Penilaian Dan Hasil Asesmen Pendidikan Dalam Bidang Bimbingan Dan Konseling

0
20

Oleh : Dra. Nelly Nurmelly, MM

Widyaiswara Muda Balai Diklat Keagamaan  Palembang

 

 Abstrak :

 

Penilaian adalah kata asli bahasa Indonesia untuk evaluasi, yang kata kerjanya menilai. Kata  penilaian akrab dikenal dalam dunia pendidikan, karena terkait dengan melakukan posisi presasi siswa dengan cara memberikan nilai tertentu. Selain itu masih ada lagi satu istilah yang berkaitan dengan evaluasi , yaitu pengukuran. Selain beberapa istilah yang sudah dikemukakan dalam evaluasi, masih ada lagi satu istilah yang mirip artinya dengan evaluasi, dan dikenal secara lebih luas yaitu Assesmen yang artinya evaluasi. Kegiatan ini dilakukan oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1968 untuk menentukan bagaimana keadaan pendidikan( termasuk bidang Bimbingan dan Konseling ) di Indonesia. Kegiatan ini dipandang sangat penting artinya bagi dunia pendidikan di Indonesia , karena dari hasil asesmen itulah pemerintah Indonesia menentukan langkah perbaikan dengan langkah pemecahan terhadap permasalahan yang ditemukan.

Asesmen atau penilaian secara luas tersebut dilakukan melalui pentahapan yang rapi, mulai dari penentuan objek yang akan dinilai , menentukan personil yang tepat dengan objek yang akan dinilai, mengumpulkan semua personil untuk dilatih cara dan prosedur pengumpulan data, pengaturan tempat dan waktu penilaian, pengaturan jadwal berkumpul dan berdiskusi, serta bagaimana proses pengolahan data, sampai pada prosedur penyusunan laporan penilaian. Asesmen merupakan salah satu bagian terpenting dalam seluruh kegiatan yang ada dalam konseling (baik konseling kelompok maupun konseling individual). Karena itulah maka asesmen dalam bimbingan dan konseling merupakan bagian yang terintegral dengan proses terapi maupun semua kegiatan bimbingan/konseling itu sendiri. Asesmen dilakukan untuk menggali dinamika dan faktor penentu yang mendasari munculnya masalah. Hal ini sesuai dengan tujuan asesmen dalam bimbingan dan konseling

 

Kata Kunci  :  Penilaian, Asesmen, Pendidikan,

   

A. Pengertian Asesmen

Asesmen merupakan cara salah satu kegiatan pengukuran. Dalam konteks bimbingan konseling, asesmen yaitu mengukur suatu proses konseling yang harus dilakukan konselor sebelum, selama, dan setelah konseling tersebut dilaksanakan/berlangsung.  Asesmen merupakan salah satu bagian terpenting dalam seluruh kegiatan yang ada dalam konseling (baik konseling kelompok maupun konseling individual). Karena itulah maka asesmen dalam bimbingan dan konseling merupakan bagian yang terintegral dengan proses terapi maupun semua kegiatan bimbingan/konseling itu sendiri. Asesmen dilakukan untuk menggali dinamika dan faktor penentu yang mendasari munculnya masalah. Hal ini sesuai dengan tujuan asesmen dalam bimbingan dan konseling, yaitu mengumpulkan informasi yang memungkinkan bagi konselor untuk menentukan masalah dan memahami latar belakang serta situasi yang ada pada masalah klien. Asesmen yang dilakukan sebelum, selama dan setelah konseling berlangsung dapat memberi informasi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi konseli. Dalam prakteknya, asesmen dapat digunakan sebagai alat untuk menilai keberhasilan sebuah konseling, namun juga dapat digunakan sebagai sebuah terapi untuk menyelesaikan masalah konseli.

