MODEL PEMBELAJARAN REMEDIAL

0
35

MODEL PEMBELAJARAN REMEDIAL

Abstrak

Elsy Zuriyani

Dalam rangka membantu peserta didik mencapai standar isi dan standar kompetensi lulusan, pelaksanaan atau proses pembelajaran perlu diusahakan agar interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan kesempatan yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kendati demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa untuk mencapai tujuan dan prinsip-prinsip pembelajaran tersebut pasti dijumpai adanya peserta didik yang mengalami kesulitan atau masalah belajar. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, setiap satuan pendidikan perlu menyelenggarakan program pembelajaran remedial atau perbaikan.

Key Word : Pembelajaran Remedial

  1. PENDAHULUAN

Pembelajaran remedial pada dasarnya bagian dari pembelajaran secara keseluruhan, untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Dalam pelaksanaannya, tidak semua siswa mencapai ketuntasan dalam belajar, artinya ada siswa yang tidak mencapai stanadar kompetensi yang telah diteapkan dalam pelaksanaan pemblajaran yang biasa dilaksanakan. Untuk memberikan kesempatan agar siswa yang “terlambat”mencapai ketuntasan menguasai materi pelajara, diadakan pembelajaran remedial.

Para penganut aliran perilaku, menyatakan dalam belajar lebih menekankan pada kinerja pembelajaran yang diobservasi dan terukur, kurang memperhatikan strategi kognitif dan metakognitif serta proses internal pada diri siswa. Belajar terjadi bila adanya perubahan yang dapat diobservasi langsung berupa perilaku, dan pembelajaran dipacu belajarnya dengan penghargaan dan hukuman.

Implikasi dari padang tentang belajar seperti di atas terhadap pembelajaran adalah siswa belajar dan dituntaskan serta terjadi di dalam pembelajaran di kelas. Disamping itu terjadi pandangan terhadap pembelajaran, yaitu belajar merupakan proses transmisi informasi ke siswa yang pasif dari guru. Materi subyek yang dipelajari siswa dianggap “didirinya” dan lingkungan dianggap tidak berubah dan terstruktur secara permanen.

Di pihak lain, penganut konstruksivisme beranggapan bahwa pengetahuan tidak berada di luar pikiran pembelajaran, tetapi diorganisasikan di dalam kognisi internal individu dan pengalaman bukan ditemukan di luar dirinya. Pembelajaran membangun pengetahuan dan pemahamannya melalui proses aktif dari tugas-tugas yang realistis dalam konteks yang autentik dan menggunakan perangkat yang ada saat itu. Di sini akan terjadi belajar berbagai pemahaman. Belajar dipandang sebagai proses argumentasi, dan reorganisasi sendiri-sendiri dari struktur mental yang belum lengkap. Pembelajaran disini secara proaktif mengendalikan proses membangun eksplanasi ilmiahnya.

Berdasarkan pespektif konstruktivisme, peran guru dan bahan pelajaran merupakan fasilitator untuk belajar aktif selama siswa membangun pengetahuan dan pemahamannya yang menyeluruh. Termasuk terhadap siswayang terlambat atau mengalami kesulitan memahami informasi baru yang dikajinya.

Peran guru sebagai fasilitator ini juga memfasilitasi siswa yang mengalami kesulitan dengan mengalkasikan secara khusus agar siswa tersebut dapat membangun pengetahuan dan pemahamnya. Dengan demikian, dalam pembahasan dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama, terlebih dahulu ditinjau secara singkat kecendrungan pemblajaran dewasa ini. Kedua, dibahas hakekat belajar tuntas baik secara individual maupun secara keseluruhan kelas. Dan ketiga, pembelajaran remedial sebagai upaya mencapai standar kompetensi oleh seluruh siswa dalam kelas.

Pada dasarnya tidak ada satu orang dengan orang lain yang sama persis dalam memahami suatu fenomena alam. Berdasarkan hal ini, disebaiknya pembelajaran dilaksanakan secara individual, setiap orang mengikuti pembelajaran sesuai dengan kemampuannya. Pada prakteknya, tidak semua siswa diikuti kebutuhnya (kemauannya) dalam belajar. Walaupun demikian pembelajaran yang dilakukan dalam suatu kelas siswa, diharapkan semua siswa dapat belajar dengan pendekatan yang “seragam”.

