PENDIDIKAN NILAI BAGI PESERTA DIDIK DI SEKOLAH

0
41

Oleh: Riduwan

 

Abstrak

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), serta lajunya arus informasi dan komunikasi dewasa ini melahirkan pergeseran nilai di berbagai lini kehidupan generasi baik tua maupun muda, karena itu pembinaan nilai dirasa semakin penting sebagai salah satu alat pengendali bagi tercapainya tujuan pendidikan nasional. Pendidikan nilai yang diantara tujuannya menjadikan manusia berbudi pekerti serta membantu peserta didik mengalami dan menempatkan nilai-nilai secara integral dalam kehidupan mereka, disinyalir sangat tepat disampaikan di sekolah sebagai wadah pembinaan generasi. Pendidikan nilai dilaksanakan secara terintegrasi dalam setiap mata pelajaran. Dan dalam mengimplementasikan pendidikan nilai di sekolah diperlukan langkah-langkah dan metode yang tepat, sehingga akan membuahkan hasil yang maksimal yang ditandai dengan baiknya budi pekerti peserta didik, baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan masyarakat tempat tinggalnya.

 

Key Words: pendidikan, nilai.

 

Pendahuluan

Sejalan dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), serta lajunya arus informasi dan komunikasi sekarang ini, pembinaan nilai dirasa semakin penting sebagai salah satu alat pengendali bagi tercapainya tujuan pendidikan nasional secara utuh.

 Perkembangan iptek yang begitu pesat nyaris menghilangkan batas ruang dan waktu sehingga dunia seakan menyatu dalam suatu kampung global (global village). Pertukaran informasi termasuk nilai antar bangsa langsung secara cepat dan penuh dinamika, sehingga mendorong terjadinya proses perpaduan nilai, kekaburan nilai, bahkan terkikisnya nilai-nilai asli yang menjadi identitas komunitas yang bersifat sakral, kini tengah berada di persimpangan jalan.

Dampak dari kemajuan zaman tersebut pada gilirannya akan melahirkan pergeseran nilai, baik nilai budaya, adat istiadat, maupun nilai agama, yang kini gejalanya tampak di kalangan anak muda bahkan orang tua,  yang menunjukkan bahwa mereka telah mengabaikan nilai dan moral dalam tata krama pergaulan yang sangat diperlukan dalam suatu masyarakat yang beradab (civil society). Mereka bebas berbuat apa saja yang mereka kehendaki, dimulai dari mengkonsumsi narkoba, pembunuhan terencana, perkelahian massal, penjarahan, pemerkosaan, pembajakan kendaraan umum, penghujatan, perusakan tempat ibadah, lembaga pendidikan, kantor-kantor pemerintahan dan sebagainya, yang menimbulkan korban jiwa dan korban kemanusiaan. Lebih lanjut Susanto (1998) menyebutkan bahwa dalam era globalisasi yang terbuka ini, terpaan informasi sangat memungkinkan seseorang mengadopsi nilai-nilai, pengetahuan, dan kebiasaan luar lingkungan sosialnya yang boleh jadi dapat mempengaruhi pola pikir dan pola tindak yang selama ini dimilikinya, yang kadang kala bisa melahirkan aleanasi dengan segala implikasinya.

Akhirnya kemerosotan nilai yang seharusnya dimiliki,  dihayati dan dijunjung tinggi oleh anak bangsa menjadi tak terelakkan. Nilai-nilai yang dulu dipegang kini bergeser dari kedudukan dan fungsinya serta digantikan oleh keserakahan, ketamakan, kekuasaan, kekayaan dan kehormatan. Dengan bergesernya fungsi dan kedudukan nilai itu, kehidupan bermasyarakat dan berbangsa dirasakan semakin hambar dan keras, rawan terhadap kekerasan, kecemasan, bentrok fisik (kerusuhan) dan merasa tidak aman. Dekadensi moral juga tercermin dalam sikap dan perilaku masyarakat yang tidak dapat menghargai orang lain, hidup dan perikehidupan bangsa dengan manusia sebagai indikator harkat dan martabatnya. Nilai-nilai moral menempatkan hak asasi manusia (HAM) sebagai ukuran pencegahan pelanggaran-pelanggaran berat, seperti pembunuhan, pemerkosaan, perkelahian, penculikan, pembakaran, perusakan dan lain-lain.

