PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INTERAKTIF PADA MATA PELAJARAN IPA PADA DIKLAT GURU BIDANG STUDI IPA MTS

0
105

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INTERAKTIF PADA MATA

PELAJARAN IPA PADA DIKLAT GURU BIDANG STUDI IPA MTs (MADRASAH SYANAWIYAH)

 oleh

DR.  Lilis  Suryani

EMAIL.lilis_pps_unsri@yahoo.co.id

    Abstrac

 Penelitian ini bertujuan untuk untuk menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran  IPA dengan kerja kelompok, sebagai suatu upaya perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran. Metode Penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dengan mengikuti prosedur penelitian berdasarkan pada prinsip Kemmis S, MC Toggar R (1988) yang mencakup kegiatan perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observation), refleksi (reflection) atau evaluasi. Keempat kegiatan ini berlangsung secara berulang dalam bentuk siklus.

Penelitian ini dilakukan dengan cara berkolaborasi antara Widyaiswara IPA BDL Palembang dengan guru MTS  Negri Palembang. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa (1) Kinerja belajar siswa meningkat setelah pembelajaran IPA menggunakan model pembelajaran interaktif. Siswa sangat antusias membahas topik dalam diskusi, dan berusaha menjawab dan menemukan informasi tentang topik tersebut. Siswa saling berebut mengemukakan informasi (apa yang mereka ketahui) tentang topik. Setelah dilakukan pembagian tugas kelompok siswa bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing; (2) Prestasi belajar siswa meningkat setelah mengalami pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok. Pada siklus pertama nilai rata-rata siswa perorangan 5,859; nilaia rata-rata kelompok sebesar 6,102. Pada siklus kedua nilai rata-rata siswa 6,512 dan nilai rata-rata kelompok 7,615; sedangkan pada siklus ketiga nilai rata-rata siswa 7,948 dan nilai rata-rata kelompok 7,384. Berdasarkan nilai yang diperoleh siswa dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok dapat digunakan pada Penelitian Tindakan kelas.

 Kata konci : Pembelajaran interaktif, pembelajaran IPA.

 Pendahuluan

       Meningkatkan mutu pendidikan adalah menjadi tanggungjawab semua pihak yang terlibat dalam pendidikan terutama bagi guru MTS  yang merupakan ujung tombak

dalam pendidikan dasar. Guru MTS adalah orang yang paling berperan dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas yang dapat bersaing di jaman pesatnya perkembangan teknologi. Guru MTS  dalam setiap pembelajaran selalu menggunakan pendekatan, strategi dan metode pembelajaran yang dapat memudahkan siswa memahami materi yang diajarkannya, namun masih sering terdengar keluhan dari para guru di lapangan tentang materi pelajaran yang terlalu banyak dan keluhan kekurangan waktu untuk mengajarkannya semua.

        Menurut pengamatan penulis, dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas penggunaan model pembelajaran yang bervariatif masih sangat rendah dan guru cenderung menggunakan model konvesional pada setiap pembelajaran yang dilakukannya. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya penguasaan guru terhadap model-model pembelajaran yang ada, padahal penguasaan terhadap model-model pembelajaran sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru, dan sangat sesuai dengan kurikulum berbasis kompetensi.

         Kurikulum berbasis kompetensi yang mulai diberlakukan di sekolah dasar bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan cerdas sehingga dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini hanya dapat tercapai apabila proses pembelajaran yang berlangsung mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki siswa, dan siswa terlibat langsung dalam pembelajaranIPA  Disamping itu kurikulum berbasis kompetensi memberi kemudahan kepada guru dalam menyajikan pengalaman belajar, sesuai dengan prinsip belajar sepanjang hidup yang mengacu pada empat pilar pendidikan universal, yaitu belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar dengan melakukan (learning to do), belajar untuk hidup dalam kebersamaan (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be).

           Untuk itu guru perlu meningkatkan mutu pembelajarannya, dimulai dengan rancangan pembelajaran yang baik dengan memperhatikan tujuan, karakteristik siswa, materi yang diajarkan, dan sumber belajar yang tersedia. Kenyataannya masih banyak ditemui proses pembelajaran yang kurang berkualitas, tidak efisien dan kurang mempunyai daya tarik, bahkan cenderung membosankan, sehingga hasil belajar yang dicapai tidak optimal. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar IPA siswa  kelas 5 di MTS  yang dipaparkan pada tabel berikut. 

