PENGEMBANGAN PROFESI PENDIDIK UNTUK PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

0
39

PENGEMBANGAN PROFESI PENDIDIK UNTUK PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

 Oleh: Rudi Hermawan

 ABSTRAK

            Pengembangan profesi pendidik dalam upaya peningkatan kompetensinya sangat perlu dilakukan. Penyandang profesi pendidik pada umumnya, terutama profesi pendidik dalam bidang matematika pada khususnya untuk turut menyikapi perkembangan dunia pendidikan yang ada disekitarnya dengan melakukan pengembangan profesinya, baik melalui pengembangan diri maupun melalui pengembangan secara melembaga. Pengembangan Profesi yang dimaksud dalam hal ini dikaitkan dengan keinginan pemerintah yang tertuang dalam UU RI no. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional.

kata kunci: Pengembangan, Profesi, Pendidik

Pendahuluan

Pendidik dalam arti luas adalah semua orang yang berkewajiban membina anak-anak. Secara alamiah semua anak, sebelum mereka dewasa menerima pembinaan dari orang dewasa agar mereka dapat berkembang dan tumbuh secara wajar. Dalam arti sempit pandidik adalah orang-orang yang disiapkan dengan sengaja untuk menjadi guru dan dosen. Kedua jenis pendidik ini diberi pelajaran tentang pendidikan dalam waktu relative lama agar mereka menguasai ilmu itu dan terampil melaksanakannya di lapangan.

Guru dalam arti pendidik, seperti tertuang dalam Undang-Undang RI no. 20 tahun 2003 adalah  merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses  pembelajaran. Selain itu mereka juga bertugas untuk menilai hasil pembelajaran serta melalukan pembimbingan dan pelatihan. Dalam saat tertentu, di mana diperlakukan juga diberi kesempatan untuk mengadakan penelitian dan pengabdian bagi masyarakat.

Dalam Undang-Undang R I No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen  Bab I Pasal 1  ayat 1 dan 2 dikatakan bahwa Guru dan Dosen adalah pendidik professional. Guru yang mempunyai kedudukan sebagai tenaga professional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah sedangkan dosen mempunyai kedudukan sebagai tenaga professional pada jenjang pendidikan tinggi. Pengakuan kedudukan guru maupun dosen perlu dibuktikan dengan sertifikat pendidikan.

Sebelum terealisasinya suatu pengakuan kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional yaitu suatu penghargaan berupa tunjangan profesi seperti yang dijanjikan dalam UU RI No. 14 tahun 2005  Bab IV pasal 16 dan Bab V pasal 53, ada baik nya kita kembali kepada tujuan dari  kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional , seperti yang dikehendaki dalam UU RI N0. 14 tahun 2005 tersebut.

Bab II pasal 6 UU RI N0. 14 tahun 2005, mengatakan bahwa kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga professional bertujuan melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional , yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia , sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri serta menjadi  warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Jika kita renungkan  begitu besar tanggung jawab yang harus diemban oleh seorang guru dan dosen demi kemajuan pendidikan di Indonesia. Apakah para pendidik kita sudah mengembangkan kompetensi dalam upaya meningkatkan profesinya? Untuk itu perlu kiranya penyandang profesi pendidik memperhatikan apa yang terjadi diseputar pendidikan, misalnya ciri-ciri praktek pendidikan di Indonesia , sehingga dapat mengambil langkah apa yang harus di lakukan agar tujuan pendidikan yang diiginkan tercapai .

Paradigma Pendidikan

Beberapa hal yang menjadi ciri praktik pendidikan di Indonesia selama inii adalah pembelajaran berpusat pada guru atau dosen. Guru / dosen menyampaikan pelajaran dengan menggunakan metode ceramah atau ekspositori, sementara siswa /mahasiswa mencatatnya pada buku catatan.Dalam proses pembelajaran yang demikian, guru/ dosen dianggap berhasil apabila dapat mengelola kelas sedemikian rupa sehingga peserta didik tertib dan tenang mengikuti pelajaran yang disampaikan guru/dosen. Pengajaran dianggap sebagai proses penyampaian fakta-fakta kepada peserta didik. Peserta didik dianggap berhasil dalam belajar apabila mampu mengingat banyak fakta, dan mampu menyampaikannya kembali fakta-fakta tersebut kepada orang lain, atau menggunakannya untuk menjawab soal-soal dalam ujian. Guru/dosen sendiri merasa belum mengajar kalau tidak menjelaskan materi pelajaran kepada peserta didik. Guru/dosen  yang baik adalah guru/dosen yang menguasai bahan , dan selama proses belajar mengajar mampu menyampaikan materi tanpa melihat buku catatan maupun buku pelajaran.