Dengan demikian, salah satu problematika kehidupan berbangsa yang terpenting di abad ini adalah nilai moral dan akhlak. Kemerosotan nilai-nilai moral dan akhlak yang melanda masyarakat kita saat ini tidak lepas dari ketidakefektifan penanaman nilai-nilai moral, baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat secara keseluruhan.

Sekolah sebagai agen of change (agen perubah) dalam hal ini berperan penting dalam membina generasi harapan dalam kaitannya dengan pendidikan nilai ini, sehingga mereka memiliki moral dan akhlak yang begitu diperlukan di tengah masyarakat Indonesia yang berperadaban.

Pembahasan

  1. Pengertian Pendidikan Nilai

Secara bahasa pendidikan diartikan dengan perbuatan (hal, cara dan sebagainya) mendidik; dan berarti pula pengetahuan tentang mendidik, atau pemeliharaan (latihan-latihan dan sebagainya) badan, batin dan sebagainya. Dalam bahasa Jawa, penggulawentah berarti mengolah, jadi mengolah kejiwaannya ialah mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak seorang anak. Dalam bahasa Arab pendidikan pada umumnya menggunakan kata tarbiyah (Darajat, 2000).

Adapun pengertian pendidikan menurut istilah banyak sekali formulasi yang dikemukakan oleh para ahli. Zamroni (2001) misalnya, mendefinisikan pendidikan sebagai suatu proses menanamkan dan mengembangkan pada diri peserta didik pengetahuan tentang hidup, sikap dalam  hidup agar kelak ia dapat membedakan barang yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, sehingga kehadirannya di tengah-tengah masyarakat akan bermakna dan berfungsi secara optimal. Sementara itu dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Pasal 1 UU RI Nomor 2 Tahun 2003), di dalamnya dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif  mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan , pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara.

Dari berbagai definisi yang dikemukakan oleh para ahli maka diketahui bahwa pendidikan merupakan usaha atau proses yang ditujukan untuk membina kualitas sumber daya manusia seutuhnya agar ia dapat melakukan perannya dalam hidupnya secara fungsional dan optimal.  Intinya adalah bahwa pendidikan itu  adalah menolong manusia  di tengah-tengah kehidupan manusia agar ia bisa bermanfaat bagi manusia lainnya.

Selanjutnya kata “nilai”, secara bahasa dapat diartikan sebagai hal-hal yang penting atau berguna bagi kemanusiaan (Poewadarminta,1984). Nilai padanan kata dalam bahasa Inggerisnya adalah “value”. Sementara value sendiri artinya “quality of being useful or desirable” (A.S. Hornby,1982). Nilai atau value, berasal dari bahasa Latin valare atau bahasa Prancis Kuno valoir yang artinya nilai. Sebatas anti denotatifnya, valare, valoir, value atau nilai dapat dimaknai sebagai harga.

Baier dalam Mulyana (2004) menyatakan bahwa kata “nilai” sering dirumuskan dalam konsep yang berbeda, tergantung sudut pandang para ahli yang mendefinisikannya. Seorang sosiolog misalnya mendefinisikan nilai sebagai suatu keinginan, kebutuhan dan kesenangan seseorang sampai pada sanksi dan tekanan dari masyarakat. Seorang psikolog akan mengartikan nilai sebagai suatu kecenderungan perilaku yang berawal dari gejala-gejala psikologis, seperti hasrat, motif, sikap, kebutuhan dan keyakinan yang dimiliki secara individual sampai pada tahap wujud tingkah lakunya yang unik. Demikian pula seorang antropolog melihat nilai sebagai “harga “ yang melekat pada pola budaya masyarakat seperti dalam bahasa, adat kebiasaan, keyakinan, hukum dan bentuk-bentuk organisasi sosial yang dikembangkan manusia. Perbedaan pandangan para ahli dalam memahami nilai ini berdampak pada perumusan definisi nilai.

Berikut ini dikemukakan beberapa definisi para ahli tentang nilai yang masing-masing memiliki tekanan yang berbeda. Allport (Mulyana, 2004) mendefinisikan nilai sebagai sebuah keyakinan yang membuat seseorang bertindak atas dasar pilihannya. Sebagai seorang ahli psikologi kepribadian, Allport menyatakan bahwa nilai terjadi pada wilayah psikologis yang disebut keyakinan. Keyakinan merupakan wilayah psikologis tertinggi dari wilayah lainnya seperti hasrat, motif, sikap, keinginan dan kebutuhan. Oleh karena itu, keputusan benar-salah, baik-buruk, indah-tidak indah pada wilayah ini merupakan hasil dari sebuah rentetan proses psikologis yang kemudian mengarahkan individu pada tindakan dan perbuatan yang sesuai dengan nilai pilihannya.