 Tabel 1

Nilai rapor untuk mata pelajaran IPA Tahun Ajaran 2003/2004 sampai

2008/2009 MTs Negeri 1 Palembang

Thn Ajaran Nilai tertinggi Nilai terendah Nilai rata-rata
2003/20042004/2005

2005/2006

2006/2007

2007/2008

2008/2009

6,347,26

6,82

7,12

7,36

6,92

3,784,26

3,96

4,12

3,42

4,08

5,065,76

5,39

5,62

5,39

5,00

 

 Rendahnya perolehan hasil belajar mata pelajaran IPA di MTS Negeri Palembang mununjukkan adanya indikasi terhadap rendahnya kinerja belajar siswa dan emampuan

guru dalam mengelola pembelajaran yang berkualitas. Untuk mengetahui mengapa

prestasi siswa tidak seperti yang diharapkan, tentu guru perlu merefleksi diri untuk dapat mengetahui faktor-faktor penyebab ketidakberhasilan siswa dalam pelajaran IPA Sebagai guru yang baik dan profesional, permasalahan ini tentu perlu ditanggulangi dengan segera. Berdasarkan hal tersebut diatas, penerapan model pembelajaran interaktif menjadi alternatif untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA Penelitian ini dilakukan peneliti yang bertugas sebagai tenaga Widyaiswara dengan berkolaborasi dengan guru-guru MTS  di MTS  Negeri . Dengan berkolaborasi ini, diharapkan kemampuan profesional guru dalam merancang model pembelajaran akan lebih baik lagi dan dapat menerapkan model pembelajaran yang lebih bervariatif.

Disamping itu kolaborasi ini dapat meningkatkan kemampuan guru dalam merefleksi diri terhadap kinerja yang telah dilakukannya, sehingga dapat melakukan perubahan dan perbaikan kualitas pembelajaran dan mengelola proses pembelajaran yang lebih terpusat pada siswa. Model pembelajaran interaktif sering dikenal dengan nama pendekatan pertanyaan anak.Model ini dirancang agar siswa akan bertanya dan kemudian menemukan jawaban pertanyaan mereka sendiri (Faire & Cosgrove dalam Harlen, 1992). Meskipun anak-anak mengajukan pertanyaan dalam kegiatan bebas, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terlalu melebar dan seringkali kabur sehingga kurang terfokus. Guru perlu mengambil langkah khusus untuk mengumpulkan, memilah, dan mengubah pertanyaan-pertanyaan tersebut ke dalam kegiatan khusus. Pembelajaran interaktif merinci langkah-langkah ini dan menampilkan suatu struktur untuk suatu pelajaran IPA yang melibatkan pengumpulan dan pertimbangan terhadap pertanyaan-pertanyaan siswa sebagai pusatnya (Harlen, 1992:48-50).

Salah satu kebaikan dari model pembelajaran interaktif adalah bahwa siswa belajar mengajukan pertanyaan, mencoba merumuskan pertanyaan, dan mencoba menemukan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri dengan melakukan kegiatan observasi (penyelidikan). Dengan cara seperti itu siswa atau anak menjadi kritis dan aktif belajar.

PERMASALAHAN

Permasalahan rendahnya hasil belajar IPA di MTS  Negeri Palembang ditanggulangi, dan guru perlu melakukan refleksi atas kinerjanya selama perolehan hasil belajar IPA masih dapat ditingkatkan lebih tinggi lagi, apabila kreaktifitas siswa dalam pembelajaran juga tinggi. Hasil Penelitian  mengungkapkan bahawa tingkat kreatifitas

siswa saat penelitian dilaksanakan masih rendah, kinerja siswa menunjukkan fenomena

sebagai berikut guru jarang membimbing siswa dalam diskusi tentang topik-topik IPA

