PENGARUH PERCERAIAN TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK

0
141

OLEH MUKMIN MUKRI

 

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ (رواه مسلم)

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi. (HR. Muslim)

Dari hadits tersebut tersirat makna bahwa pembentukan kepribadian anak salah satunya dipengaruhi oleh pola asuh dan pendidikan orang tua. Sebagai pendidik yang pertama dan utama bagi anak, tentunya orang tua harus benar-benar memperhatikan tanggung jawab tersebut dan bisa menjadi teladan yang baik bagi anak. Oleh karena itu, hubungan kedua orang tua pun harus dijaga agar tercipta keharmonisan dalam keluarga. Keadaan keluarga yang tenang, menyenangkan, dan harmonis akan membantu proses pembentukan kepribadian, perkembangan dan pendidikan anak dengan baik, begitupun sebaliknya keadaan keluarga yang tidak harmonis akan berpengaruh buruk terhadap proses pembentukan kepribadian, perkembangan dan pendidikan anak. Fakta membuktikan mayoritas anak yang cenderung nakal disebabkan ada pengaruh negatif dari permasalahan perpecahan keluarga, atau biasa disebut dengan istilah disorganisasi keluarga.

Disorganisasi keluarga adalah perpecahan keluarga sebagai suatu unit karena anggota-anggotanya gagal memenuhi kewajiban-kewajibannya yang sesuai dengan peranan sosialnya. Dalam buku Sosiologi Pendidikan karya Muhammad Rifa’i, disebutkan bahwa secara sosiologis bentuk-bentuk disorganisasi keluarga antara lain adalah sebagai berikut :

 

  1. Unit keluarga yang tidak lengkap karena hubungan di luar pernikahan. Walaupun dalam hal ini secara yuridis dan sosial belum terbentuk suatu keluarga, bentuk ini dapat di golongkan sebagai disorganisasi keluarga. Sebab ayah biologis  gagal dalam mengisi peranan sosialnya dan demikian juga halnya dengan keluarga pihak ayah maupun keluarga pihak ibu.
  2. Disorganisasi keluarga karena putusnya pernikahan sebab perceraian.
  3. Adanya kekurangan dalam keluarga tersebut, yaitu dalam hal komunikasi antara anggota-anggotanya.
  4. Krisis keluarga karena salah satu yang bertindak sebagai kepala keluarga di luar kemampuannya sendiri meninggalkan rumah tangga, mungkin karena meninggal dunia, dihukum, atau karena peperangan.
  5. Krisis keluarga yang disebabkan oleh faktor-faktor intern, misalnya karena terganggu keseimbangan jiwa salah seorang anggota keluarga.

 

Permasalahan-permasalahan tersebut tentunya mempunyai dampak negatif bagi setiap anggota keluarga terutama anak yang memang masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan secara fisik maupun psikis.

Dari sekian banyak problematika tersebut, secara spesifik penulis lebih memilih permasalahan yang berkaitan dengan kasus perceraian, mengingat banyaknya kasus perceraian yang terjadi pada zaman modern ini yang tidak hanya di dominasi oleh kalangan keluarga artis, pengusaha, maupun politisi, tapi terjadi juga di kalangan keluarga menengah ke bawah dan mengingat besarnya dampak negatifnya terhadap perkembangan dan proses pendidikan anak. Tidak sedikit anak-anak yang menjadi nakal, prestasi belajarnya menurun, mengkonsumsi obat-obat terlarang, mengalami depresi, dan lain sebagainya karena pengaruh dari kasus perceraian.

 

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, terdapat beberapa hal yang menjadi pokok masalah dalam penulisan ini, antara lain:

  1. Apa sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya perceraian?
  2. Bagaimana pengaruh negatif dari kasus perceraian terhadap perkembangan dan pendidikan anak?
  3. Apa solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan dampak negatif kasus perceraian terhadap perkembangan dan pendidikan anak?

 

PEMBAHASAN

  1. Sebab-sebab perceraian

Pada umumnya kasus perceraian dilatarbelakangi oleh faktor-faktor tertentu, antara lain:

Perbedaan prinsip

Alasan perbedaan prinsip sering digunakan oleh pasangan suami istri ketika bercerai. Masalah prinsip ini biasanya berkaitan dengan agama, karir, anak, dan perbedaan lainnya.