Kupperman (Mulyana,2004) menafsirkan nilai sebagai patokan normatif yang mempengaruhi manusia dalam menentukan pilihannya di antara cara-cara tindakan alternatif. Ia memberi penekanan pada norma sebagai faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku manusia. Sebagai seorang sosiolog, Kupperman memandang norma sebagai salah satu bagian terpenting dari kehidupan sosial. Oleh karena itu, salah satu bagian terpenting dalam proses pertimbangan nilai (value judgement) adalah pelibatan nilai-nilai normatif yang berlaku di masyarakat.

Sedangkan Kluckhohn (Brameld,1957) mendefinisikan nilai sebagai konsepsi (tersirat atau tersurat, yang sifatnya membedakan individu atau ciri-ciri kelompok) dari apa yang diinginkan, yang mempengaruhi pilihan terhadap cara, tujuan antara dan tujuan akhir tindakan. Menurut Brameld, pandangan Kulchohn tersebut memiliki banyak implikasi terhadap pemaknaan nilai-nilai budaya dan sesuatu itu dipandang bernilai apabila dipersepsi sebagai sesuatu yang diinginkan. Makanan, uang, rumah, memiliki nilai karena memiliki persepsi sebagai sesuatu yang baik dan keinginan untuk memperolehnya memiliki mempengaruhi sikap dan tingkah laku seseorang. Namun tidak hanya materi yang memiliki nilai, gagasan dan konsep juga dapat menjadi nilai, seperti: kejujuran, kebenaran dan keadilan. Kejujuran misalnya, akan menjadi sebuah nilai bagi seseorang apabila ia memiliki komitmen yang dalam terhadap nilai itu yang tercermin dalam pola pikir, tingkah laku dan sikap.

Dari berbagai definisi di atas, Mulyana (2004) menyederhanakan definisi nilai sebagai suatu rujukan dan keyakinan dalam menentukan pilihan. Menurutnya, definisi ini dapat mewakili definisi-definisi yang dipaparkan di atas, walaupun ciri-ciri spesifik seperti norma, keyakinan, cara, tujuan, sifat dan ciri-ciri nilai tidak diungkapkan secara eksplisit.

Sejalan dengan definisi itu maka hakikat dan makna nilai adalah berupa norma, etika, peraturan, undang-undang, adat kebiasaan, aturan agama dan rujukan lainnya yang memiliki harga dan dirasakan berharga bagi seseorang dalam menjalani kehidupannya. Nilai bersifat abstrak, berada di balik fakta, memunculkan tindakan, terdapat dalam moral seseorang. muncul sebagai ujung proses psikologis, dan berkembang ke arah yang lebih kompleks.

Berdasarkan acuan di atas, secara rinci pendidikan dan nilai memang memiliki makna sendiri-sendiri, akan tetapi bila kedua kata tersebut disatukan maka akan melahirkan makna baru tentang pendidikan nilai. Ini berarti makna pendidikan nilai memicu banyak pengertian. Sastraprateja dalam Elmubarok (1993) memberikan definisi pendidikan nilai sebagai penanaman dan pengembangan nilai-nilai pada diri seseorang. Mardiatmaja (1986) menyatakan bahwa pendidikan nilai merupakan bantuan terhadap peserta didik agar menyadari dan mengalami nilai-nilai dan menempatkannya secara integral dalam keseluruhan hidupnya. Mulyana (2004) mengartikan pendidikan nilai sebagai penanaman dan pengembangan nilai-nilai pada diri seseorang. Nilai sebagai bantuan terhadap peserta didik agar menyadari dan mengalami nilai-nilai serta menempatkannya secara integral dalam keseluruhan hidupnya.