guru jarang memberikan pertanyaan kepada siswa baik secara individual maupun secara klasikal. Siswa tidak berani bertanya kepada guru karena guru kurang memotivasi siswa agar berani bertanya apabila ada masalah/materi yang tidak/kurang dimengerti. Pembelajaran yang ada lebih terpusat pada guru, bukan kepada siswa. Hal ini tidak dapat dibiarkan begitu saja, apalagi dengan diberlakukannya kurikulum berbasis kompetensi yang mengisyaratkan pembelajaran harus dapat mengembangkan semua potensi yang dimiliki siswa. Hal ini dapat tercapai apbila kinerja belajar siswa ditingkatkan, sehingga guru hanya berperan sebagai fasiltator, motivator dan organisator. Berdasarkan hal tersebut diatas, dengan demikian untuk memperbaiki dan

meningkatkan kualitas pembelajaran IPA di MTS, menerapkan model pembelajaran interaktif sebagai alternatif untuk dapat meningkatkan perolehan hasil belajar IPA dapat lebih optimal lagi apabila dilakukan melalui kerja kelompok.

 TUJUAN PENELITIAN

 Secara umum tujuan Penelitian ini adalah untuk menerapkan model pembelajaran

interaktif pada pelajaran IPA  dengan kerja kelompok, sebagai suatu upaya perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran.Secara khusus tujuan penelitian adalah sebagai berikut.

1. Mengetahui kemampuan guru mendesain model pembelajaran interaktif pada

    pelajaran IPA dengan kerja kelompok

2. Menerapkan model pembelajaran interaktif pada pelajaran IPA di MTS   dengan

    kerja kelompok                                           

3.Meningkatkan kinerja belajar siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan     model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok

4. Mengetahui apakah kerja kelompok dapat memperbaiki dan meningkatkan kinerja  belajar siswa dalam penerapan model pembelajaran interaktif

5. Meningkatkan kreativitas siswa dalam pembelajaran  IPA yang menggunakan

 model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok.

6. Mengetahui kendala yang dihadapi dalam menerapkan model pembelajaran interaktif  dengan kerja kelompok

7. Solusi yang dilakukan guru dalam mengatasi kendala dalam menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok

 KONTRIBUSI HASIL PENELITIAN

Bagi siswa pembelajaran interaktif memberikan pengalaman baru dan diharapkan

memberikan kontribusi terhadap peningkatan belajarnya. Siswa memiliki kesadaran

bahwa proses pembelajaran adalah dalam rangka mengembangkan potensi dirinya,

karena itu keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan oleh siswa. Disamping itu,

melalui penelitian ini siswa terlatih untuk dapat memecahkan masalah dengan pendekatan ilmiah dan siswa didorong aktif secara fisik, mental, dan emosi dalam pembelajaran. Bagi guru, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan profesional, dan pembelajaran interaktif menjadi alternative pembelajaran IPA untuk meningkatkan prestasi siswa. Memberikan kesadaran guru untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan, materi, karakteristik siswa, dan kondisi pembelajaran. Guru mempunyai kemampuan dalam merancang model pembelajaran interaktif yang merupakan hal baru bagi guru, dan menerapkannya dalam pembelajaranIPA .

Dengan penelitian ini, kemampuan guru mengaktifkan siswa dan memusatkan pembelajaran pada pengembangan potensi diri siswa juga meningkat, sehingga pembelajaran lebih menarik, bermakna, menyenangkan, dan mempunyai daya tarik. Disamping itu penelitian ini dapat memperkaya pengalaman guru dalam melakukan perbaikan dan meningkatkan kualitas pembelajaran dengan refleksi diri atas kinerjanya melalui PTK. Bagi kepala sekolah penelitian ini dapat dijadikan masukan untuk kebijakan dalam upaya meningkatkan proses belajar mengajar (PBM) dan meningkatkan prestasi belajar siswa serta perlunya kerjasama yang baik antar guru dan antara guru dengan kepala sekolah.

 Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar adalah program untuk menanamkan

dan mengembangkan pengetahuan keterampilan, sikap dan nilai ilmiah pada siswa serta

rasa mencintai dan menghargai kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Tujuan  IPA secara

umum membantu agar siswa memahami konsep-konsep  IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Memiliki keterampilan untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar maupun menerapkan berbagai konsep IPA untuk menjelaskan gejala-gejala alam yang harus dibuktikan kebenarannya di laboratorium, dengan  demikian IPA tidak saja sebagai produk tetapi juga sebagai proses. Untuk itu ada tiga hal yang berkaitan dengan sasaran IPA di Sekolah Dasar adalah sebagai berikut. (1) IPA tidak semata berorientasi kepada hasil tetapi juga proses. (2) Sasaran pembelajaran IPA harus utuh menyeluruh dan (3) pembelajaran IPA akan lebih berarti apabila dilakukan secara berkesinambungan dan melibatkan siswa secara aktif.

Penelitian Tindakan Kelas

Seringkali kita mendengar kata penelitian , yang merupakan terjemahan dari

bahasa Inggris : research, yang berarti kegiatan pencaharian atau ekspolrasi untuk

menemukan jawaban dari masalah yang menjadi bidang kajian. Adapun yang dimaksud

dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau classroom action research, yaitu satu

action research yang dilakukan dikelas. Dari segi semantik (arti kata) action researh

diterjemahkan menjadi penelitian tindakan Carr dan Kemmis (McNiff, J, 1991, p.2)

mendefisikan action research sebagai berikut :

Action research is a form of self – refflective enquiry undertaken by participants

(teachers, students or principals, for example) in social (including educational) situations in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practices, (b) their understanding of these practices, and the situations (and institutions) in which the practices are carried out.

Berdasarkan definisi di atas terdapat beberapa ide pokok antara lain :

1. Penelitian Tindakan Kelas merupakan satu bentuk inkuiri atau penyelidikan yang    dilakukan melalui refleksi diri

2. Penelitian Tindakan dilakukan oleh peserta yang terlibat dalam situasi yang

    diteliti, seperti guru, siswa, atau kepala sekolah.

3. Penelitian Tindakan  dilakukan dalam situasi sosial, termasuk situasi pendidikan

4. Tujuan Penelitian Tindakan adalah untuk memperbaiki : dasar pemikiran dan

    kepantasan dari praktek-praktek, pemahamn terhadap praktek tersebut, serta situasi atau lembaga tempat tersebut dilaksanakan Dari keempat ide pokok di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Penelitian Tindakan Kelas merupakan penelitian dalam bidang sosial, yang menggunakan refleksi diri sebagai metode utama dilakukan oleh orang yang terlibat di dalamnya, serta bertujuan untuk melakukan perbaikan dalam berbagai aspek. Berdasarkan pengertian tersebut maka Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan guru di dalam kelasnya melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat.

 Model Pembelajaran Interaktif

     Secara khusus, istilah model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatn. Sunarwan (1991) dalam Sobry Sutikno (2004 :15) mengartikan model merupakan gambaran tentang keadaan nyata. Model pembelajaran atau model mengajar sebagai suatu rencana atau pola yang digunakan dalam mengatur materi pelajaran, dan memberi petunjuk kepada mengajar di

kelas dalam setting pengajaran.  Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual

yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para

perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan

aktivitas belajar mengajar. Model pembelajaran interaktif sering dikenal dengan nama pendekatan pertanyaan anak. Model ini dirancang agar siswa akan bertanya dan kemudian menemukan jawaban pertanyaan mereka sendiri (Faire & Cosgrove dalam Harlen, 1992). Meskipun anak-anak mengajukan pertanyaan dalam kegiatan bebas, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terlalu melebar dan seringkali kabur sehingga kurang terfokus. Guru perlu mengambil langkah khusus untuk mengumpulkan, memilah, dan mengubah pertanyaan-pertanyaan tersebut ke dalam kegiatan khusus. Pembelajaran interaktif merinci langkah-langkah ini dan menampilkan suatu struktur untuk suatu pelajaran IPA yang melibatkan pengumpulan dan pertimbangan terhadap pertanyaan-pertanyaan siswa sebagai pusatnya (Harlen, 1992:48-50).

Model pembelajaran interaktif memiliki lima langkah. Langkah-langkah penerapan model pembelajaran Interaktif diawali dengan

(1) persiapan, sebelum pembelajaran dimulai guru menugaskan siswa untuk membawa hewan peliharaannya dan mempersiapkan diri untuk menceritakan tentang hewan peliharaannya masing-masing.

