Nikah Sirri di Indonesia dari Sikap Umat Hingga Penerapan Hukum Islam

0
33

OLEH: DRA. ASIAH SYAHRON 

A. Latar Belakang dan Masalah.

Dalam perspektif sejarah, dinamika pemikiran hukum Islam  dan upaya penerapannya di Indonesia terus menggelinding dan melaju, bahkan  bagaikan bola salju mengkosntruksi dalam berbagai tipe dan karakter umat.

Tapi seiring itu pula peristiwa demi peristiwa  yang bersentuhan dengan  hukum islam terjadi dinegeri ini. Satu diantaranya adalah penomena nikah sirri yang terus menggejala menggeliat  diseluruh lapisan masyarakat, pedesaan atau perkotaan, lokal maupun nasional, rakyat biasa, public figure, maupun pejabat.

Tidak diketahui secara pasti kapan nikah sirri itu mulai dilakukan masyarakat, dan istilah sirri itu sendiri sebenarnya sulit ditemukan dalam terminolohi fiqh Islam, ia hadir di Indonesia dan aktual hanya melalui lisan masyarakat Indonesia. namun dapat ditengarai kemunculannya di Indonesia  tidak berselang lama dengan diakomodirnya hukum Islam tentang Perkawinan menjadi Hukum nasional dinegeri ini. Karena konotasi sirri itu sendiri pada dasarnya penghindaran dari salah satu ketentuan yang ada didalam hukum perkawinan, yakni pencatatan  dan pengawasan perkawinan.

Dalam rentang waktu yang telah dilalui  penerapan Hukum Perkawinan Islam lengkap dengan hukum formil dan materilnya, lembaga Peradilan Agama dan kelengkapannya,  perbaikan dan pembinaan hukum juga telah dan terus dilakukan. Namun  penomena nikah sirri selalu hadir dalam kehidupan umat, bahkan terkesan kurang baik dan menyeramkan. Lalu apa yang terjadi dengan penerapan hukum Islam di negeri ini. Bermacam-macam pertanyaan dan sikap ditampilkan umat, apakah sistemnya yang salah, apakah sisi mterilnya yang tidak konseptual ataukah sisi materilnya yang tidak kontekstual.

Ambil saja contoh tentang pencatatan perkawinan, ada umat yang menerima, ada yang mendukung, ada yang menolak dan ada pula yang mendua. Lalu apa status hukum yang sesungguhnya menurut Islam.

Begitu pula tentang sikap merahasiakan/tidak mengumumkan/tidak meramaikan suatu perkawinan, apa pula hukumnya menurut Islam.

Contoh lainnya dalam hal materi thalak, nusyuz, syiqoq, poligami. Didalam kitab hukum, undang-undang, yang ditampikan di pengadilan agama, dan menurut konsepsi Islam yang utuh (konseptual).

Kajian ini mencoba untuk menelusurinya dengan mengambil topik bahasan Nkah Sirri di Indonesia dari pendapat umat hingga penerapan Hukum Islam.

B. Rumusan Masalah

     1. Bagaimana pemahaman umat Islam tentang Nikah Sirri

2. Bagaimana status yuridis pernikahan sirri menurut Islam

3. Bagaimana sikap umat Islam di Indonesia tentang Pencatatan Nikah

4. Bagaimana Status hukum pencatatan nikah menurut Islam.

C.  Pemahaman tentang Nikah Sirri dan status hukumnya

Merujuk kepada kitab-kitab Fiqh normatif dari berbagai mazhab Fiqh maupun ensiklopedi Islami,  teminologi Nikah Sirri atau pernikahan Sirri sulit untuk ditemukan dan tidak aktual di lingkungan fuqoha’. Istilah Nikah Sirri nampaknya hanya populer/dipopulerkan di lingkungan masyarakat muslim  Indonesia di pedesaan maupun perkotaan, lokal maupun nasional. Idiom lain  untuk Nikah Siri yang dijkenal masyarakat  adalah; Kawin/Perkawinan bawah tangan, kawin diam-diam, kawin rahasia dan kawin Sirri.

Mencermati kata Sirri yang biasanya digunakan masyarakat muslim  berasal dari bahasa Arab asal kata “ Sirra, Israr”  yang mempunyai arti; rahasia, diam-diam, dan sembunyi-sembunyi (Yunus, 1973; 167). Sehingga jika dipadukan kata nikah atau pernikahan dengan kata sirri, maka dapat dipahamii: Suatu bentuk pernikahan /akad yang dilakukan seorang muslim dengan seorang muslimah sesuai dengan kaedah dan tata cara keagamaan yang dianutnya (Islam) dan dilakukan secara rahasia atau diam-diam atau sembunyi-sembunyi.