Sumber belajar yang digunakan siswa dapat beragam untuk mengkonkritik fenomenaalam yang abstrak tersebut. Kenyataannya masih ada kelompok siswa yang relatif lambat belajarnya, sehingga memerlukan perlakukan khusus agar dapat belajar untuk mencapai suatu kompetensi. Pembelajaran remedial, memberikan alternatif solusi agar siswa kelompok terbelakang dapat mencapai kompetensi yang disyaratkan.

  1. PEMBAHASAN
  2. Kecendrungan Pembelajaran

Pengkajian dan pengembangan Pengkajian dan pengembangan model serta implementasi pendekataan pembelajaran telah bayak dilakukan untuk mengungkap prediktor yang dominan yang menyebabkan siswa belajar secara bermakna, sesuai dengan tujuan pembelajaran. Salah satu diantaranya adalah upaya menggabungkan antara pendekataan pemecahan masalah dan pendekatan ilmiah.

Pendekataan pemechan masalah adalah upaya pembelajaran yang memberikan kesempatan siswa mencari solusi terhadap suatu masalah faktual yang dihadapi siswa sehari-hari dalam masyarakat luas. Solusi ini diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi siswa dalam menghadapi masalah tersebut.

Pendekatan ilmiah atau pendekatan sains adalah upaya pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa meniru hal-hal yang dilakukan ilmuwan dalam mengungkapkan rahasi alam (fenomena alam). Pendekatan ini menyarankan eksplanasi terhadap suatu pertanyaan melalui proses eksplorasi.

Pendekataan ini pada dasarnya memberikan kesempataan siswa membangun pengetahuan dengan melakukan hal-hal yang mungkin memperoleh pengetahuan melalui proses eksplorasi atau penyelidikan. Dalam proses membangun pengetahuan, peserta didik diberi kesempatan juga merumuskan rencana tindakan yang bertanggung jawab sebgai orang yang telah belajar.

  1. Belajar Tuntas

Belajar tuntas dirumuskan oleh John B. Carrol dan Benyamin Blomm merupakan pendekatan mengorganisasipembelajaran yang memungkinkan siswa belajar lebih menarik sehingga mencapai kepuasaan kinerja tentang materi yang dipelajarinya.

Carrol menyatakan masalah belajar merupakan masalah waktu yang diperlukan oleh seseorang untuk mempelajari suatu materi subyek. Dengan demikian, siswa yang mempunyai kemampuan rendah memerlukan waktu yang lebih lama untuk mencapai ketuntasan dari siswa yang mempunyai kemampuan lebih tinggi. Jadi pada dasarnya semua siswa dapat mencapai belajar tuntas dari seperangkat kompetensi dasar yang ditetapkan dalam pembelajaran. Masalah sentral dalam pembelajaran tuntas menurut Slavin (2003:305) adalah kesesuaian antara cakupa materi subyek dengan jumlah siswa yang telah kompetensi tersebut. Bila pembelajaran remedial diberikan menggunakan waktu reguler, akan mengurangi cakupan materi yang dibahas. Untuk mencapai ketuntasan seluruh siswa sebagai pemapanan kompetensi awal siswa diperlukan dukungan dari semua pihak masysrakat sekolah dan masysrakat luas.

Pembelajaran tuntas atau belajar tuntas menganut paham optimistik terhadap pembelajaran. Hal ini yang bertitik tolak dari asumsi bahwa guru dapat menolong semua siswa belajar secara baik. Block & Andreson menyatakan belajar tuntas dalam praktiknya secara ajeg membantu sebagian besar siswa mencapai kompetensi dasar yang telah ditentukan. Paling tidak ada tiga tahap dalam pembelajaran tuntas, yaitu orientasi ketuntasan dan perencanaan ketuntasan, pembelajaran tuntas, dan penentuan peningkatan pencapaian siswa.

