Pelayanan Kepada Peserta Diklat di Lingkungan Balai Diklat Keagamaan Palembang

0
18

By. Weldan Firnando Smith, S.Pd., M.AP

 

Abstract

Balai Pendidikan dan Pelatihan Keagamaan Palembang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi pegawai negeri di lingkungan Kementerian Agama. Kualitas pelayanan publik perlu ditentukan berdasarkan dimensi yang ditetapkan pemerintah dan relevan dengan kondisi peserta diklat yang terus berkembang dinamis sehingga dapat memenuhi harapan peserta diklat.Sebab pelayanan dikatakan berkualitas jika peserta diklat menerima layanan sesuai atau melebihi harapan atau “kualitas pelayanan” adalah pelayanan terbaik yang

Kata kunci: Pelayanan dan kinerja

 

 A.  Pendahuluan

Untuk mengevaluasi pelayananan diklat, menjelang penutupan diklat peserta diberikan lembar evaluasi kinerja penyelenggara diklat atau diberikan kesempatan bagi peserta untuk memberikan masukan terhadap pelayanan selama mengikuti diklat. Berdasarkan pengamatan, ada beberapa hal yang sering dikeluhkan peserta diklat diantaranya panitia jarang berada di kelas,tidak jelasnya pengelolaan pengaduan, masih ada kelas yang menggunakan kipas angin sehingga pada siang hari peserta merasa kepanasan.

Tidak semua Pegawai melaksanakan aktivitas pekerjaannya dengan baik, ada yang tidak  mengetahui pekerjaan apa yang akan dilakukan pada hari tersebut artinya belum memahamai uraian pekerjaannya. Ada beberapa Staf misalnya terlihat belum menunjukkan pelaksanaan tugas dan fungsi dengan baik . Selanjutnya kinerja pegawai dilihat dari kemampuan dalam bekerja kurang diberdayakan oleh atasan. Sedangkan dari aspek sarana prasarana masih kurang sehingga berpengaruh terhadap efektivitas pelaksanaan pekerjaan. Masih banyak peralatan yang tidak digunakan terutama komputer, setelah di tanya ternyata mengalami kerusakan hal ini berarti pemeliharaan terhadap inventarisasi kantor belum berjalan dengan baik. Jadi aspek kemampuan pegawai untuk bekerja, dan sarana prasarana sangatlah berpengaruh terhadap kinerja pegawai di Balai Diklat Keagamaan Palembang.

Berdasarkan masalah di atas maka perlu kiranya diadakan penelitian tentang analisis Kinerja pegawai di Balai Diklat Keagamaan Palembang. Dalam  kajian ini akan dilihat kinerja pegawai dikaitkan dengan kompetensi atau kemampuan pegawai, sarana prasana yang mendukung pekerjaan tersebut.

 

B.  Identifikasi Masalah

Kinerja pegawai menjadi tuntutan utama dalam pelaksanaan tugas dan fungsi Balai Diklat Keagamaan Palembang. Salah satu faktor yang menjadi dasar pelaksanaan efektivitas pekerjaan di kantor adalah peningkatan kualitas para pegawai, baik ditinjau dari segi kualitas pekerjaan  maupun  sarana dan prasarana kantor yang menjadi penunjang efesiennya pekerjaan.

Berdasarkan hal diatas dan kenyataan selama ini timbul beberapa permasalahan diantaranya:

1. Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai Balai Diklat Keagamaan Palembang disebabkan (1) motivasi kerja relatif rendah, (2) Latar belakang pendidikan tidak sesuai dengan tugas di kantor, dan (3) tidak adanya kejelasan aturan ketika pegawai melaksanakan tugas.

Sehubungan dengan identifikasi masalah di atas, maka pertanyaan penelitian sebagai berikut:

  1. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi pelayanan kepada peserta diklat di lingkungan Balai Diklat Keagamaan Palembang?

 

C.  Rumusan Masalah

1. Berdasarkan latar belakang dan identifikasi permasalahan di atas  maka rumusan masalah dalam penelitian ini, adalah :  Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi pelayanan kepada peserta diklat di lingkungan Balai Diklat Keagamaan Palembang.

