PENGELOLAAN KELAS YANG EFEKTIF

0
58

PENGELOLAAN KELAS YANG EFEKTIF

 Elsy Zuriyani

Abstrak

Pengelolaan kelas merupakan salah satu faktor dalam menentukan proses pembelajaran di dalam kelas. Pengelolaan kelas yang baik akan memberikan dampak yang baik pula dalam proses pembelajaran. Namun kadang kala pengelolaan kelas ini tidak dapat dipertahankan sehingga proses pembelajaran jadi terganggu. Pengelolaan kelas ini dapat dipengaruhi oleh lingkungan fisik maupun lingkungan psiko-sosial kelas. Beberapa penelitian menunjukan bahwa penatan lingkungan kelas yang tepat berpengaruh terhadap tingkat keterlibatan dan partisipasi peserta didik dalam proses pembelajaran. Meskipun penataan fisik kelas merupakan hal ysng sangat penting dalam kegiatan pengelolaan kelas, keadaan lingkungan psiko-sosial kelas juga tidak kalah pentingnya dalam menciptakan kelas yang kondusif bagi proses pembelajaran iklim psiko-sosial kelas berpengaruh terhadap hasil belajar, konsep diri, dan rasa harga diri serta sikap peserta didik terhadap sekolah.

Kata Kunci: Pengelolaan Kelas, Lingkungan Fisik, Lingkungan Psikologi-Sosial

A. PENDAHULUAN

Pengelolaan kelas yang baik akan menciptakan interaksi belajar mengajar yang baik pula. Tujuan pembelajaran pun akan dapat dicapai tanpa menemukan kendala yang berarti. Hanya sayangnya pengelolaan kelas yang baik tidak selamanya dapat dipertahankan dikarenakan kondisi ruang kelas yang tidak memberikan kenyamanan bagi siswa. Karena tanpa disadari bahwa ruang kelas memberikan pengaruh peserta didik yang luar biasa dalam keefektifan penyampaian materi.

Dengan pentingnya penataan ruang kelas bagi proses belajar mengajar, dibutuhkan pengembangan variasi baik dari segi penataan tempat duduk maupun perlengkapan variasi penataan tentu saja tidak boleh sembarangan, harus diperhitungkan secara matang baik karakteristik siswa maupun kondisi kelas. Dengan segala pengelolaan dan penataan kelas yang baik akan menimbulkan gairah belajar dan pesertta didik tidak sukar untuk mencapai tujuan pembelajaran

Hal ini menunjukan bahwa keadaan ruangan kelas dapat mempengaruhi kegiatan pembelajaran. Selain itu, hubungan sosio-emosional antara guru-peserta didik dan peserta didik-peserta didik juga dapat mempengaruhi kelancaran kegiatan pembelajaran. Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika kita tidak mengenal dengan baik peserta didik kita atau hubungan sosial antar peserta didik kurang baik. Betul kita akan mengalami kesulitan dalam membantu peserta didik belajar. Kita tidak tahu pasti masalah yang dialami peserta didik karena peserta didik kurang terbuka. Atau siswa yang pemalu menjadi semakin pemalu menjadi semakin pemalu karena teman-temannya selalu mengejeknya setiap dia melakukan kesalahan. Tentu saja situasi seperti ini, akan menghambat proses belajar peserta didik. Peserta didik tidak nyaman berada di dalam kelas. Hal ini menunjukan bahwa efektifitas proses pembelajaran tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan fisik kelas, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan psiko-sosial kelas. Oleh karena itu, tujuan penulisan tulisan ini adalah untuk melihat pengaruh lingkungan fisik kelas dan lingkungan psikologi-sosial terhadap kelancaran kegiatan pembelajaran.