Istilah muslim dan muslimah diatas dikarnakan  penomena ini tejadi dilingkungan masyarakat Islam, dan  istilah kaedah dan tata cara keagamaan yang dianutnya , bahwa akad nikah yang dilakukan memenuhi ketentuan rukun dan persyaratan yang disebut dalam kitab fiqh normatif (sebagai rujukan). Sementara itu kata diam-diam, sembunyi-sembunyi, rahasia, menunjukkan bawa akad pernikahan itu tidak diumumkan ketengah masyarakat secara terbuka.

Kata dan kalimat yang terahir ini harus difahami secara cermat mengingat  Rasulullah mengisyaratkan  dalam dua hadits berikut :

Hadits rwayat Ibnu majah dari ‘Aisyah RA.

Kamu umumkan pernikahan ini dan ramaikan dengan rebana

Hadits riwayat Bukhori dari Abdurrahman ibn ‘Auf

Adakan walimah  meskipun hanya (memotong)  seekor kambing

Seruan Rosul agar mengumumkan dan meramaikan suatu pernikahan memberi kesan yang kuat bahwa perintah beliau itu mutlak (wajib) dilaksanakan, dan jika tidak diindahkan merupakan suatu pengingkaran /kesalahan/ dosa. Pemahaman ini diperoleh dari keterangan metode ushuliah berikut :

Pada dasarnya kata perintah berarti wajib, dan tidak menunjukkan arti lain tercuali ada qorinah (keterangan /fakta lain)

Namun demikkian perlu pula dipahami bahwa pengingkaran yang berakibat dosa  karena tidak mengumumkan atau meramaikan suatu pernikahan tidak cukup mempengaruhi  kepastian sahnya  suatu pernikahan. Karena suatu pernikahan dikatakan sah hukumnya  manakala rukun dan syarat pernikahan itu terpenuhi.

Lalu apa sesungguhnya konotasi sirri dalam istilah nikah sirri. Mencermati penomena yang terjadi dan berbagai  faktor penyebabnya, bahwa istilah nikah sirri adalah suatu bentuk pernikahan yang tidajk tercatat atau dicatat atau terdaftar pada administrasi pencatatan nikah (PPN/Penghulu) dan dirahasiakan, didiamikan, atau disembunyikan dari pengawasan pejabat pencatat nikah.

Adapun status yuridis  memenuhi seruan pencatatan dan pengawasan Nikah adalah juga mutlak (wajib) dilaksanakan umat Islam Indonesia. Karena umat Islam Indonesia telah sepakat  mentranspormasi hukum Islam tentang perkawinan menjadi hukum Negara RI, yakni  diundangkannya UU No.I Tahun 1974 dan dilengkapi dengan hukum materilnya Kitab Kompilasi Hukum Islam (KHI). Dari kesepakatan itu dipahami pula  bahwa umat Islam sepakat memposisikan Pemerintah RI sebagagai Ulil Amri  pengemban amanat Allah saw untuk menerapkan hukum Islam tentang Perkawinan  kepada umat Islam Indonesia. Oleh sebab itu perintah pencatatan nikah wajib dilaksanakan. Al-Qur an meng isyaratkan :

Surat An-Nisa’ 59

“ Kamu taatlah kepada Allah, taatlah kepada  Rasulmu, dan kepada Ulil Amrimu

Qa’idah Fiqhiyah berikut juga perlu untuk dicermati :

“Ikhlas melakukan suatu tindakan, mengharuskan (kita) ikhlas pula dengan segala konsekwensinya”

Oleh karena itu dapat kita simpulkan bahwa  melakukan nikah sirri hukumnya adalah :

1. tidak melaksanakan  perintah (wajib) Ulil Amri

2. tidak melaksanaka seruan (wajib) Rasul mengumumkan dan meramaikan pernikahan,

3. mengingkari perintah Allah (Al-Qur an) agar taat kepada Allah, Taat kepada Rasul dan patuh kepada Ulil Amri.

Dengan demikian dapat pula disimpulkan, bahwa setiap pernikahan muslim musti ada maharnya, dan setiap pernikahan muslim di Indonesia musti  ada pencatatan nikahnya.