 

D.  Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dan pertanyaan penelitian di atas maka, tujuan penelitiannya sebagai berikut :

1.   Untuk mengetahui Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi kegiatan pelayanan kepada peserta diklat di lingkungan Balai Diklat Keagamaan Palembang.

 

KAJIAN  PUSTAKA

 

A.  Kajian Teori

1.    Konsep Kinerja dan Pelayanan

Pemahaman tentang kinerja sangat banyak.untuk itu ada beberapa pemahaman tentang kinerja yaitu sebagai berikut : Kinerja memiliki asal kata “kerja” artinya aktivitas yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi dalam menjalankan tugas yang menjadi pekerjaannya. Kinerja artinya suatu perbuatan, sautu prestasi atau penampilan umum dari peterampilan

Menurut Withmore (2002 : 121).Kinerja  berasal dari kata “job performance” atau “actual performance” yaitu unjuk kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Sinambela (2006:43) menegaskan kualitas pelayanan birokrasi yaitu melayani konsumen sesuai dengan kebutuhan dan seleranya. Artinya segala sesuatu yang berkaitan dengan pelayanan semuanya sudah terukur ketepatannya kerena yang diberikan adalah kualitas

B.  Metodologi Penelitian
1.    Motode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Kualitatif. Metode kualitatif pada hakekatnya ialah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya (Moleong, 2008 : 94).

Pada penelitian ini yang diamati yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai Balai Diklat Keagamaan Palembang.

 

2.    Tempat Penelitian Dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Balai Diklat Keagamaan Palembang dimana yang menjadi fokus yaitu pejabat struktural dan staf pelaksana pada  Balai Diklat Keagamaan Palembang, dengan waktu penelitian kurang lebih 1 (satu) yakni pada bulan September 2013.

Dalam penelitian kualitatif, teknik sampling yang sering digunakan yaitu purposive sampling dan snowball sampling. Teknik pengambilan sampel yang di pakai pada penelitian ini yaitu Purposive sampling.

Menurut Sekaran (2006 : 140) Purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu, dan direncanakan informan berjumlah 25orang. Pertimbangan tertentu ini, misalnya orang tersebut  dianggap paling tahu tentang informasi yang harapkan, atau mungkin dia sebagai penanggung jawab termasuk didalamnya pejabat struktural dan data-data studi dokumentasi, sehingga memudahkan peneliti menjelajahi objek yang diteliti, maka yang dijadikan  sumber data yaitu sebagai berikut :

  1. Pejabat struktural berjumlah 3 (lima) orang
  2. Staf pelaksana berjumlah 15 (lima belas) orang
  3. Peserta diklat yang dilayani 60 (lima) orang

Dengan 3 (tiga) sumber data di atas dapat mewakili data yang dibutuhkan oleh peneliti, sehingga diharapkan data tersebut sesuai dengan rancangan pada penelitian ini. Dengan data yang tepat sasaran maka akan mempermudah dalam melakukan analisis data dan ketepatan dalam pengambilan keputusan.

3.Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  1. Observasi, yaitu melihat langsung kegiatan-kegiatan pegawai Kantor di setiap seksi, hal ini sangat bermanfaat untuk menambah atau memperkuat penelitian berkaitan dengan kinerja pegawai pada Balai Diklat Keagamaan Palembang.
  2. Wawancara, yaitu melakukan tanya jawab langsung kepada sejumlah informan untuk memperoleh data yang lebih akurat, terutama menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai Balai Diklat Keagamaan Palembang.
  3. Kusioner, yaitu dalam bentuk pertanyaan berkaitan dengan kemampuan (ability), motivasi (motivation) dan sarana prasarana yang bertujuan untuk memperkuat hasil penelitian.

