PENATAAN KELAS IDEAL

0
111

PENATAAN KELAS IDEAL

 Oleh :

Muhammad Tontowi,S.Ag

Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Palembang

e-mail : tontowikalidoni@gmail.com    

 

 

  1. PENDAHULUAN

Pengelolaan kelas yang efektif bermula dari penataan ruang kelas dan isinya. Apa yang sebaiknya dilakukan guru dalam menata ruang kelas dan isinya sehingga kelas menjadi lingkungan yang menarik dan efektif  untuk proses pembelajaran merupakan pertanyaan yang akan kita bahas dalam topik ini.

Pernahkah Anda lihat ada guru yang memasuki kelas baru dan meninggalkan kelas tersebut di akhir tahun pelajaran, seperti keadaan semula? Artinya, guru tidak melakukan perubahan baik dalam pengaturan tempat duduk, perabot kelas, pajangan maupun hiasan dinding.jika hal ini terjadi, berarti guru menyesuaikan kegiatan pembelajaran nya dengan kelas sehingga ia tidak melakukan perubahan. Padahal, yang seharusnya adalah sebaliknya. Lingkungan fisik di kelas harus ditata atau diatur untuk mendukung aktifitas belajar yang dikembangkan guru secara individual.

 

  1. PEMBAHASAN
  2. PENATAAN LINGKUNGAN FISIK KELAS

Menurut Winner (dalam Winataputra, 1998: 16) dan  (dalam Anitah Sri.W.dkk.10.17) beberapa penelitian menunjukkan bahwa penataan lingkungan kelas yang tepat berpengaruh terhadap tingkat keterlibatan dan partisipasi siswa dalam proses pembelajara. Lebih jauh, diketahui bahwa pengaturan tempat duduk berpengaruh terhadap jumlah waktu yang digunakan siswa untuk mengerjakan tugas belajar yang diberikan. Hal ini berarti semakin tepat penataan tempat duduk oleh guru, semakin banyak waktu yang digunakan siswa mengerjakan tugas belajar yang diberikan. Mengingat betapa pentingnya penataan lingkungan fisik kelas terhadap kegiatan siswa di dalam proses pembelajaran, perlu kiranya guru memahami dan menerapkan prinsip-prinsip penataan lingkungan fisik kelas.

  1. Prinsip penataan lingkungan fisik kelas

Lingkungan fisik kelas yang baik adalah ruangan kelas yang menarik, efektif serta mendukung siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Kelas yang tidak ditata dengan baik akan menjadi penghambat siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran. Penataan tempat duduk yang mengganggu lalu lintas selama kegiatan pembelajaran dan penempatan barang-barang yang tidak sesuai dengan fungsinya dapat menghambat berlangsungnya proses pembelajaran. Agar proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik, guru harus menata tempat duduk dan barang-barang yang ada di ruangan kelas sehingga dapat mendukung dan memperlancar proses pembelajaran.

Perlu diingat bahwa tujuan utama penataan lingkungan fisik kelas ialah mengarahkan kegiatan siswa dan mencegah munculnya tingkah laku siswa yang tidak diharapkan melalui penataan tempat duduk, perabot, pajangan, dan barang-barang lainnya yang ada didalam kelas. Kelas harus ditata dengan baik sehingga memungkinkan terjadinya interaksi aktif antara siswa dan guru serta antar siswa dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu, penataan kelas ini harus memungkinkan guru dapat memantau semua tingkah laku siswa sehingga dapat dicegah munculnya masalah disiplin. Melalui penataan kelas ini diharapkan siswa dapat memusatkan perhatiannya dalam proses pembelajaran dan akan bekerja secara efektif.

Menurut Louisell (dalam Winataputra, 1998:17-19 ), ketika menata lingkungan fisik kelas, guru harus mempertimbangkan 5 hal berikut ini.

