INTERVENSI KONSELING SEBAGAI STRATEGI UNTUK MENGATASI KECEMASAN SISWA MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI I PALEMBANG

0
27

Oleh :

Nelly Nurmelly

Widyaiswara Madya Palembang

Abstrak :

            Tulisan ini berjudul “ Intervensi Konseling sebagai strategi untuk mengatasi kecemasan siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri I Palembang” sebagi Guru Bimbingan Konseling di Madrasah Tsanawiyah ( MTs ) Dewasa ini, bahwa banyak siswa di MTs yang  mengalami masalah dalam kehidupan pribadinya; salah satu diantaranya ialah  masalah kecemasan. Apabila siswa mengalami kecemasan berlebihan, biasanya tidak mampu mengatasinya sendiri. Sebagai akibatnya siswa tersebut selalu mengalami kegagalan yang  menyebabkan ia menjadi pesimis, mempunyai harga diri kurang, putus asa, frustasi, tak dapat bertindak  efektif  dan tak dapat mencapai  prestasi  optimal. Untuk mengatasi kecemasan yang dialami siswa MTs  perlu dirancang dan diterapkan Strategi Intervensi Konseling yang tepat, tingkat kecemasan yang dialami para siswa dapat diturunkan secara maksimal dengan cara mendesain Strategi Intervensi Konseling dengan model Konseling Behavioral dengan teknik Systematic Desensitization (SD) yang efektif diterapkan untuk mengatasi kecemasan para siswa MTs.

Kata Kunci : Konseling, Kecemasan, Systematic Decensityzation.

  1. A.     PENDAHULUAN

Peningkatan unjuk kerja para petugas bimbingan dan konseling di MTS akhir-akhir ini dirasakan semakin mendesak. Hal ini dapat dikaitkan dengan disahkannya  Undang-undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang didalamnya memuat ketentuan bahwa konselor termasuk jenis tenaga pendidik. Hal tersebut merupakan pengakuan formal terhadap eksistensi profesi konselor sebagai tenaga pendidik yang sejajar dengan pendidik lainnya seperti guru.

Pada saat ini, masih banyak siswa Madrasah Tsanawiyah yang mengalami masalah kecemasan. Kecemasan yang berlebihan akan mengakibatkan seorang siswa mengalami kegagalan-kegagalan yang menyebabkan ia menjadi pesimis, mempunyai harga diri kurang, putus asa, , tak dapat bertindak efektif dan tak dapat mencapai prestasi optimal. Kecemasan merupakan suatu yang sehat bila kecemasaan itu dapat mendorong individu untuk menambah usahanya supaya dapat melakukan pekerjaan dengan baik. Namun kecemasan yang berlebihan dapat mengganggu individu, karena akan menghambat individu dalam menggunakan kemampuannya. Siswa yang mempunyai tingkat kecemasan yang tinggi akan merasakan bahwa kegiatan belajar mengajar di sekolah merupakan suatu kegiatan yang mengancam dirinya, hal ini akan memenyebabkan konsentrasi belajarnya  terganggu yang pada akhirnya dapat mengakibatkan prestasi belajarnya menurun. Melihat kenyataan ini dapat dilakukan melalui strategi dan intervensi konseling. yang biasa digunakan adalah, Systematic Desencitization (SD.

Asumsi digunakan Systematic Desencitization (SD) untuk mengatasi kecemasan adalah bahwa kemampuan stimuli, khususnya yang menimbulkan kecemasan, dapat dikurangi atau diperlemah jika terjadi suatu respon antagonistic (yang berlawanan) terhadap kecemasan. Blackhman (1984) juga melaporkan berbagai studi yang membuktikan keefektifan prosedur Systematic Desencitization untuk menangani beberapa macam kasus dan subjek. Dilaporkan bahwa Systimatic Desencitization telah terjamin keefektifannya untuk menangani ketakutan dan kecemasan  yang dialami klien saat dalam situasi ujian, ramai atau banyak orang, kecemasan terhadap serangga, , pergi kesekolah, frigiditas dan gagap.