Asesmen merupakan kegiatan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan/kompetensi yang dimiliki oleh konselor dalam memecahkan masalah. Asesmen yang dikembangkan adalah asesmen yang baku dan meliputi beberapa aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor dalam kompetensi dengan menggunakan indikator-indikator yang ditetapkan dan dikembangkan oleh guru BK/konselor sekolah. Asesmen yang diberikan kepada konseli merupakan pengembangan dari area kompetensi dasar pada diri konseli yang akan dinilai, yang kemudian akan dijabarkan dalam bentuk indikator-indikator. Pada umumnya asesmen bimbingan konseling dapat dilakukan dalam bentuk laporan diri, performance test ,tes psikologis, observasi, wawancara, dan sebagainya. Dalam pelaksanaannya, asesmen merupakan hal yang penting dan harus dilakukan dengan berhati-hati sesuai dengan kaidahnya. Kesalahan dalam mengidentifikasi masalah karena asesmen yang tidak memadai akan menyebabkan tritmen gagal; atau bahkan dapat memicu munculnya konsekuensi dari tritmen yang merugikan diri konseli. Meskipun menjadi dasar dalam melakukan tritmen pada konseli, tidak berarti konselor harus menilai (toassess) semua latar belakang dan situasi yang dihadapi klien pada saat itu jika tidak perlu. Kadangkala konselor menemukan bahwa ternyata “hidup” konseli sangat menarik. Namun demikian tidaklah efisien dan tidak etis untuk menggali semuanya selama hal tersebut tidak relevan dengan tritmen yang diberikan untuk mengatasi masalah konseli. Karena itu, setiap guru pembimbing/konselor perlu berpegang pada pedoman pertanyaan sebelum melakukan asesmen; yaitu “Apa saja yang perlu kuketahui mengenai klien?”. Hal itu berkaitan dengan apa saja yang relevan untuk mengembangkan intervensi atau tritmen yang efektif, efisien, dan berlangsung lama bagi konseli.

B. Fungsi Asesmen

Hood & Johnson (1993) menjelaskan ada beberapa fungsi asesmen, diantaranya adalah untuk:

1. menstimulasi konseli maupun konselor mengenai berbagai isu permasalahan

2. menjelaskan masalah yang senyatanya

3. memberi alternatif solusi untuk masalah

4. menyediakan metode untuk dengan memperbandingkan alternatif sehingga dapat

diambil keputusan

5. memungkinkan evaluasi efektivitas konseling

Selain itu, asesmen juga diperlukan untuk memperoleh informasi yang membedakan antara apa ini ( what is) dengan apa yang diinginkan (what is desired ) sesuai dengan kebutuhan dan hasil konseling. Asesmen memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan perencanaan dan pelaksanaan model-model pendekatan konseling. Jika kedua komponen tersebut didesain dengan pendekatan “client centered” atau “bottom up”,

asesmen akan mengarah pada inovasi. Hal ini memiliki makna bahwa asesmen tidak hanya berorientasi pada hasil/produk akhir, tetapi justru akan lebih terfokus pada proses konseling, yaitu mulai dari membuka konseling sampai dengan mengakhiri konseling; atau setidak-tidaknya akan ada keseimbangan antara proses konseling dengan hasil konseling. Dengan demikian asesmen akan benar-benar bisa memenuhi kriteria objektivitas dan keadilan, sehingga keputusan yang akan diambil oleh konseli dapat benar-benar sesuai dengan kemampuan diri konseli itu sendiri. Asesmen yang tidak dilakukan secara objektif, akan berpengaruh pada pelayanan konseling oleh konselor sekolah/ guru bimbingan konseling. Hal ini akan berakibat tidak baik pada diri konseli, bahkan terhadap konselor itu sendiri untuk jangka panjang maupun jangka pendek.Asesmen dalam bimbingan dan konseling adalah asesmen yang berbasis individu dan berkelanjutan. Semua indikator bukan diukur dengan soal seperti dalam pembelajaran, tetapi diukur secara kualitatif, kemudian hasilnya dianalisis untuk mengetahui kemampuan konseli dalam mengambil keputusan pada akhir konseling, dalam melaksanakan keputusan setelah konseling, serta melihat kendala/masalah yang dihadapi konseli dalam proses konseling maupun kendala dalam melaksanakan keputusan yang telah ditetapkannya.

C. Ruang lingkup dalam asesmen (assesment need areas) dalam bimbingan dan

    konseling

1.Systems assessment,

yaitu asesmen yang dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai status dari suatu sistem, yang membedakan antara apa ini (what is it ) dengan apa yang diinginkan (what is desired ) sesuai dengan kebutuhan dan hasil konseling; serta tujuan yang sudah dituliskan/ditetapkan atau outcome yang diharapkan dalam konseling.

