PENINGKATAN PENGEMBANGAN KOMPETENSI PROFESIONALISME SEORANG PENDIDIK

0
91

K

Oleh : Dra. Nelly Nurmelly. MM

Balai Diklat Keagamaan Palembang

PENDAHULUAN

Peran pendidik guru menjadi lebih penting dalam memenuhi kebutuhan guru profesional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia  14/2005 tentang Guru dan Dosen. Agar dapat mendidik guru profesional dan calon guru, pendidik guru sendiri harus profesional, dan memiliki kemauan untuk terus mengembangkan profesionalisme. Mengembangkan profesionalisme adalah suatu keharusan bagi pendidik guru, karena empat alasan: (1) sifat profesionalisme, (2) perkembangan pesat ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, (3) paradigma pembelajaran seumur hidup, dan (4) permintaan Hukum  14/2005 tentang Guru dan Dosen.

Namun data pada pendidik guru dari Lembaga Pendidikan Guru beberapa menunjukkan bahwa tidak semua pendidik guru menunjukkan kesediaan untuk mengembangkan profesionalisme. Oleh karena itu, pengembangan profesionalisme harus didorong oleh semua pihak yang terkait dengan guru dan pendidik guru.

Ada banyak kegiatan yang dapat dialami oleh pendidik guru dalam rangka mengembangkan profesionalisme, beberapa diantaranya adalah: mengambil studi lebih lanjut, mengambil kursus yang relevan, refleksi diri secara teratur, bergabung dengan kegiatan akademik (seminar, lokakarya, pelatihan, dll), pengenalan sekolah , melakukan penelitian, dan penerbitan artikel ilmiah.

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang mendapat perhatian cukup serius di berbagai negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Hal ini dapat dimaklumi karena kenyataan menunjukkan bahwa pendidikan mempunyai peran penting dalam kemajuan satu negara. Jepang yang hancur lebur dalam Perang Dunia kedua, segera bangkit kembali karena memberi perhatian yang serius pada pendidikannya. Melalui pendidikan, berbagai keterampilan, terutama keterampilan hidup, dapat dikembangkan, di samping tentu saja berbagai pengetahuan dan sikap yang perlu dikuasai dan ditampilkan oleh setiap orang jika mau hidup secara layak dalam dunia yang berkembang sangat pesat ini.  Salah satu faktor yang berperan besar dalam dunia pendidikan dan yang sering dikaitkan dengan kualitas pendidikan, khususnya pendidikan formal adalah guru. Peran guru ini menjadi semakin penting karena sebagaimana yang diungkapkan oleh Wardani dan Julaeha (2011), perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS) yang sangat pesat membawa berbagai perubahan dalam setiap aspek kehidupan manusia.

Perkembangan IPTEKS yang pesat ini juga membuat peran pendidikan semakin penting karena pendidikan diasumsikan mampu mentransfer segala perubahan tersebut kepada peserta didik. Dalam kaitan ini, guru memegang peran yang sangat vital karena melalui gurulah diharapkan segala perubahan tersebut akan sampai kepada peserta didik. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa guru memegang peran yang sangat penting dalam pendidikan suatu bangsa.

Kualitas pendidikan sangat banyak tergantung kepada guru, di samping berbagai komponen pendidikan lainnya, seperti kebijakan pemerintah, sarana prasarana, keluarga, masyarakat. Tentu belum semua guru mampu memainkan peran yang penting tersebut karena kualitas guru juga beragam, lebih-lebih jika guru tidak mau berkembang, sehingga semakin jauh dari sosok guru profesional yang diamanatkan oleh Undang-undang Guru dan Dosen. Guru dihasilkan oleh Lembaga Pendidikan Guru, di bawah asuhan para dosen yang berperan sebagai pendidik guru.

Sejalan dengan pemikiran ini, kualitas pendidik guru atau dengan perkataan lain profesionalisme seorang pendidik guru akan sangat berperan dalam membentuk kualitas guru yang dihasilkan. Apakah semua pendidik guru sudah mampu mengembangkan kadar profesionalismenya?

Pengembangan Profesionalisme Pendidik Guru

Pekerjaan profesional adalah pekerjaan yang memerlukan kepandaian khusus untuk melakukannya dan mengharuskan adanya pembayaran bagi pelakunya  Oxford Advanced Learner’s Dictionary (Wehmeier, 2005), mendefinisikan profesionalisme sebagai suatu standar tinggi yang kita harapkan dari seseorang yang terlatih dengan baik dalam pekerjaan tertentu, atau “great skill and ability” (hal: 1205). Sejalan dengan pengertian di atas, menurut Darling-Hammond dan Goodwin (1993), setiap pekerjaan professional mempunyai persamaan karakteristik. Berdasarkan ketiga karakteristik di atas, dari karakteristik pertama dapat ditafsirkan bahwa jika pekerjaan sebagai pendidik guru dipandang sebagai pekerjaan profesional, maka paling tidak seorang pendidik guru harus menguasai ilmu yang mendasari pekerjaannya sebagai guru dan pendidik guru. Ilmu yang harus dikuasai oleh guru dan para pendidik guru itu disebut sebagai “the scientific basis of the art of teaching”, yang meliputi: (1) pemahaman yang mendalam tentang karakteristik peserta didik (2) penguasaan bidang studi (3) pengelolaan pembelajaran yang mendidik, yang mencakup perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, penilaian proses dan hasil belajar, di samping pemanfaatan hasil penilaian untuk perbaikan, serta (4) pengembangan kemampuan professional secara berkelanjutan (Gage, dalam Joni, 2007). Inilah yang kemudian menjadi sosok utuh kompetensi guru, yang di dalam UU No. 14/2005