Dari beberapa definisi yang diungkapkan di atas, dapat dimaknai bahwa pendidikan nilai adalah proses bimbingan melalui suri tauladan pendidikan yang berorientasi pada penanaman nilai-nilai kehidupan yang di dalamnya mencakup nilai agama, budaya, etika, dan estetika menuju pembentukan pribadi peserta didik yang memiliki kecerdasan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian yang utuh, berakhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat dan negara. Dan para pakar di atas tampak sepakat bahwa konsep pendidikan nilai bukanlah kurikulum tersendiri yang diajarkan lewat beberapa mata pelajaran, akan tetapi mencakup seluruh proses pendidikan.Pendidikan nilai adalah ruh pendidikan itu sendiri, jadi dimana pun diajarkan pendidikan nilai akan muncul dengan sendirinya. Pendidikan nilai adalah nilai pendidikan (Sukanta:2007)

  1. Tujuan Pendidikan Nilai

Dalam Living Values Education (2004) dijelaskan bahwa tujuan pendidikan nilai adalah: “to help individual think about and reflect on different values and the practical implications of expressing them in relation to them selves, other, the community, and the world at large, to inspire individuals to choose their own personal, social, moral and spiritual values and be aware of practical methods for developing anf deepening them”.

Winecoff dalam Megawangi (1996) mengungkapkan bahwa tujuan pendidikan nilai adalah sebagai berikut: “Purpose of Values Education is process of helping students to explore exiting values through critical examination in order that they might raise of improve the quality of their thinking and feeling.” Berikutnya Lorraine dalam Megawangi (1996) pun berpendapat: “in the teaching learning of value education should emphasizing on the establishing and guiding student in internalizing and practing good habits and behaviour in their everyday life as a citizen and as a member of society.

 Kemudian Apnieve-UNESCO (1996) menyatakan bahwa tujuan pendidikan nilai adalah untuk membantu peserta didik dalam mengeksplorasi nilai-nilai yang ada melalui pengujian kritis sehingga mereka dapat meningkatkan atau memperbaiki kualitas berfikir dan perasaannya. Sementara itu, Hill dalam Mulyana (2004) meyakini bahwa pendidikan nilai ditujukan agar siswa dapat menghayati dan mengamalkan nilai sesuai dengan keyakinan agamanya, konsesus masyarakatnya dan nilai moral universal yang dianutnya sehingga menjadi karakter pribadinya.

Secara sederhana, Sauri (2002) melihat bahwa tujuan pendidikan nilai adalah menjadikan manusia berbudi pekerti. Hakam (2000) dan Mulyana (2004) menambahkan bahwa pendidikan nilai bertujuan untuk membantu peserta didik mengalami dan menempatkan nilai-nilai secara integral dalam kehidupan mereka.

Selanjutnya, ketika dikaitkan antara sikap dengan nilai, maka sesungguhnya nilai yang dimiliki seseorang dapat mengekspresikan mana yang lebih disukai mana yang tidak disukai. Karena itu dapat dikatakan bahwa nilai menyebabkan sikap. Dan nilai merupakan faktor penentu bagi pembentukan sikap. Tetapi jelas bahwa sikap seseorang ditentukan oleh banyak nilai yang dimiliki oleh seseorang.

Memahami dan mempelajari nilai akan lebih jelas bila kita juga mempelajari tentang watak nilai karena dengan memahami watak nilai ini seseorang akan mengetahui sesuatu yang berharga dalam kehidupan ini. Selain itu, dengan mempelajari nilai ini seseorang akan  mengetahui apa yang harus diperbuatnya untuk menjadi manusia dalam anti sebenarnya. Dengan demikian nilai itu sendiri mempunyai dasar pembenaran atau sumber pandangan dari berbagai hal seperti metafisika, teologi, etika, estetika, dan logika. Sasaran yang hendak dituju dalam pendidikan nilai adalah penanaman nilai-nilai luhur ke dalam diri peserta didik. Untuk mencapai tujuan dan sasaran secara efektif maka berbagai pendekatan, model dan metode dapat digunakan dalam proses pendidikan nilai. Ini penting, untuk memberi variasi kepada proses pendidikannya sehingga menarik dan tidak membosankan peserta didik.

Dalam proses pendidikan  nilai, tindakan-tindakan pendidikan yang lebih spesifik dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang lebih khusus. Seperti dikemukakan komite APEID (Asia and The Pasific Programme of Education Innovation for Development), pendidikan nilai secara khusus ditujukan untuk: (a) menerapkan pembentukan nilai kepada anak, (b) menghasilkan sikap yang mencerminkan nilai-nilai yang diinginkan, dan (c) membimbing perilaku yang konsisten dengan nilai-nilai tersebut.

