PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN MELALUI PENGEMBANGAN SUMBER BELAJAR

0
178

 

 

 Oleh

Elsy Zuryani

Abstrak

Sejalan dengan diberlakukannya otonomi daerah, sistem pendidikan menuntut untuk melakukan perubahan dan penyesuaian sehingga dapat mewujudkan proses pendidikan yang demokrasis, memperhatikan keragaman kebutuhan daerah dan peserta didik. Sementara itu, hingga saat ini pendidikan kita masih dihadapkan pada beberapa permasalahan pokok, antara lain perluasan akses pendidikan, rendahnya kualitas dan daya saing pendidikan. Salah satu alternatif pemecahan masalah pendidikan tersebut, melalui mendayagunakan sumber-sumber belajar yang dirancang, dimanfaatkan, dan dikelola untuk tujuan pembelajaran.

Kata Kunci: Pendidikan, Sumber Belajar

PENDAHULUAN

Berdasarkan Rencana Strategi (Renstra) Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2005-2009 yang menetapkan bahwa bangsa Indonesia harus memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas sehingga setiap warga Negara mampu meningkatkan kualitas hidup, produktivitas, dan daya saing terhadap bangsa lain di era global (Depdiknas, 2005: 1). Oleh karena itu, pendidikan dituntut untuk menyiapkan SDM agar memiliki kemampuan bersaing secara global (Depdiknas, 2005:1). Dengan kata lain, pendidikan bertugas untuk dapat mempersiapkan SDM yang kompeten agar mampu bersaing dalam dunia global.

Selain itu, sejalan dengan diberlakukannya otonomi daerah, sistem pendidikan kita dituntut untuk melakukan perubahan dan penyesuaian sehingga dapat mewujudkan proses pendidikan yang demokrasi, memperhatikan keragaman kebutuhan daerah dan peserta didik. Sementara itu, hingga saat ini, pendidikan kita masih dihadapkan pada beberapa permasalahan pokok, antara lain perluasan akses pendidikan, rendahnya kualitas dan daya saing pendidikan.

Salah satu alternative pemecahan masalah pendidikan tersebut, melalui penerapan teknologi pembelajaran, yaitu dengan mendayagunakann sumber-sumber belajar (learning sources) yang dirancang, dimanfaatkan, dan dikelola untuk tujuan pembelajaran. Dengan demikian, aplikasi praktis teknologi pembelajaran dalam pemecahan masalah belajar mempunyai bentuk konkret dengan adanya sumber belajar yang memfasilitasi peserta didik untuk belajar.

Dalam konteks teknologi pembelajaran, sumber belajar merupakan komponen sistem pembelajaran yang merupakan sumber-sumber belajar yang dirancang terlebih dahulu dalam proses desain atau pemilihan dan pemanfaatan, dan di kombinasikan menjadi sistem pembelajaran yang lengkap untuk mewujudkan terlaksananya proses belajar yang bertujuan dan terkontrol (Miarso, 1986). Teknologi pembelajaran berupaya untuk merancang, mengembangkan, mengorganisasikan dan memanfaatkan aneka sumber belajar sehingga dapat memudahkan atau menfasilitasi seseorang untuk belajar.

Pentingnya sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran tidak bisa kita pungkiri lagi. Akan tetapi, sumber-sumber belajar yang ada di sekolah dan lembaga pendidikan lain selama ini, umumnya belum dikelola dan dimanfaatkan secara maksimal, padahal, berbagai sumber belajar tersebut hanya akan berdaya guna jika sudah dikelolan dan difungsikan secara maksimal dan terorganisasi dalam bentuk Learning Resource Center (LRC) atau Pusat Sumber Belajar (PSB) di setiap sekolah, perguruan tinggi, maupun di lembaga pendidikan lainnya.

Permasalahannya bagaimana mengembangkan PSB?, bagaimana langkah-langkah pengembangan PSB itu?. Dan bagaimana pengembangan PSB sebagai sarana dan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran?. Uraian berikut ini akan membahas pengembangkan PSB secara sistematis (berurutan) dan sistemis (beracuan pada konsep sistem).

PENGERTIAN DAN TUJUAN PUSAT SUMBER BELAJAR

  1. Pengertian Sumber Belajar

Belajar adalah suatu proses yang kompleks dan terjadi pada semua orang serta berlangsung seumur hidup. Konsep belajar sebagai suatu upaya atau proses perubahan perilaku seseorang sebagai akibat interaksi peserta didik dengan berbagai sumber belajar yang ada di sekitarnya. Proses belajar pada hakikatnya terjadi dalam diri peserta didik yang bersangkutan, walaupun prosesnya berlangsung dalam kelompok, bersama orang lain.

Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri peserta didik sesuai dengan perkembangannya dan lingkungnya. Peserta didik seharusnya tidak hanya belajar dari guru atau pendidik saja, tetapi dapat pula belajar dengan berbagai sumber belajat yang tersedia dilingkungannya. Oleh karena itu sumber belajar adalah suatu sistem yang terdiri dari sekumpulan bahan atau situasi yang yang diciptakan dengan sengaja dan dibuat agar memungkinkan peserta didik belajar secara individual.

Pada hakikatnya, alam semesta ini merupakan sumber belajar bagi manusia sepanjang masa. Jadi, konsep sumber belajar memiliki makna yang sangat yang sangat luas, meliputi segala yang ada di jagad raya ini. Menurut Assosiasi Teknologi Komunikasi Pendidikan/AECT, sumber belajar adalah meliputi semua sumber baik berupa data, orang atau benda yang dapat digunakan untuk member fasilitas (kemudahan) belajar bagi peserta didik (Miarso, 2004). Oleh karena itu sumber belajar adalah semua komponen sistem instruksional baik yang secara khusus dirancang maupun yang menurut sifatnya dapat dipakai atau dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran.

Sesungguhnya sumber belajar itu banyak jenisnya. Adapun sumber belajar itu meliputi :

  • Pesan adalah informasi pembelajaran yang akan disampaikan yang dapat berupa ide, fakta, ajaran, nilai, dan data.
  • Orang adalah manusia yang berperan sebagai pencari, penyimpan, pengoleh, dan penyaji data
  • Bahan adalah merupakan perangkat lunak (software) yang mengandung pesan-pesan pembelajaran yang biasanya disajikan melalui peralatan tertentu ataupun oleh dirinya sendiri
  • Alat adalah perangkat keras (hardware) yang digunakan untuk menyajikan pesan yang tersimpan dalam bahan.
  • Teknik adalah prosedur atau langkah-langkah tertentu yang disiapkan dalam menggunakan bahan, alat, limgkungan dan orang untuk menyampaikan pesan.
  • Latar/lingkungan adalah situasi di sekitar terjadinya proses pembelajaran tempat peserta didik menerima pesan pembelajaran.

Dalam memilih sumber belajar ada beberapa kriteria, yaitu: a) harus dapat tersedia dengan cepat; b) harus memungkinkan peserta didik untuk memacu diri sendiri; dan c) harus bersifat individual, dapat memenuhi berbagai kebutuhan peserta didik dalam belajar mandiri (Percival, Fred dan Henry Ellington, 1988).

Sumber belajar meliputi apa saja dan siapa saja yang memungkinkan peserta didik dapat belajar. Setiap sumber belajar harus memuat pesan pembelajaran dan harus ada interaksi timbale balik antara peserta didik dengan sumber belajar tersebut. Sumber belajar dapat juga berarti satu set bahan atau situasi yang sengaja diciptakan untuk menunjang peserta didik belajar (Sukorini, 2007). Dengan demikian, sumber belajar adalah segala sesuatu baik yang sengaja dirancang (by design) maupun yang telah tersedia (by utilization) yang dapat dimanfaatkan baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama untuk membuat atau membantu peserta didik belajar.

Ditinjau dari tipe atau asal-usulnya, sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

  • Sumber belajar yang dirancang (learning resources by design), yaitu sumber belajar yang secara khusus atau sengaja dirancang atau dikembangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
  • Sumber belajar yang sudah tersedia dan tinggal dimanfaatkan (learning resources by utilization), yaitu sumber belajar yang secara tidak khusus dirancang atau dikembangkan untuk keperluan pembelajaran, tetapi dapat dipilih dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.
  • Pengertian Pusat Sumber Belajar (PSB)

PSB disebut pula dengan media center, artinya suatu departemen yang memberikan fasilitas pendidikan, pelatihan, dan pengenalan melalui produksi bahan media seperti slide, transparansi OHP, filmstrip, video, film dan lain-lain. Selain itu juga, pemberian pelayanan penunjang seperti sirkulasi peralatan audiovisual, penyajian program-program video, pembuatan catalog, dan pemanfaatan pelayanan sumber-sumber belajar pada perpustakaan. Definisi mencerminkan fungsi dan isi dari PSB. Suatu PSB terdiri dari bagian-bagian sirkulasi media cetak dan noncetak, bagian produksi dan pelatihan media cetak dan noncetak, bagian produksi dan pelatihan media cetak dan noncetak, dan bagian pengembangan pembelajaran.