Berdasarkan ulasan Lingston, Call, dan Morgado (2009) tersebut, pendidik guru yang berperan sebagai peneliti akan mempunyai nilai tambah yang sangat bermakna, baik bagi individu pendidik guru sendiri maupun bagi LPG tempatnya bekerja. Dengan mengacu kepada definisi dari Wikipedia (diunduh 29 Desember 2010), dapat dikatakan bahwa pengembangan kemampuan profesional seorang pendidik guru adalah meningkatnya kemampuan pendidik guru, baik dalam pengetahuan, keterampilan, maupun sikap, yang berdampak pada meningkatnya kualitas layanan para pendidik guru pada peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya.

Ini berarti bahwa peningkatan kemampuan tersebut memang berdampak positif bagi layanan yang diberikan oleh pendidik guru kepada guru atau calon guru yang menjadi tanggung jawabnya. Jika peningkatan kemampuan itu tidak meningkatkan kualitas layanan yang diberikan, berarti kemampuan profesional pendidik guru tersebut belum berkembang. Dengan demikian, pengembangan kemampuan profesional selalu dikaitkan dengan meningkatnya kualitas layanan ahli yang diberikan kepada klien.. Guru dan pendidik guru harus menguasai the scientific basis of the art of teaching, agar mampu memberi layanan ahli untuk memenuhi kebutuhan peserta didik, yang menjadi tanggung jawab utamanya.. Pembelajaran yang semula lebih banyak berpusat kepada guru telah berkembang menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Sejalan dengan ini, berbagai pendekatan/model pembelajaran seperti konstruktivistik, pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran kreatif dan produktif (Ditjen Dikti, 2004) telah tersebar luas dan sudah mulai diterapkan di sekolah-sekolah. Tentulah sangat tidak masuk akal jika para pendidik guru tidak akrab dengan berbagai perubahan dalam pembelajaran yang berlangsung di sekolah-sekolah. Tentulah mustahil untuk mempertahankan posisi sebagai pendidik guru, jika seorang pendidik guru tidak mampu atau tidak mau belajar sepanjang hayat.

Berdasarkan filosofi belajar sepanjang hayat, tidak mungkin seorang guru, lebih-lebih pendidik guru, berhenti belajar karena merasa sudah pintar atau sudah menguasai segalanya. Perlu dicatat bahwa paradigma belajar sepanjang hayat sebenarnya juga telah menjadi filosofi yang turun temurun dalam masyarakat Indonesia. Kekayaan budaya ini dapat dianggap sebagai kearifan lokal yang menegaskan perlunya belajar sepanjang hayat. Sebagai orang yang digugu dan ditiru, pendidik guru harus memodelkan kebiasaan belajar sepanjang hayat ini kepada para peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya.

Undang Undang No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 60, mewajibkan dosen “meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni”. Kewajiban yang dicanangkan dalam undang-undang ini, mau tidak mau haruslah dilaksanakan oleh para dosen pada umumnya dan lebih-lebih lagi oleh dosen pendidik guru. Dengan demikian, mengembangkan kemampuan profesional merupakan satu keharusan bagi para pendidik guru, sehingga mereka tidak pernah ketinggalan jaman karena selalu mengikuti perkembangan dalam berbagai aspek kehidupan.

Secara umum, faktor yang mempengaruhi perkembangan profesionalisme seorang pendidik guru dapat dibagi menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah factor dari dalam diri pendidik guru sendiri, mencakup keperibadian, kemampuan, wawasan terhadap pekerjaan sebagai pendidik guru, tujuan hidup, etos kerja, dan lain-lain. Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar pendidik guru, yang antara lain meliputi: kesempatan untuk mengembangkan diri, kebijakan lembaga, biaya, beban kerja, teman sekerja. Dari faktor internal, secara sepintas, dosen yang tidak mengajukan usul kenaikan jabatan akademik atau jabatan fungsional, tampaknya dapat dikelompokkan menjadi dua kategori. Pertama, mereka yang sebenarnya banyak berperan penting dalam berbagai kegiatan akademik, baik pengajaran, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat, namun tidak membudayakan kebiasaan mendokumentasikan bukti fisik kegiatan yang telah diikutinya dan tidak cukup usaha untuk menyusun usulan kenaikan jabatan akademik. Kedua, mereka yang memang sangat jarang terlibat dalam kegiatan akademik, sehingga memang tidak mempunyai bukti fisik yang dapat diajukan sebagai bukti dalam usulan kenaikan jabatan akademik.

