PENDEKATAN PEMBELAJARAN HOLISTIK DAN KONSTRUKTIVISME

0
190

 Oleh :

 Dra. Hj. Yurnalis Nurdin, M.Pd

 Widyaiswara Utama

 Balai Diklat Keagamaan Palembang

 e-mail : yurnalisnurdin@gmail.com    

Abstrak: Tulisan yang berjudul “Pendekatan Pembelajaran Holistik dan Konstruktivisme” ini, akan membahas dua  bahasan yaitu;  pertama  Pengertian Teori dan Fungsi Pendekatan Pembelajaran Bagi Guru, dan kedua  Pendekatan Pembelajaran Holistik dan Konstruktivisme. Didalam tulisan ini anda akan diperkenalkan kepada beberapa pendekatan pembelajaran dengan maksud supaya anda memiliki pemahaman yang kaya dan beragam tentang belajar. Dengan pemahaman yang kaya tentang pendekatan belajar diharapkan anda memiliki kearifan dan penyesuaian diri yang baik ketika membelajarkan peserta didik disekolah. Dengan kata  lain anda sebagai guru harus dapat menyesuaikan diri dengan tujuan dan materi pembelajaran di satu sisi dan dengan karakteristik peserta didik di sisi lain. Bukan peserta didik yang harus menyesuaikan diri dengan karakteristik anda, tetapi anda yang harus menyesuaikan diri dengan karakteristik peserta didik dan tujuan pembelajaran.

Kata Kunci: Pembelajaran Holistik dan Konstruktivisme.

PENDAHULUAN

Belajar sebagai suatu proses psikologis sering merupakan sesuatu yang tidak mudah dipahami dengan baik.  Proses psikologis dalam diri peserta didik yang belajar banyak mengandung misteri, artinya proses psikologis yang disebut belajar itu selalu mengandung persoalan yang sulit dipecahkan secara tuntas oleh satu pendekatan tunggal, pembahasan belajar oleh satu pendekatan tertentu selalu berujung dengan persoalan baru yang rumit.

Tidak ada suatu pendekatan belajar yang mengklaim dapat menjawab semua persoalan yang terkait dengan proses psikologis belajar secara lengkap dan tuntas. Suatu pendekatan belajar selalu bertitik tolak dari suatu sudut pandang tertentu yang sudah pasti berbeda dengan pendekatan belajar yang lain yang bertitik tolak dari sudut pandang yang berlainan. Jadi kemampuan suatu pendekatan untuk menjelaskan proses psikologis belajar itu sangat terbatas, dan berbeda-beda. Kalau begitu, lalu anda mungkin bertanya apa gunanya pendekatan belajar bagi guru?. Mari kita simak uaraian berikut ini;

.PEMBAHASAN

Dalam pembahasan  ini materi yang akan dibahas adalah sebagai berikut:Pengertian Teori dan Fungsi Pendekatan Pembelajaran Bagi Guru.

  1. Pengertian Teori.

Kata teori memiliki arti yang berbeda-beda pada bidang-bidangnya. Dalam ilmu pengetahuan, teori dalam ilmu pengetahuan berarti model, (id.m.wikipedia.org/wiki/Teori).

Menurut Taufik Agus (2011:6.2) mengatakan bahwa teori dapat diartikan sebagai seperangkat hipotesis (anggapan atau pernyataan sementara perlu diuji kebenarannya) yang diorganisasikan secara koheren mengenai sesuatu atau serangkaian fenomena yang terjadi di dalam lingkungan nyata. Dalam pengertian ini, teori tidak membicarakan bahwa sesuatu itu sudah baik atau buruk, benar atau salah melainkan mengungkapkan anggapan-anggapan atau pernyatan-pernyataan sementara fenomena atau gejala-gejala sesuatu yang terjadi dalam lingkungan.

Suatu teori biasanya dibangun atas dasar hasil pengamatan yang sistematis mengenai sesuatu yang terjadi di dalam lingkungan. Yang membicarakan baik buruk benar salah, bukan  teori melainkan ajaran agama, yang tidak boleh dibantah lagi adanya, terutama oleh pemeluk yang meyakininya. Tugas atau karakteristik suatu teori adalah memberikan suatu kerangka kerja konseptual mengenai suatu yang dapat dijadikan sebagai dasar bagi suatu penelitian, dan memberikan prinsip-perinsip yang dapat diuji kecocokkannya dengan kondisi nyata

Fungsi Teori.

Sarwono, S.W (1987) dalam Taufik Agus (2011:6.2) menjelaskan beberapa fungsi

teori yaitu:

  • fungsi deskripsi
  • fungsi eksplanasi
  • fungsi predikasi

4)         fungsi pengujian.

Ad 1) Fungsi deskripsi

Fungsi deskripsi berarti suatu teori itu harus menggambarkan sesuatu yang terjadi dalam lingkungan apa adanya tanpa dibuat-buat, jadi harus objektif.

Ad 2) Fungsi eksplanasi

Fungsi eksplanasi artinya suatu teori itu harus memberikan penjelasan tentang suatu fenomena yang kompleks menjadi penjelasan yang rasional, sistematis, dan mudah dipahami.

