PEMBELAJARAN MENULIS INTEGRATIF DAN KOMUNIKATIF

0
66

OLEH:

Dra.Hodidjah,M.Pd

Widyaiswara BDK Palembang

 ABSTRAK

Belajar Bahasa Indonesia pada dasarnya membantu anak untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan. Ada 4 hal terpenting dalam belajar Bahasa Indonesia yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Dari ke-4 kemampuan, keterampilan menulis menuntut pengethuan kebahasaan dn ketekunn berlatih. Salah satu cara yang digunakan untuk mengtasi keterampilan menulis menggunakan comparative lerning. Ada lima unsur model pembelajaran cooperative learning yaitu: 1) Saling ketergantungan positif; 2) Tanggungjawab perseorangan; 3) Tatap muka; 4) komunikasi antaranggota dan 5) Evaluasi proses kelompok.

Kata kunci:Pembelajaran integrtif dan komuniktif

Tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia adalah membantu anak untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan.

Kemampuan berkomunikasi yang mendasar adalah kemampuan menangkap pesan, termasuk menafsirkan, menilai dan mengekspresikan diri dengan bahasa. Untuk mencapai tujuan itu, siswa tidak hanya dibekali dengan kemampuan memahami kalimat, melainkan juga dibekali dengan kemampuan menggunakan kalimat dalam berbagai bentuk dan konsep.

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, ada empat keterampilan yang harus diterapkan, yaitu mendengarkan , berbicara, membaca, dan menulis. Keterampilan menulis merupakan keterampilan keterampilan yang paling tinggi dibandingkan ketiga keterampilan berbahasa lainnya. Keterampilan menulis menuntut pengetahuan kebahasaan dan kerutinan berlatih (Tarigan, 1986:4).

Guru dapat menerapkan pembelaajaran menulis melalui tiga cara, yaitu: 1) menjelaskan materi. 2) melatihkan sesuatu. Dan 3) melibatkan siswa dalam kegiatan berbahasa. Cara yang ketiga merupakan cara yang paling efektif karena siswa yang menjadi focus (aktif). Yang dipentingkan adalah proses siswa mengalami kegiatan menulis tanpa mengesampingkan hasil pembeljaran yang diperoleh. Pembelajaran semacam ini adalah pembelajaran yang tidak dipusatkan pada materi, tetapi pada kompetensi. Salah satu kompetensi umum Bahasa dan sastra Indonesia untu SMP adalah menulis berbagai jenis karangan, dengan pengorganisasian yang runtut sesui dengan tujuan dan ragam pembaca, menggunakan kosakata, Menggunakan kosakata dan tanda baca secara tepat dan kalimat majemuk setara bertingkat (Puskur, 2001).

Permasalahan yang timbul dalam makalah ini adalah bagaimana cara menciptakan pembelajaran menulis yang integratf dan komunikatif sekaligus mengandung kebermaknaan bagi siswa. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mengatasinya adalah dengan menerapkan model pembelajaran menulis menggunakan pendekatan comparative lerning.

KEGIATAN MENULIS

Menuis sering dikenal juga dengan mengarang. Mengarang merupakan kegiatan berbahasa secara tertulis. Jadi menulis adalah segala niat, perasaan atau pikiran tentang masalah yang diungkapkan dalam ujud bahasa tulisan. (P dan K, 1985:5). Menurut Purwo (1997), bukan panjang tulisan yang diharapkan dari kegiatan menulis, melainkan kejelasan isi tulisan serta efisiensi pemakaian dan pemilihan kata. Selama kegiatan ini, siswa perlu disadarkan bahwa ada berbagai kemungkinan cara penataan atau penyusunsn kita. Oleh karena itu, penting sekali bagi siswa untuk mendapatkan kesempatan saling beljar dari temannya, dengan saling membaca hasil tulisan sesame teman.

Termasuk dalam kegiatan menulis adalah kegiatan menemukan kesalahan dalam menulis, tidak hanya ejaan dan tanda baca, tetapi kelengkapan atau kejelasan bahkan pemilihan kata. Siswa tidak hanya dilatih untuk menemukan kesalahan, tetapi juga memperbaiki dan membenahinya. Jika siswa belum bisa melakukan hal itu untuk tulisannya sendiri, mereka diminta melakukan hal itu pada tulian temannya.

Pembelajaran menulis yang integrative maksudnya adalah pembelajaran menulis yang terpadu dengan keteramplan berbahasa yang lain, yaitu keterampilan berbicara, menyimak, dan membaca, Sumardi (1996) mengemukakan cirri-ciri pembelajaran bahasa yang komunikatif adalah:

  1. Kebermaknaan sangat penting, dibandingkan dengan metode audiolingual yang lebih mengutamakan struktur dan bentuk bahasa.
  2. Belajar bahasa berarti belajar berkomunikasi, bukan mempelajari struktur, bunyi, atau kosakata secara terpisah.
  3. Tujuan yang ingin dicapai adalah kemampuan komunikatif (communicative competence) yaitu kemampuan menggunakan sistem bahasa secara efektif dan benaar.
  4. Kelancaran menggunakan bahasa menjadi tujuan utama yang ingin dicapai. Keakuratan penggunaan bahasa dilihat dari konteks penggunaannya. Kontekstualisasi merupakan premis dasar.
  5. Yang ingin dicapai adalah berkomunikasi yang efektif, bukan overleaning.
  6. Materi pelajaran disusun dan ditahapkan melalui pertimbangan isi, fungsi, atau makna yang menarik.
  7. Variasi kebahasaan merupakan konsep sentral dalam materi pelajaran dan metodologi.
  8. Alat apa pun yang dapat membantu siswa dalam proses belajar mengajar dapat digunakan sesuai dengan umur, minat, dan sebagainya.
  9. Apabila diperlukan dan berguna bagi siswa, penerjemahan dapat digunakan.
  10. Jika diperlukan, penggunaan bahasa ibu dapat dilakukan
  11. Dialog, apabila digunakan, berkisar pada fungsi-fungsi komunikatif dan biasanya tidak dihafalkan.
  12. Bukan ucapan yang persis seperti ucapan penutur asli yang dicari, tetapi ucapan yang dapat dopahami.
  13. Usaha untuk berkomunikasi diajarkan sejak tingkat permulaan.
  14. Kaji ulang atau drill dapat dilakukan tetapi secara peripheral saja.
  15. Pelajaran membaca dan menulis dapat dimulai sejak hari pertama, jika dikehendaki.
  16. Bahasa yang diciptakan individu-individu seringkali “Trial and error”
  17. Guru membantu siswa dengan cara apapun yang mendorong siswa menggunakan bahan yang dipelajari.
  18. Siswa duharapkan dapat berinteraksi langsung dengan orang lain melalui kerja sama berpasangan atau kelompok, baik secara langsung maupun tulisan.

PENERAPAN PEMBELAJARAN MENULIS DALAM KELAS

Di dalam kelas, siswa harus dibekali dengan ketermpilan-keterampilan dasar dan berbagai informasi, juga dibimbing untuk berfikir kritis dan kreatif, terampil berkomunikasi dan berkehidupan social. Pelaksanaan-pelaksanaan di kelas hendaknya memperhatikan factor-faktor:

  1. Pengetahuan ditemukan, dibentuk, dan dikembangkan oleh siswa.
  2. Siswa membangun pengetahuan secara aktif, belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan siswa, bukan sesuatu yang dilakukan terhadap siswa.
  3. Pengajar perlu mengembangkan kompetensi dan kemampuan siswa. Kegiatan belajar mengajar harus lebih menekankan pada proses daripada hasil.
  4. Pendidikan adalah interaksi pribadi antarsiswa dan interaksi antara guru dan siswa (Lie,2002:5).

Pembelajaran menulis yang interaktif dan komunikatif dapat dicapai

dengan keempat unsur pelaksanaan pembelajaran yang menggunakan pendekatan cooperative learning (pembelajaran gotong royong). Johnson and Johnson dalam Anita Lie (2002) menyatakan cooperative learning dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/belajar kelompok yang terstruktur. Ada lima unsur model pembelajaran cooperative learning yaitu: 1) Saling ketergantungan positif; 2) Tanggungjawab perseorangan; 3) Tatap muka; 4) komunikasi antaranggota dan 5) Evaluasi proses kelompok.

Peran guru dalam pelaksanaan pembelajaran menulis di kelas adalah sebagai berikut:

  1. Guru harus benar-benar memberikan kebebasan kepada siswa menulis tanpa harus dibatasi oleh aturan-aturan yang dapat mengekang kreativitas siswa.
  2. Guru harus mendorong siswa untuk berani dan tidak takut dalam bertanya karena metode yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah wawancara. Dengan kata lain wawancara merupakan pintu masuk menuju kemampuan menulis.
  3. Guru mendorong siswa untuk dapat melibatkan diri dan berperan aktif dalam kelompoknya. Dengan kata lain siswa harus lebur dalam diskusi kelompok untuk menyusun pertanyaan-pertanyaan.
  4. Guru membantu siswa mengembngkn pertanyaan-pertanyaan yang akan disusun.
  5. Guru membantu siswa mengembangkan informasi yang didapat dari hasil wawancara unuk dialihrupakan ke dalam bentuk tulisan melalui diskusi kelompok.

Penerapan pembelajaran menulis yang integrative dan komunikatif ini

Selain membekali siswa dengan kemampuan menulis juga membekali siswa dengan kemampuan berbicara, karena siswa dituntut untuk mampu berbicara (melalui wawancara) untuk menggali informasi dari tokoh yang akan dijadikan objek tulisan.