D. Dasar Perkawinan dan Administrasi Pencatatan Nikah

 

Undang-Undang Perkawinan  No. I Tahun 1974 :

Pasal 2 ayat  (1) dan (2)

Perkawinan  dilakukan menurut Hukum Agama   

    -Perkawinan dicatat menurut peraturan perundangan yang berlaku 

Pasal 12 Bab II :

Tata cara  pelaksanaan perkawinan diatur dalam peraturan  

        perundangan Tersendiri

    Kompilasi Hukum Islam (KHI) :

     –Sahnya perkawinan mesti dilakukan menurut hukum Islam (Pasal 4)

     –Setiap perkawinan harus dicatat (Pasal 5)

     –Perkawinan baru sah bila dilansungkan dihadapan Pegawai Pencatat 

      Nikah (PPN) (Pasal 6)

    -Perkawinan diluar PPN adalah liar (Pasal 6)

     -Perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan akta nikah (Pasal 7)

Peraturan Pemerintah  No.9 tahun 1975

-Pencatatan perkawinan mereka yang beragama Islam dilakukan oleh

pegawai pencatat nikah (Pasal 2)

Peraturan Menag & BKN n0.20 & 14A tahun 2006

Penghulu, adalah PNS sebagai pencatat nikah, dan melakukan

      pengawasan nikah /rujuk menurut Agama Islam

 D. Macam-macam Dan benuk Nikah Sirri

    Mencermati tentang nikah sirri, maka kemungkinan terjadinya nikah sirri di Indonesia secara yuridis hanya dua bentuk :

  1. Nikah sirri karena perbedaan agama.
  2. Nikah sirri karena Poligami

Nikah Sirri karena perbedaan Agama.

Yang dimaksud dengan perbedaan agama, adalah perkawinan antara muslim dan non muslim. Walaupun perkawinan beda agama ini kilakukan di Idonesia, namun Undang-Undang No.I Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) tidak mengatur  perkawinan beda agama, karena itu pencatatan oleh pencatat nikah artas pernikahan ini tidak boleh dilakukan. Dengan adanya ketentuan tersebut, maka ada kemungkinan perkawinan dalam bentuk ini  adalah perkawinan sirri, dan tidak akan di bahas lebih lanjut dalam makalah ini.

Nikah Sirri karena Poligami

Pencatatan nikah  tidak boleh dilakukan  Petugas pencatat nikah apabila suatu perkawinan itu tidak memenuhi/bertentangan dengan ketentuan hukum Islam, dan tidak boleh juga dilakukan pencatatan apabila bertentangan dengan ketentuian peraturan perundangan negara RI.

Sepanjang pengamatan penulis, tidak ditemukan umat Islam yang sengaja melakukan pernikahan diluar ketentuan hukum agamanya, dan kalaupun ada, artinya suatu penyimpangan, karenanya harus dilaporkan kepada pemerintah yang mengemban amanat Allah dalam penerapan hukum perkawinan ini untuk diusut dan dijatuhi hukuman.

Oleh sebab itu pula selain dari pada alasan perbedaan agama, kemungkinan tejadinya nikah sirri di Indonesia ialah karena Poligami. Yakni seorang laki-laki baik dengan sengaja  ingin berpoligami, atau tidak bermaksud poligami, tetapi ia masih terikat hubungan nikah dengan isterinya.

Manakala seorang pria (sengaja) ingin berpoligami, maka Pejabat Pencatat Nikah tidak boleh melakukan pencatatan sepanjang belum terpenuhi persyaratan izin poligami. Persoalan izin yang sangat sulit ini pula kemungkinan seorang peria memilih alternatif yang tidak istihsan (bukan pilihan terbaik) baginya, yakni nikah sirri.

Namun kemungkinan ada pula seorang peria yang ingin berumah tangga dengan wanita lain, karena tidak ingin lagi meneruskan perkawinan dengan isterinya, Maka Pejabat Pencatat Nikah tidak boleh melakukan pencatatan nikah selama peria itu masih terikat perkawinan dengan isterinya. Persoalan sengketa rumah tangga ini seringkali berlarut-larut dan menghadapi kesulitan penyelesaiannya. Terkadang seseorang tidak mampu bertahan/bersabar, sehingga memilih alternatif yang tidak istihsan pula dengan melakukan nikah sirri. Oleh sebab itu dapat dibedakan :

1. Nikah Sirri karena alasan ingin berumah tangga dengan wanita lain.

Nikah Sirri bentuk pertama ini pada umumnya dilatar belakangi konplik keluarga antara seorang suami dengan isterinya. Mulanya menyangkut persoalan spele seperti kepatuhan isteri kepada suami, atau keserasihan pada umumnya (Kafaah)  meningkat pada pembangkangan  (Nusyuz) dan Pertentangan tajam (Syiqoq). Disebabkan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman (ilmu) tidak menemukan jalan keluar atau pemecahan. Pilihan lain adalah Pengadilan Agama, juga tdak punya kemampuan karena membutuhkan biaya tingi dan prosedur yang rumit dibalik motto mempersulit perceraian. Maka jatulah pada alternartif, ialah menikahi wanita lain yang dianggap lebih mudah dan murah, namun tersandung juga dengan administrasi pencatatan nikah, Terjadilah nikah sirri sebagai alternatip yang tidak istihsan.

