MUTU PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA SEKARANG

0
34

By. Weldan Firnando Smith, S.Pd.,M.AP

 PENDAHULUAN

Untuk mengetahui mutu pendidikan Islam bukanlah hal yang sederhana, sebab banyak aspek yang terkait dengan mutu pendidikan tersebut. Berbagai sarana dan prasarana pendidikan hendaknya berorientasi pada peserta didik, bukan sebaliknya yang berorientasi pada kepentingan pribadi. Setidak-tidaknya ada tiga indicator utama yang dapat menentukan tinggi rendahnya kualitas pendidikan, yaitu dana pendidikan, kelulusan pendidikan dan prestasi yang dicapai dalam membaca komprehensif. Sehingga dapat diuraikan sebagai berikut.

 PEMBAHASAN

Mutu Pendidikan Islam Di Indonesia Sekarang

  1. Pendidikan yang berkualitas tidak mungkin dicapai tanpa dana yang cukup. Pendidikan yang berkualitas cenderung membutuhkan dukungan dana yang lebih besar daripada pendidikan yang berkualitas rendah, karena dana yang minim cenderung dapat menyebabkan anak mengalami drop out dan mengulang kelas yang tinggi, kecuali secara kasualistik bagi sejumlah kecil lembaga pendidikan Islam.
  2. Pendidikan yang berkualitas cenderung dapat menghasilkan angka-angka kelulusan yang cukup tinggi. Tentu saja criteria ini adalah angka yang sudah distandarkan.
  3. Kemampuan membaca komprehensif di negara berkembang seperti di Indonesia cenderung lebih rendah daripada di negara maju. Hal ini disebabkan kebiasaan menghafal dalam belajar siswa.

Kecenderungan Pendidikan Islam sekarang yang menitikberatkan pada pemberian bekal pengetahuan kepada anak didik dan sedikit dalam pembentukan values atau nilai-nilai dan karakter tentunya akan berpengaruh pada sikap anak didik. Semangat juang dan daya saing mereka menurun karena selama ini pendidikan Islam dalam hal pembentukan nilai-nilai dan karakter itu sangat minim.

Masalah internal yang dihadapi pendidikan Islam salah satunya adalah adanya kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam tubuh pendidikan Islam itu sendiri. Menurut Mochtar Buchori (1992) menilai kegagalan pendidikan agama di sekolah-sekolah karena praktek pendidikannya hanya memperhatikan aspek kognitif semata dari pertumbuhan kesadaran nilai-nilai (agama), dan mengabaikan pembinaan aspek afektif dan konatif-volutif, yakni kemauan dan tekad untuk mengamalkan nilai-nilai ajaran agama. Buruknya sistem dan kebijakan pendidikan yang berlaku. Muatan kurikukum yang hanya mengandalkan kemampuan aspek kognitif dan mengabaikan pendidikan afektif menyebabkan berkurangnya proses humanisasi dalam pendidikan. Akibatnya terjadi kesenjangan antara pengetahuan dan pengamalan dalam kehidupan. Atau dapat dikatakan dalam praktiknya pendidikan agama berubah menjadi pengajaran agama, sehingga tidak mampu membentuk pribadi-pribadi Islam.

Kelemahan [weakness], bahwa pendidikan Islam posisinya lemah, tidak profesional hampir disemua sektor dan komponennya, stress, terombang-ambing antara jati dirinya, apakah ikut model sekolah umum atau antara ikut Diknas dan Depag. Belum ada sistem yang mantap dalam pengembangan model pendidikan agama dan pendidikan keagamaan.

Muchtar Buchori juga menyatakan bahwa kegiatan pendidikan agama Islam yang berlangsung selama ini lebih banyak bersikap menyendiri, kurang berinteraksi dengan kegiatan-kegiatan pendidikan lainnya. Cara kerja semacam ini kurang efektif untuk keperluan penanaman suatu perangkat nilai yang kompleks. Pendidikan agama tidak boleh tidak boleh dan tidak dapat berjalan sendiri, tetapi harus berjalan bersama dan bekerjasama dengan program-program pendidikan nonagama kalau ingin mempunnyai relevansi terhadap perubahan sosial yang terjadi di masyarakat.

Towaf (1996) mengemukakan kelemahan-kelemahan Pendidikan agama Islam di sekolah, antara lain sebagai berikut :

  1. Pendekatan masih cenderung normatif, dalam artian pendidikan agama menyajikan norma-norma yang seringkali tanpa ilustrasi konteks sosial budaya sehingga peserta didik kurang menghayati nilai-nilai agama sebagai nilai yang hidup dalam keseharian.
  2. Kurikulum pendidikan agama Islam yang dirancang disekolah sebenarnya lebih menawarkan minimum kompetensi atau minimum informasi, tetapi GPAI seringkali terpaku padanya sehingga semangat untuk memperkaya kurikulum dengan pengalaman belajar yang bervariasi kurang tumbuh.
  3. GPAI kurang berupaya untuk menggali berbagai metode yang mungkin bisa dipakai untuk pendidikan agam Islam sehingga pelaksanaan pembelajaran terkesan monoton.

