PENERAPAN BUDAYA LITERASI DALAM MENINGKATKAN MINAT MEMBACA SISWA

0
59

Oleh:

Sri Sunarti, M.Pd[1]

sribdk@gmail.com

Abstrak

Literasi merupakan kemampuan individu untuk menggunakan potensi dan kemampuan yang dimilikinya selain kemampuan baca tulis. Literasi pada sekolah/madrasah dilaksanakan 15 menit sebelum waktu belajar dimulai dengan membaca buku non pelajaran. Untuk meningkatkan minat baca siswa dapat dilakukan dengan menyiapkan buku di sudut kelas, perpustakaan, taman, rumah ataupun lingkungan sekitar. Dengan meningkatnya minat baca siswa maka banyak ilmu pengetahuan dan wawasan yang didapat sehingga dapat membaharui informasi.

Kata kunci: budaya literasi, minat, membaca, siswa

Pendahuluan

Membaca merupakan salah satu cara penyerapan informasi dan ilmu pengetahuan yang memberdayakan beberapa indera secara bersama. Dengan membaca dapat menentukan berhasil atau tidaknya proses belajar mengajar yang diharapkan. Dengan membaca, berarti dapat mengintegrasikan tanda-tanda, simbol atau lambang dalam bahasa yang dipahami oleh pembaca. Berdasarkan fakta dilapangan bahwa kondisi Indonesia tentang budaya membaca sangat rendah. Ini dibuktikan dari hasil penelitian pada Harian Kompas bahwa masyarakat Indonesia menempati peringkat paling rendah diantara 52 Negara di Asia Timur tentang budaya membaca. Hal ini berarti, masih rendahnya budaya membaca masyarakat Indonesia. Padahal kita ketahui bahwa membaca merupakan hal penting bagi masyarakat untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan tentang dunia.

Rendahnya minat membaca dikalangan siswa di Indonesia karena kurangnya kualitas pendidikan kita yang menekankan siswa untuk membaca. Oleh sebab itu, perlu dibudayakan membaca dalam lingkungan masyarakat dan terkhusus sekolah. Budaya membaca disekolah perlu di kembangkan agar siswa dapat membiasakan diri untuk membaca. Untuk melaksanakan pembiasaan in tidak hanya dari siswa saja namun, perlu dilakukan juga oleh beberapa pihak seperti guru, orang tua dan pemerintah berkewajiban dalam mengembangkan minat membaca siswa. Dalam hal ini, dikembangkan sebuah program dengan nama “Gerakan Literasi Sekolah” / GLS.

Mengapa kegiatan literasi di sekolah menjadi hal penting saat ini?. Berdasarkan hasil studi The Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) (2012), menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam bidang literasi masih tertinggal dari Negara lain, yaitu berada di peringkat 61. Berdasarkan hasil penelitian Faradina (2017) menunjukkan bahwa program literasi sekolah berpengaruh terhadap minat membaca siswa dan terjadi hambatan saat membaca nyaring, membaca dalam hati, kegiatan pojok baca kelas dan penghargaan sebagai peminjam buku teraktif dari 126 sampel sekitar 36,06% menjawab iya dan 63,94% menjawab tidak. Ini berarti masih rendahnya minat membaca siswa dan sarana prasarana untuk mendukung program GLS tersebut. Selain itu, menurut Mitasari (2017) bahwa kegiatan literasi di SDN Gumpang 1 berperan dalam memotivasi siswa untuk menyukai kegiatan membaca dan menulis, hambatan pihak sekolah dalam meningkatkan minat membaca dan menulis siswa kelas atas melalui kegiatan literasi yakni kedisiplinan, pembiasaan siswa, minat dan metode yang diterapkan guru serta upaya pihak sekolah untuk meningkatkan minat membaca dan menulis siswa kelas atas melalui kegiatan literasi adalah pihak sekolah selalu memberikan sosialisasi mengenai kegiatan literasi, mengenalkan pentingnya menumbuhkan minat dan mengadakan lomba-lomba sebagai wadah siswa untuk berpartisipasi aktif.

Dari berbagai penelitian diatas, menerangkan bahwa gerakan literasi sekolah dengan membudayakan literasi di sekolah sangatlah penting. Gerakan literasi sekolah (GLS) adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan  sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis dan atau berbicara (Faizah, 2016). Kompetensi literasi menjadikan manusia secara fungsional mampu membaca, menulis terdidik secara cerdas dan menunjukkan apresiasi terhadap sastra (Alwasilah, 2012).  Upaya yang ditempuh untuk mewujudkan berupa pembiasaan membaca peserta didik. Pembiasaan ini dilakukan dengan kegiatan 15 menit membaca baik di awal, tengah atau sebelum berakhirnya pembelajaran. Apabila pembiasaan telah terbentuk di sekolah, maka diarahkan ke tahap pengembangan dan pembelajaran. Dalam pelaksanaannya, semua warga sekolah bersama-sama harus memiliki minat untuk membaca sehingga mampu pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan penjelasan diatas, literasi berperan penting dalam meningkatkan minat membaca siswa. Dengan literasi ini, siswa dapat memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas, sehingga tercipta generasi yang literat. Oleh sebab itu, penulis meneliti bagaimana penerapan budaya literasi dalam rangka meningkatkan minat membaca siswa.

