Penerapan Model Simulasi Pada Diklat Guru Mata Pelajaran IPA MI

0
44

Oleh

Elsy Zuriyani

 

Abstrak: Penerapan model simulasi pada diklat guru mata pelajaran IPA MI diharapkan dapat meningkatkan kemampuan guru IPA dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas masing-masing. Model simulasi merupakan salah satu cara untuk menjelaskan sesuatu (bahan pelajaran) melalui perbuatan yang bersifat pura-pura atau melalui proses tingkah laku imitasi, atau bermain peran mengenai suatu tingkah laku yang dilakukan seolah-olah dalam keadaan yang sebenarnya. Model simulasi memiliki beberapa keunggulan antara lain memberikan pengalaman langsung dan mudah diingat/dipahami baik saat menyusun perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran dikelas.

 Kata Kunci: Model Simulasi, Keterampilan Proses Sains, IPA

 Pendahuluan

Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah melalui pendidikan dan pelatihan (diklat). Begitu pula Kementerian Agama dalam meningkatkan SDM pegawai dilingkungannya mengadakan berbagai macam diklat sesuai dengan kebutuhan. Diklat untuk pegawai dibawah naungan Kementerian Agama dilaksanakan oleh balai diklat di dua belas wilayah se-Indonesia. Salah satunya adalah balai diklat Keagamaan Palembang yang menaungi empat wilayah kerja yaitu Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Kep. Bangka Belitung. Balai diklat Keagamaan Palembang mengadakan berbagai jenis diklat antara lain diklat Guru Mata Pelajaran IPA yang pesertanya adalah guru-guru yang mengajar mata pelajaran IPA.

Berdasarkan hasil pengamatan selama diklat berlangsung, khususnya diklat guru mata pelajaran IPA, Widyaiswara dalam melaksanakan proses pembelajaran pada umunya menggunakan model pembelajaran konvensional di selingi dengan metode diskusi kelompok. Sebagaimana yang diketahui bahwa dalam proses pembelajaran di balai diklat yang notabene adalah pembelajaran orang dewasa model pembelajaran konvensional yang digunakan sering menyebabkan peserta diklat menjadi jenuh dan kurang memahami materi yang disampaikan sehingga perlu dicarikan metode selingan untuk mengurangi kejenuhan tersebut. Disamping itu pelatihan tersebut menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung (simulasi) kepada para guru tentang kegiatan perencanaan maupun pelaksanaan pembelajarn IPA dengan mengembangkan keterampilan proses sains (IPA). Namun kenyatan kegiatan diklat yang dilakukan guru kurang banyak memberikan pengalaman secara langsung, sehingga pembelajaran yang terjadi di kelas, khususnya dalam pembelajaran IPA umunya cendrung mengajarkan konsep-konsep IPA yang berorientasi kepada pemahaman materi pelajaran IPA, sehingga pembelajaran IPA yang dilaksanakan oleh guru di kelas tidak selalu sejalan dengan fungsi dan tujuan IPA sebagaimana harapan kurikulum, serta aspek mengembangkan keterampilan proses sains yang seharusnya dilakukan oleh siswa terabaikan. Pengembangan keterampilan proses sains menurut Dahar (1990) adalah keterampilan yang seharusnya dikembangkan oleh guru pada setiap saat pembelajaran, yang mengacu kepada model pembelajaran IPA yang relevan.

Model-model pembelajaran IPA yang mengacu kepada pengembangan keterampilan proses sains, yang mungkin dapat dilatihkan kepada guru MI, telah banyak dilakukan dalam berbagai penelitian, diantaranya adalah penelitian Alfiati Syafrina (2000) yang mengembangkan model CLIS (Childen Learning In Sciences). Model ini bercirikan adanya tahap orientasi, pemunculan gagasan awal, pengungkapan dan pertukaran gagasan, pembukaan situasi konflik, konstruksi dan evaluasi gagasan baru, penerapan gagasan dan diakhiri dengan tinjauan perubahan gagasan. Penelitian pembelajaran dengan model ini menunjukan dapat meningkatkan dan menumbuhkan aktivitas belajar siswa, dan dapat mengembangkan keterampilan dan sikap ilmiah siswa.

