PENDIDIKAN NASIONAL DAN TANTANGAN GLOBALISASI

0
153

Oleh: 

Lilis Suryani

 

 

 PENDAHULUAN

Diskusi mengenai fenomena kemanusiaan dan pemanusiaan tidak dapat dihindarkan dari pelaksanaan pendidikan baik dalam makna pendidikan formalpendidikan non formal maupun pendidikan informal , Definisi paling umum tentang pendidikan adalah proses pemanusiaan menuju lahirnya insan bernilai secara kemanusiaan. Dari sudut pandang sosiologi, pendidikan selain berperan menyiapkan manusia untuk memasuki masa depan, juga memiliki hubungan dengan transformasi sosial , begitu juga sebaliknya. Berbagai pola sistem pendidikan menggambarkan corak, tradisi, budaya sosial masyarakat yang ada. Maka yang penting diperhatikan adalah bahwa suatu sistem pendidikan dibangun guna melaksanakan amanah masyarakat” yaitu untuk menyalurkan anggota anggotanya ke posisi tertentu. Namun saat ini arus globalisasi yang telah merambah ke seluruh aspek kehidupan adalah hal tak terhindarkan. Bahkan bersama globalisasi, kosmopolitanisme , dianut sebagai semacam “ideologi” dan multikulturalisme semakin menjadi visi hidup berperadaban. Kenyataan ini mengharuskan adanya strategi strategi kependidikan melalui pranata pranata yang dikandungnya mampu mengakomodasi perubahan perubahan peradaban global. Arah perubahan ini mengacu kepada hal hal yang bersifat imperatif maupun empirik,

Dalam konteks ini, mau tidak mau, pranata pendidikan nasional harus melibatkan diri dalam pergumulan sosial, budaya , politik dan ekonomi secara umum. Hal ini penting supaya dunia pendidikan tidak mandul dan gamang dalam mengantisipasi era globalisasi yang mendera seluruh aspek kehidupan manusia dewasa ini. Fakta fakta di lapangan menunjukkan bahwa sistem pengelolaan pendidikan di Indonesia masih banyak menggunakan cara cara konvensional dan lebih menekankan pengembangan kecerdasan dalam arti yang sempit dan kurang memberi perhatian kepada pengembangan bakat kreatif peserta didik. Padahal kreativitas di samping bermanfaat untuk pengembangan diri anak didik juga merupakan kebutuhan akan perwujudan diri sebagai salah satu kebutuhan paling tinggi bagi manusia. Banyak usaha telah dilakukan oleh para pemikir, praktisi dan pelaku pendidikan untuk mengkonstruksinya sebagai amunisi memasuki masa depan. Dalam konteks ini kiranya nama A. Malik Fadjar bisa dinyatakan sebagai salah seorang pakar dan sekaligus praktisi pendidikan di negeri ini, gagasan -gagasannya dan kebijakan kebijakannya selalu mendapat respon positif bagi kemajuan pendidikan. Intelektualitas dan kapabilitasnya di bidang pendidikan bisa dilihat dari sejarah hidup yang diabdikannya pada lembaga lembaga pendidikan

yang dipimpinnya sehingga mencapai kualifikasi academic exellence dan competitive advantage di era global. Di antara pemikiran A. Malik Fadjar yang menarik adalah bahwa ia mengatakan, Saat ini lembaga , lembaga pendidikan

Islam harus mendisain model model pendidikan alternatif yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan sekarang ini. Muncul pertanyaan model

model pendidikan Islam yang bagaimana? Yang diharapkan dapat menghadapi

dan menjawab tantangan perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat baik sosial maupun kultural menuju masyarakat Indonesia baru.

idealistik, yakni pendidikan yang integralistik, humanistik, pragmatik dan

berakar pada budaya kuat. Dengan kata lain, pendidikan yang diinginkan Malik Fadjar adalah pendidikan yang tidak memisahkan intelektualitas dan sprtitualitas. Pendidikan juga pada dasarnya memberi kebebasan kepada manusia untuk mengembagkan potensi potensi yang ada pada dirinya. Di sisi lain ia juga menekankan bahwa pendidikan harus mampu memenuhi kebutuhan fisik manusia. Poin pemikiran penting yang ditegaskan Malik Fadjar adalah bahwa pendidikan harus mengacu kepada nilai nilai luhur dan budaya sebuah bangsa.