2. Nikah Sirri karena ingin Poligami

Pada bentuk kedua ini juga umumnya dilatar belakangi komplik keluarga terbatas, tidak tebuka. Permasalahannya  biasanya ada kaitan dengan fitratullah yakni syahwat, yang terkadang malu-malu untuk diungkap. Bentuk keduia ini kebanyakan pada pasangan suami isteri senior. Konon menurut sumber yang dapat dipercaya, Kebanyakan Suami pada usia 40 s.d 50 dan keatas urusan llibido masih bertahan dan tidak jauh menurun, dan urusan itu tetap menjadi menu utama. Sementara  kawan sepermainan (isteri) konon kabarnyamenukik tajam. Sehingga ketidak  keseimbangan  menjurus pada komplik tertutup. Lahirlah keinginan poligami sebagai pilihan, tetapi terhadang sensor isteri yang diposisikan oleh sitem hukum sebagai super bodi. Sekalipun ada suami yang dapat memperoleh persetujuan isterinya. Pengadilan Agama juga akan menghadang, dan dapat dipastikan kalau urusan fitrah itu hadangan pengadilan Agama tidak akan terlampaui. Alternatif berikutnya yang tidak istihsan ialah Nikah Sirri.

Dinamika nikah sirri dalam bentuk-bentuk diatas terus mengelinding dan melaju di nusantara ini  seiring dengan dinamika hukum Islam tentang Perkawinan yang  diberlakukan berdasarkan norma qonuniah, lengkap dengan hukum formil dan materilnya, dan Peradilan Agama beserta kelengkapan hukumnya.

Dewasa ini pelaku nikah sirri tidak lagi terbatas pada masyarakat biasa, tetapi sudah merambah pada sejumlah public figure, para elite politik, petingggi pemerintahan nasional dan daerah, para kiyai di pondok pesantren, anggota DPR dan DPRD, para pengusaha, tokoh-tokoh masyarakat, bahkan tokoh ulama terpandang yang dianggap layak gossip, layak jual, dan layak diberitakan lewat infotainment televisi, dan media lainnya.

Disamping itu ada pula diberitakan wanita-wanita yang dinikahi sirri mengadu ke polisi dan komnas perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), yang meuntut hak warisan, dan yang memperjuangkan nasib dan status anak-anak mereka yang lahir akibat pernikahan sirri. Pada sisi lain ada pula wanita karena ditinggal suaminya yang nikah sirri, lalu nekad melangsungkan pula pernikahan dengan laki-laki lain dengan memalsukan keterangan bahwa suaminya meninggal dunia untuk memenuhi persyarat administrasi pernikahannya, tidak diketahui secara jelas apakah sudah terjadi perceraian secara sah  dengan suami pertamanya serta siklus iddahnya. Kejadian demi kejadian disekitar pernikahan sirri terus menggelinding dan melaju bagaikan bola salju mengkonstruksi dalam berbagai tipe dan karakter umat.

E. Sikap Umat Islam terhadap Nikah Sirri dan Pencatatan Nikah

Di Indonesia  terminologi nikah sirri ternyata cukup populer, dan bukan lagi  merupaka rahasia umum tetapi sudah merupakan hal yang biasa dan lumrah, karena  ditemukan pada berbagai lapisan dan tingkatan  masyarakat di pedesaan dan dikota sebagaimana dikemukakan diatas.

Manakala status yuridis pernikahan mereka dipersoalkan (nikah sirri) atau menjadi perbincangan dilingkungan masyarakat,  biasanya mereka berlindung kepada kitab-kitab fiqh normatif sebagai rujukan. Dan memang secara umum  menurut bahasan kitab fiqh dari berbagai mazhab, suatu pernikahan adalah sah manakala terpenuhi rukun dan syarat pernikahan itu, dan pernikahan mereka demikian adanya disertai pula dengan kewjiban maharnya.

Tidak lepas pula dari sorotan umat tentang adanya hasil fatwa Komisi B Majlis Ulama Indonesia (MUI) di Gontor bulan Juni 2006, membahas masail waqi’iyah mu’asyaroh (masalah tematik kontemporer), bahwa nikah sirri  dianggap sah asal memenuhi syarat-syarat dan rukun nikah. Tapi menjadi haram jika mengandung mudhorat. Meski dibawah tangan harus dicatatkan pada istansi yang berwenang. (http://tausyiyah 275.blogsome.com/)

Tentang pencatatan nikah sebagian besar masyarakat tidak mempersoalkan, dan sebagamana disebutkan dalam bahasan diatas tentang bentuk dan macam nikah sirri yang  pada dasarnya merupakan pilihan atau alternatif yang tidak istihsan (bukan pilihan terbaik), hanya karena mereka dihadapkan pada persoalan rumah tangga dan itu pilihan mudah dan murah, atau karena sulit dan rumitnya proses izin poligamm,jadi yang dilakukan bukan pilihan terbaik pula. dan tidak banyak yang menyikapi bahwa pilihan itu karna gengsi dan status.