 

  1. 4.    Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini teknik analisis data digunakan sebagaimana dalam konsep   Miles dan Huberman. Menurut Mils dan Hubermen dalam buku Sugiyono (2008 : 102) penelitian kualitatif dilakukan secara interaktif dan  berlangsung secara terus menerus pada setiap tahapan penelitian sehingga sampai tuntas, dan datanya sampai jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification. Langkah-langkah analisis ditunjukkan pada gambar berikut :

Berdasarkan gambar di atas  yaitu komponen analisis data kualitatif, maka dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Koleksi Data, mengumpulkan semua data baik itu melalui kuesioner, wawancara maupun observasi berkaitan dengankinerja pegawai baik itu pejabat struktural dan staf pelaksana pada  Balai Diklat Keagamaan Palembang.
  2. Mereduksi data, berdasarkan pengumpulan data tersebut kemudian di pilah data-data yang diperlukan berkaitan langsung dengankinerja pegawai baik pejabat struktural dan staf pelaksana pada  Balai Diklat Keagamaan Palembang.
  3. Menyusun data, setelah data berkaitan dengan kinerja pegawai Balai Diklat Keagamaan Palembang terkumpul, semua data di kategorikan dan di uraikan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart.
  4. Kesimpulan, ini berkaitan langsung dengan penarikan kesimpulan dari penelitian, namun penarikan kesimpulan harus didasarkan pada data yang sudah terkumpul. Terutama data-data yang berkaitan dengan kinerja pegawai pada Balai Diklat Keagamaan Palembang.

C. Temuan Hasil Penelitian dan Pembahasan

  1. a.    Temuan Hasil Penelitian
    1. 1.      Gambaran Umum Balai Diklat Keagamaan Palembang

Tugas Pokok :
Secara umum, Balai Diklat Keagamaan Denpasar mempunyai tugas melaksanakan pendidikan dan pelatihan tenaga administrasi dan tenaga teknis keagamaan sesuai dengan wilayah kerja.
Adapun secara khusus bertugas :

  • Melaksanakan Diklat bagi para pegawai Kementerian Agama di wilayah kerjanya
  • Menunjuk, mengkoordinasikan dan memberikan bimbingan kepada staf pengajar
  • Melaksanakan praktek  dan observasi lapangan
  • Melaksanakan tata usaha dan rumah tangga

Fungsi :

  • Perumusan visi, misi dan kebijakan Balai Diklat Keagamaan
  • Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan tenaga administrasi dan tenaga teknis keagamaan
  • Pelayanan di bidang pendidikan dan pelatihan keagamaan
  • Penyiapan dan Penyajian laporan hasil pelaksanaan tugas Balai Diklat Keagamaan
  • Pelaksanaan Kordinasi dan pengembangan kemitraan dengan satuan organisasi/ satuan kerja di lingkungan Kementerian Agama, Pemerintah serta lembaga terkait lainnya.
  1. 1.    Rangkuman Hasil Wawancara

Hasil rangkuman berdasarkan wawancara pejabat struktural, staf pelaksana dan unsur peserta diklattentang informasi kinerja pegawai yaitu berkaitan dengan motvasi kerja, kemampuan, dan kesempatan dalam bekerja, serta sarana dan prasarana kantor, untuk itu beberapa hasil yang perlu diuraikan yaitu :

  1. Pelaksanaan Tugas-Tugas oleh pegawai Balai Diklat Keagamaan Palembang.

Pada unit kerja perlu adanya suatu sistem kerja yang baik, termasuk bagaimana pembagian tugas-tugas yang sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Ini sangat penting mengingat pekerjaan-pekerjaan yang nantinya muncul itu memberikan efek pada pencapaian tujuan-tujuan organisasi. Rangkuman wawancara berkaitan dengan pelaksanaan tugas-tugas oleh pegawai Balai Diklat Keagamaan Palembang, yaitu:

  1. Beberapa seksi-seksi atau sub bagian terdiri dari berdasarkan hasil wawancara dilihat dari aspek ability (kemampuan) dimana rata-rata sudah mampu memahami  prosedur kerja.
  2. Mampu menyusun rencana kerja serta menggerakkan bawahannya untuk terus bekerja dengan baik.
  3. Ada beberapa alasan yang dapat mendukung ini yaitu prosedur kerja sudah diketahui oleh pejabat strukturalnya disamping itu juga para pejabat struktural melaksanakan kegiatan berdasarkan juknis atau petunjuk dari pemerintah artinya melaksanakan kegiatan-kegiatan berdasarkan instruksi-instruksi tersebut.
  4. Pengawasan berlum terjadi secara rutin, hanya kegiatan-kegiatan tertentu saja ada pengawasan.
  5. Dalam pelaksanaan pekerjaan seringkali terlihat keterlambatan dalam penyelesaian hal ini disebabkan karena pegawai bekerja sesuai dengan jam kerjanya saja (tidak mau lembur di Kantor).
  6. Dalam bekerja sudah menganut sistem kebersamaan artinya memberikan kesempatan kepada bawahan untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kantor, namun belum terjadi pemerataan dalam pelaksanaan pekerjaan (devision of job).
  7. Melakukan koordinasi terhadap seksi atau bagian yang lain dalam upaya untuk saling melengkapi terhadap tugas yang diberikan oleh atasan.
  8. Pada tingkatan struktural terlihat bermotivasi tinggi dalam bekerja ketika program-program tersebut ada dana untuk pelaksanaannya, namun jika berkaitan dengan tugas-tugas rutinitas kantor motivasinya tidak terlalu tinggi, contohnya dalam melakukan pengawasan terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh staf.
  9. Seksi yang berhubungan langsung dengan peserta diklat sangat jarang para pejabat struktural untuk terjun langsung ke peserta diklat untuk melihat kondisi yang sebenarya berkaitan dengan pelayanan pada peserta diklat.
  10. Di unit kerja terlihat sekali jika ada permintaan data-data dari Balai Diklat Keagamaan Palembang, kebanyakan data yang diberikan yaitu data yang sudah lalu artinya tidak up-to-date, padahal kita tahu bersama bahwa tingkat perubahan dipeserta diklat itu cukup pesat.
  11. Sarana dan Prasarana Mendukung Kegiatan-Kegiatan Pelayanan pada Balai Diklat Keagamaan Palembang.

Sarana dan prasarana secara teoritis sangat menunjang pelaksanaan pencapaian tujuan-tujuan organisatoris. Untuk itu perlu dikelola dengan baik dan sesuai dengan kebuthan kantor. yaitu :Benyak sarana prasarana yang perawatannya masih sangat minim, seperti komputerisasi dan sarana lainnya.

Pada saat ini telah dikembangkan berbagai macam sarana yang berbasis elektronik seperti sitem informasi kepegawaian berbasis elektronik, sistem akuntansi instansi dan barang milik Negara, serta masih banyak lagi yang dikembangkan oleh pemerintah guna menciptakan pelayanan yang efektif dan efisien.

b. Hasil Pembahasan

  1. 1.    Kinerja  pegawai ditinjau dari aspek kemampuan  dalam bekerja.

Ada beberapa indikator kinerja pegawai Kementerian Agama Kota Palembang ditinjau  dari kemampuan (ability) pegawai yang intinya adalah pegawai mempunyai pengetahuan, keahlian, dan sikap sehingga pekerjaan-pekerjaan bisa dilaksankaan dengan baik. Di bawah ini akan diuraikan dalam bentuk tabel kemampuan (ability) pegawai Balai Diklat Keagamaan Palembang. Indikator kemampuan (ability) terlihat pada tabel di bawah ini, yaitu :

Tabel-1 Indikator Kemampuan (Ability)

Indikator Kemampuan (Ability)

Hasil Wawancaran Dengan Informan

Jml

Baik

Cukup

Kurang

Pengetahuan yang dimiliki oleh pegawai mendukung tugas sehari-hari

6

8

1

15

Memahami pedoman kerja sehari-hari

7

7

1

15

Menyelesaikan tugas sesuai dengan keinginan pimipinan

7

5

3

15

Setiap pegawai mempunyai kualitas kerja relatif baik

6

7

2

15

 

Dari table 1 di atas yaitu menguraikan indikator efektivitas kinerja dilihat dari aspek kemampuan kerja yang dimiliki oleh pejabat struktural dan staf pelaksana, dan peserta diklat berdasarkan hasil wawancara, reta-rata pegawai Balai Diklat Keagamaan Palembang mendapatkan hasil cukup baik.dimana pegawai mengetahui uraian tugas atau pekerjaan yang di laksanakan sehari-hari, mempunyai pedoman kerja yang jelas, serta rata-rata pegawai menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu.