Ad 3) Fungsi prediksi

Fungsi prediksi  adalah bahwa suatu teori itu harus dapat memprediksi, memperkirakan atau meramalkan terjadinya sesuatu atas dasar peristiwa sebelumnya.

Ad 4) Fungsi Pengujian

Fungsi Pengujian adalah bahwa suatu teori itu harus menguji fenomena terkini dan mengembangkan teori yang baru yang kompleks dan berdimensi jamak, sehingga muncul berbagai pendekatan yang berbeda-beda.

Pengertian Pembelajaran

Pengertian pembelajaran menurut para ahli dan menurut kamus sudah bukan hal yang

tabu lagi karena setiap hari manusia selalu mengalami proses pembelajaran. Tidak akan ada manusia yang berencana berhenti untuk belajar, apapun itu yang akan dipelajari. Proses pembelajaran sendiri dimulai sejak masih bayi, dari hal yang sederhana yang kita pelajari saat bayi adalah beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Merasakan perbedaan keadaan saat berada di rahim ibu dan berada di dunia luar. Pembelajaran yang dilakukan sejak dini akan membentuk menjadi seperti apa seseorang nantinya tumbuh dewasa.

Pengertian pembelajaran menurut para ahli membutuhkan awal terbentuknya terlebih dahulu. Pembelajaran berasal dari kata dasar belajar. Belajar adalah ilmu kehidupan yang dilakukan oleh setiap manusia yang ingin mengetahui atau melakukan sesuatu yang baru. Dengan kata lain, belajar adalah proses setiap orang melakukan perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman serta latihan yang dilakukan secara terus menerus. Seseorang dapat dikatakan telah belajar bila mampu menunjukkan hasil karya belajarnya. Belajar bisa terjadi akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon atau dapat dikatakan seperti input dan ouput. Oleh sebab itu, pembelajaran bisa diartikan sebagai proses serta cara dan perbuatan yang menjadikan orang menjadi belajar. Dalam dunia pendidikan, pembelajaran adalah proses interaksi pendidik dan peserta didik dengan berbagai sumber dan media pada suatu lingkungan beklajar. (dilihatya.com.pengetahuan) Mobile-Friendly-9 September 2014.

Disisi lain  Taufik Agus (2011:6.3) menjelaskan tentang pembelajaran adalah;

     ”Pembelajaran merupakan suatu fenomena yang kompleks dan berdimensi jamak, sehingga muncul berbagai pendekatan yang berbeda-beda. Setiap pendekatan memberikan penjelasan yang berlainan karena bertitik tolak dari sudut pandang yang berbeda-beda. Kadang-kadang antara satu pendekatan dengan pendekatan lainnya memberikan penjelasan yang bersifat tumpang tindih bahkan ada yang bertolak belakang”.

 Pendekatan Pembelajaran

      Pendekatan pembelajaran memiliki arti suatu sudut pandang tentang proses pembelajaran yang masih dalam arti umum yang di dalamnya dapat mewadahi, menguatkan, memberikan inspirasi.     Dalam pembelajaran sendiri mengenal pendekatan pembelajaran dalam dua jenis yaitu pendekatan yang berpusat pada siswa dan pendekatan yang berpusat pada pengajar. Dari kedua jenis pendekatan ini tentunya memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Yang perlu dilihat adalah mana yang cocok untuk diterapkan pada proses pembelajaran. Bila dilihat dari kondisi di Indonesia maka sangat diyakini akan lebih banyak menggunakan proses jenis kedua yaitu berpusat pada pengajar. (www.informasi. Kumpulan Artikel pendidikan dan informasi berita Pendidikan Aktual) diakses Jumat, 10 Januari 2014.

Di sisi lain Taufik Agus (2011:6.3) menjelaskan bahwa:

”Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu cara pandang tentang fokus dan strategi pembelajaran yang dapat dijadikan sebagai kerangka acuan dalam praktik pembelajaran. Setiap pendekatan pembelajaran memiliki sudut pandang yang tersendiri tentang fokus dan strategi pencapaiannya yang dianggap efektif. Suatu pendekatan pembelajaran ”X” biasanya memberi takanan pada aspek tertentu, sementara pendekatan pembelajaran ”Y” memberi tekanan pada aspek lainnya. Selain itu setiap pendekatan memiliki kriteria keefektifan dan modus pembelajaran yang tersendiri. Oleh karena itu, tentu saja setiap pendekatan memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri.”

     Dantes (1996) dalam Taufik Agus (2011:6.3) mengemukakan bahwa:

       ”Suatu pendekatan pembelajaran biasanya dibangun atas dasar posisi pemahaman tertentu tentang apa hakekat, fokus yang dipentingkan, bagaimana cara-cara utama pencapaiannya serta asumsi-asumsi penerapannya. Bagi Anda, pendekatan-pendekatan pembelajaran yang dipelajari di sini dapat dipandang sebagai alternatif atau pilihan jalan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang anda harapkan.

