PENDIDIKAN SEKSUAL ANAK DARI SUDUT PSIKOLOGI

0
41

PENDIDIKAN SEKSUAL ANAK DARI SUDUT PSIKOLOGI

Oleh: Dr. H. Nawawi Nurdin, M.Pd.I

Widyaiswara Utama

 

Pendidikan seksual anak merupakan salah satu aspek dari sistem pendidikan anak,,  yang mempunyai banyak aspek, yang masing-masing aspek mempunyai hubungan fungsional, yang saling mempengaruhi,  yang tidak terpisahkan, yaitu :

  1. Pendidikan Tauhid (meng-Esa-kan Allah Swt) : S.31/Lukman 13
  2. Pendidikan Ibadah : sholat (S.31/Lukman 17), baca Al Qur’an.
  3. Pendidikan Akhlaq : hormat dan taat kepada orang tua (S.31/Lukman 14-15)
  4. Pendidikan Fisik : makanan yg halal & bergizi (S.2/Baqarah 168), pakaian (S.2: 233)
  5. Pendidikan Sosial : persaudaraan (S.49/Hujrot 10), pemaaf (S.3/Ali imran 34) dll

 

Pendidikan seksual adalah upaya pengajaran,penyadaran dan penerangan tentang masalah-masalah seksual yang diberikan kepada anak sejak ia mengerti masalah-masalah yang berkenaan dengan seks, naluri dan perkawinan.

Pendidikan seksual harus mendapatkan perhatian secara khusus dari para pendidik, orang tua yang dilaksanakan berdasarkan fase-fase perkembangan.

 

  1. FASE-FASE PERKEMBANGAN PERILAKU MANUSIA.

Sigmund Freud membagi fase-fase perkembangan perilaku manusia menjadi L

  1. Fase Pra-genital :
    1. Fase oral = 0 – 1 th
    2. Fase anal = 1 – 3 th
    3. Fase falix = 3 – 5 th
  2. Fase Laten = 5 –  12 th.
  3. Fase Pubertas = 13 – 20 th.
  4. Fase Genital = di atas 20 th.

 

Prof.Dr. Abdullah Nasih Ulwan dalam bukunya Tarbiyatul Auladil Islamiyah (pendidikan anak dalam Islam) membagi fase perkembangan :

  1. Fase Tamyiz :umur 7 – 10 tahun atau masa pra pubertas : ajarkan anak etika meminta ijin dan memandang sesuatu.
  2. Fase Murohaqoh : umur 10 – 14 tahun : anak dijauhkan dari berbagai rangsangan seksual.
  3. Fase Baligh umur 14-16 tahun : ajarkan anak tentang thaharoh/bersuci dan adab berhubungan dalam rumah tangga
  4. Fase Pemuda umur 17 tahun ke atas : ajarkan anak adab thoharoh/bersuci secara menyeluruh dan persiapan nikah.

 

Beliau menjelaskan sebagai berikut :

  1. Adab meminta ijin = pembiasaan anak selalu meminta ijin kepada orang tua terutama pada situasi-situasi tertentu, S.24/Nur 58-59:
    1. Waktu sebelum sholat subuh.
    2. Waktu sesudah sholat dhuhur.
    3. Waktu sesudah sholat isya.
  2. Adab memandang = diberikan sejak anak masih dalam keadaan Tamyiz (7-10 th), anak dapat mengetahui dan mengenal masalah-masalah yang halal dan haram, sehingga ketika anak sudah mendekati masa Baligh (14-16 th) dan telah mencapai masa Taklif (masa terbebani syar’i) maka ia telah dibekali dengan akhlaq yang lurus dan mantap.

Firman Allah S.4/An Nisa1 : Allah menciptakan laki-laki dan perempuan.

S.23/Al Mukminun 5 : menjaga farji/kemaluannya.

HR Tarmidzi, Rasul bersabda : ”… tutuplah pahamu, karena paha itu aurat.”

HR Tarmidzi, Nabi bersabda : ” Janganlah seorang lelaki memandang aurat lelaki lainnya dan seorang wanita memandang aurat wanita lainnya.”

 

  1. Menghindarkan anak dari rangsangan seksual dan masalah yang dapat merusak akhlaq.

Hal ini dilakukan ketika anak mencapai masa peralihan (10 th – baligh), S.24/Nur 31 :

  • menahan pandangan,
  • memelihara farji (kemaluan)
  • tidak menampakkan perhiasan kecuali yang biasa dipakai/tampak.
  • menutup kain krudung ke dadanya
  • jangan menghentakkan kaki agar diketahui perhiasaan yang disembunyikan.