Pembahasan

Literasi

Literasi diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis. Seseorang dikatakan literat apabila telah memiliki pengetahuan yang hakiki untuk diugnakan dalam setiap kegiatan yang menuntut fungsi literasi secara efektif di masyarakat sehingga dengan membada dan menulis dalam bermanfaat bagi dirinya sendiri dan masyarakat. Seperti yang dituangkan dalam Depdiknas (2004) literasi diartikan sebagaki keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan tidak untuk dapat sekedar hidup dari segi finansial, tetapi juga sebagai suatu yang dibutuhkan untuk mengembangkan diri secara social, ekonomi, dan budaya dalam kehidupan modern.

Literasi merupakan kemampuan individu untuk menggunakan potensi dan kemampuan yang dimilikinya selain kemampuan baca tulis. Menurut National Institut for Literacy (UNESCO, 2006) literasi adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat. Literasi merupakan salah satu kegiatan 15 menit membaca buku non pelajaran sebelum waktu belajar dimulai. Hal ini tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 tahun 2015 yang berbunyi “pembiasaan adalah serangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa, guru dan tenaga kependidikan yang bertujuan untuk menumbuhkan kebiasaan yang baik dan membentuk generasi berkarakter positif”. Dengan membiasakan hal baik pada siswa maka akan menjadikan mereka terbiasa melakukan hal tersebut. Dengan kegiatan membaca setiap hari maka siswa akan menjadi terbiasa untuk membaca baik di sekolah, rumah maupun lingkungan sekitar.

Minat Baca

Minat merupakan kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, gairah, dan keinginan (Depdiknas, 2001). Dengan sesuatu yang ditimbulkan baik dari dalam maupun luar diri seseorang tentang suatu kete rtarikan akan termotivasi dalam mencapai keberhasilan seseorang. Minat ditandai dengan rasa suka dan terkait dengan suatu hal aktivitas atau kegiatan tanpa ada yang menyuruh. Ini berarti bahwa minat terjadi karena adanya penerimaan akan suatu hubungan antar diri sendiri dengan sesuatu diluar dirinya. Menurut Noeng Muhajir, minat adalah kecenderungan afektif (perasaan, emosi) seseorang untuk membentuk aktifitas. Disini minat melibatkan kondisi psikis (kejiwaan) seseorang (Dwi Sunar Prasetyono, 2008). Senada dengan Crow and Crow (Dwi Sunar Prasetyono, 2008) menjelaskan minat merupakan kekuatan pendorong yang menyebabkan seseorang menaruh perhatian pada orang lain atau objek lain.

Minat berarti sesuatu rasa yang membuat kita termotivasi untuk melakukan sesuatu sehingga kita bisa menjadikan kegiatan itu menjadi suatu kebiasaan atau hobi. Apabila seseorang telah tertarik dengan hal tersebut maka akan timbul kepuasan pada dirinya. Dari beberapa pendapat diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa minat adalah suatu rasa lebih suka atau tertarik pada suatu kegiatan tanpa ada paksaan dan diikuti rasa senang.

Membaca merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa yang diajarkan di sekolah. Membaca adalah kegiatan reseptif yang berbentuk penyerapan. Dalam kegiatan membaca, pikiran dan mental dilibatkan secara aktif tidak hanya aktivitas fisik saja. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:83), membaca merupakan suatu kegiatan melihat dan memahami isi dari apa yang tertulis. Membaca juga merupakan suatu proses yang hendak disampaikan penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. Dengan kata lain, membaca adalah menarik suatu kesimpulan dari pemahaman kata-kata yang terkadung di dalam bahasa tulis.

Membaca merupakan suatu kesatuan kegiatan yang terpadu yang mencakup beberapa kegiatan seperti mengenali huruf dan kata-kata, dan menghubungkan dengan bunyi serta maknanya, serta menarik kesimpulan mengenai maksud bacaan (Akhadiah, 1991). Ini berarti membaca adalah suatu proses yang dilakukan untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis.

Berdasarkan dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa membaca merupakan kegiatan/aktivitas yang mencakup semua kegiatan dan melibatkan panca indera. Dengan membaca kita memperoleh pesan atau informasi dari penulis.

Minat membaca tidak bisa muncul begitu saja tetapi melalui proses yang panjang dan berkesinambungan. Minat membaca adalah pengertian dan keinginan untuk membaca dan memperoleh informasi demi kepuasan sendiri. Menurut Farida Rahim (2011), mengemukakan bahwa minat baca ialah keinginan yang kuat dan diwujudkan dengan kesediaan untuk mendapat bahan bacaan dan kesadaran untuk membacanya.

Dari berbagai pengertian diatas, minat baca dapat diartikan suatu rasa suka atau tertarik untuk melakukan kegiatan membaca yang didorong dari dalam diri sendiri sehingga menjadi suatu kebiasaan.