 Fungsi Pendekatan Pembelajaran Bagi Guru

Fungsi Pendekatan Pembelajaran Bagi Guru adalah memberikan suatu pemahaman tentang sesuatu atau cara pembelajaran yang dianggap efektif dan memberi panduan yang dapat diuji kecocokkannya dengan kondisi nyata.

Penjelasan yang lebih praktis tentang fungsi pendekatan dikemukakan oleh Mohammad Surya (2004) dalam Taufik Agus (2011:6.3) seperti berikut:

1) memberikan garis-garis rujukan untuk perancangan pembelajaran,

2) menilai hasil-hasil pembelajaran yang telah dicapai

3) mendiagnosis masalah-masalah belajar yang timbul, dan

4) menilai hasil penelitian dan pengembangan yang telah dilaksanakan.

 Pendekatan Pembelajaran Holistik dan Konstruktivisme

Pendekatan Holistik

     Peran guru dalam proses membelajarkan siswa semakin penting karena dimasa depan guru tidak lagi merupakan sumber informasi atau penyampaian pengetahuan kepada siswa melainkan lebih merupakan fasilitator yang mempermudah siswa belajar. Cara-cara mengajar konvensional, sudah selayaknya untuk diperbaharui dan dikembangkan. Di sinilah pentingnya pemahaman guru terhadap berbagai pendekatan dalam pembelajaran.

Dalam pendekatan holistik atau terpadu, suatu objek akan terlihat maknanya apabila diamati secara menyeluruh, bukan terpisah-pisah. Pendekatan ini merupakan aplikasi teori dari psikologi Gestalt. Dalam pendekatan pembelajaran, aplikasi teori Gestalt dapat dilihat seperti berikut.

  1. Pengalaman insight.
  2. Pembelajaran yang bermakna.
  3. Prilaku bertujuan.
  4. Prinsip ruang hidup.
  5. Transfer dalam pembelajaran.

Selanjutnya, untuk untuk dapat memperlihatkan proses belajar sebagai proses yang terpadu, ada sembilan hal yang perlu diperhatikan yaitu:

  1. Pembelajaran berfungsi secara penuh untuk membantu perkembangan individu

seutuhnya.

  1. Pembelajaran merupakan aktifitas belajar siswa untuk memperoleh pengalaman yang

menempatkan siswa sebagai pusat

  1. Pembelajaran diarahkan untuk memberikan ruang gerak siswa secara aktif dan intensif
  2. Pembelajaran harus menjamin setiap siswa pada posisi yang baik dalam suasana

kebersamaan untuk menyelesaikan proses yang dihadapi.

  1. Pembelajaran sebagai proses terpadu mendorong siswa untuk terus menerus belajar.
  2. Belajar secara terpadu memberikan kemungkinan yang luas agar siswa belajar dengan irama dan gayanya masing-masing, tentunya dengan standar-standar yang ditetapkan sendiri-sendiri.
  3. Pembelajaran secara terpadu dappat berfungsi dan berperan secara efektif yang

menciptakan lingkungan belajar yang melihat berbagai aspek.

  1. Pembelajaran terpadu memungkinkan agar pembelajaran bidang studi tidak harus secara

terpisah

  1. Pembelajaran teradu memungkinkan adanya hubungan antara sekolah dan keluarga.

(https://www.facebook.com/permalink.ph) Mobile-friendly.

Di sisi lain Taufik Agus (2011:6.4) mengemukakan bahwa: Pendekatan Holistik atau terpadu dalam pembelajaran, diilhami oleh psikologi Gestalt yang dipelopori oleh Wertheirmer, koffka, dan Kohler. Menurut mereka, objek atau peristiwa tertentu akan dipandang oleh individu sebagai suatu keseluruhan yang terorganisasikan. Suatu objek atau peristiwa baru dapat dilihat maknanya jika diamati dari segi keseluruhannya dan keseluruhan itu bukan jumlah bagian-bagian. Sebaliknya suatu bagian baru akan bermakna jika berada dalam kaitan dengan keseluruhan. Contoh, fisik seorang manusia bukanlah jumlah dari kepala, leher, lengan, badan, dan kaki, melainkan konfigurasi atau bentuk yang bermakna dari semua unsur tersebut.

Dengan kata lain, individu akan memberi makna terhadap suatu objek atau peristiwa, termasuk dalam pembelajaran jika yang bersangkutan memiliki wawasan pengetahuan yang mendalam (insight) tentang hubungan atau keterkaitan antar unsur dalam suatu keseluruhan (holistik), demikian pula dalam proses pembelajaran. Produk pembelajaran seyogyanya tidak dilihat dampaknya terhadap salah satu aspek individual anak, melainkan harus dari keseluruhan aspek yang mencakup dimensi fisik, sosial, kognitif, emosi, moral, dan kepribadian secara utuh.