Perkembangan PSB mengalami beberapa tahapan, yaitu: tahapan pertama, pemanfaatan dan pengembangan sumber belajar tidak dikelola dan diorganisasi secara formal oleh suatu lembaga, tetapi hanya oleh orang per orang saja. Tahap kedua, dimulai dengan istilah perpustakaan yang mengoleksi sumber belajar berupa bahan cetak. Tahapan ketiga, sesuai perkembangan peranan media audiovisual dalam bidang pendidikan, timbullah perpustakaan yang dilengkapi dengan pelayanan audiovisual. Pada tahapan keempat, perpustakaan semacam ini kemudian dilengkapi dengan ruang belajar nontradisional sehingga timbullah PSB yang terdiri dari perpustakaan, ruang belajar tradisional, dan pelayanan audiovisual. Tahap kelima, di samping PSB terdiri dari perpustakaan, ruang belajar tradisional dan pelayanan audiovisual juga ditambah dengan komponen kegiatan yang sangat penting, yaitu pengembangan sistem pembelajaran. Dengan tahap perkembangan tersebut, PSB memberikan penekanan pada belajar peserta didik, baik sebagai hasil yang dicapai maupun proses yang dilalui untuk mencapai hasil yang optimal.

3. Tujuan Pusat Sumber Belajar

  • Tujuan Umum

PBS bertujuan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi kegiatan dan proses pembelajaran melalui pengembangan sistem instruktursional. Sedangkan misi utama dari PBS adalah pengembangan sistem instruksional yang merupakan sarana utama untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan pembelajaran.

  • Tujuan Khusus

Secara khusus PSB bertujuan untuk:

1). Menyediakan berbagai macam pilihan komunikasi untuk menyokong kegiatan kelas tradisional.

2). Mendorong penggunaan cara-cara belajar baru yang paling cocok untuk mencapai tujuan program akademis dan kewajiban-kewajiban institusional lainnya.

3) Memberikan layanan dalam perencanaan, produksi, operasional, dan tindakan lanjutan untuk mengembangkan sistem instruksional dan integrasi teknologi dalam proses pembelajaran.

4). Melaksanakan latihan kepada instruktur/staf tenaga pendidik mengenai pengembangan sistem instruksional dan integrasi teknologi dalam proses pembelajaran

5) Memajukan penelitian yang perlu tentang pengguna media pendidikan

6). Menyebarkan informasi yang akan membantu memajukan penggunaan berbagai macam sumber belajar dengan lebih efektif dan efisien.

7). Menyediakan layanan produksi bahan belajar

8). Memberikan konsultasi untuk modifikasi dan desian fasilitas.

9). Membantu mengembangkan standar penggunaan sumber-sumber belajar

19). Menyediakan layanan pemeliharaan atas berbagai macam peralatan media

20). Membantu dalam pemilihan dan pengadaan bahan-bahan media kelas dan peralatannya.

21). Menyediakan pelayanan penilaian untuk membantu menentukan efektifitas berbagai cara pembelajaran.

PENGEMBANGAN PUSAT SUMBER BELAJAR

  1. Fungsi Pusat Sumber Belajar
  2. Fungsi pengembangan sistem instruksional
  3. Fungsi pelayanan media
  4. Fungsi produksi
  5. Fungsi administrasi
  6. Fungsi pelatihan
  7. Langkah-langkah pengembangan PSB

Menurut Mayer pengembangan PSB berdasarkan pada empat hal, yaitu: 1) berorientasi kepada peserta didik yang belajar atau fungsi untuk memberikan pelayanan kepada peserta didik; 2) desentralisasi, berarti penempatan bahan-bahan yang berbentuk media perangkat lunak dank eras tersebut disebarkan dimana saja sepanjang proses belajar dapat dilayani, seperti pusat-pusat belajar, di dalam kelas, atau digunakan secara perorangan di rumah; 3) bahan-bahan belajar diproduksi dan dipelihara secara local; dan 4) program media dikembangkan secara terintegrasi dalam proses instruksional (Zuhairi & Suparman, 2004). Sedangkan prinsip pengembangannya, yaitu dapat mencapai tujuan pembelajaran, sesuai dengan karakteristik peserta didik, dan memberikan kemudahan bagi peserta didik dalam belajar.

