Peningkatan Kinerja Guru Bimbingan Konseling dengan Modul Terstruktur Melalui Ketrampilan Konseling

0
81

Oleh

Dra.Nelly Nurmelly,MM

Widyaiswara Madya Balai Diklat Keagamaan Palembang

 

Email : nellynurmelly@yahoo.co.id

Abstrak: Program pengabdian pada masyarakat ini dilaksanakan berdasarkan dua alasan. Pertama, layanan konseling merupakan bagian yang integral di dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, penguasaan berbagai keterampilan konseling sangat diperlukan. Kedua, berdasarkan hasil penelitian diketahui  bahwa keterampilan konseling masih belum dapat dikuasai dengan baik oleh para Guru Bimbingan Konseling. Berbagai keterampilan konseling itu adalah mencakup keterampilan attending, mendengarkan, empati, bertanya, pemusatan, klarifikasi, membuka diri, memberi dukungan dan pengukuhan, memberi dorongan, pemecahan masalah, dan menutup percakapan.

Adapun tujuan program PPM ini adalah meningkatkan pemahaman akan arti penting penguasaan keterampilan konseling bagi pendidik dan peserta didik dan meningkatkan penguasaan praktek keterampilan konseling bagi guru bimbingan. Sumber belajar yang digunakan adalah modul yang telah terstruktur. Sasaran program ini  adalah 30 Guru Bimbingan Konseling yang bekerja di empat Propinsi. Metode kegiatan berupa pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan selama 10 hari berturut-turut

Kesimpulan dari pelaksanaan program ini adalah adanya peningkatan pemahaman khalayak sasaran setelah mengikuti program PPM dengan menggunakan modul keterampilan konseling Setelah mempraktekkan berbagai keterampilan konseling, khalayak sasaran memiliki penguasaan keterampilan konseling yang baik. Modul keterampilan konseling terbukti efektif untuk meningkatkan pemahaman dan penguasaan praktek konseling. Selanjutnya saran dari hasil pelaksanaan program ini adalah bagi khalayak sasaran,hendaknya modul keterampilan konseling ini sering digunakan dan dipraktekkan,.

 

Kata kunci  : keterampilan konseling, guru bimbingan, modul

 PENDAHULUAN

a.      Analisis Situasi

Layanan konseling bagi profesi Guru Bimbingan Konseling merupakan layanan yang vital. Dalam melakukan layanan ini membutuhkan beberapa persyaratan. Salah satu diantaranya adalah penguasaan keterampilan konseling. Tanpa adanya penguasaan keterampilan ini mustahil layanan konseling akan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan konsep layanan yang diharapkan. Oleh karena itu, penguasaan keterampilan ini mutlak diperlukan.

   Berdasarkan hasil penelitian tersebut diketahui bahwa di lapangan keterampilan konseling masih belum dapat dikuasai dengan sepenuhnya oleh para Guru Bimbingan Konseling. Banyak Guru Bimbingan Konseling yang belum memahami makna keterampilan konseling. Meskipun keterampilan ini telah dipelajari pada saat mereka menempuh pendidikan sebelumnya, namun seakan-akan keterampilan konseling masih merupakan ”barang baru”. Kecenderungan yang terjadi di lapangan, layanan konseling dilakukan belum sesuai dengan konsep layanan konseling. Selain itu juga belum menggunakan keterampilan secara optimal. Guru Bimbingan Konseling masih dalam taraf sedang. Keterampilan konseling sebagai keterampilan yang vital belum dapat dipahami dengan dengan baik. Padahal sebagian besar Guru Bimbingan Konseling ini telah bekerja sebagai Guru Bimbingan Konseling lebih dari 10 tahun, usia mereka berkisar 40 tahun serta berlatar belakang pendidikan BK. Tentu saja, kondisi ini cukup memprihatinkan. Keterampilan konseling yang mestinya sudah ditekuni selama lebih dari 10 tahun, ternyata belum sepenuhnya dikuasai dengan baik.