Aplikasi pendekatan Holistik menurut Woolfolk, A. (1993) dalam pembelajaran di sekolah dasar, adalah sebagai berikut:

  1. Wawasan pengetahuan yang mendalam (insight). Berdasarkan percobaannya, Kohler menyatakan bahwa wawasan memegang peranan penting dalam perilaku. Sehubungan dengan hal itu, dalam proses pembelajaran hendaknya guru membantu anak untuk memiliki insight yaitu pengetahuan mengenai keterkaitan antar unsur dalam suatu objek atau peristiwa. Guru juga hendaknya mengembangkan kemampuan anak dalam memecahkan masalah dengan proses insight.
  2. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). Kebermanaan unsur-unsur yang terkait dalam suatu objek atau peristiwa, akan menunjang pembentukan insight dalam peroses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur, akan makin efektif sesuatu dipelajari. Oleh karena itu, aturan-aturan yang mendasari unsur-unsur dalam suatu objek atau peristiwa hendaknya dipahami dan dijadikan dasar dalam pengembangan insight dan pemahaman keseluruhan objek atau peritiwa. Hal ini sangat penting dalam kgiatan pemecahan masalah khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Sebagai contoh, ketika anda menanamkan nilai kesehatan kepada anak, maka anda harus menjelaskan arti sehat bagi anak, dan bagaimana hubungannya dengan kebersihan fisik diri sendiri dan lingkungan, seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, menggosok gigi dan mandi secara teratur, menjaga kebersihan kelas dan sekolah.
  3. Perilaku bertujuan (purposive behavior). Prinsip ini dikembangkan Edward Tolman yang meyakini bahwa pada hakekatnya perilaku itu terarah kepada suatu tujuan. Erilaku bukan hanya sekadar hubungan antara stimulus dan respons, akan tetapi adanya keterkaitan yang erat dengan tujuan atau sesuatu yang ingin diperoleh. Bagi Tolman, pembelajaran terjadi karena anak membawa harapan harapan tertentu ke dalam situasi pembelajaran. Berdasarkan prinsip ini, proses pembelajaran akan lebih efektif apabila dapat membantu anak dalam mengenal tujuan yang akan dicapainya., dan selanjutnya mampu mengarahkan perilaku belajarnya ke tujuan tersebut. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadadari tujuan sebagai arah aktivitas pembelajaran dan membantu anak dalam memahami tujuan itu untuk selanjutnya mengembangkan aktivitas pembelajaran yang efektif.
  4. Prinsip Hidup (life space). Konsep ini dikembangkan oleh Kurt Lewin dalam pendekatan medan (field theory) yang menyatakan bahwa perilaku individu mempunyai keterkaitan dengan lingkungan atau medan di mana ia berada. Individu berada dalam suatu lingkungan medan psikologis yang mempunyai pola-pola perilakunya. Perinsip ini mengimplikasikan adanya pedanan dan kaitan antara proses pembelajaran dengan tuntutan dan kebutuhan lingkungan. Materi yang diajarkan guru hendaknya memiliki pedanan dan kaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan.anak. Pembelajaran

( Contectual Teaching and Learning) kontekstual juga bertitik tolak dari prinsip ini.

  1. Transfer dalam pembelajaran. Transfer dalam pembelajaran adalah pemindahan pola-pola perilaku dari suatu situasi pembelajaran tertentu kepada situasi lain. Sesuai dengan pendekatan Gestalt, pembelajaran mempunyai makna sebagai proses membentuk suatu pola Gestalt atau keseluruhan atau konfigurasi yang mempunyai bentuk dan arti. Menurut pendekatan ini, transfer terjadi dengan jalan melepaskan pengetian atau objek dari konfigurasi dalam suatu situasi, kemudian menempatkannya dalam situasi konfigurasi lain dalam tata susunan yang tepat. Menurut pendekatan ini, traansfer akan terjadi apabila anak menangkap prinsi-prinsip pokok dari suatu masalah, dan menemukan generalisasi, kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Dalam hubungan dengan pembelajaran dan pembelajaran di kelas hendaknya guru membantu anak untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi-materi yang diajarkannya. Hal-hal yang telah dipelajari hendaknya dilatihkan untuk dapat diterapkan dalam situasi-situasi lain yang memungkinkan berbeda sifatnya.

Untuk dapat menampakkan keberadaan belajar sebagai proses terpadu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan (Dedikbud 1988).

  1. Pembelajaran dapat berfungsi secara penuh untuk membantu perkembangan individual anak seutuhnya. Dalam hal ini belajar memungkinkan individu dapat mencapai pertumbuhan dan perkembangan secara utuh, tidak bersifat fragmentaris, memenuhi segala kebutuhan anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan irama perkembangannya.
  2. Pembelajaran sebagai aktivitas membelajarkan anak untuk pemerolehan pengalaman menempatkan anak sebagai pusat segala-galanya. Dengan demikian, kebermaknaan pengalaman yang ada dilingkungan sangat tergantung pada sejauh mana pengalaman itu diappresiasikan secara positif oleh anak sebagai subjek belajar.
  3. Pembelajaran dalam hal ini lebih menuntut kepada terciptanya suatu aktifitas yang memungkinkan keterlibatan anak secara aktif dan intensif.
  4. Pembelajaran menempatkan individu pada posisi yang terhormat dalam suasana

kebersamaan di dalam penyelesaian persoalan yang dihadapinya.

