Peran Kurikulum dalam Membangun Karakter Bangsa pada Kediklatan

0
124

oleh :

MONICA HENNY SUDARYATI

Abstrak:

Kurikulum pada lembaga pendidikan formal serta kediklatan akan sangat berperan serta dalam membangun karakter bangsa. Menjadi hal yang tidak mudah tentunya untuk segera mendapatkan hasil dari proses tersebut. Namun harus tetap dimulai,. melihat kondisi moral bangsa kita yang memprihatinkan.

Kurikulum senantiasa terkait dengan kegiatan pendidikan, diklat sebagai lembaga yang berwewenang memberikan materi yang terkait dengan membangun karakter bagi peserta.

Membangun karakter bangsa menjadi hal yang ternd sekarang ini, hal ini berkaitan dengan moral bangsa kita yang memudar. Kemajuan suatu bangsa tidak lepas dari moral sumber daya manusia, yang sangat berperan membangun negara dan bangsa ini. Pembangunan dilandasi oleh Pancasila dan Undang – undang Dasar 1945, serta telah dijabarkan pula dengan berbagai peraturan, semuanya indah dan baik. Bagaimana kita mengimplementasikannya?

Kata kunci: kurikulum, membangun karakter.

Abstrac :

  1. Pendahuluan

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar karena didukung oleh sejumlah fakta positif yaitu posisi geopolitik yang sangat strategis, kekayaan alam dan keanekaragaman hayati, kemajemukan sosial budaya, dan jumlah penduduk yang besar. Oleh karena itu, bangsa Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi bangsa yang maju, adil, makmur, berdaulat, dan bermartabat. Bagaimana mewujudkannya?  Beberapa kali kita mengalami perubahan kurikulum di bidang pendidikan dari jenjang Taman Kanank- kanak sampai Perguruan Tinggi. Demikian pula dengan kurikulum pada kediklatan, mengikuti pula arah tujuan bangsa ini. Pada tahun 2013 muncul perubahan kurikulum pendidikan yang mengedepankan perlunya membangun karakter bangsa. Hal ini didasarkan pada fakta dan persepsi masyarakat tentang menurunnya kualitas sikap dan moral anak-anak atau generasi muda.

Pada saat ini yang diperlukan  adalah kurikulum pendidikan yang berkarakter; dalam arti kurikulum itu sendiri memiliki karakter, dan sekaligus diorientasikan bagi pembentukan karakter peserta didik. Perbaikan kurikulum merupakan bagian tak terpisahkan dari kurikulum itu sendiri (inherent), bahwa suatu kurikulum yang berlaku harus secara terus-menerus dilakukan peningkatan dengan mengadopsi kebutuhan yang berkembang dalam masyarakat dan kebutuhan peserta didik. Pendidikan Formal yang memiliki kurikulum dan telah dibakukan oleh pemerintah diberikan muatan yang terindikasi dapat turut serta membangun karakter. Seberapakah peran kurikulum dalam membangun karakter bangsa?

ABSTRACT:

The curriculum in formal education and training and education institutions will be participating in building the nation’s character. Being a matter of course that is not easy to quickly get the results of that process. But should still start,. look at the condition of our nation’s moral concern.

The curriculum is always associated with educational activities, training as an authorized institution providing the materials associated with building a character for participants.

Building a national character become ternd now, this is related to our nation’s moral fading. The progress of a nation can not be separated from moral human resources, which greatly contribute to build the state and the nation. Development based on the Pancasila and the Constitution – Constitution of 1945, and has been described also with various regulations, everything is beautiful and good. How do we implement it?

Keywords: curriculum, builds character.

B.     Pembahasan

Negara kita memiliki  modal  cukup besar yakni jumlah penduduk yang  menjadi modal  paling penting karena kemajuan dan kemunduran suatu bangsa sangat bergantung pada faktor manusianya/sumber daya manusia (SDM). Masalah-masalah politik, ekonomi, dan sosial budaya juga dapat diselesaikan dengan SDM. Namun untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut dan menghadapi berbagai persaingan peradaban yang tinggi untuk menjadi Indonesia yang lebih maju diperlukan revitalisasi dan penguatan karakter SDM yang kuat.