Perlu kita sadari bahwa praktik  pendidikan yang selama ini membudaya di sekolah/ lembaga pendidikan lainnya ternyata sangat jauh dari hakikat pendidikan yang sesungguhnya, yaitu pendidikan yang menjadikan siswa/mahasiswa sebagai manusia yang memiliki kemampuan belajar untuk mengembangkan potensi dirinya dan  mengembangkan pengetahuan lebih lanjut untuk kepentingan dirinya. Menurut Zamrohi (dalam Sutartohadi ,2005: 12) praktik pendidikan yang demikian mengisolir diri dari lingkungan sekitar dan dunia kerja, serta tidak mampu menjadikan siswa/mahasiswa sebagai manusia yang utuh dan berkepribadian.

Penekanan pada peserta didik sebagai manusia yang memiliki potensi untuk belajar dan berkembang.Siswa/mahasiswa harus aktif dalam pencarian dan pengembangan pengetahuan. Kebenaran ilmu tidak terbatas pada apa yang disampaikan oleh guru/dosen. Guru/dosen harus mengubah perannya, tidak lagi sebagai pemegang otoritas tertinggi keilmuan , tetapi menjadi fasilitator yang membimbing peserta didik ke arah pembentukan pengetahuan oleh diri mereka sendiri, semua keadaan itu  merupakan bagian dari paradigma baru pendidikan di Indonesia saat ini. Bertitik tolak dari paradigma tersebut maka perlu adanya pengembangan profesi pendidik (guru/dosen) untuk mendukung terlaksananya pendidikan yang sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional seperti yang tercantum dalam undang-undang SISDIKNAS 2003 Bab II pasal 3 :

“ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Semangkin berkembangnya pendidikan saat ini , tidak saja dilembaga-lembaga pendidikan dasar dan menengah namun pada tingkat perguruan tinggipun penyandang profesi pendidik  memerlukan pengembangan profesinya.

Profesi Pendidik

Profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya memiliki asosiasi profesional, kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi tersebut. Contoh profesi pada bidang kependidikan adalah  guru dan  dosen.

Guru/dosen sebagai profesi di bidang kependidikan memerlukan persyaratan khusus yang harus dipenuhi sebelum melaksanakan tugas yang sesungguhnya. Sebagai profesi, semestinya tidak semua orang dapat mengembannya. Agar guru dosen tidak tertinggal zaman, maka guru/dosen harus selalu mengembangkan kemampuan dan keterampilannya secara kontinyu. Jalan yang dapat ditempuh untuk meningkatkan /mengembangkan profesi pendidik adalah dari diri pendidik itu sendiri dan dari pihak lain yang bertanggungjawab atas pengembangan guru/ dosen. Pengembangan diri banyak dilaksanakan oleh si guru/dosen itu sendiri, sementara pengembangan oleh pihak lain dirancang oleh personel atau lembaga dimana guru/dosen  bekerja.

Masalah profesi pendidik (guru/dosen) hendaknya harus berawal memiliki berbagai persyaratan yang mendasar, keterampilan dalam memilih dan mengetrapkan berbagai cara yang digunakan dalam melaksanakan tugas melakukan pendidikan dan pengajaran bagi peserta didiknya. Berikut masih harus didukung dengan kepemilikan sikap dan kepribadian baik. Pendidik yang profesional , harus memiliki pengetahuan yang luas. Kedalaman ilmu dan penguasaan tentang bidang studi atau mata pelajaran yang harus diajarkan, serta menguasai metodologinya begitu penting. Pendidik  harus mempunyai modal pengetahuan tentang konsep teoritik maupun dalam menentukan berbagai metode yang baik dan tepat.