  1. Pembelajaran sebagai proses terpadu harus mendorong dan memfasilitasi setiap anak untuk terus menerus belajar. Dalam konteks yang demikian, anak belajar tidak hanya sebatas untuk mendapatkan niali dari guru melainkan juga yang lebih penting adalah berusaha memproses informasi dan mentransfer pengetahuan.
  2. Pembelajaran sebagai proses terpadu dapat berfungsi dan berperan secara efektif apabila dapat diciptakan lingkungan belajar, tidak hanya menyangkut sarana fisik, melainkan juga suasana belajar yang kondusif bagi pengembangan semua aspek individu.
  3. Pembelajaran sebagai proses terpadu memungkinkan pembelajaran bidang studi tidak harus secara terpisah, melainkan dilaksanakan secara terpadu. Keterpaduan dapat dilakukan antar komponen dalam suatu bidang studi tertentu dan antar bidang studi. Demikian pula dapat dilakukan pembelajaran terpadu dengan bertumpu pada suatu bidang studi tertentu dan bidang studi yang lainnya hanya dikaitkan sepanjang ada sentuhan dengan bidang studi utama.
  4. Pembelajaran sebagai proses terpadu memungkin adanya hubungan antara sekolah dan keluarga. Guru dan orang tua sama-sama memandang penting pengembangan potensi anak secara optimal. Keberhasilan pendidikan anak tidak cukup dengan mengandalkan pembelajaran dari guru di sekolah yang sangat terbatas waktunya. Tidak diragukan lagi, bahwa keterlibatan orang tua sangat penting bagi keberhasilan pendidikan anak di sekolah dasar.
  5. Pendekatan Pembelajaran Konstruktivisme

    Pendekatan  Konstruktivisme, individu membentuk sendiri pengetahuan yang dipelajarinya. Menurut Von Glaserfeld pengetahuan bukanlah suatu barang yang dapat di pindahkan dari pikiran   seseorang yang sudah   mempunyai pengetahuan (dalam hal ini adalah guru) keada pikiran orang yang belum memiliki pengetahuan itun (siswa). Siswalah yang meninterprestasikan serta mengkonstruksikan pemindahan pengetahuan tersebut berdsarkan pengalaman yang merka miliki masing-masing. Konstruktivisme dibedakan atas tiga level yaitu:

  1. Konstruktivisme radikal
  2. Konstruktivisme realisme hipotesis
  3. Konstruktivisme yang biasa ( jika dikaitkan dengan hubungan antara dan kenyataan).

Selain itu, pandangan konstruktivisme juga menghendaki guru untuk menerapkan pendekatan mengajar yang berpusat pada siswa (student – centered approach). Beberappa hal yang diperlukan menyokong pendekatan berorientasi pada anak/siswa. Adalah:

  1. Orienantasi mengajar tidak hanya untuk pencapaian prestasi akademik
  2. Topik-topik yang dipelajari dapat berdasarkan pengalaman anak yang relevan
  3. Metode mengajar harus berorientasi pada anak dengan sifat yang menyenangkan.
  4. Kesempatan anak untuk bermaian dan bekerja sama dengan orang lain mendapat prioritas.
  5. Bahan pembelajaran dapat diambil dari bahan yang konkret.
  6. Penilaian tidak hanya terbatas pada aspek kognitif semata
  7. Keenam hal tersebut diatas membawa imlikasi bagi guru yang harus menampilkan diri sebagai guru dalam proses pembelajaran, dan bukan hanya sekadar mentransformasikan pengetahuan kepada siswa. (https://www.facebook.com/permalink.ph) Mobile-friendly.

Pengalaman menunjukkan, tidak jarang anak salah paham atau salah mengerti ketika menyimak penjelasan guru pada saat mengikuti proses pembelajaran. Fenomena ini mendukung paham penganut filsafat konstruktivisme bahwa dalam perolehan pengetahuan, kita menyusun (mengonstruksi) sendiri pengetahuan kita.

Para penganut konstruktivisme berpendapat bahwa pengetahuan itu dikonstruksi oleh kita yang sedang belajar.  Pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, tetapi merupakan konstruksi kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman, maupun lingkungannya. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ada di sana dan orang tinggal mengambilnya, tetapi merupakan suatu bentukan terus-menerus dari seseorang yang setiap kali mengadakan reorganisasi karena munculnya pemahaman yang baru (Paul Suparno, 1997) dalam Taufik Agus (2011:6.7).

Bagaimana suatu pengetahuan baru diperoleh anak, dicontohkan oleh Piaget (Conny, R.S. 1999) dalam Taufik Agus (2011:6.7).