  1. B.     Pembahasan :

 

Dari analisis situasi yang telah disajikan kondisi yang ada saat ini mengenai layanan bimbingan konseling adalah sebagai berikut:

  1. Layanan konseling untuk mengatasi kecemasan anak belum dilakukan,
  2. Belum diterapkannya strategi layanan konseling yang tepat,
  3. Belum ada hubungan yang serasi antara guru dan siswa dalam layanan konseling,
  4. Kecemasan yang tinggi belum tertangani dengan benar

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas, permasalahan yang ada dapat dirumuskan sebagai berikut:

  • Seberapa tinggi efek / dampak penggunaan
  • Seberapa baik penerimaan siswa ketika guru menggunakan Systematic  Desensitization

Berdasarkan pengamatan di lapangan nampak bahwa pada umumnya proses konseling mengatasi kecemasan anak masih berjalan monoton,  kualitas konseling, dan hasil pemecahan masalah kurang optimal. Melihat situasi yang demikian, perlu menggalang kemampuan konselor . Systematic Desencitization (SD) diharapkan mampu memecahkan masalah ini dengan mengadakan pelatihan bagi guru pembimbing serta mengaplikasikan secara kolaboratif bersama peneliti. Dengan harapan, setelah penelitian tindakan secara kolaboratif ini, proses bimbingan konseling tidak lagi monoton, ditemukan strategi bimbingan konseling yang tepat, metode yang digunakan tidak lagi konvensional akan tetapi lebih bersifat variatif, kualitas pemecahan masalah meningkat, dan problem kecemasan anak hilang.

Dengan demikian, gambaran pola pemecahannya melalui tahapan sebagai berikut:

Gambar 6. Kerangka pemecahan masalah

Keadaan sekarang   Perlakuan   Hasil
  1. Proses Bimbingan monoton
  2. Belum ditemukan strategi pembim bingan yang tepat
  3. Metode yang digunakan konvensional
  4. Penjelasan BK mengatasi kecemasan
  5. Pelatihan BK melalui SD
  6. Simulasi BK dengan sistem SD
  7. Konselor menerapkan konseling dengan sistem SD
  8. kualitas proses BK dan Hasil KBM meningkat

Atas dasar diagram di atas, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan gambaran tentang kondisi siswa yang mengalami kecemasan, perlakuan yang akan dilakukan, dan hasil yang di harapkan .

Setelah kegiatan ini Maka diharapkan:

  • Siswa mendapatkan kesempatan untuk mengatasi masalah kecemasannya,
  • Siswa berani tidak canggung canggung mengatasi masalahnya dengan usaha mandiri
  • Guru dapat meningkatkan kemampuan dalam strategi layanan bimbingan konseling
  • Guru dapat meningkatkan kualitas layanan konselingnya,

Manfaat Penelitian

Manfaat yang diperoleh dari kegiatan penelitian ini, antara lain:

  • Guru Bimbingan Konseling  semakin variatif
  • Ditemukan strategi layanan bimbingan konseling yang tepat,
  • Metode yang digunakan bersifat tidak lagi konvensional, akan tetapi lebih bersifat variatif,
  • Keaktivan siswa dalam mengelola dirinya secara mandiri semakin meningkat.

TINJAUAN PUSTAKA

     1 .Pengertian Kecemasan

Kecemasan adalah keadaan emosi yang meningkat disertai perasaan khawatir atau takut. Morgan dan Morgan (1991), berpendapat bahwa kecemasan merupakan keadaan emosional yang tidak menyenangkan yang ditandai dengan perasaan khawatir, terancam atau datangnya bahaya.. Menurut Joesoep (1981), kecemasan merupakan suatu kumpulan gejala dimana sumber rasa takutnya adalah terhadap sesuatu yang tidak nyata, tidak jelas.

Dari pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan, bahwa kecemasan adalah keadaan emosi yang meningkat dan tidak menyenangkan, disertai perasaan takut atau khawatir yang tidak jelas sebab-sebabnya dan peningkatan fisiologis dan bermacam-macam gejala tubuh seperti percepatan denyut jantung dan peluh yang berlebihan.

    2.   Macam Kecemasan

Kartini Kartono (1992), membagi kecemasan menjadi dua macam, yaitu:

  1. Kecemasan yang wajar adalah kecemasan dalam diri seseorang dalam tingkat yang wajar, kecemasan ini sangat bermanfaat bagi perkembangan kepribadian seseorang karena dapat menjadi suatu tantangan bagi individu untuk mengatasinya.
  2. Kecemasan yang terlalu berat dan berakar secara mendalam dalam diri seseorang. Apabila seseorang mengalami kecemasan ini biasanya tidak mampu mengatasinya sendiri.sebagai akibat orang tersebut selalu mengalami kegagalan-kegagalan yang menyebabkan ia menjadi pesimis, mempunyai harga diri kurang, putus asa dan frustasi.

