Model Pendekatan Konseling

0
62

Oleh : Dra.Nelly Nurmelly, MM

( Widyaiswara Muda BDK Palembang )

Abstrak :

 Di antara berbagai pendekatan yang dipelajari, Pendekatan Konseling Gestalt, Pendekatan Konseling Behavioral, dan Pendekatan Konseling Rasional-Emotif diyakini sekolah. memiliki nilai praktikal yang lebih tinggi, sehingga ia cukup kondusif untuk diterapkan di sekolah.

Secara konseptual, masing-masing pendekatan akan dikaji dari komponen : (1) konsep dasar, (2) asumsi tingkah laku bermasalah, (3) tujuan konseling, (4) deskripsi proses konseling, dan (5) teknik-teknik konseling.

Pendekatan Konseling Behavioral akan disimulasi dengan langkah-langkah : (1) Assesment, yaitu langkah awal yang bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika   perkembangan klien, (2) Goal setting, yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling, (3)  Technique implementation, yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling, (4) Evaluation termination, yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling, dan (5) Feedback, yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meingkatkan proses konseling.

Pendekatan Konseling Gestalt disimulasi dengan langkah-langkah, pertama   konselor mengembangkan pertemuan konseling, agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien. Kedua,  konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien. Ketiga, konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini, klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu, dalam situasi di sini dan saat ini. Keempat, setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya, konselor mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling.

Pendekatan Konseling Rasional Emotif akan disimulasikan dengan langkah-langkah : (1) Mengelola Pandangan dan Pikiran Klien, yang meliputi kegiatan mengidentifikasi masalah klien, menjelaskan dan menunjukkan bahwa masalah klien bersumber pada keyakinan/cara berpikir yang irasional, mendiskusikan arah perubahan keyakinan/cara berpikir irasional ke rasional, mendiskusikan tujuan konseling, dan mengkonfrontasi keyakinan/cara berpikir irasional, (2) Mengelola Emosi dan Afeksi, yang meliputi kegiatan membina kesepakatan ke arah perubahan klien dan memelihara suasana konseling, (3) Melaksanakan teknik relaksasi, dan (4) Mengelola Tingkah Laku.

Kata Kunci : Konseling Gestalt, Behavioral, Konselor

PENDAHULUAN

Konseling merupakan proses bantuan untuk mengentaskan masalah yang terbangun dalam suatu hubungan tatap muka antara dua orang individu (klien yang mengahadapi masalah dengan konselor yang memiliki kualifikasi yang dipersyaratkan). Bantuan dimaksud diarahkan agar klien mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu tumbuh kembang ke arah yang dipilihnya, sehingga klien mampu mengembangkan dirinya ke arah peningkatan kualitas kehidupan sehari-hari yang efektif (effektive daily living). Hubungan dalam proses konseling terjadi dalam suasana profesional dengan menyediakan kondisi yang kondusif bagi perubahan dan pengembangan diri klien.

Konseling profesional merupakan layanan terhadap klien yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan dapat dipertanggungjawabkan dasar keilmuan dan teknologinya. Penyelenggaraan konseling profesional bertitik tolak dari pendekatan-pendekatan yang dijadikan sebagai dasar acuannya. Secara umum, pendekatan konseling hakikatnya merupakan sistem konseling yang dirancang dan didesain berdasarkan teori-teori dan terapan-terapannya sehingga muwujudkan suatu struktur performansi konseling. Bagi konselor, penggunaan pendekatan konseling merupakan pertanggung jawaban ilmiah dan teknologis dalam menyelenggaraan konseling.

Persoalannya adalah, dalam kondisi riil, kebanyakan praktik konseling, baik dalam setting sekolah maupun di berbagai lembaga/instansi yang ada di masyarakat,  belum dilaksanaan secara profesional, dalam arti belum bertitik tolak dari pendekatan-pendekatan yang secara ilmiah dan teknologis dapat dipertanggungjawabkan. Prayitno (2005 :1) menyatakan bahwa dalam praktiknya di masyarakat, tampak ada lima tingkatan keprofesionalan konseling, yaitu tingkat pragmatik, dogmatik, sinkretik, eklektik, dan mempribadi. Tingkat konseling pragmatik adalah penyelenggaraan konseling yang menggunakan cara-cara yang menurut pengalaman konselor pada waktu  terdahulu dianggap memberikan hasil yang optimal, meskipun cara-cara tersebut sama sekali tidak berdasarkan pada teori tertentu. Dalam praktik konseling dogmatik konselor telah menggunakan pendekatan tertentu, bahkan pendekatan tersebut dijadikan dogma untuk segenap permasalahan dari semua klien. Dalam penyelenggarakaan konseling sinkretik konselor telah menggunakan sejumlah pendekatan konseling, namun penggunaan pendekatan tersebut bercampur aduk tanpa sistematika ataupun pertimbangan yang matang.