Demikian yang diharapkan , Profesi pendidik (guru/dosen) dapat memberikan pelayanan secara loyal dengan menggunakan berbagai hasil dedikasinya. Ideal profesi pendidik (guru/dosen) yang baik sesuai tuntutan masa depan yang diharapkan adalah: Pertama, Mereka memiliki disiplin keilmuan yang handal atau minimal ada kesesuaian dengan bidang dan tingkat pengajaran di mana mereka melakukan tugas-tugasnya. Kedua, menyadari bahwa dirinya adalah selaku pelaku pendidikan. Dalam hal ini, tentunya mereka berperan menduduki posisi yang terdepan dalam komponen berjalannya proses pendidikan dan pengajaran berlangsung. Ketiga, pendidik harus mampu sebagai penggerak atau lazimnya motivator pendidikan.

Fungsi profesi pendidik demikian memang dirasakan sangat penting, dapat membangkitkan semangat  denagan motivasi secara ekstrinsik dalam kemauan belajar peserta didik. Baik kalau pendidik dapat muncul secara aktif sebagai motivator dalam belajar peserta didiknya. Keberadaan profesi pendidik memang dituntut untuk dapat meningkatkan dan membangkitkan kegairahan dalam proses peserta didik mengalami perubahan dan perkembangan diri. Keempat , menjalani tugas pendidik secara profesi, hendaknya tidak terhenti pada taraf pelaksanaan saja, akan tetapi baik kalau pendidik juga melakukan pengamatan baik dari perencanaan, pelaksanaan sampai pada titik keberhasilannya. Perlu disadari pula kalau guru/dosen melakukan tugas ini janganlah sekedar layaknya orang bekerja yang dengan motivasi mencari uang saja, yang memungkinkan dapat mengaburkan arah dan tujuan pendidikan semula.

Konsep Dasar Profesi

.Profesi adalah jabatan atau pekerjaan yang mempersyaratkan keahlian sebagai hal yang melatarbelakangi, memiliki etika dan organisasi profesi mewadahinya.Seperti beberapa ciri profesi yang dikemukakan  oleh Michael D.Bayles (dalam Hendyat ,2005:208) berikut ini:

  1. perlunya pelatihan atau pendidikan untuk mempraktekan profesi.
  2. pelatihan atau pendidikan mencakup komponen intelektual yang memadai.
  3. kemampuan yang telah terlatih memberikan layanan penting dalam masyarakat.
  4. ada sertifikasi atau lisensi untuk status profesional.
  5. ada organisasi profesional yang menampung para anggota.
  6. ada otonomi dalam melaksanakan pekerjaan.

Enam persyaratan di atas belum lengkap  tanpa ”kode etik” , karena peryaratan kode etik memberikan landasan yang kuat dalam proses kerja profesi.

Kode etik Pendidik adalah salah satu bagian dari profesi pendidik. Artinya setiap pendidik yang profesional akan melaksanakan jabatannya sebagai pendidik. Menurut Made Pidarta ( 2000:272)  bahwa kode etik pendidik bertalian erat dengan unsur-unsur yang dinilai dalam menentukan DP3 menurut PP RI No.10 tahun 1979 yaitu:

  1. Kesetiaan kepada Pancasila dan UUD 45, negra & bangsa
  2. Berprestasi dalam bekerja
  3. Bertanggung jawab dalam bekerja
  4. Taat kepada peraturan perundang-undangan dan kedinasan.
  5. Jujur dalam melaksanakan tugas
  6. Bisa melakukan kerjasama dengan baik
  7. Memiliki prakarsa yg positif untuk memajukan pekerjaan dan hasill kerja
  8. Memiliki sifat kepemimpinan

Dari seluruh persyaratan tersebut harus dipenuhi jika suatu pekerjaan disebut merupakan profesi, begitu juga sebagai profesi pendidik (guru/dosen).