Strategi pengembangan PSB dilaksanakan secara bertahap:

  1. Melakukan analisis kebutuhan dan studi kelayakan PSB di satuan pendidikan
  2. Mengembangkan sarana fisik PSB berdasarkan fungsi-fungsi yang akan dikembangkan
  3. Mengembangkan program-program PSB yang berorientasi pada pencapaian tujuan, social dan benefit
  4. Mengimplementasikan PSB sebagai sistem penunjang dalam pencapaian tujuan/kompetensi pembelajaran dan peningkatan kualitas pembelajaran
  5. Mengelola PSB sebagai sistem penunjang dalam pencapaian tujuan/kompetensi pembelajaran dan peningkanan kualitas pembelajaran

MANFAAT PENGEMBANGAN PSB

Pengembangan PSB bermanfaat untuk: a) memperluas dan meningkatkan kesempatan belajar; b) melayani kebutuhan perkembangan informasi bagi masyarakat; c) mengembangkan kreativitas dan produktivitas tenaga pendidik dan kependidikan; e) meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran, baik secara individu maupun kelompok; f) menyediakan berbagai macam pilihan komunikasi untuk menunjang kegiatan kelas tradisional; g) mendorong cara-cara belajar baru yang paling cocok untuk mencapai tujuan pembelajaran; h) memberikan pelayanan dalam perencanaan, produksi, operasional, dan tindak lanjut untuk pengembangan sistem pembelajaran.

PENGEMBANGAN PSB UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN

Kualitas diartikan sebagai kesesuaian dengan stanadar tertentu, kesesuaian dengan kebutuhan tertentu, kesepadanan dengan karakteristik dan kondisi tertentu, keselarasan dengan tuntutan zaman, ketersedian pada saat yang diperlukan keterandalan dalam berbagai kondisi, daya tarik yang tinggi dan sebagainya (Miarso, 2004).

Sedangkan pembelajaran adalah suatu usaha yang disengaja, bertujuan, dan terkendali agar peserta didik belajar atau terjadi perubahan perilaku yang relative menetap pada diri peserta didik (Miarso, 2004). Usaha ini dapat dilakukan oleh seseorang atau tim yang memiliki kemampuan dan kompetensi dalam merancang dan atau mengembangkan sumber belajar yang diperlukan. Pembelajaran tidak harus diberikan oleh pendiidk karena kegiatan itu dapat dilakukan oleh perancang dan pengembang sumber belajar,misalnya seorang teknologi pembelajarn atau suatu tim yang terdiri dari ahli media dan ahli materi/isi pelajaran tertentu.

Pembelajaran adalah usaha membuat peserta didik belajar. Dengan kata lain, pembelajaran merupakan upaya menciptakan kondisi agar terjadi kegiatan belajar. Dalam UU Mo. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal1 ayat 20, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (Depdiknas, 2005). Oleh karena itu, perlu didukung beranekaragam sumber belajar dan diciptakan suasana atau lingkungan belajara yang kaya dan merangsang bagi peserta didik agar terjadi kegiatan belajar berkualitas

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta diidk, dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar (BSNP, 2006). Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik (student center). Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.

Menurut Pasal 19, Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perekmebangan fisik serta psikologis peserta didik. Untuk mewujudkan strategi pembelajaran tersebut perlu dukungan sumber belajar fasilitas pembelajaran yang memadai.

Oleh karena itu, perlu diciptakan proses pembelajaran yang menantang dan merangsang otak (kognitif), menyentuh dan menggerakkan perasaan (afektif), dan mendorong peserta didik untuk melkukan kegiatan (motorik) serta bila memungkinkan peserta didik mempraktikkan pengetahuan dan keterampilan dalam suasana konkret (Soedijarto, 2000). Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dan memanfaatkan berbagai sumber belajara dan member kesempatan kepada para peserta didik untuk tidak saja menerima (reseptif) dan mengungkapkan (ekspresif), tetapi juga menerapkan apa-apa yang dipelajarainya (aplikatif).