B. PEMBAHASAN

Pengelolaan kelas adalah proses pemberdayaan sumber daya baik material element maupun human element di dalam kelas oleh guru sehingga memberikan dukungan terhadap kegiatan belajar siswa dan mengajar guru. Pengelolaan kelas ini dipengaruhi oleh lingkungan fisik kelas dan lingkungan psiko-sosial kelas

Penata Lingkungan Fisik Kelas

Beberapa penelitian menunjukan bahwa penatan lingkungan kelas yang tepat berpengaruh terhadap tingkat keterlibatan dan partisipasi peserta didik dalam proses pembelajaran (Winzer, 1995). Lebih jauh, diketahui bahwa pengaturan tempat duduk berpengaruh terhadap jumlah waktu yang digunakan peserta didik untuk menyelesaikan tugas yang diberikan. Hal ini berarti makin tepat penataan tempat duduk oleh guru, semakin banyak waktu yang digunakan peserta didik untuk mengerjakan tugas belajar yang diberikan. Mengingat betapa pentingnya penataan lingkungan fisik kelas terhadap kegiatan peserta didik didalam proses pembelajaran, perlu kiranya guru memahami dan menerapkan prinsip-prinsip penataan lingkungan fisik kelas.

1. Prinsip-Prinsip Penataan Lingkungan Fisik Kelas

Lingkungan fisik kelas yang baik adalah ruang kelas yang menarik, efektif serta mendukung peserta didik dan guru dalam proses pembelajaran. Agar proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik, guru harus menata tempat duduk dan barang-barang yang ada di ruangan kelas sehingga dapat mendukung dan memperlancar proses pembelajaran.

Perlu diingat bahwa tujuan utama penataan lingkungan fisik kelas ialah mengarahkan kegiatan peserta didik dan mencegah munculnya tingkah laku peserta didik yang tidak diharpakan melalui penataan tempat duduk, perabot, pajangan, dan barang-barang lainnya yang ada di dalam kelas. Kelas harus ditata dengan baik sehingga memungkinkan terjadinya interaksi aktif antara peserta didik dan guru serta antar peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu penataan kelas ini harus memungkinkan guru dapat memantau semua tingkah laku peserta didik sehingga dapat dicegah munculnay aslaah disiplin. Melaui penatan kelas ini diharapkan peserta didik dapat memusatkan perhatiannya dalam proses pembelajaran dan akan bekerja secara efektif.

Menurut Louisell (1992), ketika menata lingkungan fisik kelas, guru harus mempertimbangkan 5 hal berikut ini:

a. Keluasan Pandangan (visibility)

Hal pertama yang harus diperhatikan guru dalam menata ruang kelas ialah keleluasaan pandangan (visibility), artinya, penempatan atau penataan barang-barang di dalam kelas tidak mengganggu pandangan peserta didik dan guru sehingga peserta didik secara leluasa dapat memandang guru atau benda/kegiatan yang sedang berlangsung. Peserta didik dapat melihat kegiatan pembelajaran dari tempat duduk mereka. Disamping itu, guru juga harus dapat memandang semua peserta didik setiap saat menyajikan materi pelajaran.

b. Mudah Dicapai (accessibility)

Ruangan hendaknya diatur dengan baik sehingga lalu lintas kegiatan belajar di kelas tidak terganggu. Jarak antartempat duduk harus cukup untuk dilalui oleh peserta didik sehingga peserta didik dapat dengan mudah bergerak dan tidak mengganggu peserta didik lainnya yang sedang bekerja.

c. Keluwesan (flexibility)

Barang-barang yang ada di dalam kelas hendaknya mudah untuk ditata dan dipindah-pindahkan sesuai dengan tuntutan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan peserta didik dan guru.

d. Kenyamanan

Disamping guru harus menata ruang kelas sesuai dengan tujuan dan strategi pembelajaran, guru juga dituntut untuk menata lingkungan kelas yang dapat memberikan kenyamanan baik bagi peserta didik maupun bagi guru sendiri. Sehingga peserta didik dapat belajar dengan tenang.

e. Keindahan

Dalam menata ruang kelas, prinsip keindahan ini perlu diperhatikan. Prinsip ini berkenaan dengan usaha guru menata ruang kelas yang menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan pembelajaran.

Khusus bagi peserta didik yang kurang mendapatkan kenyamanan dan keindahan di rumah, kelas yang menyenangkan dan mampu memberikan kesan bahwa belajar itu menyenangkan sangat diperlukan.

2. Penataan Tempat Duduk

Peningkatan aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran dapat dilakukan guru melalui penerapan berbagai strategi pembelajaran. Setiap strategi pembelajaran yang diterapkan guru menuntut tatanan tempat duduk yang berbeda-beda. Dengan kata lain, guru harus menata tempat duduk peserta didik untuk memperlancar kegiatan pembelajaran.