Tapi dari hasil wawancara dengan para pegawai yang mempunyai kemampuan  (ability) di bawah rata-rata, ada beberapa alasan yang disampaikan yaitu: atasan sering kali tidak memberikan kepercayaan untuk melaksanakan pekerjaan yang menjadi tugasnys dikantor, kurang dilibatkan dalam penetapan rencana-rencana atau program-program kantor, sangat jarang diikutkan dalam pendidikan dan pelatihan (Diklat) baik ditingkat pusat maupun tingkat daerah, kurangnya bimbingan yang diberikan oleh atasan sehingga terkesan hanya membiarkan saja, untuk job description (uraian pekerjaan) seringkali tidak sesuai dengan kompetensi yang dimiliki oleh para pegawai kantor tersebut.

Secara umum kinerja pegawai Balai Diklat Keagamaan Palembang ditinjau dari aspek kemampuan (ability) sebagaimana pada rumusan masalah pada penelitian ini, cukup baik namun yang perlu dilihat adalah dominasi pekerjaan oleh beberapa orang sahingga pegawai yang lain merasa terabaikan dari pekerja tersebut. Untuk itu perlu ada pelibatan pegawai dalam pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan kantor. Faktor pemberdayaan Pegawai perlu ditingkatkan, jika pegawai tidak memiliki kemampuan dalam bekerja dibidangnya maka perlu diikutkan dalam pendidikan dan pelatihan.

 

2.  Kinerja  pegawai ditinjau dariaspek sarana dan prasarana kantor

Secara umum kinerja pegawai Balai Diklat Keagamaan Palembang ditinjau   dari aspek sarana dan prasarana masih pada kategori cukup baik dan perlu ditingkatkan. Perlu ada penambahan sarana dan prasarana untuk menunjang pelaksanaan tugas kantor agar supaya kinerja pegawai menjadi lebih optimal. Disamping itu juga ditemukan bahwa sarana dan prasarana kantor sudah ada akan tetapi pemeliharaan yang masih kurang.

Beberapa kendala yang ditemui dalam melaksanakan tugas atau pekerjaan di Kantor, yaitu :

  1. Fasilitas kantor yang tidak memadai hal ini terlihat dengan sarana prasarana penunjang kegiatan kantor masih cukup kurang. Seperti contoh kendaraan dinas dan peralatan komputer yang tidak terurus dengan baik.
  2. Terbatasnya dana atau anggaran yang dialokasikan, untuk setiap sarana prasarana yang dibuat oleh pemerintah.

Masih banyak kendala-kendala yang dihadapi oleh pegawai Balai Diklat Keagamaan Palembang jika ditinjau dari saranaprasana kantor. Fenomena ini  merupakan persoalan yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kinerja atau hasil kerja dari pegawai Balai Diklat Keagamaan Palembang.

 

3. Faktor – faktor yang mempengaruhi rendahnya kegiatan pelayanan kepada peserta diklat dilingkungan Balai Diklat Keagamaan Palembang

Berdasarkan hasil penelitian terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya kegiatan pelayanan kepada peserta diklat dilingkungan Kantor kementerian Agana Kota Palembang, antara lain:

  1. Motivasi pekerja

Berdasarkan hasil wawancara berkaitan dengan motivasi pegawai Balai Diklat Keagamaan Palembangadalah  sebagai berikut :