Berdasarkan realitas di atas, kegiatan pelatihan dibalai diklat sebagai upaya meningkatkan kemampuan guru, dipandang perlu untuk menindak lanjuti dengan meningkatkan pelatihan yang dapat memberikan pengalaman secara langsung kepada guru, baik dalam menyusun perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran, agar pembelajaran IPA yang dilakukan guru MTs sejalan dengan harapan model pembelajaran IPA yang mengacu pada pengembangan keterampilan proses. Salah satunya dengan menggunakan model simulasi dalam melaksanakan proses pembelajaran di balai diklat.

Pada metode Simulasi widyaiswara/fasilitator memberikan pengaruh dengan baik karena peserta diklat menjadi jauh lebih mendalami subyek yang lebih konvensional daripada melalui pendekatan untuk mengajar (kuliah, perdebatan, diskusi, video, dll). Hal ini terjadi karena motivasi dan pemahaman peserta diklat dihubungkan sedemikian rupa sehingga kegiatan mental ini menjadi lebih cepat, serta memperluas keseluruhan proses belajar. Peserta benar-benar menggunakan lebih dari materi transparan mereka ketika terlibat dalam kegiatan simulasi

Dalam simulasi, para peserta diklat membuat sambungan didalam otak mereka yang jarang didapat, melalui teknik pengajaran konvensional. Akibatnya, pembelajaran memiliki dampak yang lebih besar, ditambah dengan pengetahuan dan keterampilan baru serta efeknya dapat dipertahankan lebih lama lagi. Hebatnya, waktu yang dihabiskan untuk simulasi sebuah konten tidak mengurangi jumlah jam belajar. Sebaliknya, peserta diklat belajar menggunakan metode konvensional membutuhkan lebih banyak waktu dalam suatu pengajaran, sementara membuat keuntungan tambahan melalui pengalaman simulasi. Penelitian tentang penggunaan metode simulasi ini telah banyak dilakukan oleh peneliti diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Retno Pui Hastuti (2007) menyatakan bahwa model pembelajaran simulasi lebih efektif jika dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional.

MODEL SIMULASI

Simulasi dalam metode mengajar menurut Sudjana (2000) dimaksudkan sebagai cara untuk menjelaskan sesuatu (bahan pelajaran) melalui perbuatan yang bersifat pura-pura atau melalui proses tingkah laku imitasi, atau bermain peran mengenai suatu tingkah laku yang dilakukan seolah-olah dalam keadaan yang sebenarnya. Simulasi ini telah diterapkan dalam pendidikan lebih dari tiga puluh tahun. Pelopornya antara lain Sarene Boocock dan Harold Guetzkow. Walaupun metode simulasi bukan berasal dari disiplin ilmu pendidikan, tetapi merupakan penerapan dari prinsip sibernetik, suatu cabang dari psikologi sibernetik yaitu suatu studi perbandingan antara mekanisme kontrol (biologis) dengan sistem elektromekanik, seperti komputer. Jadi berdasarkan teori sibernetika, ahli psikologi menganalogikan mekanisme kerja manusia seperti mekanisme mesin elektronik. Mengganggap siswa (pembelajar) sebagai suatu sistem yang dapat mengendalikan umpan balik sendiri (self regulated feedback). Sistem kendali umpan balik ini, baik pada manusia atau mesin (seperti komputer) mempunyai tiga fungsi, yakni (1) menghasilkan gerakan/tindakan sistem terhadap target yang diinginkan (untuk mencapai tujuan tertentu yang diinginkan), (2) membandingkan dampak dari tindakannya tersebut, apakah sesuai atau tidak dengan jalur/rencana yang seharusnya (mendeteksi kesalahan), dan (3) memanfaatkan kesalahan (error) untuk mengarahkan kembali kearah/jalur yang seharusnya.

Jadi, ahli sibernetik menginterpretasikan manusia sebagai suatu sistem control yang dapat mengarahkan tindakannya dan memperbaiki tindakannya dengan mendasarkan pada umpan balik. Dengan demikian, belajar dalam konteks sibertik merupakan prose mengalami konsekuensi lingkungan secara sensorik dan melibatkan perilaku koreksi diri (self corrective behavior). Oleh karena itu, pembelajaran harus didesain sedemikian rupa sehingga tercipta suatu lingkungan yang dapat menghasilkan umpan balik yang optimal bagi siswa.

Aplikasi prinsip sibernetik dalam pendidikan terlihat dengan semakin banyaknya simulator yang dikembangkan untuk berbagai kebutuhan. Simulator adalah suatu alat yang mempresentasikan realitas, di mana kerumitan aktivitasnya dapat dikembalikan. Contoh simulator pilot pesawat terbang, simulator pengendara mobil, dan lain-lain.