Sebagai seorang yang berlatar belakang guru , pemikiran Malik Fadjar dalam

Pendidikan tentu menarik untuk dikaji. Dia adalah satu-satunya orang yang pernah

mengurusi pendidikan pada dua instansi yang berbeda yaitu ketika menjabat

sebagai Menteri Agama pada tahun 1998 -1999, selanjutnya menjadi Menteri

Pendidikan Nasional pada tahun 2001-004. sebagai sosok yang bergelut di dunia pendidikan Indonesia, tentunya ia mengetahui akar persoalan pendidikan di negeri ini. Selama menjadi menteri, hususnya Menteri Pendidikan Nasional, banyak terobosan di bidang pendidikan yang telah digebraknya dalam rangka membawa pendidikan Indonesia ke arah yang lebih maju. Menurut jenisnya penelitian berikut termasuk jenis penelitian kepustakaan library researc Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan filosofis dan historis.

 

PEMBAHASAN

Pendidikan Nasional di Era Global Era globalisasi telah menjadi sebuah realitas yang harus dihadapi oleh masyarakat dan bangsa Indonesia. Perubahan yang berlangsung begitu cepat dan Perdebatan antara anti otonomi dan prootonomi perguruan tinggi tidak akan berkesudahan dan mencapai titik temu. Kelompok yang menentang otonomi perguruan tinggi berpandangan negara harus bertanggung jawab atas pendidikan dan menanggung pembiayaan perguruan tinggi negeri. Mereka mengkhawatirkan privatisasi perguruan tinggi akan menutup akses bagi calon mahasiswa dari kalangan tidak mampu dan fenomena komersialisasi ini justru akan menurunkan komitmen dan mutu pendidikan tinggi.

Ralitas pendidikan tinggi di Indonesia dianggap sebagai bagian dari gerakan  Neo liberalisme yang menjelma dalam kebijakan pasar bebas dan mendorong pemerintah untuk melakukan privatisasi berbagai aset pemerintah. Sementara itu, kebijakan privatisasi pendidikan tinggi ini nampaknya akan terus dijalankan. Dua alasan yang sering dikemukakan adalah ketidak mampuan pemerintah membiayai pendidikan tinggi dan kebutuhan untuk meningkatkan daya saing perguruan tinggi negeri. Namun tanpa perhitungan kuota yang tepat dan sistem penunjang aksesibilitas, elitisme dalam pendidikan tinggi akan mengancam proses demokratisasi di Indonesia. Pendidikan yang diharapkan menjadi jembatan bagi pemerolehan akses ekonomi, politik, hukum, dan budaya secara lebih merata .

menjadi roboh. Holistika Pemikiran Pendidikan Malik Fadjar . Dalam kaitannya dengan makna dan hakikat pendidikan , khususnya pendidikan Islam, Malik Fadjar menyatakan bahwa pendidikan Islam mempunyai pengertian:

pertama, jenis pendidikan yang pendirian dan penyelenggaraan didorong oleh hasrat dan semangat cita cita untuk mengejawantahkan nilai nilai Islam baik yang tercermin dalam nama lembaga maupun dalam kegiatan kegiatan yang diselenggarakannya. Di sisi lain, kata Islam ditempatkan sebagai sumber nilai yang akan diwujudkan dalam seluruh kegiatan pendidikannya. Kedua , jenis pendidikan yang memberikan perhatian dan sekaligus menjadikan ajaran Islam sebagai pengetahuan untuk program studi yang diselenggarakannya. Di sini, kata Islam ditempatkan sebagai bidang studi , sebagai ilmu dan diperlakukan seperti ilmu yang lain. Ketiga , jenis pendidikan yang mencakup kedua pengertian itu.