Budaya Literasi dalam Meningkatkan Minat membaca Siswa

Membaca merupakan suatu pekerjaan atau profesi. Menurut Steve Stahl yang dilkutip oleh John W Santrok membaca dapat membantu siswa dalam mengenali kata secara otomatis, memahami teks, dan termotimotivasi untuk membaca dan mengapresiasi bacaan. Factor-faktor yang mempengaruhi minat baca siswa (Parida, 2012) adalah sebagai berikut:

  1. Faktor Fisiologis

Factor fisiologis mencakup kesehatan fisik, perkembangan neurologis dan jenis kelamin. Apabila kelelahan anak akan sulit untuk belajar, terutama membaca. Hal-hal yang ada dalam psikologis adalah motivasi, tingkat keterlibatan tekanan serta sosio dan emosi.

  • Faktor Intelektual

Intelegensi anak tidak sepenuhnya mempengaruhi berhasil atau tidaknya anak dalam membaca, karena ada hubungan yang positif antara IQ rendah dan rata-rata remedial membaca.

  • Faktor Lingkungan

Factor lingkungan mempengaruhi kemampuan membaca anak karena mencakup latar belakang dan pengalaman anak dirumah. Penyediaan buku bagi keluarga juga menjadi factor penting dalam mengembangkan minat membaca siswa.

Ciri-ciri seorang anak mempunyai minat baca tinggi yaitu sebagai berikut:

  1. Senantiasa berkeinginan untuk membaca
  2. Senantiasa bersemangat saat membaca
  3. Mempunyai kebiasaan dan kontinuitas dalam membaca
  4. Memanfaatkan setiap peluang waktu untuk membaca
  5. Memiliki buku bacaan
  6. Mencari bahan bacaan, baik di perpustakaan maupun rumah
  7. Memiliki tujuan ketika membaca
  8. Mencatat atau menandai hal penting dalam membaca
  9. Memiliki kesadaran bahwa membaca berarti telah belajar
  10. Mendiskusikan hasil bacaan

Dalam membaca ada beberapa tahapan dalam perkembangan membaca seperti yang dikutip oleh Mercer, yaitu:

  1. Kesiapan membaca
  2. Membaca permulaan
  3. Keterampilan membaca cepat
  4. Membaca luas
  5. Membaca yang sesungguhnya

Dalam meningkatkan minat baca siswa, ada beberapa usaha yang dapat dilakukan, yaitu:

  1. Tumbuhkan minat baca sejak dini, dengan bermain sambil membaca
  2. Sediakan buku-buku yang diminati oleh anak
  3. Jangan memaksa anak untuk selalu membaca
  4. Letakkan buku yang disukai oleh anak di tempat yang mudah dijangkau oleh anak, atau sudut ruang dalam kelas, perpustakaan, atau taman sekolah
  5. Pilih buku yang mendidik anak kepada hal-hal yang baik
  6. Biasakan anak saling tukar buku satu sama lain, seperti meminjam di perpustakaan
  7. Jangan pernah menyerah mengupayakan sesuatu untuk anak.

Penutup

Minat baca pada siswa akan mudah dikembangkan dengan menerapkan budaya literasi pada sekolah dengan memberikan kesempatan menggunakan waktu dan ruang pada siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat sudut baca, mengajak siswa untuk membawa buku kesukaan, bertukar buku dengan teman, atau dengan cara lain. Guru dapat memfasilitasi siswa sehingga siswa akan tumbuh minat baca mereka.

Daftar Pustaka

Akhadiah, S. 1991. Bimbingan kemampuan menulis bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Alwasilah, A.C. 2012. Pokoknya rekayasa literasi. Bandung: PT Kiblat Buku Utama.

Depdiknas. 2001. Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah, buku 1 konsep dan pelaksanaan. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

Depdiknas. 2004. Pendekatan kontekstual: contextual teaching and learning (CTL). Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama

Faizah, Dewi, dkk. 2016. Panduan gerakan literasi sekolah di sekolah dasar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Faradina, N. 2017. Peran program gerakan literasi sekolah terhadap minat membaca siswa di SD Islam Terpadu Muhammadiyah. Jurnal Hanata Widya. Vol 6(8). Klaten: Universitas Negeri Yogyakarta.

Farida, H. 2007. Pengajaran membaca di Sekolah Dasar. Ed.2. Jakarta: Bumi Aksara

Mitasari, S.L. 2017. Peran kegiatan literasi dalam meningkatkan minat membaca dan menulis siswa kelas atas di SDN Gumpang 1. Surakarta: Universitas Muhammadiyah.

Parida, A. 2012. Studi kasus penggunaan perpustakaan dalam meningkatkan minat baca siswa sekolah An-Nisaa Pondok Aren Bintaro. Skripsi. Jakarta: FAH UIN Syarif Hidayatullah.

Prasetyono, D,S. 2008. Rahasia mengajarkan gemar membaca pada anak sejak dini. Yogyakarta: Think.

UNESCO. 2006. Education for all global monitoring report 2006. Paris: UNESCO

http://www.unesco.org/education/GMR2006/full/chapt6_eng.pdf diakses 16 Januari 2019


[1] Widyaiswara Ahli Madya pada Balai Diklat Keagamaan Palembang. Email: sribdk@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.