  1. Keleluasaan pandangan (visibility)

Hal pertama yang harus diperhatikan guru dalam menata ruangan kelas ialah keleluasaan pandangan (visibility). Artinya, penempatan atau penataan barang-barang didalam kelas tidak mengganggu pandangan siswa dan guru sehingga siswa secara leluasa dapat memandang guru atau benda/kegiatan yang sedang berlangsung. Siswa dapat melihat kegiatan pembelajaran dari tempat duduk mereka. Misalnya, siswa tidak duduk terlalu jauh dari papan tulis, tidak terganggu oleh sinar matahari yang menyilaukan mata siswa atau tidak terhalang pandangannya pada saat guru menggunakan alat bantu pelajaran. Tempat duduk siswa yang menghambat pada pintu masuk atau jendela akan mengganggu konsentrasi belajar siswa pabila ada sesuatu yang melintas dihadapan mereka. Di samping itu, guru juga harus dapat memandang semua siswa setiap saat menyajikan materi pelajaran.

  1. Mudah dicapai / mudah di jangkau (accessibility)

Pernahkah anda dirrepotkan oleh siswa yang meminta bantuan anda untuk mengambilkan barang-barang yang mereka butuhkan? Hal ini tidak akan terjadi apabila barang-barang yang sering digunakan siswa dalam proses pembelajaran diletakan pada tempat yang dapat dengan mudah dijangkau oleh siswa. Apabila mereka membutuhkannya, mereka tidak perlu meminta bantuan guru untuk mengambilnya. Ruangan hendaknya diatur dengan baik sehingga lalu lintas kegiatan belajar dikelas tidak terganggu. Jarak antar tempat duduk harus cukup dilalui oleh siswa sehingga siswa dapat dengan mudah bergerak dan tidak mengganggu siswa lainnya yang sedang bekerja.

  1. 3. Keluwesan (fleksibility)

Barang-barang yang ada didalam kelas hendaknya mudah untuk ditata dan dipindah-pindahkan sesuai dengan tuntutan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan siswa dan guru. Pembelajaran melalui diskusi kelompok menuntut tatanan ruang kelas yang berbeda dengan pembelajaran melalui kegiatan demonstrasi. Apabila anda akan menerapkan diskusi kelompok, tatanan ruang kelas yang bagaimana yang akan anda terapkan? Tentu saja agar tujuan diskusi kelompok dapat dicapai, anda akan menata ruangan kelas sesuai dengan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan siswa. Apabila anda memulai kegiatan pembelajaran dengan pengarahan secara umum terhadap tugas-tugas yang harus dilakukan siswa dalam kegiatan kelompok.

Dan pada akhir pembelajaran setiap kelompok diminta untuk melaporkan hasil kerja kelompoknya maka anda harus menata tempat duduk secara bervariasi. Pada permulaan dan akhir pembelajaran, anda dapat menata tempat duduk dengan berjejer dengan menghadap kedepan kelas, dengan penataan semacam ini, semua siswa dapat memandang anda sehingga semua penjelasan anda dapat didengar dengan baik oleh seluruh siswa..

  1. Kenyamanan

Disamping guru harus menata ruang kelas sesuai dengan tujuan dan strategi pembelajaran, guru juga dituntut untuk menata lingkungan kelas yang dapat memberikan kenyamanan baik bagi siswa maupun bagi guru sendiri. Prinsip kenyamanan ini berkenaan dengan temperatur ruangan, cahaya, suara, dan kepadatan kelas. Kenyamanan ruang kelas akan sangat berpengaruh terhadap konsentrasi dan produktifitas siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran.

  1. Keindahan

Dalam menata ruang kelas, prinsip keindahan ini perlu diperhatikan. Prinsip ini berkenaan dengan usaha guru menata ruang kelas yang menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan pembelajaran. Ruangan kelas yang indah dan menyenangkan berpengaruh positif terhadap sikap dan tingkah laku siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Kelas yang indah dan menyenangkan menggambarkan harapan guru terhadap proses belajar yang harus dilakukan dan tingkah laku siswa selama kegiatan pembelajaran. Selain itu ruangan kelas yang menyenangkan dapat meningkatkan pengembangan nilai keindahan pada diri siswa karna siswa melihat langsung model/contoh yang dilakukan guru dalam menata kelas. Khusus bagi siswa yang kurang mendapatkan kenyamanan dan keindahan di rumah, kelas yang menyenangkan dan mampu memberi kesan bahwa belajar itu menyenangkan sangat diperlukan.