Simulator memiliki beberapa kelebihan di antaranya ialah: (1) siswa dapat mempelajari sesuatu yang dalam situasi nyata tidak dapat dilakukan karena kerumitannya atau karena faktor lain seperti resiko kecelakaan, bahaya, dan lain-lain, dan (2) memungkinkan siswa belajar dari umpan balik yang datang dari dirinya sendiri.

Contoh simulasi yang terkenal di Indonesia adalah simulasi Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Suatu simulator yang dirancang untuk meningkatkan wawasan dan pengamanan nilai-nilai Pancasila. Contoh lainnya ialah Life Career Game, suatu permainan yang dirancang bagi konselor untuk membantu siswa dalam merencanakan karier; International Simulation atau simulator yang dirancang untuk mengajarkan prinsip-prinsip hubungan international; permainan yang sering digunakan anak-anak, yakni monopoli.

Prosedur Pembelajaran

Proses simulasi tergantung pada peran guru/fasilitator. Ada empat prinsip yang dipegang oleh fasilitator/guru. Pertama adalah penjelasan. Untuk melakukan simulasi pemain harus benar-benar memahami aturan main. Oleh karena itu, guru/fasilitator hendaknya menjelaskan dengan sejelas-jelasnya tentang aktivitas yang harus dilakukan berikut konsekuensi-konsekuensinya. Kedua adalah mengawasi (refereeing). Simulasi dirancang untuk tujuan tertentu dengan aturan dan prosedur main tertentu. Oleh karena itu, guru/fasilitator harus mengawasi proses simulasi sehingga berjalan sebagaimana seharusnya. Ketiga adalah melatih (coaching). Dalam simulasi, pemain/fasilitator harus memberikan saran, petunjuk, atau arahan sehingga memungkinkan mereka tidak melakukan kesalahan yang sama. Keempat adalah diskusi. Dalam simulasi, refleksi menjadi sangat penting. Oleh karena itu, setelah simulasi selesai, fasilitator/guru mendiskusikan beberapa hal, seperti (1) seberapa jauh simulasi sudah sesuai dengan situasi nyata (real word), (2) kesulitan-kesulitan, (3) hikmah apa yang dapat dari simulasi, dan (4) bagaimana memperbaiki/meningkatkan kemampuan simulasi dan lain-lain.

Tahap pertama, pembelajaran simulasi adalah menyiapkan siswa menjadi pemeran dalam simulasi. Dalam tahap kedua, guru menyusun skenario dengan memperkenalkan siswa terhadap aturan, prosedur, pemberi skor (nilai), tujuan permainan, dan lain-lain. Guru mengatur siswa untuk memegang peran-peran tertentu dan mengujicobakan simulasi untuk memastikan bahwa seluruh siswa memahami prosedur dan aturan main tersebut. Tahap ketiga adalah pelaksanaan dari simulasi itu sendiri. Siswa berpartisipasi dalam permainan atau simulasi, sementara guru memainkan perannya seperti yang telah dijelaskan di atas. Pada saat-saat tertentu, kemungkinan ada interupsi apabila terjadi kesalahanpahaman sehingga proses simulasi dapat berjalan kembali seperti seharusnya. Tahap terakhir adalah debriefing. Guru mendiskusikan beberapa hal seperti telah dijelaskan di atas.

Permainan simulasi dapat merangsang berbagai bentuk belajar, seperti belajar tentang persaingan (kompetisi), kerja sama, empati, sistem sosial, konsep, keterampilan, kemampuan berpikir kritis, pengambilan keputusan, dan lain-lain. Namun demikian, model simulasi agak berbeda dengan model-model lain.

Model ini agak rumit, tergantung pada pengembangan simulasi yang tepat, baik yang melibatkan peneliti, pengembang (sistem analisis, programmer, dan lain-lain), perusahaan komersial, guru atau kelompok guru dan lain-lain. Dewasa ini dengan multimedia, telah banyak permainan simulasi dihasilkan untuk berbagai kebutuhan yang mencangkup berbagai topik dari berbagai disiplin ilmu (mata pelajaran).