Disini, kata Islam ditempatkan sebagai sumber nilai, juga sebagai bidang studi yang ditawarkan lewat program studi. Dalam merumuskan hakikat pendidikan, Malik Fadjar menawarkan pendidikan idealistik , yakni pendidikan yang integralistik, humanistik, pragmatik dan berakar budaya kuat. Adapun pendidikan idealistik ini bisa dijelaskan sebagai berikut:

  1. Pendidikan integralistik; yakni mengandung komponen komponen kehidupan yang meliputi: Tuhan, manusia dan alam pada umumnya sebagai suatu yang integral bagi terwujudnya kehidupan yang baik, serta pendidikan yang enganggap manusia sebagai sebuah pribadi jasmani rohani, intelektual, perasaan dan individu sosial. Pendidikan yang integralistik diharapkan bisa menghasilkan manusia yang memiliki integritas tinggi, yang bisa bersyukur dan menyatu dengan kehendak Tuhannya, yang bisa menyatu dengan dirinya sendiri (agar tidak memiliki kepribadian belah), menyatu dengan asyarakatnya (agar bisa menghilangkan disintegrasi sosial), dan bisa menyatu dengan alam (agar tidak berbuat kerusakan).
  2. Pendidikan humanistik memandang manusia sebagai manusia; yakni makhluk ciptaan Tuhan dengan fitrah tertentu. Sebagai makhluk hidup, ia harus melangsungkan, mempertahankan, dan mengembangkan hidup. Sebagai makhluk batas antara hewan dan malaikat ia menghargai hak hak asasi manusia

seperti hak untuk berlaku dan diperlakukan dengan adil, hak menyuarakan  kebenaran, hak untuk berbuat kasih sayang dan lain sebagainya. Pendidikan yang humanistik diharapkan dapat mengembalikan hati manusia kepada fitrahnya sebagai sebaik baik makhluk, khayr ummah. Manusia “yang manusiawi” yang dihasilkan oleh pendidikan humanistik diharapkan bisa berfikir, merasa dan berkemauan, dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan yang bisa mengganti sifat individualistik, egoistik, egosentrik dengan sifat kasih sayang kepada sesama manusia, sifat ingin memberi dan menerima, sifat saling menolong, sifat ingin mencari kesamaan dan lain sebagainya.

  1. Pendidikan pragmatik

adalah pendidikan yang memandang manusia sebagai makhluk hidup yang selalu membutuhkan sesuatu untuk melangsungkan, mempertahankan dan mengembangkan hidupnya, baik bersifat jasmani, seperti pangan, sandang, papan, sek, kendaran dan sebagainya maupun bersifat rohani, seperti berfikir, merasa, aktualisasi diri, kasih sayang dan keadilan maupun kebutuhan sukmawi seperti dorongan untuk berhubungan dengan Adikodrati. Pendidikan pragmatik diharapkan   dapat mencetak manusia pragmatik yang sadar akan kebutuhan kebutuhan hidupnya, peka terhadap masalah masalah kemanusiaan dan dapat membedakan manusia dari kondisi dan situasi yang tidak manusiawi.

  1. Pendidikan yang berakar kuat, yakni pendidikan yang tidak meninggalkan

Akar – akar sejarah, baik sejarah kemanusiaan pada umumnya maupun sejarah kebudayaan suatu bangsa atau kelompok etnis tertentu. Pendidikan yang berakar budaya kuat diharapkan dapat membentuk manusia yang mempunyai kepribadian, harga diri, percaya pada diri sendiri dan membangun peradaban berdasarkan budayangya sendiri yang merupakanwarisan monumental dari nenek moyangnya. Tapi bukan orang yang anti kemodernan, yang menolak begitu saja transformasi budaya dari luar. Jika dirumuskan, maka proses pembentukan manusia seutuhnya akan diwujudkan melalui pendidikan yang berorientasi pada pengembangan sains, teknologi dan penanaman nilai nilai kemanusiaan (fitrah) untuk membebaskan manusia dari belenggu kehidupan serta mendapatkan pemahaman hakiki tentang fenomena atau misteri di balik kehidupan nyata, guna memperoleh kebahagiaan yang abadi di sisi Allah. Itulah pendidikan yang bermakna secara horizontal sekaligus vertikal yang akan menghasilkan manusia berkualitas iman kepada Allah, komitmen dengan ilmu pengetahuan serta senantiasa beramal shaleh.