Hasil penelitian (Louisell, 1992) menunjukan bahwa tempat duduk yang ditata berjejer menghadap guru  meningkatkan jumlah kerja yang dilakukan peserta didik. Penataan tempat duduk, seperti di atas, selain tepat untuk penyajian materi melalui ceramah juga tepat untuk diskusi kelas.

Penataan tempat duduk seperti di atas tepat untuk kegiatan pembelajaran melalui diskusi kelompok. Selain itu, dengan berdiri pada posisi yang tepat, guru masih tetap dapat mengamati peserta didik yang sedang bekerja sementara ia bekerja dengan kelompok yang lainnya.

Penataan Lingkungan Psiko-Sosial Kelas

Meskipun penataan fisik kelas merupakan hal ysng sangat penting dalam kegiatan pengelolaan kelas, keadaan lingkungan psiko-sosial kelas juga tidak kalah pentingnya dalam menciptakan kelas yang kondusif bagi proses pembelajaran. Bahkan Winzer (1995) menyatakakan bahwa iklim psiko-sosial kelas berpengaruh terhadap hasil belajar, konsep diri, dan rasa harga diri serta sikap peserta didik terhadap sekolah.

Iklim psiko-sosial kelas berkenaan dengan hubungan sosiologi-pribadi antara guru dan peserta didik serta antar peserta didik. Hubungan yang harmonis antara guru dengan peserta didik, serta antar peserta didik akan dapat menciptkan iklim psiko-sosial kelas yang sehat, dan efektif bagi berlangsungnya proses pembelajaran.

Dapat dibayangkan, apabila hubungan guru-peserta didik tidak begitu baik; guru tidak mengenal siswanya dengan baik atau siswa merasa takut terhadap gurunya, mungkinkah proses pembelajaran akan berlangsung efektif? Tentu saja tidak mungkin. Apabila peserta didik merasa takut terhadap gurunya, peserta didik tidak akan berani bertanya walaupun ia sama sekali tidak memahami materi yang sedang dibahas. Adanya kelompok-kelompok peserta didik yang saling bermusuhan juga dapat mengganggu lancarnya proses pembelajaran. Peserta didik tidak akan dapat bekerja sama dalam melaksanakan tugas. Oleh karena itu, dalam mengelola kelas, guru harus dapat menciptakan hubungan sosio-emosional yang harmonis baik antara guru dengan peserta didik maupun antar peserta didik.

1. Karakteristik Guru

a. Disukai oleh peserta didik

Apabila peserta didik telah menyenangi gurunya maka peserta tersebut akan selalu berusaha untuk mengikuti atau menuruti apa yang diharapkan gurunya. Beberapa sifat guru yang memungkinkan untuk disenangi ialah periang, ramah, tulus hati, dan mendengarkan keluhan peserta didik, serta percaya diri.

b. Memiliki persepsi yang realistic tentang dirinya dan peserta didiknya

Guru yang mempunyai pandangan yang realistik terhadap kemampuan peserta didik, guru akan mengembangkan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dan menantang peserta didik untuk belajar. Peserta didik akan mengikuti kegiatan pembelajaran dengan penuh semangat.

c. Akrab dengan peserta didik dalam batas hubungan guru-peserta didik

Untuk mengembangkan hubungan yang baik antara guru dan peserta didik, guru perlu menyediakan waktu untuk mengenal peserta didik lebih banyak.Namun, perlu diingatkan bahwa hubungan yang terlalu dekat antar guru dengan peserta didik perlu dihindari agar peserta didik tetap menghormati dan menghargai guru sebagai orang tua.

d. Bersikap positif terhadap pertanyaan/respon peserta didik.

Bagi beberapa guru, terutama guru yang baru dan kurang menguasai materi pelajaran, pertanyan yang diajukan peserta didik sering kali dianggap sebagai ujian. Seolah-olah peserta didik ingin menguji tingkat penguasaan guru terhadap materi yang diajarkan. Situasi semacam ini menimbulkan rasa tidak aman pada guru tersebut.