Menurut Roestiyah (2001) teknik simulasi baik sekali digunakan karena:

a. Menyenangkan siswa.

b. Menggalakkan guru untuk mengembangkan kreativitas siswa.

c. Memungkinkan eksperimen berlangsung tanpa memerlukan lingkungan yang sebenarnya.

d. Mengurangi hal-hal yang verbalistis atau abstrak.

e. Tidak memerlukan pengarahan yang pelik dan mendalam.

f. Menimbulkan semacam interaksi antarsiswa, yang memberi kemungkinan timbulnya keutuhan dan kegotongroyongan serta kekeluargaan yang sehat.

g. Menimbulkan respon yang positif dari siswa yang lamban/kurang cakap.

h. Menumbuhkan cara berfikir yang kritis.

Teknik ini baik dan memiliki keunggulan, tetapi masih juga mempunyai kelemahan, yaitu:

a.  Sebagian besar siswa yang tidak bermain peran dapat menjadi kurang aktif.

b. Banyak memakan waktu, baik persiapan dalam rangka pemahaman isi maupun pada pelaksanaannya.

c. Memerlukan tempat yang cukup luas, jika tempat bermain sempit menjadi kurang bebas.

d. Sering kelas lain terganggu oleh suara para pemain dan penonton yang kadang bertepuk tangan dan tertawa.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan simulasi (Anonim, 2000), yaitu:

a. Faktor yang menunjang

1). Tidak bertentangan dengan hakikat manusia sebagai makhluk bermain (Homo Luden), dimana manusia cenderung untuk memperoleh kesegaran moril dengan menikmati permainan yang ada. Kesegaran ini diperoleh dari karakteristik yang ada dalam setiap permainan, termasuk permainan simulasi, yaitu menarik, memikat, penuh variasi, dan menggairahkan.

2).Praktis: permainan simulasi sangat mudah dilaksanakan karena peraturan-peraturan permainannya dapat dicerna oleh siapa saja.

3). Ekonomis: sarana untuk menyelenggarakan simulasi sangat murah dan mudah didapat.

b. Faktor yang menghambat

Kurang memadainya keterampilan pemimpin simulasi dalam menumbuhkan gairah untuk berdiskusi. Oleh karena itu perencanaan yang matang perlu dilakukan.

c. Hasil yang diharapkan

1).Perubahan sikap mental yaitu berani menyatakan pendapat, berargumentasi, berani menjawab.

2). Dapat menambah pengetahuan dan meningkatkan keterampilan berpikir.

MODEL CLIS

Pembelajaran Model Childern Learn In Sciensi (CLIS) menurut Driver dalam Adey (1989) suatu pembelajaran mempunyai karakteristik yang dilandasi pandangan konstruktivisme dengan memperhatikan pengalaman dan konsep awal siswa, pembelajaran berpusat pada siswa, dengan aktivitas belajar memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. Model Pembelajaran CLIS ini memiliki serangkaian tahapan kegiatan belajar yang dilakukan siswa dalam mempelajari konsep-konsep IPA. Adapun tahap pembelajaran model CLIS yang dikemukakan Wynne Harlen (1992) dapat dilihat pada gambar skema tahapan pembelajarannya sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

Gambar: Bagan Tahapan Pembelajaran model CLIS (Harlen, 1992)

            Pembelajaran berdasarkan bagan diatas dilaksanakan melalui empat tahap yaitu:1) Tahap orientasi (orientasititon) dilaksanakan melalui tahap pemunculan gagasan (elicitation of ideas), 2) Tahap penyusunan ulang gagasan (restructuring of ideas), dilakukan melalui tiga langkah kegiatan yaitu: a) Tahap pengungkapan dan pertukaran gagasan (clarification of exchange), b) Tahap pembukaan situasi konflik (exporuse to conflict situation), c) Tahap Konstruksi gagasan baru dan evaluasi (construction of news ideas and evaluation), 3) Tahap penerapan gagasan (application of ideas), dan 4) Tahap mengkaji ulang dan perubahan gagasan (review change in ideas).

Pembelajaran model CLIS tersebut dilatihkan melalui model pelatihan simulasi dengan pembelajaran secara langsung dilaksanakan pelatihan di kelas dengan pelaksanaan sebagai berikut:

Pertama, tahap orientasi, pada tahap ini guru memberikan motivasi, memusatkan perhatian dengan pertanyaan yang menggiring kepada konsep IPA yang akan dipelajari, untuk mengantarkan siswa dalam memunculkan gagasan dari pengalaman, temuan peristiwa/kejadian yang sering dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari, pada tahap upaya pemunculan gagasan ini, siswa dihadapkan pada permasalahan yang mangandung teka-teki, siswa diminta melakukan pengamatan atau percobaan dengan mengikuti LKS yang telah dirancang dan disajikan oleh guru dalam bentuk kegiatan secara individu.