3..Ciri-ciri Kecemasan

Cici-ciri kecemasan ialah adanya banyak keluhan (sympton) yang berupa keluhan jasmani dan keluhan rohani (Joesoep, 1981). Keluhan jasmani yang sering timbul misalnya, sakit kepala, leher, punggung, mudah lelah, nafas pendek, sesak nafas, insomnia, kembung dan diare. Sedangkan keluhan rohani, misalnya perasaan tidak menyenangkan, kabur tidak menentu, ketegangan, tidak mampu konsentrasi, murung, suram, hilang kepercayaan diri, tidak tenang dan mudah lupa.

4..Penyebab Kecemasan

Menurut Burham (1997), sumber kecemasan dapat ditelusuri dari tiga penyebab dasar, yaitu:

  1. Rasa harga diri yang mungkin terancam oleh keraguan akan penampilan lahiriah.
  2. Kesejahteraan pribadi yang mungkin terancam oleh ketidakpastian akan masa depan, keraguan dalam mengambil keputusan dan keprihatinan akan materi.
  3. Kesejahteraan kita mungkin terancam oleh berbagai konflik yang tidak terpecahkan.

Byrne dan Kelley (1981), menyatakan bahwa hubungan antara ibu dengan anak lebih dominan pengaruhnya daripada ancaman bahaya dari luar terhadap kecemasan anak. Namun demikian mereka merumuskan sumber-sumber penyebab kecemasan sebagai berikut:

  1. Perpisahan dini dengan ibu

Perpisahan anak dengan ibunya menimbulkan sejumlah symptom kecemasan. Banyak perilaku menyimpang ditemukan pada anak yang kehilangan ibu, baik karena meninggal, sakit atau ketidakhadiran ibu. Peristiwa semacam ini merupakan pengalaman yang traumatis.

  1. Keadaan ibu sewaktu hamil

Ibu yang mengalami stress selama usia kehamilannya akan mengakibatkan bayi yang dilahirkan juga mereaksi stress dengan kecemasan, karena kondisi ibu  akan mempengaruhi keseimbangan hormon bayi dalam kandungannya.

  1. Kekuatan pikiran

Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa pikiran seseorang merupakan sumber yang kuat timbulnya kecemasan. Jika seseorang menghabiskan waktunya dengan memikirkan segala sesuatu dalam kehidupan yang mengkhawatirkannya, misalnya kegagalan dan keadaan yang memalukan atau ketidakpastian masa depan, maka tingkat kecemasan akan makin tinggi.

Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa pikiran seseorang merupakan sumber yang kuat timbulnya kecemasan. Jika seseorang menghbiskan waktunya dengan memikirkan segala sesuatu dalam kehidupan yang mengkhawatirkannya, misalnya kegagalan dan keadaan yang memalukan atau ketidakpastian masa depan, maka tingkat kecemasan akan semakin tinggi (Byrne dan Kelley, !981).

  1. Kecemasan Siswa Madrasah Tsanawiyah

Pada umumnya kecemasan yang dialami oleh siswa adalah kecemasan yang berkaitan dengan hasil ujian, baik itu ujian harian  maupun ujian semester. karena hal tersebut termasuk dalam situasi yang tidak dapat diramalkan.fakta ini didapatkan dari banyaknya keluhan siswa yang telah belajar semaksimal-maksimalnya, akan tetapi hasil ujiannya kurang memuaskan. Dan juga perasaan khawatir dan gugup saat menghadapi ujian..

  1. Upaya-upaya untuk Mengatasi Kecemasan

Upaya-upaya untuk mengatasi kecemasan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut. Menurut Kagan (1980), cara mengatasi kecemasan yaitu membantu individu memahami dan menyesuaikan dengan situasi dan lingkungan. Sementara itu, Burhan (1997) menyatakan bahwa upaya untuk mengatasi kecemasan dapat dilakukan dengan meningkatkan harga diri individu. Hal ini dikarenakan salah satu sumber kecemasan adalah rasa harga diri yang  rendah terhadap penampilan lahiriah maupun kemampuan

Untuk membantu mengatasi kecemasan digunakan systematic desensitization (Burgoon dan Rufner, 1978).

Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa upaya untuk mengatasi kecemasan dapat meliputi:

  1. membantu individu untuk memahami dan menyesuaikan dengan situasi dan lingkungan.
  2. meningkatkan harga diri individu, hal ini dikarenakan salah satu sumber kecemasan adalah rasa harga diri yang rendah terhadap penampilan lahiriah maupun kemampuan.
  3. Dengan menggunakan strategi konseling systematic desensitization.

  1. STRATEGI DAN INTERVENSI KONSELING

Strategi dan intervensi konseling adalah rencana tindakan yang dirancang untuk memenuhi tujuan-tujuan tertentu dari masing-masing klien (Hackney, 1979; Cornier, 1985). Strategi dan intervensi konseling yang efektif dapat memperlancar perubahan-perubahan emosional, kognitif dan tingkah laku.

Suatu perubahan terjadi, suatu keputusan dibuat, suatu pengetahuan diperoleh, sebagian besar terjadi sebagai hasil usaha konselor dan klien dalam tahapan proses konseling ini..

Menurut Nurihsan (2003), ada bermacam-macam strategi dan intervensi konseling yang dapat digunakan untuk membantu memecahkan masalah klien diantaranya adalah model social, , bermain peran dan systematic desensitization.

Berikut ini dijelaskan strategi dan intervensi konseling yang digunakan untuk membantu memecahkan kecemasan siswa, yaitu strategi systematic desensitization.

  1. Systematic Desensitization (SD)

A         Pengertian

ProsedurSDawalnya dikembangkan oleh Wolpe (1966) oleh seorang ahli pendekatan perilaku dan telah digunakan secara luas Systematic Desensitization (SD)1985; Blackham, 1981) merupakan suatu teknik modifikasi perilaku untuk membantu klien menangani ketakutan yang menyiksa yang tak dapat dipadamkan atau dihadapi secara langsung

Teknik desensitization  didasarkan pada prinsip belajar resiprocal inhibition yang dikembangkan oleh Wolpe (1996). Maksudnya adalah jika suatu respon rileks disepasangkan  dengan suatu stimulus yang membangkitkan kecemasan, maka akan berkembang suatu pertalian baru antara keduanya sehingga stimulus yang membangkitkan kecemasan akhirnya tidak lagi menyebabkan kecemasan. Idenya adalah bahwa kita tidak akan memiliki dua respons yang bertentangan pada saat yang sama.

. Menurut Blackham implementasi SD melibatkan tiga langkah prosedural, yaitu: melatih untuk rileks, mengidentifikasi dan membuat daftar situasi-situasi yang menggunakan kecemasan dalam bentuk hirarkhi dan imaginasi serta visualisasi item dalam hirarkhi oleh klien. Berikut ini penjelasan tiga langkah tersebut.

  1. Melatih klien untuk rileks. Langkah pertama kali dalam prosedur SD adalah membantu klien untuk rileks dengan menggunakan prosedur-prosedur relaksasi. Tujuan utamanya adalah menurunkan getaran-getaran fisiologis dan untuk menimbulak perasaan yang positif dan netral. (Rim dalam Blackham, 1984), merekomendasikan relaksasi mulai dari tangan, terus berangsur-angsur menujunlengan sebelah atas, bahu, leher, mulut, lidah, mata, bernafas, punggung, perut, betis, kaki dan jari-jari kaki. Urutan tidak penting selama konselor bertindak sistematis, tegangan dapat dipertahankan dalam setiap kelompok otot darilima sampai sepuluh detik. Jika klien tengah mengalami siklus peredaran peregangan, konselor dapat meneruskan relaksasi yang lebih mendalam dengan menggunakan anjuran (sugesti). Ini dilakukan dengan mengintruksikan klien untuk berusaha melanjutkan/mempertahankan perasaan yang nyaman dan rileks dengan menggambarkan sensasi-sensasi khusus dari berbagai bagian tubuh. Dalam prosedur ini seringkali diinginkan untuk menetapkan derajat relaksasi yang telah dicapai oleh klien dengan meminta mereka untuk menunjukkannya pada suatu skala relaksasi yang merentang dari 1 sampai dengan 10. Skala 1 menunjukkan keadaan rileks yang lengkap (klien bisa tertidur). Dan skala 10 menunjukkkan masih adanya kecemasan yang kuat (Blackham, 1984).

Jika telah berhasil mempraktekkan latihan relaksasi dengan konselor, selanjutnya ia didorong mempraktekkannya di rumah.