Satuan pendidikan dapat mengembangkan empat pilar pendidikan yang dicanangkan oleh UNESCO baik untuk sekarang dan masa depan, yaitu: (1) learning to know (belajar untuk mengetahui); (2) learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) dalam hal ini kita dituntut untuk terampil dalam melakukan sesuatu; (3) learning to be (belajar untuk jadi seseorang); dan (4) learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama) (Soedijarto, 2000). Namun perlu diingat untuk mewujudkan pola pembelajaran ini perlu diingat untuk mewujudkan pola pembelajaran ini perlu dukungan sumber belajar yang memadai, fasilitas pembelajaran peningkatan profesionalisme guru, sistem evaluasi dan suasana sekolah yang demokratis.

Menurut Bobbi DePorter & Mike Hermacki (1992) emosi positif dapat meningkatkan kekuatan otak, keberhasilan dan kehormatan diri. Misalnya perasaan senang dan gembira dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Sebaliknya, perasanaan negative seperti tertekan dan amarah dapat memperlamabat atau bahkan menghentikan kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, peran dan fungsi kelas sebagai latar/setting perlu dioptimalkan untuk mewujudkan, pengelolaan kelas yang kondusif. Dengan cara menumbuhkan kesadaran dirinya (self awareness), maka motivasi instriksi sebagai energy belajar peserta didik yang sangat dahsyat akan tumbuh dan berkembang secara efektif. Kalau peserta didik belajar dengan dasar motivasi internal yang kuat maka prestasi belajar akan dengan mudah diraih. Pada gilirannya, dapat meningkatakan kualitas pendidikan secara keseluruhan.

Kelas sebagai komunitas sekolah terkecil dapat memengaruhi suasana kelasnya dalam berinteraksi dan kegiatan pembelajaran yang pada gilirannya dapat berpengaruh terhadap suasana dan prestasi belajarnya. Suasana kelas yang kondusif akan mampu mengantarkan pada prestasi akademik dan non akademik peserta didik, maupun kelasnya secara keseluruhan. Kelas yang kondusif di antaranya memiliki cirri-ciri; tenang, dinamis, tertib, suasana saling menghargai, saling mendorong, kreativitas tinggi, persaudaraan yang kuat, saling berinteraksi dengan baik, dan bersaing sehat untuk kemajuan. Artinya kelas dapat diciptakan dan berperan sebagai sumber belajar.

Berdasarkan pengamatan di lapangan bahwa 90% keberhasilan pembelajaran adalah disebabkan oleh adanya suasana psikologis yang menyenangkan. Suasana psikologis tersebut dapat diciptakan, dibentuk, dan dikondisikan. Selain itu, perlu didukung dengan berbagai sumber belajar sehingga memudahkan peserta didik untuk belajar. Berdasarkan penelitian para ahli, otak kita dapat dengan optimal daya serapnya jika secara psikologis dalam keadaan senang sehingga klep yang ada di otak terbuka. Dalam kondisi tersebut otak dapat bekerja dengan sangat baik.

Peningkatan kualitas pembelajaran dapat dilakukan dengan pengembangan fungsi emosi otak. Misalnya guru melibatkan secara aktif peserta didik dalam proses pembelajaran sehingga terjalin simpati dan saling pengertian. Selain itu, ciptakan kelas yang hidup, dinamis, kreatif dan penuh tawa. Rancanglah ruang kelas ,emjadi lingkungan yang dapat mempertahankan sikap positif terhadap belajar (Isjoni, 2005: 55). Dengan demikian, pengembangan PSB ini merupakan sarana peningkatkan kualitas pembelajaran yang berbasis kelas. Maksudnya berupaya untuk lebih memberdayakan peserta didik, tidak hanya dipandang sebagai objek dalam pembelajaran, tetapi sebagai subjek yang memiliki kesadaran, harapan, keinginan, visi masa depan.

Media pembelajaran merupakan salah satu unsur dari sumber belajar yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Media pembelajaran merupakan perpaduan antara bahan dan alat atau perpaduan antara bahan dan alat atau perpaduan antara bahan dan alat atau perpaduan antara software dan hardware. Berbagai media pembelajaran ini telah dikelola dan difungsikan secara maksimal dan terorganisasi didalam PSB. Oleh karena itu, guru perlu memanfaatkan PSB untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Media pembelajaran dapat berfungsi sebagai sumber belajar, sehingga dimungkinkan terjadinya proses pembelajaran secara mandiri oleh peserta didik dengan bantuan seminimal mungkin dari orang lain. Peran tersebut akan bisa dijalani dengan baik karena media pembelajaran mempunyai nilai-nilai praktis berupa kemampuan untuk: 1) membuat konsep yang abstrak menjadi konkret; 2) melampaui batas indra, waktu, dan ruang; 3) menghasilkan keseragaman pengamtan; 4) member kesempatan peserta didik mengontrol arah maupun kecepatan belajarnya; 5) membangkitkan keingintahuan dan motivasi belajar; dan 6) dapat memberikan pengalaman belajar yang menyeluruh dari yang abstrak hingga yang konkret.

Dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran, guru perlu memanfaatkan PSB secara efektif dalam pengembangan instruksional, maka guru perlu memiliki hal-hal berikut; a) menguasai dan memahami kompetensi dasar dan hubungan dengan kompetensi lain dengan baik; b) menyukai apa yang diajarkan dan menyukai membelajarkan sebagai suatu profesi; c) memahami peserta didik, pengalaman, kemampuan dan prestasinya; d) menggunakan metode yang bervariasi dalam proses pembelajaran dan membentuk kompetensi peserta didik; e) mengeliminasi bahan-bahan yang kurang penting dan kurang berarti dalam kaitannya dengan pembentukan kompetensi; f) mengikuti perkembangan pengetahuan mutakhir; g) menyiapkan proses pembelajaran; h) mendorong peserta didik untuk memperoleh hasil yang lebih baik; i) menghubungkan pengalaman yang lalu dengan kompetensi yang akan dikembangkan.

Peningkatan kualitas pembelajaran dimaksudkan agar tercapai keungulan dalam proses pembelajaran. Suatu pembelajaran yang unggul adalah pembelajaran yang mengutamakan hasil dan memberikan peluang yang tinggi bagi guru dan peserta didik untuk aktif, inovatif, dan pemanfaatan sumber belajar yang banyak dan bagus.

Akhirnya, media dan bahan belajar sebagai bagian dari sumber belajar, media harus dipilih (diseleksi) dan dikembangkan secara maksimal untuk membantu peserta didik mencapai tujuan belajarnya. Alangkah minimnya pengalaman belajar peserta didik, bila mereka hanya memperoleh informasi dari sumber belajar yang terbatas. Guru memang salah satu sumber belajar bagi peserta didiknya, tetapi bukan satu-satunya. Masih banyak sumber belajar lain yang dapat dimanfaatkan untuk membuat peserta didik belajar. Peran penting guru adalah mengupayakan agar peserta didik dapat berinteraksi dengan sebanyak mungkin sumber belajar. Oleh karena itu, pemanfaatan berbagai sumber belajar semaksimal dan sebervariasi mungkin (utilizing learning resources) merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

KESIMPULAN

Konsep belajar sebagai suatu upaya atau proses perubahan perilaku seseorang sebagai akibat interaksi peserta didik dengan berbagai sumber belajar yang ada di sekitarnya.

Peningkatan kualitas pembelajaran dimaksudkan agar tercapai keunggulan dalam proses pembelajaran. Suatu pembelajarn yang unggulan adalah pembelajaran yang mengutamakan hasil dan memberikan peluang yang tinggi bagi guru dan peserta diidk untuk aktif, inovatif, dan pemanfaatan sumber belajar yang banyak dan bagus.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta:BSNP

Depdiknas. 2005. Peraturan Pemerintah RI No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta

DePorter, Bobbi, & Mike Hermacki.1992. Quantum Learning, Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Terj. Alwiyah Abdurrahman. Bandung:Kaifa.

Miarso, Yusuf Hadi. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Prenada Media

Parcival, Fred dan Henry Ellington. 1988. Teknologi Pendidikan. Terjemahan Soedjarwo S. Jakarta:Erlangga

Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2015 tentang Standar Nasional

Soedijarto. 2000. Pendidikan Nasional, sebagai Wahana Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan Membangun Peradaban Negara-Bangsa, Sebuah Usaha Memahami Makna UUD 1945. Jakarta: CINAPS

Sukorini, Dewi. Pengelolaan Pusat Sumber Belajar pada Pusdiklat SDM Kesehatan, Departemen Kesehatan RI. Jakarta: Jurnal Teknodik, No. 21/XI/Teknodik/Agustus/2007

 Zulhairi, Amin dan Atwi Suparman. “Khasannah Inovasi, Difusi Inovasi, dan Implikasi Inovasi Terhadap Kualitas Pembelajaran”. Jurnal Pendidikan, Vol.5, No.1, Tanggal 11-21 Maret 2004

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.