Pelaksanaan-pembelajaran menulis yang akan dijalani siswa melalui tahap-tahap: 1) persiapan; 2) draf kasar; 3) berbagi; 4) memperbaiki; 5) penyuntingan; 6) penulisan kembali dan 7) evaluasi. Secara rinci yang dimaksud dengan persiapan adalah siswa berdiskusi untuk menyiapkan pokok-pokok pertanyaan yang akan diajukan kepada tokoh yang akan diwawancarai. Pokok-pokok pertanyaan harus disesuaikan dengan keadaan tokoh yang diwawancarai. Dalam tahap kedua yaitu draf kasar, siswa menjalankan hasil wawancara ke dalam bentuk tulisan dengan diskusi kelompok, sedangkan berbagi maksud nya draf kasar yang sudah ada dibaca oleh salah satu anggota kelompok. Penyuntingan yaitu memperbaiki semua kesalahan dari sudut dksi, tanda baca, dan hal-hal lain yang berkenaan dengan teknis menulis yang baik. Menulis kembali adalah tulisan direvisi sesuai dengan pengubahan-pengubahan dalam penyuntingan. Terakhir, evaluasi merupakan proses penilaian yang dilakukan antarkelompok.

Dalam memberikan penilaian siswa diberi rambu-rambu penilaian/panduan penilaian sebagai berikut:

NO ASPEK YANG DINILAI SKOR
123

4

5

Kejelasan tulisanKepaduan paragraphKeefektifan kalimat

Penggunaan diksi

Penggunaan EYD

1-201-201-20

1-20

1-20

Jumlah 100

SKENARIO PEMBELAJARAN

Pertemuan Pertama

  1. Guru membentuk kelompok siswa yang terdiri dari 4-5 kelompok
  2. Siswa berdikusi untuk menentukan tokoh yang akan diwawancarai. Tokoh bisa di lingkungan, lingkungan tempat tinggal mereka, ataupun tikoh masyarakat.
  3. Siswa berdiskusi untuk meyusun daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada tokoh.
  4. Siswa berdiskusi untuk menyusun daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada tokoh Siswa berdiskusi untuk menentukan waktu mengadakan wawancara dan perlengkapan apa saja yang harus disiapkan, seperti kamera, tape recorder, dan lainnya. Sebelumnya, siswa disarankan terlebih dahulu harus melakukan pendekatan terhadap tokoh/membuat janji. Pelaksanaan wawancara dilakukan di luar jam pelajaran sekolah.
  5. Wakil dari setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka ke depan kelas, sedangkan kelompok lain menanggapi.
  6. Guru mengrahkan apa yang harus dilakukan siswa selanjutnya (diluar jam tatap muka) yaitu melaksanakan wawancara, mencatat/merekam hasil wawancara. Mengembangkan/mengalihrupakan hasil wawancara ke dalam bentuk tulisan/draf kasar

Pertemuan kedua

  1. Draf kasar tulisan masing-masing kelompok didiskusikan lagi untuk diperbaiki / disuntimg kemudian penulisan kembali.
  2. Setiap kelompok mempresentasikan hasil tulisan mereka ke depan kelas
  3. Evaluasi, hasil kerja setiap kelompok ditukar dengan kelompok lain untuk dikoreksi.

Rasa kebersamaan dan tanggung jawab dalam cooperative learnin secara tidak langsung menanamkan prinsip-prinsip pendidikan, yaitu belajar untuk tahu, belajar untuk menjadi diri sendiri dan yang paling penting adalah belajar untuk hidup bersama dalam masyarakat.

PENUTUP

Pembelajaran menulis yang interaktif dan komunikatif dapat dicapai dengan keempat unsur pelaksanaan pembelajaran yang menggunakan pendekatan cooperative learning (pembelajaran gotong royong). Penerapan pembelajaran menulis yang integrative dan komunikatif ini

Selain membekali siswa dengan kemampuan menulis juga membekali siswa dengan kemampuan berbicara, karena siswa dituntut untuk mampu berbicara (melalui wawancara) untuk menggali informasi dari tokoh yang akan dijadikan objek tulisan.

REFERENSI

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Putra.

Arsyad. 2007. Media Pengajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Bakrowi. 2006. Microsoft Office PowerPoint Sebagai Media Pembelajaran Materi Unsur, Senyawa, dan Campuran Berbasis STAD.Jurnal pendidikan Inovatif.(http://jurnaljpi.wordpress.com/2008/01/22/bakrowi/diakses1 Januari 2009)

 Bandono, 2009, “Pengembangan Bahan Ajar”. http://bandono.web.id.diakses 12 Januari 2010

Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Sastra Ana; Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yokyakarta: Gadjah Mada University Press.

Button, Asri La. 2009. Pengembangan Model Pembelajaran. (http://hobri.blog.unej.ac.id /files/2009/03/03-kualitas.pdf)

Chaeruman, Uwes A, 2007. Evaluasi Formatif. FakultasLuarKampus.Net. 5 Juli 2007 (http://fakultasluarkampus.net/media-pembelajaran-vs-alat-bantu-pembelajaran/, diakses 1 Januari 2010).

Chaeruman, Uwes A. 2008. Media Pembelajaran VS Alat Bantu Pembelajaran. FakultasLuarKampus.Net. 20 November 2008 (http://fakultasluarkampus. net/ media-pembelajaran-vs-alat-bantu-pembelajaran/, diakses 29 Februari 2009).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.