(2) kegiatan penjelajahan, pada saat pembelajaran di kelas siswa lain boleh mengamati

      hewan-hewan peliharaan teman-temannya dari dekat (meraba, mengelus,menggendong) dan mereka boleh mengajukan pertanyaan.

(3) pertanyaan siswa diarahkan guru sekitar proses pemeliharaannya.

(4) penyelidikan, guru dan siswa memilih pertanyaan untuk dieksplorasi lebih jauh. Misalnya siswa diminta mengamati keadaan hewan-hewan yang tidak dipelihara, seperti dari mana mereka memperoleh makanannya, dimana mereka tidur, punya nama atau tidak, bagaimana kebersihannya.

(5) refleksi, pada pertemuan berikutnya di kelas dibahas hasil penyelidikan mereka, dilakukan pembandingan antara hewan peliharaan dengan hewan liar untuk memantapkan hal-hal yang sudah jelas dan memisahkan hal-hal yang masih perlu diselidiki lebih jauh. Pada akhir kegiatan guru dapat memberikan tugas kepada siswa untuk mengamati benda-benda di sekitar siswa untuk mengamati benda-benda di sekitar mereka seperti buku dan tas sekolahnya. Salah satu kebaikan dari model pembelajaran interaktif adalah bahwa siswa belajar mengajukan pertanyaan, mencoba merumuskan pertanyaan, dan mencoba menemukan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri dengan melakukan kegiatan observasi (penyelidikan). Dengan cara seperti itu siswa atau anak menjadi kritis dan aktif belajar.

 Kerja Kelompok

Suatu strategi pembelajaran untuk mencapai tujuan IPA yang berupaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam bekerja sama, berpikir kritis, dan pada saat yang sama meningkatkan prestasi akademiknya. Disamping itu kerja kelompok dapat

membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit sambil pada saat yang bersamaan sangat berguna untuk menumbuhkan kemauan kerja sama dan kemauan membantu teman. Kerja kelompok memungkinkan siswa lebih terlibat secara aktif dalam belajar karena ia mempunyai tanggung jawab belajar yang lebih besar dan memungkinkan berkembangnya daya kreatif dan sifat kepemimpinan pada siswa. Sedangkan peran guru lebih ditekankan sebagai organisator kegiatan belajar-mengajar, sumber informasi bagi siswa, pendorong bagi siswa untuk belajar, serta penyedia materidan kesempatan belajar bagi siswa. Guru harus dapat mendiagnosa kesulitan siswa dalam belajar dan dapat memberikan bantuan kepadanya sesuai dengan kebutuhannya.

Pengertian Belajar

Belajar merupakan salah satu bentuk perilaku yang amat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Belajar membantu manusia menyesuaikan diri (adaptasi) dengan lingkungannya. Dengan adanya proses belajar inilah manusia bertahan hidup (survived). Belajar secara sederhana dikatakan sebagai proses perubahan dari belum

mampu menjadi sudah mampu, tejadi dalam jangka waktu waktu tertentu. Perubahan

yang itu harus secara relative bersifat menetap (permanent) dan tidak hanya terjadi pada

perilaku yang saat ini nampak (immediate behavior) tetapi juga pada perilaku yang

mungkin terjadi di masa mendatang (potential behavior). Hal lain yang perlu diperhatikan ialah bahwa perubahan-perubahan tersebut terjadi karena pengalaman. Perubahan yang terjadi karena pengalaman ini membedakan dengan perubahan-perubahan lain yang disebabkan oleh kemasakan (kematangan).

Kreativitas

Dewasa ini istilah kreativitas atau daya cipta sering digunakan dalam kegiatan

manusia sehari-hari, sering pula ditekankan pentingnya pengembangan kreativitas baik

pada anak didik, pegawai negeri maupun pada mereka yang berwiraswasta. Kreativitas

biasanya diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan suatu produk baru. Ciptaan itu tidak perlu seluruh produknya harus baru, mungkin saja gabungannya, kombinasinya, sedangkan unsur-unsurnya sudah ada sebelumnya, kombinasi baru, atau melihat hubungan-hubungan baru antara unsur, data, atau hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Kreativitas terletak pada kemampuan untuk melihat asosiasi antara hal-hal atau obyek-obyek yang sebelumnya tidak ada atau tidak tampak hubungannya.