Kekerasan dalam rumah tangga

Masalah kekerasan dalam rumah tangga juga menjadi salah satu penyebab pasangan suami istri bercerai. Kekerasan fisik merupakan faktor utama kenapa istri atau suami menggugat cerai pasangannya.

Keadaan ekonomi

Tingkat kebutuhan ekonomi pada zaman sekarang ini menuntut suami sebagai orang yang bertanggung jawab untuk memberi nafkah harus bekerja lebih tekun untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Tidak hanya suami, bahkan istri juga terkadang bekerja untuk membantu suami. Keadaan tersebut seringkali menimbulkan perselisihan antar pasangan, terlebih apabila suami tidak memiliki pekerjaan.

Perselingkuhan

Perselingkuhan sering kali terjadi karena baik dari pihak istri atau suami  mengabaikan peranan kesetiaan dan kepercayaan dalam kehidupan mereka.

Komunikasi

Komunikasi merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan oleh suami istri. Komunikasi yang intensif akan membuat ikatan keluarga menjadi harmonis dan terjalin kuat, sebaliknya jika komunikasi tidak diperhatikan akan menimbulkan masalah bahkan menyebabkan terjadinya perpecahan.

Ketidakharmonisan dalam rumah tangga

Alasan tersebut di atas adalah alasan yang paling kerap dikemukakan oleh pasangan suami–istri yang akan bercerai. Ketidakharmonisan bisa disebabkan oleh berbagai hal antara lain, krisis keuangan, krisis akhlak, dan adanya orang ketiga.

 

  1. Pengaruh negatif perceraian terhadap perkembangan dan pendidikan anak

Kasus perceraian, apapun alasannya, merupakan “malapetaka” bagi anak. Anak tidak akan dapat lagi menikmati kasih sayang orang tua secara bersamaan yang sangat penting bagi pertumbuhan mentalnya, tidak jarang pecahnya rumah tangga mengakibatkan terlantarnya pengasuhan anak. Itulah sebabnya dalam ajaran Islam perceraian harus dihindarkan sedapat mungkin bahkan merupakan perbuatan yang paling dibenci Allah SWT.

Bagi anak-anak yang dilahirkan, perceraian orang tuanya merupakan hal yang akan mengguncang kehidupannya dan akan berdampak buruk bagi pertumbuhan dan perkembangannya termasuk berpengaruh besar terhadap pendidikannya, sehingga biasanya anak-anak adalah pihak yang paling menderita dengan terjadinya perceraian orang tuanya.”

Kartini Kartono mengatakan bahwa :

Sebagai akibat bentuk pengabaian tersebut, anak menjadi bingung, resah, risau, malu, sedih, sering diliputi perasaan dendam, benci, sehingga anak menjadi kacau dan liar. Dikemudian hari mereka mencari kompensasi bagi kerisauan batin sendiri diluar lingkungan keluarga, yaitu menjadi anggota dari suatu gang kriminal; lalu melakukan banyak perbuatan brandalan dan kriminal. Pelanggaran kesetiaan loyalitas terhadap patner hidup, pemutusan tali perkawinan, keberantakan kohesi dalam keluarga. Semua ini juga memunculkan kecenderungan menjadi delinkuen pada anak-anak dan remaja. Setiap perubahan dalam relasi personal antara suami-istri menjurus pada arah konflik  dan perceraian. Maka perceraian merupakan faktor penentu bagi pemunculan kasus-kasus neurotik, tingkah laku a-susila, dan kebiasaan delinkuen.

Lebih lanjut Kartini kartono juga mengatakan bahwa :

Penolakan oleh orang tua atau ditinggalkan oleh salah seorang dari kedua orang tuanya, jelas menimbulkan emosi, dendam, rasa tidak percaya karena merasa dikhianati, kemarahan dan kebencian, sentimen hebat itu menghambat perkembangan relasi manusiawi anak. Muncullah kemudian  disharmonis social dan lenyapnya kontrol diri, sehingga anak dengan mudah dapat dibawa ke arus yang buruk, lalu menjadi kriminal. Anak ini memang sadar, tetapi mengembangkan kesadaran yang salah. Fakta menunjukkan bahwa tingkah laku yang jahat tidak terbatas pada strata sosial bawah, dan strata ekonomi rendah saja tetapi juga muncul pada semua kelas, khususnya dikalangan keluarga yang berantakan. Memang perceraian suami-istri dan perpisahan tidak selalu mengakibatkan kasus delinkuen dan karakter pada diri anak.