Dasar Pengembangan Profesi Pendidik

Guru/dosen sebagai Profesi pendidik harus berkembang sesuai dengan persyaratan profesionalnya. Karena profesi ini memberikan layanan kepada peserta didik, maka diperlukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap serta kemampuan yang selalu berkembang. Adapun dasar  yang digunakan mengapa profesi pendidik harus dikembangkan adalah :

  1. Dasar Filosofis.

Guru/dosen pada hakekatnya adalah pendidik yang bertugas sebagai pemimpin atau pelayan. Sebagai pemimpin dan pelayan, harus dapat memberikan layanan kepada masyarakat dan peserta didik sebaik-baiknya. Sementara tutunan zaman dan tutunan peserta didik selalu berkembang dari waktu ke waktu. Untuk itu profesi pendidik harus selalu dikembangkan agar tidak tertinggal dari kemajuan zaman.

  1. Dasar Psikologis.

Guru/dosen selalu berhadapan dengan peserta didik yang memiliki keunikan dan kekhasan masing-masing. Setiap individu memiliki pekiran, perasaan, kehendak, keinginan, fantasi, intelegensi, cita-cita, dan perangai yang berbeda-beda. Jika guru /dosen tidak selalu meningkatkan pemahaman terhadap peserta didik maka ia tidak akan dapat menerapkan strategi pelayanannya sesuai dengan keunikan peserta didik..

  1. Dasar Pedagogis.

Tugas profesional utama guru/dosen adalah mendidik dan mengajar. Untuk dapat menjalankan tugas mendidik dan mengajar dengan baik, pendidik harus membina diri untuk mengetahui dan menerapkan strategi mengajar baru, metode baru, teknik-teknik mendidik yang baru, menciptakan suasana pembelanjaran bervariasi, dan kemampuan mengelola kelas dengan baik. puluhan tahun digunakan, dan sudah .Pendidik harus selalu mengikuti perkembangan inovasi dibidang metode pembelajaran.

  1. Dasar Ilmiah

Ilmu pengetahuan, teknologi dan seni selalu berkembang dengan pesat. Pendidik harus dapat mengembangkan cara berpikir ilmiah agar dapat selalu mengikuti perkembangan IPTEK tersebut. Dalam melaksanakan tugas sehari-hari prinsip-prinsip ilmiah selalu dipegang teguh, agar tercipta keadilan dan keobyektifan dalam menyikapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini, salah satu ciri ilmiah adalah adanya rasa ingin tahu yang besar terhadap IPTEK yang ditekuninya.

 

  1. Dasar Sosiologi

Dewasa ini masyarakat modern menuntut profesi pendidik untuk melakukan hubungan dengan orang, organisasi dan mesyarakat dengan modern juga. Profesi pendidik dituntut untuk selalu dikembangkan mengikuti teknik-teknik komunikasi yang multisistem ini. Profesi pendidik harus pandai-pandai mengadakan hubungan sosial dengan mendayagunakan sarana dan media yang berkembang begitu pesat saat ini.

 

Pengembangan Profesi Pendidik

Pendidik dalam proses pendidikan formal disebut guru atau dosen. Tanpa pendidik , pendidikan akan berjalan timpang, karena guru/ dosen merupakan kunci dalam proses pelaksanaan pendidikan. Keberhasilan pendidikan sangat dipengaruhi oleh peranan pendidik  dalam proses pelaksanaannya. Oleh sebab itu guru/dosen  sebagai profesi pendidik harus selalu berkembang dan dikembangkan

Pengembangan profesi pendidik (guru/dosen) menurut UU RI no. 14 Tahun 2005 , Bab IV dan V, pasal 32 dan 69 ayat 2, meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Dan pengembangan profesi pendidik ini menurut  Hendyat (2005: 215) dapat dilakukan melalui pengembangan diri dan melalui pengembangan secara melembaga.

Jika  kedua pendapat diatas kita hubungkan dengan pengembangan profesi pendidik berarti pengembangan yang harus dilakukan pendidik (guru/dosen) adalah mengembangkan kemampuannya dalam mengola pembelajaran peserta didik, mengembangkan kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik, mengembangkan kemampuan berkomunikasi, berinteraksi secara efektif dan efisien, dengan peserta didik, sesama pendidik, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar, serta mengembangkan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam.