2.Program planning

, yaitu perencanaan program untuk memperoleh informasi-informasi yang dapat

digunakan untuk membuat keputusan dan untuk menyeleksi bagian- bagian program yang efektif dalam pertemuan-pertemuan antara konselor dengan konselee; untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan khusus pada tahap pertama. Di sinilah muncul fungsi evaluator dalam asesmen, yang memberikan informasi-informasi nyata yang potensial. Hal inilah yang kemudian membuat asesmen menjadi efektif, yang dapat membuat konselee mampu membedakan latihan yang dilakukan pada saat konseling dan penerapannya dikehidupannyata dimana konseli harus membuat suatu keputusan, atau memilih alternatif-altenatif yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalahnya.

3.Program Implementation

, yaitu bagaimana asesmen dilakukan untuk menilai pelaksanaan program dengan memberikan informasi-informasi nyata; yang menjadikan program-program tersebut dapat dinilai apakah sesuai dengan pedoman.

4. Program Improvement,

dimana asesmen dapat digunakan dalam dalam perbaikan program, yaitu yang berkenaan dengan:

(a) evaluasi terhadap informasi-informasi yang nyata,

(b) tujuan yang akan dicapai dalam program,

(c) program-progam yang berhasil, dan

(d) informasi-informasi yang mempengaruhi proses pelaksanaan program-program

yang lain.

5. Program certification, yang merupakan akhir kegiatan. Menurut Center for the Study

of Evaluation (CSE), program sertifikasi adalah suatu evaluasi sumatif, hal ini memberikan makna bahwa pada akhir kegiatan akan dilakukan evaluasi akhir sebagai dasar untuk memberikan sertifikasi kepada konseli. Dalam hal ini evaluator berfungsi pemberi informasi mengenai hasil evaluasi yang akan digunakan sebagai dasar untuk mengambil keputusan.

D. Tujuan Asesmen

Hood & Johnson (1993) menjelaskan bahwa asesmen dalam bimbingan dan konseling mempunyai beberapa tujuan, yaitu:

1.Orientasi masalah, yaitu untuk membuat konseli mengenali dan menerima permasalahan yang dihadapinya, tidak mengingkari bahwa ia bermasalah

2.Identifikasi masalah, yaitu membantu baik bagi konseli maupun konselor dalam mengetahui masalah yang dihadapi konseli secara mendetil

3 Memilih alternatif solusi dari berbagai alternatif penyelesaian masalah yang dapat dilakukan oleh konseli

4.Pembuatan keputusan alternatif pemecahan masalah yang paling menguntungkan dengan memperhatikan konsekuensi paling kecil dari beberapa alternatif tersebut

5.Verifikasi untuk menilai apakah konseling telah berjalan efektif dan telah mengurangi beban masalah konseli atau belum. Selain itu, asesmen digunakan pula untuk menentukan variabel pengontrol dalam permasalahan yang dihadapi konseli, untuk memilih/mengembangkan intervensi terhadap area yang bermasalah, atau dengan kata lain menjadi dasar untuk mendesain dan mengelola terapi, untuk membantu mengevaluasi intervensi, serta untuk menyediakan informasi yang relevan untuk pertanyaan-pertanyaan yang muncul untuk setiap fase konseling.Pada asesmen berbasis individu, asesmen dipakai untuk mengumpulkan informasi asli atau autentik mengenai konseli sehingga diperoleh informasi menyeluruh tentang diri konseli secara utuh, dan untuk memberikan penilaian yang objektif. Selain itu, secara terperinci asesmen berbasis individu bertujuan untuk:

1.Mengembangkan cara konseli merespon (verbal dan/atau non verbal) pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh guru BK.

2.Melatih konseli untuk berpikir dalam upaya pemecahan masalah

3.Membentuk kemandirian konseli dalam berbagai masalah atau membentuk individu menjad mandiri.

4.Melatih konseli mengemukakan apa yang dipikirkan dan apa yang dirasakan. melalui proses konseling.