HR Al Hakim dan Abu Dawud : ”Suruhlah anakmu sholat diumur 7 tahun dan pukullah diumur 10 tahun bila tidak mengerjakan sholat,dan pisahkan tempat tidurnya.”

  1. Mengajarkan anak tentang hukum-hukum Agama pada masa pubertas dan masa baligh.

Ketika anak sudah memasuki usia pubertas (12-15 th) maka pendidik dan orang tua harus berterus terang dan menjelaskan apabila keluar mani karena mimpi basah pada laki-laki dan perempuan menstruasi. Karena ia telah baligh dan mukallaf/taklif yaitu dibebani syar’i dan ia berkewajiban memikul tanggung jawab seperti orang dewasa.

 

  1. Di masa pemuda (di atas 16 th) = anak diberikan pelajaran tentang adab melakukan bersuci, karena ia akan memasuki masa perkawinan dan hubungan pasutri.

 

  • TIPE PERILAKU ANAK MENURUT AL-QUR’AN.
  1. Tipe ’Aduwwun (musuh) : S.64/At Taghabun 14.
  2. Type Fitnah (cobaan) : S.64/At Taghabun 15.
  3. Type Zinatuddun-ya (hiasan dunia) : S.18/Al Kahfi 46
  4. Type Qurrata a’yun (penyejuk hati) : S.25/Al Furqan 74.

 

  1. MACAM-MACAM POLA ASUH ORANG TUA.
  2. Pola Pengasuhan Otoriter.
  3. Pola Pengasuhan Otoritatif.
  4. Pola Pengasuhan Permissive Indefferent.
  5. Pola Pengasuhan Permissive indulgent.
  6. BEBERAPA SOLUSI MENCEGAH ANAK DARI KEJAHATAN SEKSUAL.
  7. Bekali anak dengan pemahaman pentingnya menjaga diri, bahwa dirinya sangat berharga, tidask sembarang orang dapat menyentuhnya.
  8. Berikan pemahaman tentang aurat anak laki-laki (dari pusar sampai dengan lutut) dan aurat perempuan (semua anggauta tubuh kecuali telapak tangan dan muka).
  9. Orang tua menjadi teladan dalam berpakaian; jangan membiasakan diri hanya memakai handuk saja saat keluar dari kamar mandi dan dilihat si anak.
  10. Berikan underwear rule pada anak, yaitu aturan anak dalam berpakaian, dimana dan kapan dan pada siapa boleh membuka pakaian dalam. Jangan biasakan anak usia balita hanya memakai pakaian dalam saja walaupun di rumah, meski sedang bersama orang tua dan anggauta keluarga.
  11. Tekankan pada anak agar berhati-hati terhadap sentuhan-sentuhan dari orang lain, dan ajari perbedaan-perbedaan sentuhan :
    1. Sentuhan yang baik = dari atas bahu dan bawah lutut.

Sentuhan yang membingungkan = dari bawah bahu sampai atas lutut.

  1. Sentuhan yang buruk = pada bagian-bagian yang ditutupi pakaian dalam.

Dan ajari anak bagaimana harus bersikap bila menerima sentuhan buruk dan membingungkan, meskipun sentuhan itu dari orang-orang terdekat,

  1. Awasi/konrol anak dengan ketat dalam penggunaan gadget, alat komunikasi dan elektronik lainnya dari pornografi dan berikan anak dengan permainan edukatif & buku-buku cerita.

 

Dr. Donald Helton, ahli bedah syaraf dari Methodist Speciality and Transplant Hospital San Antonio, berpendapat:

Bahwa kerusakan otak akibat ketagihan pornografi, lebih sulit untuk disembuhakan dibandingkan dengan kecanduan makan atau obisitas dan kecanduan narkoba. Pada umumnya otak para pecandu pornografi akan memproduksi dopamine dan endorphin yang merupakan bahan kimia otak yang menciptakan rasa senang dan perasaan lebih baik.

Bila pornografi sudah menjadi ketagihan,otak akan mengalami hyper stimulating (rangangan yang berlebihan). Membiarkan anak menikmati pornografi akan mengakibatkan fatal, yaitu menyusutnya  jaringan otak. Sebab otak  terus menerus bekerja dan lambat laun otak akan mengalami pengecilan dan rusak permanen. Permanen dan tidaknya kerusakan tersebut tergantung pada intervensi medis. Kecanduan pornografi dapat menyebabkan penurunan dan interaksi sosial dengan lingkungan serta sulit konsentrasi.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.