  1. b.    Mengkonsentrasikan hirarkhi kecemasan. Langkah kedua dalam SD adalah mengkontruksikan suatu hirarkhi kecemasan. Hirarkhi berisikan suatu urutan atau serangkaian situasi yang menimbulkan kecemasan secara bertingkat. Ini   dilakukan dengan cara meminta klien untuk menspesifikasi situasi-situasi yang menimbulkan derajat kecemasan yang berbeda. Jika situasi ini tak diidetifikasi, klien diminta untuk menilai setiap situasi pada suatu skala yang merentang dari 1(sedikit atau tak ada kecemasan) hingga 10(kecemasan kuat). Biasanya, 10 sampai 50 dimasukkan pada hirarki, tapi jumlah tersebut tergantung pada kompleksitas masalah klien. Lebih dari itu, setiap item hirarki harus didefinisikan dalam arti yang spesifik atau konkrit.

 

  1. Imajinasi dan visualisasi.jika hirarki kecemasan telah dikontruksikan dan klien dapat mencapai suatu keadaan relaksasi otot yang mendalam dan konsisten, desensitization dimulai. Klien dibantu untuk rileks dan diminta untuk menunjukkan jarinya jika telah mencapai suatu derajat relaksasi yang diinginkan (tepat). Jika klien telah menunjukkan jarinya, item pertama dari hirarki ditunjukkan. Klien memvisualisasikan adegan hirarkhi pertama tersebut selamalima sampai dengan sepuluh detik dan kemudian diminta untuk menghentikan imaginasi. Perhatiannya dengan segera diarahkan kepada perasaan rileks yang dialaminya. Untuk mempertinggi perasaan rileks tersebut klien diminta untuk memvisualisasikan adegan kendali yaitu suatu adegan yang telah diidentifikasi sebelumnya yang diketahui dapat menimbulkan perasaan aman dan senang pada klien.

Jika klien telah mampu memvisualisasikan item pertama dan tidak mengalami perasaan cemas, item kedua dalam hirarkhi disajikan dalam cara yang sama, begitu seterusnya setiap item disajikan hingga setiap situasi dapat divisualisasikan dengan perasaaan yang rileks. Jika klien mengalami kecemasan ketika item disajikan, ia diinstruksikan untuk menghentikan imagineri. Klien didorong untuk rileks, dan ketila relaksasi yang memadai telah dicapai, item disajikan kembali.

Setiap sesi desensitization berlangsung antara 20 hingga 30 menit dan jumlah adegan (item) yang disajikan bervariasi dari tiga sampai sepuluh item. Jumlah item yang disajikan dalam setiap sesi terapi tergantung pada kemampuan klien untuk rileks ketika mereka memvisualisasikan item. Demikian pula jumlah sesi yang dibutuhkan untuk melengkapi seluruh program SD berhubungan dengan kemampuan klien untuk mengkonfrontasi setiap item tanpa mengalami kecemasan. Untuk meningkatkan generalisasi efek, beberapa konselor menempatkan klien dalam situasi yang menakutkan sebelum terapi diakhiri

Kesimpulan :

Dalam proses Bimbingan Konseling ditemukan banyak siswa mengalami kecemasan. Dengan adanya perilaku diatas, guru pembimbing merasa kesulitan untuk membinanya, mengingat tugas konseling sangat padat.

bagaimana usaha yang dilakukan oleh guru pembimbing dalam membina perilaku siswa yang mengalami kecemasan tersebut?

Berdasrkan masalah itu hasil diskusi yang disepakati ialah:

  1. Untuk membina perilaku kecemasan dapat dilaksanakan menggunakan metode SD ( Sistematic Desensitization )
  2. Pelaksanaan dilaksanakan oleh guru BK

.

DAFTAR PUSTAKA

Burham, S.1997,  Emosi dalam Kecerdasan. Jakarta: BPK. Gunung Mulia.

Hackney (1979,Cournier 1985),Counseling Strategis and Intervention.New Jersey

            America: Englewood.

Kagan,Norman, Interpersonal Proses Recall: A Method of Influencing Human

Interaction, Copiright Norman Kagan , University of Houston Park,

            Houston, 1980.

Morgan, H.C dan Morgan, M.H, 1991. Segi Praktis Psikiatri. Jakarta: Binarupa

            Aksara

Nurihsan ( 2005 ), Manajemen Bimbingan dan Konseling di SMA ( Kurikulum

            2004 ).Jakarta: PT Grasindo.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.