Dengan demikian tujuan pendidikan nilai meliputi tindakan mendidik yang berlangsung mulai dari usaha penyadaran nilai sampai pada perwujudan perilaku-perilaku yang bernilai (UNESCO:1994).

  1. Penerapan Pendidikan Nilai Untuk Peserta Didik Di Sekolah

Penerapan program pendidikan nilai di negeri kita seolah tercerai dari induknya. Program pendidikan nilai dianggap mata pelajaran khusus (special matter) yang bersinggungan dengan agama, sosial, filsafat atau humaniora. Padahal dalam pandangan Islam, nilai itu merupakan inti (core) dari setiap materi pelajaran, dan nilai harus bisa mewarnai seluruh komponen, lingkungan, program, atau aktivitas persekolahan. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang kaffah, universal, dan menjadi rahmat bagi kehidupan dunia (rahmatan lil’alamin).

Dalam mengembangkan pendidikan nilai dibutuhkan beberapa langkah. Wibisono (2000) menyatakan langkah-langkah dalam mengimplementasikan pendidikan nilai dalam proses belajar mengajar yang berwawasan adalah sebagai berikut:

  1. Spiritual untuk meletakkan nilai-nilai etik dan moral serta re­ligiusitas sebagai dasar dan arah pengembangan sains. Character based approach perlu diterapkan dalam setiap mata pelajaran untuk mengembangkan sikap “saling menyapa”antara sains dan moral.
  2. Akademis untuk menunjukkan kaidah-kaidah normatif yang harus dipatuhi dalam menggali dan mengembangkan ilmu yang oleh Mer­ton kaidah-kaidah itu disebut sebagai universalisme, komunalisme, disinterestedness, dan skeptisisme yang terarah.
  3. Mondial untuk menyadarkan bahwa siapapun pada masa depan harus siap untuk menghadapi dialektikanya perubahan yang ber­langsung secara cepat dan mendasar, dan secara cepat dan tepat sanggup mengadaptasi diri dengan perobahan itu, untuk kemudian sanggup mencari jalan keluarnya sendiri dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi.

Untuk kepentingan proses belajar-mengajar seperti dimaksud di atas, model indoktriner dirasa tidak sesuai lagi. Metode pendidikan lebih menekankan pada pembelajaran (learning), bukan pengajaran (teaching) dan berlangsung dalam suasana demokratis, tidak ada pemaksaan, diberikan kesempatan untuk berpikir kritis dan bebas untuk menanggapi. Guru sebagai fasilitator serta mo­tivator peserta didik.

Dalam konteks melaksanakan pendidikan nilai, maka seharusnya pendidik menentukan lebih dulu visi, misi dan sasarannya yang mengandung muatan yang holistik. Karena peserta didik sebagai subyek didik bukan hanya sekedar mengetahui nilai dan sumber nilai, melainkan perlu dibimbing ke arah nilai-nilai luhur yang harus diaktualisasikan dalam kehidupan pribadinya, di dalam keluarga, masyarakat, negara dan percaturan dunia. Ia juga harus menyadari nilai orang lain, nilai masyarakat, nilai agama orang lain, bangsa lain serta mampu hidup arif dan bijak dalam perbedaan nilai tersebut sehingga tercipta kerukunan hidup dan perdamaian sejati. Dengan demikian pendidikan nilai yang juga identik dan memiliki esensi makna yang sama dengan pendidikan moral, pendidikan akhlak, pendidikan budi pekerti, pendidikan karakter dan sejenisnya merupakan keniscayaan yang tidak dapat ditawar dalam sistem pendidikan nasional Indonesia pada setiap jenjang, satuan dan jalur pendidikan baik formal, informal maupun nonformal.