Kesemua yang harus dilakukan oleh pendidik dalam mengembangkan profesinya itu dapat dilakukan melalui membaca, mengikuti pendidikan di lembaga pendidikan, mengikuti penataran/ pelatihan dan ikut aktif dalam seminar-seminar yang relevan.

Dengan  pengembangan diri melalui kegiatan / keaktifan membaca seorang pendidik dapat mengembangkan profesinya. Dengan  Membaca pendidik akan menambah wawasan , akan mengasah kemampuannya dalam menguasai landasan-landasan pendidikan yang memungkinkan pendidik memiliki penghayatan teoritis tentang tugas-tugasnya dan tanggungjawabnya sebagai pendidik. Selain itu pula dengan membaca bahan – bahan yang relevan dengan tugasnya sebagai pendidik, membaca hasil penelitian akan dapat  memperkaya gagasan  sehingga menimbulkan usaha-usaha nyata demi kemajuan profesinya. Misalnya dengan gagasan atau ide-ide yang didapat dari membaca tadi dapat dituangkan dalam tulisan berupa karya ilmiah di berbagai media, dapat  juga di wujudkan dalam bentuk bahan ajar/ modul yang dapat dipakai sebagai penunjang mengelolaan pembelajaran. Dengan mengembangkan diri melalui pendidikan formal berarti pendidik dapat mengembangkan kompetensinya secara menyeluruh baik kompetensi pedagogik, kepribadian ,sosial maupun profesionalnya. Bagi tenaga-tenaga pendidik yang bertugas di sekolah dasar maupun  menengah yang masih banyak berkualifikasi akademik sekolah pendidikan guru sampai dengan D3, dapat melanjutkan studinya ke tingkat S1, dan bagi tenaga pendidik yang masih berkualifikasi akademik S1 dapat melanjutkan ke S2  dan S3. Khusus nya pendidik  dalam bidang matematika  dapat mengikuti pendidikan Matematika di FKIP UNSRI, FKIP Universitas PGRI, Program Pendidikan Matematika Pascasarjana UNSRI, di UPI dan lain-lain .

Pengembangan  profesi pendidik  melalui pendidikan formal saat ini memang masih dirasakan sulit bagi tenaga-tenaga pendidik dikarenakan studi ini cukup mahal jika diukur dengan penghasilan (kesejahteraan) yang selama ini diterima oleh tenaga pendidik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun jika kita kembali kepada UU  RI No.14 Tahun 2005 pasal 34 : Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membina dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompotensi guru, waijb memberikan anggaran untuk meningkatkan profesionalitas dan pengabdiannya pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat, dan pasal 71: Pemerintah wajib membina dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi  Dosen dan wajib memberi anggaran untuk meningkatkan profesionalitas dan pengabdiannya pada satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau masyarakat . Berdasarkan kedua pasal tersebut berarti bagi penyandang profesi pendidik (guru/dosen) tidak perlu khawatir untuk mengembangkan  diri melalui pendidikan formal.Karena pemerintah/ pemerintah daerah akan memberi bantuan seperti beasiswa ( dana pendidikan).

Melalui pelatihan/ penataran pendidik  dapat mengembangkan profesionalitas nya. Misalnya pelatihan membuat bahan ajar, pelatihan penulisan karya ilmiah, pelatihan pembuatan persiapan pembelajaran, pelatihan pembuatan alat peraga pembelajaran matematika dan lain-lain. Pelatihan pelatihan semacam ini akan memberikan nilai tambah bagi pendidik yang mengikutinya, tentu akan meningkatkan /mengembangkan kemampuan profesi pendidik  tersebut.

Mengikuti kegiatan seminar yang diselenggarakan oleh organisasi profesi maupun lembaga. Berperan aktif dalam kegiatan seminar semacam ini akan membantu mengembangkan diri bagi penyandang profesi pendidik. Karena perpaduan informasi  dari seluruh peserta sangat membantu pengembangan pandangan dan pikiran para peserta , hal ini merupakan modal dasar bagi pendidik bersangkutan untuk mengembangkan profesinya.