Pada suatu waktu seorang anak duduk dihalaman rumah dan menghitung krikil. Anak itu meletakkan kerikilnya secara lurus dan menghitung dari kiri hingga mendapatkan jumlah sepuluh. Kemudian, ia menghitung lagi dari kiri ke kanan, dan ia mendapatkan angka sepuluh juga. Selanjutnya ia menyusun letak kerikil itu dalam suatu lingkaran dan menghitungnya lagi dengan arah jarum jam dan sebaliknya. Ia tetap masih mendapatkan jumlah sepuluh. Dari pengalaman ini si anak menyimpulkan bahwa terlepas dari cara menyimpan dan arah menghitung kerikil, jumlah kerikil ini tetap sama, yaitu sepuluh. Dari contoh tersebut Piaget, kemudian menyimpulkan bahwa anak itu telah membangun persesuaian konsep antara kerikil dengan jumlah sepuluh melalui interaksi fisik dengan kerikil dan pengetahuan terdahulunya. Dengan kata lain, pengetahuan baru itu dibangun anak melalui interaksi antara pengalaman ekstarnal dan struktur mental internal.

Kaum konstruktivis mnyatakan bahwa manusia dapat mengetahui sesuatu dengan inderanya. Dengan berinteraksi terhadap objek dan lingkungannya melalui proses melihat, mendengar, menjamah, membau, dan merasakan, orang dapat mengetahui sesuatu. Misalnya, dengan mengamati orang yang sedang bermain sepak bola di lapangan, mempelajari cara menendang bola, ikut serta bermain sepak bola, maka anak membentuk pengetahuan tentang permainan sepak bola.

Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah terbentuk, tetapi merupakan suatu proses menjadi. Menurut Von Glaserfeld, tokoh filsafat konstruktivisme di Amerika Serikat, dalam Taufik Agus (2011:6.7) mengatakan bahwa pengetahuan bukanlah suatu barang yang dapat dipindahkan dari pikiran seseorang, yang mempunyai pengetahuan (guru) berpikiran orang yang belum punya pengetahuan (anak). Bahkan bila guru bermaksud untuk mentransfer konsep, ide,  dan pengertiannya kepada anak, pemindahan itu harus dapat diinterprestasikan dan dikontruksikan oleh anak sendiri dengan pengalaman mereka.

Von Glaserfeld menyebutkan beberapa kemampuan yang diperlukan untuk melakukan proses pembentukan pengetahuan itu, seperti:

  1. kemamppuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman,
  2. kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan
  3. kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu daripada yang lain.

Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman sangat penting karena pengetahuan dibentuk oleh interaksi dengan pengalaman-pengalaman tersebut. Kemampuan membandingkan sangat penting untuk dapat menarik sesuatu sifat yang lebih umum dari pengalaman-pengalaman khusus lalu dapat melihat kesamaan dan perbedaannya untuk dapat membuat klsifikasi dan membangun suatu pengetahuan. Oleh karena seseorang lebih menyukai pengalaman tertentu daripada yang lain maka muncul juga soal nilai dari pengetahuan yang kita konstruksikan.

Bagi konstruktivis, pengetahuan bukanlah kenyataan ontologis. Malah secara ekstrem mereka menyatakan bahwa kita tidak dapat mengerti realitas (kenyataan) yang sesungguhnya. Yang kita mengerti adalah struktur konstruksi kita akan suatu objek. Bettencourt dalam Taufik Agus (2011:6.9) menyatakan memang konstruktivisme tidak bertujuan mengerti realitas, tetapi lebih jauh menekankan bagaimana kita tahu. Bagi konstruktivisme, realitas hanya ada sejauh berhubungan dengan pengamat.

Lalu bagaimana dengan soal kebenaran? Bagaimana kita tahu bahwa pengetahuan yang kita bentuk itu benar? Konstruktivisme meletakkan kebenaran dari pengetahuan dalam vibilitasnya, yaitu berlakunya konsep atau pengetahuan itu dalam penggunaan. Apakah pengetahuan itu dapat digunakan dalam menghadapi macam-macam persoalan yang berkaitan. Semakin dalam dan luas suatu pengetahuan dapat digunakan, semakin luas kebenarannya. Dalam hal ini maka pengetahuan ada tarafnya, mulai dari yang berlaku secara terbatas sampai yang lebih umum.

Kendati demikian, konstruksi pengetahuan itu ada batasnya. Bettencourt dalam Taufik Agus (2011:6.9) menyebutkan beberapa hal yang membatasi proses konstruksi pengetahuan, yaitu:

(1)     konstruksi yang lama, (2) domain pengalaman kita, dan (3) jaringan struktur kognitif kita. Proses dan hasil konstruksi pengetahuan kita yang lalu menjadi pembatas konstruksi pengetahuan kita yang mendatang. Pengalaman akan fenomena yang baru menjadi unsur yang penting dalam pembentukan dan pengembangan pengetahuan, dan keterbatasan pengalaman akan membatasi pengetahuan kita pula.

         Von Glaserfeld dalam Taufik Agus (2011:6.9) membedakan tiga level pengetahuan

dan kenyataan, yakni:

  • konstruktivisme radikal, (20 realisme hipotetik, dan (3) ) konstruktivisme

yang biasa. Konstruktivisme radikal mengabaikan hubungan antara pengetahuan dan kenyataan sebagai kriteria kebenaran. Bagi kaum radikal pengetahuan  adalah suatu pengaturan atau organisasi dari suatu objek yang dibentuk oleh seseorang.