Lebih lanjut Sauri (1996) menyatakan bahwa strategi dan teknik pendidikan nilai di sekolah yang efektif dapat dilakukan para pendidik (guru) dengan langkah-langkah berikut:

  1. Penataan fisik sekolah dan kelas yang kondusif untuk keberlangsungan belajar-mengajar.
  2. Adanya pembinaan keagamaan bagi guru/pendidik yang terpola dan terprogram, ada pelatihan bagi guru tentang metoda memasukan nilai melalui bidang studi.
  3. Penataan dan peningkatan kualitas kegiatan ekstra kurikuler keagamaan di sekolah
  4. Meningkatkan rasa tanggungjawab, disiplin, kebersamaan, persatuan dan kerjasamadalam menjalankan aktivitas persekolahan, serta menjalin hubungan harmonis dengan sekolah atau lembaga lain.
  5. Guru tampil sebagai sosok yang cerdas secara Intelektual (IQ), Emosional (EQ) dan Spriritual (SQ).
  6. Di antara guru lahirnya kebiasaan untuk berdiskusi, peningkatan wawasan (insight), informasi tentang ilmu umum dan agama di lingkungan tempat guru bekerja
  7. Istiqomah untuk beramal saleh, dan memberikan keteladanan kepada para siswa.
  8. Mebudayakan ucapan salam di lingkungan sekolah, dan lantunan ayat-ayat Al-Quran melalui radio atau pengeras suara sebelum pelajaran dimuali.
  9. Adanya program BP/BK yang berbasis nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan.

Kemudian secara garis besar, pembelajaran nilai di persekolahan menurut Sauri (1996) dapat diaktualisasikan melalui metode berikut:

  1. Metode Dogmatik; metode untuk mengajarakn nilai kepada peserta didik dengan jalan menyajikan keseluruhan nilai-nilai yang harus diterima oleh peserta didik apa adanya, tanpa mempersoalkan hakikatnya.
  2. Metode Deduktif; adalah proses berfikir dari yang umum ke yang khusus. Dengan kata lain, nilai diajarkan dan diuraikan berangkat dari seperangkat kode etik nilai unk dipahami oleh peserta didik.
  3. Metode Induktif: adalah proses berfikir dari yang khusus ke yang umum. Artinya, nilai diajarkan kepada siswa bermula dari sejumlah kasus-kasus yang terjadi di masyarakat, kemudian ditarik dan diambil kesimpulannya.
  4. Penggabungan metode Induktif dan deduktif. Perolehan ilmu pengetahuan, tidak akan terlepas dari proses berfikir deduktif dan induktif. Penggabungan metode berfikir deduktif dan induktif akan membentuk proses berfikir yang kuat, dan berusaha agar kebenaran dapat dicapai seoptimal mungkin. Penggabungan kedua metode ini memiliki kesamaan dengan Metode subjektivisme dan objektivisme. Dalam hal ini subjektivisme dapat lahir dari pemikiran filsafat (segudang konsep, teori), sedangkan objektivisme ditempuh melalui ilmu pengetahuan (realitas). Edmund Husserl (Sumaryono:1994) sebagai pendiri aliran fenomenologi modern mengatakan ”kebenaran hakiki kan tercapai melalui kombinasi subjektivisme total dan objektivisme total”. Dengan kata lain, kebenaran dapat ditempuh melalui unifikasi pemikiran para filosof dan ilmuan.

Disamping itu, untuk mewujudkan masyarakat sekolah yang beradab, berbudi, menjunjung tinggi nilai, harus didukung oleh budaya lingkungan (sekolah) yang berbasis nilai. Adapun teknik untuk mewujudkan budaya sekolah berbasis nilai melalui tahapan berikut:

  1. Adanya kesadaran bersama akan pentingnya nilai (kesadarn bersama itu mencakup semua pihak; kepala sekolah, guru, karyawan, peserta didik, orang tua, dan masyarakat sekitar).
  2. Adanya komitmen, penghayatan, dan aktualisasi nilai yang dilakukan secara bersama-sama di lingkungan sekolah.
  3. Memiliki sistem evaluasi yang dapat diandalkan (bisa berupa mingguan, bulanan, dan tahunan) untuk meningkatkan kualitas budaya sekolah berbasis nilai. Di samping itu, evaluasi juga sebagai sarana untuk melahirkan ide-ide inovatif dengan menggali teknik baru yang sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah.