Kedua tahap penyusunan ulang gagasan, pada tahap ini siswa diberikan kesempatan untuk belajar, menyusun ulang gagasan yang dimunculkan pada saat tahap orientasi, melalui mengerjakan LKS dan mempelajari media lain yang mendukung belajar siswa dalam penyusunan ulang gagasan yang sesuai dengan konsep-konsep ilmiah yang diinginkan dalam mempelajari IPA. Selanjutnya siswa diminta untuk mengungkapkan dan bertukar gagasan antar teman kelompoknya untuk menjawab berbagai pertanyaan dan masalah yang terdapat dalam LKS, agar temuannya lebih mengarah kepada konsep IPA yang diharapkan, kemudian guru membuka pada situasi konflik dengan menjelaskan konsep-konsep ilmiah terhadap konsep yang dipelajarinya, dengan tujuan meyakinkan siswa bahwa konsep yang ditemukan melalui pengamatan, percobaan pada saat mengisi LKS menunjukkan lebih sempurna. Selanjutnya guru meminta siswa untuk mengecek gagasannya dan mengembangkan gagasannya melalui menyelesaikan LKS berikutnya, dengan tujuan agar siswa lebih merasa bermakna terhadap konsep yang dipelajari.

Ketiga tahap penerapan gagasan, siswa diminta melakukan pengamatan atau percobaan pada fenomena alam yang lebih kompleks, yang ada kaitannya dengan konsep yang dipelajari, sehingga pengetahuan siswa menjadi bertambah dan berkembang serta bermakna bagi kehidupannya.

Keempat, adalah tahap kaji ulang gagasan dengan tujuan mengkaji ada atau tidak adanya perubahan gagasan sejak kegiatan awal dan akhir. Pada saat kegiatan ini siswa diminta mengerjakan LKS yang mengarah pada kesimpulan konsep IPA yang diharapkan dipahami siswa, selanjutnya siswa diminta mengkomunikasikan hasil belajarnya dalam bentuk lisan dan tulisan.

Faktor-faktor terpenting dalam pelaksanaan pembelajaran model CLIS antara lain: 1) menciptakan situasi belajar terbuka dan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa dalam mengemukakan gagasannya, 2) memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk bertanya secara bebas dengan siswa atau gurunya. Kemudian pada akhir kegiatan guru menjelaskan konsep-konsep ilmiah untuk menghindari miskonsepsi pada siswa, 3) memberikan tugas perorangan yang dikerjakan siswa di rumah berupa pekerjaan rumah sebagai penerapan konsep kemudian hasilnya didiskusikan kembali oleh siswa di kelas.

Tujuan pembelajaran CLIS adalah meningkatkan keterampilan berpikir rasional siswa yang dilandasi pandangan konstruktivisme dengan memperhatikan pengalaman dan konsep awal siswa sebagai sumber belajar. Yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran CLIS adalah situasi belajar yang Terbuka dan kesempatan bertanya secara bebas.

KETERAMPILAN PROSES SAINS

Keterampilan proses adalah keterampilan yang diperoleh dari latihan kemampuan-

kemampuan mental, fisik dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi. Kemampuan-kemampuan mendasar yang telah dikembangkan dan telah terlatih lama-kelamaan akan menjadi suatu keterampilan, sedangkan pendekatan keterampilan proses adalah cara memandang anak didik sebagai manusia seutuhnya. Cara memandang ini dijabarkan dalam kegiatan belajar mengajar memperhatikan pengembangan pengetahuan, sikap, nilai serta keterampilan. Ketiga unsur itu menyatu dalam satu individu dan terampil dalam bentuk kreativitas.

Tujuan pengajaran sains sebagai proses adalah untuk meningkatkan keterampilan berpikir siswa, sehingga siswa bukan hanya mampu dan terampil dalam bidang psikomotorik, melainkan juga bukan sekedar ahli menghafal. Berdasarkan penjelasan di atas pada keterampilan proses, guru tidak mengharapkan setiap siswa akan menjadi ilmuan, melainkan dapat mengemukakan ide bahwa memahami sains sebagian bergantung pada kemampuan memandang dan bergaul dengan alam menurut cara-cara seperti yang diperbuat oleh ilmuan.