Anehnya sekelompok kecil umat Islam yang selalu dengan lantang menyuarakan kesana kemari agar Syariat Islam diberlakukan di bumi nusantara ini, justru menampakkan sikap tidak setuju dengan adanya pencatatan nikah, sikap tidak setuju dengan KHI dianggap bukan Syari’at Islam karena tidak membolehkan poligami, memuat taklik thalak dan sebagainya.

Organisasi Muhammadiyah dalam fatwa tarjihnya, jum’at 8 Jumadil Ula 1428 H / 25 Mei 2007 memfatwakan wajib hukumnya mencatatkan perkawinan yang dilakukan oleh warganya. Hal ini sesuai dengan naskah Kepribadian Muhammadiyah sebagaimana diputuskan  dalam muktamar Muhammadiyah ke-35, bahwa diantara sifat Muhammadiyah ialah “mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan, serta dasar dan falsafah negara yang sah.”

Banyak manfaat dan alasan yang mendorong warga Muhammadiyah mewajibkan pencatatan perkawinan. Terutama manfaat preventif, mencegah terjadinya penyimpangan rukun dan syarat perkawinan, baik menurut ketentuan agama maupun peraturan perundangan, mencegah terjadinya perkawinan antara laki-laki dan perempuan yang antara keduanya dilarang melalkukan akad nikah, menghindarkan terjadinya pemalsuan identitas para pihak yang akan kawin, seperti laki-laki yang mengaku jejaka tetapi sebenarnya dia mempunyai isteri dan anak. Manfaat preventif ini direalisasikan dalam tindakan preventif penelitian persyaratan nikah oleh Pegawai Pencatat Nikah seperti diatur Pasal 6 PP No. 9 Tahun 1975 (http://pakmuja.blogspot.com)

Secara historis memang pencatatan nikah belum dikenal dan belum diatur pada masa Rasul dan sahabat,  suatu perkawinan dianggap sah manakala memenuhi rukun dan syarat nikah. Namun  perlu kiranya dicermati bahwa Rasulullah senantiasa mengumumkan (meng i’lankan) pelaksanaan akad nikah melalui acara walimatul ursy.

Sabda beliau ;  “umumkan pernikahan ini dan ramaikan dengan rebanah, (HR Ibnu Majah dari ‘Aisyah)”

“Adakan walimah sekalipun hanya  memotong seekor kambing (HR Bukhori dari Abdur Rahman bin Auf”

Perkembangan selenjutnya seiring dengan tuntutan zaman, beberapa negara muslim termasuk Indonesia memuat aturan pelaksanaan akad nikah dengan administran pencatatan dan dituangkan dalam bentuk peraturan perundangan. Dan manakala  penguasa /umara dari suatu pemerintahan memandang perlu adanya aturan dasar dalam hal mengemban amanat Allah menerapkan hukum-hukum-Nya didunia, tentu tindakan itu adalah tindakan yang sangat terpuji. Apalagi  bila hukum agama itu telah ditranformasi dalam bentuk “taqninqonuniyah” menjadi undang-undang /hukum positip suatu nega. Dalam kaidah ushuliah ; “ dimungkinkan suatu perobahan hukum dikarenakan adanya perobahan masa dan tempat (kontekstual).Patut pula kiranya untuk dicermati isyarat  Al-Qur’an surat al-Baqarah 282 :

“Hai orang beriman, manakala kamu malakukan akad hutang piutang untuk dilunasi waktu tertentu, kamu catatlah itu….”

Manakala dalam akad hutang piutang diisyaratkan Al-Qur’an penting untuk dlakukan pencatatan (lil-irsyad/ untuk kebaikan duniawi), tentu logika kita akan mengatakan; bahwa dalam akad yang lebih besar seperti akad nikah yang dapat menyentuh berbagai aspek mu’amalah umat, pencatatan nikah  sangat diperlukan sekali, bahkan mutlak adanya.

Tidak berlebihan pula kiranya dengan pemahaman seperti itu karena begitu pula praktek istimbath hukum yang dilakukan fuqoha’ syafi’iyah dengan konsep mafhum muwafakohnya, atau yang dilakukan fuqoha’ hanafiah dengan konsep metode dilalatun-nasnya.