  1. Penentuan Ketuntasan

Guru yang akan menggunakan belajar tuntas, terlebih dahulu menentukan ketuntasan suatu subyek yang dibahas siswa. Sebagai contoh ada tiga kompetensi yang tituju dalam pembahasan topik pemapasan di kelas 4 SD. Pertama, siswa menjelaskan alat-alat dan kedudukannya pemapasan pada manusia. Kedua, siswa menyebutkan fungsi masing-masing alat-alat yang ada dalam sistem pernapasan pada manusia. Kedua, siswa menyebutkan fungsi masing-masing alat-alat yang da dalam sistem pernapasan pada manusia. Ketiga, siswa menjelaskan melalui alat peraga (carta) mekanisme terjadinya pernapasan pada manusia. Ketiga Kompetensi dasar ini merupakan indikator ketuntasan siswa memahami sistem pernapasan pada manusia. Dengan demikian, siswa dikatakan tuntas memahami konsep sistem pernapasan bila menguasai ketiga kompetensi dasar tersebut.Kalau salah satu kompetensi dasar tidak dikuasai (misalnya ketiga), perlu diadakan pembelajaran remedial bagi siswa yang belum memahami dengan baik kompetensi dasar bagi siswa. Berdasarkan hasil pengkajian, siswa dan guru kelas empat sulit memahami mekanisme pernapasan pada manusia secara lengkap dan benar.

Disamping penentuan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa pada masing-masing topik materi subyek, guru juga menentukan presentasi siswa yang menguasai kompetensi dasar yang dianggap tuntas belajarnya, misalnya 80%-95% dari keseluruhan siswa di kelas yang sama. Penetuan persentase ini dapat bervariasi, bergantung kepada jumlah keseluruhan siswa dalam kelas yang sama, sehingga kelas remedial tidak lebih dari 20 orang. Disamping itu, jenis evaluasi yang digunakan juga mempengaruhi jumlah siswa yang belum tuntas, misalnya evaluasi jenis acuan standar dan jenis kriteria.

Evaluasi jenis acuan kriteria berasumsi bahwa semua siswa mapu memahami materi subyek tersebut. Sehingga siswa yang tidak memperoleh pencapaian pemahaman materi subyek ke tahap tertentu, dianggap tidak tuntas. Evaluasi jenisacuan norma berasumsi di dalam kelas ada siswa yang sangat cepat memahami suatu topik tertentu dan ada siswa yang sangat cepat memahami suatu topik tertentu dan ada yang lambat. Pencapaian yang diperoleh merupakan posisinya (kinerja relatif) di dalam kelompok.

  1. Perencanaan Ketuntasan

Setelah menentukan kategori ketuntasan berdasarkan standar kompetensi, guru memilah topik bahsaan menjadi beberapa tahap sesuai dengan urutan bahasan dan waktu yang tersedia dalam kurun waktu tertentu.

Urutan rencana pembelajaran bergantung pada struktur keilmuan. Untuk masing-masing rencana pembelajaran telah direncanakan komponen tunggal yang penting sebagai indikator belajar tuntas; sebagai prosedur masukan pembenahan pembelajaran.Pertama guru mengembangkan alat ukur hasil belajar yang bersifat formatif. Kedua, menentukan skor atau standar kinerja siswa sebagai indikasi belajar tuntas. Biasanya skor 80 sampai 90 % (benar jawabanya) dari evaluasi formatif dianggap siswa tidak mempunyai kesulitan dalam memahami materi tersebut. Ketiga, guru mengembangkan alternatif bahan pembelajaran dan prosedur untuk melakukan koreksi terhadap pembelajarn.

Biasanya pembelajaran yang merupakan koreksi terhadap pembelajaran sebelumnya terdiri atas dalam bentuk sesi pengkajian dalam kelompok kecil, tentir (pembahasan ulangan) oleh teman sejawat pada bagian materi yang dianggap sulit, menggunakan sumber belajar yang lain untuk memudahkan pemahaman, tugas kerja yang lain dalam rangka memantapkan pemaaman, dan latihan-latihan pemantapan yang lainnya. Pembelajaran sebagai tindakan perbaikan terhadap pencapaian siswa ini serangkali dikelola dalam suatu pembelajaran yang bertujauan “mengobati” kesulitan siswa memahami konsep tersebut, disebut pembelajaran remedial.

Setiap pembelajaran ulang untuk perbaikan, dirancang untuk membantu atau membenahi kesulitan siswa memahami konsep tersebut. Kesulitan ini diperoleh melalui evaluasi formatif yang dilakukan. Dengan pembelajaran perbaikan inilah diharapkan siswa memperoleh cara lain mempelajarai materi yang belum tuntas tersebut.