A.  TUJUAN KONSELING

1.    Mengahapus/menghilangkan tingkah laku maladaptif (masalah) untuk digantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku   adaptif yang diinginkan klien.

2.    Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik

  • a.   Diinginkan oleh klien
  • b.   Konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut
  • c.   Klien dapat mencapai tujuan tersebut

3.      Dirumuskan secara spesifik

4.      Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama)\menetapkan/merumuskan tujuan-tujuan khusus konseling.

B. DESKRIPSI PROSES KONSELING

1.      Proses konseling adalah proses belajar, konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut

2.      Konselor aktif :

a.      Merumuskan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor dapat membantu pemecahannya atu tidak

b.      Konselor memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan konseling, khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling

c.      Konselor mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya.

Deskripsi langkah-langkah konseling :

a       Assesment, langkah awal yang bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika   perkembangan klien (untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya, kekuatan dan kelemahannya, pola hubungan interpersonal, tingkah laku penyesuaian, dan area masalahnya) Konselor mendorong  klien untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah.

b       Goal setting, yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling.

Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

1)  Konselor dan klien mendifinisikan masalah yang dihadapi klien

2)  Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling

3)   Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien :

a)   apakah merupakan tujuan yang benar-benar dimiliki dan diinginkan klien

b)  apakah tujuan itu realistik

c)   kemungkinan manfaatnya

d)  kemungkinan kerugiannya.

4)  Konselor dan klien membuat keputusan apakah :

a) melanjutkan konseling dengan menetapkan teknik yang akan dilaksanakan

b)   mempertimbangkan kembali tujuan yang akan dicapai

c)   melakukan referal

c       Technique implementation, yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling.s

d         Evaluation termination, yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling.

e       Feedback, yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meingkatkan proses konseling.

C. TEKNIK KONSELING

Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang, dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk.

1.      Prinsip Kerja Teknik Konseling Behavioral

a.    Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan. Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien.

b.    Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan.

c.    Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan.

d.    Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film, tape recorder, atau contoh nyata langsung).

e.    Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak. Penguatannya dapat berbentuk ganjaran yang berbentuk materi maupun keuntungan sosial.

1. Teknik-teknik Konseling Behavioral

a. Latihan Asertif

Teknik ini dugunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini.

b. Desensitisasi Sistematis

Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokuskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Jadi desensitisasi sistematis hakikatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan, dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan.

c. Pengkondisian Aversi

1)  Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut.

2)  Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan.

d. Pembentukan Tingkah laku Model

Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien, dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model, dapat menggunakan model audio, model fisik, model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh. Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Ganjaran dapat  berupa pujian sebagai ganjaran sosial.

D.  KERANGKA KERJA  PENDEKATAN KONSELING GESTALT

A. KONSEP DASAR

1.   Pendekatan konseling ini berpandangan bahwa manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati, jantung, otak, dan sebagainya, melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut.

  1. Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran, perasaan, dan tingkah lakunya
  2. Setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi, memiliki dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi. Jadi hakikat manusia menurut pendekatan konseling ini adalah : (1) tidak dapat dipahami, kecuali dalam keseluruhan konteksnya, (2) merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungannya itu, (3) aktor bukan reaktor, (4) berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi, emosi, persepsi, dan pemikirannya, (5) dapat memilih secara sadar dan bertanggung jawab, (6) mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara efektif.
  3. Dalam hubungannya dengan perjalanan kehidupan manusia, pendekatan ini memandang bahwa  tidak ada yang “ada” kecuali “sekarang”. Masa lalu telah pergi dan masa depan belum dijalani, oleh karena itu yang menentukan kehidupan manusia adalah masa sekarang.
  4. Dalam pendekatan ini, kecemasan dipandang sebagai “kesenjangan antara saat sekarang dan kemudian”. Jika individu menyimpang dari saat sekarang dan menjadi terlalu terpaku pada masa depan, maka mereka mengalami kecemasan.
  5. Dalam pendekatan gestalt terdapat konsep tentang urusan yang tak selesai (unfinished business), yakni mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam, kemarahan, kebencian, sakit hati, kecemasan, kedudukan, rasa berdosa, rasa diabaikan. Meskipun tidak bisa diungkapkan, perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingatan-ingatan dan fantasi-fantasi tertentu. Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran, perasaan-perasaan itu tetap tinggal pada latar belakang dan dibawa pada kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat hubungan yang efektif dengan dirinya sendiri dan orang lain. Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia menghadapi dan menangani perasaan-perasaan yang tak terungkapkan itu.
    1. Individu bermasalah kaena terjadi pertentangan antara kekuatan “top dog” dan keberadaan “under dog”. Top dog adalah kekuatan yang mengharuskan, menuntut, mengancam. Under dog adalah keadaan defensif, membela diri, tidak berdaya, lemah, pasif, ingin dimaklumi.
    2. Perkembangan  yang  terganggu  adalah  tidak  terjadi  keseimbangan antara apa-apa yang harus (self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self).
    3. Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis
      1. Ketidakmampuan individu mengintegrasikan pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya
      2. Mengalami gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang
      3. Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi
      4. Spektrum tingkah laku bermasalah pada individu meliputi :
        1. Kepribadian kaku (rigid)
        2. Tidak mau bebas-bertanggung jawab, ingin tetap tergantung
        3. Menolak berhubungan dengan lingkungan
        4. Memeliharan unfinished bussiness
        5. Menolak kebutuhan diri sendiri
        6. Melihat  diri sendiri dalam kontinum “hitam-putih” .