Kebijakan umara, ulama dan hukama dinegeri ini dalam rangka mengemban amanat Allah menerapkan hukum-hukum-Nya didunia, dengan menertibkan Administrasi pencatatan nikah, dtuangkan dalam hukum formil dan materil, dan dalam peraturan perundangan, wajib kita dukung sepenuhnya. Dan tidak pula berlebihan karena suatu tindakan vereventif (sadduz zari”ah) juga bagian dari ruh atau jiwa syari’ah Islami.

F. Konsepsi Islam dalam Pembentukan dan Pembinaan Keluarga

Abdullah Darraz dalam Al-Nabaul ‘Azim  menulis :

    Apabila anda membaca Al-Qur an, maknanya akan jelas dihadapan anda, Tetapi bila anda membacanya sekali lagi, akan anda temukan pula makna-makna lain… kesemuanya benar atau mungkin benar. Ayat-ayat Al-Qur an bagaikan intan, setiap sudutnya memancarkan cahaya yang mungkin berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut lainnya. Dan tidak mustahil, jika anda mempersilahkan orang lain memandangnya, maka ia akan melihat lebih banyak ket imbang apa yang anda lihat.

Ungkapan diatas betul-betul mengilhami penulis untuk mencermati kembali konsepsi Islam tentang “Thalak, Nusyuz, dan Syiqoq” secara

bersamaan, terutama  pada sisi- sisi pembinaan keluarga. Atau barangkali melalui itu dapat menerawang penomena nikah sirri yang terjadi di negeri ini.

Fara Fuqoha’ selalu membahas secara terpisah ketiga istilah tersebut, dan acap kali kesan yang didapat tentang tholak  ialah perceraian, sekalipun pada saat bersamaan dperoleh kesan  bahwa para Fuqoha berkeberatan manakala terminologi tholak diartikan dengan perceraian.

Al-Qur an  Surat  Al-Baqarah  229

Thalak (menurut Konsepsi Islam) ialah dua kali,  maka (setelah  itu terjadi hendaklah suami memutuskan dengan sungguh-sungguh) apakah ia akan mellanjutkan membina rumah tangga dengan isterinya dengan cara yang baik. Atau (memutuskan) berpisah  dengannya juga cara yang baik

Surat Al-Baqarah 241

merupakan suatu kegembiraan bagi seorang isteri yang dithalak itu menerima pemberian suaminya secara ma’ruf

Thalak yang diisyaratkan ayat diatas, dalam pembahasan fiqh  dari berbagai mazhab disebut dengan  ‘Thalak Raj’i”,  artinya dapat rujuk kembali. Dan setiap thalak diatas diiringi  dengan iddah (siklus masa tunggu),

Abu Bakar As-Shiddiq RA.  Adalah sahabat yang selalu bersama Rasulullah faham betul rahasia tasyri’, dan menurut beliau selama masa iddah berlangsung dalam hal thalak diatas,  perkawinan suami isteri itu belum berahir, terkecuali sampai iddah berahir suami tidak merujuki isterinya. dan beliau pernah memberi bagian warisan kepada isteri yang sedang menjalani masa iddah ketika suaminya yang telah menjatuhkan thalak kepadanya meninggal dunia.

Kesan yang kuat dari isyarat  diatas bahwa thalak sesungguhnya bukan media atau alat  untuk melakukan perceraian. Tetapi hak thalak dan rujuk merupaka media atau alat yang diamanatkan Allah kepada Suami untuk membina dan membangun rumah tangganya sebagai imbangan dari suami di posisikan sebagai pemimpin rumah tangga, memegang tanggung jawab penuh untuk menyeelamatkan keluarga dari api neraka. Dan untuk itu pula diharapkan sebagai pemimpin, suami memiliki wibawa dalam pergaulan dengan isterinya. Rasulullah juga meng isyaratkan kepada isteri yang patuh dan taat kepada suami akan memasuki surga dari pintu mana saja yang dia mau. Sebaliknya isteri yang tidak patuh terhadap suami tidak akan mencium bau surga (Al-Hadits).

Betapa indah dan edialnya konsep pembinaan rumah tangga dalam keluarga muslim, sepanjang amanat thalak dan rujuk dipergunakan pada fungsinya. Dan Rasul mengingatkan  bahwa perbuatan yang halal , tapi dibenci Allah adalah thalak. Artinya ketika isteri tidak patuh dan taat kepada suami dan thalak terjadi, sasaran yang dbenci adalah tentu pihak isteri. Tetapi manakala thalak dipergunakan  tidak sebagaimana pungsinya, dan dibelokkan menjadi alat perceraian, tentu yang menjadi sasaran kebencian disini suami. Dan Disini pula barangkali peran Hakim dibutuhkan sebagai mujtahid meluruskan dan menyelesaikan perkara sengketa  rumah tangga muslim.