 

  1. PENATAAN TEMPAT DUDUK

Tempat duduk merupakan fasilitas atau barang yang diperlukan oleh siswa dalam proses pembelajaran terutama dalam proses belajar di kelas di sekolah formal tempat duduk dappat mempengaruhi proses pembelajaran siswa, bila tempat duduknya bagus, tidak terlalu rendah, tidak terlalu besar, bundar, persegi empat panjang sesuai dengan keadaan tubuh siswa. Maka siswa akan merasa nyaman dan dapat belajardengan tenang (finanovianasarasati.blogspot.com..artikelMobile-friedndly-19 Juni 2015)

Peningkatan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran dapat dilakukan guru melalui penerapan berbagai strategi pembelajaran. Mungkin guru memulai pembelajarannya dengan penjelasan umum bagi semua bagi semua siswa sebelum siswa ditugaskan untuk melakukan diskusi kelompok untuk bekerja secara individual. Mungkin juga guru melakukan proses pembelajaran dengan strategi tutor sebaya, yaitu siswa yang telah menguasai materi materi pelajaran membantu siswa lainnya yang mengalami kesulitan dalam memahami materi tersebut. Bahkan untuk topik-topik tertentu, guru menerapkan kegiatan bermain peran. Setiap strategi pembelajaran yang diterapkan guru menuntut tatanan tempat duduk yang berbeda-beda. Dengan kata lain, guru harus menata tempat duduk siswa untuk memperlancar kegiatan pembelajaran. Bagaimana dengan anda, pernahkah anda mengubah tempat duduk siswa? Hal ini perlu anda perhatikan sebab, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, pengaturan tempat duduk berpengaruh terhadap waktu yang digunakan siswa untuk mengerjakan tugas-tugas (Winzer, 1995). Namun, perlu diingat bahwa pola-pola penataan tempat duduk bukanlah hal yang ideal, tetapi tepat untuk tujuan dan strategi pembelajaran tertentu.

 

  1. KESIMPPULAN

Lingkungan fisik kelas terdiri dari; (1) Penataan Fisik Lingkungan Kelas dan,   (2) Penataan Tempat Duduk

Perubahan tujuan pembelajaran dan perubahan kegiatan belajar yang dilakukan siswa menuntut perubahan dalam penataan lingkungan fisik kelas. Ini berarti bahwa guru hendaknya menyesuaikan penataan ruang kelas terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Meskkipun barang-barang yang ada didalamnya jelas kurang memadai keadaannya, melalui penataan ruang kelas yang efektif, barang-barang tersebut menjadi bermanfaat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anitah, W, Sri, dkk. (2007). Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Pusat Penerbitan

Universitas Terbuka.

Djamarah, Syaiful Bahri ,(2000). Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya:

Usaha Nasional

Sardjiyo, dkk. (2012) Pendidikan Anak di SD. Jakarta:  Pusat Penerbitan

Universitas Terbuka

Semiawan, Conny R. (Ed) (1999). Perkembangan dan belajar Peserta Didik. Jakarta:

Depdikbud.

Taufik, Agus, dkk (2011). Pendidikan Anak Di SD. Jakarta: Pusat Penerbitan

Universitas Terbuka.

Udin S. Winataputra. (2003).  Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Pusat Penerbitan

Universitas Terbuka

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Winataputra, 1998, Strategi Belajar Mengajar Universitas Terbuaka: Jakarta

(finanovianasarasati.blogspot.com..artikelMobile-friedndly-19 Juni 2015)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.