  1. Pembelajaran untuk Ketuntasan

Sebelum pembelajaran, guru merancang tentang hal-hal yang akan dipelajari siswa sebagai acuan dalam belajar tuntas, cara siswa mempelajarinya agar tuntas, dan tingkat belajar yang mereka harus capai untuk satuan pembelajaran. Biasanya dalam pengembagan bahan ini, dapat memasukkan faktor-faktor yang diketahui guru dari pengalaman tentang hal-hal yang membantu siswa mencapai kesuksesan dalam mempelajari konsep tersebut.

Dalam pembelajaran mengacu kepada perencanaan tentang alokasi waktu yang digunakan. Pendekatan yang digunakan dari satu sesi pembelajaran (jam pelajaran) dapat berubah sesuai dengan masukan yang diberikan oleh siswa. Masukan yang diberikan oleh siswa disesuaikan dengan kompetensi dasar yang dicapai dan instrumen pengukuran pencapaian siswa. Pembelajaran tambahan (pembelajaran remedial) untuk membantu siswa yang terlambat memahami kompetensi dasar, dilaksanakan agar memberikan kesempatan untuk memahami lebih baik dari pembelajaran yang biasa.

Sebelum melanjutkan ke unit pembelajaran yang selanjutnya, siswa diukur pencapaiannya dengan menggunakan instrumen evaluasi formatif. Hal ini dilakukan untuk menentukan ketuntasan masing-masing siswa dalam mempelajari topik tersebut. Menentukan jumlah siswa yang belum tuntas belajarnya, mengidentifikasikan kesulitan belajarnya. Siswa yang belum mencapai ketuntasan dalam belajar, dimasukkan kedalam kelompok yang memperoleh bimbingan oleh tutor. Selanjutnya guru menentukan jadwal pembahasan topik lanjutannya.

  1. Penentu Peringkat Pencapaian Siswa

Sebelum membahas topik lanjutan, guru melaksanakaan evaluasi terhadap pencapaian siswa lebih besar penekannya kepada pencapaian secara individual. Siswa dibuat peringkatnya berdasarkan pada hal-hal yang telah dipelajarinya atau dikuasainya, sesuai dengan kompetensi dasar, atau mereka dibuat peringkat ketuntasannya.

Siswa yang belum tuntas topik sebelumnya kelompok siswa ini diberikan kesempatan untuk mengkaji ulang topik tersebut dengan menerapkan strategi yang telah di negosiasikan antara guru dan siswa. Apabila jadwal pembelajaran topik lanjutan sesuai dengan jadwal yang biasa, kelompok siswa yang belum tuntas tersebut hendaknya menggunakan waktu pembelajaran di luar jam pelajaran biasa.

Seberapa jauh pembelajaran tuntas ini dapat dilaksanakan bergantung kepada komitmen tentang pendidikan berbagai pihak pengelola pendidikan di sekolah dan peran aktif masyarakat. Misalnya tentang upaya inovasi yang mempunyai landasan filsafat yang memadai dan program nyata perbaikannya. Beberapa hasil kajian yang dikemukakan oleh Block & Burn (1976)(dalam Block, 1985;269), menyatakan tiga hal. Pertama, pembelajaran tuntas lebih efektif daripada pembelajaran yang tidak menganut paham pembelajaran tuntas. Keunggulan pembelajaran tuntas termasuk juga pencapaian siswa dan retensi lebih tahan lama. Kedua, efisiensi belajar siswa secara keseluruhan lebih tinggi pada pembelajaran tuntas daripada pembelajaran yang tidak menerapkan pembelajaran tuntas. Siswa yang tergolong lambat menguasai kompetensi dasar secara tuntas dapat belajar hampir sama dengan siswa yang mempunyai kemampuan lebih tinggi.

Ketiga, sikap yang ditimbulkan akibat siswa mengikuti pembelajaran tuntas yang positif, dibandingkan dengan pembelajaran yang tidak menganut paham pembelajaran tuntas. Adanya sikap positif dan rasa keingintahuan yang besar terhadap suatu materi subyek yang dipelajarinya. Sikap positif lainnya, misalnya, ada rasa percaya diri yang berarti, kemauan belajar secara kooperatif satu dengan yang lainnya, dan sikap yang positif terhadap pembelajaran dengan memberikan perhatian yang besar.