Sikap positif guru terhadap pertanyaan peserta didik akan muncul apabila guru memang menguasai materi yang sedang dibahas. Oleh karena itu, seorang guru harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran.

e. Sabar, teguh, dan tegas

Sebagai guru, kita dituntut untuk sabar. Kadang-kadang peserta didik selalu ingin menguji kesabaran kita. Menghadapi yang memang cukup lambat dalam menangkap atau memahami sesuatu, guru dituntut untuk sabar. Apabila kita tidak sabar, peserta didik akan merasa ketakutan untuk mengajukan masalah yang dihadapi. Ketakutan peserta didik pada guru ini akan menghambat keterlibatan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Peserta didik akan tetap bungkam meskipun mereka belum memahami materi yang sedang dibahas karena takut dimarahi guru. Selain itu, guru juga harus teguh dan tegas dalam memegang aturan. Apabila peserta didik lain, guru harus selalu memperingatkan peserta didik lain yang melakukan diskusi berdua pada saat seorang peserta didik berbicara.

Itulah beberapa karakteristik yang harus ditunjukkan guru dalam upaya menciptakan hubungan sosio-emosional yang baik antara guru-peserta didik dan peserta didik-peserta didik. Dengan memiliki karakteristik tersebut, diharapkan guru akan dapat menciptakan iklim psiko-sosial kelas yang menunjang terjalinnya hubungan sosio-emosional guru-peserta didik yang semakin akrab. Yang pada akhirnya peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan lebih mudah.

2. Hubungan Sosial Antar Peserta Didik

Selain dari pribadi guru sendiri, iklim psiko-sosial kelas juga dipengaruhi oleh hubungan social antar peserta didik. Hubungan social kelas juga dipengaruhi oleh hubungan social antar peserta didik. Hubungan social yang kurang baik antara peserta didik dapat mengganggu lancarnya kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, guru sebaiknya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk lebih mengenal teman-temannya sehingga mereka akan merasa sebagai satu kesatuan.Misalnya, ada temannya yang mengalami masalah, mereka tentu berusaha membantunya. Perasaan semacam tersebut akan tumbuh pada diri peserta didik apabila guru maik dalam belajar kelompok maupun kerja kelompok peserta didik dituntut bekerja sama satu sama lain.

Agar kegiatan kelompok dapat berhasil dengan baik guru harus memperhatikan hal-hal berikut (Weber,1997)

  1. Perilaku yang diharapkan
  2. Fungsi kepemimpinan
  3. Pola persahabatan peserta didik
  4. Norma/aturan
  5. Kemampuan berkomunikasi
  6. Kebersamaan

C. PENUTUP

Efektivitas proses pembelajaran dipengaruhi oleh keadaan lingkungan fisik kelas serta hubungan sosio-emosional peserta didik – guru dan peserta didik-peserta didik. Lingkungan fisik kelas yang dipengaruhi lancarnya proses pembelajaran ad alah tatanan ruangan kelas dan isinya.

Prinsip-prinsip yang harus diperhaikan guru dalam menata ruangan kelas adalah keleluasan pandangan, kemudahan mencapai sesuatu/mudah dijangkau, keluwesan, kenyamanan dan keindahan.

Dalam menata tempat duduk, guru harus memperhatikan tujuan dan strategi pembelajaran. Karakteristik guru yang dapat menunjang terciptanya hubungan sosio-emosional di kelas, antara lain adalah disukai oleh peserta didik, memiliki persepsi yang realitistik tentang dirinya dan peserta didik, akrab dengan peserta didik dalam batas hubungan guru-peserta didik, bersikap positif terhadap pertanyaan peserta didik, serta sabar, teguh, dan tegas. Hubungan sosio-emosional antar peserta didik dapat ditingkatkan melalui kegiatan kelompok, baik belajar kelompok maupun bekerja kelompok.

DAFTAR PUSKATA

Arikunto, S. (1988). Pengelolaan Kelas dan Siswa: Sebuah Pendekatan Evaluatif. Jakarta; Rajawali

Arikunto, S. (1990). Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta; Rineka Cipta

Lovisell, R. (1992). Developing a Teaching Style: Methods for Elementary School Teachers. New York:Harper Collins

Mc Queen, T. (1992). Essential of Classroom Management and Discipliner. York:Harper Collins

Webber, W.A. (1977). Classroom Management. Dalam James M. Cooper (Ed), Classroom Teaching Skills:A Handbook. Toronto, D.C: Heath and Company

Winzer, M. (1995). Educational Psychology in The Canadian Classroom (2end). Ontario; Allyn & Bacon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.