B.     ASUMSI TINGKAH LAKU BERMASALAH

C.    TUJUAN KONSELING

1.      Tujuan utama konseling Gestalt adalah membantu klien agar berani mengahadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. Tujuan ini mengandung makna bahwa klien haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri, dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya.

  1. Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh, melainkan baru memanfaatkan sebagaian dari potensinya yang dimilikinya.  Melalui konseling konselor membantu klien agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal.
    1. Secara lebih spesifik tujuan konseling Gestalt adalah sebagai berikut.
      1. Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi, memahami kenyataan atau realitas, serta mendapatkan insight secara penuh.
  2. Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya
    1. Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself)

d.      Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat beringkah laku menurut prinsip-prinsip Gestalt, semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik.            

D.     DESKRIPSI PROSES KONSELING

1.      Fokus utama konseling gestalt adalah terletak pada bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya. Oleh karena itu tugas konselor adalah mendorong klien untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya serta mau mencoba menghadapinya. Dalam hal ini perlu diarahkan agar klien mau belajar menggunakan perasaannya secara penuh. Untuk itu klien bisa diajak untuk memilih dua alternatif, ia akan menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang.

  1. Konselor hendaknya menghindarkan diri dari pikiran-pikiran yang abstrak, keinginan-keinginannya untuk melakukan diagnosis, interpretasi maupun memberi nasihat.

3.      Konselor sejak awal konseling sudah mengarahkan tujuan agar klien menjadi matang dan mampu menyingkirkan hambatan-hambatn yang menyebabkan klien tidak dapat berdiri sendiri. Dalam hal ini, fungsi konselor adalah  membantu klien untuk melakukan transisi dari ketergantungannya terhadap faktor luar menjadi percaya akan kekuatannya sendiri. Usaha ini dilakukan dengan menemukan dan membuka ketersesatan atau kebuntuan klien.

  1. Pada saat klien mengalami gejala kesesatan dan klien menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara mengungkapkan kelemahannya, dirinya tidak berdaya, bodoh, atau gila, maka tugas konselor adalah membuat perasaan klien untuk bangkit dan mau menghadapi ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal.
    1. Deskripsi fase-fase proses konseling :
      1. Fase pertama,  konselor mengembangkan pertemuan konseling, agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien. Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien berbeda, karena masing-masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah  yang harus dipecahkan.
      2. Fase kedua, konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien. Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam fase ini, yaitu :

1)      Membangkitkan motivasi klien, dalam hal ini klien diberi kesempatan untuk menyadari ketidaksenangannya atau ketidakpuasannya. Makin tinggi kesadaran klien terhadap ketidakpuasannya semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan dirinya, sehingga makin tinggi pula keinginannya untuk bekerja sama dengan konselor.

2)            Mebangkitkan dan mengembangkan otonomi klien dan menekankan kepada klien bahwa klien boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasan-alasannya secara bertanggung jawab.

  1. c.             Fase ketiga, konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini, klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu, dalam situasi di sini dan saat ini. Kadang-kadang klien diperbolehkan memproyeksikan dirinya kepada konselor. Melalui fase ini, konselor berusaha menemukan celah-celah kepribadian atau aspek-aspek kepribadian yang hilang, dari sini dapat diidentifikasi apa yang harus dilakukan klien.
  2. Fase keempat, setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya, konselor mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling.

Pada fase ini klien menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan  integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi.

Klien telah memiliki kepercayaan pada potensinya, menyadari keadaan dirinya pada saat sekarang, sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya, perasaan-perasaannya, pikiran-pikirannya dan tingkah lakunya.

Dalam situasi ini klien secara sadar dan bertanggung jawab memutuskan untuk “melepaskan” diri dari konselor, dan siap untuk mengembangan potensi dirinya.