            Hasil penelitian ini  juga menunjukkan bahwa keterampilan yang sering digunakan dalam layanan konseling adalah : 1) keterampilan attending, 2) keterampilan bertanya, 3) keterampilan memberi dukungan dan pengukuhan,  4) keterampilan mendengarkan, 5) keterampilan menutup 6) keterampilan empati  7) keterampilan klarifikasi 8) keterampilan pemecahan masalah 9) keterampilan pemfokusan 10) keterampilan memberi dorongan, dan 11) keterampilan parafrase. sementara keterampilan yang belum dikuasai adalah : 1) keterampilan attending 2) keterampilan pemfokusan 3) keterampilan parafrase 4) keterampilan memberi dukungan dan pengukuhan 5) keterampilan konfrontasi 6) keterampilan membuka diri 7) keterampilan pemecahan masalah 8) keterampilan bertanya 9) keterampilan klarifikasi 10) keterampilan reframing 11) keterampilan memberi umpan balik . Sebanyak 47% subjek melaporkan bahwa keterampilan-keterampilan tersebut telah digunakan secara optimal di lapangan, namun sisanya sebanyak 53% belum mengggunakan keterampilan konseling secara optimal.

   Dari penelusuran kualitatif, data penelitian menunjukkan faktor-faktor pendukung proses konseling antara lain karena sudah sering menggunakan keterampilan, seringnya membaca buku, fasilitas yang baik (ruang, buku, adanya musyawarah guru BK), adanya semangat dan motivasi untuk membantu, keterbukaan diri konseli, adanya hubungan yang baik dan kepercayaan dari konseli terhadap Guru Bimbingan Konseling dan perhatian yang penuh. Faktor-faktor penghambatnya antara lain waktu yang sempit, pengalaman yang kurang, belum menguasai dengan optimal, kurangnya pemahaman tentang keterampilan konseling, tidak dapat berempati-masuk dengan perasaan konseli, suasana yang tidak memungkinkan, faktor lingkungan (ruang konseling tidak memadai), banyaknya hal dari konseli yang perlu diungkap dan kurangnya pemahaman dan pelatihan.

   Data ini menunjukkan bahwa secara umum keterampilan konseling masih belum digunakan dalam proses konseling secara optimal. Alasan umum yang terjadi adalah adanya keterbatasan kemampuan dan keterampilan konseling, penggunaan keterampilan konseling disesuaikan dengan kebutuhan serta keterbatasan waktu. Alasan-alasan ini mengindikasikan bahwa penggunaan keterampilan konseling tampaknya masih dianggap banyak memakan waktu. Hal ini karena keterbatasan kemampuan dalam menggunakan keterampilan konseling. Akhirnya para Guru Bimbingan Konseling cenderung menggunakan pola lama yang sudah biasa dilakukan. Mereka menganggap dengan pola lama, masalah konseli segera dapat diselesaikan. Meskipun demikian, Guru Bimbingan Konseling menyadari perlunya penguasaan keterampilan konseling dalam meningkatkan layanan konseling. Menurut data penelitian, semua Guru Bimbingan Konseling (100%) berpendapat perlu menguasai keterampilan konseling. Alasan mereka antara lain dengan menguasai keterampilan akan membantu konseli mengatasi masalah, akan memberikan pengalaman bagi Guru Bimbingan Konseling, dengan keterampilan yang dikuasai akan memperoleh hasil yang optimal bagi konseli, dengan peningkatan keterampilan konseling maka akan banyak konseli yang terbantu keluar dari masalah dan BK akan dapat eksis di sekolah serta untuk menghadapi konseli dengan beragam latar belakang. Ini mengindikasikan ada kesadaran Guru Bimbingan Konseling akan pentingnya keterampilan ini pada profesi mereka sebagai Guru Bimbingan Konseling. Penguasaan keterampilan bagi Guru Bimbingan Konseling akan dapat meningkatkan layanan konseling. Dan pada akhirnya akan berdampak positif bagi konseli sebagai orang yang menerima layanan tersebut. Guru Bimbingan Konseling juga menyadari pentingnya pengembangan bagi profesi mereka. Hal ini bisa dipahami karena 94% subjek berpendidikan S1, artinya cara berpikir dan wawasan mereka baik serta memiliki kebutuhan pengembangan diri. Selain itu latar belakang pendidikan mereka mayoritas BK (88%), sehingga memiliki pemahaman yng baik mengenai profesi Guru Bimbingan Konseling dan pentingya layanan konseling bagi profesi tersebut.