`           Keseluruhan aspek yang tercakup dalam konfigurasi kesatuan iman, ilmu dan amal shaleh merupakan takaran bagi pembentukan kerangka ideal manusia yang bertakwa kepada Allah, cerdas dan kreatif yakni manusia yang berdaya cipta, bercita rasa dan berjiwa karsa. Di dalam dirinya terdapat kesimbangan dalam tiga aspek yaitu kognitif, efektif dan psikomotorik yang diperlukan untuk memainkan peran pada zamannya. Itulah blue print manusia masa depan yang

memiliki kualitas dzikir, fikir dan amal shaleh sekaligus. 15 Di sisi lain, menurut

Malik Fadjar, sebenarnya esensi dari pendidikan itu sendiri adalah transmisi

kebudayaan (ilmu pengetahuan, teknologi, ide-ide, etika dan nilai-nilai spiritual

serta estetika) dari generasi yang lebih tua kepada generasi yang lebih muda dalam setiap masyarakat atau bangsa.Malik Fadjar juga mengatakan bahwa pendidikan merupakan suatu kebutuhan hidup (a necessity of life), sebagai bimbingan (a direction), sebagai sarana pertumbuhan (a growt), yang mempersiapkan dan membukakan serta membentuk disiplin hidup. Pendidikan mengandung misi keseluruhan aspek kebutuhan hidup serta perubahan-perubahan terjadi. Ada beberapa hal strategis yang bisa diperankan pendidikan dalam meresolusi konflik dan kekerasan dunia, yaitu: a) Pendidikan mengambil strategi

konservasi b) Pedidikan mengambil strategi restorasi. Harus diakui bahwa peran

peran dan tanggung jawab guru dalam proses pedidikan berkualitas bukanlah

ringan. Apalagi dalam konteks pendidikan Islam, dimana aspek semua kependidikan dalam Islam terkait dalam nilai-nilai, yang melihat guru bukan saja

pada penguasaan materi pembelajaran, tapi juga pada investasi nilai-nilai moral

dan spiritual yang diembankan kepadanya untuk ditransformasikan kepada anak

didik. Di sini peran guru bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sekaligus sebagai

pembimbing, pengajar, pelatih dan pencipta perilaku anak didik. Aspek kognitif,

afektif dan psikomotorik peserta didik harus menjadi fokus utama pendidik yang

dibidik oleh guru. Tiga aspek ini menjadi bidikan utama guru dalam mentransformasikan ilmu dan nilai yang terkandung di dalamnya. Dari cuplikan pemikirannya tentang hakikat pendidikan, terlihat bahwa Malik Fadjar menginginkan pendidikan yang dari satu sisi harus essensialis, namun dari sisi lain harus progresifis. Artinya, pendidikan harus futuralistik (memandang jauh ke depan), akan tetapi tidak boleh mengabaikan nilai-nilai esensi budaya sebagai warisan dari generasi ke generasi berikutnya. Malik Fadjar menyebutnya pendidikan yang berakar kuat pada nilai sejarah masa lalu.

Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam kini ditempatkan sebagai

pendidikan sekolah dalam sistem pendidikan nasional. Munculnya SKB tiga

menteri (Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Menteri

Dalam Negeri) menandakan bahwa eksistensi madrasah sudah cukup kuat beriringan dengan sekolah umum. Di samping itu, munculnya SKB tiga menteri

tersebut juga dinilai sebagai langkah positif bagi peningkatan mutu madrasah baik

dari status, nilai ijazah maupun kurikulumnya. Di dalam salah satu diktum

pertimbangkan SKB tersebut disebutkan perlunya diambil langkah-langkah untuk

meningkatkan mutu pendidikan pada madrasah agar lulusan dari madrasah dapat

melanjutkan atau pindah ke sekolah-sekolah umum dari sekolah dasar sampai

perguruan tinggi. Kesenjangan antara madrasah swasta dan madrasah negeri pun tampaknya juga menjadi masalah yang belum tuntas diselesaikan. Gap tersebut meliputi beberapa hal seperti pandangan guru, sarana dan prasarana, kualitas input siswa dan sebagainya yang kesemuanya itu berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung kepada mutu pendidikan. Hal ini karena munculnya SKB tiga menteri tersebut belum diimbangi penyediaan guru, buku-buku dan peralatan lain dari departemen terkait. dijadikan pilihan, maka perlu ada keterbukaan wawasan dan keberanian dalam memecahkan masalah-masalahnya secara mendasar dan menyeluruh, seperti yang berkaitan dengan hal-hal yaitu: Pertama, kejelasan antara yang dicita-citakan. dengan langkah operasionalnya. Kedua, pemberdayaan (empowering) kelembagaan yang ada dengan menata kembali sistemnya. Ketiga, perbaikan, pembaharuan dan pengembangan dalam sistem pengelolaan atau manajemen. Keempat, peningkatanSDM yang diperlukan.