Kesan lain yang dipahami dari konsepsi thalak dan rujuk  adalah saksi dan iikrar tolak bukan hal tepenting, karenanya menurut fuqaha’ dapat saja thalak diikrarkan shoreh (jelas) atau dengan kinayah (kata sndiran atau kiasan) dimana saja.

Kesan lainnya yang dapat ditangkap dari ajaran thoalak dan rujuk. Bahwa media ini dapat dipergunakan suami sepanjang isteri masih dapat diharapkan patuh dan taat kepadanya, artinya suasana rumah tangga masih terkendali.

Dalam sistem Peradilan Agama di Indonesia konsep pembelajaran  tentang thalak dan rujuk yang sedianya diamanatkan Allah diatas pundak suami  untuk membina dan membangun rumah tangganya, untuk menyelamatkan keluarganya dari api neraka kiranya tidak perlu tertutup rapat, hanya karena alasan mempersulit perceraian, alasan thalak harus diucapkan dimuka sidang pengadilan dan dengan praktek biaya tinggi yang sulit dijangkau masyarakat biasa. Betapa sulit dan mahal harga suatu pembinaan dan perbaikan rumah tangga di negeri ini.

Pada kenyataannya manakala terjadi sengketa atau komplik rumah tangga yang pada awalnya sangat sepele menyangkut nilai kepatuhan, atau keserasian, atau upaya penyelamatan keluarga dari api neraka, kalaulah jalan keluar yang ditawarkan Allah tertutup rapat, konplik rumah tangga jadinya akan meningkat, Suami tidak lagi peduli kepada isterinya, dan isteri membangkang  terhadap suaminya (Nusyuz).

“…dan isteri-isteri yang kamu hawatirkan nusyuznya, nasihatilah mereka, pisahkan tempat tidurnya, pukullah mereka, lalu jika mereka telah taat kepadamu, jangan pula kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkan mereka. Sungguh Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar (An-Nisa’ 34)

 

    “Dan jika seorang isteri hawatir (suaminya) nusyuz, atau suaminya tidak peduli kepadanya, tidaklah salah kalau keduanya berdamai dengan tulus, karena berbaikan itu lebih baik bagi mereka, kendatipun tabiat manusia biasanya kikir. Jika suami isteri itun bergaul dengan baik, menjaga agar tidak terjadi  nusyuz, atau sikap acuh tak acuh. Sungguh Allah mengetahui apa yang kamu lakukan.

Bahkan boleh jadi sengketa keluarga akan meningkat pada pertentangan tajam pihak suami dan pihak isteri (Syiqoq) yang acap kali melibatkan pihak-pihak lainnya. pada situasi ini persoalan bukan lagi nilai ketaatan dan kepatuhan isteri kepada suami, dan konsepsi thalak jelas tidak dapat lagi difungsikan.

Dan jika  kamu hawatir terjadi persengketaan  (pertentangan tajam) suami isteri, utuslah seorang Hakam (orang yang bijak dan berwibawa) dari keluarga suami, dan seorang Hakam (orang yang bijak dan berwibawa dari keluarga isteri, dan jika kedua hakam itu dapat mendamaikan suami isteri itu, Niscaya Allah akan memberi taufiq pada suami dan isteri itu. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (An-Nisak 35)

Sungguh sangat disayangkan manakala konsep perbaikan rumah tangga melalui media thalak, nusyuz dan syiqoq tidak  populer dan tidak aktual di nergeri ini.  Karena sistem Peradilan Agama tidak pula  dapat diharapkan perannya dan yang kita saksikan  ketiganya selalu dikemas   menjadi ikrar thalak dimuka sidang pengadilan.

Lalu bagaimana pula dengan peran BP4 yang dulunya sempat hadir ditengah masyarakat muslim, dewasa ini seolah olah  telah terlindas oleh derasnya perobahan zaman. Begitu juga dengan Konsep keluarga Sakinah  belum menappakkan pengaruh nyata yang ditampilkan dalam kehidupan keluarga muslim di Indonesia. Sungguh terkadang kita juga merasa miris, manakala menyaksikan kucuran dana yang bukan main hebatnya dalam dunia pendidikan, sementara  dalam pembinaan keluarga dan rumah tangga belum diperhitungkan. Bukankan pendidikan rumah tangga dan keluarga  itu tidak kalah pentingnya, karena anak-anaik itu  semuanya jebolan atau alumnus dari institusi rumah tangga atau keluarga, sementara lembaganya sendiri diacuhkan

Manakala apa yang telah ditawarkan Allah melalui kitab-Nya berupa konsep-konsep yang cukup ideal dalam membina dan membangun rumah tangga Islami, tidak lagi kita aktualkan ditengah kehidupan masyarakat, atau kita tidak lagi peduli,  dan manakala sistem Peradilan seperti yang kita saksikan sekarang, sepertinya mengemas pembinaan keluarga menjadi ikrar thalak, nasihat-nasihat memang dilakukan tapi sudah sangat terlambat, persengketaan suami istri sudah pada tahapan permusuhan tajam yang selalu melibatkan pula orang lain, sepertinya hanya mengulur waktu, karena pada ahirnya iqrar tolak yang terjadi.