Dosen kelompok ini pada umumnya menganggap mengajar hanya sebagai tugas wajib dan rutin, sehingga mereka menganggap tidak perlu ada perubahan. Dapat diperkirakan, bahwa dosen yang seperti ini tidak akan pernah berubah, baik dalam gaya mengajar, mempersiapkan diri, maupun dalam menyikapi pekerjaannya sebagai pendidik guru. Jarangnya keterlibatan dalam kegiatan akademik mungkin terjadi karena berbagai alasan.

Wawancara informal dengan para dosen yang jarang terlibat dalam kegiatan akademik mengungkapkan adanya beragam alasan, seperti tidak tertarik, merasa puas dengan apa yang sudah dicapai, tidak ada waktu karena ada kegiatan lain, tidak melihat ada manfaatnya. Beragam alasan tersebut mencerminkan absennya kemauan untuk mengembangkan diri. Berbagai Kiat untuk Mengembangkan Kemampuan Profesional Pendidik Guru Sesuai dengan tuntutan Undang-undang Guru dan Dosen, setiap dosen program sarjana (S1) harus memiliki kualifikasi akademik minimal S2 serta wajib melaksanakan tugas utama

PENUTUP

Pengembangan profesionalisme pendidik guru merupakan satu kewajiban yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Siapapun yang mau mempertahankan posisi sebagai pendidik guru harus mau dan mampu mengembangkan profesionalisme secara berkelanjutan. Tanpa pengembangan profesionalisme, pendidik guru tidak mungkin mampu melaksanakan perannya sebagai penentu kualitas pendidikan yang sangat berpengaruh terhadap masa depan bangsa dan negara. Ada empat alasan kuat yang mendorong pendidik guru untuk mengembangkan profesionalisme, yaitu: (1) hakikat pendidik guru sebagai sebuah profesi, (2) perkembangan IPTEKS yang pesat, (3) filosofi belajar sepanjang hayat, dan (4) Undang-undang Nomor 14/2005 tentang Dosen dan Guru. Jika setiap pendidik guru telah menyadari kewajiban untuk mengembangkan profesionalisme, dapat diharapkan ia akan mampu meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar para guru atau calon guru yang menjadi tanggung jawabnya. Guru yang dihasilkan akan mampu meningkatkan proses dan hasil belajar para siswa yang menjadi peserta didiknya. Dengan demikian, dapat diharapkan kualitas pendidikan akan meningkat, sehingga akan membawa dampak positif bagi masa depan bangsa. Namun, perlu disadari bahwa kondisi seperti ini memerlukan upaya yang serius untuk mewujudkannya. Upaya tersebut harus berlangsung secara sinergis, yang melibatkan berbagai pihak yang bertanggung jawab, mulai dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Lembaga Pendidikan Guru, Direktorat Jenderal dan Badan yang berkaitan dengan guru, Dinas Pendidikan di daerah, dan tidak kalah pentingnya adalah sekolah. Upaya yang dilakukan dapat mulai dari kebijakan, penyediaan fasilitas, kesempatan, dan dorongan yang mendukung kebijakan tersebut, di samping pemberian penghargaan bagi yang mau dan mampu berkembang serta pengenaan sanksi bagi pendidik guru yang tidak mau berkembang.. Komponen penilaian yang sangat perlu disosialisasikan adalah waktu penilaian, instrumen penilaian, penilai, dan kriteria keberhasilan.

REFERENSI

Darling-Hammond, L., & Goodwin, A. L. (1993). Progress toward profesionalism in teaching. In

Gordon Cawellti (Editor). Challenges and achievements of American Education. Alexandria:

Association for supervision and curriculum development.

Ditjen Dikti. (2004). Peningkatan kualitas pembelajaran. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan

Tenaga Kependidikan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan

Nasional.

Gay, L. R.; Mills, G. E., & Airasian, P. (2009). Educational research. Columbus: Pearson Edcation,

Inc.

Joni,T. R. (2007). Prospek pendidikan profesional guru di bawah naungan UU No.14 Tahun 2005.

Dipaparkan dalam Rembuk Nasional Revitalisasi Pendidikan Profesional Guru, 17 November

2007, di Universitas Negeri Malang.

Livingston, K.; McCall, J., & Morgado, M. (2009). Teacher educators as researchers. Dalam:

Swennen, A. & van der Klink, M.( Editors). Becoming a teacher educator. Theory and

practice for teacher educators .(hal.191-204). Amsterdam: Springer Science+Business

Media.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar

Kualifikasi dan kompetensi guru. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. (1997). Kamus besar bahasa

Indonesia. Edisi 2, Cetakan ke 9. Jakarta: Balai Pustaka.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta:

Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.

Wardani, I G. A. K, & Julaeha, S. (2011). Encouraging teacher’s profesional development through

open and distance learning. Paper presented at The 24th ICDE World Conference, Nusa

Dua, Bali, 2-5 Oktober 2011.

Wehmeier, S. (Chief Editor). 2005. Oxford advanced learner’s dictionary (7th ed). Oxford: Oxford

University Press.

Wikipedia, the free encyclopedia. (2010). Diambil 29 Desember 2010, dari: http://en.wikipedia.org/

wiki/Profesional_development.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.