Adapun langkah-langkah membangun sekolah yang kondusif sebagai berikut;

  1. Memahami kondisi permasalahan sekolah dan masyarakat, mengetahui penyebabnya, dan menciptakan solusi untuk membangun budaya sekolah.
  2. Untuk membangun sekolah diperlukan: (1) Adanya pembekalan untuk meningkatkan kualitas guru, adanya kesamaan visi misi dalam merealisasikan pendidikan. (2) Pada tataran praksisnya, harus ada komitmen bersama yang terumuskan secara jelas, sederhana dan operasional. Di samping itu bentuk komitmen juga bisa dievaluasi untuk melahirkan komitmen baru yang lebih sesuai dengan lingkungan sekolah.
  3. Memiliki orientasi khusus, yakni terbentuknya budaya sekolah berbasis nilai, setiap orang yang ada di lingkungan sekolah mampu meresapi dan menghayati nilai-nilai kehidupan, terciptanya pola kehidupan di lingkungan sekolah yang berkualitas.
  4. Adanya tindak lanjut sebagai langkah untuk: (1) Menciptakan pembaharuan dan peneguhan, (2) menjaring keterlibatan orang tua dan masyarakat, agar orang yang berada diluar sekolah sekalipun ada rasa memiliki (sense of belonging), (3) terbentuknya bimbingan yang berkelanjutan, (4) terjalin kominukasi yang positif, (5) terbentuknya up date soft skill dan keterampilan hidup.
  5. Model dan pola evaluasi/penilaian pendidikan nilai di sekolah. Bagaimanakah model dan pola evaluasi/penilaian pendidikan nilai di sekolah? Model dan pola evaluasi terhadap pendidikan nilai di sekolah mencakup tiga ranah:
  6. Ranah Kognitif: Evaluasi pada ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari pengetahuan atau ingatan, pemahaman, serta analisis. Dalam hal ini, pendidik mengevaluasi peserta didiknya yang mencakup; pengetahuan, pemahaman, dan analisis mereka terhadap materi pelajaran.
  7. Ranah Afektif: Evaluasi pada ranah afektif berkenaan dengan penerimaan (receiving/attending: emoting & feeling), jawaban atau respon siswa terhadap situasi dan kondisi ketika proses pembelajaran dan pengajaran berlangsung (responding: minding), valuing: spiritualizing/taking role, dan organizing: taking position.
  8. Ranah Psikomotor: Sedangkan evaluasi dalam bentuk ranah psikomotor yakni mencakup gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, dan kemampuan perseptual. Secara faktual, bentuk penilaian pendidikan hari ini masih pincang dalam pola mengembangkan potensi peserta didik. Penilaian terhadap peserta didik hanya ditinjau dari satu asfek saja yaitu asfek kognitif. Hal itu terbukti dengan adanya standar kelulusan yang diberlakukan pada Ujian Nasional (UN) yang hanya tertuju pada asfek kognitif semata.

 

Penutup

Sekolah merupakan ujng tombak dalam pembinaan pendidikan nilai bagi generasi bangsa. Dengan usaha maksimal dari berbagai pihak, baik itu dari keluarga maupun masyarakat secara umum terhadap penyelenggaraan pendidikan nilai di sekolah, maka diharapkan generasi bangsa ini akan bertambah baik sehingga terwujud warga negara yang berperadaban yang menjunjung tinggi nilai-nilai, baik nilai budaya, adat istiadat, maupun nilai agama yang dianut.

DAFTAR PUSTAKA

Brameld. 1957. Values and Teaching. Ohio: Charles E Merrill Publishing Co

Darajat, Z. 1991. Ilmu Jiwa Agama, Cet. Ke-14, Jakarta: Bulan Bintang

Djahiri, Kosasaih. 1992. Menelusuri Dunia Afektif untuk Moral dan Pendidikan Nilai Moral. Bandung: LPPMP.

Elmubarok, Z. 2008. Membumikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta.

Hornby, A.S. 1982. Teaching Your Children Values. New york: Simon Sand Chuster

Mardiatmadja, N. 1980. Perspektif Studi Sosial. Bandung : Alumni.

Megawangi, R. 2004. Pendidikan Karakter. Jakarta: IHF

Mulyana, Rohmat. 2004. Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta.

Poerwadarminta, WJS. 1984. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Sauri, S. 1996. Komunikasi Orang Tua Anak dalam Membina Nilai-nilai Agama Pada Keluarga. (Tesis). Bandung: PPS IKIP.

Sukanta. 2007. Dalam Sidang Penentuan Simbol dan Logo Pendidikan Nilai. Bandung: PPs UPI

Wibisono, Koento. 2000. “Strategi Integrasi Pengembangan Sain dan Moral pada Milinium III” (Perguruan Tinggi Sebagai Unsur Pendukungnya). Yogyakarta: ASMI Santa Maria, Seminar Sehari 5 Februari 2000.

Zamroni. 1992. Pengantar Pengembangan Teori Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.