Perubahan kurikulum pendidikan dan kediklatan merupakan agenda yang secara rutin berlangsung dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan di negara berkembang. Indonesia kini   mengedepankan perlunya membangun karakter bangsa. Hal ini didasarkan pada fakta dan persepsi masyarakat tentang menurunnya kualitas sikap dan moral anak-anak atau generasi muda demikian pula orang tua. Kurikulum pendidikan yang berkarakter; dalam arti kurikulum itu sendiri memiliki karakter, dan sekaligus diorientasikan bagi pembentukan karakter peserta didik.

Perkembangan di era globalisasi  yang tidak dapat kita hentikan menuntut agar generasi ini tetap pada koridor Negara yang berpancasila dengan mewujudkan nilai – nilai yang terkandung di dalamnya. Pemimpin negeri ini menghendaki adanya sikap dan perilaku anak-anak sekarang dan masa mendatang  berkarakter, memiliki kejujuran,  integritas yang merupakan cerminan budaya bangsa, dan bertindak sopan santun, ramah tamah dalam pergaulan keseharian. Selain itu diharapkan pula generasi muda tetap memiliki sikap mental dan semangat juang yang menjunjung tinggi etika, moral, dan melaksanakan ajaran agama.

Apa yang dilakukan oleh beberapa pemerhati dan pengambil kebijakan bidang pendidikan tidak sepenuhnya salah. Ada baiknya dilakukan “review” menyeluruh terhadap suatu kurikulum pendidikan. Kehendak untuk melakukan peninjauan kurikulum, sesungguhnya, bukan hanya semata-mata atas desakan dan tuntutan masyarakat. Kurikulum mempunyai hubungan yang sangat erat dengan teori pendidikan. Perbaikan kurikulum merupakan bagian tak terpisahkan dari kurikulum itu sendiri (inherent), bahwa suatu kurikulum yang berlaku harus secara terus-menerus dilakukan peningkatan dengan mengadobsi kebutuhan yang berkembang dalam masyarakat dan kebutuhan peserta didik. Kunci sukses dalam implementasi kurikulum terutama adalah pada pendidik, kelembagaan, sekolah, dukungan kebijakan strategis, sarana,dan lingkungan pendidikan itu sendiri.

Kurikulum menurut UU No. 20 Tahun 2003: Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Kurikulum, menurut nana Sudjana: Niat dan harapan dalam bentuk rencana atau program pendidikan untuk dilaksanakan oleh guru di sekolah.

Menurut Harsono (2005), kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik. Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track atau jalur pacu. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan.

Manajemen persekolahan juga menjadi variabel penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan. Bagaimana iklim sekolah diciptakan, turut berperan dalam mewarnai anak didik. Apakah iklim kebebasan, disiplin, ketertiban, dan kreativitas benar-benar tercipta di lingkungan sekolah.

 Membangun Karakter

Pendidikan karakter bukan merupakan hal yang baru sekarang ini muncul,.penanaman nilai-nilai sebagai sebuah karakteristik seseorang sudah berlangsung sejak dahulu kala. Akan tetapi, seiring dengan perubahan zaman, agaknya menuntut adanya penanaman kembali nilai-nilai tersebut ke dalam sebuah wadah kegiatan pendidikan di setiap pengajaran.

Penanaman nilai-nilai tersebut dimasukkan (embeded) ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran dengan maksud agar dapat tercapai sebuah karakter yang selama ini semakin memudar. Setiap mata palajaran mempunyai nilai-nilai tersendiri yang akan ditanamkan dalam diri anak didik. Hal ini disebabkan oleh adanya keutamaan fokus dari tiap mata pelajaran yang tentunya mempunyai karakteristik yang berbeda-beda.