     Menurut aliran ini kita banyak tahu apa yang dikonstruksi oleh pikiran kita. Pengetahuan bukanlah representasi kenyataan. Realisme hipotetik memandang pengetahuan sebagai suatu hipotesis dari suatu struktur kenyataan dan sedang berkembang menuju pengetahuan yang sejati yang dekat dengan realitas. Sedangkan konstruktivisme yang biasa masih melihat pengetahuan sebagai suatu gambaran yang dibentuk dari kenyataan suatu objek.

Dari segi subjek yang membentuk pengetahuan, dapat dibedakan antara konstruktivisme psikologis, personal, sosialkulturisme, konstruktivisme sosiologis. Dari ersektif personal dengan tokohnya Piaget menekankan bahwa pengetahuan itu dibentuk oleh seseorang secara pribadi di dalam berinteraksi dengan pengalaman dan objek yang dihadapinya. Orang itu sendiri yang membentuk pengetahuan. Sosiokulturalisme yang ditokohi oleh Vygotsky,  menjelaskan bahwa pengetahuan dibentuk baik secara pribadi, tetapi juga oleh interaksi sosial dan kulural dengan orang-orang yang lebih tahu tentang hal itu dan lingkungan yang mendukung. Dengan dimasukkannya seseorang dalam suatu masyarakat ilmiah dan kultur yang sudah punya gagasan tertentu maka orang itu membentuk pengetahuannya. Sedangkan konstruktivisme sosiologis menyatakan bahwa pengetahuan itu dibentuk oleh masyarakat sosial. Unsur masyarakatlah yang penting, sedangkan unsur pribadi tidak diperhatikan.

Conny R..Seniawan. (1998) merumuskan sejumlah pemikiran yang memungkinkan aktivitas belajar anak SD lebih bermakna dengan mnerapkan prinsip kontruktivisme. Pemikiran ini terutama berkenaan dengan upaya peningkatan kualitas proses pembelajaran. Jika para guru cenderung menggunakan cara yang terarah dengan berpusat pada guru ( teacher centered approacch), tentu pendekatan itu tidak relevan dengan prinsip-prinsipp pandangan kontruktivistik. Cara mengajar demikian, tidak memberi peluang kepada anak-anak mengkreasi dan membangun pengetahuan. Sebaliknya, pandangan kontruktivisme menghendaki para guru untuk menerapkan pendekatan mengajar yang berpusat pada anak  (child-centered aproach). Secara lebih terinci, cara pembelajaran anak yang diharapkan dideskripsikan berikut ini:

  1. Orientasi mengajar tidak hanya pada segi poencapaian prestasi akademik. Kegiatan mengajar tidak sekadar diarahkan untuk membuat anak menguasai sejumlah konsep pengetahuan dan/atau keterampilanlebih sempit lagi terampil dalam menyelesaikan soal-soal dalam tes, melainkan juga diarahkan untuk mengembangkan sikap dan minat belajar serta potensi dasar anak. Dalam mengajar IPA, misalnya guru tidak hanya menekankan pengembangan konsep IPA pada anak, tetapi juga pengembangan wawasan tentang proses IPA, keterampilan inquiri, dan sikap positif terhadap IPA.
  2. Untuk membuat pelajaran bermakna bagi anak, topik-topik yang dipilih dan dipelajari didasarkan peda pengalaman-pengalaman anak yang relevan. Masalah-masalah yang dibahas harus bersifat menantang dan aktual. Hal tersebut diperlukan untuk mengembangkan sikap positif dan apresiasi anak terhadap pelajaran. Dengan cara demikian, pelajaran tidak dipersepsikan anak sebagai tugas dari atau sesuatu yang dipaksakan oleh guru, melainkan sebagai bagian dari atau sebagai alat yang dibutuhkan dalam kehidupan anak.
  3. Metode mengajar yang digunakan harus membuat anak terlibat dalam suatu aktivitas langsung dan bersifat bermain yang menyenangkan atau apleasurable hands-on and playful activity dan bukannya sekadar membuat anak mengikuti pelajaran yang alami dan bermakna. Mereka mengalami aktivitas belajar sebagai aktivitas sehari-hari dan bukan sebagai kegiatan yang dipaksakan dari luar.
  4. Dalam proses belajar, kesempatan anak untuk bermain dan bekerja sama dengan orang lain juga perlu diprioritaskan. Hal demikian, akan berdamapak positif bukan sekadar pada perkembangan sosial anak, melainkan juga pada perkembangan berpikirnya.
  5. Bahan-bahan pelajaran yang digunakan hendaknya bahan-bahan yang konkret dan, kalau mungkin ini bahkan yang sebenarnya. Ini penting untuk membuat proses belajar yang diikuti anak sesuai dengan perkembangan. Temuan Piaget menjelaskan bahwa tahap perkembangan berpikir anak itu masih terbatas pada tahap operasi konkret.
  6. Dalam menilai hasil belajar anak, para guru tidak hanya menekankan aspek kognitif dengan menggunakan tes tulis (paper-pecil test), tetapi harus pula mencakup semua domain perilaku anak yang relevan dengan melibatkan sejumlah alat penilaian. Tentunya, baik proses maupun hasil belajar anak juga dipertimbangkan dalam penilaian itu.
  7. Ide di atas akhirnya mengimplikasikan perlunya para guru menampilkan peran utama sebagai guru dalam proses pembelajaran anak. Mereka perlu memiliki kemauan yang kuat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas dengan mengubah sikap dan strategi mereka dalam mengajar. Kreativitas para guru dalam menyediakan dan mengembangkan aktivitas dan lingkungan pembelajaran yang kondusif juga merupakan yang esensial bagi mereka untuk dapat merealisasikan prinsip-prinsip dari pendekatan konstruktivistik ini dalam praktik.