  1. Pembelajaran Remedial

Siswa yang mengikuti pelajaran dalam perkembangannya sangat bervariasi kemampuan intelektualnya, dan kita hendaknya membantu siswa untuk bertahan dan dapat mempelajari mata pelajaran tersebut.

  1. Model Pembelajaran Remedial

Siswa yang mengikuti pelajaran dalam perkembangan sangat bervariasi kemampuan intelektualnya, dan kita hendaknya membantu siswa untuk bertahan dan dapat mempelajari mata pelajaran tersebut. Dengan demikian sekolah sebaiknya menciptakan suatu pembelajaran terhadap baik yang di atas rerata maupun yang di bawah rerarta, berupa lingkungan belajar dan pengalaman yang memungkinkan siswa belajar.

Sebagian besar siswa dari lingkungan pendidikan secara umum pembelajaran biasa di sekolah. Hanya saja ada sebagian siswa yang relatif memerlukan arahan lebih lanjut, intensif, dan sistematik dari guru agar terjadi belajar pada dirinya. Di kelas, siswa tersebut belajar mengacu ke kurikulum yang sama dengan rekan siswa lainnya. Ada sekelompok siswa memerlukan waktu tambahan, pengelolaan khusus, penambahan tugas-tugas, dan pemberian ulangan khusus mungkin secara lisan. Hal ini untuk memudahkan memenuhi kebutuhannya agar mereka dapat belajar.

Bantuan yang diberikan guru kepada siswa dilakukan secara individual, sesuai dengan kesulitan masing-masing siswa.

Beberapa prinsip dalam membentu siswa pada pembelajaran remedial yaitu sebagai berikut:

Pertama, penyiapan pembelajaran merupakan proses identifikasi kebutuhan siswa dan menyiapkan rencana pembelajaran agar efektif

Kedua, merancang berbagai kegiatan; mengelompokkan berbagai kegiatan belajar untuk siswa yang bervariasi dalam mencapai tujuan yang sama. Akan lebih efektif menyiapkan beberapa kegiatan sederhana agar siswa dapat berbagi pengalaman, daripada satu kegiatan yang memerlukan waktu lama.

Ketiga, merancang belajar bermakna; merancang situasi yang bermakna, misalnya dalam bentuk permainan (games) yang memberikan pengalaman belajar yang menarik minatnya dan timbul inisiatif belajarnya.

Kempat, pemilihan pendekatan; pendekatan dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar dari contoh yang konkrit sebelum masuk ke konsep yang abstrak. Guru dapat membahas konsep baru dari berbagai pandangan, sehingga siswa belajar secara bermakna melalui ilustrasi yang berulang-ulang. Dapat pula menggunakan teknologi informasi untuk menarik minat siswa dan memberikan ilustrasi yang lebih menarik.

Kelima, berikan arahan yang jelas; pembelajaran remedial hendaknya memberikan arahan yang jelas untuk menghindari kebingungan. Hal ini dilakukan sebab siswa yang mengalami kesulitan belajar biasanya kurang kemampuan memahami suatu bacaan. Bila diperlukan, siswa diminta mengulang kembali setiap arahan yang harus dikerjakannya, untuk meyakinkan bahwa mereka jelas menerima arahan kegiatan.

Keenam, rumusan gagasan utama; ajak siswa merumuskan gagasan utama pembelajaran tersebut sesuai dengan kesulitan yang dialaminya, bila perlu ditulis di papan tulis untuk memudahkan mengingat dan memahaminya serta membacakannya kemambali.

Ketujuh, meningkatkan keinginan belajar dan motivasi; karena terlalu sering mengalami kesulitan dalam belajar, dapat menyebabkan frustasi pada siswa.

Kedelapan, mendorong siswa berpartisipasi aktif dalam kelas. Biasanya siswa mengalami kesulitan dalam belajar, bersikap pasif di dalam kelas.

Kesembilan, memfokuskan pada proses belajar. Pembelajaran tidak hanya mempedulikan penguasaan konsep, tetapi juga penting memperhatikan keuntungan yang diperoleh siswa dalam proses belajar.