Dalam pembelajaran IPA, menurut Nur (2000) keterampilan-keterampilan proses sains adalah keterampilan-keterampilan yang dipelajari siswa saat mereka melakukan inkuiri ilmiah mereka menggunakan berbagai macam keterampilan proses, bukan hanya satu metode ilmiah tunggal. Keterampilan-keterampilan proses tersebut adalah pengamatan, pengklasifikasian, penginferensian, peramalan, pengkomunikasian, pengukuran, penggunaan bilangan, pengintepretasian data, melakukan eksperimen, pengontrolan variabel, perumusan hipotesis, pendefinisian secara operasional, dan perumusan model.

Selain itu melalui proses belajar mengajar dengan pendekatan keterampilan proses dilakukan dengan keyakinan bahwa sains adalah alat yang potensial untuk membantu mengembangkan kepribadian siswa, dimana kepribadian siswa yang berkembang ini merupakan prasyarat untuk melanjutkan kejalur profesi apapun yang diminatinya.

Dalam menerapkan keterampilan proses dasar sains dalam kegiatan belajar mengajar, ada dua alasan yang melandasinya yaitu:

a. bahwa dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka laju pertumbuhan produk-produk ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi pesat pula, sehingga tidak mungkin lagi guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa. Jika guru tetap mengajarkan semua fakta dan konsep dari berbagai cabang ilmu, maka sudah jelas target itu tidak akan tercapai. Untuk itu siswa perlu dibekali dengan keterampilan untuk mencari dan mengolah informasi dari berbagai sumber, dan tidak semata-mata dari guru.

b. bahwa sains itu dipandang dari dua dimensi, yaitu dimensi produk dan dimensi proses. Dengan melihat alasan ini betapa pentingnya keterampilan proses bagi siswa untuk mendapatkan ilmu yang akan berguna bagi siswa dimasa yang akan datang, sehingga bangsa kita akan dapat sejajar dengan bangsa yang maju lainnya.

Bagi siswa, beberapa keterampilan proses dasar dimulai dengan keterampilan proses yang sederhana yaitu observasi atau pengamatan, perumusan masalah atau pertanyaan dan perumusan hipotesis.
PELATIHAN GURU MTs DENGAN MODEL SIMULASI

Pelatihan dalam upaya pengembangan kemampuan guru merupakan tugas yang sangat

kompleks dan tiada akhir, meskipun guru tersebut telah selesai dari program pendidikan formal. Upaya pengembangan profesi guru tetap penting dilaksanakan secara terus menerus, baik pengembangan dalam melaksanakan kurikulum, inovasi dalam pembelajaran, maupun dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Memperhatikan makna pelatihan secara umum di atas maka pendekatan pelatihan yang efektif dilaksanankan bagi duru MTs adalah pelatihan dengan model simulasi. Djudju Sudjana mengemukan (2001), simulasi merupakan cuplikan suatu situasi pola kehidupan nyata yang diangkat ke dalam kegiatan pembelajaran. Simulasi merupakan teknik yang diorganisasikan secara baik, dari pembelajaran yang nyata ke dalam pembelajaran bukan sesungguhnya. Simulasi itu tidak lebih komplek dari situasi nyata, dan simulasi didasarkan atas kebutuhan dan tujuan yang dinyatakan oleh peserta untuk memperoleh gambaran pembelajaran sesungguhnya.

Pelatihan model simulasi dikemukan pula oleh M.D Dahlan (1990) bahwa pelatihan membawa mereka ke dalam kondisi yang realistis untuk dikembangkan. Materinya diambil dari keadaan yang sebenarnya, dan dapat ditampilkan serta dibawa ke dalam kelas. Lebih jauh lagi dikemukan bahwa pembelajaran dalam model simulasi menitik beratkan kepada kemampuan pribadi guru seperti memahami konsep, kemampuan dalam membantu siswa, menggunakan peralatan/media pembelajaran, agar guru pada saat pembelajaran sesungguhnya, mereka siap dan dapat melaksanakan pembelajaran yang sesungguhnya dengan benar.