 KESIMPULAN

Peran guru dalam proses membelajarkan anak semakin penting karena di masa depan guru tidak lagi merupakan sumber informasi atau penyampai pengetahuan kepada  anak melainkan lebih merupakan fasilitator yang mempermudah anak belajar. Cara-cara mengajar konvensional, sudah selayaknya diperbaharui dan dikembangkan. Di snilah pentingnya pemahaman guru terhadap berbagai pendekatan dalam pembelajaran.

Dalam pendekatan holistik atau terpadu, suatu objek akan terlihat maknanya apabila diamati secara menyeluruh, bukan terpisah-pisah. Pendekatan ini merupakan aplikasi pendekatan psikologi Gestalt. Dalam pendekatan pembelajaran, aplikasi pendekatan Gestalt dapat dilihat seperti berikut:

  1. Pengembangan insight
  2. Pembelajaran yang bermakna
  3. Perilaku bertujuan
  4. Prinsip kesesuaian dengan lingkungan anak
  5. Transfer dalam pembelajaran.

Pada pendekatan konstruktivisme, individu menbentuk sendiri pengetahuan yang dipelajarinya. Menutrut Von Glaserfeld pengetahuan bukanlah suatu barang yang dapat dipindahkan dari pikiran seseorang yang sudah mempunyai pengetahuan (dalam hal ini adalah guru) kepada pikiran orang yang belum memiliki pengetahuan itu (anak). Anaklah yang menginterpretasikan serta mengonstruksikan pemindahan pengetahuan tersebut berdasarkan pengalaman yang mereka miliki masing-masing. Konstruktivisme dibedakan atas tiga level yaitu: Konstruktivisme radikal, realisme hipotesis, dan konstruktivisme biasa (jika dikaitkan dengan hubungan antara pengetahuan dan kenyataan).

  1. REKOMENDASI

Berdasarkan uraian diatas perlu disampaikan rekomendasi sebagai bahan masukan

kepada semua guru-guru Tingkat Dasar (SD/MI, SMP/MTs) bahwa:

  1. Pendekatan pembelajaran itu adalah kerangka acuan yang dianut seorang guru dalam praktik pembelajaran
  2. Hal-hal yang perlu diperhatikan agar proses pembelajaran merupakan suatu proses terpadu adalah; (a) menempatkan anak sebagai pusat aktivitas pembelajaran, (b) memberikan tugas berupa proyek, dan (c) menekankan penilain pada aspek kognitif
  3. Kondisi pembelajaran yang memungkinkan anak belajar secara bermakna adalah; (a) terpenuhi kebutuhannya secara fisik, (b) menggunakan permainan sebagai sarana belajar, (c) anak diberi kesempatan mengontruksikan pengetahuan.
  4. Ingat, peran guru yang tepat dalam perspektif pembelajaran konstruktivisme adalah konservator, transmitor, dan tranformator

DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. (1988). Perkembangan dan Belajar Peserta Didik, Jakarta: Depdibud.

Djamarah, Syaiful Bahri ,(2000). Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha

Nasional

Sardjiyo, dkk. (2012) Pendidikan Anak di SD. Jakarta:  Pusat Penerbitan

Universitas Terbuka

Semiawan, Conny R. (Ed) (1999). Perkembangan dan belajar Peserta Didik. Jakarta:

Depdikbud.

Taufik, Agus, dkk (2011). Pendidikan Anak Di SD. Jakarta: Pusat Penerbitan

Universitas Terbuka.

Udin S. Winataputra. (2003).  Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Pusat Penerbitan

Universitas Terbuka

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Woolfolk, A. (1993), Educational Psychology, Fifth Edition. Boston: Allyn and Bacon.

(dilihatya.com.pengetahuan) Mobile-Friendly-9 September 2014

(id.m.wikipedia.org/wiki/Teori)

www.informasi Kumpulan Artikel pendidikan dan informasi berita Pendidikan Aktual diakses Jumat, 10 Januari 2014

(www.vilila.com/…/pengertian-dan-fungsi), Mobile-friendly – 13 Nopember 2011

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.