  • Indikasi awal terlihat para pegawai disiplin dalam waktu apel pagi maupun apel pulang kantor akan tetapi terlihat pada proses selama jam kantor kadang-kadang tidak berada di Kantor nanti sore jam pulang kantor pegawai kembali lagi ke kantor.
  • Pada umumnya rata-rata mengatakan memahami tugas-tugas atau uraian tugas yang ditetapkan oleh Kantor.  Hal ini berarti ada motivasi untuk bekerja akan tetapi belum diberikan kesempatan oleh atasan.
  • Begitu juga inisiatif dari para staf pelaksana cukup baik dimana bekerja sesuai dengan perintah atasan.
  • Bekerja selalu berdasasrkan perintah atasan atau berdasarkan instruksi atasan, namun pada tingkatan penyelesaian pekerjaan terlihat motivasinya masih rendah, para staf bekerja ketika ada atasan yang mengawasinya, akan tetapi jika tidak diawasi oleh atasan pegawai melaksanakan pekerjaan tidak optimal.
  • Menjadi kendala yaitu rutinitas dalam membangun koordinasi dengan setiap bagian dalam hal ini seksi-seksi yang ada di Kantor. Contoh : pembebanan pekerjaan hanya kepada orang-orang tertentu, sehingga pegawai yang lain tidak mendapatkan pekerjaan.
  • Jika atasan sedang dinas luar sangat terlihat sekali bahwa motivasi kerja para staf menurun. Hal ini dapat dibuktikan dengan bertumpuknya pekerjaan-pekerjaan kantor ketika atasan pulang dari pelaksanaan dinas luar.
  • Belum melaksanakan analisis apa yang dibutuhkan oleh pegawai berkaitan dengan pelaksanaan tugasnya. Contoh : perlu diikutkan dalam pelatihan tata persuratan jika pegawai tersebut bertugas di bagian kearsipan. Apalagi jika diklat di tingkat pusat (Jakarta) hanya orang-orang tertentu yang mengikutinya bahkan ada yang tidak berkaitan dengan kompetensinya.
  • Pekerjaan-pekerjaan yang dimandatkan kepada staf seringkali didominasi oleh beberapa orang staf saja, sehingga terkesan bahwa staf yang lain hanya disiplin dari aspek waktu masuk kerja dan keluar kerja. Pada hal berdasarkan wawancara dengan pegawai yang lain, mereka merasa mempunyai motivasi untuk bekerja dan juga memahami tugas-tugas yang akan dilaksanakan oleh kantor.

Hal di atas merupakan salah satu penyebab jika ada beberapa pegawai yang motivasi bekerjanya rendah, karena tidak dilibatkan dalam pekerjaan-pekerjaan kantor. Apalagi pekerjaan-pekerjaan tersebut menyangkut proyek-proyek ditingkat Balai Diklat Keagamaan Palembang.

  1. Kemampuan dan keterampilan

Kemampuan dan keterampilan sangat berkaitan dengan latar belakang pendidikan. Latar belakang pendidikan menjadi faktor rendahnya kegiatan pelayanan. Hal ini terbukti; ada beberapa pegawai yang ditempatkan pada posisi yang tidak tepat, misalnya pegawai berlatar belakang pendidikan S1 Pertanian ditugaskan sebagai tenaga pengadministrasian pada sub bagian Tata Usaha.  Ada yang berlatar belakang S1 Hukum Tata Negara ditugaskan sebagai tenaga pengadministrasian pada seksi Mapenda, dan seterusnya. Bila ingin pelayanan kepada peserta diklat menjadi efektif, sebaiknya penempatan pegawai dalam tugas pokok dan fungsinya harus dengan latar belakang pendidikan.

  1. Kejelasan aturan dalam melaksanakan tugas

Dalam melaksanakan suatu pekerjaan harus jelas aturan yang digunakan sehingga tidak terjadi ketimpangan dalam melaksanakan tugas. Aturan itu harus baku dan mempunyai kekuatan hukum.Misalnya tentang kehadiran pegawai. Banyak pegawai yang kurang mengerti dengan aturan kehadiran sebagaimana yang tercantum dalam PP nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin pegawai. Untuk itu perlu sosialisasi Peraturan Pemerintah dimaksud.

Ketiga hal di atas harus dilakukan supaya apa yang menjadi misi Balai Diklat Keagamaan Palembang akan tercapai.