5.Membentuk individu yang terbuka dalam berbagai hal, termasuk membuka diri dalam konseling

6.Membina kerjasama yang baik dalam memecahkan masalah yang dihadapi.

7.Membelajarkan konseli untuk menilai terhadap cara melaksanakan keputusannya secara konsekuen. Asesmen berbasis individu akan mengukur seluruh kemampuan konseli, baik keterampilan personal( personal skills), keterampilan social ( social skills)

,keterampilan memecahkan masalah ( problem solving skills) , dan keterampilan memilih alternative ( Choice alternative skills). Jika hal ini dilakukan maka asesmen akan dapat:

(a) membantu sekolah dan guru dalam melaksanakan pembelajaran karena konseli sebagai siswa dapat

berkonsentrasi dalam mengikuti pembelajaran,

(b) memudahkan guru dalam pembelajaran di kelas karena siswa tidak banyak masalah,

(c) memudahkan guru bimbingan dan konseling dalam melaksanakan tugas bimbingan dan konseling khususnya dalam konseling,

(d) membantu kepala sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah,

(e) mendorong konseli untuk memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling dalam berbagai hal (seperti mendapatkan informasi studi, pekerjaan, dan memecahkan masalah (masalah pribadi, sosial, belajar, dan karir), dan

(f) menyajikan informasi berkesinambungan tentang kegiatan kegiatan layanan bimbingan dan konseling. Dalam tiap fase konseling, asesmen (menurut Hood & Johnson, 1993) mempunyai tujuan yang bisa jadi berbeda-beda. Hal ini terlihat dalam tabel berikut ini:

Fase tritmen Pertanyaan yang ditujukan bagi asesmen
Skrining awal •Apakah konseli tepat untuk layanan ini?

•Jika tidak tepat, dirujuk kemana?

Identifikasi dan

analisis

masalah

 

Apa masalah konseli ?

•Apakah masalah konseli mengundang masalah tritmen?

•Faktor apa yang membuat masalah konseli terus berlangsung?

Seleksi tritmen •Alternatif tritmen apa yang membuat konseli nyaman?

•Alternatif tritmen apa yang membuat lingkungan konseli nyaman?

•Alternatift ritmenapa yang membuat terapis nyaman?

•Tritmen mana yang optimum dalam menyelesaikan masalah konseli?

Evaluasi tritmen Apakah evaluasi tritmen dapat dipercaya?

•Perubahan apa yang terjadi pada masalah dan perilaku?

•Apakah perubahan terjadi karena tritmen?

•Biaya apa yang harus dikeluarkan untuk tritmen?

•Apakah tritmen harus dihentikan atau dilanjutkan

Apapun bentuk dan jenis asesmen yang dilakukan, hal ini tetap menuntut suatu perencanaan, termasuk pada saat melakukan analisis. Dengan demikian maka akan diperoleh alat ukur atau instrumen yang benar-benar dapat diandalkan (valid) dan dapat dipercaya (reliabel) dalam mengukur apa yang seharusnya diukur.  keberhasilan suatu asesmen, misalnya mempersiapkan instrumen, tempat, dan peralatan lain yang diperlukan dalam pelaksanaan asesmen. Apalagi jika pelaksana asesmen tersebut bukan guru BK itu sendiri, misalnya karena instrumen yang digunakan untuk asesmen adalah tes psikologis (tes intelegensi inventori kepribadian, tes minat jabatan, dan sebagainya). Dalam hal ini apabila guru BK tidak memiliki kewenangan, maka guru BK dapat minta bantuan orang yang memiliki kewenangan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

A. Halen, 2005, Bimbingan dan Konseling , Jakarta : Quantum Teaching

Jamal Ma’mur Asmani, 2010, Panduan Efektif Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Yogyakarta: DIVA Press

Mohammad Surya, 2003, Psikologi Konseling, Bandung: Maestro

Sugiyono, 2010, Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan  R&D, Bandung, Penerbit Alfa Beta

Suharsimi Arikunto & Lia Yuliana, 2009,Manajemen Pendidikan, Cetakan kedua, Yogyakarta: aditya Media

Sukardi & Dewa Ketut, 2008, 2008, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Jakarta : PT. Rineka cipta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.