Ada empat hal yang harus dilihat dalam gerak pendidikan, yaitu pertumbuhan (growth), perubahan (change), pengembangan (development), dan

berkelanjutan (sustainability). Sistem pendidikan yang baik harus mampu mengembangkan sistem komunikasi antar semua unsur yang ada. Artinya sistem

pendidikan yang tidak mampu melahirkan adanya iklim komunikatif berarti telah

menciptakan suasana pendidikan yang lebih hidup dan manusiawi. engembangkan dan melaksanakan pendidikan berdasarkan tuntutan global yang sekaligus memanfaatkan dan mendorong potensi daerah melalui era globalisasi dan otonomi daerah membutuhkan kesungguhan, koordinasi, visi dan misi masa depan. Kesadaran inilah kiranya yang melatarbelakangi dilakukannya rapat koordinasi pendidikan menengah kejuruan ini. Hal lain yang perlu dikedepankan dalam keterbatasan kemampuan yang dimiliki adalah mendorong beberapa sekolah untuk menjadi rujukan bagi sekolah lainnya. Melalui rapat koordinasi ini dapat menyamakan visi, misi, dan tujuan .

 

Kesimpulan

Fadjar dapat dikatakan bahwa paradigma pemikiran holistik, artinya mencakup semua aspek pendidikan yaitu pendidikan yang humanistik, liberatif, integralistik, multikultural. Untuk itu, diamengembangkan beberapa hal mengenai prinsip strategis pengembangan pendidikan nasional yaitu; Pertama, orientasi pengembangan sumber daya manusia (SDM), kedua, ke arah pendidikan multikultural, dan Ketiga, spiritualitas watak kebangsaan sebagai pondasi dari bangunan kebangsaan adalah iman. Dari aspek kelembagaan pendidikan, beliau mengembangkan paradigma futuralistik, yakni dengan menyiapkan lembaga pendidikan, terutama lembaga pendidikan Islam menjadi institusi yang mampu menjawab tantangan globalisasi dan modernitas. Dari segi manajemen, Malik Fadjar mengembangkan paradigma desentralistik dengan melahirkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Dalam menghadapi era globalisasi, menurut Malik Fadjar, terdapat tiga tantangan besar yang dihadapi dunia pendidikan Indonesia, yaitu mempertahankan hasil-hasil yang telah dicapai, mengantisipasi era global, dan melakukan perubahan dan penyesuaian sistem pendidikan nasional. Untuk memecahkan masalah ini, Malik Fadjar menawarkan beberapa solusi, yaitu; Pertama, pendidikan berbasis masyarakat luas (board based education) dengan orientasi kecakapan untuk hidup (life skills). Kedua, penerapan manajemen berbasis sekolah (school-based management), melalui kebijakan ini, masyarakat diharapkan memiliki kemandirian dalam merencanakan, mengelola dan mengatur rumah tangga sekolah sendiri. Ketiga, pelaksanaan otonomi dan desentralisasi dengan pembentukan komite sekolah, dewan pendidikan dan standarisasi mutu pendidikan. Kebijakan tersebut telah diperkokoh oleh UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

 

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Aditya media. 1992.

Bakker, Anton, Metode-Metode Filsafat. Jakarta: Gramedia Indonesia. 1984.

Danim, Sudarwan, Agenda Pembaharuan Sistem Pendidikan, Cet. Ke-2. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2006.

Fadjar, A. Malik, Pengembangan Pendidikan Islam yang Menjanjikan Masa Depan,Pidato Pengukuhan Guru Besar IAIN Sunan Ampel Malang, 29 Juli 1995,

(tidak diterbitkan).

_______, Visi Pembaharuan Pendidikan Islam. Jakarta: LP3NI, 1998.

_______, et. el, Platform Reformasi Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya

Manusia. Jakarta: Dirjen Binbaga Islam. 1999.

_______, Madrasah dan Tantangan Modernitas, cet I. Bandung: Mizan. 1999.

_______, Reorientasi Pendidikan Islam, Jakarta: Fajar Dunia. 1999.

_______, Strategi Pengembangan Pendidikan Islam Dalam Era Globalisasi.

http://edu-articles.com/menggugah-perspektif-masyarakat-terhadap-paradigmabaru- sistem-pendidikan-

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.