Kesepuluh, memperlihatkan kepedulian terhadap individual siswa. Siswa mungkin mengalami kesulitan yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Beberapa model pembelajaran remedial yang dapat dilaksanakan sesuai dengan kondisi sekolah:

Beberapa model pembelajaran remedial Intensif, yaitu: (1) pembelajaran di luar jam pelajaran sekolah, (2) pengambilan secara tertentu, penggunaan tim pengajar

  1. Model Pembelajaran remedial diluar Jam

Model ini membuat pembelajaran remedial untuk membantu kesulitan belajar siswa terhadap satu atau beberapa materi subyek, sebelum atau setelah jam pelajaran dilaksanakan

Beberapa keuntungan pembelajaran remedial model ini meliputi sebagai berikut:

1). Siswa menerima tambahan waktu membahas kembali dari hanya pembelajaran yang biasa diikuti di kelas

2). Siswa memperoleh bantuan mengidentifikasi area belajar yang sulit dan memberikan titian untuk mengisi kesenjangan dengan cara mengadakan informasi tambahan agar lebihan mudah memahaminya

3). Kelompok siswa yang tingkat perkembangan intelektualnya sejenis dalam pembelajaran remedial diberikan kesempatan untuk mengajukan kesulitan-kesulitan dan bantuan pendekatan yang sesuai agar lebih memahaminya

4). Dalam kelompok kecil pada kelas remedial, akan sangat membantu interaksi antara guru dan siswa selama pembelajaran yang mengakibatkan siswa selama pembelajaran yang mengakibatkan siswa belajar dengan bermakna

  1. Model Pembelajaran remedial Pemisahan

Model pelaksana pembelajaran remedial ini, dengan cara memisahkan siswa dari kelas biasa, kedalam kelas remedial. Pemisahan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dasar tentang materi subyek yang dibahas. Model ini tidak digunakan untuk semua mata pelajaran, biasanya hanya topik-topik yang dianggap esensial sebagai fondasi pengetahuan yang lain dan/atau lanjutan.

Beberapa keuntungan dalam melaksanakan model pembelajaran remedial ini, yaitu sebagai berikut:

1). Sebagai kelompok siswa yang relatif sangat sedikit (kelas kecil), guru dapat memahami lebih baik kebutuhan siswa secara individual, kinerja (perfomansi) siswa di dalam kelas, dan kesulitan masing-masing siswa dalam belajar.

2). Memudahkan guru dalam memberikan bimbingan dan bantuan agar siswa lebih memahami topik yang dianggap sulit oleh siswa.

3). Membantu meningkatkan pembelajaran dalam hal interaksi guru dengan siswa selama pembelajaran, yang memungkinkan siswa tersebut belajar lebih intensif.

  1. Model Pembelajaran Remedial Tim

Model pelaksanaan pembelajaran remedial ini memerlukan tim pengajar, dapat terdiri atas dua atau lebih anggota, bekerja bersama menyiapkan bahan-bahan pembelajaran dan penilaian hasil belajar yang mengacu kepada peningkatan keefektifan pembelajaran. Hal ini dilakukan dengan cara menyiapkan keberagaman kebutuhan siswa yang berada pada kelas yang sama. Sekolah dapat memilih beberapa materi remedial untuk model ini dalam konteks mengabdosi keseluruhan atau sebagian jumlah jam pelajaran reguler yang ada. Sekolah hendaknya menentukan jumlah jam pertemuan untuk masing-masing guru sesuai dengan jumlah jam mengajar guru dan pengaturan administrasi.

Beberapa kelebihan dan menggunakan model pembelajaran remedial ini adalah sebagai berikut:

1). Dapat membangun kebersamaan dalam kelompok yang menciptakan suasana kondusif bagi lingkungan pendidikan secara keseluruhan di sekolah.

2). Dapat membantu dan saling meningkatkan kemampuan profesional di antara guru. Hal ini memungkinkan berbagi dan belajar dari kelebihan yang lain, sehingga efektifitas pembelajaran dapat lebih ditingkatkan.

3). Dapat memberikan keluwesan dalam pembelajaran dengan memberikan guru mengatur pekerjaannya di antara mereka.

4). Dapat mengurangi efek memberikan “predikat jelek” kepada siswa kelompok khusus, dan memberikan dukungan tentang kebutuhan secara individual kepada siswa.

5). Dapat membantu meningkatkan interaksi antara guru dan siswa tidak sungkan menanyakan sesuatu kepada guru.