Distribusi penanaman nilai-nilai utama dalam tiap mata pelajaran  sebagai berikut:

  1. Pendidikan Agama:  Nilai utama yang ditanamkan antara lain: religius, jujur, santun, disiplin, tanggung jawab, cinta ilmu, ingin tahu, percaya diri, menghargai keberagaman, patuh pada aturan, sosial, bergaya hidup sehat, sadar akan hak dan kewajiban, kerja keras, dan adil.
  2. Pendidikan Kewargaan Negara: Nasionalis, patuh pada aturan sosial, demokratis, jujur, mengahargai keragaman, sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain.
  3. Bahasa Indonesia: Berfikir logis, kritis, kreatif dan inovatif, percaya diri, bertanggung jawab, ingin tahu, santun, nasionalis.
  4. Ilmu Pengetahuan Sosial: Nasionalis, menghargai keberagaman, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, peduli sosial dan lingkungan, berjiwa wirausaha, jujur, kerja keras.
  5. Ilmu Pengetahuan Alam: Ingin tahu, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, jujur, bergaya hidup sehat, percaya diri, menghargai keberagaman, disiplin, mandiri, bertanggung jawab, peduli lingkungan, cinta ilmu
  6. Bahasa Inggris: Menghargai keberagaman, santun, percaya diri, mandiri, bekerja sama, patuh pada aturan sosial
  7. Seni Budaya: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis
  8. Penjasorkes: Bergaya hidup sehat, kerja keras, disiplin, jujur, percaya diri, mandiri, mengahrgai karya dan prestasi orang lain
  9. TIK/Ketrampilan: Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, mandiri, bertanggung jawab, dan menghargai karya orang lain.
  10. Muatan Lokal: Menghargai kebersamaan, menghargai karya orang lain, nasional, peduli.

Bagaimana kesemuanya diaplikasikan? Setiap nilai utama tersebut dapat dimasukkan ke dalam pembelajaran mulai dari kegiatan eksplorasi, elaborasi, sampai dengan konfirmasi.

Bagian pertama adalah Eksplorasi, antara lain dengan cara:

  1. Melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang dipelajari dengan menerapkan prinsip alam terbuka sehingga  guru dan peserta didik belajar dari aneka sumber (contoh nilai yang ditanamkan: mandiri, berfikir logis, kreatif, kerjasama)
  2. Menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain (contoh nilai yang ditanamkan: kreatif, kerja keras)
  3. Memfasilitasi terjadinya interaksi antar peserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya (contoh nilai yang ditanamkan: kerjasama, saling menghargai, peduli lingkungan)
  4. Melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran (contoh nilai yang ditanamkan: rasa percaya diri, mandiri)
  5. Memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan (contoh nilai yang ditanamkan: mandiri, kerjasama, kerja keras)

Bagian kedua adalah Elaborasi, nilai-nilai yang dapat ditanamkan antara lain:

  1. Membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna (contoh nilai yang ditanamkan: cinta ilmu, kreatif, logis)
  2. Memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis (contoh nilai yang ditanamkan: kreatif, percaya diri, kritis, saling menghargai, santun)
  3. Memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut (contoh nilai yang ditanamkan: kreatif, percaya diri, kritis)
  4. Memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif (contoh nilai yang ditanamkan: kerjasama, saling menghargai, tanggung jawab)
  5. Memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar (contoh nilai yang ditanamkan: jujur, disiplin, kerja keras, menghargai)
  6. Memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok (contoh nilai yang ditanamkan: jujur, bertanggung jawab, percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama)
  7. Memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok (contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama)
  8. Memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan (contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama)
  9. Memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik (contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama)

Bagian ketiga adalah konfirmasi, nilai-nilainya antara lain:

  1. Memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik (contoh nilai yang ditanamkan: saling menghargai, percaya diri, santun, kritis, logis)
  2. Memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber (contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, logis, kritis)
  3. Memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan (contoh nilai yang ditanamkan: memahami kelebihan dan kekurangan)
  4. Memfasilitasi peserta didik untuk lebih jauh/dalam/luas memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap, antara lain dengan guru yang berfungsi sebagai:

Demikian pula dengan kurikulum diklat ada materi dasar yang berisi pembinaan karakter bagi peserta, dengan asumsi mereka termotivasi untuk merubah diri menjadi orang yang memiliki moral baik dalam berkarya pada lembaga. Teladan dari para pendidik, orang tua sangat diperlukan, untuk mengimplimentasikan berbagai nilai – nilai:

  • Narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar (contoh nilai yang ditanamkan: peduli, santun);
  • Membantu menyelesaikan masalah (contoh nilai yang ditanamkan: peduli);
  • Memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi (contoh nilai yang ditanamkan: kritis)
  • Memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh (contoh nilai yang ditanamkan: cinta ilmu); dan
  • Memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif (contoh nilai yang ditanamkan: peduli, percaya diri).

Di masa lalu, dogma atau doktrin negara dilakukan melalui penataran-penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) atau melalui mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Pelaksanaan penataran P4 juga menjadi program wajib setiap siswa baru pada jenjang sekolah menengah sampai perguruan tinggi, demikan juga para pegawai di lingkungan pemerintah dan swasta juga mendapatkannya. Namun  seberapakan hasil dari berbagai penataran tersebut?

Pada semua mata pelajaran, secara implisit termuat tujuan pembelajaran yaitu adanya perubahan kognitif, sikap, dan perilaku peserta. Kesemua kegiatan pembelajaran, khususnya untuk mata pelajaran yang terkait langsung dengan pembangunan mental dan moral peserta, itu dimaksudkan sebagai usaha untuk membentuk sikap warga negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya bangsa, mempererat persatuan dan kesatuan, menciptakan kesadaran hidup bernegara, dan membangun moral bangsa. Faktanya, setelah berlangsung bertahun-tahun, “produk” penataran P4 itu tidak sesuai dengan yang diharapkan. Penyakit sosial dan penyakit masyarakat masih saja merebak, seperti yang terlihat dan terdengar pada pemberitaan media .. Yang terlihat sekarang adalah perilaku tidak jujur, korupsi, kolusi, nepotisme, suap, makelar kasus, bahkan tindakan terorisme, hilangnya sikap kesabaran, pelanggaran norma masyarakat, merosotnya disiplin berlalu-lintas di jalanan, memudarnya rasa malu, meredupnya sikap saling menghargai, dan sebagainya.

Selain itu, yang juga tampak menonjol adalah rendahnya penghargaan terhadap karya sendiri dan atau karya bangsa sendiri. Hal ini diindikasikan dengan tindakan pembajakan produk yang melanggar hak cipta, perilaku mencontek dalam ujian, dan bahkan sikap mengagung-agungkan gelar, telah melunturkan etos belajar, sehingga terjadi pemalsuan ijazah. Apalagi ditambah dengan sikap konsumerisme dan gempuran iklan produk konsumtif yang menyerbu setiap hari melalui berbagai media, kian menunjukkan betapa kita telah kehilangan jati diri dan tidak mempunyai karakter.

Dalam tataran ini, belajar atau sekolah, diklat dianggap bukan sebagai kebutuhan, tetapi hanya merupakan wahana memburu status. Sekolah dipandang bukan sebagai wahana sosialisasi dan membangun jiwa merdeka, tetapi dipandang sebagai jembatan menuju “kemewahan”. Pendidikan kediklatan masih belum tersentuh untuk semua pegawai yang ada pada lembaga, yang sebenarnya ini juga berkaitan dengan pendidikan karakter mereka.

Pendidikan berbeda dengan indoktrinasi. Pendidikan lebih bermuatan nilai-nilai kemanusiaan, sedangkan indoktrinasi berkaitan dengan kepentingan politik. Pendidikan bukan untuk menciptakan kemakmuran lahiriah, karena kemakmuran itu hanya merupakan dampak dari pendidikan.