SIMPULAN DAN REKOMENDASI

  1. A.     Simpulan
    1. Banyak faktor yang mempengaruhi kegiatan pelayanan kepada peserta diklat, seperti rendahnya motivasi kerja pegawai, kemampuan dan keterampilan yang berhubungan dengan penempatan pegawai yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan, dan ketidakjelasan aturan dalam melaksanakan tugas menjadi fenomena yang harus diperbaiki.
    2. Kinerja pegawai di lihat dari aspek kemampuan pegawai dalam bekerja (ability) cukup baik artinya pekerjaan dilakukan oleh pegawai yang mempunyai kemampuan untuk mengerjakan tugas tersebut. Akan tetapi hal ini memberi dampak pada dominasi pekerjaan yang dilakukan oleh beberapa orang saja. Dengan dominasi tersebut maka banyak pegawai yang tidak diberdayakan dalam bekerja. Masih banyak pegawai yang mampu bekerja akan tetapi belum mendapatkan kesempatan (opportunity) oleh atasan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.
    3. Kinerja pegawai di lihat dari aspek sarana dan prasarana kantor cukup baik. Hal ini terlihat bawah pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan sebahagian ditunjang oleh sarana prasarana kantor seperti komputer, transportasi, lemari arsip dan lain sebagainya. Namun terlihat pada pemeliharaan sarana dan prasarana tersebut masih kurang, terlihat masih banyak peralatan komputer yang terindikasi rusak sehingga masih perlu diperbaiki, juga lemari arsip yang perlu ditambah karena dokumen-dokumen arsip sangat banyak.
    4. Banyak faktor yang mempengaruhi kegiatan pelayanan kepada peserta diklat, seperti rendahnya motivasi kerja pegawai, kemampuan dan keterampilan yang berhubungan dengan penempatan pegawai yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan, dan ketidakjelasan aturan dalam melaksanakan tugas menjadi fenomena yang harus diperbaiki.

 

B.     Rekomendasi

    1. Untuk meningkatkan kemampuan (ability) pegawai, maka perlu diikutkan dalam pendidikan dan pelatihan (diklat) yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah atau pemerintah pusat, melakukan sosialisasi terhadap aturan-aturan baru berkaitan dengan pekerjaan kantor, memberikan penugasan terhadap pegawai sesuai dengan kemampuan (competency) yang dimiliki oleh pegawai tersebut.
    2. Perlu ada kompensasi yang jelas, terutama ketika pegawai Balai Diklat Keagamaan Palembang  bekerja diluar jam kerja. Ini sangat penting karena selama ini untuk kegiatan-kegiatan yang dilakukan diluar jam kerja tidak dihitung, sehingga pegawai tidak termotivasi untuk melaksanakan tugas apalagi sudah diluar jam kerja.
    3. Untuk memberdayakan kesempatan (opportunity) kepada setiap pegawai maka harus bersifat merata, artinya tidak terkesan pemberian kesempatan hanya untuk orang-orang tertentu saja, jika pemberian kesempatan kepada pegawai yang kita anggap belum mampu maka perlu dibimbing oleh atasan dan bahkan melibatkan pegawai lain yang sudah memahami tugas tersebut untuk membantu pegawai yang bersangkutan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Alain 1995.Meningkatkan  Kinerja Karyawan.  Penerbit Gramedia. Jakarta.

Universitas Gunadharma. Jakarta.

Indriyo Gito Sudarmo .2001. Manajemen Kinerja. Penerbit Gramedia. Jakarta.

Moleong  L Lexy. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi Penerbit PT. Remaja Rosda Karya. Bandung.

Nawawi M. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Ruky. 2001. Sistem Manajemen Kinerja. Gramedia. Jakarta.

Sedermayanti. 2000. Tata Kerja dan Produktifitas Kerja. Penerbit Mandor Jaya. Bandung.

Sekaran U. 2006. Metodologi Penelitian Untuk Bisnis. Penerbit PT. Salemba Empat. Jakarta.

Steers. 1980. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Bahasa Indonesia. Cetakan Ke Dua. Tiga Berlian. Jakarta.

Suastha T. Njoman. 2002. Evaluasi Kinerja Suatu Perangkat Manajemen. Penerbit Universitas Bhayangkara Press. Jakarta.

Sugiharto D. 2008. Manajemen Kinerja. Penerbit Deltaplus Consulting. Jakarta.

Sugiyono. 2008.  Memahami Penelitian Kualtatif. Penerbit CV. Cahaya Alfabeta. Bandung.

Terry G. 1994. Dasar-Dasar Manajemen. Edisi Bahasa Indonesia Penerbit PT. Rosda Karya. Bandung

Villere F. 2002. Seri Manajemen Sumber Daya Manusia “ Kinerja / Performance “ (Ed) Apakah sayur Mayur Organisasi Tumbuh di Tempat Anda Bekerja?.  Jakarta. PT. Elex Media Komputindo-Kelompok Gramedia.

Whitmore F. 2002. Coaching for Performance. Seni Mengarahkan Untuk Meningkatkan Kinerja. Terjemahan Y.D Helly Purnomo Penerbit Gramedia. Jakarta.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.