 

Di antara dampak negatif  dari kasus perceraian terhadap pendidikan dan perkembangan anak dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Anak kurang mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan tuntutan pendidikan orang tua, terutama bimbingan ayah, karena ayah dan ibunya masing-masing sibuk mengurusi permasalahan mereka.
  2. Kebutuhan fisik maupun psikis anak menjadi tidak terpenuhi, keinginan harapan anak-anak tidak tersalur dengan memuaskan, atau tidak mendapatkan kompensasinya.
  3. Anak-anak tidak mendapatkan latihan fisik dan mental yang sangat diperlukan untuk hidup susila. Mereka tidak dibiasakan untuk disiplin dan kontrol diri yang baik.
  4. Perceraian orang tua diperkirakan mempengaruhi prestasi belajar anak, baik dalam bidang studi agama maupun dalam bidang yang lain. Salah satu fungsi dan tanggung jawab orang tua yang mendasar terhadap anak adalah memperhatikan pendidikannya dengan serius. Memperhatikan pendidikan anak, bukan hanya sebatas memenuhi perlengkapan belajar anak atau biaya yang dibutuhkan, melainkan yang terpenting adalah memberikan bimbingan dan pengarahan serta motivasi kepada anak, agar anak berprestasi dalam belajar. Oleh karena itu kedua orang tua bertanggungjawab dalam memperhatikan pendidikan anak, baik perlengkapan kebutuhan sekolah atau belajar maupun dalam kegiatan belajar anak. jika orang tua bercerai maka perhatian terhadap pendidikan anak akan terabaikan.
  5. Menurut Sanchez perceraian dapat meningkatkan kenakalan anak-anak, meningkatkan jumlah anak-anak yang mengalami gangguan emosional dan mental, penyalahgunaan obat bius dan alkohol di kalangan anak-anak belasan tahun serta anak-anak perempuan muda yang menjadi ibu diluar nikah.
  6. Mempengaruhi pembentukan kepribadian anak

Suhendi (2001:98) menjelaskan bahwa dalam pembentukan kepribadian anak faktor yang paling menentukan adalah keteladanan orang tua. Kehadiran orang tua atau orang-orang dewasa dalam keluarga mempunyai fungsi pendidikan yang pertama. Proses sosialisasi oleh anak dilakukan dengan cara meniru tingkah laku dan tutur kata orang-orang dewasa yang berada dalam lingkungan terdekatnya.

Itulah di antaranya dampak-dampak negatif kasus perceraian yang mempunyai andil besar terhadap perkembangan dan pendidikan anak. hal tersebut tentunya perlu mendapatkan perhatian lebih terutama oleh kedua orang tua yang hendak ataupun sudah bercerai. Orang tua seharusnya tidak hanya memperhatikan kebutuhan pribadi saja tanpa memperhatikan kebutuhan-kebutuhan anak yang harus dipenuhi, karena dampak tersebut tidak hanya berpengaruh sesaat saja akan tetapi berlangsung selama hidup anak.

 

  1. Solusi

Untuk mengatasi permasalahan tersebut terdapat beberapa solusi yang dapat dilakukan, antara lain sebagai berikut:

  1. Dalam kehidupan berumahtangga tentunya tidak lepas dari permasalahan-permasalahan yang terjadi, namun sebesar–besarnya suatu masalah pasti akan menemukan titik terang dalam menyelesaikan masalahnya. Perceraian bukanlah satu–satunya jalan dalam menyelesaikan masalah yang terjadi dalam keluarga. Perceraian mempunyai dampak yang tidak baik untuk anak, karena perceraian berarti terputusnya keluarga karena salah satu atau kedua pasangan memutuskan untuk saling meninggalkan sehingga mereka berhenti melakukan kewajibannya sebagai suami istri. Sebelum menjalani perceraian, orang tua hendaknya benar-benar memikirkan psikologi anak yang akan mengalami perubahan secara dramatis dalam kehidupannya. Memikirkan permasalahan yang terjadi dan mencari solusi yang tepat merupakan langkah yang bijak yang dapat dilakukan oleh orang tua, namun jika perceraian terjadi maka kedua orang tua harus siap menerima konsekuensi yang akan terjadi terhadap anak mereka.
  2. Jika perceraian sudah terjadi, hal yang pertama harus dilakukan oleh orang tua adalah menerangkan kepada anak-anak kenapa perceraian itu terjadi.Anak-anak perlu difahamkan bahwa perceraian itu terjadi bukan karena orang tua tidak sayang atau tidak memperdulikan mereka. Di masa yang sama, hubungan yang erat dan perhatian terhadap anak tetap perlu di jaga dan diperhatikan. Dengan cara ini, tidak akan ada anggapan-anggapan negatif pada anak. Selain itu orang tua pun tetap menjaga hubungan baik meskipun sudah bercerai, artinya tidak ada lagi persengketaan-persengketaan yang berlanjut sehingga anak tidak segan untuk tetap menjalin hubungan baik dengan orang tua atau tidak membenci salah satu dari kedua orang tua. Begitu juga dengan hasil belajar (prestasi) anak harus senantiasa mendapat perhatian kedua orang tua walaupun telah berpisah. Hal ini menunjukkan bahwa kedua orang tua masih mampu menunjukkan fungsi dan peranannya sebagai pendidik yang bertanggung jawab bagi anaknya. Bagi anak yang berprestasi dalam belajar, orang tua harus arif dan bijaksana dalam memberikan pengarahan dan motivasi terhadap anak. Oleh karena itu, bimbingan dan nasehat harus dapat dijadikan sebagai motivasi anak agar dapat meningkatkan prestasi belajarnya. Tidak hanya bagi anak yang prestasi belajarnya menurun, akan tetapi juga bagi anak yang mengalami peningkatan prestasi belajarpun harus memberikan motivasi yang bersifat mendidik, misalnya memberikan pujian, hadiah, dan lain sebagainya yang mengandung nilai edukatif.

 

PENUTUP

Kesimpulan

Dari penelitian di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya perceraian antara lain adalah: perbedaan prinsip, kekerasan dalam rumah tangga, keadaan ekonomi, perselingkuhan, komunikasi dan ketidakharmonisan dalam rumah tangga.
  2. Pengaruh negatif dari kasus perceraian terhadap perkembangan dan pendidikan anak antara lain adalah: anak kurang mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan tuntutan pendidikan orang tua, kebutuhan fisik maupun psikis anak remaja menjadi tidak terpenuhi,  anak-anak tidak mendapatkan latihan fisik dan mental yang sangat diperlukan untuk hidup susila, perceraian orang tua diperkirakan mempengaruhi prestasi belajar anak, baik dalam bidang studi agama maupun dalam bidang yang lain, meningkatkan kenakalan anak-anak, mempengaruhi pembentukan kepribadian anak.
  3. Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah: sebelum memutuskan untuk bercerai, hendaknya orang tua memikirkan permasalahan yang terjadi dan mencari solusi yang tepat dengan mempertimbangkan dampak-dampak negatif yang akan terjadi terutama pada anak. Namun, jika perceraian sudah terjadi hal yang pertama harus dilakukan oleh orang tua adalah menerangkan kepada anak-anak kenapa perceraian itu terjadi. Di masa yang sama, hubungan yang erat dan perhatian terhadap anak tetap perlu di jaga dan diperhatikan baik itu berkaitan dengan kebutuhan anak sehari-hari yang bersifat finansial maupun tidak, termasuk juga perhatian terhadap prestasi belajar anak. Orang tua pun tetap menjaga hubungan baik meskipun sudah bercerai, artinya tidak ada lagi persengketaan-persengketaan yang berlanjut sehingga anak tidak segan untuk tetap menjalin hubungan baik dengan orang tua atau tidak membenci salah satu dari kedua orang tua.

 

DAFTAR PUSTAKA

Effendi, Satria. Makna, Urgensi dan Kedudukan Nasab dalam Perspektif  Hukum Keluarga  Islam, Jakarta: Artikel Jurnal Mimbar Hukum, Al-Hikmah dan DITBINBAPERA Islam No. 42 Tahun X 1999.

Kartono, Kartini. Patologi Sosial 2 Kenakalan Remaja, Jakarta: Grafindo Persada, 2002.

Rifa’i, Muhammad. Sosiologi Pendidikan, cet 1, Jakarta: ar-Ruzz Media, 2011.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.