Sumber belajar yang selama ini banyak digunakan Guru Bimbingan Konseling untuk memahami keterampilan konseling adalah buku/modul/diktat/makalah. Demikian juga dengan kebutuhan sumber belajar yang diharapkan adalah berbentuk buku/modul/diktat/makalah. Media cetak seperti modul ini diharapkan memiliki kriteria mudah dilaksanakan / diterapkan / operasional di sekolah, mudah dipahami dan ada contoh-contoh. Tampaknya media cetak seperti buku, modul, diktat atau makalah menjadi pilihan utama bagi banyak orang untuk dapat memenuhi keterbatasan pengetahuan atau kemampuan. Dan karena mereka tidak hanya membutuhkan materi-materi yang hanya bersifat teoritis maka media yang diharapkan tersebut juga dilengkapi dengan contoh. Beranjak dari uraian di atas, maka perlu dilaksanakan pengabdian pada masyarakat khususnya pada Guru Bimbingan Konseling berupa Pendidikan dan Latihan dengan fokus penggunaan modul yang telah terstruktur sebagai produk penelitian. Hal ini sebagai upaya untuk meningkatkan penguasaan keterampilan konseling serta kinerja Guru Bimbingan Konseling.

b.      Kajian Pustaka

Konseling adalah upaya bantuan yang diberikan oleh seorang guru Bimbingan Konseling yang terlatih dan berpengalaman, terhadap individu-individu yang membutuhkannya. Hal ini bertujuan agar individu tersebut berkembang potensinya secara optimal, mampu mengatasi masalahnya dan mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang selalu berubah. Konseling menekankan ide hubungan profesional, pentingnya pengembangan potensi diri secara optimal dan penyesuaian diri. Selain itu, juga adanya penekanan pemecahan masalah melalui metode yang digunakan, yaitu wawancara.

Dalam melakukan konseling, profesi konseling perlu membekali dan meningkatkan diri dalam penguasaan keterampilan dan pengembangan kepribadian. Keterampilan dalam konseling berfungsi untuk merefleksikan informasi dan sikap-sikap yang dimiliki oleh konseli.  Dari kajian literatur (Bolton, 2000; Sayekti, 1993; Capuzzy, 1997;  Ivey,  2005; Mcleod, 2007, Neugrug, 2007; Tan , 2004; Willis, 2007) disimpulkan bahwa keterampilan konseling mencakup keterampilan attending, mendengarkan, empati, bertanya, pemusatan, klarifikasi, membuka diri, memberi dukungan dan pengukuhan, memberi dorongan, pemecahan masalah, dan menutup percakapan Modul dipilih untuk mewujudkan proses konseling yang benar bagi guru pembimbing, sehingga proses pemberian bantuan dapat berjalan lancar. Dengan demikian modul adalah paket belajar yang berkenaan dengan suatu unit materi belajar. Perwujudan modul dapat berupa bahan cetak untuk dibaca subyek belajar dan bahan cetak ditambah tugas mengamati suatu media.

c.       Identifikasi Masalah

1.      Kurangnya pemahaman secara teoritik tentang berbagai macam penguasaan keterampilan konseling pada Guru Bimbingan Konseling

2.      Keterampilan konseling sebagai keterampilan yang vital belum dapat dikuasai dengan baik oleh guru Bimbingan Konseling

3.      Guru Bimbingan Konseling   belum   terbiasa menggunakan keterampilan konseling dengan terstruktur

4.      Belum dilakukannya evaluasi modul tentang keterampilan konseling sebagai hasil penelitian sebelumnya

 

d.      Perumusan Masalah

 

  1. Bagaimana meningkatkan pemahaman secara teoritik tentang berbagai macam penguasaan keterampilan konseling pada Guru Bimbingan Konseling?
  2. Bagaimana meningkatkan penguasaan keterampilan konseling pada Guru Bimbingan Konseling dalam menghadapi keanekaragaman permasalahan remaja saat ini dan pengoptimalan potensi yang ada pada diri remaja?
  3. Bagaimana membiasakan Guru Bimbingan Konseling menggunakan keterampilan konseling dengan terstruktur?
  4. Apakah modul keterampilan konseling dapat dijadikan sumber belajar yang efektif untuk penguasaan keterampilan konseling?