Model pelatihan menekankan kepada praktek seperti yang diungkapkan  Zainudin Arief (1999) bahwa pelatihan “…apapun tekanan program pelatihan yang dirancang, peserta perlu mendapatkan kesempatan untuk mempraktekkan pengetahuan dan atau keterampilan selama proses pelatihan berlangsung”. Menurutnya pelatihan melalui praktek yang dimaksudkan adalah praktek dalam suasana simulasi yang mewakili keadaan yang sesungguhnya. Pada akhir praktek peserta diajak berdiskusi dengan maksud untuk mengklarifikasi kegiatan praktek tadi, agar peserta menemukan pengalaman yang seharusnya dilakukan dalam pembelajaran. Sesungguhnya peserta diberikan tugas untuk mencoba melakukan pembelajaran seperti sesungguhnya terhadap peserta lainnya didalam pelatihan, agar peserta kembali melaksanakan tugas di kelas, dapat melakukan tugas dan siap mengaplikasikan pengetahuan yang dialami, ditemukan dari pelatihan serta dapat melaksanakan pembelajaran terhadap siswa di kelas yang lebih baik.

Sejalan dengan yang dikemukakan Anwar Yasin (1999) bahwa pelatihan dengan model simulasi bukan dengan ceramah (teaching by telling) tapi dengan langsung berbuat (learning by doing) misalnya merancang scenario pembelajaran, praktek pembelajaran, mengamati pembelajaran, diskusi untuk mengatasi masalah sehari-hari dalam pembelajaran. Karena itu pelatihan guru ini, menurut Paul Suparno (1997), guru diharapkan pada saat merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, memiliki prinsip: (1) pengetahuan di bangun oleh siswa secara aktif; (2) tekanan dalam proses belajar terletak pada siswa; (3) mengajar adalah membantu siswa belajar; (4) tekanan dalam proses belajar lebih pada proses bukan pada hasil akhir; (5) guru adalah fasilitator.

Pandangan prinsip tersebut sejalan dengan Brooks & Brooks (1997) bahwa pembelajaran yang dilakukan hendaknya guru menuntut siswa MTs berpikir , melalui pertanyaan-pertanyaan yang terbuka, dan lebih diarahkan pada pengembangan kemampuan keterampilan mengklasifikasi, menganalisis, memprediksi, dan menciptakan. Pembelajaran tersebut sesuai dengan pendapat Din Wahyudin (2001) bahwa pembelajaran bermakna sebagai upaya membelajarkan seseorang atau kelompok orang kearah pencapaian tujuan yang direncanakan.

KESIMPULAN.

Model simulasi merupakan salah cara untuk menjelaskan sesuatu (bahan pelajaran) melalui perbuatan yang bersifat pura-pura atau melalui proses tingkah laku imitasi, atau bermain peran mengenai suatu tingkah laku yang dilakukan seolah-olah dalam keadaan yang sebenarnya. Adapun proses pembelajaran dengan menggunakan model simulasi adalah sebagai berikut tahap pertama menyiapkan peserta diklat yang akan menjadi pemeran dalam simulasi. Tahap kedua, fasilitator menyusun skenario dengan memperkenalkan peserta diklat terhadap aturan, prosedur, pemberi skor (nilai), tujuan permainan, dan lain-lain. Tahap ketiga adalah pelaksanaan dari simulasi itu sendiri. Tahap terakhir adalah debriefing.

Penggunakan model simulasi dalam proses pembelajaran di balai diklat memberikan pengalaman langsung bagi guru-guru IPA saat melaksanakan proses pembelajaran dikelas. Mereka telah memiliki bekal yang cukup sehingga akan meminimalisir terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan dan dapat melaksanakan proses pembelajaran terhadap siswa lebih baik lagi.

REFERENSI

Arief, Zainuddin, 1999, Pemodelan dan Jaringan Sistem Pendidikan (Penyusunan Rancang Bangun Pelatihan, Bandung: Pascasarjana Universitas Islam Nusantara.

Harlen. Wynne, 1992, The Teaching Of Science, David Fulton Publishers Ltd. To Barbon Close, London; WCIN 3 JX

Hastuti Pui Retno, 2007, Keefektifan Penerapan Metode Simulasi Pada Konsep Sistem Peredaran Darah Manusia Di Kelas VIII Semester II SMP N 1 Dukuhturi Tegal, Skripsi FMIPA UNS Semarang.

Sudjana, N. 2000. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Alegensindo.

Uno. B. Hamzah, 2007, Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar Yang Kreatif dan Efektif, Bumi Aksara, Bandung

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.