Pengembangan profesi pendidik dapat juga dilakukan secara melembaga. Pimpinan dimana pendidik bertugas harus berusaha mengembangkan pendidik tersebut sehingga dapat bertugas /bekerja secara profesional. Menurut Pidarta (2000: 276) antara lain  dengan cara memberi kesempatan seluas-luasnya kepada pendidik untuk melanjutkan studinya ke S1, S2 atau ke S3, selama mereka mampu. Karena  hal ini akan  meningkatkan sikap dan pribadinya sebagai pendidik , yang tentu akan memberi efek positif bagi lembaga. Selain itu lembaga dapat memprogramkan (menganggarkan)  suatu pengiriman tenaga pendidik untuk mengikuti kegiatan pelatihan  yang relevan dengan tugas dan bidang yang menjadi tanggung jawab pendidik tersebut. Dapat juga pihak lembaga yang melaksanakan   pelatihan atau seminar dengan mendatangkan ahli-ahli di bidangnya, misalnya di bidang statistik, bidang penelitian pendidikan matematika, bidang penyusunan program pembelajaran dan lain-lain , sehingga pengembangan profesi pendidik dalam bidang pendidikan matematika dapat dilaksanakan melalui lembaga tempat pendidik bertugas.

Melalui lembaga Menurut Hendyat (2005:216) antara lain lembaga perlu menyediakan perpustakaan, menerbitkan majalah atau bulletin agar didaya gunakan oleh pendidik untuk mengembangkan profesinya.

Made Pidarta (2000:282) mengatakan:

 

” Untuk Perguruan Tinggi    mungkin tidak diperlukan perputakaan khusus pendidik , karena pendidik dan mahasiswa bisa belajar bersama-sama di perpustakaan umum. Dapat juga dibuat perpustakaan Jurusan. Untuk sekolah memang diperlukan perpustakaan khusus pendidik, sebab materi yang dipelajari guru-guru untuk meningkatkan profesinya berbeda dengan yang dipelajari para siswa……”

 

Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perpustakaan yang tersedia bahan bacaan yang menunjang pengembangan profesi pendidik sangat diperlukan . dan hal ini hendaknya diperhatikan oleh lembaga demi kemajuan lembaga dan pengembangan tenaga pendidiknya.

Beberapa usaha baik secara mandiri maupun secara melembaga dalam mengembangkan profesi pendidik (guru/dosen) belumlah lengkap .Secara umum kelengkapan strategi dan usaha pengembangan profesi pendidik dapat diperkaya dengan membaca berbagai sumber dan mengaplikasikannya dalam pelaksanaan tugas .

 

Penutup

            Untuk menyikapi perubahan maupun perkembangan dalam dunia pendidikan Guru/Dosen sebagai penyandang Profesi Pendidik, perlu melakukan pengembangan profesinya melalui pengembangan diri maupun melalui kelembagaan supaya  tidak ketinggalan zaman.Dan yang lebih penting lagi pendidik harus menyadari bahwa profesinya adalah jabatan yang mempersyaratkan keahlian sebagai hal yang melatarbelakangi,memiliki etika dan organisasi profesi yang mewadahinya.

Dengan melaksanakan pengembangan profesi pendidik, berarti  lembaga maupun pendidik (guru/dosen) serta pemerintah,   berusaha mewujudkan / melaksanakan sebagian  dari isi dan tujuan  yang dikehendaki Undang-Undang Republik Indonesia no.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang tentunya berimbas pada peningkatan mutu pendidikan.

 

Daftar Pustaka         

 

Hadi, Sutarto, 2005, Pendidikan Matematika Realistik dan Implementasinya, Tulip: Banjarmasin

 

Pidarta, Made, 1990, Landasan Kependidikan : Stimulus Ilmu Pendidikan bercorak Indonesia,   Rineka  Cipta :Jakarta

 

Soetopo,Hendyat, 2005, Pendidikan & Pembelajaran, UMM Press: Malang

Suara Guru..Majalah Profesi Guru No. 02/2006

Undang-Undang SISDIKNAS No. 20 tahun 2003

Undang-Undang R I No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.