  1. PENUTUP

Pembelajaran remedial merupakan upaya membantu siswa memecahkan kesulitan belajar yang dialami dalam pembelajaran reguler di kelas. Dengan demikian pembelajaran remedial juga disebut pembelajaran “pengobatan” agar masalah yang ditemui diperoleh jawabannya oleh siswa.

Pembelajaran remedial dimulai dari analisis terhadap kesulitan siswa, meliputi: kedudukan konsep yang sulit itu sebagai prasyrat bagi konsep lanjutan, kebutuhan belajar sesuai dengan kesulitan yang dialaminya, kemampuan belajarnya dan memahaminya, gaya belajara dan sumber belajar yang dibutuhkan agar bermakna, dan keinginan serta motivasi dalam belajar.

Tahap berikutnya, masih pada tahap sebelum pembelajaran remedial, adalah mulai dari penentuan tujuan belajar (sesuai dengan kesulitan belajarnya), penyesauain kurikulum dengan kompetensi dasar yang dituju atau dicapai, pengembangan bahan pelajaran agar siswa mencapai kompetensi dasar, pemilihan pendekatan yang memungkinkan siswa timbul minat belajarnya, dan penyiapan bahan penunjang lainnya, misalnya sumber belajar yang memungkinkan dalam pembelajaran bergairah. Pada tahapan ini sangat menentukan keberhasilan pembelajaran remedial yang akan dilaksanakan, karena perumusan arah yang jelas dengan penyiapan perencanaan yang matang memudahkan dalam pelaksanaan pembelajaran remedial.

Dalam tahapan implementasi pembelajaran remedial, dapat mengikuti siklus belajar, yaitu; mulai dari invitasi yang menghubungkan dengan kesulitan siswa, melakukan eksplorasi dengan berbagai sumber belajar dan bahan pelajaran-suatu fenome yang konkrit, merumuskan eksplanasi dansolusi dan merumuskan tindak lanjut dengan cara menghubungkan konsep yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari siswa. Dengan mengikuti siklus ini, diharapkan siswa tergolong memiliki kesulitan belajar memperoleh informasi yang dicarinya sendiri dan berbagai sumber belajar, memperoleh kesempatan membangun sendiri pengetahuan baru di dalam pengetahuan awal siswa.

Tahap kritis pada pembelajaran remedial adalah melaksanakan observasi atau penilaian pencapaian dan kemajuan siswa adalam memahami konsep yang sulit tersebut. Di samping mengobservasi penguasaan kompetensi yang telah ditentukan, juga diobservasi kemampuan mereka cara memperoleh informasi dan membangunnya dan cara memecahkan masalah, serta memupuk sendiri rasa percaya diri dalam belajar.

Efektifitas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Alit Mariana, M. & Dedy Suhardi. 1998. Study Tentang Penguasaan Materi Biologi terhadap Guru Kelas 4, Bandung; Pusat Pengembangan Penataran Guru Ilmu Pengetahuan Alam

Alit Mariana, M. 2001. Science-Techtology-Society; Kecendrungan Pendidikan Sains. Bandung; Pusat Pengembangan Penataran Guru Ilmu Pengetahuan Alam

Allington, R. & Bennet, SM. 2003. Remedial Education. Microsoft Encarta Reference Library

Block, JH.1985. Promoting Excellence Through Mastery Learning. Dalam New Directions in Educations Psychology: 1 Learning and Teching. London: The Palmer Press

Bybee, R.W (ed). 1986. NSTA Yearbook: Science Technology Society. Washington DC; National Science Teacher Association

Callahan, C.M. 2003. Education of Gifted Students: Microsoft Encarta Reference Library

Crawford, R. 1999. Teaching and Learning IT in secondary Schools to-wards new pedagogy?. UK; University of Hudders/Eeld. School of Education and Professional Development, Holly Bank Campus, Hudders/Eeld, HD3 3BP

Entwistle, N.1985. New Directions in Educational Psychology:1 Learning and Teaching. London; The Palmer Press

Joyce, B & Weil, M.1992. Models of Teaching. New Jersey; Prentice Hall, Inc

Kuhn, Tomas S.1970. The Structure Of Scientific Revolutions. London: The University of Chocago

Loucks-Horsley, S dkk.1990. Elementary School Science for the ‘90s. Massachusetts: The Network, Inc.

Microsoft@ Encarta@ Reference Library 2003@1993-2002 Microsoft Corporation. All rigts reserved

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.