E.     TEKNIK KONSELING

Hubungan personal antara konselor dengan klien merupakan inti yang perlu diciptakan dan dikembangkan dalam proses konseling. Dalam kaitan itu, teknik-teknik yang dilaksanakan selama proses konseling berlangsung adalah merupakan alat yang penting untuk membantu klien memperoleh kesadaran secara penuh.

Prinsip Kerja Teknik Konseling Gestalt
  1. Penekanan Tanggung Jawab Klien, konselor menekankan bahwa konselor bersedia membantu klien tetapi tidak akan bisa mengubah klien, konselor menekankan agar klien mengambil tanggung jawab atas tingkah lakunya.
  2. Orientasi Sekarang dan Di Sini, dalam  proses konseling konselor tidak merekonstruksi masa lalu atau motif-motif tidak sadar, tetapi memfokuskan keadaan sekarang. Hal ini bukan berarti bahwa masa lalu tidak penting. Masa lalu hanya dalam kaitannya dengan keadaan sekarang. Dalam kaitan ini pula konselor tidak pernah bertanya “mengapa”.
  3. Orientasi Eksperiensial, konselor meningkatkan kesadaran klien tentang diri sendiri dan masalah-masalahnya, sehingga dengan demikian klien mengintegrasikan kembali dirinya:
    1. klien mempergunakan kata ganti personal

b.   klien mengubah kalimat pertanyaan menjadi pernyataan

c.    klien mengambil peran dan tanggungjawab

d.  klien menyadari bahwa ada hal-hal positif dan/atau negative pada diri atau tingkah lakunya

Teknik-teknik Konseling Gestalt
  1. 1.            Permainan Dialog
  2. Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogkan dua kecenderungan yang saling bertentangan, yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog, misalnya :

1)            kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak

2)            kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masabodoh

3)            kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”

4)            kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung

5)            kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah

  1. Melalui dialog yang kontradiktif ini, menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”.

2.      Latihan Saya Bertanggung Jawab

a.      Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain.

  1. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”.

Misalnya : “Saya merasa jenuh, dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan

itu   “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang, dan saya

bertanggung jawab ketidaktahuan itu”“Saya malas, dan saya bertanggung    jawab atas kemalasan itu”.

  1. Meskipun tampaknya mekanis, tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya.

3.      Bermain Proyeksi

  1. Proyeksi :

1)            Memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya

2)            Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain

  1. Sering terjadi, perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya.

c.   Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain.

  1. 4.            Teknik Pembalikan

a.      Gejala-gejala dan tingkah laku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya.

  1. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan.

5.      Tetap dengan Perasaan

a.      Teknik dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu.

b.      Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingklah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu.

  1. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu.

PENUTUP

Penyelenggaraan konseling profesioanal bertitik tolak dari pendekatan-pendekatan yang dijadikan sebagai dasar acuannya. Secara umum, pendekatan berdasarkan teori-teori dan terapan-terapannya sehingga mewujudkan ssuatu struktur performansi konseling. Bagi konselor,  penggunaan pendekatan konseling, yaitu pendekatan konseling Gestalat, Pendekatan konseling Behavioral, dan pendekatan Konseling rasional-Emotif. Masing-masing pendekatan akan ditelaah dari komponen : (1) konsep dasar, (2) asumsi tingkah laku bermasalah, (3) tujuan konseling, (4) deskripsi proses konseling, dan (5) teknik-teknik konseling.

Asumsi tingkah laku bermasalah menurut pendekatan konseling Behavioral adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tetap, yitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. Sehubungan dengan asumsi tersebut maka tujuan konseling Behavioral adalah penghapus/menghilangkan tingkah laku adaptif (masalah) untuk digantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien.

Menurut pendekatan konseling Gestalt tingkah laku bermasalah terjadi pertentangan antara kekuatan “top dog” dan keberadaan “under dog”. Top dog adalah kekuatan yang memgharuskan, menuntut, mengancam. Under dog adalah keadaan defensif, membela diri, tidak berdaya, lemah, pasif, ingin dimaklumi. Tujuan utama konseling Gestalt adalah membantu klien agar berani menghadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. Tujuan ini mengandung makna bahwa klien haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya diri, dapat berbuat banyak untuk meningkatkan kebermaknaan hidupnya. Dalam persepektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berfikir yang irrasional, dengan ciri-ciri tidak dapat dibuktikan, menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan, kekhowatiran, prasangka) yang sebenarnya tidak perlu, dan menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif.

DAFTAR PUSAKA

Corey, Gerald.2004. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. Monterey, California : Brooks/Cole Publishing Company

May Rollo. 2003. The Art of Counseling. New Jersey : Prentice Hall, Inc

Prayitno. 2005. Konseling Pancawaskita. Padang : FIP Universitas Negeri Padang

Surya, Mohamad. 2003. Teori-teori Konseling. Bandung : Pustaka Bani Quraisy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.