republik Indonesia No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen.
Jakarta, Citra Umbara.

_____.2006. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. Jakarta, Citra Umbara.

_____ .2009. Panduan untuk Lesson Study Berbasis MGMP dan Lesson Study Berbasis   Sekolah. Jakarta : Pelita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.