Kategorisasi era perkembangan teknologi dari era agraris, era industri, dan era teknologi modern, telah nyata dalam kehidupan sebagian masyarakat kita. Banyak contoh yang dapat  menunjukkan “keterkejutan budaya” sebagai dampak penerapan kurikulum pendidikan persekolahan. Keterombang-ambingnya generasi muda di “persimpangan budaya” memerlukan komitmen kalangan pendidik untuk mampu memberikan rambu-rambu dan sekaligus menanamkan nilai-nilai dan falsafah budaya bangsa sendiri tetap dalam kerangka kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menghadapi tuntutan era globalisasi yang antara lain ditandai dengan adanya persaingan bebas dalam pergaulan dunia, maka pengelolaan pendidikan harus dirancang secara komprehensif dan integratif, direncanakan secara matang, dan mendapat dukungan dari semua pihak. Kurikulum juga harus memiliki keseimbangan dalam hal tujuan-tujuan yang ingin dicapai; tidak saja aspek kognitif dan keterampilan, tetapi juga penting aspek-aspek mental, etika, moral, dan seni.

Kesimpulan:

 Kurikulum pendidikan senantiasa dilakukan penyempurnaan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan masyarakat. Kurikulum dengan muatan penanaman nilai- nilai budaya bangsa sangat bermanfaat di era globalisasi, dengan berbagai kompetensi yang telah dirancang secara komprehensif, integrative.

Kurikulum pada lembaga sekolah dan kediklatan yang sudah  bermuatan pembangunan karakter, yang diharapkan terus dapat diimplementasikan dalam bermasyarakat dan berbangsa. Sumber daya manusia yang berkarakter tentu akan menjunjung tinggi nilai- nilai moral yang berdasar pada Pancasila serta UUD 1945.

Proses membangun karakter bangsa memang perjalanan yang mesti dilewati melalui kurikulum yang dirancang untuk itu. Pendidikan di sekolah formal maupun lembaga kediklatan sangat berperan untuk membangun karakter melalui materi yang dimasukan  pada kurikulum. Kerjasama antar berbagai elemen dalam penerapan dan pengawasan sangat dinantikan, untuk mewujudkan bangsa yang bermartabat dan mandiri di dunia globalisasi. (Monica,Pusdiklat Teknis)

  Daftar pustaka:

  1. Dakir,”Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum”Rineka Cipta,Yogyakarta,2004
  2. Heri Gunawan, S.Pd.I., M.Ag.” Pendidikan Karakter  Konsep dan Implementasi” Alfabeta,Bandung,2011
  3. Hamka Abdul Aziz,”Membangun Karakter Bangsa”Pustaka Al Mawardi.Surakarta,2011
  4. Harsono,”Pengelolaan Pendidikan”,Alfabeta Bandung, 2005
  5. John Mccain,Mark salter,”Karakter-Karakter yang Menggugah Dunia”Gramedia Pustaka Utama”Jakarta, 2009
  6. Mulyasa,”Kurikulum Berbasis Kompetensi”Remaja Rosdakarya,Bandung,2002
  7. Nana Syaodih S,”Pengembangan Kurikulum”Remaja Rosdakarya,Bandung,2006
  8. Nana Sudjana,,”Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah,Sinar baru Algensindo,Jakarta,2005
  9. Supriyoko,Pendidikan Karakter Membangun Peradaban,Samudera Biru, Jakarta,2011
  10. Sutarjo Adisusilo,”Pembelajaran Nilai Karakter”,Rajagrafindo, Jakarta, 2012
  11. Yoyon Bahtiar Irianto,Kebijakan Pembaharuan Pendidikan,Rajawali Press,Jakarta,2012
  12. ………..Kurikulum 2013,Kemendikbud, 2014
  13. ………..Kurikulum Kediklatan 2013, Kemenag, 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.