PEMBAHASAN

            Bimbingan dan konseling (BK) di sekolah merupakan bagian yang integral

atau tidak terpisahkan dari sistem pendidikan (Willis, 2007). Hal ini berarti bahwa program pendidikan yang baik memiliki program BK yang terencana dengan baik,yang dapat dilakukan oleh guru BK dan didukung dari kebijakan sekolah.Satu hal yang sangat penting adalah  program BK  tersebut disusun berdasarkan kebutuhan-kebutuhan siswa di sekolah

tersebut.

Pada intinya BK merupakan suatu usaha untuk memahami siswa,sehingga siswa tersebut dapat memahami diri, baik potensi maupun kelemahan-kelemahan diri. Jika potensi  dan kelemahan itu diketahui,maka siswa tersebut dapat dituntun untuk merencanakan pengembangan diri selanjutnya. Usaha-usaha membantu seperti ini tentu saja memerlukan bantuan konselor yang professional. Profesional ini diartikan bahwa konselor tersebut memiliki pengetahuan atau pemahaman yang komprehensif tentang layangan bimbingan dan konseling di sekolah. Selain itu juga tentu saja didukung adanya berbagai keterampilan konseling yang digunakan pada saat proses konseling berlangsung. Dengan demikian pada proses konseling tersebut, apa yang menjadi harapan terhadap  siswa dan layangan BK di sekolah dapat tercapai. Berkenaan dengan apa yang telah dijelaskan, program PPM ini memiliki arti penting bagi guru BK sebagai sasaran. Program PPM yang berbasis penelitian dan prioritas kebutuhan sasaran menjadikan program ini sangat diminati oleh guru pembimbing. Namun, mengingat program ini berbentuk Diklat yang menekankan penguasaan serta  keterbatasan anggota tim, program ini belum dapat menjangkau jumlah sasaran yang lebih  banyak. Selain sesi ceramah dan tanya jawab, penekanan pada simulasi, analisis praktek konseling dengan media video compact disc, serta praktek individual merupakan metode yang digunakan. Variasi metode ini, menurut khalayak sasaran menjadikan program ini berbeda dari program-program yang pernah diikuti oleh sasaran sebelumnya.

KESIMPULAN DAN SARAN

A.     Kesimpulan

  1. Adanya peningkatan pemahaman khalayak sasaran setelah mengikuti program PPM dengan menggunakan modul keterampilan konseling
  2. Setelah mempraktekkan berbagai keterampilan konseling, khalayak sasaran memiliki penguasaan keterampilan konseling yang baik.
  3. Modul keterampilan konseling terbukti efektif untuk meningkatkan pemahaman dan penguasaan praktek konseling

B.     Saran

  1. Bagi khalayak sasaran,hendaknya modul keterampilan konseling ini sering digunakan dan dipraktekkan,sehingga sasaran akan semakin menguasai yang selanjutnya akan membantu pelaksanaan proses konseling yang baik.
  2. Hasil dari pendapat para peserta bahwa diklat seperti ini diharapkan diselenggarakan lagi dengan khalayak sasaran yang berbeda. Hal ini mengingat pentingnya penguasaan keterampilan konseling bagi semua guru BK.

 REFERENSI

Bolton, R. (2000). People skills: How to assert yourself, listen to others, an resolve conflict. Sidney: Simon& Schuster

Capuzzi, D & Bross, G.R. (1997). Introduction to The Counseling Profession, Second Edition. Boston: Allyn & Bacon.

Ivey, A.E. (2005). Intentional interviewing and counseling facilitating client  development. Belmont. Brooks/Cole Publishing Company.

Kusmaryani, R.E., Izzaty, R.E., Sugiyanto., Triyanto, A. (2009). Pengembangan modul keterampilan konseling untuk meningkatkan  kinerja guru pembimbing di Yogyakarta. Laporan Penelitian. Yogyakarta : Lembaga Penelitian

Mcleod, J. (2007). Counselling skill. Berkshire: Mc Graw Hill Education

 Tan, E. (2004) Counseling in school: Theories, processes and techniques. Singapore: McGraw-Hill Education (Asia).

 Willis, S. (2007). Konseling Individual; Teori dan Praktik. Bandung : Penerbit Alfabeta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.