Seorang anak kecil asyik bermain dengan balok-balok yang mempunyai bentuk dan warna yang bermacam-macam, setiap kali dapat menyusun sesuatu yang baru, artinya baru bagi dirinya karena sebelumnya ia belum pernah membuat hal yang semacam itu. Anak ini adalah anak yang kreatif, berbeda dengan anak lain yang hanya membangun sesuatu jika ada contohnya. Mengembangkan kreativitas dalam pembelajaran, Gordon dalam Joice and Weill (1996) dalam E. Mulyana (2005 : 163) mengemukakan empat prinsip dasar sinektik tentang kraetivitas. Pertama, kreativitas merupakan sesuatu yang penting dalam kegiatan sehari-hari.

 Hampir semua manusia berhubungan dengan proses kreativitas, yang dikembangkan melalui seni atau penemuan-penemuan baru. Lebih jauh Gordon menekankan bahwa kreativitas merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari dan berlangsung sepanjang hayat. Kedua, proses kreatif bukanlah sesuatu yang misterius. Hal tersebut dapat diekspresikan dan mungkin membantu orang secara langsung untuk meningkatkan kreativitasnya. Secara tradisional, kreativitas didorong pleh kesadaran yang memberi petunjuk untuk mendeskripsikan dan menciptakan prosedur latihan yang dapat diterapkan di sekolah atau lingkungan lain. Ketiga, penemuan kreatif sama dalam semua bidang, baik dalam bidang seni, ilmu, maupun dalam rekayasa. Selain itu, penemuan kreatif ditandai oleh beberapa proses intelektual. Keempat, berpikir kraetif baik secara individu maupun kelompok adalah sama. Individu dan kelompok menurunkan ide-ide dan produk dalam berbagai hal.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. (1994). Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Remaja RoMTs      Madrasah Syanawiyah )akarya. Bandung.

Gagne, R.M (1985). The Conditions of Learning Theory of instruction (4th Edition).      New York : Holt, Rinehart and Winston.

Hasibuan, J.J, Mudjiono (1988), Proses Belajar Mengajar. CV. Remaja Karya.Bandung.

Hendro Darmodjo, Kaligis, J R E. (1991/1992). Pendidikan IPAI, Hal 7-11Depdikbud Dirjen Dikti, Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan

Hernawaty Damanik. (2004). Penerapan Model Pembelajaran Social Science

     Inquiry Dalam Mata Pelajaran Sosiologi Dengan Kerja Kelompok.FKIP- Universitas Terbuka.

Irwanto, dkk (1991). Psikologi Umum Buku Panduan Mahasiswa. Gramedia

      Pustaka Utama. Jakarta.

Kemmis, S. dan MC. Toggart.R. (Ed.1988). The Action Resesarch Planner.Deakin.DeakinUniversity:Australia

Lemlit-UT, (2003). Jurnal Pendidikan Volume 4, nomor 2. Pusat Studi Lembaga

     Penelitian Universitas Terbuka.

Mulyasa, E (2005). Menjadi Guru Profesional : Menciptakan Pembelajaran

     Kreatif dan Menyenangkan. Remaja RoMTs  ( Madrasah Syanawiyah) .Bandung.

Poedjiadi, A. (1990). Pendidikan Sains dan Teknologi di Masa yang akan datang.

     Disampaikan pada Seminar Puskur Balitbang Dikbud, Jakarta.

Poedjiadi, A. (1993). Mewujudkan literasi Sains dan Teknologi Melalui Pendidikan, hal 4-6.

Slavin, RE.(1994). Educational Psychology : Theory and Practice. Masschusetts:Allyn and Bacon Publisher.

Sobry Sutikno, (2004). Model Pembelajaran Interaksi Sosial, PembelajaranEfektif dan Retorika. NTP Press. Mataram

Slavin, RE.(1994). Educational Psychology : Theory Research and Practice.Second Edition.Boston: Allyn and Bacon.

Sutarno, N. (2004). Materi Dan Pembelajaran  MTS  (Madrasah Tsanawiyah) . Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.