Daya tampung yang terbatas pada lembaga-lembaga pendidikan Islam juga menjadi suatu problematika tersendiri selain juga tidak terpenuhinya cita-cita bangsa untuk memeratakan pendidikan bagi seluruh masyarakat. Masih ada daerah-daerah yang kekurangan sarana belajar sehingga menjadi kendala bagi peserta didik untuk belajar. Misalnya, di tingkat perguruan tinggi daya tamping di universitass negeri juga terbatas. Dipandang dari sudut-sudut penyebaran guru juga tidak merata, baik ditinjau dari segi kuantitas dan kualitas yang terpusat dikota-kota. Banyak desa-desa terpencil sangat kekurangan guru terutama guru Pendidikan Agama Islam sehingga berpengaruh pada perkembangan sosial dalam masyarakat tersebut.

Salah satu komponen pokok terpenting dari pendidikan adalah guru. Dan juga salah satu permasalahan yang dihadapi pendidikan Islam sekarang adalah masalah guru. Guru dalam lembaga pendidikan Islam masih kurang, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Perlakuan pemerintah dan masyarakat terhadap pendidikan Islam masih tetap sama, diskriminatif. Sikap inilah yang menyebabkan pendidikan Islam sampai detik ini terpinggirkan. Terpinggirnya pendidikan Islam dari persaingan sesungguhnya dikarenakan dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal, pertama, meliputi manajemen pendidikan Islam yang pada umumnya belum mampu menyelenggarakan pembelajaran dan pengelolaan pendidikan yang efektif dan berkualitas. Hal ini tercermin dari kalah bersaing dengan sekolah-sekolah yang berada di bawah pembinaan Departemen Pendidikan Nasional [Diknas] yang umumnya dikelola secara modern. Kedua, faktor kompensasi profesional guru yang masih sangat rendah. Para guru yang merupakan unsur terpenting dalam kegiatan belajar mengajar, umumnya lemah dalam penguasaan materi bidang studi, terutama menyangkut bidang studi umum, ketrampilan mengajar, manajemen keles, dan motivasi mengajar. Hal ini terjadi karena system pendidikan Islam kurang kondusif bagi pengembangan kompetensi profesional guru.

Ketiga, adalah faktor kepemimpinan, artinya tidak sedikit kepala-kepala madrasah yang tidak memiliki visi, dan misi untuk mau ke mana pendidikan akan dibawa dan dikembangkan. Kepala madrasah sehar

usnya merupakan simbol keunggulan dalam kepemimpinan, moral, intelektual dan profesional dalam lingkungan lembaga pendidikan formal, ternyata sulit ditemukan di lapangan pendidikan Islam. Pimpinan pendidikan Islam bukan hanya sering kurang memiliki kemampuan dalam membangun komunikasi internal dengan para guru, melainkan juga lemah dalam komunikasi dengan masyarakat, orang tua, dan pengguna pendidikan untuk kepentingan penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas. Biasanya pendekatan yang digunakan adalah pendekatan birokratis daripada pendekatan kolegial profesional. Mengelola pendidikan bukan berdasar pertimbangan profesional, melainkan pendekatan like and dislike (Mahfudh Djunaidi, 2005), dengan tidak memiliki visi dan misi yang jelas.

 PENUTUP

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pentingnya agama dalam kehidupan disebabkan oleh sangat diperlukannya moral oleh manusia, karena agama bersumber dari agama. Dan agama menjadi sumber moral, karena agama menganjurkan iman kepada Tuhan dan kehidupan akherat, dan selain itu karena adanya perintah dan larangan dalam agama.

Dan di simpulkan bahwa tujuan pendidikan islam pada intinya adalah : Terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah. Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah SWT. Dan mengantarkan anak didik menjadi kholifah di bumi guna mencapai kebahagian dunia dan akherat.

Tujuan pendidikan Islam secara umum adalah untuk mencapai tujuan hidup muslim, yakni menumbuhkan kesadaran manusia sebagai makhluk Allah SWT agar mereka tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berakhlak mulia dan beribadah kepada-Nya.

Pendidikan Islam adalah usaha merubah tingkah laku individu didalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitar melalui proses pendidikan.

Tujuan pendidikan Islam adalah “suatu istilah untuk mencari fadilah, kurikulum pendidikan islam berintikan akhlak yang mulia dan mendidik jiwa manusia berkelakuan dalam hidupnya sesuai dengan sifat-sifat kemanusiaan yakni kedudukan yang mulia yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala melebihi makhluk-makhluk lain dan dia diangkat sebagai khalifah.

 DAFTAR PUSTAKA

Jalaluddin dan Idi, Abdullah. 2013. Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat, dan Pendidikan. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

Muhaimin Azzet, Akhmad, Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia, Jogjakarta: Ar-Ruz Media, 2011.

Muhaimin, dkk., Paradigma Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2004.

Muslich, Masnur, Pendidikan Karakter; Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional, Jakarta: Bumi Aksara, 2011.

Muwafik Saleh, Akh., Membangun Karakter dengan Hati Nurani; Pendidikan Karakter untuk Generasi Bangsa, Jakarta: Erlangga, 2012.

Nasib Ar-Rifa’i, Muhammad, Kemudahan dari Allah Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 1 , Jakarta: Gema Insani, 1999.

Nata, Abuddin, Akhlak Tasawuf,  Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996.

———, Manjemen Pendidikan, Jakarta : Prenada Media, 2003, Cet. I.

Noddings, Nel, Philosophy of Education, United State of America : Westview Press, 1998

  1. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2000.

Saleh Abdullah, Abdurrahman, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, Jakarta: Rineka Cipta, 2007.

Samani, Muchlas, dkk., Pendidikan Karakter, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2012.

Soehartono, Irawan, Metode Penelitian Sosial, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2000.

Shihab, M. Quraish Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur‟an, volume 13, Jakarta : Lentera Hati, 2002.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.