Dan tidak dapat disalahkan bila ada anggapan justru kita sendiri yang merubah dari funsi thalak yang sesungguhnya menjadi perceraian. Siapakah yang dipersalahkan, dan siapakah yang patut menerima kebencian ALLah ?

Lalu bagaimana pula jika suami isteri muslim dihadapakan pada persoalan rumah tangga yang teramat sulit untuk mereka selesaikan  dan tidak pula mempunyai kemampuan untuk memperoleh penyelesaian melalui Pengadilan Agama, ditengah stres berat yang berlarut-larut dan dalam urusan fitrah (syahwat) boleh jadi  alternatif atau pilihan  mereka kepada yang tidak istihsan (tidak terbaik) yakni nikah sirri, karena itu yang mereka mampu, yang mudah dan murah.  kasihan mereka bila nantinya digiring pula kepengapnya penjara. Lalu siapa lagi yang patut dipersalahkan, sistemkah, kita sungguh tidak berharap kalau yang turut dipersalahkan adalah para hukama,  para ulama dan para umara sebagai ulil amri dan mujtahid yang sangat kita banggakan  dan kita agungkan di negeri ini.

Manakala sistem yang dipersalahkan, kita tidak pula banyak berharap selain kembalilah pungsi-pungsi lnstitusi Agama di Nusantara ini   kepada hitahnya.  Seperti dahulu kita saksikan  misi dan visi para kiyai pesisir  yang dengan susah payah tidak mengenal lelah siang dan malam, tidak pula mengharapkan uang,  berjuang untuk perbaikan keluarga dan rumah tangga muslim. Yang sekarang kita kenal dengan lembaga Kementerian Agama dan Peradilan Agama.

  Kesimpulan

  1. Nikah Sirri adalah akad pernikahan secara Islami tetapi tidak tercatat  atau terdaftar pada Petugas Pencatat Nikah.
  2. Tidak melakukan pencatatan nikah sama artinya tidak melaksanakan perintah wajib dari Ulil Amri dan dari Allah
  3. Status yuridis pencatatan nikah menurut Islam adalah wajib
  4. Merahasiakan/tidak mengumumkan / memeriahkan pernikahan berarti tidak mematuhi perintah wajib dari Rasul  dan perintah dari Allah
  5. Sikap Umat Islam di Indonesia tentang pencatatan nikkah;

a. mendukung adanya pencatan nikah

b. Tidak menolak/setuju adanya pencatatan nikah

c. Menolak adanya pencatatan nikah

d. sikap mendua adanya pencatatan nikah

  1. Kemungkinan Nikah Sirri terjadi adalah :

1. Pada pernikahan beda agama

2. Karena berpoligami

– sengaja melakukan poligami

– tidak bermaksud poligami, tetapi masih terikat hubungan nikah dengan wanita lain

6.  Konsepsi Islam tentang Thalak, Nusyuz, dan Syiqoq  adalah sebagai media perbaikan dan pembinaan rumah tangga muslim, bukan media perceraian, karena itu mesti diaktualkan dalam kehidupan rumah tangga muslim. Dan kiranya perlu adanya sinerji dengan sistem pradilan di Indonesia.

 Kepustakaan

Departemen Agama, Al-Qur an dan Terjemahnya.

————————, Himpunan peraturan per Undang-undangan Perkawinan

———————–, Membina Keluarga Sakinah, Dir Bimas Islam

———————–, Pedoman Konseling Perkawinan, Bimas Islam

Yusuf Qardhawi, Zawaj al-Misyar haqiqatuhu wahukmuhu, maktabah Wahbah, Kairo 1999.

Abdul Wahab Khollaf,Kaidah-Kaidah Hukum Islam,

Abu Zahrah, Ushul Fiqh, Dar al-Fikry Al-Aroby, Kairo 1958

Abu Mujib, Al-Qowaid Al-Fiqhiyah, Nurcahaya, Yogyakarta, 1980

CD program;  Al-Qur’an , Tafsir, & Hadits

(http://pakmuja.blogspot.com/)

(http://wahqabiindonesia.wordpress.com/)

(http://tausyiyah 275.blogsome.com/)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.